• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETA ALTA POTA PENL PERK BAGH DAET LOKA TAML RETR

185 Tabel 16. Kumulatif structural equation modeling untuk penyebab konflik (KONF) dengan teknik resolusi konflik (RESO)

Variabel Jenis Konflik

PETA ALTA POTA PENL PERK BAGH DAET LOKA TAML RETR

(Penyebab Konflik)-1->[PART] 0,390 ** 0,234 ** 0,219 ** -0,236 -0,039 0,744 ** 0,527 ** 0,675 ** 0.168 ** 0.115 ** (Penyebab Konflik)-2->[LEAD] 0,582 ** 0,397 ** 0,485 ** 0,556 ** 0,105 0,835 ** 0,638 ** 0,744 ** 0.033 * 0.089 * (Penyebab Konflik)-3->[Opos] 0,037 0,059 0,057 1,000 ** -0,135 0,166 0,181 0,248 0.113 0.111 * (Penyebab Konflik)-4->[ISSU] 0,034 0,056 0,042 -0,596 ** -0,066 0,164 0,067 0,108 0.288 ** 0.291 ** (Penyebab Konflik)-5->[Ekon] -0,085 -0,128 0,227 * 0,122 0,539 ** 0,420 ** -0,077 0,659 ** -0.122 0.087 (Penyebab Konflik)-6->[POPU] 0,214 ** -0,149 ** -0,136 ** -0,155 -0,171 -0,405 ** -0,564 ** -0,455 ** 0.263 -0.013 (Penyebab Konflik)-7->[CULT] 0,272 ** 0,697 ** 0,293 -0,025 0,169 0,480 ** 0,950 ** -0,247 -0.452 ** -0.615 ** (Penyebab Konflik)-8->[LAWS] 0,723 ** -0,029 -0,093 0,432 * 0,186 0,283 0,516 ** -0,730 ** -0.319 ** -0.037 (Penyebab Konflik)-9->[COMP] 0,564 ** -0,338 ** 0,212 ** -0,399 * 0,921 ** 0,150 0,033 0,471 ** -0.249 ** -0.365 ** (Penyebab Konflik)-10->[Interst] -0,130 ** 0,110 0,159 * -0,474 ** -0,309 -0,378 ** 0,326 ** 0,405 ** -0.015 0.035 (Penyebab Konflik)-11->[Stok] 0,548 ** 0,135 0,096 0,308 0,969 ** 0,296 0,387 ** -0,257 * -0.140 0.017 ** (Metoda Resolusi)-12->[Fasilita] 0,073 ** 0,094 ** 0,091 ** -0,459 ** -0,203 0,307 * 0,422 ** 0,347 ** -0.333 ** -0.060 (Metoda Resolusi)-13->[Negoisas] 0,387 ** 0,380 ** 0,387 ** 1,000 ** 0,957 * 0,904 ** 0,882 ** 0,932 ** 0.312 ** 0.224 ** (Metoda Resolusi)-14->[Mediasi] 0,670 ** 0,687 ** 0,677 ** 0,117 0,203 0,889 ** 0,902 ** 0,837 ** 0.232 * 0.290 ** (Metoda Resolusi)-15->[Avoidanc] 0,355 ** 0,364 ** 0,363 ** 0,467 ** 0,491 * 0,874 ** 0,733 ** 0,788 ** 0.147 * 0.185 * (RESO)-31-(KONF) 0,446 ** 0,824 ** 0,785 ** -0,185 -0,232 0,736 ** 0,954 ** 0,843 ** -0.648 ** -0.387 * Fit Measure ML Chi-Square 928,541 173,586 135,800 139,614 161,958 152,694 175,474 142,036 185.631 136.387 Degrees of Freedom 89,000 89,000 89,000 89,000 89,000 89,000 89,000 89,000 89.000 89.000 p-level 0,000 0,000 0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0.000 0.001 RMS Standardized Residual 0,127 0,110 0,102 0,185 0,168 0,122 0,110 0,094 0.212 0.157 GFI 0,765 0,750 0,790 0,598 0,626 0,710 0,724 0,783 0.503 0.670 AGFI 0,683 0,663 0,717 0,457 0,496 0,610 0,627 0,707 0.329 0.555 NFI 0,575 0,571 0,595 0,264 0,303 0,506 0,622 0,650 0.265 0.360

