• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1. Karakteristik Responden

Tingkatan pemenuhan kebutuhan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur, pendidikan, suku, dan terutama tergantung pada tingkatan ekonomi seseorang. Semakin tinggi faktor-faktor pengaruh tersebut, maka akan semakin tinggi tingkat kebutuhan, pemahaman, serta penginterpretasian suatu rumah oleh penghuninya. Bila suatu tingkatan kebutuhan telah dicapai, maka biasanya keinginan (want) akan lebih mengarah pada sesuatu yang lebih tinggi dari yang telah dicapai tersebut. (Newmark,1977).

Faktor-faktor pengaruh tersebut dipakai sebagai variabel untuk penelitian yang dilakukan. Adapun hasil dari kuesioner yang telah dilakukan terhadap 120 sample yang telah disebarkan kepada para penghuni tetap Perumnas Mandala Medan tipe 36 dan rumahnya telah mengalami transformasi bentuk, maka karakteristik responden dapat diketahui:

5.1.1. Suku

Penghuni Perumnas Mandala yang terletak di Kota Medan sesuai dengan data yang ada, terdiri dari berbagai suku yang sama dengan penghuni Kota Medan. Sesuai dengan survei yang telah dilakukan, frekwensi suku penghuni

tersebut adalah 92 KK (76,7%) suku Batak, 18 KK (15,0%) suku Jawa, 7 KK (5,8%) suku Nias sedangkan sisanya yaitu sebanyak 3 KK (2,5%) adalah suku lainnya, antara lain Flores, Padang, dan lain sebagainya. (tabel 5.1.).

Tabel 5. 1. Frekuensi berbagai suku penghuni perumnas.

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Batak 92 76.7 76.7 76.7 Jawa 18 15.0 15.0 91.7 Nias 7 5.8 5.8 97.5 Lainnya 3 2.5 2.5 100.0 Suku Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.1.2. Agama

Agama yang dianut penghuni Perumnas Mandala seperti di Indonesia pada umumnya, juga menganut berbagai agama resmi yang ada di Indonesia. Sesuai dengan hasil kuesioner yang telah dilakukan, 26 KK (21,7%) merupakan pemeluk agama Islam, 74 KK (61,7%) pemeluk agama Kristen, 18 KK (15%) pemeluk agama Katolik sedangkan sisanya yaitu sebanyak 2 KK (1,7%) adalah pemeluk agama lainnya (tabel 5.2.).

Tabel 5. 2. Frekuensi penganut berbagai agama resmi.

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Islam 26 21.7 21.7 21.7 Kristen 74 61.7 61.7 83.3 Katolik 18 15.0 15.0 98.3 Lainnya 2 1.7 1.7 100.0 Agama Total 120 100.0 100.0

5.1.3. Pendidikan

Distribusi tingkat pendidikan penghuni Perumnas Mandala sesuai dengan hasil kuesioner yang telah dilakukan, 1 KK (0,8%) hanya berpendidikan sampai tamat Sekolah Dasar (SD), 15 KK (12,5%) berpendidikan sampai tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), 69 KK (57,5%) berpendidikan sampai tamat Sekolah Menegah Atas (SMA atau sederajat), sedangkan sisanya yaitu sebanyak 35 KK (29,2%) berpendidikan sampai tamat akademi/universitas (tabel 5.3.).

Tabel 5. 3. Frekuensi tingkat pendidikan penghuni

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif SD 1 0.8 0.8 0.8 SMP 15 12.5 12.5 13.3 SMA 69 57.5 57.5 70.8 Akademi/PT 35 29.2 29.2 100.0 Tingkat Pendidikan Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.1.4. Pekerjaan

Distribusi pekerjaan penghuni Perumnas Mandala sesuai dengan hasil kuesioner yang telah dilakukan didominasi oleh pegawai swasta sebanyak 35 KK (29,2%), disusul pegawai negeri dan wiraswasta masing-masing 22 KK (18,3%), 8 KK (6,7%) merupakan anggota TNI/Kepolisian, sedangkan sisanya yaitu sebanyak 33 KK (27,5%) mempunyai pekerjaan lainnya (tabel 5.4.).

