• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN

2007 TENTANG PENYELENGGARA

PEMILIHAN UMUM TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK

INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN KPU,

PEMERINTAH, DPR DAN SAKSI/AHLI DARI

PEMOHON (III)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

PEMOHON

- Badan Pengawas Pemilu. ACARA

Mendengarkan keterangan KPU, Pemerintah, DPR dan Saksi/Ahli dari Pemohon. (III)

Kamis, 11 Maret 2010, Pukul 09.00- 11.55 WIB

Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Prof. Dr. Moh Mahfud MD.,S.H. (Ketua) 2) Prof. Dr. H. Achmad Sodiki, S.H (Anggota) 3) Drs. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum (Anggota) 4) Dr. Muhammad Alim S.H., M.Hum (Anggota) 5) Dr. H.M Akil Mochtar S.H., M.H. (Anggota) 6) Prof. Dr. Maria Farida Indrati S.H., M.H. (Anggota) 7) Dr. Harjono S.H., M.CL. (Anggota) 8) Hamdan Zoelva S.H., M.H (Anggota) Cholidin Nasir, S.H. Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir: Pemohon:

- Nur Hidayat Sardini, S.Sos., M.Si - Wahidah Suaib, S.Ag., M.Si

- SF. Agustiani Tio Fridelina Sitorus, SE - Bambang Eka Cahya Widodo, S.IP., M.Si - Wirdayaningsih, SH., MH

- Agung Bagus Gede B. I, SH., MH., MA (Tim Asistensi Bawaslu) - Titi Anggraini, SH., MH. (Tim Asistensi Bawaslu) - Ir. Nelson Simanjuntak. (Tim Asistensi Bawaslu)

Kuasa Hukum Pemohon:

- Dr. Bambang Widjojanto, S.H., M.H., LL.M. - Iskandar Sonhadji, S.H.

Ahli dari Pemohon

- Dr. Imanputra Sidin, S.H., M.H - Hadar Nafis Gumay

- Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., MPA Saksi dari Pemohon

- Endang Pemerintah

- Yudan Arif Fakrulloh (Staf Ahli Mendagri) - Abdul Wahid (Direktur Jenderal Per-UU)

- Cholilah, SH., MH. (Direktur Litigasi DEPHUKAM) - Mualimin Abdi (Kasubdit Penyiapan & Pendamping Sidang MK) - Radita Aji (Staf Litigasi DEPHUKAM)

Pihak Terkait (KPU)

- Andi Nurpati (AnggotaKPU) - Endang Sulastri (Anggota KPU) - Syamsul Bahri (Anggota KPU)

(4)

1. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H. Bismillahirahmanirrahim,

Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi untuk mendengar keterangan KPU, keterangan Pemerintah, DPR, dan Saksi/Ahli dalam Perkara Nomor 11/PUU-VIII/2010 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Pemohon silakan memperkenalkan diri siapa yang hadir dan dihadirkan hari ini.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Terima kasih, Bapak Ketua dan Hakim Anggota Mahkamah Konstitusi yang kami hormati dan kami muliakan. Pada pagi ini ada 3 (tiga) anggota Bawaslu yang sudah hadir, ada satu yang sedang dalam perjalanan, dan satu karena tugas tidak bisa hadir. Yang sudah hadir adalah Bapak Nur Hidayat Sardini, anggota sekaligus Ketua Badan Pengawas Pemilu, sebelah paling ujung, Pak Ketua, ada Ibu Wahidah Suaib, dan di tengah-tengah ini Ibu Wirdyaningsih. Terus Bawaslu juga didampingi oleh Staf dan Karyawan dari Bawaslu terutama yang berkaitan dengan Biro Hukum, dan saya sendiri Bambang Widjoyanto dan kolega saya Iskandar Sonhadji.

Pada hari ini kami juga sudah menghadirkan Ahli, meminta kehadiran Ahli dan Saksi. Yang sudah hadir Saksinya adalah Ibu Endang, ini beliau sudah hadir, dan 3 (tiga) Ahli lainnya beberapa menit yang lalu kami cek masih dalam perjalanan, Insya Allah akan hadir semua. Ada satu saksi yang seyogianya juga sudah punya komitmen untuk hadir tetapi kami baru tahu Umroh yaitu Pak Andi Mattalatta, sehingga kami tidak bisa teleconference juga, Pak Ketua dari Saudi ke sini berusaha untuk menghadirkan itulah yang hadir bersama kami pada hari ini, terima kasih Pak Ketua.

3. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H. Dari Pemerintah, silakan.

SIDANG DIBUKA PUKUL 09.00 WIB

(5)

4. PEMERINTAH: YUDAN ARIF FAKRULLOH (STAF AHLI MENDAGRI)

Terima kasih, Yang Mulia, kami dari Pemerintah bertiga, sebelah kanan saya Ibu Cholilah dari Kementerian Hukum dan HAM dan saya Yudan Arif Fakrulloh dari Kementerian Dalam Negeri dan sebelah kanan saya Pak Pontjo dari Kementerian Dalam Negeri, terima kasih.

5. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Pihak Terkait, silakan.

6. PIHAK TERKAIT : ANDI NURPATI (KPU)

Terima kasih dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah hadir Ibu Endang Sulastri disebelah kiri saya dan kemudian saya sendiri Andi Nurpati, nanti satu lagi Bapak Prof. Syamsul Bahri sedang dalam perjalanan kami didampingi oleh Kepala Biro Hukum dan Kepala Biro Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia dan beberapa Staf dari Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum pada jam yang sama di KPU berlangsung pertemuan dengan Perwakilan dari DPP Pimpinan Partai Politik tingkat Nasional dengan ketua dan anggota KPU lainnya untuk persiapan pemantapan Pemilu Kepala Daerah, terima kasih.

7. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Baik, saya kira nanti sumpah diambil sesudah lengkap saja ya?, biar tidak dua kali untuk itu kita mulai dulu dari Keterangan Pemerintah sesudah itu Keterangan Pihak Terkait KPU, DPR tidak hadir untuk itu silakan dari Pemerintah atau sebelum ini saya persilakan Saudara Bambang atau Kuasa Pemohon untuk menjelaskan dulu secara singkat saja pokok-pokok permohonan yang mencakup posita dan petitum, silakan.

8. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Terima kasih Pak Ketua saya akan singkat saja menjelaskannya kemudian yang kedua ada permohonan Pak Ketua bahwa Ketua Bawaslu akan mengemukakan satu, dua patah kata sebelum nanti ada pernyataan dari Pemerintah yang menurut Ketua Bawaslu perlu dikemukakan untuk memperkaya (……)

9. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H. Oke, jadi singkat silakan.

