116. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.
Pak Ketua, mohon maaf, ini pertanyaan atau pernyataan-pernyataan ini?
117. PIHAK TERKAIT: ANDI NURPATI (ANGGOTA KPU)
Ya, nanti akan lari ke pertanyaan saya Pak, saya memberikan contoh ini kan karena saya memberikan perbandingan antara undang-undang lama dengan undang-undang-undang-undang baru. Supaya nanti saya mendapatkan penjelasan dari para ahli dengan perbandingan seperti ini, misalnya ada kesulitan yang muncul karena saya memahami dari judicial rievew karena apa mengajukan judicial rievew karena merasa kesulitan dalam melakukan uji kepatutan dan uji kelayakan. Padahal itu kan fungsi yang berbeda ketika sebelumnya.
Oleh Karena itu kami mempertanyakan kepada Bapak-Bapak para ahli, apakah kemudian ini harus ditinjau lagi ya, fungsi dan peran tambahan tadi? Apakah misalnya mengembalikan ke DPR lagi seperti Pemilu sebelumnya dan seterusnya.
Bagi KPU, terkait dengan rekrutmen ini sama yang dikatakan oleh Bu Endang tadi bahwa apa yang diperintahkan oleh undang-undang itulah yang akan kami laksanakan.
Terakhir adalah pertanyaan saya, bagaimana kalau lembaga pengawas itu sendiri yang kemudian yang melakukan pelanggaran terhadap undang-undang atau mengajak melakukan pealanggaran undang-undang, kemana dan dimana dan siapa tindak lanjut tersebut dan apa sesunggunya dari output dari hasil yang saya pertanyakan terakhir tadi.
Terima kasih.
118. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H.
Ya, itu menarik yang terakhir agar dijawab oleh para ahli. karena Majelis juga ingin mendengar. Kalau yang melakukan pelanggaran pengawasnya siapa dong, hukum yang memprosesnya.
Nah Bapak masing-masing diberi waktu 10 menit, karena 10 menit terakhir akan diberikan kepada Pemohon untuk memberikan.., ,Majelis, masih ada yang mau bertanya?
119. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.
Pak Ketua, apakah kami juga boleh bertanya Pak? Ada beberapa hal yang menurut saya penting tetapi belum dikemukan oleh ahli?
120. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Mau ditanyakan sama ahli?
121. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.
Ya.
122. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.
Silahkan, singkat saja. Bapak sudah perpengalaman di sini biasanya singkat kalau bertanya.
Ya silakan.
123. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.
Ada hal yang penting, mohon dijawab ketiga ahli. Pasal 30 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, Pasal 30, terutama saya meminta kepada Pak Hadar, dan juga Pak ini. Itu dinyatakan bahwa diperlukan satu dewan kehormatan untuk melakukan verifikasi kalau kemudian ada pelanggaran sesuai dengan Pasal 29 ayat (2) huruf a, b, c, d f dan g.
Di dalam Pasal 29 itu memang ada kalimat anggota KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota berhenti antar waktu karena diberhentikan dengan alasan-alasan misalnya, tidak lagi memenuhi syarat, melanggar sumpah atau jabatan.
Pertanyaannya adalah, kalau kemudian KPU menjalankan fungsi seperti tadi yang dikemukakan bahwa, misalnya tadi ada contoh Pasal 8 ayat (2) huruf h menindaklanjuti dengan temuan dan laporan. Ada isu conflict of interest bagaimana mungkin independen objektivitas bisa ditegakkan kalau ada laporan, laporannya itu kemudian menggunakan Pasal 30 ini yang dikaitkan dengan Pasal 29 tadi, itu verifikasinya dilakukan oleh KPU? Padahal verifikasi itu menurut Pasal 30 harusnya dikaitkan dengan verifikasi di dalam dewan kehormatan, ini dikaitkan dengan permohonan kami Pasal 111 ayat (2) dan (3) dan 112 ayat (2) dan (3). Ini isunya adalah pelanggaran norma, soal isue conflict of interest itu yang pertama.