Keterangan: ** signifikan pada taraf α = 0,01 * signifikan pada taraf α = 0,05

186 Hipotesis 2 terkait dengan pengaruh resolusi konflik terhadap outcome pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap, yaitu pengaruh teknik resolusi konflik terhadap pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggung jawab, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggung jawab, dan peningkatan pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan. Berdasarkan hasil analisis, rerata skor outcome menurut jenis konflik dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Rerata skor outcome menurut jenis konflik Jenis

Konflik

Rerata skor outcome*

TRANP AKUNT PARPL PARIM PARMO SUSEK SUSSO SUSKO SUSIN

ALTA 3,81 3,70 2,63 3,32 2,35 3,77 3,90 3,80 3,88 POTA 3,85 3,70 2,63 3,32 2,35 3,78 3,90 3,80 3,88 PENL 3,71 3,83 2,67 3,51 2,41 3,75 3,92 3,77 4,16 PERK 3,85 3,79 2,67 3,51 2,41 3,75 3,92 3,80 4,21 BAGH 3,70 3,78 2,55 3,44 2,26 3,77 3,88 3,73 4,15 DAET 3,83 3,65 2,63 3,32 2,35 3,79 3,90 3,85 4,09 LOKA 3,83 3,73 2,63 3,32 2,35 3,76 3,90 3,89 4,14 TAML 3,40 3,45 2,78 3,10 2,52 3,77 3,99 3,84 3,98 RETR 3,53 3,65 2,62 3,10 3,19 3,78 3,92 3,69 4,19 Rerata skor 3,72 3,70 2,65 3,33 2,47 3,77 3,92 3,80 4,08

Skor tertinggi outcome terdapat pada variabel keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap, yaitu keberlanjutan ekologis (SUSEK), keberlanjutan social-ekonomi (SUSSO), keberlanjutan komunitas (SUSKO), dan keberlanjutan kelembagaan (SUSIN), dengan rerata skor masing-masing adalah : 3,77; 3,92; 3,80 dan 4,08. Berdasarkan rerata skor tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan termasuk dalam kategori baik.

Demikian pula aspek pemahaman terhadap pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan dari perspektif akuntabilitas (AKUNT) dan transparansi (TRANP) menunjukkan rerata skor yang lebih tinggi 3,70 dan 3,72. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan sudah termasuk dalam kategori baik.

Pemahaman terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan direpresentasikan dalam variabel partisipasi dalam perencanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARPL), partisipasi dalam

187 pelaksanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARIM) dan partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO) dengan rerata skor masing-masing sebesar 2,65; 3,33 dan 2,47. Dari ketiga sub variabel partisipasi, ternyata partisipasi dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARIM) memperoleh rerata skor paling tinggi, sementara partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO) memperoleh rerata skor terendah. Berdasarkan rerata skor tersebut dapat disimpulkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap termasuk ke dalam tingkatan partisipasi konsultatif. Pretty et al, (1995) menyebutkan bahwa pada tingkat partisipasi konsultatif pihak luar mendefinisikan problem dan proses pengumpulan informasi, sementara masyarakat berpartisipasi dalam bentuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Dalam bentuk partisipasi ini tidak ada sharing dalam pengambilan keputusan.

Analisis komponen faktor utama (PCA) dilakukan dengan menempatkan

outcome sebagai variabel dan jenis konflik sebagai kasus atau individu.

Berdasarkan hasil analisis PCA diketahui bahwa ragam pada komponen pertama hingga komponen ke tiga untuk variabel outcome, mencapai 75,60 persen. Komponen utama pertama hingga ke tiga mempunyai akar ciri yaitu: 3,465; 1,783 dan 1,556, yang menjelaskan masing-masing: 38,50 persen; 19,81 persen dan 17,29 persen keragaman gugus data.

Analisis hubungan/korelasi antara variabel dan sumbu utama diperoleh gambaran sebagai berikut:

1) Variabel outcome transparansi dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (TRANS), partisipasi dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARIM), partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO) dan keberlanjutan ekologi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSEK) memberikan sumbangan terbesar pada sumbu utama pertama. Nilai korelasi antara variabel tersebut dengan sumbu utama pertama, masingmasing adalah 0,688; 0,772; 0,776 dan -0,893.

2) Variabel outcome keberlanjutan komunitas dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSKO) memberikan sumbangan terbesar pada sumbu

188 utama kedua. Nilai korelasi antara variabel tersebut dengan sumbu utama kedua adalah -0,701)

3) Variabel outcome keberlanjutan social ekonomi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSSO) memberikan sumbangan terbesar pada sumbu utama ke tiga. Nilai korelasi antara variabel tersebut dengan sumbu utama ke tiga adalah 0,723.

