Kelas 1 Kelas 2 1 Bagian Hulu CEMAR RINGAN CEMAR RINGAN
E. LAUT, PESISIR DAN PANTA
Wilayah Provinsi Gorontalo memiliki dua wilayah pesisir pantai, yaitu pesisir selatan yang mengahadap perairan Teluk Tomini dan pesisir utara menghadap ke perairan Laut Sulawesi. Pantai utara memiliki panjang garis 217.7 km dan pantai selatan memiliki panjang garis pantai 438.1 km.
Gambar 2.15. Peta sebaran terumbu karang di Perairan Provinsi Gorontalo Sumber: Peta Sebaran Terumbu Karang, Bakosurtanal 2009
Salah satu potensi pesisir di Provinsi Gorontalo adalah terumbu karang. Sumberdaya pesisir ini diperkirakan berada dalam ambang kerusakan. Tingkat kerusakan diperkirakan mencapai 40%. Apabila tidak dilakukan tindakan konservasi secepatnya
maka kerusakan akan semakin meluas. Terumbu karang di bagian selatan Provinsi Gorontalo yang berada di Teluk Tomini terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu terumbu karang tepian (fringing reef) dan terumbu karang cincin (atol).
Terumbu karang di bagian tengah mencakup wilayah di selatan Boliohuto kemudian sebelah selatan Paguat hingga sebelah selatan Marisa. Jenis terumbu karang terdiri atas terumbu karang tepian (fringing reef), baik yang berada di tepian daratan (Pulau Sulawesi) maupun di pulau-pulau. Terumbu karang tepian daratan tersebar di sepanjang pantai selatan daratan Pulau Sulawesi.
Terumbu karang tepian terdapat hampir di semua pulau-pulau (lito) yaitu: Batade, Dulupi, Lahengo, Wulungiyo Ombulo, Wulungiyo Tambe, Wulungiyo Olikani, Libuiyo Tilamuta, Mohupombo Daa, Mohupombo Kiki, Molopinggulo, Lipo Biato, Montuli, Bitila, Puntu, Pomolia Kiki, Pomolia Daa, Lolahe, Taludahe, Dulawono, Tomelo. Di setiap pulau selain terumbu karang terdapat pula pasir yang cukup luas sedangkan lamun relatif sedikit. Secara umum kondisi terumbu karang di wilayah ini relatif masih baik.
Terumbu karang di bagian barat mencakup wilayah di selatan Wulungiyo Wonggarasi kemudian sebelah selatan Lemito hingga sebelah selatan Wulungiyo Alumbanga. Terumbu karang tepian (fringing reef), terdapat di tepian daratan (Pulau Sulawesi) dan di pulau-pulau. Terumbu karang tepian daratan tersebar di selatan Wonggarasi hingga di selatan Yiliyala.
Terumbu karang tepian pulau terdapat hampir di semua pulau (lito) yaitu: Limboku Kiki, Monji Kiki, Banggo Daa, Banggo Kiki, Puntu Daa, Molioto, Olinggobe, Imama, Keakease, Samauna, Huliahedaa, Payata, Lamua Kiki, Lamua Daa, Dudepo, Pasigiogo, Paniki, Ulipan, Putia, Ngeo, Burung, Maraati, dan Pajongge Daa. Disetiap pulau selain terumbu karang terdapat pula pasir yang cukup luas dan lamun relatif sedikit. Secara umum kondisi terumbu karang di wilayah ini juga relatif masih baik.
II- 47 -
No. Lokasi Terumbu Karang Kondisi TutupanKarang (%) 1. Payunga 30 – 40 2. Saronde 30 – 50 3. Pulau Dulupi 50 – 70 4. Pulau Asiangi 50 – 80 5. Pulau Lamua Daa 50 – 80
6. Pulau Raja 50 – 80 7. Pulau Popaya 50 – 80 8. Teluk Kwandang 10 -20 9. TPI Tilamuta 10 10. Torsiaje 10 11. Pantai Massa 15 -30
12. Taman Laut Olele 58
Sumber: Balihristi, 2009
Kondisi terumbu karang di sekitar pulau-pulau masih relatif baik dibandingkan dengan di daerah pesisir yang berdekatan dengan massar daratan utama. Kondisi karang di Pulau Payunga dan Pulau Saronde misalnya, menunjukkan kondisi karang yang termasuk sedang dengan tingkat penutupan karang hidup berkisar 30-60%.