(6)

10. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Hakim Mahkamah Konstitusi yang kami hormati, sebenarnya Pasal yang hendak diuji ini adalah pasal dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum dari jumlah pasal yang hendak diuji Pasal 93, Pasal 94 ayat (1), (2), Pasal 95, serta Pasal 111 ayat (2) dan ayat (3) dan Pasal 112 ayat (2) dan ayat (3).tapi kalau mau dibuat klatering mau dikategorisasi sebenarnya Pasal 93, Pasal 94 dan Pasal 95 itu berkaitan dengan rekrutmen, rekrutmen Panwaslu Provinsi, dan recruitmen Panwaslu Kabupaten/Kota terus klaster yang kedua yaitu, berkaitan dengan pembentukan dan komposisi Dewan Kehormatan dari KPU dan KPU Provinsi jadi ada dua clustering besar di situ, menurut permohonan kami yang sudah kami kemukakan kedua pasal tersebut melanggar sifat mandiri sebagai salah satu asas penting dalam penyelenggaraan Pemilu dan juga asas jujur dan adil sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 22E ayat (1) dan ayat (5) serta Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

Nah apa legal standing yang kami ajukan? Sebenarnya kami mengajukan legal standing, sebagai badan hukum publik karena 22E ayat (6) itu menyatakan aturan lebih lanjut mengenai Komisi Penyelenggara Pemilihan Umum diatur oleh undang-undang. Dan di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dijelaskan dengan sangat elaboratif, bagaimana pembentukkan yang disebut komisi penyelenggara pemilihan umum itu sebenarnya ada dua di situ yaitu KPU dan kemudian Bawaslu. Jadi tindak lanjutnya seperti itu, dan juga kami mengajukan juga anggota Bawaslu itu sebenarnya perorangan warga negara Indonesia yang pada saat ini menduduki jabatan sebagai anggota Bawaslu, jadi kami kombinasi dalam kapasitas legal standingnya.

Alasannya, mohon maaf sebelum alasan kami juga merumuskan di situ mengenai fakta dan potensi kerugian. Fakta yang paling konkrit pada hari ini adalah pada tahun ini ada sekitar 244 pemilihan kepala daerah dari 244 pemilihan kepala daerah itu sebagian besar pemilihan itu adalah berkaitan dengan pemilihan kabupaten/kota, jadi ada 7 provinsi ada sekitar 180 kabupaten/kota ya kabupaten terutama.

Nah kalau proses rekrutmen Bawaslu pada hari ini belum selesai karena ada berbagai masalah, maka kemudian ini bisa mempengaruhi kualitas proses demokratisasi, kualitas penyelenggaraan Pemilu. Jadi di situ kami sudah menjelaskan apa saja kerugian-kerugian yang timbul, begitu pun dengan dewan kehormatan. Selama ini rekomendasi yang diajukan Bawaslu dan atau masyarakat sebagiannya itu diverifikasi lebih dahulu oleh KPU, padahal di dalam ketentuan harusnya verifikasi itu dilakukan oleh dewan kehormatan dan ini lagi-lagi melanggar prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan karena kemudian proses seperti itu dilakukan dengan menimbulkan adanya potensi conflict of interest

(7)

karena itu ada sanksi yang harus diterapkan dalam rekomendasi itu dan kalau kemudian prosesnya diputus lebih dulu oleh KPU maka kemudian proses di dewan kehormatan itu menjadi hilang. Apalagi komposisi dewan kehormatan itu mayoritas terdiri dari orang KPU dan KPU Provinsi. Jadi bagaimana mungkin objektifitas bisa ditegakkan, kejujuran, keadilan akuntabilitas dan kemandirian dari dewan kehormatan itu. Jadi sebenarnya hal-hal itulah yang kami ajukan.

Berdasarkan itu semua, maka kemudian kami mengajukan petitum yang bersifat alternatif. Petitum pertama itu menyatakan bahwa pasal-pasal tadi yang telah kami sebutkan itu melanggar konstitusi. Tetapi kemudian dalam alternatif keduanya dalam alternatif yang lain kami juga mengemukakan bahwa pasal-pasal ini sebenarnya bisa dikualifikasi conditionally constitutional kalau ada syarat-syarat tertentu dipenuhi di situ. Itu kami rumuskan didalam petitum.

Yang juga menarik Pak Ketua, menurut kami, kami juga mengajukan permohonan provisi, sebenarnya permohon provisi diajukan karena proses itu perlu cepat sekali. Di situ ada argumen-argumen yang diajukan berkaitan dengan permohonan provisi itu dan juga kami mengajukan petitum yang berkaitan dengan tuntutan provisi.

Jadi kami kira secara sederhana itu yang akan kami ajukan dan sebenarnya sebagai penutup dari saya proses ini diajukan karena ingin menyelesaikan berbagai masalah dan silang sengketa yang timbul yang sudah hampir selama setengah tahun ini tidak bisa diselesaikan. Saya sangat berharap dan kami menduga keras bahwa Mahkamah Konstitusi lagi-lagi akan mudah-mudah insya Allah nanti akan menghasilkan putusan yang bisa menyelesaikan problem ketatanegaraan di bidang penyelenggaraan Pemilu ini.

Itu harapan kami Pak Ketua, terima kasih dan kami mohon waktu untuk beberapa menit pada Ketua Bawaslu.

11. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Ya silakan Saudara Ketua Bawaslu.

12. PEMOHON : NUR HIDAYAT SARDINI, S.SOS., M.SI. Baik, asslamualikum wr. wb.

Bapak Ketua Hakim Konstitusi dan para anggota yang saya hormati, pihak Pemerintah dan Pihak Terkait serta Ahli maupun Saksi Ahli serta anggota Bawaslu serta hadirin yang berbahagia puji syukur.

Marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmatnya pada kita semua sehingga dipagi hari yang cerah ini kita bisa bertatap muka di sidang Majelis MK ini.

Tidak banyak yang ingin saya sampaikan bahwa pengajuan uji materi yang kami lakukan ini terkait dengan tiga hal pokok pikiran, tiga hal pertama adalah pembentukan Panwaslu, yang kedua adalah

(8)

rekomposisi dewan kehormatan yang ideal dan pengajuan provisi. Tiga hal itu tadi kami harapkan untuk memastikan agar semua proses yang terjadi dalam pelaksanaan pengawasan maupun penanganan pelanggaran dapatlah menjadikan sifat kemandirian dari pengawas Pemilu akan semakin nampak dan nyata-nyata terlihat.

Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati, bahwa kami mengajukan ini dalam rangka juga untuk memastikan agar semua proses yang kami lakukan mendapatkan hal yang memang seharusnya terjadi.

Pertama-tama adalah kami laporkan bahwa terkait dengan pembentukan Panwaslu Kami sudah banyak mengambil inisiatif ya, baik pengajuan terhadap Perppu. Jadi persoalannya ini juga terkait dengan tidak diizinkannya maupun tidak dikabulkannya pengajuan Perppu kami kepada Pemerintah dalam beberapa kesempatan.

Lalu yang kedua terkait dengan pembentukan Panwaslu yang digambarkan bahwa begitu seolah-olah bermasalah. Lalu yang ketiga, terkait dengan pembentukan dewan kehormatan, semuanya kami sudah rumuskan dalam pengajuan ini, kami berharap agar kita semua bisa menerima atas apa yang nanti akan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi dalam sidang ini. Saya kira itu saja, terima kasih.

assalamualaikum wr wb.

13. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Baik, sudah jelas disampaikan oleh Pemohon prinsipal maupun melalui kuasa hukumnya sehingga sekarang Pemerintah, dipersilakan. 14. PEMERINTAH: YUDAN ARIF FAKRULLOH (STAF AHLI

MENDAGRI)

Terimah kasih Yang Mulia.

Pada kesempatan ini kami ingin melaporkan terlebih dahulu bahwa kuasa dari Bapak Presiden sampai pagi ini belum turun. Oleh karena itu pada pagi hari ini kami ditugaskan untuk mengikuti saja terlebih dahulu persidangan dan untuk selanjutnya menyampaikan jawaban secara tertulis dalam waktu yang secepatnya.

Terimah kasih Yang Mulia.

15. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H.