Keterkaitan antara variabel outcome dengan kasus atau individu jenis konflik dapat dilihat pada Gambar 33.

Gambar 33. Korelasi antar variabel outcome dan sebaran individu kasus jenis konflik pada sumbu utama pertama (F-1) dan kedua (F-2)

Gambar 33 terlihat bahwa variabel outcome transparansi dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (TRANS), partisipasi dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARIM), partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO) dan keberlanjutan ekologi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSEK) berada dekat dengan sumbu utama pertama. Sedangkan variabel keberlanjutan komunitas dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSKO) berada dekat dengan sumbu utama ke dua dan variabel keberlanjutan

Komp on en ut a ma I I : 19 .81% Komponen utama I : 38.50%

189 sosial ekonomi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSSO) berada dekat dengan sumbu utama ke tiga.

Evaluasi kualitas representasi individu/kasus pada sumbu utama pertama dan kedua dapat dianalisis grafik sebaran individu pada Gambar 33, terlihat bahwa resolusi konflik yang dilakukan pada kasus konflik alat tangkap (ALTA), daerah tangkap (DAET) dan penggunaan potas/obat-obatan (POTA) direpresentasikan dengan keberlanjutan ekologi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSEK), partisipasi dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan tangkap (PARIM), keberlanjutan komunitas dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSKO) dan partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO). Sedangkan pada kasus konflik tambat labuh (TAML) dan konflik retribusi (RETR) direpresentasikan dengan transparansi dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (TRANS). Sementara pada kasus konflik perusakan terumbu karang (PERK) direpresentasikan oleh partisipasi dalam monitoring dan evaluasi pengelolaan perikanan tangkap (PARMO). Pada gambar terlihat bahwa posisi konflik perusakan terumbu karang (PERK) sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan ekologi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap (SUSEK) yang mempunyai komponen loading yang besar pada sumbu utama pertama.

Pengujian hipotesis 2 selanjutnya dilakukan dengan menggunakan model persamaan struktural (SEM) hubungan antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC). Berdasarkan kriteria goodness of fit dapat disimpulkan bahwa model memiliki kecocokan yang tinggi, sebagaimana dilihat dari nilai Maximum Likelihood Chi-Square, RMS Standardized Residual,

Goodness of Fit Index (GFI), Adjusted GFI (AGFI) dan Normed Fit Index (NFI)

yang cukup tinggi.

Hubungan antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel

outcome (OUTC) ditunjukan oleh factor loading dari masing-masing variabel

laten (RESO dan OUTC). Besarnya nilai loading dari masing-masing faktor menunjukkan arah dan bobot pengaruh faktor tersebut terhadap variabel RESO

190 Pada Gambar 34 dapat dilihat bahwa factor loading yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk merepresentasikan variabel teknik resolusi konflik (RESO) pada kasus konflik perikanan tangkap (PETA) yaitu mediasi, negosiasi, avoidance dan fasilitasi masing-masing adalah 0,701; 0,367; 0,352 dan 0,092. Sedangkan factor loading yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk merepresentasikan variabel outcome (OUTC) yaitu partisipasi dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) dan pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (SUST) masing-masing dengan nilai 0,520 dan 0,405.

Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik perikanan tangkap (PETA) menunjukkan nilai signifikan pada taraf α 1 persen, yaitu 0,245. Nilai koefisien korelasi yang positif berarti semakin baik kemampuan memilih teknik resolusi konflik maka akan semakin baik pula outcome. Temuan ini mendukung hipotesis 2.

Gambar 34. Nilai koefisien teknik resolusi konflik dan outcome untuk konflik perikanan tangkap

Kumulatif dari hasil analisis structural equation model hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) untuk ke sembilan jenis konflik yang terdapat di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 18 sebagai berikut :

Variabel teknik resolusi konflik (RESO) pada konflik alat tangkap (ALTA) direpresentasikan oleh mediasi, negosiasi dan avoidance dengan masing-masing nilai 0,715; 0,368 dan 0,354. Dari tabel tersebut juga dapat diketahui

OUTC 0.245** RESO PARTISIPASI KEADILAN KEBERLANJUTAN AVOIDANCE MEDIASI NEGOSIASI FASILITASI 0.092** 0.367** 0.701** 0.352** -0.068 0.520** 0.405** 0.245**

191 bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) merepresentasikan variabel outcome (OUTC) pada konflik alat tangkap (ALTA) dengan nilai 0,946. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik alat tangkap (ALTA) menunjukkan nilai tidak signifikan pada taraf α 5 persen, yaitu 0,140 yang berarti tidak mendukung hipotesis 2.