Tabel 5. 4. Frekuensi pekerjaan Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Wiraswasta 22 18.3 18.3 18.3 Pegawai Swasta 35 29.2 29.2 47.5 Pegawai Negeri 22 18.3 18.3 65.8 TNI/POLRI 8 6.7 6.7 72.5 Lainnya 33 27.5 27.5 100.0 Pekerjaan Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.1.5. Penghasilan

Distribusi penghasilan penghuni Perumnas Mandala sesuai dengan hasil kuesioner yang telah dilakukan terdiri atas 8 KK (6,7%) berpenghasilan di bawah Rp. 500.000,-, 20 KK (16,7%) berpenghasilan antara Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 999.000,-, 28 KK (23,3%) berpenghasilan antara Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp. 1.499.000,-, 30 KK (25,0%) berpenghasilan antara Rp. 1.500.000,-sampai dengan Rp. 2.000.000,-, sedangkan selebihnya berpenghasilan di atas Rp. 2.000.000,- yaitu sebanyak 34 KK (28,3%) (tabel 5.5.).

Tabel 5. 5. Frekuensi tingkat penghasilan penghuni.

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif < Rp. 500,- 8 6.7 6.7 6.7 Rp. 500,- - Rp. 999,- 20 16.7 16.7 23.3 Rp. 1.000,- - Rp. 1.499,- 28 23.3 23.3 46.7 Rp. 1.500,- - Rp. 2.000,- 30 25.0 25.0 71.7 > Rp. 2.000,- 34 28.3 28.3 100.0 Penghasilan (x 1000) Total 120 100.0 100.0

5.1.6. Jumlah Anggota Keluarga

Distribusi jumlah anggota keluarga penghuni Perumnas Mandala sesuai dengan hasil kuesioner yang telah dilakukan didominasi oleh penghuni dengan jumlah anggota keluarga lebih dari 4 orang sebanyak 79 KK (65,8%), kemudian disusul dengan penghuni dengan anggota keluarga 4 orang sebanyak 23 KK (19,2%), penghuni dengan anggota keluarga 3 orang sebanyak 14 KK (11,7%), selebihnya adalah penghuni dengan jumlah anggota keluarga 2 orang sebanyak 4 KK (3,3%) (tabel 5.6.).

Tabel 5. 6. Frekuensi jumlah anggota keluarga

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif 2 orang 4 3.3 3.3 3.3 3 orang 14 11.7 11.7 15.0 4 orang 23 19.2 19.2 34.2 > 4 orang 79 65.8 65.8 100.0 Anggota Keluarga Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.1.7. Lama Huni

Ditinjau dari lamanya para penghuni tinggal di rumah yang mereka tempati saat ini, sebanyak 20 KK (16,7%) telah menghuni rumahnya kurang dari 5 tahun, 32 KK (26,7%) telah menghuni antara 5 sampai 10 tahun, 34 KK (28,3%) telah menghuni antara 10 sampai 15 tahun, 19 KK (15,8%) telah menghuni antara

15 sampai 20 tahun, selebihnya sebanyak 15 KK (12,5%) telah menghuni lebih dari 20 tahun (tabel 5.7.).

Tabel 5. 7. Frekuensi lama huni

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif < 5 tahun 20 16.7 16.7 16.7 5 - 10 tahun 32 26.7 26.7 43.3 10 - 15 tahun 34 28.3 28.3 71.7 15 - 20 tahun 19 15.8 15.8 87.5 > 20 tahun 15 12.5 12.5 100.0 Lama Huni Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.1.8. Status Rumah

Ditinjau dari status kepemilikan rumah, karena memang rumah yang akan ditinjau dibatasi hanya untuk rumah dengan status milik sendiri atau milik keluarga. Distribusi kepemilikan ini terdiri dari 50 KK (41,7%) adalah milik keluarga, sedangkan selebihnya yaitu sebanyak 70 KK (58,3%) adalah milik sendiri (tabel 5.8.).