Ya baik, jadi begini ya? Ini kasus ini dilaksanakan sebagai speedy trial ya? Jadi ini akan diputus cepat, oleh sebab itu kesempatan menyampaikan secara lisan sudah diberikan, tidak digunakan kami tunggu saja dalam sehari dua hari ke depan untuk jawaban tertulisnya

(9)

ya? Sehingga tidak perlu lagi untuk bicara di depan sidang karena barangkali pertemuan berikutnya kita akan masuk ke hal-hal penting misal termasuk permintaan apa putusan provisi, itu ditunggu saja. Jadi kita tidak putuskan hari ini.

Nah, untuk itu dipersilakan KPU sebagai Pihak Terkait. 16. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (KPU)

Yang Mulia, Ketua dan Wakil Ketua dan anggota Majelis Hakim yang saya muliakan serta hadirin yang saya hormati.

Perkenankan dalam kesempatan yang baik ini KPU sebagai Pihak Terkait dalam Perkara Mahkamah Konstitusi Nomor 11/PUU-VIII/2010 menyampaikan keterangan dan/atau penjelasan sehubungan dengan surat Mahkamah Konstitusi Nomor 175.11/PAN.MK/III/2010 tanggal 8 Maret 2010, perihal salinan perbaikan permohonan sebagai berikut;

Satu, keterangan dan/atau penjelasan ini adalah bekenaan dengan tugas dan wewenang serta kewajiban KPU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.

Dua, berdasarkan Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 juncto Pasal 8 dan Pasal 117 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, KPU telah menerbitkan

a. 38 peraturan dan 4 keputusan untuk Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD vide Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008,

b. 31 peraturan dan 3 keputusan untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden vide Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008

c. 12 peraturan untuk Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Tiga, keberadaan KPU adalah mengacu pada konstitusi negara Republik Indonesia, Pasal 22E ayat (5) dan ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa Pemilu diselenggrakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri, yang ketentuan lebih lanjut tentang Pemilu diatur dengan undang-undang.

Penjelasan dari anggota DPR yang pernah menjadi anggota Panitia Ad hoc MPR, Bapak Patrialis Akbar/Menteri Hukum dan HAM pada acara penyampaian saran/pendapat KPU tentang Rancangan Undang-Undang Penyelenggara Pemilu, bahwa huruf kecil pada suatu komisi pemilihan umum adalah sama dengan makna ketentuan Pasal 23D Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab dan indepedensinya diatur dengan undang-undang.

Penjelasan beliau kenapa ditulis dengan huruf kecil? Karena bisa saja namanya bukan KPU misalnya lembaga pemilu atau badan pemilu, demikian juga bank sentral bisa saja namanya bakan Bank Indonesia.

Empat menurut pemahaman KPU, makna Pasal 22E ayat (5) dan ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945 yang kemudian ditindaklanjuti dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 pada ketentuan Pasal 1

(10)

angka 5, angka 6 dan angka 7 antara lain menyatakan bahwa penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD dan Presiden dan Wakil Presiden serta Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat.

Penyelenggara Pemilu adalah KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota, penyelenggara Pemilu yang bersifat Ad hoc adalah PPK, PPS, PPLN dan KPPS dan KPPSLN, vide Pasal 1 angka 8 sampai dengan angka 12 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007.

Dengan demikian Bawaslu bukan sebagai penyelenggara Pemilu tetapi sebagai pengawas penyelenggaraan Pemilu, yang keberadaannya adalah sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 yang menyatakan Bawaslu adalah badan yang bertugas mengawasi penyelengaraan Pemilu di seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan uraian tersebut, yang dimaksud dengan Pasal 22E ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945 adalah hanya KPU sebagaimana diatur dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, dalam ini diatur mengenai penyelenggara pemilihan umum yang selanjutnya disebut komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tatap dan mandiri.

Pemohon dalam halaman 7 menyatakan bahwa ada suatu fakta yang tidak terbantahkan, berkaitan dengan respon KPU atas berbagai rekomendasi yang diberikan Bawaslu beserta jajaran Panwas lainnya, berkenaan dengan dugaan pelanggaran peraturan perundang-undangan, maupun kode etik penyelenggara Pemilu yang dilakukan KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota.

Pada halaman 9 Pemohon juga menyatakan bahwa banyaknya

meneruskan rekomendasi kode etik penyelenggara Pemilu oleh Bawaslu, oleh Panwaslu, maaf dan Bawaslu yang tidak ditindaklanjuti oleh KPU. Berkenaan dengan hal tersebut dapat dijelaskan bahwa ketentuan Pasal 8 ayat (1) huruf o dan ayat (2) huruf o Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan penjelasannya, menyatakan bahwa tugas dan kewenangan KPU dalam penyelengaraan Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden meliputi menindaklanjuti dengan segera temuan yang dilaporkan yang disampaikan oleh Bawaslu. Yang dimaksud dengan menindaklanjuti adalah mengambil langkah-langkah selanjutnya, baik menghentikan temuan dan laporan yang tidak terbukti maupun meneruskan temuan laporan yang terbukti.

Dengan demikian tidak semua temuan dan laporan ataupun rekomendasi Bawaslu dengan serta merta dapat ditindaklanjuti.

Enam, Pemohon pada halaman 4 menyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan badan pengawas pemilihan umum meliputi penyelenggara Pemilu dan juga penyelenggara Pemilunya. Pernyataan Bawaslu di atas menjadi sangat tidak konsisten dengan pernyataan Bawaslu pada bagian lain yang menyatakan Bawaslu harus

(11)

dikualifikasikan bagian dari komisi pemilihan umum yang betugas menyelenggarakan Pemilu, khususnya menjalankan fungsi pengawasan atas penyelenggaraan Pemilu.

Ketentuan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, secara tegas mengatakan bahwa tugas Bawaslu adalah mengawasi tahapan penyelenggara Pemilu, menerima laporan dugaan terhadap pelaksanaan peraturan perudang-udangan, menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU untuk ditindak lanjuti dan seterusnya.

Tujuh, Pemohon pada halam 9 dan 10 menyatakan bahwa KPU sangat terlambat membentuk panitia seleksi calon anggota Bawaslu, akibat lebih lanjut dari keterlambatan dimaksud adalah tidak mungkin dilaksanakannya pengawasan secara optimal di sebagaian tahapan penyelenggaraan Pemilu. Bawaslu menafikan fakta bahwa KPU sendiri baru terbentuk dengan dilantiknya anggota KPU pada Tanggal 23 Oktober 2007. Dalam ketentuan Pasal 87 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 menyatakan bahwa pembentukan tim seleksi calon anggota Bawaslu ditetapkan dengan Keputusan KPU dalam waktu paling lama 15 hari kerja, terhitung 3 bulan setelah terbentuknya KPU atau setara dengan 105 hari. Perlu dijelaskan bahwa KPU telah membentuk tim seleksi calon anggota Bawaslu lebih cepat dari ketentuan undang-undang, dimana Keputusan KPU tentang Tim Seleksi Bawaslu ditetapkan pada tanggal 7 Desember 2007.

Delapan, bahwa terdapat penilaian ketidakprofesionalan KPU, terkait penyusunan DPT. Bawaslu telah melakukan tindakan yang tidak fair karena pada tahapan penyusunan daftar pemilih sampai penempatan DPT, Bawaslu tidak pernah memberikan pengawasannya dengan menyampaikan temuan atau laporan terkait penyusunan DPT. Padahal menurut ketentuan Pasal 75 huruf d Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 Jo. Pasal 48 dan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008, Bawaslu berkewajiban, menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat dan KPU sesuai dengan tahapan Pemilu secara periodik dan/atau berdasarkan kebutuhan.

