DAFTAR PUSTAKA
TUMPANGSARI DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN
1. Judul RDHP : Peningkatan Kapasitas Penyuluh, Peneliti dalam Percepatan Penyebaran I novasi Pertanian di Provinsi Bengkulu.
2. Jenis Kerja : Desiminasi
3. Lokasi Kegiatan : Kabupaten Bengkulu Selatan
4. Tujuan : 1. Meningkatkan peran peneliti dan penyuluh dalam percepatan proses adopsi inovasi pertanian melalui kegiatan demplot di wilayah kerja BP3K.
2. Mendiseminasikan teknologi budidaya tumpangsari jagung dengan kacang tanah kepada petani, KTNA dan penyuluh di Kabupaten Bengkulu Selatan. 3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
penyuluh dan petani di Kabupaten Bengkulu Selatan 5. Tahapan Pelaksanaan :
5.1. Penentuan Calon Lokasi Demplot :
• Wilayah pengembangan jagung/ potensi pengembangan jagung
• Penyuluh dan petani kooperatif
• Tersedia lahan garapan 5.2. Penentuan Lokasi
• Kemudahan akses ke lokasi Demplot/ strategis untuk dikunjungi, memenuhi kondisi fisik lokasi
5.3. Persiapan Lahan
• Siapkan cangkul atau traktor dan sarana penunjang lainnya.
• Olah tanah dengan cara dicangkul atau dibajak 1 – 2 kali hingga gembur sambil diratakan.
• Buang rumput – rumput liar atau pepohonan yang tidak berguna, kemudian tampung pada suatu pembuangan limbah pertanian.
• Tambahkan pupuk kandang, kemudian dibalik dan dicampur merata dengan tanah lapisan atas.
Gambar 1 dan 2. Pengolahan lahan
Gambar 3 dan 4. Pemberian pupuk kandang
5.4. Penanaman
Penanaman kacang tanah dan jagung dilakukan dengan cara ditugal. Penanaman kacang tanah dan jagung tidak dilakukan secara serentak namun kacang tanah ditanam 7 – 10 hari lebih dahulu daripada jagung.Tumpangsari yang dilakukan dalam pengkajian ini adalah tumpangsari jalur atau Strip-intercropping, dua jalur jagung diikiuti 8 jalur kacang tanah.Jarak tanam kacang tanah adalah 40 cm X 15 cm, jarak tanam jagung 40 cm X 40 cm.
5.4.1. Persiapan Penanaman
Membuat lubang tanam menggunakan tugal.Tugal dibuat dari batang kayu yang salah satu ujungnya diruncingkan atau berbentuk baji. Keuntungan menggunakan mata tugal pada penanaman atau pemupukan adalah :
1. Tugal mudah diusahakan dengan biaya relatif lebih murah 2. Kedalaman lubang tanam jangan terlalu dalam ± 5 cm
3. Memudahkan dalam pembuatan lubang tanam maupun pemupukan Cara pembuatan lubang tanaman
2. Lakukan penugalan lubang tanam pertama sejauh 20 cm (setengah jarak tanam) dari sisi petakan.
3. Lakukan penugalan untuk membuat lubang tanaman berikutnya dengan menggunakan tugal bermata tunggal.
Gambar 5. Pemasangan tali untuk jalur tanam
Gambar 6. Penugalan untuk lubang tanam
5.4.2. Penanaman a. kacang tanah
1. kebutuhan benih kacang tanah yang ditanam dengan metode tumpangsari jalur dengan perbandingan jumlah benih yang digunakan 80% . Benih yang diperlukan untuk 1 ha sebanyak 64 kg dari 80 kg. Benih kacang tanah dibasahi air hingga merata di tempat yang teduh, kemudian direndam dengan campuran air dan insektisida berbahan aktif karbofuran (merk dagang : furadan, darmafur dll) dengan konsentrasi 1 gr/ 10 ml air untuk setiap 1 kg benih.