Kondisi karang di teluk Kwandang tingkat sedimentasinya relatif cukup tinggi. Hal ini menunjukkan nilai penutupan karang hidup yang relatif rendah sekitar 10-20%.
Terumbu Karang di Laut Sulawesi
Terumbu karang di Bagian Utara Provinsi Gorontalo yaitu yang berada di Laut Sulawesi terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu terumbu karang tepian (fringing reef) dan terumbu karang cincin (atol).
Terumbu karang di bagian timur mencakup wilayah sekitar Pelabuhan Kwandang. Jenis terumbu karang yaitu terumbu karang tepian (fringing reef). Terumbu karang tersebar di pantai pulau-pulau yang ada di sebelah utara Pelabuhan Kwandang maupun di sepanjang pantai daratan Pulau Sulawesi. Terumbu karang antara lain terdapat di pulau-pulau (lito): Botubotuo, Limboso-1, Limboso 2, Kamposo, Manggala, Bohu, Otilade, Saaronde, Bogisa, Mohinggito, Huliahu Daa, Huliahu Bunggu, dan Huha. Selain terumbu karang terdapat pula material pasir dalam sebaran sedang dan lamun (seagrass) dalam sebaran relatif sedikit.
Berdasarkan sebaran pasir yang merupakan pecahan karang yang hanya sedang, maka diperkirakan kondisi terumbu karang di wilayah ini relatif sedang hingga baik.
Terumbu karang di utara bagian barat mencakup wilayah di utara Bolontio Barat. Jenis terumbu karang terdiri atas terumbu karang tepian dan terumbu karang cincin. Terumbu karang tepian tersebar di sepanjang pantai daratan Pulau Sulawesi dalam luasan relatif sempit. Adapun terumbu karang cincin (atol) dijumpai jauh dari pantai sebanyak 2 buah. Material pasir yang cukup luas terdapat di sekitar atol tersebut, sedangkan lamun (seagrass) dalam jumlah relatif sedikit. Di sekitar karang dekat dengan pantai hampir tidak terdapat lamun. Hal ini karena laut di sekitar pantai tersebut cukup curam dan dalam. Secara umum kondisi terumbu karang di wilayah utara bagian barat ini relatif masih baik.
II- 49 -
Table 2.17 Status Mutu Air Laut di Perairan Terumbu Karang di Kawasan Teluk Tomini Tahun 2010
Titik Pantau
Lokasi Status Mutu Air
Nilai IP Ket
TPK 2
TPK 3
Desa Bajo Tilamuta Kab. Boalemo Pantai Wisata Olele Kab. Bone Bolango
6,3576
8,03
Cemar Sedang
Cemar Sedang
Sumber: Hasil perhitungan status mutu air sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam keputusan MENLH No.115 tahun 2003
Hutan Mangrove
Kondisi ekosistem mangrove mengalami nasib yang sama dengan terumbu karang. Pengamatan penutupan tajuk dan kerapatan pohon mangrove di beberapa lokasi pemantauaan di Gorontalo menunjukkan kondisi hutan mangrove mengalami perusakan.