Yang kedua, di dalam Pasal 117 dan 118, itu 117 KPU diberi kewenangan untuk membuat peraturan dan keputusan. 118 Bawaslu juga diberikan kewenangan untuk membuat peraturan dan juga keputusan. Apakah dengan kewenangan ini, itu artinya Bawaslu dan KPU itu mempunyai suatu kewenangan yang sejajar simetris seperti yang dikemukakan, dikaitkan dengan penjelasan umum alenia keempat yang menyatakan dalam penyelenggaraan pemilihan umum diperlukan adanya suatu pengawasan untuk menjamin agar pemilhan umum tersebut untuk menjamin bahwa pemilihan umum tersebut benar-benar dilaksanakan sesuai dengan prinsip dan asas, itu dalam penjelasan.
Dan yang terakhir adalah, ada perbedaan rezim antara Undang-undang Pemerintah Daerah yang tadi disebut 12/2008 yang menggunakan 236A dengan Undang-Undang Penyelenggara Pemilu 22/2007. Di dalam penyelenggara Pemilu kemudian yang diatur sebenarnya ada dua, lembaga Pemilu KPU dan lembaga Bawaslu. Ada kata badan dan lembaga di situ, dihubungkan dengan 22E ayat (5) dan 22E (6). Apakah kemudian legal policy-nya yang berdasarkan mandat Undang-Undang Dasar, dari 22 ayat (5) diterjemahkan ke 226, 22E ayat (6) ke dalam Undang-Undang 22 Tahun 2007, itu memang merupakan legal policy yang menyatakan bahwa penyelanggara Pemilu terdiri dari dua, penyelenggara dan pengawas.
124. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Ya, Hakim Akil.
125. HAKIM ANGGOTA: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ini kepada ahli ya?
Kita ini kan sedang melaksanakan konsolidasi demokrasi. Walaupun kita sudah menyatakan diri sebagai negara yang demokratis tapi saya kira salah satu konsekuensi dari negara yang demokratis itu adalah penyelanggaraan Pemilu yang bebas itu tadi. Termasuk juga kredibilitas dari pada penyelenggara Pemilunya. Oleh karena itu tentu, ukuran yang kita pakai kan tidak semata-mata kepada ukuran-ukuran yang terkandung di dalam aturan-aturan yang bersifat formal ini, tetapi keadaan-keadaan sosial, geografis, dan teritorial saya kira itu menjadi faktor yang harus kita pertimbangkan juga ketika kita melakukan komparatif.
Kita katakanlah baru tiga kali menyelanggarakan Pemilu. Kalau sebelumnya bahkan sangat demokratis, Pemilunya tidak ada masalah gitu, hasilnya bagus semua, semua terima kan gitu, itu yang lalu. Yang benar-benar Pemilu itu baru tiga kali kan gitu. Oleh karena itu dalam tataran aturan yang mengatur tentang penyelanggaraan Pemilu yang di dalam konstitusi diatur di dalam Pasal 22E, ini memang kita perlukan satu perbaikan-perbaikan dalam proses penyelenggaraannya.
