• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Lapangan Pekerjaan

Sumber nafkah merupakan aset, sumberdaya atau modal yang dimiliki rumahtangga yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan nafkah rumahtangga. Terdapat delapan sumber nafkah rumahtangga responden Resort Sarongge sekarang ini yaitu lapangan pekerjaan sebagai petani, buruh tani, peternakan, jasa konstruksi, wiraswasta, jasa hiburan dan karyawan. Seluruh sumber nafkah tersebut dikategorikan dalam dua struktur nafkah: a) nafkah dari sumber-sumber pertanian (petani, buruh tani dan peternak), atau yang disebut sebagai nafkah yang bersumber dari on farm dan off farm; b) nafkah dari sumber-sumber non pertanian (jasa konstruksi, wiraswasta, jasa hiburan, karyawan dan jasa ojek), atau yang disebut sebagai nafkah yang bersumber dari non farm tercantum dalam Tabel 9.

Nafkah dari sumber pertanian (on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm) tersebut merupakan ciri struktur nafkah masyarakat Desa Ciputri yang ditunjukkan oleh 30 responden yang sudah di dapatkan (Tabel 3). Struktur nafkah tunggal, dual, dan multi tersebut

Tabel 9 Jenis Lapangan Pekerjaan dan Profesi Responden Rumahtangga Desa Ciputri Tahun 2012.

No Lapangan Pekerjaan Profesi Responden

1 Pertanian (on farm dan off farm) - Petani

- Buruh tani - Peternakan

Petani Buruh tani

Peternak kambing dan kelinci 2 Non Pertanian (non pertanian)

- Jasa Konstruksi - Wiraswasta - Jasa Hiburan - Karyawan - Jasa Transportasi Buruh Bangunan

Warung , pedagang sayur Penyiar Radio

Satpam, Karyawan Supir, Ojek

Sebagaimana tercantum dalam Tabel 9 menjelaskan beberapa profesi responden Desa Ciputri. Profesi responden tersebut meliputi lapangan pekerjaan pertanian dan non pertanian. Terdapat sebelas jenis profesi responden Desa Ciputri, yaitu Petani dengan kepemilikan lahan sendiri, buruh tani, Peternak kambing atau kelinci, buruh bangunan, warung, penyiar radio, satpam, karyawan, pedagang sayur , supir roda empat dan ojek. Lapangan pertanian berjumlah tiga jenis profesi, sedangkan pada lapangan pekerjaan non pertanian berjumlah delapan profesi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Pada penjelasan di atas menunjukkan bahwa responden Desa Ciputri tidak hanya terpatok pada satu jenis lapangan pekerjaan saja. Responden mencari beberapa jenis pekerjaan yang lain untuk mempertahankan keberlanjutan hidup rumahtangga karena hampir semua mengatakan jika hanya mengandalkan satu

27 jenis pekerjaan saja tidak akan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari rumahtangga.

“mun ayeuna mah kudu neangan pakerjaan nu laennya ambeuh

sakulawargi ceukap ka kabutuhan sahari-hari jeung dahar, kabutuhan anak-anak mun arek jajan, jeung sakolana, baju, bayar kreditan motor nu can lunas, jadi rek kumaha deui tos kawajiban jadina. Si ibu oge sok milu pigawe ambeuh nambih-

nambih jeung di dapur”. (UCP, 40tahun, 28 Maret 2013)

“ jika sekarang harus mencari pekerjaan yang lainnya agar mencukupi kebutuhan sekeluarga untuk makan, kebutuhan anak- anak jajan sekolah, baju, membayar kreditan motor yang belum lunas, jadi mau bagaimana lagi, sudah kawajiban. Si ibu juga kadang suka ikut kerja untuk nambah-nambah di dapur” (UCP, 40 tahun, 28 Maret 2013)

Tabel 10 Jumlah responden rumahtangga resort sarongge menurut aneka nafkah dari pertanian dan non pertanian Tahun 2012