Tabel 5. 8. Frekuensi status rumah

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Milik Keluarga 50 41.7 41.7 41.7 Milik Sendiri 70 58.3 58.3 100.0 Status Rumah Total 120 100.0 100.0

5. 2. Persepsi Terhadap Perumnas

Persepsi terhadap rumah dan lingkungan Perumnas, pada hakekatnya adalah proses kognisi, afeksi, dan kognasi yang dialami oleh penghuni di dalam memahami informasi tentang rumah tersebut, yaitu bagaimana penerimaan (perceiving), pemahaman (understanding), dan pemikiran (thinking) penghuni terhadap rumah dan lingkungannya. Kognisi ini biasanya dialami baik lewat pengelihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Proses kognisi akan melahirkan proses yaitu bagaimana perasaan (feeling), emosi (emotion), dan keinginan (desire), serta nilai-nilai (value) terhadap rumah lingkungan tersebut. Dalam proses kognitif (cognitive process), manusia akan mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuannya untuk memberi arti dan makna terhadap lingkungan tersebut.

Pada dasarnya setelah seseorang berusaha untuk mempersepsikan lingkungan, proses selanjutnya akan melahirkan motivasi yang dapat mendorong perilaku individu. Motivasi ini akan selalu melairkan konflik yang selalu memberikan kemungkinan pilihan positif maupun negatif. Sikap ini dapat berupa pendapat setuju atau tidak setuju, baik atau buruk, senang atau tidak senang, dan puas atau tidak puas terhadap kondisi yang ada. Perilaku penghuni selanjutnya akan muncul segera setelah mereka melakukan upaya persepsi terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan mereka.

Menurut Morris (1978) kenikmatan pemukiman, terdiri dari 2 aspek, yaitu kenikmatan perumahan dan kenikmatan bertetangga. Kenikmatan perumahan mengacu pada beberapa aspek, yaitu aspek kepemilikan rumah tinggal, struktur

bangunan, kualitas bangunan, dan tipe rumah. Kenimatan kehidupan lingkungan, mengacu pada derajat kepuasan yang dikaitkan dangan aspek kepentingan kehidupan bertetangga. Aspek ini mencakup dampak sosilalisasi yang ditimbulkan sebagai akibat dari bentuk atau rancangan bangunan yang ditempati oleh penghuni.

Sesuai dengan dua pilihan akibat konflik motivasi, dan untuk mempermudah analisa, penilaian terhadap para penghuni ini dikelompokkan ke dalam dua penilaian positif dan negatif, yaitu setuju atau tidak setuju, baik atau buruk, senang atau tidak senang, dan puas atau tidak puas terhadap kondisi yang ada, yang akan diskalakan menurut skala Likert. Untuk menentukan penilaian positif atau negatif tersebut dilihat dari persentasi jumlah yang memberikan penilaian. Apabila penilaian lebih besar atau sama dengan 50%, dapat dikategorikan positif, sedangkan apabila di bawah 50% dapat dikategorikan negatif.

5.2.1. Identifikasi Fasilitas Umum Perumnas Mandala Medan

Fasilitas umum dimaksudkan adalah fasilitas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan persyaratan mutu kehidupan dan penghidupan secara layak. Pada dasarnya fasilitas umum ini terdiri dari bangunan dan/atau lapangan terbuka yang dibutuhkan masyarakat, antara lain:

1. Fasilitas peribadatan. 2. Fasilitas pendidikan.

5.2.2. Persepsi terhadap fasilitas peribadatan

Fasilitas peribadatan merupakan sarana kehidupan untuk mengisi kebutuhan rohani yang perlu disediakan pada lingkungan yang direncanakan sesuai dengan keputusan masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena berbagai macam agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat penghuni Perumnas Mandala, maka jenis dan jumlah fasilitas peribadatan yang akan di bangun baru dapat dipastikan setelah Perumnas tersebut dihuni selama beberapa waktu. Namun fasilitas peribadatan ini tetap mempunyai standar jumlah sesuai dengan jumlah penghuni lingkungan yang dilayaninya. Standar dan pedoman penyediaan fasilitas ibadat ini adalah:

1. Untuk < 40 orang bersembahyang perlu disediakan Musholla (Langgar). 2. Untuk > 40 orang bersembahyang perlu disediakan Mesjid.