Ketika muncul dispute seperti ini, salah satu dari tugas penyelenggaraan atau pelaksanaan Pemilu. Memang tidak semata-mata karena aturannya yang kurang memadai, tetapi kompetensinya juga menjadi faktor yang menentukan juga. Misalnya contoh, dalam hal Pemilukada, itu KPU menggunakan data terakhir daftar pemilih tetap itu sebagai DPS-nya, itu adalah Pemilu terakhirnya Presiden, dan itu relatif tidak ada masalah. Tetapi ketika akan menggunakan dengan, saya hanya melihat SEB-nya gitu loh sebagai implemantasi dari.., katakanlah pendapat hukum Mahkamah Agung karena mengisyaratkan harus dengan Surat Edaran Bersama itu. Ketika akan melakukan proses rekutmen Panwas Pilkada, itu dengan menggunakan hasil, maaf, dengan menggunakan Panwas yang ada sebelumnya, timbul masalah. Karena ada conflict of interest di sana, semua pihak. Termasuk juga misalnya, menyerahkan kepada DPRD itu apakah tidak kembali menggadaikan independensi, karena apa? Karena para calon kepala daerah itu didukung oleh fraksi-fraksi, partai-partai yang ada di DPRD. Sehingga dalam proses rekutmen pun juga, memunculkan conflict of interest itu. Oleh karena itu saya kira, dari beberapa pandangan yang telah disampaikan oleh para ahli tadi, saya hanya ingin merujuk Pasal 113 ini Undang-Undang 22 tentang Pembentukan Badan Kehormatan atau Dewan Kehormatan, Bawaslu, itu sangat.., Bawaslu Pak. Tadi kalau ada pelanggaran yang dilakukan oleh KPU, saya kira di Pasal 113 itu sudah
dijawab, bisa dilakukan di sana yang tidak melaksanakan undang-undang dan segala macam itu.
Yang ingin saya bandingkan itu, di dalam Pasal 111, 112 itu kan mengatur tentang pembentukan Dewan Kehormatan KPU. Di 113 itu mengatur tentang Dewan Kehormatan Bawaslu. Tetapi berbeda, di KPU itu lima orang, tiga dari dalam, dua dari luar katakanlah. Tetapi ketika di dalam, 1 orang dari KPU, dan 2 dari luar. Artinya, konsep bahwa suatu penyelenggara pemilihan umum itu kalau dilihat dari pada beban tugas dan kewenangan yang bisa diberikan sanksi berdasarkan dewan kehormatan ini kan, ini menunjukkan bahwa ini badan yang otonom sendiri-sendiri yang tingkat kesalahan, penyelenggaraan itu juga mempunyai tanggung jawab yang berbeda.
Nah saya ingin komentar ahli tentang itu, bertigalah. Mulai dari Ahli Pemilu maupun Ahli Tata Negara.
Terima kasih.
126. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Terakhir, Pak Hakim Muhammad Alim.
127. HAKIM ANGGOTA: DR. MUHAMMAD ALIM, S.H., M.HUM. Terima kasih Pak.
Saya tujukan kepada Prof. Saldi Isra dan Irmanputra Sidin.
Tadi kalau saya tidak salah, kedua ahli mengatakan bahwa untuk efektivitas suatu pengawasan antara pengawas dan yang diawasi itu harus ada suatu kesederajatan. Jangan dia merupakan subordinasi daripada yang mau diawasi. Nah, bagaimana pendapat kedua ahli mengenai tiap-tiap kementerian dia ada inspektorat, termasuk juga KPU, dia itu kan pengawasan intern. Kalau pengawasan yang baik itu, menurut yang saya tangkap dari keterangan ahli, itu mestinya sederajat. Wong ini orang di dalam sendiri, lama-lama seperti Prof Saldi tadi, “jeruk makan jeruk” nanti.
Terima kasih Pak.
128. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.
Baik, kalau begitu saya tidak jadi memberi waktu 10 menit kepada masing-masing. Jadi saya beri masing-masing 5 menit saja untuk menjawab. Saya tahu ketiganya sudah biasa berbicara pendek, apalagi dosen-dosen seperti itu saya kemarin mengatakan buku tebal begini ini, bisa dijelaskan dalam satu jam atau 10 menit. Tapi bisa dikuliahkan kalau di kampus dalam 3 semester. Nah, sekarang saya minta yang 5 menit saja untuk masing-masing.
129. AHLI DARI PEMOHON: DR. IRMANPUTRA SIDIN, S.H., M.H. Terima kasih Yang Mulia.
Saya kira, pertama dari Bu Endang ya, mudah-mudahan saya bisa cepat ya Bu Endang ya. Ini bukan lagi persoalan implementasi, persoalan pelaksanaan. Tapi ini masuk dalam ranah sistem. Sering saya mengatakan bahwa bagaimanapun memang, sistem dihidupkan oleh sebuah perilaku yang namanya implementasi. Tetapi ketika tidak mau ketemu pada suatu titik, maka mau tidak mau sistemnya yang sedang kita persoalkan.