Ini tentu saja termasuk pengawasan pemuktakhiran data pemilih, namun sampai hari ini KPU belum pernah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tersebut. Bawaslu senantiasa berdalih, bahwa tidak dapat mengawasi tahapan tersebut karena belum terbentuk. Padahal Bawaslu dilantik pada tanggal 8 April 2008 dan proses sampai dengan penetapan DPT pada tanggal 30 Oktober 2008.

Sembilan, dalam hal pembentukan Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Derah, KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota berpedoman, pada ketentuan Pasal 93 dan Pasal 94 ayat 2 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum yang menyatakan bahwa, calon anggota Panwaslu Kabupaten/Kota untuk Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota,

(12)

diusulkan oleh KPU Kabupaten/Kota kepada Bawaslu sebanyak 6 orang, untuk selanjutnya dipilih sebanyak 3 orang sebagaimana anggota Panwaslu Kabupaten/Kota setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan dan ditetapkan dengan Keputusan Bawaslu.

Sepuluh, berkaitan dengan ketentuan tersebut di atas, dalam mengusulkan enam nama dimaksud untuk menjaga obyektivitas dan adanya standar penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, mengenai persyaratan untuk menjadi anggota Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, dan Panwaslu Kecamatan serta Panwas Pemilu Lapangan, KPU Provinsi Kabupaten/kota melaksanakan proses seleksi yang mekanismenya diatur dalam Peraturan KPU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Seleksi Calon Anggota Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, dan Panwaslu Kecamatan.

Sebelas, Pemohon pada halaman 10 menyatakan, bahwa ada indikasi kuat KPU dengan sistematis dan sengaja memilih calon-calon yang berpihak pada kepentingannya sendiri, bukan pada kehendak kuat untuk dapat melaksanakan pengawasan secara akuntabel.

Berdasarkan hal inilah, Bawaslu mengajukan uji materiil ketentuan Pasal 93 dan Pasal 94 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 terhadap Undang-Undang Dasar 1945. Dengan sikap semacam itu Bawaslu telah menggenalisir sebuah kasus di satu kabupaten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, untuk membatalkan ketentuan pasal yang dimaksud.

Kenyataannya, Panwas Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dihasilkan melalui proses seleksi oleh KPU Provinsi, Kabupaten/Kota sebagaimana perintah Pasal 93 dan Pasal 94 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, sama dengan proses seleksi untuk pembentukan Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Fakta menunjukkan bahwa justeru Bawaslulah yang berkepentingan untuk menetapkan kembali Panwas Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 menjadi Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bawaslu Nomor 15 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Bawaslu Nomor 11 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Uji Kelayakan Uji kepatutan Pemilihan dan Penetapan serta Pemberhentian, Penonaktifan Sementara, dan Pengenaan Sanksi Administratif kepada Anggota Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri.

Dengan sikap ini, Bawaslu secara melanggar ketentuan Pasal 93 dan Pasal 94 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Surat Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/XI/2009 pada tanggal 29 November 2009 pada Angka 6 yang menyatakan, bahwa dengan merujuk pada Pasal 70 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 bahwa Panwas

(13)

bersifat Ad hoc, maka tugas-tugasnya telah berakhir dua bulan setelah tahap perhitungan dan pengesahan Presiden selesai.

Padahal sesuai dengan kesepakatan dalam Surat Edaran Bersama KPU dengan Bawaslu Nomor 06/SKB/KPU Tahun 2008 Nomor 01/SE/Bawaslu/2008 tentang PembentukanPanwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota, bagian II angka 3 huruf c, disebutkan bahwa bagi Panwaslu DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang akan terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, dapat ditetapkan kembali menjadi Panwaslu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh Bawaslu, sepanjang Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan pada tahun 2008.

Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diselenggarakan setelah tahun 2008, mengikuti proses perekrutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Peraturan KPU Nomor 14 Tahun 2008.

Dua belas, Pemohon pada halaman 30 menyatakan, bahwa KPU telah membuat pernyataan dan tindakan sepihak berupa pembatalan Surat Edaran bersama KPU dan Banwaslu Nomor 1669/KPU/XII/2009 yang mengatur rekrutmen Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota.

Berkenaan dengan pernyataan tersebut dapat dijelaskan;

a. Mengingat kesulitan yang nyata dihadapi oleh Bawaslu untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon-calon anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, akibat banyaknya jumlah calon dan waktu yang relatif sempit, maka KPU dan Bawaslu secara terpisah meminta pendapat hukum dari Mahkamah Agung agar para mantan anggota Panwaslu dan Pemilu Legisltif, dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang baru lalu dapat diangkat kembali menjadi Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

b. Dalam rapat konsultasi yang dilakukan pada tanggal 19 November 2009 di kantor Kementerian Dalam Negeri yang dihadiri oleh pimpinan dan perwakilan fraksi di Komisi II DPR RI, Menteri Dalam Negeri dan jajaran, Ketua dan Anggota KPU serta Ketua dan Anggota Bawaslu, disimpulkan bahwa apapun pendapat hukum Mahkamah Agung akan ditindaklanjuti oleh KPU dan Bawaslu.

c. Sebagai jawaban terhadap permintaan KPU dan Bawaslu dimaksud, Mahkamah Agung dalam suratnya Nomor 142/KMA/IX/2009 tangal 23 November 2009 memberikan pendapat hukum bahwa solusi yang terbaik adalah menggunakan ketentuan peralihan yaitu Pasal 236A Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 sebagai pintu darurat yang berbunyi “dalam hal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berlangsung sebelum terbentuknya pengawas pemilihan oleh Bawaslu, DPRD berwenang membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

(14)

d. Namun Bawaslu menolak untuk melaksanakan pendapat hukum Mahkamah Agung tersebut, sehingga demi kebersamaan dan sukses Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, KPU dan Bawaslu dengan difasilitasi Kementrian Dalam Negeri menerbitkan Surat Edaran Bersama KPU dan Bawaslu Nomor 1669/KPU/XII/2009 tanggal 9 Desember 2009 yang intinya mengatur hal-hal sebagai berikut:

1. Daerah yang kepala daerah dan wakil kepala daerahnya berakhir jabatannya pada bulan Agustus 2010, dan KPU Provinsi/Kabupatan/Kota dan belum melakukan rekrutmen calon anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Bawaslu melantik Panwaslu Pemillu anggota DPR, DPD, DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 sebagai anggota Panwas Pemilukada 2010

2. Dalam hal KPU Provinsi/Kabupaten/Kota yang pada saat berlakunya telah melakukan rekrutmen calon anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dan telah mengumumkan hasilnya, Bawaslu melakukan uji kelayakan dan kepatutan dan melantik calon Panwaslu terpilih sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007

3. Dalam hal terdapat KPU Kabupaten/Kota yang telah mengirmkan nama-nama calon anggota Panwas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, hasil rekrutmen kepada Bawaslu, tetapi jumlahnya kurang enam nama, maka untuk melengkapinya KPU Kabupaten/Kota mengusulkan nama-nama calon anggota Panwaslu yang berasal dari Panwas Pemilu anggota DPR, DPD, dn DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009

4. Dalam hal Bawaslu menilai bahwa nama-nama calon anggota Panwaslu yang dajukan oleh KPU Provinsi/Kabupatan/Kota tidak memenuhi syarat sebagai anggota Panwaslu Kabupaten/Kota, Bawaslu mengembalikan nama-nama yang tidak memenuhi syarat tersebut kepada KPU Kabupaten/Kota dan meminta KPU provinsi/kabupaten/kota untuk melengkapinya dan mengirimkan nama-nama calon anggota Panwaslu Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009, sebagai anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Tahun 2010. Sebagai tindaklanjut penerbitan SEB dimaksud hanya dalam jangka waktu 3 hari setelah SEB ditandatangani tanggal 12 Desember 2009 Bawaslu melakukan pelantikan terhadap sejumlah Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang berasal dari Panwaslu Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Dilanjutkan dengan pelantikan berikutnya pada tanggal 27 Desember 2009 dan 22 Januari 2010 tanpa berkoordinasi dan tanpa mekanisme verifikasi terlebih dahulu secara bersama-sama antara KPU dan Bawaslu sebagaimana halnya perumusan SEB dilakukan secara bersama-sama.