2. Masukkan 1 butir benih kacang tanah ke dalam lubang yang telah dibuat. Tutup lubang dengan tanah tipis.
b. Jagung
1. Kebutuhan benih jagung yang ditanam dengan metode tumpangsari jalur dengan perbandingan jumlah benih yang digunakan 40% . untuk 1 ha benih jagung sebanyak 6 kg dari 15 kg. Benih jagung dibasahi air hingga merata di tempat yang teduh, kemudian direndam dengan campuran air, insektisida berbahan aktif karbofuran (merk dagang : furadan, darmafur dll) dengan konsentrasi 1 gr/ 10 ml air dan fungisida berbahan aktif metalaksil (merk dagang cruser, ridomil, saromyl dll) 1,25 gr/ 10 ml air untuk setiap 1 kg benih.
2. Masukkan benih jagung 1 butir kedalam lubang yang telah dibuat. Tutup lubang dengan tanah tipis.
Gambar 7. Benih jagung Gambar 8. Benih kacang
Gambar 9. Penanaman benih jagung Gambar 10. Penanaman benih kacang
5.4.3. Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan perangkat uji tanah kering (PUTK).Dari hasil uji diperoleh kandungan unsur hara tanah yaitu Phospor dengan status sedang, Kalium dengan status sedang, PH tanah dengan status agak masam dan C organic dengan status sedang.
1. Pemupukan dilakukan dengan cara membuat larikan dengan jarak 5 – 7 cm dari baris tanaman. Larikan tersebut diisi dengan pupuk kemudian segera ditutup dengan tanah kembali.
2. Pemupukan Kacang Tanah
a. Pemupukan kacang tanah dilakukan pada saat tanaman berumur 10 – 15 hari setelah tanam sebanyak 280 kg/ ha pupuk urea, 140 kg/ ha SP-36, 60 kg/ ha KCl.
3. Pemupukan Jagung
a. Pemupukan jagung dilakukan pada saat tanaman berumur 10 – 15 hari setelah tanam sebanyak 49 kg/ ha pupuk Urea, 70 kg/ ha SP-36, 30 kg/ ha KCl
b. Pemupukan susulan kedua jagung dilakukan saat jagung berusia 35 – 40 HST dengan dosis pupuk 91 kg/ ha Urea.
4. Pemberian kapur pertanian dilakukan bersamaan dengan pemupukan pertama kacang tanah. Pemberian kapur dilakukan dengan cara membuat larikan berjarak 5 – 7 cm dari tanaman. Pada larikan tersebut ditambahkan kapur pertanian dengan dosis 600 kg/ ha.Larikan diisi dengan kapur dan segera ditutup dengan tanah.
5. Pemberian pupuk kandang dilakukan pada saat olah lahan. Pupuk kandang diberikan sebanyak 2 ton/ ha.
6. Pemberian karbofuran dilakukan pada saat tanaman kacang tanah berumur 28 – 30 HST.
Gambar 11. Pemupukan kacang tanah
Gambar 12. Pemupukan jagung
5.5. Pemeliharaan Tanaman 5.5.1. Penyulaman
1). Benih kacang tanah dan jagung akan tumbuh 3 – 7 HST. Apabila dalam waktu tersebut ada benih yang tidak tumbuh, harus segera disulam.
2). Penyulaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu. Kemudian tiap lubang diisi 1 benih
kacang tanah dan benih jagung yang baru, selanjutnya benih tersebut ditutup dengan tanah tipis.
3). Penyulaman bertujuan untuk mempertahankan jumlah populasi optimal persatuan luas lahan.
4). Penyulaman yang terlambat akan berpengaruh terhadap benih atau tanaman hasil sulaman dan menyulitkan pemeliharaan tanaman selanjutnya.
5.5.2. Penyiangan dan Pembubunan
Rumput liar (gulma) yang tumbuh dilahan penanaman menjadi pesaing tanaman pokok dalam hal kebutuhan air, unsur hara dan sinar matahari. Disamping itu gulma sering menjadi sarang hama atau penyakit. Oleh karena itu, gulma harus dibersihkan (disiangi).Penyiangan dilakukan berbarengan dengan pemupukan tanaman.
1). Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman kacang tanah berumur 10 - 15 hari setelah tanam (HST).
2). Penyiangan kedua dilakukan bersamaan dengan pemupukan pertama jagung pada saat Kacang tanah berumur 20 -25 HST atau jagung berumur 10 – 15 HST.
3). Penyiangan ketiga dilaksanakan bersamaan dengan pemupukan kedua jagung pada saat Kacang tanah berumur 45 -50 HST atau jagung berumur 35 – 40 HST.
4). Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan rumput liar (gulma) secara hati – hati agar tidak menggangu perakaran tanaman. 5). Alat bantu penyiangan dapat berupa kored atau parang. Pada waktu penyingan kedua, dilakukan pembubunan, yaitu tanah digemburkan, kemudian ditimbunkan didekat pangkal batang tanaman.
6). Pembubunan memudahkan bakal buah (gynofora) menembus permukaan tanah, sehingga pertumbuhannya optimal.
5.5.3. Pengairan
1). Pada fase awal pertumbuhan tanaman kacang tanah dan jagung membutuhkan pengairan yang memadai terutama di musim kemarau. 2). Kebutuhan optimal air harus dipertahankanhingga tanaman berumur
3). Pengairan dihentikan 10 hari sebelum panen untuk memudahkan pemanenan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pagi atau sore hari.
4). Air berlebihan harus segera dibuang (dialirkan)kepetakan lain. Tanah yang becek atau menggenang akan mengganggu pertumbuhan tanaman.
5.5.4. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Organisme penggangu tanaman (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas produksi dalam budidaya tanaman. OPT meliputi hama, penyakit dan gulma. Hama adalah serangga atau hewan mamalia yang keberadaannya menimbulkan kerusakan pada tanaman budidaya atau produknya yang menimbulkan kerugian ekonomi.Penyakit adalah cendawan, bakteri, virus yang keberadaannya menimbulkan kerusakan, namun sangat sulit diketahui saat datang dan awal gejalanya.Gulma adalah tumbuhan yang tidak dinginkan dan kehadirannya dapat menurunkan keuntungan usaha tani.
Salah satu penyakit paling berbahaya pada jagung adalah penyakit bulai. Penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Untuk mencegah penyakit bulai pada tanaman jagung diberikan insektisida karbofuran saat tanaman berbunga. Untuk mencegah serangan hama pada kacang tanah, saat tanaman mulai berbunga diberikan insektisida sistemik berbahan dasar karbofuran.
Beberapa OPT yang dominan pada tanaman kacang tanah dan jagung antara lain :
A. Kacang tanah 1. Thirps
• Gejala : warna putih keperak-perakan pada permukaan daun, serangan berat pada permukaan daun, serangan berat pada musim kemarau
2. Pengendalian : pergiliran tanaman, tanam serempak dan penyemprotan pestisida
• Gejala : kutu daun hidup bergerombol pada pucuk tanaman, kuncup bunga atau batang muda. Kutu juga berperan sebagai vector virus.
• Pengendalian : penanaman serentak dan penyemprotan insektisida
4. Penyakit bercak daun
• Penyebabnya jamur cercoospora personata dan cercoospora arachidicola. Gejalanya timbul bercak berukuran 1 – 5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang.
5. Penyakit karat
• Penyakit : jamur puccina arachidis speg
• Gejala : pada daun terdapat bercak – bercak berwarna coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya.
• Pengendalian : gunakan varietas yang resisten, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
B. Jagung
1. Hama penggerek batang
• Gejala : kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yang terserang yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol serta batang mudah patah. Kehilangan hasil akibat serangan dapat mencapai 80% .
• Pengendalian : waktu tanam yang tepat, tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah, pemotongan sebagian bunga jantan.
2. Hama kutu daun
• Gejala langsung apabila populasi tinggi helaian daun menguning dan mengering. Gejala tidak langsung sebagai vector virus menimbulkan mosaic ataupun garis – garis klorose sejajar tulang daun
• Pengendalian : musuh alami, parasit, insektisida sistematik karbofuran (merk dagang : furadan, darmafur dll)diberikan melalui pucuk pada stadia vegetatif.