Pada konflik penggunaan potas/obat-obatan/bahan kimia (POTA) mediasi, negosiasi dan avoidance memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk variabel teknik resolusi konflik (RESO) yaitu dengan nilai masing-masing 0,719; 0,367 dan 0,351. Demikian pula partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) dan pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (EQUI) memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk variabel outcome (OUTC) pada konflik penggunaan potas/obat-obatan/bahan kimia (POTA) yaitu masing-masing dengan nilai 0,893 dan 0,402. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik penggunaan potas/obat-obatan/bahan kimia (POTA) menunjukkan nilai tidak signifikan pada taraf α 5 persen, yaitu 0,149 yang berarti tidak mendukung hipotesis 2.

Pada konflik pengolahan limbah (PENL) semua faktor variabel teknik resolusi konflik (RESO) tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan. Demikian pula halnya dengan faktor variabel outcome (OUTC). Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik pengolahan limbah (PENL) menunjukkan nilai tidak signifikan pada taraf α 5 persen, yaitu 0,039 yang berarti tidak mendukung hipotesis 2.

Pada konflik perusakan terumbu karang (PERK) negosiasi dan avoidance memberikan kontribusi yang tidak signifikan dalam membentuk variabel teknik resolusi konflik (RESO). Demikian pula variabel teknik resolusi tersebut tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap variabel outcome (OUTC). Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik konflik perusakan terumbu karang

192 (PERK) menunjukkan nilai tidak signifikan pada taraf α 5 persen, yaitu 0,052 yang berarti tidak mendukung hipotesis 2.

Pada kasus konflik bagi hasil (BAGH), variabel teknik resolusi konflik (RESO) direpresentasikan mediasi, avoidance dan negosiasi masing-masing dengan nilai 0,763; 0,447 dan 0,342. Demikian pula faktor yang merepresentasikan variabel outcome (OUTC) pada konflik bagi hasil (BAGH) yaitu pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) dan pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (EQUI) masing-masing dengan nilai 0,327 dan 0,322. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik bagi hasil (BAGH) menunjukkan nilai signifikan pada taraf α 1 persen, yaitu 0,421 yang berarti mendukung hipotesis 2.

Demikian pula faktor yang merepresentasikan variabel teknik resolusi konflik (RESO) pada konflik daerah tangkap (DAET) yaitu mediasi, negosiasi dan avoidance masing-masing dengan nilai 0,716; 0,368 dan 0,356. Demikian pula faktor yang merepresentasikan variabel outcome (OUTC) pada konflik daerah tangkap (DAET) yaitu pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (EQUI) dan pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) masing-masing dengan nilai -0,581 dan 0,539. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik daerah tangkap (DAET) menunjukkan nilai signifikan pada taraf α 1 persen, yaitu 0,245 yang berarti mendukung hipotesis 2.

Pada konflik nelayan lokal vs andon (LOKA), faktor yang merepresentasikan variabel teknik resolusi konflik (RESO) yaitu mediasi, negosiasi dan avoidance masing-masing dengan nilai 0,714; 0,367 dan 0,355. Demikian pula faktor yang merepresentasikan variabel outcome (OUTC) pada konflik nelayan lokal vs andon (LOKA) yaitu pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan (PARI) dengan nilai 0,913. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik daerah tangkap (DAET) menunjukkan nilai signifikan pada taraf α 1 persen, yaitu 0,146 yang berarti mendukung hipotesis 2.

193 Pada konflik tambat labuh (TAML), faktor yang merepresentasikan variabel teknik resolusi konflik (RESO) yaitu fasilitasi dan negosiasi masing-masing dengan nilai -0,333 dan 0,312.Demikian pula faktor yang memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk variabel outcome (OUTC) pada konflik tambat labuh (TAML) yaitu pengelolaan perikanan tangkap yang keberlanjutan (SUST) dengan nilai 0,663. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik tambat labuh (TAML) menunjukkan nilai tidak signifikan pada taraf α 5 persen, yaitu -0,071 yang berarti tidak mendukung hipotesis 2.

