A. KEPENDUDUKAN
Provinsi Gorontalo adalah Provinsi dengan jumlah penduduk sedikit dibandingkan dengan provinsi lain. Jumlah penduduk Provinsi Gorontalo tahun 2011 mencapai 1,152,494 jiwa. Kabupaten Gorontalo adalah kabupaten yang memiliki penduduk terbanyak dengan jumlah 354857 jiwa atau 30,79% penduduk provinsi, diikuti Kabupaten Pohuwato 123.858 jiwa (18%). Kota Gorontalo berpenduduk 180.127 jiwa, Boalemo 140.034 jiwa, Pohuwato.049 jiwa, Bone Bolango 130.025 jiwa, Gorontalo Utara 118.725 jiwa.
Perubahan jumlah penduduk suatu daerah berkaitan dengan perkembangan daerah. Bertambahnya jumlah penduduk berasal dari kelahiran dan masuknya pendatang dari luar daerah. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata provinsi Gorontalo 5,71% untuk rentang tahun 2009 – 2010. Sementara tingkat pertumbuhan penduduk tingkat kabupaten berkisar 0,5% - 10,77% per tahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Kabupaten Pohuwato dan terendah di Kabupaten Boalemo. dan termasuk kriteria pertambahan penduduk tinggi.
Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Gorontalo selama sepuluh tahunan antara tahun 2000 hingga 2010 sebesar 2.28% Daerah kabupaten yang memiliki pertumbuhan penduduk terbesar adalah Kabupaten Boalemo sebesar 3.62 % dan Kabupaten Pohuwato sebesar 3.25%. Kedua Kabupaten ini adalah wilayah transmigrasi di Provinsi Gorontalo. Sementara itu laju pertumbuhan terendah di Kabupaten Gorontalo yaitu hanya sebesar 1.40%. Kota Gorontalo merupakan daerah paling padat penduduknya dengan laju pertumbuhan penduduknya sebesar 2.93%.
Laju pertumbuhan penduduk yang besar berbanding lurus terhadap tingkat kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk Provinsi Gorontalo pada tahun 2010 mencapai 85 jiwa/km2. Pada tingkat kabupaten, kepadatan penduduk berkisar 30 jiwa per km2 di Kabupaten Pohuwato sampai 2870 jiwa/km2 di Kota Gorontalo. Meskipun laju pertumbuhan tertinggi di Kabupaten Pohuwato tapi memiliki wilayah paling luas sehingga masih memiliki kepadatan penduduk yang rendah.
III- 2 -
Jika dilihat dari jenis kelamin, penduduk Provinsi Gorontalo lebih banyak laki- lakinya dengan sex ratio 100,71. Ini artinya laki-laki di Gorontalo lebih banyak 0,71% dibanding jumlah perempuan. Kelebihan jumlah penduduk laki-laki tertinggi di Kabupaten Boalemo yang memiliki sex ratio sebesar 103,91. Sedangkan Kota Gorontalo memiliki laki-laki lebih sedikit dari pada perempuan dengan sex ratio 96,12.
Perubahan jumlah penduduk perubahan karena adanya proses kelahiran-kematian dan migrasi penduduk masuk atau keluar pada suatu daerah. Meningkatnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan dapat berarti bahwa penduduk berbondong-bondong pindah dari perdesaan ke perkotaan, atau dengan kata lain penduduk melakukan urbanisasi.
Secara demografis sumber pertumbuhan penduduk perkotaan adalah pertambahan penduduk alamiah, yaitu jumlah orang yang lahir dikurangi jumlah yang meninggal; migrasi penduduk khususnya dari wilayah perdesaan (rural) ke wilayah perkotaan (urban); serta reklasifikasi, yaitu perubahan status suatu desa (lokalitas), dari lokalitas rural menjadi lokalitas urban, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Sensus oleh Badan Pusat Statistik.