Ketika teman-teman Bawaslu mau mengeluarkan kebijakan, sering saya katakan bahwa ini harus dikomunikasikan dan jangan formal. Mungkin perlu ini ngopi-ngopi berdua sama orang KPU ini. Karena terkadang proses ketatanegaraan jalan ketika dia masuk dalam ruang informal di situ. Tapi ternyata tidak mau ketemu juga. Nah, ketika sistem ini kita bedah, maka ia menjadi persoalan sistem. Ya, memang itu sudah menjadi persoalan sistem di situ. Kalau kita lihat memang tidak simetris bangunan ini. Inilah yang saya bilang politik hukum. Karena memang instrumen pengawasan itu dianggap sekunder oleh atmosfir pemikiran pembuatan undang-undang ini, seperti itu. Yang didahulukan adalah terselenggara dulu, pengawas belakang sajalah, seperti itu.
Kemudian tentang siapa yang mengawas dan siapa yang mengawasi? Ini sama dengan jangan sampai kita kembali ke pertanyaan ketika awal menciptakan sebuah negara. Ketika orang berkumpul, kita ciptakan yang namanya eksekutif melaksanakan, legislatif, yudikatif. Kemudian orang bilang, eksekutif bertanya, siapa yang mengawasi? Ini legislatif, yang kemudian puncak pengawasannya namanya di yudikatif. Lalu eksekutif bertanya, kalau kamu yang bersalah, siapa yang akan mengawasi? Kan begitu. Toh seiring dengan itu, dengan pemikiran, semua akan ketemu nanti semua jawabannya. Apa yang dimaksud di sini? Ini bukan instrumen apa yang saya bilang tadi. Rezim Pasal 22 itu ada tiga variabel di situ, pengawas, penyelenggara namanya KPU, peserta Pemilu. Rumah besarnya namanya Pasal 22E. Ketika pengawas ini dilekatkan badan kehormatan etik, ini masih dalam rumah besar Pasal 22E, masih sama konstruksinya namanya inspektorat di kementerian itu Pak, ini kalau dalam rezim konstitusi.
Ada yang di luar bedanya, namanya Komisi Yudisial, itu di luar rezim pasal kekuasaan kehakiman, dikeluarkan dia. Karena rakyat mengganggap karena internal kamu di rezim kekuasaan kehakiman namanya ada Mahkamah Agung itu, nampaknya tidak bisa kita keluarkan dia dari rezimnya. Dia internal keluarnya. Tapi ketika yang saya ngomong ini pengawas, penyelenggara peserta, ini masih dalam rumah sebenarnya. Oleh karenanya Pasal 22E UUD RI Tahun 1945 itu tidak mewariskan kepada satu pewaris tahta tunggal namanya Komisi Pemilihan Umum, K, besar P, besar U, besar yang terletak di Imam Bonjol. Kita bicara sistem di sini.
Saya kira untuk sementara itu Pak Hakim. Nanti dilanjutkan yang lainnya oleh Prof saldi.
Assalamualaikum wr.wb
130. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H. Ya, silakan Pak Saldi
131. AHLI DARI PEMOHON:PROF. DR. SALDI ISRA, S.H., MPA Terima kasih.
Bapak Majelis Hakim dan Ibu Hakim yang saya muliakan.