(15)

e. berdasarkan hasil inventarisasi awal oleh Sekretariat Jenderal KPU dari data yang diserahkan oleh Sekretaris Bawaslu telah ditemukan fakta-fakta sebagai berikut:

1. Sebanyak 46 Panwaslukada Kabupaten/Kota yang berasal dari Panwaslu Pemilu Presiden dan Wakil Presiden telah dilantik oleh Bawaslu dengan akhir masa jabatan kepala daerah setelah bulan Agustus 2010.

2. Sebanyak 30 Panwaslu Provinsi/Kabupaten/Kota telah dilantik. Padahal nama-nama calon Panwas sudah disampaikan oleh KPU Provinsi/Kabupaten/Kota ke Bawaslu sebelum sampai tanggal 9 Desember 2009.

3. Sebanyak 21 Panwaslu Provinsi/Kabupaten/Kota telah dilantik, dimana nama-nama calon Panwas disampaikan oleh KPU Provinsi/Kabupaten/Kota ke Bawaslu setelah tanggal 9 Desember 2009. Salah satu alasan yang disampaikan oleh Bawaslu untuk melantik Panwaslu Pemilu Presiden dan Wakil Presiden menjadi Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah ketidaklengkapan surat keterangan kesehatan, dengan tidak melampirkan rekam medik hasil pemeriksaan, dan surat tidak pernah dipidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan. Bawaslu menyatakan berkas calon Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, usulan KPU Provinsi/Kabupaten/Kota yang dilakukan melalui proses seleksi tidak memenuhi syarat, dan meminta KPU Provinsi/Kabupaten/Kota mengusulkan Panwas Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 menjadi Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Hal ini patut dipertanyakan karena calon anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diusulkan KPU Provinsi/Kabupaten/Kota yang lain dan kemudian dilakukan uji kelayakan dan kepatutan oleh Bawaslu. Melampirkan surat keterangan kesehatan dan surat tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang sama dengan calon anggota Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang ditolak oleh Bawaslu. Dengan demikian Bawaslu memperlakukan standar ganda untuk menilai sebuah persoalan yang sama di sejumlah KPU provinsi/kabupaten kota yang berbeda.

f. Menyikapi persoalan yang belarut-larut tersebut, KPU dengan difasilitasi kantor Wakil presiden maupun Kementerian Dalam Negeri tetap berupaya mencari solusi yang terbaik. Namun Bawaslu tidak pernah mengubah keputusannya yang menetapkan dan melantik Panwas Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

g. Melihat fakta-fakta tersebut di atas KPU berkesimpulan bahwa apa yang telah dilakukan Bawaslu melanggar kesepakatan. Oleh karena itu KPU memutuskan untuk mencabut SEB melalui surat ke Bawaslu tanggal 4 Februari 2010, Nomor 50/KPU/II/2010, perihal Pembatalan Surat Edaran Bersama antara Komisi Pemilhan Umum dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum dan pengembalian kepada ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan/atau Fatwa Mahkamah Agung Nomor

(16)

142/KMA/XI/2009, tanggal 23 November 2009 yang surat KPU tersebut berisi:

1. Mencabut dan membatalkan SEB dan menyatakan SEB tidak berlaku; 2. Mengembalikan proses pembentukan Panwaslu Kepala Dgaerah dan

Wakil Kepala Daerah kepada ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Fatwa Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/XI/2009 tanggal 23 November 2009.

3. Menolak semua Panwaslu Kepala Daerah dan Wakil kepala Daerah yang dilantik Bawaslu yang proses pembentukannya tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang sebagaimana disebut di atas;

4. Mendesak kepada Bawaslu untuk konsisten melaksanakan undang-undan dan melakukan fit and proper test terhadap calon Panwaslu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diajukan oleh KPU Provinsi dan atau KPU Kabupaten/Kota, serta menetapkan 3 orang sebagai calon terpilih.

5. Apabila Bawaslu tidak bisa melakukan fit and proper test karena berbagai alasan, pembentukkan Panwaslu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diserahkan kepada DPRD setempat sesuai dengan fatwa Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/XI/2009, tanggal 23 November 2009. 13. Rekomendasi Bawaslu terkait dengan pembentuk dewan kehormatan

untuk anggota KPU yang menangani bantuan IFFEST dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden ditindaklanjuti dengan melakukan klarifikasi terlebih dahulu sesuai dengan Peraturan KPU Nomor 38 Tahun 2008 tentang Tata Kerja Dewan Kehormatan KPU dan KPU Provinsi sebagai berikut:

a. Bantuan diberikan untuk kegiatan penunjang bukan kegiatan pokok sehingga tidak ada kaitan dengan independent dan dengan etika;

b. KPU memperoleh bantuan fasilitas, bukan dana yang ada dalam kontrol KPU sendiri sesuai dengan MOU yang dibuat antara IFFEST dengan KPU sehingga dugaan dengan adanya antara etika atau idependensi KPU merupakan dugaan yang terlalu berlebihan

c. Dalam hal penggunaan IT KPU juga menggunakan tenaga ahli dari BPPT yang secara kelembagaan merupakan wujud kontrol KPU atas kegiatan-kegiatan penggunaan teknologi termasuk fasilitas tehnologi yang diperbantukan oleh IFFEST

d. Terlebih dari itu, IFFEST adalah lembaga yang kredibilitasnya tinggi, yang sudah lama membantu KPU, sikap anti bantuan asing yang berlebihan khususnya lembaga yang kredibel seperti IFFEST jelas tidak sehat bagi keterbukaan dan kerja sama penguatan demokrasi dengan berbagai pihak kenyataan banyak juga lembaga-lembaga negara yang memperoleh bantuan teknis dari lembaga atau donor asing atas dasar pemikiran seperti itulah pleno KPU memutuskan tidak membentuk dewan kehormatan.

e. Penyelidikan Komnas HAM terhadap pengelolaan pemilih tetap atau DPT hanya dikutip pernyataan yang masih menjadi perdebatan, misalnya pernyataan KPU telah terbukti secara meyakinkan melakukan