Dalam kurun waktu 2005-2010, pertambahan penduduk alamiah berkontribusi sekitar sepertiga bagian sedangkan migrasi dan reklasifikasi memberikan andil dua per tiga kepada kenaikan jumlah penduduk perkotaan di Provinsi Gorontalo. Dapat dilihat bahwa migrasi masih menjadi faktor utama pertumbuhan penduduk perkotaan di Provinsi Gorontalo. Kegiatan perekonomian berupa industri dan jasa di kota-kota tersebut semakin berorientasi pada perekonomian global. Hal ini telah mendorong perkembangan fisik dan sosial ekonomi kota, namun semakin memperlemah keterkaitannya dengan ekonomi lokal, khususnya ekonomi perdesaan. Dampak yang paling nyata hanyalah meningkatnya permintaan tenaga kerja, yang pada gilirannya sangat memacu laju pergerakan penduduk dari desa ke kota.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertambahan penduduk di daerah surplus atau daerah perkotaan lebih besar dari pada di daerah minus atau daerah pedesaan. Pertambahan penduduk ini sangat dipengaruhi oleh adanya urbanisasi penduduk. Banyaknya faktor pendorong dan faktor penarik dari kota menyebabkan peningkatan urbanisasi yang cukup signifikan setiap tahunnya. Pertambahan penduduk di kota ini juga
III- 3 -
menyebabkan peningkatan angka kelahiran sehingga penduduk di kota semakin meningkat.
Distribusi penduduk menurut usia mengalami perubahan dari tahun 2009. Jumlah penduduk laki-laki umur dibawah 20 tahun untuk lima kabupaten 169.322 orang, sedangkan jumlah penduduk perempuan umur dibawah 20 tahun untuk lima kabupaten 159.882orang. Sementara itu jumlah penduduk laki-laki umur diatas 40 tahun untuk lima kabupaten 114.098 orang, sedangkan jumlah penduduk perempuan umur diatas 40 tahun untuk lima kabupaten 113.425 orang. Jika dibandingkan dengan data tahun 2009 terjadi kenaikan jumlah penduduk usia dibawah 20 tahun baik laki-laki maupun perempuan, yaitu 153.998 jumlah penduduk laki-laki dan 146.889 orang penduduk perempuan umur dibawah 20 tahun untuk lima kabupaten. Sedangkan rasio laki-laki disbanding perempuan masih lebih banyak laki-laki pada rentang usia dibawah 20 tahun maupun diatas 40 tahun.
Dilihat dari ketenagakerjaan, penduduk Provinsi Gorontalo tahun 2011 yang berumur 15 tahun keatas sebesar 725.243. Sebesar 465.027 atau sebesar 64.12 persen adalah angkatan kerja. Dari jumlah tersebut yang menganggur sebesar 19.817 atau 4.26%. Penduduk yang bukan angkatan kerja yaitu penduduk yang mengurus rumah tangga, bersekolah dan lainnya 260.216 atau 35.88 persen%.
Pendidikan sebagai salah satu titik berat pembangunan di Gorontalo, difokuskan kepada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7-24 tahun). Fasilitas pendidikan yang layak dibangun untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo tahun 2012, di Provinsi Gorontalo terdapat 589 sekolah Taman Kanak-Kanak, 969 Sekolah Dasar (SD) sederajat, 354 Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, 96 Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, dan 15 buah Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta.
Jumlah penduduk berusia sekolah pendidikan dasar (7-15 tahun) 183.658 orang.
Sedangkan jumlah sekolah dasar dan tingkat menengah pertama yang tersedia baru 1323 buah atau Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah * 10.000 adalah 72,04. Ini sama artinya dengan rata-rata setiap sekolah melayani 138 orang anak usia sekolah. Semntara itu jumlah penduduk usia sekolah pendidikan menengah (16-18 tahun) sebanyak 57.452 orang yang dilayani oleh 127 buah sekolah menengah (setara SLTA).
III- 4 -
Sehingga Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah * 10.000 adalah 22,11 atau setiap sekolah rata-rata melayani 452 orang.
Saat ini di Provinsi Gorontalo terdapat 15 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang tersebar di keenam kabupaten kota. Jumlah mahasiswa terdaftar mencapai 34.528 orang yang dilayani oleh 2.305 tenaga dosen dan karyawan.
B. PERMUKIMAN
Menurut UU No. 1 Tahun 2011 Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian adan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sedangkan permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahanyang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum,serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Definisi perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan,yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
Rumah-rumah penduduk di Gorontalo memiliki beragam bentuk dan model mengikuti perkembangan zaman. Kita masih menemukan rumah asli daerah yang berupa rumah panggung dari kayu khas Gorontalo. Sebagian rumah panggung ini dikombinasikan dengan batu bata membentuk rumah semi permanen. Di daerah pedesaan masih banyak ditemukan hunian kurang layak. Rumah ini berdinding anyam bambu dan beratap daun rumbia atau kelapa, sebagian masih berlantai tanah.
