• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Kebijakan Pembatasan Tenaga Kerja Indonesia Informal

4.2.3 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Institusi (Rumah

setiap tahunnya yaitu sebesar 21 persen akan menghasilkan remittance senilai nominal rupiah hal ini dapat pula berarti Business as Usual atau kegiatan yang rutin berlangsung dalam pengiriman jumlah TKI setiap tahunnya. Dalam simulasi ini terdapat nilai nominal dari kondisi awal (baseline) yang diperoleh dari FSAM dimana dapat dijadikan sebuah dasar dari simulasi-simulasi lainnya. Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan bahwa adanya remittance yang mengalir ke Institusi khususnya rumah tangga memberikan dampak yang positif. Proporsi terbesar didapatkan oleh rumah tangga dengan sebaran yang berbeda namun relatif lebih besar jika dibandingkan akun lain selain rumah tangga. Namun presentase rumah tangga desa miskin mendapatkan presentase tertinggi yaitu sebesar 2,53 persen terhadap baseline FSAM. Hal ini dikarenakan aliran dana remittance lebih banyak mengalir kepada rumah tangga desa miskin, dimana kampung halaman dari para TKI tersebut terletak di pedesaan sehingga aliran remittance ini ditujukan kepada keluarga para TKI yang berada di pedesaan untuk keperluan konsumsi atau keperluan lain keluarga para TKI di desa, sedangkan presentase terendah dalam simulasi pertama ini didapatkan oleh bank sentral dengan presentase 0,33 persen terhadap baseline FSAM. Hal ini dikarenakan bank sentral memang tidak terlalu berperan dalam menyumbang remittance.

Simulasi kedua yaitu adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja Informal sebesar 89.698 ribu orang TKI. Jumlah tersebut didapatkan dari jumlah tenaga kerja yang dimoratorium oleh pemerintah kepada salah satu negara tujuan para TKI yaitu Malaysia. Hasil simulasi yang dilakukan oleh peneliti menyatakan

bahwa nilai remittance yang didapatkan oleh rumah tangga sangat menurun jika dibandingkan dengan sebelum adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja Informal. Semula sebelum adanya pembatasan tenaga kerja informal presentase yang didapatkan oleh rumah tangga desa miskin mendapatkan remittance sebesar 2,53 persen sedangkan setelah adanya kebijakan pembatasan menurun menjadi 0,40 persen. Sebelum adanya kebijakan pembatasan, total remittance yang mengalir ke institusi sebanyak 8,2 persen dengan proporsi terbesar ke rumah tangga. Sedangkan setelah adanya kebijakan tersebut hanya sebesar 1,3 persen saja yang mengalir ke institusi. Sedangkan untuk presentase remittance yang diterima oleh institusi jika dibandingkan dengan keadaan normal sebelum diberlakukannya kebijakan pembatasan menurun sebesar 0,77 persen namun penurunan tertinggi didapatkan oleh rumah tangga desa miskin dengan penurunan sebesar 2,13 persen.

Dalam simulasi ketiga ini akan disimulasikan apabila pemerintah tetap memberlakukan pembatasan tenaga kerja informal namun diiringi dengan kompensasi kepada rumah tangga dan faktor produksi. Hasil simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai remittance yang mengalir ke akun-akun tersebut positif dengan nilai terbesar pada rumah tangga desa miskin. Hal ini dikarenakan aliran dana remitansi terbesar mengalir pada rumah tangga desa miskin dimana merupakan daerah asal dari para TKI yang bekerja di luar negeri.

Presentase terendah jika dibandingkan dengan nilai baseline FSAM dalam kompensasi ini adalah bank sentral hal ini dikarenakan alokasi pemerintah terhadap bank sentral memiliki nilai yang rendah jika dibandingkan dengan rumah tangga selain itu bank sentral juga memberikan presentase yang kecil terhadap

aliran dana remittance jika dibandingkan dengan institusi lainnya. Sedangkan untuk presentase hasil simulasi ketiga jika dibandingkan dengan keadaan normal terdapat akun-akun yang masih mengalami penurunan yaitu lembaga keuangan bank, pemerintah dan seluruh akun rumah tangga. Hal ini dikarenakan dengan adanya kompensasi terhadap sektor faktor produksi dan rumah tangga saja belum cukup untuk mengatasi kerugian yang diterima oleh institusi akibat adanya pembatasan tenaga kerja informal. Namun bank sentral, lembaga keuangan bukan bank dan lembaga bukan keuangan mendapatkan nilai yang positif. Hal ini berarti bahwa dengan adanya simulasi ketiga dapat mengatasi permasalahan yang timbul akibat adanya pembatasan tenaga kerja informal walaupun nilainya belum dapat mendekati keadaan normal.