(17)

penghilangan hak konstitusional warga negara dalam Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD pada tanggal 9 April 2009 pada sekitar 25% hingga 40% jiwa. Kesimpulan tersebut tidak didukung oleh data by name yang akurat, atau indentitas warga negara yang jelas. Laporan tim penyelidikan pemenuhan hak sipil dan politik adalah pemilihan umum legislatif 2009 yang dilakukan oleh Komnas HAM dalam temuan lapangan maupun analisis yang dilakukan oleh tim sebanyak 27 melakukan penyelidikan di 8 provinsi yang masing-masing provinsi yang terdiri dari 3 kabupaten/kota tidak menyajikan data kuantitatif dari perkiraan 25% sampai 40% tersebut misalnya Panwaslu Kabupaten Karo mengestimasikan sekitar 10% warga yang mempunyai hak pilih tidak masuk dalam DPT, (20.000 sampai 30.000) di Lampung temuan 3 kabupaten yang tidak terdata sekitar 3000 orang. Jika dicermati, maka penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM cukup banyak yang tidak konsisten baik lokasi penyelidikan maupun fokus group diskusi untuk masing-masing wilayah penyelidikan, misalnya ada wilayah yang melibatkan KPUD atau Panwaslu sedangkan wilayah lain tidak. Di samping itu data yang disajikan masih merupakan data mentah, artinya belum dilakukan pengolahan data sehingga belum dapat memberikan informasi yang akurat demi perbaikan DPT Pemilu yang akan datang.

menurut pendapat KPU hasil penyelidikan itu lebih banyak memunculkan masalah dan pernyataan-pernyataan tendensius, akibatnya kesimpulan yang diperoleh juga masih merupakan bahan diskusi karena penyelidikan tersebut tidak taat kepada kaedah-kaedah meteodologis penyelidikan yang baku.

f. Pemohon mengutip pendapat Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa secara kualitatif Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 terdapat banyak kelemahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan yang disebabkan kelemahan KPU sebagai penyelenggara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang mudah dipengaruhi oleh berbagai tekanan publik termasuk oleh peserta Pemilu sehingga terkesan kurang kompeten, kurang profesional serta kurang menjaga citra independensi dan netralitasnya. Dalam hal ini KPU berpendapat bahwa pendapat MK tersebut merupakan pertimbangan hukum dan bukan amar putusan. g. Terkait laporan panitia angket DPR-RI sebagaimana dikutip oleh

Pemohon pada halaman 5, bahwa direkomendasikan kepada KPU untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pemutakhiran data pemilih, penyusunan DPS dan penyusunan DPT pada Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 KPU berpendapat bahwa fraksi-fraksi mengajukan kesimpulan yang beragam terkait dengan rekomendasi pemberhentian anggota KPU selain itu KPU juga berpendapat, bahwa seyogianya KPU bertanggungjawab atas persoalan pemutakhiran data pemilih karena Bawaslu telah terbentuk sejak bulan April 2008 sementara DPT ditetapkan pada tanggal 24 November 2008.

h. Bahwa KPU telah melanggar kode etik, yang dituduhkan Bawaslu tidak berdasarkan hukum, padahal KPU telah menetapkan DPT Pemilu

(18)

Presiden dan Wakil Presiden namun berdasarkan rekomendasi Bawaslu dibeberapa daerah dan upaya KPU agar tidak menghilangkan hak seseorang sebagai warga negara untuk dapat menggunakan hak pilihnya dan KPU tidak pernah melibatkan pasangan calon untuk turut serta dalam proses penetapan DPT setelah melewati batas waktu perbaikan daftar pemilih pengecekan DPT oleh relawan tim kampanye semata-mata hanya asas transparan kepada peserta Pemilu.

Pembelaan posisi Bawaslu yang pembentukannya terlambat adalah tidak benar, sehingga tidak ada alasan pengawasan penyelenggaraan serta penyusunan dan penetapan tidak bisa dilakukan.

14.KPU akan sangat menghormati pembentukan Panwaslu Provinsi/Kabupaten/Kota dalam rangka Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang telah ditetapkan dan dilantik Bawaslu. Apabila Panwaslu Provinsi/Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan dan dilantik tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 93, Pasal 94, Pasal 95 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007.

15.Berkenaan dengan tuduhan bahwa KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota mendasarkan kepada penafsiran yang keliru terhadap Surat Ketua Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/XI/2009 dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Surat Mahkamah Agung tersebut didasarkan atas surat Ketua KPU tanggal 11 November 2009 Nomor 1615/KPU/XI/2009 dan surat Ketua Bawaslu tanggal 2 Oktober 2009 Nomor 683/Bawaslu/X/2009. b. Surat Mahkamah Agung yang merupakan pendapat Mahkamah Agung

pada prinsipnya dapat atau tidak dapat dilaksanakan.

c. Meskipun demikian sehubungan dengan terjadinya prosesi Mahkamah Konstitusi dalam Perkara Nomor 11/PUU-VIII/2010 maka pendapat Mahkamah tersebut berubah menjadi sumber hukum.

Demikian keterangan dan atau penjelasan KPU dalam Perkara Nomor 11/PUU-VIII/2010 sebagai Pihak Terkait.

mohon maaf wabillahitaufik walhidayah wassalamualaikum wr. wb.

Jakarta 10 Maret 2010, Komisi Pemilihan Umum, Ketua Prof. Dr. Hafidz Anshari AZ, MBA. Terimakasih.

17. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S.H.

Baik, terima kasih Bapak. Kalau naskahnya sudah siap supaya diambil oleh PP.

Baik berikutnya, pengambilan sumpah. Jadi kalau ada yang mau ditanyakan diklarifikasi ini nanti sesudah saksi dan ahli memberi keterangan saja biar sekaligus.

18. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

(19)

Pak Ketua ada ahli yang sudah datang tapi masih duduk di belakang.

19. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Ya, Pak Hadar, siapa lagi?

20. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Pak Saldi dan Pak Irman juga sudah di luar. 21. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Pak Irman sudah datang, Pak Saldi juga sudah datang.

Baik, saksi dulu Bu Endang maju, diambil sumpah dulu Bu. Beragama Islam? Ya, Pak Fadlil.

22. HAKIM ANGGOTA: DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM Bu Endang, tirukan sumpah yang akan saya pandukan kepada Anda.

Bismillahirahmanirrahim, Demi Allah saya bersumpah akan menerangkan yang sebenarnya tidak lain dari yang sebenranya.

23. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Bismillahirahmanirrahim, demi Allah saya bersumpah akan menerangkan yang sebenarnya tidak lain dari yang sebenranya.

24. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Silakan duduk.

Ahli Pak Hadar, Pak Saldi dan Pak Irman. Agamanya masih Islam semua? Pak Hamdan.

25. HAKIM ANGGOTA: HAMDAN ZOELVA, S.H., M.H.

Saudara para ahli ikuti lafal sumpah yang saya ucapkan.

Bismillahirahmanirrahim, Demi Allah saya bersumpah sebagai ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya.

(20)

26. AHLI DARI PEMOHON: SELURUHNYA

Bismillahirohmanirrohim, demi Allah saya bersumpah sebagai ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya.

27. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Silakan duduk, silakan Bu Endang maju saja ke podium dan silakan kepada Pemohon untuk dipandu untuk menerangkan apa Ibu ini, silakan.

28. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Terima kasih Pak Ketua.

Ibu Endang, Ibu kan dulu anggota atau Ketua Panwas ya? 29. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Ketua Pak.

30. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Periode kapan itu?

31. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden Tahun 2009 di Kab. Purbalingga

32. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Oke.

Dan sekarang Ibu masih menjadi anggota Panwas atau sudah selesai?

33. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Tidak lagi karena di perekrutan kemarin untuk Panwas Pilkada saya tidak lolos di dalam enam besar.