Non Pertanian Pertanin Tidak berkerja di pertanian Total Petani Buruh Tani Peternak kambing/ kelinci Petani & buruh tani Petani & Peterma k Buruh tani & Peternak Petani, buruh tani & peternak Jasa 0 6 1 1 0 1 0 0 9 Pedagang 0 3 0 0 0 0 0 0 3 Karyawan & / wiraswasta 0 5 0 0 2 0 0 1 8 Kombinasi 2 & 3 0 0 0 0 0 0 0 3 3 Kombinasi 11,2 0 1 0 1 0 0 0 0 2 Tidak berkerja di non pertanian 0 2 0 0 1 1 1 0 5 Total 0 17 1 2 3 2 1 4 30

28

Pekerjaan responden sebagaian besar tidak hanya berpaku pada satu jenis lapangan pekerjaan. Namun responden berusaha mencari beberapa jenis lapangan pekerjaan lain berguna mempertahankan keberlanjutan hidup rumahtangga responden. Sebanyak 5 responden (16.7 persen) dari 30 responden yang diteliti sepenuhnya mengandalkan nafkah dari pertanian (petani, buruh tani dan peternak kambing/kelinci). Kemudian yang sepenuhnya mengandalkan nafkah dari non (karyawan, pedagang sayur dan sebanyak 4 responden (13.3 persen). Sisanya mengandalkan nafkah hidupnya dari kombinasi dual dan multi nafkah dari pertanian (on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm), berdasarkan Tabel 10.

Sebagian besar responden rumahtangga dengan sumber nafkah lebih dari satu pekerjaan lebih banyak. Bahkan hanya ada satu satu responden yang bermata pencaharian hanya satu saja, hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yaitu banyaknya anak yang sudah berumahtangga sendiri sehingga sudah menjadi tanggungannya, kemudian faktor usia yang menurut mereka sudah tidak muda lagi. Berikut ungkapan dari responden yang bermata pencahariannya hanya satu.

“Bapak mah kerjaanna ayeuna ngan jadi buruh tani ajah dek, lantaran abdi tos rada sering geuring faktor tos sepuh oge dek. Bari putra-putra bapak tos ageung, malah tos boga incu deui bapak mah. Jadi ya ti buruh tani ge tos ceukap ngamenuhan kabutuhan mah, ukur nimbang dahar 2 kali sahari mah tos ceukap dek. (WE, 52tahun, 3 April 2013).

“bapak sekarang kerjanya hanya menjadi buruh tani saja, karena saya sudah sering sakit dan tua. Lagipula putra-putra bapak sudah dewasa, bahkan bapak sudah memiliku cucu.Jadi ya buruh tani juga sudah cukup memenuhi kebutuhan, hanya makan 2 kali sehari sudah cukup (WE, 52tahun, 3 April 2013).

Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Penggarap

Sebagian besar rumahtangga pedesaan pada umumnya tidak dapat menghindar dari resiko, apakah yang disebabkan oleh manusia atau karena faktor lingkungan, dan mereka biasanya memanajemen struktur nafkah sehingga mampu meminimalkan resiko, tergantung kepada sumberdaya yang dimiliki (Ellis, 2000). Strategi nafkah rumahtangga merupakan landasan pilihan aktivitas nafkah yang dilakukan rumahtangga untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan rumahtangga. Aktivitas nafkah merupakan tindakan anggota rumahtangga yang dapat dilihat sebagai bentuk dari strategi nafkah rumahtangga.

Sumberdaya yang dimiliki oleh rumahtangga petani mempengaruhi aktivitas nafkah demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dharmawan (2007) menyatakan bahwa strategi nafkah adalah taktik dan aksi yang dibangun oleh individu ataupun kelompok untuk mempertahankan kehidupan mereka dengan tetap memperhatikan eksistensi infrastruktur sosial, struktur sosial dan sistem nilai budaya yang berlaku. Dalam upaya memperjuangkan kehidupan ekonominya rumahtangga petani akibat berbagai risiko tersebut biasanya akan melakukan

29 diversifikasi sumber nafkah yaitu proses yang dilakukan oleh kelurga pedesaan untuk melakukan berbagai aktivitas dan kemampuan dorongan sosial mereka dalam upaya berjuang untuk bertahan hidup dan untuk meningkatkan standar hidup.