Kelayakan hunian berkaitan dengan tingkat penghasilan. Hunian kurang layak dan tidak layak dimiliki oleh masyarakat golongan miskin. Data keluarga miskin dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Gorontalo dapat digunakan untuk memprediksi jumlah hunian kurang layak karena kelayakan rumah merupakan salah satu indikator dalam penetapan keluarga miskin. Jumlah keluarga miskin di Gorontalo menurut BPMD sebanyak 67.250 Kepala Keluarga atau 24,87% dari total 270.366 kepala keluarga.
III- 5 -
Jumlah terbanyak yakni 59,54% dari keluarga miskin ini berada di Kabupaten Boalemo. Jika dilihat dari tingkat kemiskinan maka rumah tangga kategori miskin mencapai 41,37% dan miskin kronis sejumlah 13,76%.
Sedangkan menurut jumlah jiwa maka persentase penduduk miskin tahun 2011 adalah 18,75 % dengan jumlah penduduk miskin 198.270 jiwa. Jika dibadingkan dengan tahun 2010, terjadi penurunan dari 23,19 % dengan jumlah penduduk miskin 209.886 jiwa.
Pemukiman yang layak ditunjang oleh tersedianya sumber air bersih. Kebutuhan air bersih masyarakat Gorontalo dipasok dari air sumur, air hujan, sumur bor, sumur suntik, dan jaringan pipa PDAM. Air PDAM digunakan terutama oleh masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dan daerah di pinggiran kota. Jumlah konsumen PDAM seluruh Provinsi Gorontalo 28.504 unit sambungan pada tahun 2009. Sambungan terbanyak di Kota Gorontalo 16.766 unit. Menurut Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo, rumah tangga tersambung air minum perpipaan telah mencapai 62,5% dari seluruh pada tahun 2011.
Pemukiman yang memadai juga harus memiliki sanitasi yang layak. Jumlah rumah tangga yang mendapat layanan angkutan sampah oleh intansi kebersihan terdata 6566 rumah tangga. Layanan ini utama di Kota Gorontalo. Berkembangnya jumlah penduduk juga meningkatkan volume sampah dari aktivitas sehari-hari. Jumlah timbulan sampah domestik se-Provinsi Gorontalo diperkirakan mencapai 3.120,49 m3 per hari. Sampah di pedesaan dan daerah yang tidak terjangkau layanan Dinas Kebersiham masih dibuang, ditimbun dan dibakar di area terbuka. Provinsi Gorontalo sudah membangun Kawasan Idustri Pengelolaan Sampah (KIPS) di Talumelito Kabupaten Gorontalo. Direncanakan KIPS ini akan melayani sampah dari Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Saat ini KIPS Talumelito sudah memiliki Badan Pengelola.
Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo jumlah rumah tangga yang memiliki jamban baru 45.85%. Sedangkan untuk tingkat Kabupaten jumlah rumah tangga yang memiliki jamban paling rendah di Bone Bolango sebanyak 31,18%, di Gorontalo Utara 35,78%, di Kabupaten Gorontalo 36,63%, di Pohuwato 50,82%, di Boalemo 56,31%, dan di Kota Gorontalo 91,51%. Dengan demikian masih banyak masyarakat yang buang air besar sembarangan. Masyarakat yang tinggal di pinggir sungai umumnya buang air besar
III- 6 -
langsung ke sungai, Hal ini dapat dilihat dari tingkat pencemaran bakteri coli tinja di sungai-sungai yang dipantau.
C. KESEHATAN
Fasilitas kesehatan yang memadai dibangun untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan bersih. Di Provinsi Gorontalo terdapat 6 (enam) Rumah Sakit Pemerintah dan 3 (tiga) Rumah Sakit Swasta. Ditingkat Kecamatan disediakan dengan adanya keberadaan Puskesmas kurang lebih 83 buah.
Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Provinsi Gorontalo pada tahun 2011 adalah 249,7 per 100.000 kelahiran hidup. AKI menurun setiap tahunnya dari 309.8 pada tahun 2007, kemudian 267,9 pada tahun 2008, dan menjadi 177 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Angka ini masih dua kali lipat lebih dibandingkan dengan target MDGs yakni 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Gorontalo juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2011 Angka Kematian Bayi (AKB) 15,3 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007 kasus kematian bayi mencapai 26,3 per 1000 kelahiran hidup dan terus mengalami penurunan sampai pada tahun 2010 AKB menjadi 12,9 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan target MDGs yakni 23 per 1000 kelahiran hidup.