3. Bercak daun
• Gejala pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning serta dikelilingi warna coklat. Bercak berkembang dan meluas dari ujung hingga pangkal daun.
• Pengendalian : pergiliran tanaman, mengatur kelembaban laham agar kondisi lahan tidak lembab, menggunakan pestisida.
5.6. Panen dan Pascapanen 1. Kacang Tanah
• Panen polong kacang tanah yang belum tua menyebabkan penurunan produksi dan kualitas biji, yaitu berat polong turun drastis dan biji – bijinya menjadi keriput setelah dikeringkan.
• Panen polong yang terlalu tua menyebabkan banyak biji tumbuh dan polong tertinggal dalam tanah pada waktu dicabut.
• Ciri – ciri kacang tanah siap panen untuk benih dan bahan baku industri makanan adalah :
1. Sebagian besar daun menguning dan gugur (rontok).
2. Tanaman berumur 85 – 110 hari, tergantung pada varietasnya. 3. Sebagian besar polongnya (80% ) telah tua.
4. Kulit polong cukup keras dan berwarna coklat kehitaman. 5. Kulit biji tipis dan mengkilap.
6. Rongga polong terisi penuh.
• Setelah dicabut dari tanah dengan hati-hati, batang kacang tanah dipotong dari bagian pangkal tanaman ± 10cm. Polong kacang tanah dibersihkan dari tanah yang melekat. Dilanjutkan dengan pemipilan dan perontokan polong.
• Pengeringan dengan cara menebarkan polong kacang tanah diatas anyaman bambu atau tikar dan dijemur dibawah terik sinar matahari sampai kering (kadar air 9% -12% ).
• Kacang tanah dapat disimpan dalam bentuk polong kering atau biji kering.
• Panen dilakukan apabila kelobot tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras dan telah terbentuk lapisan hitam (Black layer) minimal 50% disetiap baris biji.
• Panen terlalu awal kadar air masih tinggi dapat berakibat biji keriput, warna kusam dan bobot biji lebih ringan.
• Panen terlalu lambat terlebih saat masih hujan dapat menimbulkan tumbuhnya jamur, bahkan biji dapat berkecambah.
• Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur atau dianginkan jika kondisi hujan.
• Disarankan tidak menyimpan tongkol dalam keadaan basah dalam karung karena dapat menyebabkan tumbuhnya jamur.
• Pemipilan dilakukan setelah tongkol kering (kadar air biji ± 20% ) dengan alat pemipil.
• Jagung pipil dikeringkan lagi sampai kadar air biji mencapai sekitar 14% . Jika cuaca hujan pengeringan dilakukan dengan mesin pengering, tidak dianjurkan menyimpan biji jagung dalam kondisi kadar air > 14% dalam karung untuk waktu lebih dari 1 bulan.
5.7. Parameter yang diamati
5.7.1. Komponen pertumbuhan vegetatif dan Komponen hasil 1. Jagung
a. Pertumbuhan vegetatif
I ndikator Hari pengamatan
14 HST 28 HST 42 HST 56 HST Tinggi tanaman
Serangan OPT
Keterangan : HST : hari setelah tanam OPT : organisme pengganggu tanaman
b. Komponen hasil
I ndikator Hasil Pengamatan Keterangan Tinggi tongkol (cm) Setelah panen Panjang tongkol (cm) Setelah panen Lingkar tongkol (cm) Setelah panen Jumlah biji/ tongkol (biji) Setelah panen Berat biji/ tongkol (gram) Setelah kering Jumlah produksi (kg/ ha) Setelah kering
Komponen pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah tinggi tanaman. Tinggi tanaman diukur tegak lurus tanah hingga bagian tertinggi tanaman jagung. Komponen hasil jagung yang diamati meliputi tinggi tongkol, panjang tongkol, lingkar tongkol, jumlah biji/ tongkol dan hasil produksi tanaman jagung. Tinggi tongkol diukur dengan cara mengukur tegak lurus dari tanah hingga pangkal tongkol tumbuh. Panjang tongkol diukur dengan mengukur panjang tongkol jagung dari pangkal tongkol hingga ujung tongkol jagung. Lingkar tongkol diukur dengan cara mengukur diameter tongkol yang telah dipipil pada 3 titik dan nilainya dirata- ratakan sebagai diameter tongkol. Jumlah biji/ tongkol diukur dengan cara memipil biji jagung dari tongkolnya dan diukur jumlah biji jagung. Hasil produksi tanaman jagung diukur dengan cara mengambil sampel produksi tanaman melalui ubinan.