3. Untuk < 15 KK Kristen cukup ibadah di rumah

4. Untuk > 15 KK Kristen perlu disediakan Gereja (Kapel)

Hasil survey yang dilakukan, perbandingan jumlah penghuni terhadap fasilitas peribadatan yang terdapat di Perumnas Mandala Medan hingga saat ini adalah:

1. Mesjid : 5 unit. 2. Langgar : 21 unit. 3. Gereja : 14 unit

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 5.1. Fasilitas peribadatan di Perumnas Mandala

Dengan perhitungan jumlah rumah sebanyak 9.590 unit, jumlah penghuni Perumnas Mandala adalah 57.540 orang. Dengan perbandingan di atas, jumlah pemeluk agama Islam adalah 34.524 jiwa, sedangkan pemeluk agama Kristen adalah 3.836 KK. Menurut standar dan pedoman pengadaan fasilitas ibadat terlepas dari kapasitasnya, jumlah ini masih sangat terlalu kecil. Namun persepsi penduduk sudah cukup baik, karena sebagian besar penghuni yaitu sebanyak 97 KK (80,8%) memberikan penilaian memadai, cukup memadai, hingga sangat memadai. Sedangkan yang memberikan penilaian tidak memadai dan sangat tidak memadai hanya 23 KK (19,2%) (tabel 5.9).

Tabel 5. 9. Frekuensi persepsi terhadap fasilitas ibadat

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Sangat Tdk Memadai 4 3.3 3.3 3.3 Tidak Memadai 19 15.8 15.8 19.2 Memadai 52 43.3 43.3 62.5 Cukup Memadai 38 31.7 31.7 94.2 Sangat Memadai 7 5.8 5.8 100.0 Persepsi terhadap Fasilitas Ibadat Total 120 100.0 100.0

Untuk mengetahui persepsi terhadap fasilitas peribadatan untuk masing-masing pemeluk agama yang tinggal di Perumnas Mandala Medan, perlu dilakukan tabulasi silang (cross tabulation) (tabel 5.10 dan grafik 5.1).

Tabel 5. 10. Tabulasi silang antara pemeluk agama dengan fasilitas ibadat.

Persepsi terhadap Fasilitas Ibadat Sangat Tidak Memadai Tidak Memadai Memadai Cukup Memadai Sangat Memadai Total Islam 0 4 9 13 0 26 Kristen 2 10 36 22 4 74 Katolik 2 5 5 3 3 18 Agama Lainnya 0 0 2 0 0 2 Total 4 19 52 38 7 120

Sumber: Hasil analisa data memakai SPSS versi 18

Sumber: Hasil analisa data memakai SPSS 18

Grafik 5.1. Tabulasi silang antara pemeluk agama dengan persepsi terhadap fasilitas ibadat.

Persepsi penghuni terhadap fasilitas peribadatan untuk masing-masing pemeluk agama sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari persentasi jumlah pemeluk masing-masing agama dengan yang memberikan penilaian mulai dari memadai hingga sangat memadai. Untuk pemeluk agama Islam, sebanyak 22 dari 26 KK (84,6%), pemeluk agama Kristen sebanyak 62 dari 74 KK (90,5%),

pemeluk agama Katolik sebanyak 11 dari 18 KK (61,1%), serta pemeluk agama lainnya sebanyak 2 dari 2 KK (100%) memberikan penilaian mulai dari memadai, cukup memadai sampai pada sangat memadai. Dari tabulasi silang tersebut terlihat bahwa rata rata 80,04% penghuni memberikan penilaian yang sudah cukup memadai (Grafik 5.2).

