DAFTAR PUSTAKA
PETUNJUK TEKNI S DEMPLOT BUDI DAYA PADI DI KOTA BENGKULU
1. Judul RODHP : Peningkatan Kapasitas Penyuluhan dalam Rangka Percepatan Penyebaran I novasi Pertanian di Provinsi Bengkulu
2. Jenis Kegiatan : Diseminasi 3. Lokasi Kegiatan : Kota Bengkulu
4. Tujuan : 1. Meningkatkan peran peneliti dan penyuluh dalam mempercepat proses adopsi inovasi teknologi budidaya padi.
2. Mendiseminasikan teknologi budidaya padi kepada petani dan penyuluh di wilayah BPP Singaran Patih. 3. Mengetahui minat dan respon petani dan penyuluh
terhadap inovasi teknologi budidaya padi. 5. Tahapan Pelaksanaan :
5.1. Penentuan Lokasi Demplot
Lahan Kelompok Tani Gambung Jaya Kelurahan Panorama Kecamatan Singaran Patih dipilih sebagai lokasi demplot budidaya padi untuk memberikan percontohan langsung kepada petani dan penyuluh di Kecamatan Singaran Patih dan sekaligus memberdayakan BPP sebagai pusat informasi pembangunan pertanian di kecamatan dengan luas lahan demplot sebesar 0,5 ha.
5.2. Penentuan Petani Kooperator/ Penyuluh Pelaksana
Yang akan bertanggung jawab terhadap kegiatan demplot adalah Ketua Kelompok Tani Gambung Jaya Kelurahan Panorama Kecamatan Singaran Patih, Bapak Syahabudin dengan didampingi oleh Koordinator Penyuluh BP3K Singaran Patih dan penyuluh pelaksana Desi Anita, SP.
5.3. I mplementasi Demplot oleh Petani Kooperator atau Pelaksana Demplot yang Ditunjuk dan Penyuluh Lapangan
Demplot budidaya padi dilaksanakan oleh petani kooperator yang telah disepakati oleh penyuluh sebagai pendamping di lapangan.
5.4. Pengumpulan Data oleh Penyuluh Lapangan
Data yang dikumpulkan dalam pelaksanaan demplot budidaya padi terdiri dari data agronomi dan sosial ekonomi. Data agronomi meliputi tinggi tanaman, jumlah rumpun, jumlah anakan, umur berbunga, produktivitas hasil ubinan, dan komponen hasil (jumlah anakan produktiv, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan berat 1000 butir. Data sosial berupa pengetahuan dan persepsi petani dan penyuluh terhadap inovasi teknologi budidaya padi yang diterapkan serta data ekonomi meliputi analisis kelayakan perubahan teknologi (penerapan sistem tanam jajar legowo 2: 1 dan pemupukan).
5.5. Diskusi/ Pertemuan di Lahan atau di BPP Singaran patih
Diskusi dan pertemuan dilaksanakan di lahan dan BPP Singaran patih sebanyak 3 kali, yaitu: 1) Awal pelaksanaan sekaligus penjelasan teknis budidaya padi; 2) Pengamatan dan diskusi rencana pengumpulan dan pengolahan data; 3) Pertemuan dalam rangka penulisan KTI hasil demplot.
6. Metode pelaksanaan
Pelaksanaan demplot budidaya padi dilaksanakan dengan 1 perlakuan yang merupakan hasil kajian BPTP tahun sebelumnya, dilaksanakan secara partisipatif dimulai bulan Mei-September 2015 di BP3K Singaran patih. Teknologi budidaya padi yang akan dilaksanakan adalah:
• Varietas unggul • Pengolahan Lahan • Persemaian • Penanaman • Pemupukan • Pengairan • Penyiangan
• Pengendalian hama dan penyakit tanaman
7. Produktivitas hasil ubinan
Tinggi tanaman, jumlah rumpun, jumlah anakan, jumlah malai, dan umur berbunga akan diamati secara periodik setiap 2 minggu sekali. Data sosial yang diambil meliputi data profil wilayah pengkajian, pengetahuan dan sikap petani dan penyuluh terhadap teknologi budidaya padi. Data ekonomi yang diambil adalah usahatani padi (penggunaan input berupa benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja; serta produksi dan harga).