2. Kacang Tanah
a. Pertumbuhan vegetatif
I ndikator Hari pengamatan
14 HST 28 HST 42 HST 56 HST Tinggi tanaman
Jumlah cabang
Umur 50% tanaman berbunga Serangan OPT
b. Komponen hasil
I ndikator Hasil Pengamatan Keterangan Jumlah polong/ tanaman Setelah panen Jumlah biji/ polong Setelah panen Jumlah biji/ tanaman Setelah panen Berat biji/ tongkol (gram) Setelah kering Jumlah produksi (kg/ ha) Setelah kering
Komponen pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah cabang. Tinggi tanaman diukur tegak lurus tanah hingga titik tumbuh tanaman tertinggi. Titik tumbuh tanaman terletak pada bagian pucuk tanaman.Komponen hasil kacang tanah yang diamati meliputi jumlah polong/ tanaman, jumlah biji/ polong, jumlah biji/ tanaman dan hasil produksi tanaman. Jumlah biji/ polong diukur dengan cara mengupas biji
kacang tanah pada setiap polong tanaman sampel dan mencatat hasilnya. Jumlah biji tanaman dihitung dengan cara mengupas biji kacang tanah pada tanaman sampel. Hasil produksi tanaman diukur dengan cara mengambil sampel produksi tanaman melalui ubinan.
5.7.2. Perkembangan OPT
Perkembangan yang akan diamati meliputi hama dan penyakit pada tanaman jagung dan kacang tanah. Pengamatan dilakukan secara periodik. Lampiran 1. Deskripsi Jagung Varietas Sukmaraga
Dilepas tahun : 14 Februari 2013 Umur 50% keluar rambut : ± 58 hari
Masak fisiologis : ± 105 – 110 hari
Batang : Tegap
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : ± 195 cm (180 – 220 cm) Daun : Panjang dan lebar
Keragaman tanaman : Agak seragam Warna rambut : Coklat keunguan Bentuk tongkol : Panjang dan silindris Tinggi tongkol : ± 195 cm (90 – 100 cm) Kelobot : Tertutup baik (85% ) Tipe biji : Semi mutiara (semi flint) Warna biji : Kuning tua
Baris biji : Lurus dan rapat Jumlah baris/ tongkol : 12 – 16 baris Bobot 1000 biji : ± 270 g
Rata-rata hasil : 6,0 t/ ha pipilan kering Potensi hasil : 8,5 t/ ha pipilan kering
Ketahanan penyakit : Cukup tahan terhadap penyakit bulai (P. maydis), penyakit bercak daun (H. maydis), dan penyakit karat daun (Puccinia sp.) Daerah sebaran : Dataran rendah sampai 800 m dpl, adaptif
Lampiran 2. Deskripsi Kacang Tanah
A. Diskripsi Kacang Tanah Varietas Tuban
Dilepas tahun : 7 Agustus 2003
SK Mentan : 398/ Kpts/ SR.120/ 8/ 2003 Nomor induk : MLG 7547
Kode galur : GH 7547
Asal : Seleksi galur dan massa dari populasi varietas lokal Tuban asal Semanding
Hasil rata-rata : 2,0 t/ ha polong kering Potensi hasil : 3,2 t/ ha polong kering Tipe pertumbuhan : Tegak