Sumber: Hasil analisa data memakai SPSS 18

Grafik 5.2. Persentasi latar belakang agama dan persepsi terhadap fasilitas ibadat 5.2.3. Persepsi terhadap fasilitas pendidikan

Pengadaan fasilitas pendidikan ini selalu bertitik tolak dari tujuan pendidikan yang akan dicapai. Fasilitas pendidikan adalah berupa ruang belajar yang memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta suatu sikap secara optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan fasilitas pendidikan yang memenuhi persayaratan kuantitas maupun kualitas. Standar dan pedoman penyediaan fasilitas pendidikan ini adalah:

1. Taman Kanak-kanak, minimum terdiri dari 2 ruangan kelas yang masing-masing dapat menampung 40 orang dan dilengkapi dengan ruang lainnya. Pencapaian maksimum adalah 500 m.

2. Sekolah Dasar, minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang dapat menampung 40 orang dan dilengkapi dengan ruang lainnya. Pencapaian maksimum adalah 1000 m.

3. Sekolah Menengah Lanjutan Pertama, minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang masing-masing dapat menampung 40 orang dan dilengkapi dengan ruang lainnya.

4. Sekolah Menengah Lanjutan Atas, minimum terdiri atas 6 ruang kelas yang masing-masing dapat menampung 40 orang dan dilengkapi dengan ruang lainnya.

Hasil survei yang dilakukan, jumlah dan persepsi penghuni terhadap fasilitas pendidikan yang terdapat di Perumnas Mandala adalah:

1. TK : 12 unit 2. SD : 8 unit 3. SMP : 3 unit 4. SMA : 1 unit

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 5.2. Fasilitas pendidikan di Perumnas Mandala

Dari segi jumlah maupun jarak, fasilitas pendidikan yang terdapat pada Perumnas Mandala telah memenuhi persayaratan. Persepsi penghuni juga sudah cukup baik, karena sebagian besar penghuni yaitu sebanyak 101 KK (84,2%) memberikan penilaian mulai dari memadai, cukup memadai sampai pada sangat memadai. Sedangkan yang memberikan penilaian yang buruk hanya sebagian kecil, yaitu sebanyak 19 KK (7.33%) (tabel 5.11).

Tabel 5. 11. Frekuensi persepsi terhadap fasilitas pendidikan Frekuensi Persentas i Persentasi Valid Persentasi Kumulatif

Sangat Tidak Memadai 2 1.7 1.7 1.7

Tidak Memadai 17 14.2 14.2 15.8 Memadai 58 48.3 48.3 64.2 Cukup Memadai 37 30.8 30.8 95.0 Sangat Memadai 6 5.0 5.0 100.0 Persepsi terhadap Fasilitas Pendidikan Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5. 2. 4. Persepsi terhadap fasilitas pelayanan umum

Fasilitas pelayanan umum berfungsi untuk memberikan pelayanan yang berhubungan dengan penghuni. Fasilitas pelayanan umum ini antara lain:

1. Fasilitas kesehatan, antara lain puskesmas pembantu, Puskesmas, Praktek Dokter, Rumah Bersalin dan Apotik.

2. Fasilitas perbelanjaan dan niaga, antara lain toko, pertokoan, dan pusat perbelanjaan lingkungan.

3. Fasilitas Pemerintahan, terdiri dari Balai Pertemuan, Kantor Kelurahan, Pos Polisi, Kantor Pos Pembantu, Pos Pemadam Kebakaran.