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). Pada tahun 2011 AKABA Provinsi Gorontalo sebesar 18,0 per 1000 kelahiran hidup. Perkembangan AKABA Provinsi Gorontalo cenderung mengalami kenaikan berfluktuasi. Hal ini terlihat AKABA pada tahun 2007 sebesar 15,4 per 1000 kelahiran hidup meningkat menjadi 17,2 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008, meningkat kembali menjadi 19,2 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2009, dan menurun 17,4 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2010.
Penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Provinsi Gorontalo tahun 2011 adalah diare mencapai 34,427 diikuti sakit gigi 3,563 selebihnya berupa penyakit-
III- 7 -
penyakit lainnya. Indikator angka kesakitan / Morbiditas adalah TBC, HIV/AIDS, Malaria dan penyakit Demam Berdarah (DBD). Angka kesembuhan Untuk Kasus TBC di Gorontalo 91,6 % di tahun 2011 meningkat dari tahun 2007 yang 86,0 %, disamping jumlah penderita baru yang ditemukan meningkat menjadi 79,6% pada tahun 2011 dibanding 60% penemuan kasus baru pada tahun 2007.
Angka kesakitan Diare tertinggi terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara sebanyak 37,7 per 1000 penduduk dan terendah di Kabupaten Boalemo sebanyak 13,8 per 1000 penduduk. Sedangkan kejadian penyakit malaria tertinggi di Kabupaten Gorontalo sebanyak 3,53 per 1000 penduduk sudah dibawah target nasional sebanyak 10,6 per 1000 penduduk
Kejadian penyakit DBD paling tinggi terdapat di Kota Gorontalo yaitu dengan angka kesakitan 14 per 100.000 pendudukdan terendah di Kabupaten Pohuwato tdk ada kasus DBD. Jumlah Penderita HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo meningkat, dari Tahun 2010 sebanyak 62 kasus meningkat menjadi 80 kasus pada tahun 2011.
Sementara itu jumlah rumah sakit di Provinsi Gorontalo 11 buah dengan jumlah total tempat tidur sudah mencapai 638 buah. Rumah sakit terbesar saat ini adalah RS Aloei Saboe dengan kapasitas 198 tempat tidur. Dengan asumsi setiap tempat tidur menghasilkan 3,2 kg sampah rumah sakit dan 416,8 liter limbah cair setiap hari, maka rata-rata rumah sakit menghasilkan 2,04 ton sampah dan 265,92 limbah cair setiap harinya.
D. PERTANIAN
Gorontalo merupakan daerah pertanian yang penting di Sulawesi. Bahkan tanaman jagung sudah menjadi ikon Provinsi Gorontalo di tingkat nasional. Sektor pertanian menjadi pemenuh kebutuhan pangan dan berperan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui nilai tambah hasil produksi pertanian.
Dari seluruh luas lahan di Provinsi Gorontalo 1,22 juta Ha yang menjadi lahan potensial untuk pertanian menurut Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mencapai 427.602 Ha. Lahan pertanian ini mencakup lahan kering dan lahan basah baik yang sudah
III- 8 -
difungsikan maupun yang belum diusahakan. Luas lahan pertanian yang sudah difungsikan sebesar 123.464,7 ha. Luas areal sawah sebanyak 30.859 ha. Sebanyak 8,5% merupakan sawah 1 kali tanam setahun, lalu 82,3% tanam 2 kali, dan sisanya tidak ditanami atau tidak diusahakan.
Dilihat dari system irigasinya, 47,5% besar sawah mendapatkan irigasi teknis, 21% setengah irigasi teknis, sisanya irigasi non teknis dan tadah hujan. Hasil panen padi sawah tahun 2011 mencapai 273.921 ton. Panen paling banyak dihasilkan oleh Kabupaten Gorontalo mencapai 42% dari produksi total diikuti oleh Boalemo 14% dari produksi total.
Produksi hasil pertanian di Gorontalo masih didominasi oleh jagung dengan luas panen mencapai 135.754 hektar. Hasil produksi jagung di Provinsi Gorontalo tahun 2011 mencapai 605.781 ton. Produksi terbanyak di Kabupaten Pohuwato dengan 326.142 ton dan Kabupaten Boalemo yaitu 140.653 ton. Kedua kabupaten ini memiliki lahan pertanian jagung paling luas. Produksi jagung ini turun jika dibanding tahun 2010 dimana luas panen mencapai 143.833 ha dan produksi 677.193 ton.
Sedangkan untuk perkebunan, produksi kelapa dengan luas lahan mencapai 68.284 hektar dan jumlah produksi sebesar 62.338 ton. Kemudian tebu dengan lahan seluas 7.329 hektar dan produksi mencapai 29.926 ton. Selain itu produksi kacang kedelai 2.156 ton, ubi kayu 2.674 ton dan kacang hijau sebanyak 230 ton.
