BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Perubahan Tata Ruang Dalam Pada Rumah Tinggal
Menurut pendapat Habraken (2004) bahwa perubahan merupakan hasil intervensi dari manusia, individu kelompok atau organisasi dan institusi dalam kontrol suatu bagian tempat terjadinya perubahan kemampuan untuk merubah realita fisik adalah suatu kekuasaan, dikatakan kekuasaan karena semua orang mempunyai kemampuan untuk memutuskan perletakan, pemindahan atau pergeseran suatu elemen. Menurut Kurt Lewin (dalam Idris ,2013) perubahan adalah proses pencapaian ke tingkat atau tahap baru untuk mencapai keseimbangan baru.
Menurut Gerth & Mills (dalam Purnamasari, 2010), menguraikan tentang enam hal yang menyangkut perubahan. Dikatakan bahwa dalam perubahan, akan tergambarkan tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Apa yang berubah;
b. Bagaimana hal tersebut berubah;
c. Arah perubahan;
d. Kecepatan perubahan;
e. Sebab-sebab perubahan;
f. Faktor-faktor penting yang ada dalam perubahan.
Selanjutnya Gerth & Mills (dalam Purnamasari, 2010) menambahkan bahwa untuk mengetahui apa yang berubah dalam suatu ruang adalah dengan mengetahui adanya penambahan, pembagian, dan perubahan fungsi dalam suatu ruang. Purnamasari (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Pola Tata Ruang Dalam Rumah Tinggal Masa
Kolonial di Kidul Dalem Malang” menjelaskan bahwa indikator perubahan tata ruang dalam adalah sebagai berikut :
a. Penambahan Ruang
Pada penambahan ruang melakukan pembuatan ruang baru yang melibatkan lahan kosong atau halaman. Penghuni dapat membuat ruang baru pada halaman rumah mereka untuk ruang usaha. Dalam penambahan ruang ini tidak berlaku suatu ukuran tertentu, atau ukuran ruangan yang digunakan sebagai ruang usaha tergantung luas halaman yang dimiliki.
Gambar 2.1 Perubahan Denah Rumah dengan Penambahan Ruang b. Pembagian Ruang
Pada pembagian ruang penghuni dapat melakukan perubahan terhadap semua ruang yang dimiliki dengan pemberian batas yang jelas. Batas ruang ini dapat berupa batas fisik maupun non fisik. Batas fisik berupa tembok permanen ataupun pembatas tidak permanen, sedangkan batas non fisik berupa waktu (jam kerja).
Gambar 2.2 Perubahan Denah Rumah dengan Pembagian Ruang (Adanya Batas Fisik)
Gambar 2.3 Perubahan Denah Rumah dengan Pembagian Ruang (Adanya Batas Non Fisik) c. Peralihan Fungsi Ruang
Pada Peralihan Fungsi Ruang penghuni melakukan peralihan fungsi ruang dari ruang hunian menjadi ruang usaha, ataupun peralihan fungsi ruang dari ruang usaha 1 menjadi ruang usaha 2.
Gambar 2.4 Perubahan Denah Rumah dengan Peralihan Fungsi Ruang Hunian Menjadi Ruang Usaha
Gambar 2.5 Perubahan Denah Rumah dengan Peralihan Fungsi Ruang Usaha 1 Menjadi Ruang Usaha 2
2.5.2 Faktor Penyebab Perubahan Tata Ruang Dalam Pada Rumah Tinggal
Seiring dengan kemajuan zaman, gaya hidup manusia akan terus mengalami perkembangan, termasuk di dalamnya aspek sosial budaya, aspek ekonomi, aspek pendidikan, aspek politik dan sebagainya. Betapapun sederhananya, hunian adalah hasil kebudayaan manusia dalam bentuk bangunan fisik dan memiliki fungsi serta nilai-nilai tertentu. Hunian disusun dari berbagai komponen material yang diperoleh manusia dari
lingkungan alam. Melalui rumah, manusia membentuk, melestarikan, dan mengembangkan keluarga.