4. Fasilitas Rekreasi dan Kebudayaan, yaitu Gedung Serba Guna.

5. Fasilitas Olah Raga, adalah kesatuan taman, tempat bermain, dan lapangan Olah raga.

Hasil survei yang dilakukan, jumlah dan persepsi penghuni terhadap fasilitas pelayanan umum yang terdapat di Perumnas Mandala adalah:

2. Balai Pertemuan Umum : 1 unit 3. Pertokoan / Pasar : 1 unit 4. Kantor PLN : 1 unit 5. Kantor PDAM : 1 unit 6. Kantor Perumnas : 1 unit

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 5.3. Fasilitas pelayanan umum di Perumnas Mandala

Dari segi jumlah, fasilitas pelayanan umum yang terdapat di Perumnas Mandala telah memenuhi persyaratan. Persepsi penghuni terhadap fasilitas pelayanan umum yang ada di Perumnas Mandala Medan masih dapat dikategorikan baik, karena hanya sebanyak 65 KK (53%) yang memberikan penilaian mulai dari memadai, cukup memadai hingga sangat memadai,

sedangkan selebihnya yaitu sebanyak 55 KK (45,8%) memberikan penilaian tidak memadai dan sangat tidak memadai (tabel 5.12).

Tabel 5. 12. Frekuensi persepsi terhadap fasilitas pelayanan umum

Frekuensi Persentas i Persentasi Valid Persentasi Kumulatif

Sangat Tidak Memadai 6 5.0 5.0 5.0

Tidak Memadai 49 40.8 40.8 45.8 Memadai 36 30.0 30.0 75.8 Cukup Memadai 27 22.5 22.5 98.3 Sangat Memadai 2 1.7 1.7 100.0 Persepsi terhadap Fasilitas Pelayanan Umum Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.3. Persepsi terhadap lingkungan non fisik

Yang dimaksud dengan lingkungan non fisik adalah relasi sosial yang ada pada lingkungan tersebut. Relasi sosial dapat saja timbul apabila kedua belah pihak mempunyai maksud tertentu dan bertindak atas cara tertentu pula. Kelompok sosial ini dapat menjadi timbal balik, misalnya untuk saling mengerti. Hal yang pokok pada kedua konsep ini adalah bahwa arti yang diberikan kedua belah pihak direlasikan satu dengan yang lain, sehingga perilaku mereka berorientasi satu dengan yang lainnya secara timbal balik.

Interaksi sosial sebenarnya mempunyai makna yang sama dengan relasi sosial, hanya disini menyangkut banyak orang, sejumlah perilaku yang saling mempengaruhi, sehingga relasi diantara mereka menjadi jelas dalam satu kesatuan yang nyata dan utuh dalam bentuk organisasi, baik formal maupun non formal.

Relasi dan interaksi sosial yang disurvei dalam penelitian sosial ini adalah partisipasi dan gotong royong, serta komunikasi dan saling kunjung antar warga. 5.3.1. Partisipasi dan gotong royong antar warga.

Persepsi penghuni terhadap partisipasi dan gotong royong di Perumnas Mandala tidak cukup bagus, karena hanya sebagian kecil penghuni yang memberikan penilaian bagus dan sangat bagus, yaitu sebanyak 23 KK (19,2%). Sedangkan yang memberikan penilaian mulai dari tidak bagus hingga sangat tidak bagus lebih lebih banyak yaitu 29 KK (24,2%). Selebihnya mayoritas penghuni yaitu sebanyak 68 KK (56,7%) memberikan penilaian biasa saja (tabel 5.13).

Tabel 5. 13. Frekuensi persepsi terhadap gotong royong

Frekuensi Persentas i Persentasi Valid Persentasi Kumulatif

Sangat Tidak Bagus 5 4.2 4.2 4.2

Tidak Bagus 24 20.0 20.0 24.2 Biasa Saja 68 56.7 56.7 80.8 Bagus 17 14.2 14.2 95.0 Sangat Bagus 6 5.0 5.0 100.0 Persepsi terhadap Gotong Royong Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.3.2. Komunikasi dan saling kunjung antar warga

Komunikasi dan saling kunjung antar warga ini merupakan suatu interaksi antara penghuni dengan lingkungan sosialnya. Para penghuni mempunyai kesadaran untuk berhubungan satu dengan yang lainnya. Bentuk komunikasi ini dalam jumlah besar bisa berbentuk kelompok tetapi tidak terikat dalam organisasi, sebagai contoh kelompok teman, kerabat, dsb. Kelompok ini lebih kuat dibandingkan dengan kelompok formal, karena terbentuk dengan adanya

kesamaan kepentingan. Interaksi sosial pada kelompok ini terjadi sangat intensif terutama pada tempat-tempat yang memungkinkan orang bertemu dan berinteraksi. Hal ini disebabkan karena situasi dan jarak antar rumah yang berdekatan sehingga memungkinkan seringnya terjadi interaksi sosial. Interaksi ini bisa terjadi antara lain di warung, di jalanan, di tempat pengajian, di rumah, dll.