Faktor yang merepresentasikan variabel teknik resolusi konflik (RESO) pada konflik retribusi (RETR) yaitu avoidance dengan nilai 0,319. Demikian pula faktor yang merepresentasikan variabel outcome (OUTC) pada konflik retribusi (RETR) yaitu pengelolaan perikanan tangkap yang berkeadilan (EQUI) dan pengelolaan perikanan tangkap yang keberlanjutan (SUST) masing-masing dengan nilai 0,667 dan 0,476. Hubungan korelasi antara variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada konflik retribusi (RETR) menunjukkan nilai signifikan pada taraf α 1 persen, yaitu 0,210 yang berarti mendukung hipotesis 2.

Pada Tabel 18 dapat dilihat kumulatif structural equation modeling hubungan variabel teknik resolusi konflik (RESO) dengan variabel outcome (OUTC) pada ke sembilan jenis konflik yang terjadi di lokasi penelitian.

194 Tabel 18. Kumulatif structural equation modeling untuk teknik resolusi konflik (RESO) dengan outcome (OUTC)

Variabel Jenis Konflik

PETA ALTA POTA PENL PERK BAGH DAET LOKA TAML RETR

(Metoda Resolusi)-->[Fasilita] 0,092 ** 0,104 ** 0,105 ** -0,148 * -0,062 0,090 0,105 ** 0,104 ** -0,333 ** -0,125 * (Metoda Resolusi)-->[Negoisas] 0,367 ** 0,368 ** 0,367 ** 0,247 ** 0,254 ** 0,342 ** 0,368 ** 0,367 ** 0,312 ** 0,127 * (Metoda Resolusi)-->[Mediasi] 0,701 ** 0,715 ** 0,719 ** 0,038 0,062 0,763 ** 0,716 ** 0,714 ** 0,232 * 0,139 (Metoda Resolusi)-->[Avoidanc] 0,352 ** 0,354 ** 0,351 ** 0,137 * 0,133 ** 0,447 ** 0,356 ** 0,355 ** 0,147 * 0,319 ** (Outcome)-->[Equi] -0,068 0,066 ** 0,402 ** -1,993 ** 0,471 -0,322 ** -0,581 ** 0,081 1,147 0,667 ** (Outcome)-->[pari] 0,520 ** 0,946 ** 0,893 ** -0,626 -0,478 0,327 ** 0,539 ** 0,913 ** -0,189 0,001 (Outcome)-->[sust] 0,405 ** 0,244 0,190 -0,741 0,357 0,116 ** 0,142 0,212 0,663 ** 0,476 ** (Metoda Resolusi)-->(Outc) 0,245 ** 0,140 0,149 0,039 0,052 0,421 ** 0,245 ** 0,146 ** -0,071 0,210 ** Fit Measure ML Chi-Square 91,807 183,723 22,498 32,913 18,343 27,366 18,575 29,625 30,007 21,843 Degrees of Freedom 14,000 21,000 14,000 21,000 14,000 14,000 14,000 14,000 14,000 14,000 p-level 0,000 0,895 0,069 0,450 0,192 0,017 0,182 0,009 0,008 0,082 RMS Standardized Residual 0,046 0,949 0,063 0,449 0,123 0,091 0,049 0,065 0,172 0,122 GFI 0,933 0,967 0,894 0,654 0,882 0,853 0,920 0,890 0,739 0,850 AGFI 0,866 0,596 0,788 0,300 0,764 0,706 0,841 0,780 0,478 0,700 NFI 0,920 0,000 0,881 0,000 0,405 0,828 0,905 0,847 0,528 0,523

Keterangan: ** berbeda signifikan pada taraf α = 0,01

* berbeda signifikan pada taraf α = 0,05

195

Pembahasan

Hubungan penyebab dengan teknik resolusi konflik

Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa pada kasus konflik bagi hasil (BAGH), konflik tambat labuh (TAML) dan konflik retribusi (RETR) utamanya direpresentasikan oleh variabel penyebab konflik keberadaan tokoh dalam konflik (LEAD), keberadaan peraturan dan penegakan hukum (LAWS), kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya (COMP) dan persepsi masyarakat terhadap keadaan sumberdaya (STOK). Sedangkan pada kasus konflik daerah tangkap (DAET) dan konflik alat tangkap (ALTA) direpresentasikan oleh variable isu yang berkembang dalam masyarakat (ISSU) dan kondisi perekonomian masyarakat (EKON).

