• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Peta Strategi Perusahaan

Peta strategi merupakan deskripsi dari hubungan sebab akibat dalam pendekatan balanced scorecard. Suwono (2010) menjelaskan bahwa dalam pendekatan balanced scorecard peta strategi dijadikan bagian untuk manajemen dalam mengkomunikasi, mengimplementasi dan mengevaluasi rencana dan target perusahaan. Peta strategi pada awalnya dimulai dengan visi dan misi perusahaan, sehingga peta strategi adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh semua perusahaan dalam mengukur dan membuat pola hubungan dari tiap sasaran (Rauf 2012).

Penjabaran atas visi dan misi dari PT XYZ diturunkan kedalam pendekatan balanced scorecard yang kemudian disesuaikan berdasarkan sasaran strategis.

Kurniawan (2006) menjelaskan bahwa penjabaran visi dan misi-misi dari tujuan organisasi dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi serta peta strategi memungkinkan organisasi untuk mendelegasikan tanggung jawab dari tingkat pimpinan ke pelaksana. Peta Strategi dapat digunakan dalam pengaturan organisasi tetapi secara tradisional digunakan untuk mengekspresikan empat tujuan organisasi. Adapun deskripsi peta strategi PT XYZ disajikan pada Gambar 4.6.

Persepektif pembelajaran dan pertumbuhan atau learning and growth merupakan persepektif yang berfokus pada pengelolaan pegawai. Saat ini PT XYZ menyadari bahwa pengelolaan pegawai harus berfokus pada dua sisi tangible dan intangible. Sisi tangible harus berfokus untuk fokus pada training dan development di PT XYZ, hal ini ditujukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi dan kemampuan karyawan. Sasaran strategis tersebut dapat tercapai melalui program yang didukung oleh pemimpin yang berkomitmen, membuat program training dengan tujuan-tujuan yang sangat jelas dan pegawai yang siap dan berkomitmen untuk mengikuti pembelajaran. Sisi intangible berfokus pada integrasi system human resource. Manajemen menyadari bahwa sistem informasi merupakan hal penting yang perlu dikelola dan dikembangkan oleh PT XYZ agar seluruh aktifitas mampu berakselerasi dengan optimal. Perusahaan yang mengembangkan sistem teknologi untuk mendukung karyawan akan mendapatkan keuntungan berupa aktifitas yang lebih efisien dan efektif pada tiap prosesnya (Efendi 2011).

Proses bisnis internal atau business internal process merupakan bagian pengambaran terkait dengan ukuran dan sinergi setiap unit kerja bisnis. PT XYZ menyadari bahwa terdapat 5 sasaran strategis yang dipentingkan. PT XYZ menyadari bahwa tahap awal harus dimulai dengan memastikan seluruh proses bisnisnya sesuai standard feed safety yang sudah ditetapkan regulator, menjaga supply chain bahan baku, pengelolaan biaya agar tetap dan mencapai kondisi efisien

terbaik dan kemudian dilanjutkan dengan meningkatkan kapasitas produksi. Disisi lain PT XYZ menyadari bahwa diversifikasi produk baru perlu dilakukan agar perusahaan semakin berkembang. Kelima sasaran strategis tersebut nantinya diarahkan untuk menjaga dan menciptakan kepercayaan terkait dengan produk yang berkualitas. Pada dasarnya seluruh 5 sasaran strategis telah memenuhi 3 faktor penting dalam proses bisnis internal yaitu Innovation process, Operation Process dan Regulatory and Social Processes (Chisambara 2014 ; Samahitawirotama.com 2021). Sutrisno (2011) menerangkan bahwa dalam internal proses bisnis mengharus adanya proses yang berhubungan serta mengarah kepada pengembangan bisnis, hal ini agar bisnis yang dilakukan mampu tumbuh dari waktu ke waktu.