Menurut Supriyanto (2000) dalam penelitiannya mengenai “Perubahan Fisik Rumah Tinggal dengan Adanya Usaha yang Bertumpu Pada Rumah Tangga di Kampung Sekarbela, Mataram”, bahwa persamaan perubahan tatanan ruang dan tampilan bangunan rumah tinggal disebabkan adanya beberapa hal yang lain antara lain sebagai berikut :
A. Pengaruh Dari Luar
Dalam kasus ini pengaruh luar yang menyebabkan perubahan fisik pada rumah tinggal akibat adanya perubahan pemanfaatan ruang adalah :
1. Karakteristik Usaha Rumahan
Berdasarkan ketentuan atau kebutuhan yang harus dipenuhi dalam mewujudkan suatu rumah usaha, rumah tinggal harus bisa dirubah untuk menjadi rumah usaha yang bisa menampung aktivitas agar kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak terganggu dengan adanya kegiatan UBR. Perubahan rumah tinggal menjadi rumah dengan usaha tentunya juga menyesuaikan kemampuan penghuni dalam membangun, menjalankan usaha, serta mengoptimalkan usaha sesuai konndisi lingkungan.
2. Perkembangan Kawasan Sekitar
Masuknya perumahan formal ke lingkungan perkampungan Kelurahan Tunjungsekar dan Kelurahan Tunggulwulung menuntut masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan kawasan. Mayoritas pekerjaan masyarakat di perkampungan Kelurahan Tunjungsekar dan Kelurahan Tunggulwulung adalah seorang petani. Semenjak adanya perumahan formal yang masuk, terjadi perubahan pekerjaan dari petani menjadi tukang. Masyarakat yang bekerja sebagai petani beralih menjadi tukang di kegiatan produksi mebel.
Seiring berjalannya waktu, mereka berpikir bahwa ketika mereka membuka usaha sendiri akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dengan hanya menjadi tukang. Sehingga sebagian masyarakat yang memiliki keahlian dalam bidang mebel memutuskan untuk memiliki usaha mebel di rumahnya sendiri. Selain itu, sebagian masyarakat lain menganggap penghasilan yang didapat dengan hanya menjadi tukang sementara jaman semakin berkembang tentu saja tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga.
Sehingga mereka memutuskan untuk membuka usaha rumahan seperti toko sembako, bengkel, toko kelontong, warung, dan lain sebagainya.
B. Pengaruh Dari Dalam 1. Orientasi Ekonomi
Perubahan yang terjadi di kota-kota Indonesia pada umumnya adalah karena konsepsi modern yang cenderung materialistis dan ragawi. Modernisme dengan ekonomi dan segala sesuatunya yang serba terukur secara rasionalistik akan dapat dengan mudah dipakai dan diterima oleh masyarakat. Dari hal tersebut dapat dimengerti bagaimana aspek ekonomi sekarang berperan penting dalam hal perubahan yang terjadi pada rumah tinggal. Rumah tinggal dipandang sangat bermanfaat dalam segi ekonomi dan mampu mendatangkan penghasilan bagi keluarga.
2. Peningkatan Pemanfaatan Ruang
Penduduk kota cenderung untuk mengelompok bertahan pada tempat tinggalnya berdasarkan kepentingan sosialnya yang salah satu diantaranya adalah kepentingan ekonomi. Kepadatan permukiman setempat tidak mudah membuat mereka pindah, terlebih bila tempat sudah memberikan peluang untuk mendapatkan penghasilan. Dapatlah dimengerti bahwa rumah usaha yang terdapat di perkampungan Kelurahan Tunjungsekar dan Kelurahan Tunggulwulung selalu diupayakan oleh penghuninya agar mampu mewadahi kebutuhan hunian dan nafkahnya dengan cara peningkatan kualitas ruangan, penggunaan ruang dengan fungsi ganda atau fungsi hunian sekaligus usaha.