(21)

34. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Oke. Bisakah Ibu menjelaskan kepada kita semua secara sejujurnya dan selengkap-lengkapnya, kalau bisa proses itu Bu, proses namanya rekrutmen dan apa yang Ibu alami sendiri? Jadi jangan menggunakan kata pendapat supaya itu dijelaskan dan saya akan memberikan keleluasaan kepada Ibu untuk menjelaskan.

35. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya, terima kasih.

Saya mengikuti tes administrasi, kelengkapan administrasi dan dinyatakan lulus di administrasi itu pada tanggal 31 Oktober dan untuk Kabupaten Purbalingga melaksanakan tes tertulis untuk calon Panwaskada tanggal 2 November.

Nah, pada waktu itu saya mengikuti tes dengan 14 orang, dengan incumbent semuanya dari Panwas Pileg semuanya ikut dan pengumuman waktu itu tanggal 5 di tahapan itu pengumuman tanggal 5. Saya mengerjakan, kami diberikan soal sebanyak 17 soal dengan pilihan ganda.

Pengumuman pada tanggal 5 itu tidak ada nama saya di dalam rangking 6 besar yang bisa mempunyai hak untuk fit and proper test oleh Bawaslu. Saya melihat ada beberapa kejanggalan yang saya alami sendiri di dalam perekrutan dari Panwas ini.

Yang pertama adalah ketika pelaksanaan, waktu pealaksanaan tes tertulis anggota KPU yang melaksanakan itu memberikan amplop, katanya ini soal ini masih utuh sejumlah 14 lembar dari KPU Provinsi. Jadi masih tersegel diperlihatkan seperti itu. Tetapi dikemudian harinya ternyata soal itu di fotokopi di Purbalingga, diperbanyak di Purbalingga, itu yang pertama.

Yang kedua adalah pengisian. Pengisian itu lazimnya kalau pakai silang itukan lazimnya memakai pulpen tetapi di tes kami itu kami diperbolehkan memakai pulpen dan pensil.

Selanjutnya yang saya merasa ada kejanggalan, sebelum pengumuman itu, sebelum pelaksanaan tes bahkan saya sudah mendengar kabar kalau saya nanti tidak bakalan lulus, itu kabar sudah santer sekali banyak pihak yang menyatakan, bahkan saya juga waktu itu saya sudah sampaikan ke provinsi, saya bilang Pak saya tidak lulus nanti kayaknya ada kabar seperti itu. Ke Bawaslu pun waktu itu sempat ketemu sama salah satu anggota saya sampaikan.

Nah, ketika pengumuman tanggal 5 itu jam 3.00 sore menanyakan karena jadwalnya tanggal 5 kan? Saya tanyakan ke anggota KPU, saya minta tolong pengumumannya sudah belum? Begitu kan? Tetapi jam 3.00 itu katanya belum ada pengumunan, nanti tunggu sebentar lagi. Terus jam setengah lima lagi saya menayakan lagi

(22)

dikatakan sudah ada pengumuman dan Bu Endang tidak masuk karena dirangking 8 tetapi mereka mengatakan tolong dong saya mau lihat nilai saya, oh berkasnya sudah dikirim ke Bawaslu sama sekretariat setengah jam yang lalu. Seperti itu. Jadi saya sampai hari ini, saya tidak bisa, tidak tahu saya dapat nilai berapa, saya pikir itu adalah hak saya ya? Tapi saya tidak diberitahukan.

Memang saya sempat menanyakan kenapa sih secepat itu? Baru jam 3.00 saya menayakan belum pengumuman, saya setengah lima menanyakan berkas sudah dibawa ke Bawaslu? Tapi saya tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

Saya merasa, saya sangat yakin bisa mengerjakan soal-soal yang 75 itu karena soal-soal yang diberikan adalah soal-soal teknis yang kemarin memang saya melaksanakan didalam pengawasan di Pileg dan Pilpres.

Seperti itu Pak.

36. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Ibu dimana problemnya? Kalau tadi kasih amplop sudah di fotokopi katanya, walaupun dibilang katanya rahasia tapi di-copy di Purbalingga. Terus pakai pinsil pakai pulpen

37. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Maaf, saya pikir kalau (...)

38. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Saya belum selesai Bu, saya belum selesai. Terus sudah dengar kabar tidak lulus gitu, apa yang menjadi problem? Misalnya saya ingin mendapat penjelasan, apakah dalam menjalankan fungsinya, Ibu itu sudah melakukan tugas yang sesuai yang undang–undang. Karena tugas yang sesuai undang–undang itu kemudian Ibu di.., tidak, apa namanya ditidak luluskan? Apakah ada bukti seperti itu? Kalau tidak ada, bagaimana menyatakan proses itu janggal dan tidak baik?

39. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Terima kasih, saya melihatnya begini Pak.

Kalau memang itu di-copy-kan di situ kenapa harus disampaikan kepada kami bahwa itu yang tersegel dari provinsi. Mengapa tidak dikatakan yang sejujurnya, itu yang pertama.

Saya melihat di sana juga kalau, kalau itu digandakan di kabupaten ada kemungkinan, walau tidak ada bukti atau apapun,

(23)

kemungkinan saja bisa bocor, bisa dikatakan seperti itu. Nah, kalau kaitanya saya merasa, saya selama menjadi Panwas di Pileg kemarin saya melaksanakan kewenangan yang diberikan oleh undang–undang sesuai dengan Pasal 78 Undang–Undang Nomor 22 Tahun 2007. Saya berusaha melaksanakan sebaik–baiknya.

Memang saya merasa ketika saya menjalankan kewenangan itu dan kami bersikap kritis terhadap penyelengarakan, terhadap dalam mengawasi semua tahapan. Hal ini ditangkap lain, ditangkap lain oleh katakanlah KPU. Memang di dalam saya melaksanakan tugas kemarin ada beberapa kasus yang dipandang bahwa Panwas ini “merecokin” kinerja daripada KPU. Sama dengan daerah lain masalah DPT, kami selama Pileg dan Pilpres kemarin memberikan 33 kasus yang mana yang paling, yang paling krusial memang kasus DPT. Jadi, kami pernah merekomendasikan ke KPU, ke Bawaslu dan kami kirimkan ke KPU Provinsi bahkan sampai pemerintah daerah pun kami kasih. Kami mengkode etik kan KPU Kabupaten/Kota karena KPU memberikan.., melaksanakan tidak sesuai dengan kewenangannya. Jadi, waktu itu di Kecamatan Prebet, sama di namanya di Kecamatan Karang Jambu ada sekitar 272 orang yang tidak masuk di dalam DPT. Tetapi, pada sama KPU, pada malam hari H tanggal 8 pada jam 10 malam mereka membuat berita acara yang memberikan surat undangan yang memasukan orang yang tidak termasuk dalam DPT itu diberikan undangan, kayak gitu tanpa koordinasi kami. Saya tahu itu pada jam 11 malam, pada hari H. saya tahu pada Kasat Reskrim pada waktu itu, katanya ada rapat di sana terus kami cek.

Nah, saya melihat itu tidak, tidak melanggar karena tidak sesuai dengan kewenangannya. Karena Peraturan KPU Pusat, KPU itu kan, mem-protect DPT pada tanggal 1 april.

40. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Ibu, Ibu cukup Bu. Nanti penjelasan itu di sidang PHPU. Ini, saya mau menjelaskan saja (...)

41. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya, ya.

42. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Saya ingin melanjutkan saja.