Simulasi keempat yaitu apabila pemerintah tetap memberlakukan pembatasan tenaga kerja informal namun diiringi dengan kompensasi yang dialirkan kepada sektor bangunan (infrastruktur). Dalam simulasi keempat ini terlihat bahwa alokasi dana remittance yang memiliki nilai tertinggi diperoleh rumah tangga desa miskin. Hal ini dikarenakan mayoritas para TKI yang bekerja di luar negeri berasal dari daerah pedesaan serta keluarga besar mereka pada umumnya masih berada di pedesaan sehingga para TKI tersebut cenderung mengirimkan uang kepada keluarga mereka di daerah pedesaan hal inilah yang menyebabkan proporsi remitansi kepada penduduk desa miskin memiliki presentase yang cukup besar. Dengan dilakukannya simulasi keempat ini berhasil memberikan nilai yang positif pada hamper sebagian besar akun institusi seperti bank sentral, lembaga keuangan bank dan bukan bank, lembaga bukan keuangan, pemerintah, rumah tangga desa tidak miskin dan rumah tangga kota tidak miskin.

Namun simulai keempat ini belum dapat mengatasi kerugian yang diterima oleh rumah tangga desa miskin dan rumah tangga kota miskin. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk desa yang miskin serta penduduk kota yang miskin terlalu banyak sehingga kompensasi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat pembatasan tenaga kerja informal ini belum cukup untuk mengatasi kerugian tersebut.

Simulasi kelima, yaitu apabila adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja informal diiringi dengan kompensasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap ke sembilan sektor diantaranya pertanian, pertambangan, Industri pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan dan Sektor lainnya. Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan terlihat bahwa rumah tangga desa miskin memperoleh angka kompensasi paling besar dibandingkan lainnya hal ini mengingat aliran dara remittance memang banyak mengalir kepada rumah tangga desa miskin dengan presentase sebesar 2,57 persen. Berdasarkan simulasi kelima, seluruh akun institusi bernilai positif hal ini berarti bahwa dengan adanya simulasi kelima berhasil untuk menghapus kerugian yang biasanya diterima oleh hampir seluruh akun institusi, sehingga simulasi kelima ini merupakan simulasi yang terbaik untuk memberikan solusi kepada rumah tangga akibat adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja informal.

Tabel 4. 4 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Institusi (Rumah Tangga) pada simulasi 1 dan 2

INSTITUSI Baseline FSAM

SIMULASI 1 SIMULASI 2

NOMINAL % to Baseline NOMINAL % to Baseline % to BAU

BANK SENTRAL 3 30.793,0 100,4 0,33 16,0 0,05 -0,27

PERUSAHAAN

LEMBAGA KEUANGAN

BANK 4 159.938,2 1.049,5 0,66 167,3 0,10 -0,55

BUKAN BANK 5 47.813,2 257,9 0,54 41,1 0,09 -0,45

LEMBAGA BUKAN KEUANGAN 6 796.319,1 3.807,4 0,48 606,9 0,08 -0,40

PEMERINTAH 7 46.730,96 2.642,7 0,40 421,2 0,06 -0,34

RUMAH TANGGA

DESA

MISKIN 8 46.730,98 1.181,9 2,53 188,4 0,40 -2,13

TIDAK MISKIN 9 755.579,4 7.635,8 1,01 1.217,2 0,16 -0,85

KOTA

MISKIN 10 25.720,2 304,1 1,18 48,5 0,19 -0,99

TIDAK MISKIN 11 1.363.278,1 14.693,6 1,08 2.342,2 0,17 -0,91

Ket : Simulasi 1: Pertumbuhan pengiriman TKI dalam keadaan normal (Business as usual) Simulasi 2: Kebijakan pembatasan TKI nformal sebesar 89.698 ribu TKI

Simulasi 3: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada faktor produksi tenaga kerja dan rumah tangga

Simulasi 4: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada sektor bangunan (infrastruktur) sebesar Rp.200 miliar Simulasi 5: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada aktivitas produksi dengan injeksi kepada rumah

tangga miskin sebesar Rp.700 miliar

Lanjutan Tabel 4. 5 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Institusi (Rumah Tangga) pada simulasi 3, 4 dan 5

INSTITUSI Baseline

FSAM

SIMULASI 3 SIMULASI 4 SIMULASI 5

NOMINAL % to

Ket : Simulasi 1: Pertumbuhan pengiriman TKI dalam keadaan normal (Business as usual) Simulasi 2: Kebijakan pembatasan TKI nformal sebesar 89.698 ribu TKI

Simulasi 3: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada faktor produksi tenaga kerja dan rumah tangga Simulasi 4: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada sektor bangunan (infrastruktur) sebesar Rp.200 miliar Simulasi 5: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada aktivitas produksi dengan injeksi kepada rumah

tangga miskin sebesar Rp.700 miliar.

4.2.4 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Aktivitas Produksi