Seperti yang telah dipaparkan dalam profil makro masyarakat Wotay, diketahui bahwa masyarakat Wotay awalnya mendiami pulau kecil yang terisolasi. Leluhur masyarakat setempat adalah petani dan pelaut tradisional yang handal dan tangguh. Meskipun begitu keberadaan masyarakat setempat yang jauh dari pusat-pusat perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan membuat masyarakat setempat cukup sulit membangun kehidupan yang layak sama seperti masyarakat lain.
Sama seperti masyarakat tradisional pada umumnya, leluhur masyarakat Wotay hidup secara alami dari hasil-hasil yang disediakan alam secara melimpah. Masyarakat belum mengenal pasar serta sistem manajemen yang baik. Perdagangan dilakukan secara barter dengan komunitas sekitar guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. Situasi hidup masyarakat setempat kemudian berubah pascaperpindahan ke lokasi pemukiman baru di Pulau Seram. Wilayah pemukiman baru tersebut banyak memberi akses yang besar bagi perkembangan masyarakat sekitar mulai dari bidang pendidikan maupun ekonomi. Perubahan ini dipandang sebagai salah satu bentuk kemajuan atau dampak modernisasi yang turut mempengaruhi tatanan sosial masyarakat Wotay dewasa ini. Tidak hanya itu, perubahan sosial yang dialami masyarakat Wotay dapat ditemukan pada beberapa bidang kehidupan yaitu bidang penididikan, bidang ekonomi, dan bidang pemerintahan.
3.7.1. Bidang Pendidikan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa saat mendiami Pulau Nila, kesempatan masyarakat setempat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik merupakan hal yang tidak mudah, sebab sulitnya ketersediaan sarana dan prasarana penunjang, ditambah lagi dengan kondisi alam yang menantang. Realitas seperti ini berpengaruh kuat sehingga dapat
71 dipahami jika tidak banyak generasi muda Wotay yang pada masa itu melanjutkan studi sampai tingkat universitas.
Berbeda dengan kondisi di Pulau Nila, saat masyarakat Wotay dievakuasi ke pemukiman baru akses untuk memperoleh pendidikan lanjutan semakin baik. Apalagi letak strategis wilayah Kecamatan TNS yang berada di pinggiran Kota Kabupaten Maluku Tengah, sehingga perhatian pemerintah semakin besar tertuju pada daerah ini. Bahkan wilayah Kecamatan TNS yang mana masyarakat Wotay terintegrasi di dalamnya telah mempunyai beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), sejumlah Sekolah Dasar (SD), dan PAUD (pendidikan anak usia dini) yang ada di setiap desa.
3.7.2. Bidang Ekonomi.
Mempertimbangkan kondisi keterisolasian masyarakat Wotay sebelum bermukim di wilayah yang baru, dapat dipastikan bahwa dari segi ekonomi masyarakat setempat belum mampu membangun ekonomi yang layak seperti komunitas lainnya atau sama seperti kondisi ekonomi masyarakat Wotay sekarang ini. Situasi tersebut dapat dipahami karena sulitnya jangkauan pasar terhadap hasil-hasil alam masyarakat setempat sehingga umumnya masyarakat hanya mengonsumsi apa yang diolah dan diusahakan sendiri. Dalam perkembangannya, setelah jalur transportasi terbuka dan akses antar pulau menjadi mudah, masyarakat setempat sudah dapat memasarkan hasil-hasil alam mereka ke kota.
Situasi ekonomi pada masa awal setelah evakuasi masyarakat Wotay ke pemukiman yang baru belum terlalu menjanjikan. Salah satu masalahnya adalah daerah yang ditempati saat itu merupakan lahan baru di mana belum tersedianya sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan lokasi tersebut dengan Kota Kabupaten Maluku Tengah atau dengan daerah lainnya, serta belum tersedianya pembangunan infrastruktur pemerintahan dalam lingkup kecamatan. Baru pada tahun 1980-an pemerintah membangun jalan lintas Seram
72 yang menghubungkan pusat kota kabupaten dan wilayah-wilayah terpencil. Sejak saat itu juga mulai dibangun berbagai infrastruktur yang mendukung aktivitas perekonomian masyarakat setempat.
Jika mengingat kedudukan wilayah Kecamatan TNS di Pulau Seram sekarang ini sebagai wilayah transit dari berbagai tempat bila hendak ke ibu kota kabupaten, serta telah memadainya fasilitas perekonomian, maka secara ekonomis terdapat perubahan yang berarti dalam masyarakat. Dampak positif dari perubahan ini merupakan kekuatan atau peluang bagi masyarakat setempat untuk membangun perekonomiannya.
3.7.3. Bidang Pemerintahan.
Di bidang pemerintahan, dapat dikatakan bahwa masyarakat Wotay hingga kini masih memiliki sistem pemerintahan adat. Namun setelah pemberlakuan Undang-undang (UU) Nomor 5 tahun 1979 tetang Sistem Pemerintahan Desa, yang oleh karenanya sistem pemerintahan Indonesia disetarakan maka dapat dikatakan bahwa generasi sekarang telah meninggalkan berbagai sistem pemerintahan adat. Konsekuensinya, karena hampir sebagian besar generasi tua dari komunitas ini sudah tidak ada lagi maka keadaan ini menyebabkan terjadinya perubahan secara signifikan pada sistem pemerintahan masyarakat setempat. Terkait dengan perubahan ini, salah satu aspek yang dapat dikedepankan sebagai pengaruh perubahan sosial terhadap bentuk pemerintahan masyarakat lokal antara lain akses pemerintah di daerah-daerah semakin baik dibandingkan kondisi semula di Pulau Nila. Di samping itu, perhatian pemerintah dan kebijakan-kebijakan pembangunan semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat setempat.
73
3.8. Kesimpulan
Moritari lahir dari realitas leluhur masyarakat Wotay yang hidup terisolasi di Pulau
Nila dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Pada hakikatnya moritari merupakan pendidikan moral yang mengatur, mengontrol, dan membentuk watak serta karakter setiap anak Negeri Wotay, dan telah menjadi ciri khas serta identitas dari seluruh anggota komunitas masyarakat setempat.
Moritari memiliki kekayaan nilai yang dapat menjadi kekuatan bagi masyarakat
Wotay dalam membangun kehidupan bersama dengan layak. Nilai-nilai tersebut adalah nilai solidaritas, nilai persatuan dan kesatuan, nilai ekonomi, dan nilai religius yang berlaku secara universal, tidak hanya mencakup masyarakat asli Wotay, tetapi juga masyarakat pendatang. Dalam perjumpaannya dengan Injil, moritari mendapat tempat yang baik dalam kehidupan keagamaan masyarakat Wotay. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai positif moritari juga terdapat di dalam Injil yang termanifestasi dalam kasih, persekutuan, dan penghargaan kepada sesama.
Dinamika pelaksanaan moritari masa kini yang banyak mengalami pergeseran, dipengaruhi oleh perubahan sosial masyarakat Wotay. Selain merubah wajah masyarakat Wotay menjadi lebih terbuka dan maju, perubahan sosial masyarakat Wotay mengancam eksistensi moritari khususnya di kalangan generasi muda masyarakat Wotay.