Berbagai alasan individu dan rumahtangga melakukan diversifikasi sebagai strategi nafkah adalah karena keterpaksaan (necessity) dan pilihan (choice). Istilah lain yang sering digunkan adalah antara bertahan hidu (survival) dan pilihan (choice) atau antara bertahan hidup (survival) dan akumulasi (accumulation). Suatu kondisi yang memaksa, misalnya: tidak adanya akses lahan bagi petani tunakisma, lahan yang semakin sempit akibat fragmentasi lahan warisan, gagal panen, bencana alam, atau ketidakmampuan mengerjakan aktifitas pertanian karena kecelakaan atau sakit. Dalam kasus Desa Ciputri ini karena perubahan rezim dari lahan Perum Perhutani yang awalnya diperboleh menggarap lahan di kawasan hutan, namun sejak adanya Berita Serah Terima Acara (BAST) ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), para petani terpaksa keluar dari lahan garapannya yang sekarang menjadi lahan kawasan TNGGP.

White dalam widiyanto (2009), membedakan rumahtangga petani ke dalama tiga kelompok dengan strategi nafkah yang berbeda. Pertama, rumahtangga yang atau mengusahakan tanah pertanian luas, yang menguasai surplus produk pertanian diatas kebutuhan hidup mereka. Surplus ini seringkali dimanfaatkan untuk membiayai pekerjaan di luar sektor non-pertanian, dengan imbalan penghasilan yang relatif tinggi pula. Pada golongan pertama, strategi nafkah yang mereka terapkan adalah strategi akumulasi dimana hasil pertaniannya mampu diinvestasikan kembali baik pada sektor pertanian maupun non-pertanian. Kedua, rumahtangga usaha tani sendang (usahatani hanya mampu memenuhi kebutuhan subsisten). Mereka biasanya bekerja pada sektor non pertanian dalam upaya melindungi diri dari gagal panen atau memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan mengingat usaha pertanian bersifat musiman. Strategi mereka ini dapat disebut sebagai strategi konsolidasi. Ketiga rumahtangga usaha tani gurem atau tidak bertanah. Biasanya mereka bekerja dari usaha tani ataupun buruh tano, dimana penghasilannya tidak dapat mencukupi kebutuhan dasar. Rumahtangga ini akan mengalokasikan sebagian dari tenaga kerja mereka tanpa modal, dengan imbalan yang rendah ke dalam kegiatan luar pertanian. Pada rumahtangga di golongan ketiga ini umumnya menerpakan strategi bertahan hidup (survival strategy).

Tabel 11 menunjukkan bahwa sebanyak 22 responden mengandalkan aneka nafkah ganda di sektor pertanian (on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm). Demikian pula enam responden yang bernafkah multi tiga sampai empat mata pencaharian masih mengandalkan di sektor pertanian (on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm). Sedangkan dua responden yang bernafkah tunggal mengandalkan di sektor pertanian (off farm). Hal ini menunjukkan yang diterapkan responden strategi nafkah tunggal, nafkah ganda dan nafkah multi tercantum pada Tabel 11.

30

Tabel 11 Jumlah rumahtangga responden menurut aneka strategi nafkah tahun 2012

No Strategi Nafkah JumlahRespon

den Persentase (%) 1. Nafkah Tunggal Buruh Tani 2

Total Responden Nafkah Tunggal 2 6.7

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Nafkah Ganda ( 2 mata pencaharian):

Buruh tani dan ojek Buruh tani dan karyawan

Buruh tani dan dagang sayur ke jakarta Buruh tani dan peternak

Buruh tani dan Satpam Petani dan peternak

Karyawan dan buka warung Buruh Bangunan dan Peternak Karyawan dan pedagang sayur

6 3 3 1 2 1 2 1 3

Total Responden Nafkah Ganda 22 73.3

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Nafkah Multi ( 3-4 mata pencaharian )

Petani, buruh tani dan ojek Petani, buruh tani dan peternak Petani, peternak dan penyiar radio

Petani, peternak, karyawan Camping Ground dan tukang masak

Petani, buruh tani, ojek dan dagang sayur ke jakarta

Buruh tani, supir, dagang sayur dan ojek

1 1 1 1 1 1

Total Responden Nafkah Multi 6 20

Total Responden 30 100

Berdasarkan tabel 11 dapat dikatakan secara umum terdapat 16 jenis strategi bertahan hidup. Dari 16 macam strategi bertahan hidup yang diandalkan oleh 30 responden tersebut sebanyak satu jenis strategi bertahan hidup responden tergolong ke dalam strategi nafkah tunggal di off farm. Sedangkan sebanyak sembilan jenis strategi bertahan hidup responden tergolong ke dalam strategi nafkah ganda di sektor pertanian ( on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm). Terakhir sebanyak enam jenis strategi bertahan hidup responden tergolong ke dalam strategi nafkah multi di sektor pertanian ( on farm dan off farm) dan non pertanian (non farm).