8. Petunjuk Teknis Budidaya Padi a. Varietas unggul.
Varietas yang digunakan adalah Cigeulis, dengan deskripsi sebagai berikut: Dilepas tahun : 2002
Tetua : Persilangan Ciliwung/ Cikapundung/ I R64 Rataan Hasil : 5 – 8 ton/ ha gabah kering bersih
Umur Tanaman : 115 – 125 hari Bentuk Tanaman : Tegak
Tinggi Tanaman : 100 – 110 cm Anakan Produktif : 14 – 16 malai
Warna Kaki : Hijau
Warna Batang : Hijau Warna Daun Telinga : Putih Warna Lidah Daun : Putih
Warna Daun : Hijau
Muka Daun : Agak Kasar Posisi Daun : Tegak Daun Bendera : Tegak
Bentuk Gabah : Ramping Panjang Warna Gabah : Kuning Bersih Kerontokan : Sedang
Kerebahan : Sedang
Tekstur Nasi : Pulen
Bobot 1000 butir : 28 – 29 gram Kadar Amilosa
Ketahanan Terhadap Hama Ketahanan Terhadap Penyakit Anjuran : : : : 23%
Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3
Tahan terhadap bakteri hawar daun strain I V
Dapat ditanam pada musim penghujan dan kemarau dan cocok ditanam pada lokasi 600 m dpl
b. Pengolahan Lahan
• Tanah diolah hingga berlumpur dan rata.
• Pengolahan tanah dilakukan dengan traktor, menggunakan bajak singkal dengan kedalaman olah > 20 cm. Tunggul jerami, gulma, dan bahan organik yang telah dikomposkan dibenamkan ke dalam tanah bersamaan dengan pengolahan tanah pertama.
• Pembajakan dilakukan dua kali, selanjutnya penggaruan untuk perataan lahan dan pelumpuran.
c. Persemaian
• Buat bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm serta panjang sesuaikan dengan kebutuhan. Luas persemaian adalah 5 % dari luas areal pertanaman atau sekitar 500 m untuk tiap hektar pertanaman.
• Pupuk kompos secukupnya dan pupuk kimia yang digunakan untuk persemaian adalah Urea, SP -36 dan KCL masing masing dengan takaran 15 g/ m. Persemaian diberikan karbufuran untuk menghindari hama burung, orong-orong dan semut.
• Sebelum disebar benih direndam terlebih dahulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam.
• Benih yang mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25-50 g/ m atau 0,5 – 1 kg per 20 m. Kebutuhan benih 25 kg/ ha.
Penanaman
• Dilakukan pada saat bibit muda (15 – 21 HSS).
• Sistem tanam legowo Legowo 2: 1 (Jarak tanam 20 x 10 x 40 cm = pop. tan 33 rumpun/ m2).
• Penyulaman dilakukan 7 hari setelah tanam, dengan bibit dari varietas dan umur yang sama.
d. Pemupukan
• Pemupukan dilakukan 3 x selama 1 musim tanam yaitu: pemupukan I = 7-14 HST, I I = 21 – 25 HST dan I I I = 35 – 40HST dengan dosis pupuk spesifik lokasi.
• Acuan rekomendasi pemupukan N, P dan K didasarkan pada inovasi Kalender Tanam (KATAM) Terpadu .
Rekomendasi dosis pemupukan untuk demplot seluas 0,5 ha adalah sebagai berikut:
Waktu Pemupukan Dosis Pupuk (kg)
Urea NPK Phonska
Umur 7 – 14 HST 20 62
Umur 21 – 25 HST 30 63
Umur 35 – 40 HST 37,5
e. Pengairan
• Selesai tanam ketinggian air 3 cm selama 3 hari.
• Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibuang sampai kondisi macak-macak selama 10 hari.
• Fase pembentukan anakan s/ d fase primordia bunga lahan digenangi air setinggi 3 cm.
• Menjelang pemupukan susulan pertama dilakukan drainase dan sekaligus penyiangan.
• Fase primordia bunga s/ d fase bunting lahan digenagi air setinggi 5 cm untuk menekan pertumbuhan anakan baru.
• Selama fase bunting s/ d fase berbunga lahan pertanaman diari 5 cm dan dikeringkan (2 hari) secara bergantian.
• Fase pengisian biji ketinggian air pertahankan 3 cm.
• Seminggu menjelang panen lahan dikeringkan. f. Penyiangan
• Penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman dari gangguan gulma dan kemungkinan tercampurnya biji gulma dalam benih yang akan dihasilkan.
• Penyiangan gulma perlu dilakukan menjelang 21 hari setelah tanam agar ramah lingkungan, hemat tenaga kerja, meningkatkan jumlah udara dalam tanah, dan merangsang pertumbuhan akar lebih baik.