Menunjuk hasil analisis SEM pada kasus konflik perikanan tangkap (PETA), menunjukkan bahwa variabel penyebab konflik yang utama adalah keberadaan tokoh dalam konflik (LEAD), kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya (COMP), keberadaan peraturan dan penegakan hukum (LAWS) dan persepsi masyarakat terhadap keadaan sumberdaya (STOK). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ke dua alat analisis tersebut ternyata memberikan hasil yang konsisten.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kasus-kasus konflik perikanan tangkap di lokasi penelitian direpresentasikan oleh lebih dari satu variabel penyebab konflik. Konflik tambat labuh (TAML), konflik retribusi (RETR) dan konflik daerah tangkap (DAET) direpresentasikan oleh tiga variabel penyebab konflik; sedangkan konflik bagi hasil (BAGH) dan konflik alat tangkap (ALTA) direpresentasikan oleh dua variabel penyebab konflik. Hal ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penyebab konflik dapat terdiri dari satu atau kombinasi dari beberapa variabel penyebab konflik.

Berdasarkan faktor loading dari variabel penyebab konfliknya, maka keberadaan peraturan dan penegakan hukum (LAWS), keberadaan tokoh dalam konflik (LEAD), kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya (COMP) dan persepsi masyarakat terhadap stok sumberdaya (STOK) merupakan variabel penyebab konflik yang utama. Nilai loading dari masing-masing variabel penyebab konflik tersebut adalah: 0,723; 0,582;0,564; dan 0,548.

196 Memperhatikan hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada dasarnya variabel penyebab konflik perikanan tangkap di lokasi penelitian dapat dikelompokkan ke dalam dua cluster, yaitu cluster penyebab konflik teknologi dan cluster penyebab konflik ekonomi. Pengelompokan ini disebabkan adanya pengaruh kuat dari koefisien komponen loading variabel penyebab konflik yang lebih dekat pada sumbu utama pertama. Pada Gambar 30 dapat dilihat bahwa cluster teknologi terdiri dari keberadaan peraturan dan penegakan hukum (LAWS), keberadaan tokoh dalam konflik (LEAD), kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya (COMP) dan persepsi masyarakat terhadap stok sumberdaya (STOK). Sedangkan cluster ekonomi terdiri dari isu yang berkembang dalam masyarakat (ISSU) dan kondisi perekonomian masyarakat (EKON). Bila dicermati, maka seluruh variabel penyebab konflik yang termasuk dalam cluster teknologi dan cluster ekonomi merupakan variabel penyebab konflik utama yang mendeskripsikan 56,16 persen dari variabel penyebab konflik perikanan tangkap yang terdapat di lokasi penelitian. Variabel-variabel penyebab konflik utama tersebut mendeskripsikan dengan baik beberapa jenis konflik perikanan tangkap yang terdapat di lokasi penelitian, khususnya konflik bagi hasil (BAGH), konflik tambat labuh (TAML), konflik retribusi (RETR), konflik nelayan lokal vs andon (LOKA), konflik alat tangkap (ALTA) dan konflik daerah tangkap (DAET).

Merujuk pada hasil analisis SEM maka konflik perikanan tangkap yang utama berdasarkan loading dari variabel penyebab konflik utama adalah konflik bagi hasil (BAGH), konflik tambat labuh (TAML), konflik nelayan lokal vs andon (LOKA), konflik alat tangkap (ALTA) dan konflik daerah tangkap (DAET).

Konflik daerah tangkap (DAET) dan konflik nelayan lokal vs andon (LOKA) direpresentasikan oleh adanya persepsi masyarakat terhadap keberadaan peraturan dan penegakan hukum (LAWS). Perbedaan persepsi masyarakat terhadap keberadaan peraturan dan penegakan hukum akan sangat bergantung dari penerimaan masing-masing individu yang melakukan intepretasi menurut sudut pandangnya sendiri yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya konflik. Masyarakat nelayan di Teluk Prigi pada kasus-kasus tertentu mengharapkan kesepakatan-kesepakatan pengelolaan perikanan tangkap dilegalkan melalui hukum formal, dan masyarakat di Teluk Popoh cukup puas dengan kesepakatan

197 desa; sementara masyarakat nelayan di Teluk Sendang Biru kurang mempersoalkan aspek legalisasi bentuk kesepakatan tetapi lebih menekankan pada aspek kepatuhan terhadap wakil kelompok mereka yang terlibat dalam proses resolusi konflik (LEAD).