31 Tabel 12 Jumlah rumahtangga responden berdasarkan jenis strategi nafkah hanya dalam kategori pertanian dan hanya dalam kategori non pertanian pada tahun 2008 dan 2012

No Strategi Nafkah Jumlah responden

2008 2012

1 Pertanian

 Petani Penggarap  Buruh Tani

 Buruh Tani dan Peternak  Petani, Buruh Tani dan

Peternak

 Petani dan Peternak

30 2 1 1 1 Jumlah Responden 30 5 2 Non Pertanian

 Karyawan dan Wiraswasta  Karyawan dan Pedagang

Sayur

2 3

Jumlah Responden 5

Ʃ Responden 10

Sebagaimana tercantum dalam Tabel 12, terdapat 5 responden (50 %) dari 10 respoden yang hanya mengandalkan nafkah bersumber dari pertanian baik nafkah tunggal (buruh tani), ganda (buruh tani dan peternak, petani dan peternak) dan multi (petani, buruh tani dan peternak). Selanjutnya terdapat 5 respoden (50%) dari 10 responden yang hanya mengandalkan nafkah berbersumber dari non pertanian yaitu nafkah ganda (karyawan dan Wiraswasta, Karyawan dan Pedagang sayur). Sisa lainnya mengandalkan kombinasi aneka jenis mata pencaharian baik dari pertanian dan non pertanian.

Hasil penelitian juga menunjukkan (Tabel 12), sebanyak 30 responden atau 100 persen mengandalkan nafkah tunggal di on farm. Jenis mata pencaharian respoden pada tahun 2008 hanya menjadi petani penggarap. Strategi nafkah yang diterapkan responden dengan satu mata pencaharian karena petani beranggapan bahwa hanya dengan bertani di kawasan sudah mampu dicukupi seluruh kebutuhan sehari-hari. Hal ini didukung dengan pernyataan salah satu responden:

ti ngebon di gunung mah dek tos tiasalah meuli beas, mayar

sakola anak, alhamdulilah ceukap lah dek” (HB, 30 tahun, 4 April 2013)

“dari berkebun (bertani) di gunung8

, sudah mampu membeli beras, membayar biasa sekolah, Alhamdulillah sudah cukup”(HB, 30 tahun, 4 April 2013)

8

gunung yang dimaksud adalah kawasan Perum Perhutani yang sekarang menjadi kawasan TNGGP.

32

Penuturan tersebut menunjukkan bahwa petani saat itu sangat bergantung terhadap hasil pendapatan dari lahan garapan di kawasan Perhutani. Seperti yang sudah di bahas pada bab sejarah TNGGP, dikatakan bahwa peralihan kawasan dari Perum Perhutani ke kawasan TNGGP mengalami status quo, sehingga petani membuka kembali lahan garapan milik TNGGP karena petani tersebut hampir semua tidak memiliki lahan sendiri. Perubahan kawasan tersebut sangat mempengaruhi strategi nafkah bertahan hidup petani, dengan memanfaatkan asset yang dimiliki.Dengan demikian, menimbulkan aneka nafkah untuk bertahan hidup rumahtangga petani.

Berdasarkan pemaparan paragraf sebelumnya, terjadi perubahan jenis mata pencaharian nafkah rumahtangga terhitung pada tahun 2008, pada tahun ini di ketahui hanya terdapat satu jenis mata pencaharian yang menjadi andalan nafkah rumahtangga petani yaitu buruh tani (Tabel 11) bersumber dari bidang pertanian. Namun pada tahun 2012 terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan aneka nafkah yang dilakukan petani, baik nafkah yang didapatkan dari pertanian dan non pertanian bahkan aneka nafkah yang mengkombinasikan dari pertanian dan non pertanian (Tabel 13).

