BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Karakteristik Perubahan Pemanfaatan Ruang
4.3.2 Tipe 2 (Adanya Batas Fisik Antara Ruang Usaha dengan
pembagian ruang. Pada perubahan pemanfaatan ruang dengan pembagian ruang ini hanya terdapat responden yang melakukan pembagian ruang dengan batas fisik yang berupa sekat permanen (tembok).
Adanya usaha rumahan mengharuskan responden mampu memproporsikan ruang dalam rumah antara ruang untuk kegiatan usaha dan ruang untuk kegiatan hunian. Selain itu, untuk menghindari terjadinya konflik ruang terhadap rumah produktif, maka masyarakat melakukan batas fisik antara ruang hunian dengan ruang usaha. Batas fisik ini diantaranya penambahan sekat berupa tembok permanen yang dilengkapi dengan pintu maupun tembok permanen tanpa pintu.
Pembuatan batas fisik dilakukan karena responden menganggap bahwa kegiatan rumah tangga merupakan kegiatan yang privasi sehingga butuh adanya pembatas yang
jelas agar tidak tercampur dengan kegiatan usaha. Pembagian ruang terjadi pada ruang usaha satu menjadi ruang usaha lainnya.
Contoh responden yang melakukan pembagian ruang adalah responden nomor 19 yang bernama Bapak Waluyo. Bapak Waloyo dulunya merupakan pengusaha mebel yang sudah ditekuni sejak tahun 1990. Usahanya mulai dari produksi hingga finishing sehingga ruang usaha yang dimiliki cukup luas pada saat itu, dimana total luas kavling rumahnya adalah 147,25 m2. Proporsi luas ruang hunian dengan ruang usaha pada saat itu adalah 78 m2 untuk ruang hunian dan 69,25 m2 untuk ruang usaha mebel tanpa adanya luas ruang hijau. Usaha mebel memang membutuhkan ruang kerja yang cukup luas sehingga Pak Waluyo meletakkan ruang usaha mebelnya di sebelah depan dan samping rumah. Selain membutuhkan ruang kerja yang luas, usaha mebel juga akan menimbulkan polusi yang cukup tinggi sehingga pada saat itu Pak Waluyo sudah melakukan pembagian ruang dengan adanya sekat berupa tembok permanen sebagai tanda privasi antara ruang hunian dengan ruang usaha serta mencegah polusi masuk ke dalam rumah hunian. Gambar 4.18 merupakan denah rumah milik Pak Waluyo sebelum adanya jenis usaha kedua.
Gambar 4.18 Denah Rumah Milik Pak Waluyo Tahun 1990 Sumber: Hasil Survei,2017
7 2
Keterangan :
A : Teras E : Dapur dan Ruang makan gbgfbfgnfgbgnfvf
B : Ruang tamu F : Kamar mandi
C : Ruang keluarga G : Ruang usaha produksi mebel D : Ruang Tidur H : Halaman
Pada tahun 2010 Pak Waluyo merubah usahanya menjadi rumah kos, dimana terjadi perubahan terhadap ruang usaha mebel yang kemudian berganti menjadi rumah kos.
Perubahan ruang pada usaha mebel ini tidak dilakukan secara keseluruhan melainkan hanya sebagian, sehingga dikatakan terjadi pembagian ruang. Selain terjadi perubahan jenis kegiatan usaha yang mengakibatkan adanya pembagian ruang, terjadi pula perubahan luas ruang usaha, dimana setelah adanya usaha rumah kos total ruang usaha menjadi 64 m2 sedangkan untuk luas ruang hunian masih tetap dikarenakan pembagian ruang hanya dilakukan terhadap ruang usaha satu saja (usaha mebel) tanpa melibatkan ruang hunian.
Pak Waluyo juga membagi ruang usaha mebelnya menjadi ruang terbuka hijau berupa taman dengan luas 5,25 m2 dengan pertimbangan bahwa dari dulu hingga sekarang beliau hanya memikirkan kesejahteraan keluarga tanpa memikirkan kesehatan, sehingga dengan membuat taman maka dapat menetralkan udara disekitar rumahnya dimana dulunya penuh dengan polusi hasil usaha mebelnya. Modal yang dikeluarkan Pak Waluyo untuk merenovasi ruang usaha sebanyak ± Rp. 70.000.000 dan modal untuk barang kebutuhan rumah kos sebanyak ± Rp. 130.000.000 dengan sumber modal di dapat dari tabungan dan kredit bank. Sedangkan untuk proporsi total luas ruang yang dimiliki Pak Waluyo yaitu 78 m2 untuk ruang hunian, 15 m2 untuk ruang usaha mebel, dan 49 m2 untuk ruang usaha rumah kos. Usaha mebel yang dimiliki Pak Waluyo masih berlanjut namun hanya melakukan finishing saja, sehingga perubahan kegiatan produksi menjadi finishing ini menjadi salah satu alasan Pak Waluyo melakukan pembagian ruang. Gambar 4.19 merupakan denah milik Pak Waluyo setelah adanya usaha rumah kos pada tahun 2010.