Persepsi masyarakat terhadap kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya (COMP) merepresentasikan konflik nelayan lokal vs andon (LOKA), dengan koefisien loading 0,471 pada taraf α = 99 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya ikan pada daerah penangkapan ikan di lokasi penelitian berpengaruh terhadap terjadinya konflik di lokasi penelitian.

Demikian pula persepsi masyarakat terhadap kondisi sumberdaya (STOK) yang merepresentasikan konflik daerah tangkap (DAET) menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai ketergantungan yang sangat kuat terhadap ketersediaan sumberdaya ikan. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya biasanya dihubungkan dengan jumlah hasil tangkapan yang diperoleh yang dikaitkan dengan lokasi daerah penangkapan (fishing ground), misalnya adanya persepsi dari nelayan payang di Teluk Sendang Biru yang menganggap rumpon laut dalam menghambat gerakan ruaya gerombolan ikan ke perairan dangkal (pantai). Keadaan ini mendorong kelompok nelayan payang untuk mengalihkan daerah penangkapannya dari perairan dangkal (empat mil) ke perairan dalam di lokasi rumpon sehingga berpotensi memicu terjadinya konflik. Selain itu, pada umumnya masyarakat nelayan di lokasi penelitian sangat resistance terhadap perilaku masyarakat lokal yang melakukan pengambilan terumbu karang di perairan Prigi untuk bahan bangunan dan cindera mata. Aktivitas ini dinilai oleh nelayan dapat mengurangi ketersediaan stok sumberdaya ikan demersal karena terumbu karang yang merupakan habitat dari species ikan demersal menjadi rusak sehingga dapat mengurangi hasil tangkapan ikan.

Hasil estimasi stok sumberdaya ikan yang dilakukan melalui pendekatan Schaefer (1954) dengan menggunakan metoda estimasi parameter biologi Walter-Hillborn (1976) untuk sumberdaya ikan demersal di perairan Pantai Selatan Malang, Tulungagung dan Trenggalek menunjukkan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan tersebut masih di bawah tingkat lestarinya. Pada periode 1990 – 2004 tingkat produksi aktual ikan demersal

198 berfluktuasi dan masih berada di bawah produksi maksimum lestari (MSY). Rata-rata produksi aktual ikan demersal di perairan ini sebesar 2.550.386 kg per tahun (Gambar 35), dengan MSY sebesar 7.429.775 kg per tahun. Dengan demikian tingkat pemanfaatan ikan demersal di perairan ini baru sebesar 34,33 persen.

-500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 Tahun Yi el d ( kg)

Produksi Aktual (hA) 1,84 2,90 3,24 3,09 2,51 2,72 1,82 3,35 3,04 2,16 1,97 2,81 1,77 3,68 1,29 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Gambar 35. Rata-rata produksi aktual ikan demersal periode 1990-2004 di lokasi penelitian

Dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap faktor isu yang berkembang dalam masyarakat (ISSU) terkait dengan perilaku masyarakat nelayan yang cepat memberikan reaksi atau tanggapan terhadap adanya informasi tanpa melakukan pengecekan atas kebenaran informasi tersebut. Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan faktor isu yang berkembang dalam masyarakat (ISSU) dengan konflik retribusi (RETR) dan konflik tambat labuh (TAML) di Teluk Sendangbiru. Isu yang mencuat adalah tidak jelasnya informasi mengenai rencana kenaikan pungutan retribusi atas hasil tangkapan ikan, sementara disisi lain nelayan tidak mendapatkan pelayanan yang memadai di tempat pendaratan ikan (TPI) disebabkan terbatasnya fasilitas tambat labuh yang tersedia. Situasi ini

199 akhirnya memicu terjadinya konflik retribusi antara pengelola TPI dengan nelayan dan konflik tambat labuh antar sesama nelayan.

Pada konflik bagi hasil (BAGH) yang terjadi disebabkan oleh adanya ketidak adilan dalam sistem bagi hasil. Juragan darat merasa dirugikan dengan adanya aktivitas dari keluarga ABK yang mengambil ikan hasil tangkapan sebelum dibawa ke TPI. Sementara ABK menganggap aktivitas keluarga mereka itu merupakan hal yang wajar apalagi jika dikaitkan dengan situasi ekonomi ABK yang serba kekurangan. Permasalahan muncul ketika pengambilan hasil tangkapan tanpa mempertimbangkan jumlah hasil tangkapan yang didapatkan sehingga kondisi tersebut semakin merugikan juragan darat (EKON). Situasi ini memicu munculnya konflik antara juragan dan ABK. Konflik ini dipertajam dengan adanya kehadiran beberapa tokoh (LEAD) yang memprovokasi kelompok masyarakat nelayan sehingga menghambat proses resolusi konflik.