Penguasaan Lahan Rumahtangga Responden DesaCiputri

Lahan yang yang dikuasai oleh respoden di Desa Ciputri berasal dari lahan milik, lahan sewa, dan bagi hasil. Luas lahan petani yang dimiliki adalah modal utama dalam usaha tani.Menurut Purwati dalam turasih (2011), besar kecilnya pendapatan petani dari usaha taninya ditentukan oleh luas lahan garapannya karena luas lahan garapan tersebut dapat mempengaruhi produksi persatuan luas. Lahan merupakan basis bagi berlangsungnya kehidupan rumahtangga petani karena dari hasil pertanian petani memperoleh penghasilan (Turasih 2011).

Perluasan kawasan yang terjadi di Desa Ciputri mengakibatkan perubahan berkenaan status penguasaan tanah yang dimilki responden. Perubahan penguasaan lahan yang dimiliki responden terlihat pada rentang tahun 2008 dan tahun 2012.

Semakin banyak luas kepemilikan lahan yang dimiliki rumahtangga berbanding lurus dengan tingkat pendapatan yang didapatkan rumahtangga. Petani dengan garapan yang lebih luas memiliki kesempatan menanam sayur mayur yang lebih banyak, namun dengan demikian biasanya petani yang memiliki luasan lahan yang lebih luas memperkerjaan orang lain (buruh tani) untuk membantu lahan garapannya tersebut. Walaupun harus mengeluarkan pengeluaran untuk membayar buruh tani namun hal tersebut masih bisa tertutupi ketika masa panen telah tiba.

Sebagaimana tercantum pada Tabel 13, sebanyak 22 responden (70 persen) dari 30 responden petani di Desa Ciputri pada tahun 2012 tidak memiliki lahan atau tuna kisma, kemudian terdapat satu respoden (3.3 persen) menguasai lahan dengan status penguasan tanah milik satu orang seluas antara 50 m2 sampai 100 m2 , dan terakhir sebanyak tujuh responden (20 persen) menguasai tanah seluas lebih dari sama dengan 100 m2 dengan status penguasaan tanah milik sebanyak dua respoden, tanah sewa sebanyak empat responden dan tanah bagi hasil satu responden dengan luasan lebih dari 2 000 m2 dan kurang dari 2 800 m2.

33 Dalam kepemilikan lahan pada tahun 2012 hampir semua penguasaan tanahnya sudah tidak memiliki lahan, karena terjadinya perubahan rezim kawasan yang awalnya lahan PHBM (2008) diperbolehkan menggarap sekarang sudah dilindungi menjadi lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jadi petani harus mencari alternatif pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya tanpa adanya kepemilikan lahan, sehingga hubungan atas kedua variabel tersebut belum ditemukan secara jelas. Walaupun masih ada beberapa petani yang masih memiliki lahan namun letaknya sudah bukan di lahan garapan (PHBM) lagi. Hal ini juga didukung oleh pernyataan salah satu responden:

“.... ya ayeuna mah mas nyari pagawean nu laen, pan tos teu tiasa ngebon di luhur gunung deui (kawasan TNGGP), yaa jadi buruh tani weeh, ngojek mun siang-siangna maah” (AS,43tahun, 3 April 2013)

ya sekarang sih mencari pekerjaan yang lain, kan sudah tidak bisa ngebon di atas gunung lagi (Kawasan TNGGP), ya jadi buruh tani, ngojek kalo siangnya (AS,43tahun, 3 April 2013)

Tabel 13 Jumlah responden dengan status penguasaan tanah menurut golongan luas tanah tahun 2008 dan 2012

Golongan luas lahan yang dikuasai Tahun 2008 Tahun 2012 Tanah Garapan Perhutani Tanah milik Total Tanah Garapan Perhutani Tanah milik Tanah Sewa Tanah Bagi Hasil Total Tuna Kisma - - - - 21 50 – 100 m2 - - - - 1 - - 1 500 m2> X > 100 m2 - - - 2 - 2 2000 m2> X ≥ 500 m2 10 - 10 - - 4 - 4 2 800 m2 > X ≥2 000 m2 9 - 9 - - - 1 1 X ≥ 2 800 m2 11 - 11 - - 1 - 1 Total 30 - 30 - 1 6 1 30