• Penyiangan dilakukan dua atau tiga kali tergantung keadaan gulma. Penyiangan dilakukan pada saat pemupukan susulan pertama atau kedua. I ni dimaksudkan agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi, jika gulma sudah dikendalikan.
g. Pengendalian Hama dan Penyakit
• Pengendalian hama dan penyakit menggunakan konsep PHPT (Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu).
h. Panen Tepat Waktu
• Panen harus memperhatikan: umur tanaman padi, cara pemanenan serta tinggi pemotongan tanaman (sebaiknya ketinggian pemotongan sekitar 20 cm dari permukaan tanah dengan maksud jerami yang diangkut dari lahan tidak terlalu banyak sehingga dapat dibuat kompos).
• Waktu panen yang tepat dapat di dasarkan :
1. Umur varietas yang tercantum di dalam deskripsi varietas Landak Gasrok Panen tepat waktu (90-95% gabah telah berisi dan menguning).
2. Kadar air 21-26% ,
3. Pada saat 30-35 hari setelah berbunga, dan
4. Kenampakan malai 90-95% gabah telah berwarna kuning. i. Perontokan Gabah Sesegera Mungkin
Perontokan gabah sesegera mungkin, paling lama 1-2 hari setelah panen. Cara perontokan: Diiles/ diinjak-injak, dipukul, dibanting, disisir, kombinasi disisir dan dibanting, dan penggunaan alat/ mesin perontok.
j. Ubinan
• Ubinan merupakan cara pendugaan hasil panen yang dilakukan dengan menimbang hasil tanaman contoh pada plot panen.
• Legowo 2 : 1
Ukuran Ubinan untuk legowo 2 : 1 dapat digunakan 2,4 x 2,4 m atau lebih. Untuk ukuran petak ubinan legowo 2x 1 m, terdapat 192 tanaman.Dalam 1 ha terdapat 1.736.111 petak ubinan.
• Konversi hasil ubinan ke dalam Gabah Kering Giling (GKG) dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
Hasil GKG 14% = ((100 - Ka) / 86) x GKP Keterangan:
Ka : Kadar air (% )
GKP : Gabah Kering Panen GKG : Gabah Kering Giling
9. Nama dan Luas Display Kota Bengkulu No. Nama Luas Lahan (hektar) Varietas Dosis Pupuk Phonska Urea 1. Syahabuddin 0,5 Cigeulis 125 87,5 10. Tahapan Pelaksanaan
No Waktu Uraian Rencana
Pelaksanaan
Tanggal
Pelaksanaan Keterangan 1 Pengolahan Tanah Mei 2015 10 Mei 2015
2 < 20 hss Persemaian Mei 2015 15 Mei 2015 -3 0 hst Penanaman
Pengendalian Keong 2 Juni 2015 3 Juni 2015 4 7 – 14 hst Pemupukan ke 1 (62 kg Phonska dan 20 kg Urea) 10 Juni 2015 5 < 21 hst Penyiangan ke 1 22 Juni 2015 6 21 – 25 hst Pemupukan ke 2 (63 kg Phonska dan 30 kg Urea) 24 Juni 2015 7 < 40 hst Penyiangan ke 2 6 Juli 2015 8 35 – 40 hst Pemupukan ke 3 (37,5 kg Urea) 8 Juli 2015 9 Penyemprotan ke 1 10 Penyemprotan ke 2
11 70 hst Penyemprotan Score 12 Agustus 2015 12 Penyemprotan ke 3 13 Penyemprotan ke 4 14 Penyemprotan ke 5 15 Panen 30 September 2015 16 Hasil Ubinan 1 (... kg ) Hasil Ubinan 1 (... kg ) Hasil Ubinan 1 (...kg )
11. Rencana Pelaksanaan
No Uraian Kegiatan BULAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1. Koordinasi antar instansi
(Dinas Pertanian dan BPTP) 2 Persiapan lahan/ Pengolahan
lahan 3. Persemaian 4. Penanaman 5. Pemupukan I (20 HST) 6. Pemupukan I I (40 HST) 7. Pemupukan I I I (50 HST) 8. Pengairan 9. Penyiangan
10. Pengendalian OPT (hama dan penyakit)
11. Pengamatan 12. Panen 13. Perontokkan
14. Pengangkutan hasil panen 15. Penjemuran
12. Tabel Pengamatan Demplot Teknologi Budidaya Padi
No. Uraian
Minggu
ke-2 4 6 8 10 12 14
Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal 1. Tinggi tanaman 2. Jumlah rumpun 3. Jumlah anakan 4. Jumlah malai 5. Umur berbunga 6. Produksi hasil ubinan 7. Berat 1000 butir
Lampiran 9. Petunjuk teknis teknologi budidaya jagung secara tumpangsari PETUNJUK TEKNI S DEMPLOT BUDI DAYA BUDI DAYA JAGUNG SECARA