Sementara itu tanaman sayur dan rempah paling banyak dihasilkan adalah cabe rawit yaitu 14690 ton diikuti oleh tomat 3522 ton dan 1835 terung. Buah-buahan yang utama dihasilkan meliputi Pisang, mangga dan papaya. Tercatat produksi pisang mencapai 2945 ton, mangga 1247 ton dan papaya nangka 327 ton.
III- 9 -
Gambar 3.1 Buah lokal dan impor di kios pinggir jalan di salah satu sudut Kota Gorontalo.
Perkebunan yang utama di Provinsi Gorontalo adalah kelapa dan tebu. Produksi kelapa pada tahun 2011 sebanyak 49719 ton dan produksi tebu 280.443,65 ton.
Untuk meningkatkan hasil pertanian, diperlukan ketersediaan sarana penunjang pertanian seperti ketersediaan pupuk yang cukup. Jenis pupuk yang disalurkan kepada petanai dan perkebunan mencakup urea, superfosfat, ZA, NPK, dan organik. Jumlah total pupuk yang disalurkan selama tahun 2010 mencapai 23.129,1 ton. Pupuk terbanyak yang digunakan masih urea mencapai 71,29% dan NPK 24,8%. Harapan agar memasyarakatkan penggunaan pupuk organic masih perlu upaya keras karena pengguanaan pupuk organik baru mencapai 1,2% dari total pupuk yang disalurkan.
Disamping berbagai produk pertanian diatas, Gorontalo juga berpotensi untuk pengembangan peternakan dan perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya. Menurut Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo jumlah sapi potong di Gorontalo sebanyak 192.066 ekor dan produksi daging sapi 3.984.995 kg/th. Ternak lain adalah kambing,babi,kuda,ayam kampung (buras), ayam ras (pedaging dan petelur), dan itik. Untuk populasi ternak tahun 2011, ayam kampung 964.000,- ekor, ternak ayam petelur 132.000 ekor, ternak ayam pedaging 240.000 ekor dan ternak itik berjumlah 56,907 ekor. Ternak unggas yang dominan dikembangkan adalah ayam kampung dengan
III- 10 -
populasi mencapai 62%, diikuti ayam pedaging sebanyak 17% dari total unggas peliharaan.
Pencemaran yang timbul dari aktivitas pertanian dan peternakan terutama dalam bentuk emisi gas rumah kaca. Dari luas lahan sawah, diperkirakan sumbangan emisi gas metana yang timbul sejumlah 43.460 ton per tahun. Sedankgan dari hewan ternak timbulan gas metana adalah
E. INDUSTRI
Perusahaan yang bergerak di bidang industri di Gorontalo meliputi skala kecil, menengah dan besar. Jumlah perusahaan industry skala menengah besar menurut data Dinas Perindustrian Provinsi Gorontalo tahun 2009 berjumlah 23 buah. Bidang usaha yang dikelola meliputi pengolahan jagung, kelapa sampai pertambangan emas. Sedangkan idustri yang berskala kecil tercatat 16 perusahaan dengan bidang usaha mencakup industri meubel, nata de coco, minyak sawit sampai air minum kemasan. Belum ada data tentang jumlah emisi pencemaran dari industri yang ada baik skala besar maupun skala kecil.
Perusahaan yang tergolong besar dan menengah adalah Perusahaan Gula Gorontalo Tolangohula. Perusahaan ini memiliki luas lahan tebu 1468 ha dengan produksi mencapai 280 ribu ton gula. Perusahaan Multi Nabati Sulawesi yang berlokasi di Kabupaten Pohuwato memproduksi minyak kelapa. Sedangkan di Isimu Kabupaten Gorontalo terdapat perusahaan PT. Isimu Utama raya memproduksi tepung kelapa.
Pencemaran dari usaha skala menengah dan besar berupa emisi dan limbah cair belum ada data yang tersedia.
F. PERTAMBANGAN
Jumlah perusahaan tambang yang terdaftar dan sebagian sudah mendapat izin berjumlah 32 perusahaan. Perusahaan ini memiliki area yang tersebar di 5 wilayah kabupaten. Beberapa perusahaan yang memiliki areal luas diatas 10 ribu hektar adalah
III- 11 -
PT. Gorontalo Mineral, PT Rimbunan Nusantara Abadi, PT. Citra Bumi Merindo, PT. Gorontalo Sejahtera Mining, PT. Suma Heksa Sinergi, dan Pertambangan Bumi Indonesia. Jenis bahan galian yang diambil sebagian besar berupa emas, sebagian kecil tembaga dan lainnya batuan.