Sebagaimana tercantum pada Tabel 13, sebanyak 10 responden (33.3 persen) dari 30 responden petani di Desa Ciputri pada tahun 2008 menguasai tanah dengan luasan lahan garapan lebih dari 500 m2 dan kurang dari 2 000 m2, kemudian terdapat 9 responden (30 persen) menguasai tanah seluas lebih dari 2 000 m2 dan kurang dari 2 800 m2 dan sisanya sebanyak 11 responden (36.7 persen) menguasai tanah seluas lebih dari 2 800 m2 dan status penguasaan tanah tersebut adalah tanah garapan Perhutani. Semakin besar luasan tanah yang

34

dikuasai berbanding lurus juga dengan pendapatan yang didapatkan oleh responden.hal ini didukung oleh salah satu pernyataan responden:

.... kulantaran bapak gaduh beberapa patok di hutan garapan baheula (saat PHBM) lumayan gede, bapak tiasa ngamenuhi kabutuhan sahari-hari malah sok aya leuwihna oge jeung kabutuhan sakola, meuli motor ambeuh jadi tabungan oge... mun ade teurang pak HB mah boga 16 patok , ayeuna beunghar tuh, makin loba patok nu diboga, makin beunghar de... abdi mah alhamdulilah sakieu oge, tos ceukap. (OS, 38 th, 27 Maret 2013) “...karena bapak memiliki beberapa patok9

di hutan10 dulu (saat PHBM) lumayan luas, bapak bisa memenuhi kebutuhan sehari- hari bahkan sering ada lebihnya juga untuk kebutuhan sekola, beli motor untuk tabungan juga... jika anda (peneliti) tau pak HB dia memiliki 16 patok, sudah kaya sekarang, semakin banyak patok yang dipunya semakin kaya juga. Saya sih alhamdulilah segini juga sudah cukup. (OS, 38 tahun, 27 Maret 2013)

Perluasan kawasan ini menciptakan strategi nafkah untuk bertahan hidup dengan berbagai aktivitas nafkah atau mata pencaharian yang lain. Mata pencaharian lain dilakukan demi mendapatkan pendapatan rumahtangga walaupun basis nafkah sudah tidak bersumber pada tanah lagi. Sehingga luas kepemilikan lahan garapan sudah tidak menjadi indikator besar kecilnya pendapataan rumahtangga petani yang didapatkannya.

Tabel 14 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendapatan dan luas kepemilikan lahan petani pada tahun 2008

Luas Kepemilikan lahan garapan (2008)

Pendapatan Rumahtangga petani (2008)

Total < Rp 16 620 000 Rp 16 620 001 – Rp 21 360 000 ≥ Rp 21 360 001 Rendah (<1850m2) 9 0 0 9 Sedang (1851m2-2790m2) 0 7 1 8 Tinggi (≥2791 m2 ) 0 1 12 13 Total 9 8 13 30 9

Patok, istilah yang sering dipakai warga untuk mengemukakan luasan lahan. Satu patok = 400 m2

10

Hutan yang dimaksud adalah kawasan TNGGP yang dulunya adalah hutan produksi milik Perum Perhutani.

35 Sebagaimana tercantum dalam Tabel 14, sebanyak sembilan responden (30 persen) memiliki pendapatan rumahtangga petani pada 2008 dikategorikan rendah atau kurang dari Rp 16 620 000 dan memiliki tujuh luas lahan dikategorikan rendah atau kurang dari 1850m2. Sedangkan sebanyak responden (23,3 persen) memiliki pendapatan rumahtangga petani dikategorikan sedang atau antara Rp 16 620 001 sampai dengan Rp 21 360 000 dan memiliki luas lahan dikategorikan sedang atau antara 1851m2sampai dengan 2790m2. Namun terdapat satu responden (3,3 persen) yang berkategorikan pendapatan sedang dan memiliki lahan termasuk tinggi. Hal ini diakibatkan karena bentuk lahan yang dimiliki terjal sehingga lahan yang terjal tersebut di tidak bisa ditanami tanaman sayur mayur dan hanya di jadikan jalur air saja, namun lahan tersebut masih kepemilikan lahan responden tersebut pada saat itu (tahun 2008). Berikut ungkapan responden:

“.... bapak emangna gaduh lahan di gunung lumayan, ngan

lahan nu bapak teh di ujungna kapotong kulantaran lahannya legok jadi bapa ge teu bisa rek nanem sayur mayur bortol, pakcoy, nu laen ge... ah keun, alhamdulilah sih sakieu ge tos bersyukur mas.(EY, 35 tahun, 25 Maret 2013)