Sebagian dari wilayah Provinsi Gorontalo diarahkan untuk kawasan hutan mangrove. Kawasan hutan mangrove ditetapkan berdasarkan penyebaran hutan mangrove saat ini ditambah dengan areal-areal yang dinilai baik ditumbuhi mangrove. Tahun 2010, berdasarkan SK Menhut No 325 Tahun 2010 Hutan Mangrove di Provinsi Gorontalo seluas 13.645 ha. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pantai selatan Provinsi Gorontalo masih memiliki kondisi hutan mangrove yang relatif baik, dimana jenis yang paling dominan adalah xylocarpus sp dan Rhizopora mucronata. Berdasarakan hasil kajian kerapatan jenis untuk tingkat pohon adalah 10.294 ind/ha. Jenis-jenis mangrove lainnya yang ditemukan adalah Ceriops, Brugeria gymnorhiza, Excocaria, Rhizopora stylosa, Rhizopora apiculata, Avicennia marina, dan Avicennia alba. Plot kawasan hutan mangrove ini selain dikaitkan dengan kebutuhan konservasi dan sejalan dengan rencana pengembangan tambak. Kawasan hutan mangrove terutama menyebar di wilayah pantai selatan Kabupaten Boalemo seluas 2.412 ha, di Kabupaten Pohuwato 7.786 ha dan sebagian di pantai Utara Kabupaten Gorontalo seluas 3.447 ha. Luas total area hutan mangrove di seluruh Gorontalo sekitar 13.645 ha. Kawasan mangrove ini sangat penting untuk mendukung pengembangan perikanan tambak yang akan menjadi salah satu andalan perekonomian Provinsi Gorontalo. Kawasan mangrove ini juga diperlukan untuk menjaga kelestarian potensi wilayah pantai dan meredam proses abrasi pantai.
Kondisi mangrove di daerah Kwandang masih relatif baik khususnya pada kawasan green belt, walaupun sebagian telah dibabat menjadi tambak. Masyarakat setempat juga masih memanfaatkan pohon bakau sebagai bahan bangunan untuk rumah, pagar dan juga digunakan sebagai kayu bakar. Beberapa daerah seperti di Kecamatan Anggrek, masyarakat juga telah mencoba untuk melakukan penanaman magrove dari jenis Rhizopora apiculata untuk mereboisasi kawasan pesisir yang dulu mangrovenya telah dibabat. Dampak aktivitas pembangunan di kawasan pantai utara ini perlu diantisipasi agar tidak selalu mengorbankan ekosistem pesisir yang ada.
Di Kecamatan Tilamuta, kondisi sebagian besar mangrove yang masih tersisa masih dalam kondisi baik, walaupun sudah mengalami pembabatan pada beberapa daerah. Jenis yang paling dominan adalah jenis Rhizophora mucronata, yang secara nyata melindungi kawasan pantai dari hempasan gelombang yang kemungkinan menyebabkan abrasi.
Kondisi mangrove di Torsiaje juga masih relatif baik khususnya pada kawasan
green belt, walaupun sebagian telah dibabat menjadi tambak. Masyarakat setempat juga masih memanfaatkan pohon bakau sebagai bahan bangunan untuk rumah, pagar dan juga digunakan sebagai kayu bakar.
Kondisi mangrove di Pantai Utara juga sebagian masih relatif baik, namun pembukaan tambak nampaknya semakin meluas dan perlu segera diatur dengan kebijakan yang ketat agar tidak menyebabkan kerusakan yang semakin parah. Jenis manggrove yang dominan di pantai utara adalah Rhizophora apiculata dan Aegiceras corniculatum. Beberapa daerah seperti di Kecamatan Anggrek, masyarakat juga telah mencoba untuk melakukan penanaman magrove dari jenis Rhizopora apiculata untuk mereboisasi kawasan pesisir yang dulu mangrovenya telah dibabat.
Dampak aktivitas pembangunan di kawasan pantai utara ini perlu diantisipasi agar tidak selalu mengorbankan ekosistem pesisir yang ada.