Persepsi penghuni terhadap komunikasi dan saling kunjung di Perumnas Mandala sangat rendah, hal ini terlihat dari jumlah penghuni yang memberikan penilaian. Dari 120 responden yang telah disurvei, sebanyak 101 KK (84,2%) memberikan jawaban mulai dari jarang, kadang-kadang, bahkan tidak pernah. Sedangkan yang memberikan jawaban sering dan sangat sering hanya sejumlah 19 KK (15,9%) (tabel 5.14).

Tabel 5. 14. Frekuensi persepsi terhadap saling kunjung

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Tidak Pernah 6 5.0 5.0 5.0 Kadang-kadang 53 44.2 44.2 49.2 Jarang 42 35.0 35.0 84.2 Sering 17 14.2 14.2 98.3 Sangat Sering 2 1.7 1.7 100.0 Persepsi terhadap Saling Kunjung Total 120 100.0 100.0

5. 4. Persepsi penghuni terhadap hunian (rumah)

Umumnya manusia banyak menghabiskan waktunya di lingkungan binaan ini, baik skala yang terkecil (rumah), hingga skala besar (lingkungan bahkan kota). Dalam skala kecil, rumah merupakan suatu sistem yang dibentuk oleh sub-sub sistem (kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dll). Sub-sub-sub sistem ini masih dapat dibagi-bagi lagi menjadi unsur-unsur yang masing-masing mempunyai kemungkinan pengaruh yang berbeda terhadap perilaku manusia.

Dalam interaksi dengan rumah, pendekatan perilaku memperkenalkan apa yang disebut sebagai proses kognitif (cognitif process), yakni proses mental dimana orang mendapatkan, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuannya untuk memberi arti dan makna terhadap rumah tersebut. Sehingga sedikit saja perubahan pada lingkungan tersebut, akan mengakibatkan perubahan terhadap arti dan makna rumah tersebut.

Survey persepsi penghuni terhadap rumah yang mereka huni di perumnas Mandala ini mencakup persepsi terhadap kondisi rumah dan persepsi terhadap luas rumah.

5.4.1. Persepsi penghuni terhadap kondisi rumah.

Persepsi penghuni terhadap kondisi rumah pada saat pertama dihuni dapat dikatakan buruk, karena hanya sebagian kecil penghuni, yaitu sejumlah 38 KK (31,6%) memberikan penilaian yang baik dan sangat baik. Sedangkan yang memberikan penilaian buruk dan sangat buruk, sebanyak 27 (22,5%). Selebihnya hanya memberikan penilaian yang netral atau biasa saja (tabel 5.15).

Tabel 5. 15. Frekuensi persepsi terhadap kondisi rumah Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Sangat Buruk 2 1.7 1.7 1.7 Buruk 25 20.8 20.8 22.5 Sedang 55 45.8 45.8 68.3 Baik 34 28.3 28.3 96.7 Sangat Baik 4 3.3 3.3 100.0 Persepsi terhadap Kondisi Rumah Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

3, 0 0 6, 0 0 3, 0 0 3, 0 0 1, 5 0 1, 5 0 3, 0 0 1, 0 0 1, 0 0

Sumber: Hasil survey lapangan

Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 5.5. Foto tampak standar rumah tipe 36 Perumnas Mandala 5.4.2. Persepsi penghuni terhadap luas rumah.