Persoalan tafsir Pasal 22E saya tadi di penjelasan mengatakan ada bermacan sebetulnya, terkait dengan kalimat yang mengikuti kata suatu itu. Di konstitusi sendiri itu berbeda-beda juga. Ada konstitusi yang diikuti dengan nama institusi dengan huruf besar yang saya sebut tadi, BPK. Tapi ada yang tidak. Yang tidak itulah yang kemudian menjadi ruang legal policy untuk dirumuskan oleh pembentuk undang-undang. Nah, ketika pembentuk undang-undang bersepakat bahwa ada lembaga yang tidak satu. Prinsip dasar yang ada dalam Pasal 22E ayat (5) itu tidak boleh dihilangkan. Yang hadir kepada kedua institusi yang dibentuk. Jadi apakah dia harus satu atau dua, itu yang saya katakan pilihan politik yang dilakukan oleh pembentuk undang-undang.
Lalu pertanyaannya, apakah Bawaslu dengan KPU itu menjadi institusi? Kalau dibaca penjelasan mungkin akan dominan mengatakan bahwa hanya KPU saja. Tapi kan kemudian ada pasal-pasal yang menyebutkan secara eksplisit bahwa sebetulnya Bawaslu juga lembaga yang berdiri sendiri.
Tadi Yang Mulia Bapak Hakim Akil Mochtar menyebutkan bahwa dengan adanya dua lembaga itu dan dua pengawas juga, itu sebetulnya membuktikan bahwa dua lembaga ini sama posisinya. Meskipun komposisinya bila berbeda, itu menurut saya aneh. Di luar itu sebetulnya kenapa Bawaslu bisa disebut institusi. Karena ada juga kewenangan yang diberikan undang-undang dia mengeluarkan peraturan atau regeling di sini. Jadi kalau dia menjadi sub ordinat dari KPU tidak ada kewenangan untuk mengeluarkan peraturan, tapi undang-undang memberikan kewenangan itu. Jadi kalau dilihat secara hierarki mana yang kuat penjelasan dari norma yang dijelaskan tadi, tentu norma menjadi lebih kuat. Maaf, ini ada di buku-buku yang ditulis oleh Yang Mulia Prof. Maria Farida Indrati menjelaskan tentang itu, bagaimana institusi lalu diikuti dengan kewenangan pembentukan regulasi.
Terkait pertanyaan dari anggota KPU, coba tunjukan institusi mana yang orang luarnya dominan? Tadi sebetulnya Yang Mulia Bapak Hakim Akil Mochtar menyebutkan di Bawaslu itu dominan orang luarnya. Bawaslunya hanya dua, sementara ada KPU satu, orang di luar KPU Bawaslu ada dua. Itu sebetulnya sudah dominan orang di luar Bawaslu.
Saya memang tidak mau menjawab sampai ke level bagaimana di tingkat praktiknya. Dan bisa juga kita lihat di Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung, itu dikomposisi Majelis Kehormatan Hakim lebih besar orang di luar dibandingkan orang yang ada di Mahkamah Agung. Jadi Komisi Yudisial lebih dominan dibandingkan hakim yang ada di Mahkamah Agung. Makanya sebetulnya apa yang kita perdebatkan hari ini harus diakhiri. Kita harus berpikir ke depan, kita harus menata sistem ketatanegaraan ke depan, saya kira dan saya yakin sekali dalam teori ketatanegaraan modern Mahkamah Konstitusi menjadi salah satu fokus tempat utama untuk memperbaiki praktik-praktik ketatanegaraan itu. Sebab, sulit semuanya diandalkan kepada pembentuk undang-undang karena di DPR yang ketika bertemu dengan Pemerintah, itu kan memang perhitungan kalkulasi politiknya menjadi lebih dominan. Nah, hakim sebagai salah satu institusi atau satu-satunya institusi sekarang yang dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi, saya kira Hakim Konstitusi punya kesempatan memperbaiki kekisruhan ini dan itu nanti akan menjadi perbaikan untuk masa depan praktik ketatanegaraan kita.
Saya, Majelis Hakim yang saya hormati, tidak mau lagi memperdebatkan hal-hal yang sangat teknis, yang sebetulnya itu bisa diselesaikan dari sikap Majelis Hakim di ruangan ini.
Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb., selamat siang. 132. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.
Bapak Hadar.