II- 51 -
Table 2.18. Status Mutu Air Laut di Perairan Ekosistem Mangrove di Kawasan Teluk Tomini 2010
Titik Pantau Lokasi Status Mutu Air
Nilai IP Ket
TPM 5
TPM 6
Desa Lamu Botumoito Kab. Boalemo
Desa Bajo Torosiaje Kab. Pohuwato
7,96638
7,0592
Cemar Sedang
Cemar Sedang
Sumber: Hasil perhitungan status mutu air sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam keputusan MENLH No.115 tahun 2003
Padang Lamun
Padang lamun adalah ekosistem khas laut dangkal di perairan hangat dengan dasar pasir dan didominasi tumbuhan lamun, sekelompok tumbuhan anggota bangsa
Alismatales yang beradaptasi di air asin. Padang lamun hanya dapat terbentuk pada
perairan laut dangkal (kurang dari tiga meter) namun dasarnya tidak pernah terbuka dari perairan (selalu tergenang). Ia dapat dianggap sebagai ekosistem antara ekosostem mangrove dan terumbu karang.
Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang telah menyesuaikan diri hidup di bawah permukaan air laut. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya seperti pita dan berakar jalar. Tunas-tunas tumbuh dari rhizoma, yaitu bagian rumput yang tumbuh menjalar di bawah permukaan dasar laut.
Secara umum, kondisi pada lamun di Provinsi Gorontalo masih tergolong cukup baik, terutama di daerah pulau-pulau dimana kondisi kualitas airnya masih relatif baik. Misalnya di Pulau Payunga dan Pulau Saronde, ditemukan ada beberapa jenis vegetasi lamun yang termasuk dalam kondisi yang sangat baik, yang pada umumnya didominasi oleh Enhalus dan Thallasia. Di Pulau Saronde juga ditemukan jenis
Cymodocea serrulata.
Di Desa Bajo dan di Desa Torsiaje ditemukan padang lamun dalam bentuk hamparan yang cukup luas dengan kerapatan yang masih relatif baik. Namun demikian pada lokasi seperti teluk di Kwandang dan sekitar TPI Tilamuta kondisi
padang lamunnya sudah termasuk kategori jelek dengan kepadatan rendah. Suspensi parikel-partikel yang cukup tinggi di perairan pada kawasan ini bukan hanya mengurangi tingkat kecerahan perairan, tetapi juga secara langsung menutupi permukaan daun vegetasi lamun sehingga menyebabkan lamun tersebut mengalami kematian atau tidak bisa berkembang dengan baik.
Table 2.19. Status Mutu Air Laut di Perairan Padang Lamun di Kawasan Teluk Tomini 2010
Titik Pantau
Lokasi Status Mutu Air
Nilai IP Ket
TPL 2
TPL 3
Desa Bajo Tilamuta Kab. Boalemo
Pantai Wisata Bolihutuo Kab. Boalemo 6,7766 6,552 Cemar Sedang Cemar Sedang
Sumber: Hasil perhitungan status mutu air sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam keputusan MENLH No.115 tahun 2003
Status Mutu Air Laut Teluk Tomini
Kualitas lingkungan pesisir laut Teluk Tomini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi kualitas lingkungan DAS yang ada di sekitarnya. Hasil pemantauan kualitas air laut di wilayah Teluk Tomini di Provinsi Gorontalo tahun 2008 menunjukkan bahwa Jumlah Coliform total untuk lokasi Pelabuhan Kota Gorontalo sebesar 2500 MPN/100 mL, nilai tersebut melebihi baku mutu Kep Men LH No. 51 tahun 2004 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut untuk kualitas air laut untuk perairan pelabuhan yaitu 1000 MPN/100 mL. Konsentrasi DO di lokasi Muara Sungai Bone, daerah wisata olele dan di muara Sungai Paguyaman yaitu masing-masing 4,8 mg/L, 4,5 mg/L dan 4,5 mg/L, tidak memenuhi baku mutu Kep Men LH No. 51 tahun 2004 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut untuk kualitas air laut untuk wisata bahari yaitu > 5 mg/L. Konsentrasi BOD di masing-masing lokasi tersebut adalah 11,5 mg/L, 12,5 mg/L dan 10,5 mg/L, dimana nilai-nilai tersebut
II- 53 -
Gambar 2. 18 Lokasi-Lokasi Pemantauan Kualitas Air Laut di Kawasan Pesisir Laut Teluk Tomini yang terdapat di Provinsi
Gorontalo
diatas baku mutu Kep Men LH No. 51 tahun 2004 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut untuk kualitas air laut untuk wisata bahari yaitu 10 mg/L.