Persepektif konsumen diketahui memiliki fokus kepada upaya untuk melayani konsumen dengan layak dan sesuai agar konsumen sadar, tertarik, puas dan loyal kepada perusahaan. Rauf (2012) menjelaskan bahwa konsumen merupakan bagian dalam bisnis yang terlibat dalam eksistensi bisnis. PT XYZ harus berfokus pada 2 sasaran strategis yaitu kepuasan dan loyalitas dari konsumen dengan fokus pada tingkat kepuasan, tingkat loyalitas dan tingkat konsumen baru.

Pada dasarnya pengelolaan konsumen ditujukan untuk pengembangan hubungan yang mengntungkan dengan konsumen. Kegiatan ini dapat dijalankan dengan mengoptimalkan fungsi pemasaran, komunikasi dan selalu menjaga kontak dengan para konsumen.

Persepektif keuangan merupakan persepektif penting dalam balanced scorecard dimana persepektif ini terkait dengan tolak ukur dari keberhasilan usaha.

PT XYZ memiliki 3 sasaran strategis yaitu meningkatkan pendapatan perusahaan, efektifitas investasi dan monitoring cash flow. Peningkatan pendapatan perusahaan berfokus pada pengelolaan pada laporan laba rugi melalui profit dan cost.. PT XYZ menyadari bahwa cost yang tinggi dapat dikelola dengan efisiensi biaya bahan baku, mengurangi susut serta menjaga biaya operasional tidak membengkak. Pada sisi investasi, perusahaan harus mampu menggunakan seluruh aset yang dimiliki untuk menciptakan revenue yang optimal, hal ini dapat tercapai dengan membuat rencana investasi yang lebih tepat agar dapat menjaga return on equity ratio sesuai yang ditentukan dan atau meningkatkan performance dari penjualan produk ke pasar. Pada sisi cashflow perusahaan dituntut untuk dapat mengelola utang dan piutang perusahaan. Utang yang tidak terkelola dengan baik memberikan dampak besar yaitu menurun kepercayaan dari supplier yang bekerja sama dengan PT XYZ serta meningkatnya beban usaha yang menyebabkan menurunnya profit perusahaan. Piutang yang tidak terkelola menyebabkan adanya kemungkinan kehilangan piutang tersebut sehingga berdampak pada menurunnya jumlah aset dan kehilangan keuntungan perusahaan. Setiono (2017) menjelaskan bahwa utang dan piutang merupakan dua bagian penting dalam modal kerja yang berperan dalam keberlangsungan bisnis perusahaan, ketika perusahaan tersebut mengalami permasalahan pada dua bagian tersebut kinerja perusahaan akan terganggu.

Peta strategis pada Gambar 4.6 memberikan deskripsi penting bagi PT XYZ untuk menciptakan nilai secara eksplisi mengenai hubungan determinisme dari seluruh persepektif. Pada peta diketahui bahwa visi dapat tercapai bila manajemen bersama seluruh karyawan memulai tahap demi tahap. Namun pada implementasinya ditemukan proposisi bahwa seluruh persepektif tersebut dijalankan secara bersama-sama. Hal ini didasari bahwa ketika perusahaan ingin mencapai suatu visinya maka key success adalah mencapai sasaran strategisnya.

Gambar 4.8 Rekomendasi Peta Strategi PT XYZ

4.5.1 Rancangan Simulasi Penilaian Kinerja Perusahaan

Rancangan simulasi penilaian kinerja merupakan bagian penting yang diperlukan setiap perusahaan. Pada kasus ini susunan simulasi didasarkan pada balanced scorecard yang sudah dirancang sebelumnya, selain itu penetapan nilai indikator dijustifikasi dari data yang tersedia diperusahaan dan hanya ditujukan untuk kepentingan simulasi. Simulasi yang dilakukan pada penelitian ini hanya menggunakan sebagian data yang ada diperusahaan khususnya pada persepektif keuangan dan proses bisnis internal, sementara sisa indikator dalam persepektif lain didasarkan pada asumsi dan peruntukan hanya pengambaran simulasi penelitian saat ini.

