• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

D. Perumusan Hipotesis

1. Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial terhadap Konservatisme Akuntansi

Struktur kepemilikan merupakan salah satu faktor intern perusahaan yang menentukan kemajuan perusahaan. Menurut Wardhani (2008) kepemilikan manajerial adalah jumlah saham perusahaan-perusahaan publik yang dimiliki oleh individu-individu atau kelompok elit yang berasal dari dalam perusahaan yang mempunyai kepentingan langsung terhadap perusahaan. Perasaan memiliki manajer terhadap suatu perusahaan tersebut membuat manajer tidak hanya memikirkan bonus yang akan didapatkan apabila labanya tinggi tetapi manajer lebih mementingkan kontinuitas perusahaan dalam jangka panjang sehingga manajer tertarik untuk mengembangkan perusahaan (Wulandari dkk, 2014).

Kepemilikan oleh inside directors dan manajemen ini dapat berperan sebagai fungsi monitoring dalam proses pelaporan keuangan, dan juga dapat menjadi faktor pendorong dilakukannya ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. Apabila inside directors dan manajemen menjalankan fungsi monitoringnya dengan baik, maka ia akan mensyaratkan informasi dari pelaporan keuangan yang memiliki kualitas tinggi sehinga mereka akan menuntut penggunaan prinsip konservatisme yang lebih tinggi pula (Yustina, 2013.) Namun, apabila kepemilikan mereka tersebut justru mendorong dilakukannya ekspropriasi terhadap perusahaan, maka mereka akan lebih cenderung untuk menggunakan prinsip akuntansi yang lebih

liberal (lebih agresif) (Wardhani, 2008). Veres dkk (2013) menyatakan bahwa semakin besar proporsi saham pihak manajer maka laba yang dihasilkan akan semakin konservatif dikarenakan kepemilikan saham tersebut memotivasi manajer untuk tidak melakukan tindakan yang menurunkan nilai perusahaan.

Hasil penelitian Septian dan Anna (2014) menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi, Dewi dan Suryanawa (2014) menyimpulkan bahwa struktur kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan positif terhadap konservatisme akuntansi, Fatmariani (2013) menyimpulkan bahwa struktur kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan negatif terhadap konservatisme akuntansi, Lafond dan Roychowdhury (2007) menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap konservatisme akuntansi, dan Sari dkk (2014) menyimpulkan bahwa struktur kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap konservatisme akuntansi.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha1: Struktur kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

2. PengaruhLeverageterhadap Konservatisme Akuntansi

Pada perusahaan yang mempunyai hutang relatif tinggi, kreditur mempunyai hak lebih besar untuk mengetahui dan mengawasi penyelenggaraan operasi dan akuntansi perusahaan. Hak lebih besar yang dimiliki kreditur akan mengurangi asimetri informasi di antara kreditur dengan manajer perusahaan. Manajer mengalami kesulitan untuk menyembunyikan informasi dari kreditur. Kreditur berkepentingan terhadap distribusi aktiva bersih dan laba yang lebih rendah kepada manajer dan pemegang saham sehingga kreditur cenderung meminta manajer untuk menyelenggarakan akuntansi konservatif (Lo, 2005).

Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat hutang atau leverage suatu perusahaan, maka permintaan akan penerapan akuntasi yang konservatif semakin tinggi pula karena disini kreditur berkepentingan terhadap keamanan dananya yang diharapkan dapat menguntungkan bagi dirinya. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung menggunakan akuntansi yang konservatif. Hal ini karena semakin tinggi tingkatleverage, maka semakin besar kemungkinan konflik yang akan muncul antara pemegang saham dan pemegang obligasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi permintaan kontraktual terhadap akuntansi yang konservatis (Ahmed dan Duellman, 2007 dalam Alhayati 2013).

Dalam penerapan konservatisme, semakin tinggi tingkat hutang maka pengakuan terhadap laba akan dilakukan oleh pihak manjemen secara lebih hati-hati dengan memperlambat pengakuannya (konservatif). Karena pihak

kreditur cenderung akan mengawasi penyelenggaraan operasi dan akuntansi perusahaan. Jadi, semakin tinggi tingkat hutang perusahaan maka semakin tinggi tingkat konservatisme perusahaan tersebut (Alhayati, 2013).