Kadar pH, warna, kekeruhan dan TSS untuk semua lokasi terdeteksi, dimana nilai pH berkisar 7,5 – 7,8, warna 5,5 – 16,7, kekeruhan 2,5 – 3,8 dan TSS 17,5 – 19,5 mg/L, tetapi nilai-nilai tersebut masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan (pH=6,5 – 8,5, warna = 30 mg/L, kekeruhan = 5 dan TSS = 5 mg/L). Nilai TSS erat kaitannya dengan kekeruhan, untuk lokasi titik 5 yang mempunyai nilai TSS tinggi (19,5 mg/L) ternyata mempunyai nilai kekeruhan 3,8 NTU.
Kadar pH, warna, kekeruhan dan TSS untuk semua lokasi terdeteksi, dimana nilai pH berkisar 7,5 – 7,8, warna 5,5 – 16,7, kekeruhan 2,5 – 3,8 dan TSS 17,5 – 19,5 mg/L, tetapi nilai-nilai tersebut masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan (pH=6,5 – 8,5, warna = 30 mg/L, kekeruhan = 5 dan TSS = 5 mg/L). Nilai TSS erat kaitannya dengan kekeruhan, untuk lokasi titik 5 yang mempunyai nilai TSS tinggi (19,5 mg/L) ternyata mempunyai nilai kekeruhan 3,8 NTU.
Kadar pH, warna, kekeruhan dan TSS untuk semua lokasi terdeteksi, dimana nilai pH berkisar 7,5 – 7,8, warna 5,5 – 16,7, kekeruhan 2,5 – 3,8 dan TSS 17,5 – 19,5 mg/L, tetapi nilai-nilai tersebut masih dibawah baku mutu yang dipersyaratkan (pH=6,5 – 8,5, warna = 30 mg/L, kekeruhan = 5 dan TSS = 5 mg/L). Nilai TSS erat kaitannya dengan kekeruhan, untuk lokasi titik 5 yang mempunyai nilai TSS tinggi (19,5 mg/L) ternyata mempunyai nilai kekeruhan 3,8 NTU.
Konsentrasi DO dan BOD di semua lokasi di daerah wisata bahari terdeteksi. Kadar DO terendah dan BOD 5 tertinggi adalah di lokasi titik 3, 4 dan 5 dengan kadar DO berkisar antara 4.5 mg/L sampai 4.8 mg/L dan kadar BOD 5 berkisar antara 10.5 mg/L sampai 12.5 mg/L.
Konsentrasi DO untuk lokasi tersebut tidak memenuhi persyaratan baku mutu yaitu > 5 mg/L dan konsentrasi BOD untuk ke 3 lokasi tersebut diatas baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 10 mg/L.