Percabangan : Tegak Warna batang : Ungu Warna daun : Hijau
Warna bunga : Pusat bendera : kuning muda Matahari : ungu kemerahan
Warna ginofor : Rose (merah muda) Bentuk polong : Berpinggang
Jaring kulit polong : Tidak nyata Bentuk biji : Bulat Tinggi tanaman : 45–60 cm Jumlah polong/ tanaman : 15–20 buah Jumlah biji/ polong : 2 / 1 / 3 Umur berbunga : 28–31 hari Umur panen : 90–95 hari Bobot 100 biji : 35–38 g Bobot 100 polong : 80–85 g Kadar protein : 21,4% Kadar lemak : 42,5%
Ketahanan thd penyakit : Tahan layu, toleran karat dan bercak daun dan agak tahan A. flavus
Toleransi abiotik : Toleran kekeringan, toleran kahat Fe dan adaptif di Alfisol alkalis
Pemulia : Astanto Kasno, Joko Purnomo, Novita Nugrahaeni, Trustinah, Mujiono, dan A. Munip Ekofisiologis : Abdullah Taufik
B. Diskripsi Kacang Tanah Varietas Talam
Dilepas tahun : 30 Nopember 2010
SK Mentan : 3794/ Kpts/ SR.120/ 11/ 2010 Nomor induk : MLG 0512
Nama galur : No. 16 (J/ 912283-99-C-90-8)
Asal : Silangan antara varietas Jerapah (J)dengan varietas tahan A. FlavusI CGV 1283
Hasil rata-rata : 2,3 t/ ha polong kering Potensi hasil : 3,2 t/ ha polong kering Tipe pertumbuhan : Tegak (Sapinsh) Rata – rata tinggi
tanaman
: ± 42 cm Bentuk batang : Bulat Warna batang : Hijau Warna daun : Hijau
Warna bunga : Pusat bendera : Berwarna kuning muda Matahari : Merah tua
Warna ginofor : Hijau-keunguan Bentuk polong : Berpinggang Kontruksi polong : Dangkal Jaring kulit polong : Sedang
Pelatuk : Kecil
Bentuk biji : Bulat
Warna biji : Merah muda (tan) Jumlah polong/ tanaman : ± 27 polong Jumlah biji/ polong : 2/ 1/ 3 polong Warna polong muda : Putih
Warna polong tua : Putih gelap Posisi polong : Miring ke bawah Umur berbunga : 28–31 hari Umur panen : 90–95 hari Bobot 100 biji : ± 50,3 gram Kadar protein : ± 26,3% Kadar lemak : ± 45,4%
Kadar lemak esensial : ± 44,0% dari lemak total
Ketahanan thd hama : Berindikasi agak tahan hama kutu kebul (Bemisia tabaci)
Ketahanan thd penyakit : Tahan terhadap penyakit layu bakteri,agak tahan karat daun, agak tahan bercak daun dan tahan A. Flavus(hingga 3 bulan setelah panen)
Keterangan : Agak tahan lahan masam (pH 4,5–5,6) dengan kejenuhan Al 30–35%
Pemulia : Astanto Kasno, Trustinah, Joko Purnomo, Novita N
Patologis : Sumarsini Agronomis : Abdullah Taufiq
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Kacang kacangan dan Umbi-umbian, Malang
Lampiran 4. Catatan Harian/Farm Record Keeping Demplot Tumpangsari antara Jagung dengan Kacang Tanah.