Penilaian menggunakan pendekatan scoring system dan traffic light system. Scoring system dijabarkan dengan penjelasan higher is better, lower is better dan precise is better. Penggunaan tersebut untuk memberikan informasi bahwa suatu indikator kinerja memiliki ukuran terbaik yang berbeda-beda, dimana dapat lebih tinggi, lebih rendah ataupun sesuai dengan nilai KPI yang telah ditetapkan. Traffic light system dibagi menjadi 3 yaitu red memberikan informasi kinerja masih jauh dari target perusahaan, yellow memberikan informasi kinerja belum mencapai target namun sudah mendekati dan green memberikan informasi bahwa target telah tercapai.

Simulasi yang dilakukan mengarahkan kepada perbedaan trend Overall Equipment Effectiveness dan net profit margin, dimana sejak tahun 2016 hingga 2018 memiliki trend yang berkebalikan. Pada Tabel 4.11, 4.12 dan 4.13 diketahui memiliki nilai total yang cenderung menurun, namun tidak serta merta memberikan dampak besar keseluruhan nilai pencapaian kinerja. Simulasi dengan data 2016 diketahui memiliki nilai sebesar 89.4 persen, tahun 2017 memiliki nilai 88.80 persen dan tahun 2018 memiliki nilai 87.6 persen.

Hasil yang didapat dari 3 simulasi memberikan informasi bahwa penurunan kinerja keuangan yang tergambarkan dari penjualan, gross profit margin, operation profit margin, net profit margin dan return on equity tidak serta merta memberikan dampak penurunan kinerja yang signifikan. Hal ini disebabkan PT XYZ memiliki perhitungan kinerja yang komprehensif berdasarkan perhitungan persepektif balanced scorecard. Begitupun ketika terjadi peningkatan Overall Equipment Effectiveness tidak serta merta meningkatkan pencapaian kinerja. Disisi lain diketahui bahwa dengan data dari perusahaan mendapat beberapa gambaran lain dari simulasi yang dilakukan diantaranya :

a. Persepektif pembelajaran

G1.1) Pembaharuan HRIS (Human resources Information system) memiliki nilai berwarna yellow. Temuan dari simulasi perlu memfokuskan pada perbaikan dan pengoptimalan penggunaan sistem informasi yang mampu meningkatkan fungsi manajemen sumberdaya manusia. Merujuk pada Hidayat (2021) bahwa penerapan human resource information system dapat optimal ketika dimulai dengan mengembangkan budaya learning organisasi dari para penggunanya yang berfokus pada pembelajaran yang berkelanjutan.

b. Persepektif Proses Bisnis Internal

I5.1) Produk Pakan baru (%) pada simulasi diketahui memberikan nilai berwarna yellow. Temuan ini menandakan bahwa berdasarkan simulasi, PT

XYZ perlu meningkatkan output pengembangan produk pakan baru.

Disadari bahwa pengembangan produk perlu didukung oleh sumberdaya modal, waktu dan knowledge yang mumpuni guna mendapatkan hasil yang diharapkan perusahaan dan pasar. Maka dari itu indikator lags tersebut memerlukan turunan kriteria penilaian agar proses penilaian lebih objektif dan akurat terkait dengan proses yang dilakukan.

c. Persepektif keuangan

F3.2) Rasio Perputaran A/R memiliki nilai red. Temuan ini menandakan bahwa manajemen perlu meningkatkan fokus dalam solusi pengelolaan piutang kepada para pelanggannya. Pemberian piuntang kepada para pelanggan merupakan aktifitas menarik dan mempertahankan pelanggan, namun bila tidak mampu dikendalikan berdampak pada meningkatnya rasio umur piuntang, bad debt, hingga cashflow negatif. Maka dari itu hasil simulasi dapat menjadi early information bagi manajemen untuk mencari strategi penjualan dan keuangan untuk menurunkan rasio account payable tersebut.

Tabel 4.11 Simulasi Penilaian Kerja Berdasarkan Persepektif Balanced Scorecard PT XYZ ke 1

Tabel 4.12 Simulasi Penilaian Kerja Berdasarkan Persepektif Balanced Scorecard PT XYZ ke 2

Tabel 4.13 Simulasi Penilaian Kerja Berdasarkan Persepektif Balanced Scorecard PT XYZ ke 3