Table 2.20. Status Mutu Air Laut di Perairan Kawasan Pelabuhan di Kawasan Teluk Tomini Tahun 2010
Titik Pantau
Lokasi Status Mutu Air
Nilai IP Ket TPP 2 TPP 3 Pelabuhan Kota gorontalo Pelabuhan TPI Tilamuta Kab. Boalemo 1,6439 1,9481 Cemar Ringan Cemar Ringan
Sumber: Hasil perhitungan status mutu air sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam keputusan MENLH No.115 tahun 2003
II- 55 -
Table 2.21. Status Mutu Air Laut di Perairan Wisata Bahari di Kawasan Teluk Tomini Tahun 2010
Titik Pantau
Lokasi Status Mutu Air
Nilai IP Ket
TPW 2
TPW 3
Pantai Wisata Olele Kab. Bone Bolango Pantai Wisata Bolihutuo Kab. Boalemo 6,3265 6,356 Cemar Sedang Cemar Sedang
Sumber: Hasil perhitungan status mutu air sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam keputusan MENLH No.115 tahun 2003
F. IKLIM
Untuk kepentingan pengembangan wilayah, semua faktor iklim, khususnya hujan, suhu, angin dan kelembaban udara, adalah penting. Namun, karena keterbatasan data yang diperoleh dari stasiun-stasiun yang ada di Provinsi Gorontalo, maka uraian kondisi iklim (sebagai potensi dan pembatas) terutama hanya didasarkan pada informasi curah hujan. Klasifikasi iklim yang didasarkan atas data curah hujan diperoleh dari sumber yang telah ada. Menyangkut klasifikasi iklim ini, pada tempat tertentu, terutama di sekitar Kota Gorontalo informasi yang diperoleh dinilai akurat, karena data diperoleh dari banyak stasiun-stasiun yang tersebar cukup merata. Namun, di bagian lain dari provinsi, karena data yang tersedia lebih sedikit, perlu diinterpretasi secara lebih hati-hati. Meskipun demikian, informasi yang diperoleh tetap dapat memberi gambaran kondisi iklim secara makro, yang untuk kepentingan penentuan penataan ruang tingkat wilayah provinsi dianggap cukup memadai.
Berdasarkan peta iklim Oldeman dan Darmiyati, Provinsi Gorontalo secara rata-rata beriklim yang relatif kering. Wilayah terkering (iklim E2 dengan rata-rata kurang dari 3 bulan per tahun bercurah hujan lebih dari 200 mm) meliputi seluruh kawasan pantai selatan Kabupaten Boalemo dan sebagian Kota Gorontalo.
Gambar 2.19. Suhu rata-rata di Provinsi Gorontalo 2010
Sementara, wilayah yang relatif lebih basah (iklim C1 dan C2, dengan 5 sampai 6 bulan basah per tahun) ditemukan di sepanjang wilayah Utara Provinsi Gorontalo.
Iklim memberi implikasi signifikan pada perumusan kebijakan alokasi penggunaan ruang, misalnya dalam penentuan kawasan lindung dan budidaya serta kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Untuk kabupaten-kabupaten di Provinsi Gorontalo, kebijakan pengelolaan sumberdaya air, misalnya, adalah aspek yang harus mendapat prioritas tinggi. Jika hasil optimal dan berkesinambungan hendak dicapai, rumusan kebijakan ini harus menjadi dasar bagi arah pengembangan wilayah.
Data suhu udara rata-rata bulanan di Provinsi Gorontalo berkisar antara 24,9 - 37,7OC. Gorontalo Utara adalah daerah yang mengalami suhu rata-rata lebih tinggi dibanding daerah lain.
Curah hujan bulanan rata-rata selama tahun 2010 berkisar antara 72 – 269 mm. Curah hujan bulanan maksimum antara 112 – 336 mm sedangkan curah hujan bulanan minimum antara 1 – 169 mm. Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Jalaludin Gorontalo, curah hujan untuk periode 5 (lima) tahun terakhir, yaitu dari tahun 2005 hingga 2009 berkisar antara 1.226 – 2.289mm/tahun, dengan hari hujan per tahun berkisar 157 – 248 hari hujan, dengan rata-rata curah hujan 126,5 mm/tahun dan 15 hari hujan.
II- 57 -
Gambar 2.20. Curah hujan di Provinsi Gorontalo 2010 (Sumber: Stasiun Meteorologi Bandara Jalaludin, Gorontalo, 2010)
Menurut klasifikasi iklim yang dikemukakan Schmidt Fergusson diperoleh nilai Q (perbandingan rata-rata bulan kering dengan bulan basah) sebesar 25 % sehingga daerah ini termasuk tipe iklim B yaitu beriklim basah. Pada tabel 2.25 disajikan data curah hujan dan hari hujan di Provinsi Gorontalo.