No Kegiatan Pelaksanaan Keterangan jumlah yang mengerjakan Mulai Selesai Laki-laki Perempuan 1
- Mengolah lahan - Membuat bedengan - Membuat lubang tanam 2 Penanaman
- Penanaman kacang tanah - Penanaman jagung 3 Pemupukan
- Kacang Tanah 10-15 HST
- Jagung 10-15 HST
- Pemberian kapur pertanian 10-15 HST - Pemberian darmafuran 28-30 HST 4 Pemeliharaan tanaman - Penyulaman : 1. Kacang Tanah 2. Jagung - Penyiangan dan pembubunan : 1. Pertama 2. Kedua 3. Ketiga 10-15 HST 20-25 HST 45-50 HST 5 Pengamatan A. Jagung 1. Tinggi tanaman 2. Panjang tongkol 3. Lingkar tongkol 4. Tinggi tongkol 5. Jumlah biji/ tongkol 6. Hasil produksi tanaman 7. Umur panen
B. Kacang Tanah 1. Tinggi tanaman 2. Mulai berbunga
3. Jumlah polong/ tanamn 4. Jumlah biji/ polong 5. Jumlah biji/ tanaman 6. Hasil produksi tanaman 7. Umur panen
Lampiran 5. Kegiatan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah
No Uraian Tanggal Keterangan
1. Tanam Kacang tanah (n)
2. Penyulaman Kacang tanah (n) s.d. (n + 3)
3. Penanaman Jagung (n+ 10)
4. Pemupukan Kacang tanah Penyiangan gulma
(n+ 10) s.d (n+ 15) 5. Penyulaman Jagung (n+ 10) s.d (n+ 13) 6. Pemupukan susulan Jagung
Penyiangan gulma
(n+ 20) s.d (n+ 25) 7. Pemupukan susulan Jagung
Penyiangan gulma
(n+ 45) s.d (n+ 50) 8. Panen Kacang Tanah (n+ 85) s.d (n+ 110)
9. Panen Jagung (n+ 120) s.d (n
Lampiran 6. Rancangan Demplot Denah Penanaman Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah
Keterangan :Jagung (40cm X 40cm) Kacang tanah (40cm X 1 5cm)
Lampiran 7. Komposisi Pupuk berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan PUTK
1. Kacang Tanah
Hara yang ditambahkan Waktu aplikasi (HST)* * * 10 – 15
Urea 280 kg/ ha
SP-36 140 kg/ ha
KCl 60 kg/ ha
Catatan :
* * * ) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman.Jika menggunakan pupuk majemuk, takaran unsur N, P dan K disetarakan dengan pupuk tunggal.
2. Jagung Hara yang ditambahkan
Takaran * (kg/ ha) Waktu aplikasi (HST)* * *
10 – 15 35 – 40 Urea 125 – 350 49 kg/ ha 91 kg/ ha
SP-36 100 – 200 70 kg/ ha
-KCl 50 – 200 30 kg/ ha
-Catatan :
* ) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara dalam tanah dari hasil analisis tanah atau rekomendasi setempat.
* * ) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman.Jika menggunakan pupuk majemuk, takaran unsur N, P dan K disetarakan dengan pupuk tunggal.
* * * ) Dosis pupuk berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan PUTK
3. Pupuk kompos sebanyak 2 ton/ ha 4. Kapur pertanian sebanyak 500 kg/ ha
Lampiran 8. Jenis I nsektisida dan Fungisida yang Digunakan 1. Tanaman Jagung
c. Karbofuran (merk dagang : furadan, darmafur) : 16 kg/ ha d. Metalaksil (merk dagang : rindomil, saromyl) : 50 ml/ ha 2. Tanaman kacang tanah
a. Karbofuran (merk dagang : furadan, darmafur) : 16 kg/ ha Lampiran 9. Form pengamatan
Tabel 1. Tabel pengamatan Jagung
No. Keterangan Tinggi Tanaman Tinggi Tongkol
Produksi Tanaman
Tabel 2. Tabel Pengamatan Kacang Tanah
No. Keterangan Tinggi Tanaman Jumlah Cabang Produksi Tanaman
Tabel 3. Tabel Pengamatan Komponen Hasil Jagung No. Keterangan Panjang
Tongkol
Lingkar Tongkol
Jumlah Biji/ tongkol
Tabel 4. Tabel Pengamatan Komponen Hasil Jagung No. Keterangan Jumlah polong/
tanaman
Lampiran 10. Petunjuk teknis teknologi budidaya kedelai
PETUNJUK TEKNI S DEMPLOT BUDI DAYA KEDELAI