Hasil penelitian Dewi dan Suryanawa (2014) dan Alhayati (2013) menyimpulkan bahwa tingkat hutang (leverage) berpengaruh signifikan positif terhadap konservatisme akuntansi, Alfian dan Sabeni (2013) menyimpulkan bahwa rasio leverage berpengaruh positif signifikan terhadap konservatisme akuntansi, dan Lafond dan Roychowdhury (2007) menyimpulkan bahwaleverageberpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha2:Leverageberpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

3. PengaruhGrowth Opportuinitiesterhadap Konservatisme Akuntansi Growth opportunitiesadalah kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan (Winelta, 2011 dalam Wulandari dkk, 2014). Perusahaan dengangrowth opportunitiesyang tinggi akan cenderung membutuhkan dana dalam jumlah yang cukup besar untuk membiayai pertumbuhan tersebut pada masa yang akan datang. Persaingan bisnis yang semakin tajam dan mengglobal semakin menjadi tantangan yang menuntut perusahaan untuk selalu berkembang dan dinamis (Wulandari dkk, 2014).

Agar tidak terjadinya tindakan-tindakan yang merusak keuangan perusahaan maka perusahaan melakukan peningkatan dalam investasi. Dengan meningkatkan investasi maka perusahan mempunyai peluang untuk tumbuh dan perusahaan dapat mempunyai kesempatan untuk melakukan investasi yang menguntungkan. Perusahaan dengan growth opportunities yang tinggi akan cenderung membutuhkan dana dalam jumlah yang cukup besar untuk membiayai pertumbuhan tersebut pada masa yang akan datang, oleh karenanya perusahaan akan mempertahankan earning untuk diinvestasikan kembali pada perusahaan dan pada waktu bersamaan perusahaan diharapkan akan tetap mengandalkan pendanaan melalui utang yang lebih besar. Perusahaan yang akan meningkatkan jumlah investasi atau disebut juga dengan perusahaan growth cenderung akan memilih konservatisme akuntansi karena perhitungan laba yang lebih rendah daripada menggunakan akuntansi optimis yang perhitungan labanya lebih tinggi (Wulandari dkk, 2014).

Hasil penelitian Wulandari dkk (2014) menyimpulkan bahwa growth opportunities berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi, Fatmariani (2013) menyimpulkan bahwagrowth opportunitiesberpengaruh signifikan positif terhadap konservatisme akuntansi, dan Alfian dan Sabeni (2013) menyimpulkan bahwa kesempatan tumbuh berpengaruh positif signifikan terhadap konservatisme akuntansi.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha3:Growth opportunitiesberpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Konservatisme Akuntansi

Ukuran perusahaan merupakan salah satu indikator untuk mengamati besar biaya politis yang harus ditanggung. Watss dan Zimmerman (1990) dalam Alfian dan Sabeni (2013) berpendapat bahwa political cost hypothesis dapat memprediksikan bahwa perusahaan besar lebih sensitif terkait dengan biaya politis. Hal ini terkait atas dorongan pemerintah yang menjadi pembuat kebijakan di negara yang bersangkutan untuk pemabayaran biaya politis. Maka untuk mengurangi pembayaran biaya politis tersebut perusahaan melakukan pelaporan keuangan secara konservatif. Pelaporan secara konservatis pada laporan keuangan dilakukan karena pemerintah menggunakan informasi akuntansi dalam pengalihan kekayaan perusahaan (Alfian dan Sabeni, 2013).

Size hypothesis berdasar pada asumsi bahwa perusahaan besar lebih sensitif secara politis dan memiliki beban transfer kesejahteraan (biaya politis) yang lebih besar daripada perusahaan yang lebih kecil sehingga untuk mengurangi biaya politis tersebut perusahaan menerapkan konservatisme akuntansi (Almilia, 2007).

Hasil penelitian Septian dan Anna (2014) menyimpulkan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi, dan

Lafond dan Roychowdhury (2007) menyimpulkan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha4: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

5. Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial, Leverage, Growth Opportunities dan Ukuran Perusahaan Secara Simultan terhadap Konservatisme Akuntansi

Dalam Penelitian ini ingin diketahui apakah semua variabel independen yaitu struktur kepemilikan manajerial, leverage,growth opportunities dan ukuran perusahaan secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu Konservatisme Akuntansi, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha5: Struktur kepemilikan manajerial, leverage,growth opportunities dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

BAB III

Dokumen terkait