Sebagian besar penghuni Perumnas terutama golongan masyarakat menengah ke bawah berasal dari daerah yang masih menganut extended family. Hal ini dapat dilihat dari jumlah anggota keluarga yang relatif besar dan tidak hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya, tetapi juga keluarga lain yang menumpang. Bahkan tetangga dari desa yang tidak mempunyai keluarga di kota terkadang menumpang sebelum ia dapat mandiri. Hal ini tentu mempengaruhi persepsi masyarakat yang masih menganut sistem ini tentang perumahan. Bahwa menurut persepsi mereka, rumah yang baik adalah rumah yang dapat menampung semua anggota keluarga ini, yaitu rumah yang besar dengan jumlah ruang yang banyak.

Hasil survey yang telah dilakukan, lebih banyak penghuni merasakan kurang luas untuk persepsi terhadap luas rumah yang mereka huni. Hal ini terlihat bahwa hanya 10 KK (8,3%) yang memberikan penilaian luas terhadap rumah

sangat sempit, sedangkan selebihnya hanya memberikan jawaban netral, yaitu sebanyak 81 KK (67,5%) (tabel 5.16).

Tabel 5. 16. Frekuensi persepsi terhadap luas rumah

Frekuensi Persentasi Persentasi Valid Persentasi Kumulatif Sangat Sempit 4 3.3 3.3 3.3 Sempit 25 20.8 20.8 24.2 Sedang 81 67.5 67.5 91.7 Luas 10 8.3 8.3 100.0 Persepsi terhadap Luas Rumah Total 120 100.0 100.0

Sumber: Hasil olahan data survey memakai SPSS versi 18

5.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi penghuni terhadap kondisi rumah. Persepsi penghuni terhadap kondisi rumah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain latar belakang suku, tingkat pendidikan, dan tingkat penghasilan. Untuk mengetahui pengaruh tersebut, adalah dengan tabulasi silang antara faktor pengaruh tersebut dengan persepsi penghuni. Hasil survey yang dilakukan, pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap persepsi penghuni adalah: 5.5.1. Persepsi terhadap kondisi rumah ditinjau dari latar belakang suku.

Untuk mengetahui persepsi penghuni terhadap kondisi rumah tinggal ditinjau dari latar belakang suku adalah dengan mencari tabulasi silang antara persepsi tersebut dengan latar belakang suku. Penilaian penghuni yang diambil adalah penilaian penghuni yang lebih banyak, baik nilai positif maupun negatif.

Dari hasil tabulasi silang (cross tabulation) antara persepsi terhadap kondisi rumah dan latar belakang suku, sebagian besar penghuni (di luar yang

memberikan penilaian netral atau sedang), yaitu sebanyak 27 (22,5%) yang memberikan nilai buruk rumah pada saat pertama mereka huni adalah:

a. 17 dari 92 KK (18,5%) penghuni dengan latar belakang suku Batak. b. 8 dari 18 KK (44,4%) penghuni dengan latar belakang suku Jawa. c. 1 dari 7 KK (14,3%) penghuni dengan latar belakang suku Nias.

d. 1 dari 3 KK (33,3%) penghuni dengan latar belakang suku lainnya (tabel 5.17 dan grafik 5.3).

Sumber: Hasil analisa data memakai SPSS 18

Sumber: Hasil analisa data memakai SPSS 18

Grafik 5.3. Tabulasi silang antara latar belakang suku dengan persepsi terhadap Tabel 5. 17. Tabulasi silang antara latar belakang suku dan persepsi

terhadap kondisi rumah

Persepsi terhadap Kondisi Rumah Sangat

Buruk Buruk Sedang Baik

Sangat Baik Total Batak 2 15 47 24 4 92 Jawa 0 8 5 5 0 18 Nias 0 1 2 4 0 7 Suku Lainnya 0 1 1 1 0 3 Total 2 25 55 34 4 120

Persepsi terhadap kondisi rumah ini dipengaruhi oleh latar belakang suku dan budaya. Terlihat dari persentase yang berbeda antara masing-masing suku

Dokumen terkait