Hasil pengujian hipotesis I dengan menggunakan metoda PCA yang mengkarakteristikkan jenis konflik dengan metoda resolusi, diperoleh gambaran bahwa pada kasus konflik bagi hasil (BAGH), konflik tambat labuh (TAML), konflik pengolahan limbah (PENL) dan konflik perusakan terumbu karang (PERK) direpresentasikan oleh teknik fasilitasi (RESO 2), mediasi (RESO 5) dan

avoidance (RESO 7 dan RESO 8). Kasus konflik nelayan lokal vs andon (LOKA)

direpresentasikan oleh teknik negosiasi (RESO 3 dan RESO 4). Sementara konflik alat tangkap (ALTA) direpresentasikan oleh tehik fasilitasi (RESO 1).

Hasil analisis SEM terhadap variabel faktor penyebab (KONF) dan teknik resolusi konflik (RESO) pada konflik perikanan tangkap (PETA) menghasilkan kesimpulan bahwa teknik resolusi konflik yang utama di lokasi penelitian adalah mediasi, negosiasi dan avoidance. Hal ini sesuai dengan temuan yang menunjukkan bahwa konflik perikanan tangkap yang pernah terjadi di lokasi penelitian seluruhnya diselesaikan dengan metoda resolusi sengketa alternatif (Alternative Dispute Resolution/ADR) dan tidak satupun yang diselesaikan melalui mekanisme litigasi (pengadilan). Hal ini disebabkan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masih bersedia dipertemukan dan bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Dalam hal konflik yang terjadi berada di luar kemampuan mereka untuk menyelesaikannya, karena sulit mempertemukan

200 pihak yang berkonflik atau masyarakat lebih mengutamakan aspek kerukunan, maka konflik akan dibiarkan selesai dengan sendirinya (avoidance). Contoh dari konflik jenis ini adalah konflik retribusi (RETR), konflik penggunaan potas/obat-obatan (POTA) dan konflik perusakan terumbu karang (PERK) yang terjadi di Teluk Sendang Biru dan Teluk Prigi.

Teknik mediasi dan negosiasi merupakan teknik yang paling banyak digunakan dalam menyelesaikan konflik di lokasi penelitian. Selain itu kehadiran tokoh masyarakat (LEAD) yang disegani (seperti yang terjadi di Teluk Sendang Biru) merupakan faktor penting dalam proses penyelesaian konflik. Demikian pula kelembagaan tidak formal yang terdapat dalam struktur masyarakat setempat terbukti mampu menyelesaikan atau paling tidak meredam konflik yang terjadi. Jika eskalasi konflik meluas dan melibatkan banyak pihak sementara tokoh masyarakat tidak mampu mengatasinya, maka peranan pihak ke tiga melalui proses mediasi digunakan dalam menyelesaikan konflik. Sebagai contoh, teknik ini digunakan pada konflik nelayan lokal vs andon (LOKA) di Teluk Popoh dan Teluk Prigi, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) setempat yang dikoordinir oleh Dinas Perikanan dan Kelautan dilibatkan dalam proses resolusi konflik.

Hasil analisis lanjutan menggunakan kriteria Priscolly (2003) memberikan konfirmasi responden diseluruh lokasi penelitian menilai ADR sangat mungkin diaplikasikan untuk penyelesaian konflik perikanan tangkap. Rerata skor tertinggi terjadi di Teluk Popoh, diikuti oleh Teluk Prigi dan Sendang Biru. Hasil uji beda rata-rata dengan analysis of variance (ANOVA) untuk seluruh item diperoleh nilai F stat sebesar 127,604 yang signifikan pada taraf 99 persen. Hal ini berarti terdapat perbedaan rata-rata skor kecocokan penggunaan ADR antar lokasi penelitian. Gambaran mengenai kemungkinan penggunaan metode ADR di lokasi penelitian seperti pada Tabel 19.

201

Tabel 19. Kemungkinan penggunaan penyelesaian sengketa alternatif (ADR)

Dokumen terkait