Pertambangan rakyat yang dilakukan secara manual dan tradisional sampai semi mekanik. Berdasarkan data tahun 2009 mencakup luas 898,03 ha pertambangan emas, 96,101 ha pertambangan batuan dan 90,9 ha pertambangan pasir dan kerikil. Area pertambangan rakyat ini tersebar di seluruh wilayah provinsi. Sebagian dari pertambangan ini terutama pertambangan emas merupakan kegiatan illegal yang dikenal dengan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). PETI yang utama saat ini berada di Kabupaten Bone Bolango, Pohuwato, dan Gorontalo Utara. Pengolahan bijih dilakukan dengan menggunakan merkuri atau air raksa dan sianida. Limbah cair dari proses pengolahan dibuang langsung ke aliran sungai di dekat penambangan.
Gambar 3.2 Penambang pasir di pinggir bagian hilir Sungai Bone
Salah satu lokasi PETI yang berkembang adalah di Motomboto, Suwawa. Disini ada beberapa titik penambangan yang berada dalam kawasan hutan, diantaranya titik bor 15 Untuk mencapai lokasi tersedia ojek dengan ongkos 250.000,00 rupiah per orang. Pada musim kemarau membuat jalanan kering dan berdebu. Bila pada musim hujan jalan akan berlumpur dan sulit dilewati sepeda motor. Desa terakhir yang berbatasan dengan kawasan hutan adalah Desa Mamalia. Kemudian jalan bercabang dua, ke kiri menuju Desa Pinogu dan ke kanan menuju kawasan PETI.
III- 12 -
Jalan melewati anak sungai tanpa jembatan dan lebih banyak menanjak. Jalan ini tadinya hanya jalan setapak yang dibuat oleh para penambang untuk menuju kawasan PETI. Sekarang sudah diperlebar sebagai jalan akses PT Gorontalo Mineral, perusahaan pemilik Kontrak Karya pertambangan emas.
Tim bertemu dengan tokoh penambang Pak Wange dan Pak Agus. Menurut Kak Agus saat ini terdapat sekitar 7000 orang penambang di kawasan PETI Motomboto. Mereka ada yang bekerja menggali bijih di lubang dan ada yang bekerja di tempat pengolahan. Untuk memproses bijih emas penambang menggunakan tiga metoda, yakni dengan tromol (ball mill), tong (agitated tank leached) dan perendaman (heap leaching). Metoda tromol menggunakan silinder penggiling yang diputar dengan mesin diesel dan batu penghancur serta merkuri untuk mengekstraksi emas dari bijihnya. Sedangkan metoda tong dan perendaman menggunakan sianida sebagai pereaksi untuk mengekstrasi emas dari bijihnya.
Perbedaan metoda tong dengan metoda perendaman adalah proses, kapasitas, dan waktu pengerjaan. Tong mampu mengolah bijih dalam skala besar sedangkan metoda perendaman dalam skala kecil. Kapasitas tong yang ditemui memiliki diameter sekitar tiga meter dan tinggi tiga meter. Operasional tong lebih mahal karena proses pengolahan berlangsung dua tahap. Pertama batu bijih dihaluskan dulu dengan penggiling di tromol sekitar 4 sampai 6 jam lalu direndam dalam tong selama tiga hari tiga malam.
Sementara itu metoda perendaman memiliki bak penyiraman ukuran 5 x 4 x 1,5 m dengan kapasitas 30 meter kubik. Batuan-batuan bijih yang berukuran sebesar kepalan tangan ditumpuk dalam bak yang diberi diding terpal plastik kedap air. Lalu tumpukan disiram dengan larutan sianida selama satu minggu. Larutan dilewatkan ke dalam silinder jebakan dari plastik ukuran sekitar setengah meter kubik untuk menangkap emas dengan karbon. Kemudian larutan ditampung dalam bak penampungan larutan berukuran 2 x 2 x 1,5 meter. Larutan disirkulaikan lagi ke penyiraman. Penambahan sianida dipantau oleh seorang operator yang ahli dalam mencampur bahan kimia pemrosesan.
Dari taksiran Kak Wange, seorang pemilik lobang yang memperkenalkan metoda perendaman ini, metoda perendaman lebih hemat air maupun biaya. Daya tangkap