Gambar 4.19 Denah Rumah Milik Pak Waluyo Tahun 2010 Sumber : Hasil Survei, 2017
Keterangan :
A : Teras E : Dapur dan Ruang makan H : Halaman gbgfbfgnfgbgnfvf
B : Ruang tamu F : Kamar mandi C : Ruang keluarga G1 : Ruang usaha mebel D : Ruang Tidur G2 : Ruang usaha rumah kos
Perubahan pemanfaatan ruang dengan pembagian ruang dilakukan oleh 4 dari 73 responden. Jumlah ruang usaha dilihat dari aktivitas ekonomi/ kepemilikan usaha sebelum dan sesudah terjadinya perubahan. Jumlah usaha yang dimiliki responden pada tipe ini adalah 2 jenis usaha sehingga responden melakukan pembagian ruang untuk kedua jenis usaha yang dimilikinya. Berikut merupakan rincian perubahan jumlah dan luas ruang untuk ruang usaha.
7 2 Tabel 4.18 Perubahan Ruang Usaha Pada Tipe 2
Perubahan
Sumber : Hasil Analisis, 2018
Berdasarkan Tabel 4.18 dapat diketahui bahwa perubahan ruang yang terjadi dilihat dari dua perubahan fungsi bangunan, yaitu fungsi bangunan yang pada awalnya hanya sebagai tempat tinggal berubah menjadi bangunan rumah usaha, serta perubahan fungsi bangunan yang pada awalnya sudah memiliki usaha dan kemudian melakukan perubahan jenis usaha. Pada tipe ini, untuk perubahan ruang usaha pada fungsi bangunan yang pada awalnya hanya berupa rumah tinggal total luas kavling yang dimiliki adalah 116 m2 untuk 2 responden. Kemudian responden melakukan perubahan pada rumahnya dengan membangun usaha jahit maupun usaha laundry. Sedangkan untuk perubahan ruang usaha pada fungsi bangunan yang sudah memiliki usaha dengan jumlah ruang usaha awal 2 ruang yaitu sebanyak 2 responden dengan total luas kavling 257,25 m2. Kemudian responden melakukan penambahan jenis usaha dimana awalnya memiliki usaha mebel yang kemudian menambah usaha rumah kos maupun usaha mebel menambah usaha rumah makan, sehingga pada tipe ini responden yang ada memiliki 1 jenis usaha dan 2 jenis usaha.
Adanya penambahan jenis usaha, mengharuskan responden melakukan perubahan/
penambahan ruang usaha sehingga dilakukan pembagian ruang terhadap ruang hunian untuk ruang usaha yang baru. Sehingga jika dilihat pada Tabel 4.18 kolom rata-rata luas ruang usaha sebelum adanya jenis usaha kedua adalah sebesar 53,63 m2 untuk responden yang sebelumnya telah memiliki rumah produktif. Responden yang sebelumnya memiliki
rumah hanya sebagai rumah tinggal, mernambah ruang untuk usaha sebesar 8 m2. Setelah adanya jenis usaha kedua yaitu usaha kos-kosan maupun usaha warung makan rata-rata luas ruang usaha berubah menjadi 49,50 m2. Terjadi penurunan terhadap luas ruang usaha yang dikarenakan untuk menyediakan ruang untuk usaha kedua misalnya rumah kos, responden membagi sebagian ruang usaha pertama (mebel) menjadi ruang untuk usaha kedua (rumah kos) dan ruang hijau (Gambar 4.19) sehingga ruang usaha menjadi berkurang. Persentase perubahan ruang usaha sebesar 38% dimana proporsi ruangnya adalah 38% ruang usaha, 58% ruang hunian (lihat pada Tabel 4.23) dan sisanya adalah ruang hijau. Berikut merupakan rincian jumlah dan luas ruang hunian untuk tipe pembagian ruang.
Tabel 4.19 Perubahan Ruang Hunian Pada Tipe 2 Perubahan Ruang Hunian
Sumber : Hasil Analisis, 2018
Berdasarkan Tabel 4.23 dapat diketahui bahwa jumlah ruang yang dimiliki responden pada tipe ini adalah 7, 8 dan 9 ruang hunian dengan luas ruang hunian secara keseluruhan 260 m2 atau rata-rata luas ruang hunian pada tipe ini adalah 197,87 m2. Rincian ruang hunian untuk 8 ruang terdiri dari 3 kamar tidur, teras, ruang tamu, dapur, kamar mandi dan ruang keluarga. Sedangkan untuk 9 ruang terdiri dari 4 kamar tidur, teras, ruang tamu, dapur, kamar mandi dan ruang keluarga.