“..bapak memang memiliki lahan di gunung lumayan, tetapi lahan bapak ujungnya terpotong karena lahannya menjorok jadi bapa tidak bisa menanam sayur mayur..tetapi alhamdulilah tetap bersyukur(EY, 35 tahun, 25 Maret 2013)

Berdasarkan Tabel 14 sebanyak 12 responden (40 persen) memiliki pendapatan rumahtangga dikategorikan rendah (kurang dari sama dengan Rp 16 620 000) dan memiliki luasan lahan dikategorikan tinggi (≥2791 m2). Terdapat satu orang responden yang berpendapatan rumahtangga tinggi namun responden tersebut memiliki luasan lahan yang tergolong sedang. Hal ini disebabkan karena pada responden tersebut selain Ketua rumahtangga yang bekerja sebagai petani penggarap namun sejak tahun 2005-an istrinya harus ikut bekerja yakni memulai berjualan warung kecil-kecilan. Latar belakang mengapa istrinya ikut bekerja karena sejak anak pertamanya terkena penyakit, dan mereka menganggap penghasilan dari petani penggarap saja masih kurang untuk biaya pengobatan anaknya tersebut.

“...sejak putra nu kahiji abdi kena penyakit, baheula jadi si ibu

(istri) kadang sok jualan di rumah, yaa barang aya gorengan, kerupuk-kerupukan, cengek, timbang saeutik yaa lumayan mas kana nambihan apalagi putra keur geuring (UU, 37 tahun, 5

April 2013). “.... muhun mas, yaa abdi ngabantu bapa

kulantaran ari ti kebon mah bisi teu ceukap ,abdi bubuka warung kecil , modalna ti mun aya panen atawa nginjem heula ka punbiang (SR,31 tahun, 5 April 2013)

“...sejak putra pertama kena sakit, dulu si ibu (istri) terkadang suka jualan drumah, dagang gorengan, kerupuk, cabe, sedikit ya lumayan mas untuk nambah-nambah (UU, 37 tahun, 5 April

36

2013).”...iya mas, abdi ngebantu bapa karena dari kebon takut tidak cukup, saya buka warung kecil, modalnya dari panen atau minjam dari keluarga (SR,31 tahun, 5 April 2013)

Tabel 15 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendapatan pertahun dan luas kepemilikan lahan petani pada tahun 2012

Luas Kepemilikan lahan garapan (2012

Pendapatan Rumahtangga petani (2012))

Total persentase < Rp 10 392 000 Rp 10 392 00 – Rp 13 740 000 >Rp 13 740 000 Rendah (<0m2) 10 4 7 21 70 % Sedang (50 m2 99 m2) 1 0 0 1 3.4 % Tinggi (≥100 m2 ) 1 2 3 6 20 % Total 12 6 12 30 100% Persentase 40 % 20 % 40 % 100%

Sebagaimana tercantum dalam Tabel 15, sebanyak tujuh responden (20 persen) dikategorikan memilki luas kepemilikian lahan garapan tinggi (lebih dari sama dengan 100 m2), berpendapatan rumahtangga petani kurang dari Rp 10 392 000 sebanyak satu responden, sebanyak dua responden berpendapatan sedang antaraRp 16 620 001 sampai dengan Rp 21 360 000 dan sebanyak empat responden berpendapatan tinggi lebih dari Rp 13 740 000. Sebanyak 22 responden (76.7 persen) dikategorikan memiliki luas kepemilikan lahan garapan rendah dengan kata lain tidak memiliki lahan pertanian, namun pendapatan rumahtangga yang beragam terdiri dari sebanyak 10 responden berpendapatan rendah kurang dari Rp16 620 000, sebanyak empat responden berpendapatan sedang antara Rp 16 620 001 sampai dengan Rp 21 360 000 dan terakhir sebanyak delapan responden berpendapatan tinggi lebih dari Rp21 360 000. Sisanya sebanyak satu responden dikategorikan memiliki luas kepemilikan lahan garapan sedang (antara 50m2–99m2) dengan besaran pendapatan rendah kurang dari Rp 10 392 000

Dokumen terkait