Ada dua pertanyaan utama lagi. Ibu katakan tadi mendengar tidak lulus padahal belum ada pengumuman. Dari mana Ibu dengar, dan apa kaitanya bahwa kan ujian ada lulus dan tidak lulus itu biasa kan?

(24)

43. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya, betul.

44. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Terus, apa hubunganya dengan proses rekrutmen itu berjalam sesuai prosedur dan tidak sesuai prosedur? Saya belum mendapat gambaran mengenai itu.

45. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Begini Pak, saya mendapatkan itu pertama kali dari Kasat Reskrim saya. Karena kebetulan beliau adalah temen di S-2.

46. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Sebenarnya dari Kasat Reskim? 47. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Ya.

48. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Memang Kasat Reskim itu(…) 49. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Saya tidak tahu darimana beliau. Tetapi, banyak juga pihak yang seperti temen–temen dari mess karena wacana itu sudah, sudah kelihatan sekali. Karena saya dianggap terlalu kritis mungkin. Dalam pengawasan kemarin banyak hal yang kami kritisi, terutama yang dilakukan oleh penyelenggara.

50. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Kalau saya mengatakan itu sih rumor saja. Bagaimana Ibu mengatakan bahwa itu bukan rumor? Semua orang ngomong itu kan, bukan berarti benar.

(25)

51. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Betul Pak.

52. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Bagaimana untuk membedakan, itu sebenarnya itu rumors itu. Ibu tidak lulus kemudian ibu bikin macam–macam. Ya, rumors kan? Menyebar-nyebarkan (suara tidak jelas) kan bisa saja seperti itu kan? 53. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Ya, tetapi gini Pak.

Saya sangat yakin, saya bisa mengejarkan soal–soal itu. Saya sangat yakin, karena soal–soal itu, adalah soal–soal yang kita lakukan. Soal – soal teknis.

54. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Itu pertanyaan terakhir saja untuk Ibu.

Ibu merasa yakin dalam mendapatkan jawaban. Apakah Ibu bisa mengkonfirmasi dua hal, ya Bu ya?

55. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya.

56. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Bagaimana dengan peserta–peserta yang lain.

Terus, saya juga ingin mendengar karena yang hadir, yang hadir di sini hanya Ibu seorang padahal katanya Bawaslu banyak di tempat lain.

57. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya.

(26)

58. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Apakah Ibu juga mendengar, dari teman–teman Panwaslu yang lain, yang sikapnya kritis kayak Ibu juga mendapat perlakuan yang sama, ini bukan kasus Ibu sendiri.

59. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya.

60. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Ibu tahu tidak? Kalau tahu di informasikan, kalau tidak jangan sok tahu begitu kan?

61. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Ya, saya yang tahu hanya teman–teman saya sekabupaten, seprovinsi. Ada di sana, di Kabupaten Semarang ada namanya Bu Ana. Dia dosen Undip di sana juga, beliau tidak lulus di dalam enam besar, kalau, sebenarnya kalau dilihat dari kapasitas beliau saya sangat yakin juga. Terus yang kedua Ibu Puspa. Dari Kabupaten Boyolali dulu juga Ketua juga, di sana beliau juga tidak lulus di enam besar walaupun kemudian di sekarang karena ada bukti gitu, memang bedanya saya tidak ada bukti Pak, saya tidak ada bukti tetapi di Boyolali itu terbukti dan KPU pun mengakui bahwa ada mark up nilai di sana.

62. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Apa terbuktinya yang Ibu dengar? Apa yang di Boyolali itu apa? 63. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Mark up nilai Pak.

64. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

(27)

65. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Iya, betul, akhirnya sekarang beliau menjabat kembali karena memang kemudian diajukan oleh KPU, seperti itu.

66. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Jadi ada(...)

67. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Itu banyak sekali kasus yang seperti saya, mungkin saya hanya salah satu mungkin yang di sample kan

68. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Tunggu-tunggu, tadi Ibu mengatakan kompetensi, kompetensi itu di apa? Di pengetahuan atau memang Ibu menjalankan sesuai tugas itu juga kan bisa kompetensi?

69. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Saya kira kalau kapasitas seperti Ibu Puspa, Ibu Ana itu kompetensi di dalam pengetahuan ataupun pengalaman. Saya sangat yakin beliau mampu untuk mengerjakan soal itu, Pak

70. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H.

Dari kami cukup Pak Ketua, Terima kasih Bu Endang. 71. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Saya persilakan kalau KPU atau Pemerintah mau tanya sekaligus kepada saksi ini karena sesudah ini kita akan konsentrasi kepada ahli. Ada pertanyaan Ibu Andi Nurpati?

72. PIHAK TERKAIT: ANDI NURPATI (ANGGOTA KPU) Terima kasih.

(28)

Yang ingin saya tanyakan Ibu Endang, adalah tadi Ibu mengatakan bahwa Ibu yakin mampu mengerjakan soal lebih dari peserta lainnya padahal tidak masuk menjadi enam. Apakah juga Ibu yakin bahwa peserta lainnya itu Ibu lebih cerdas dari mereka misalnya begitu? Karena ini kan keyakinan bukti tadi tidak kita temukan dari yang Ibu sampaikan.

Yang kedua adalah soal fotokopi, darimana Ibu mengetahui dan apakah memang terbukti fotokopi tadi di wilayah Ibu tadi beredar dan disalahgunakan. Artinya bocorlah soal itu, itu tadi yang saya tidak temukan bukti-bukti, hanya mendengar-mendengar saja Ibu sendiri tidak mampu membuktikan.

73. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Terima kasih.

Memang seperti saya katakan tadi hal-hal seperti itu sangat sulit dibuktikan ya Ibu ya? Jadi saya memang dikatakan di awal jika saya punya bukti tentu saya sudah mengambil langkah, ya kayak gitu? Tetapi itu hal yang tidak bisa dibuktikan. Kalau saya tidak berprasangka apa-apa, seandainya tidak disampaikan bahwa itu di tersegel dari provinsi. Kenapa sih harus disampaikan seperti itu? Itu yang masuk di logika saya, begitu loh.

Yang kedua, kalau saya tidak mengaggap bahwa saya lebih cerdas dari mereka tetapi, gini saya sebelum menjadi Panwas di kabupaten saya tidak punya pengalaman apa-apa tentang kepanwasan. Saya hanya ikut di Panwas Pilbup dulu itu pun hanya ketua di kecamatan. Itu saya kemarin tes itu di rangking dua, waktu menjadi Pileg, tetapi setelah saya menjalani pengalaman yang selama satu tahun lebih saya di (...) oleh Banwas, di pintet oleh provinsi, saya kenapa menjadi apa? Kok malah bukan menjadi semakin tahu gitu. Malah menjadi tidak tahu gitu, itu yang menjadi pemikiran saya.

74. PIHAK TERKAIT: ANDI NURPATI (ANGGOTA KPU) Ya, Terima kasih dari saya Pak, sebelum Pak Syamsul. 75. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Ya , silakan.

76. PIHAK TERKAIT: ANDI NURPATI (ANGGOTA KPU)

Ada kaitanya tadi Pak Ketua. Bahwa Bawaslu kan dalam pelantikan terhadap mantan Panwas Pilpres menjadi Panwas Pemilu Kepala Daerah diangkat kembali. Saya ingin menanyakan kepada Ibu Endang sebagai Ibu yang menyerahkan dokumen persyaratan, mohon

(29)

ibu menjelaskan seperti apa dokumen sehat jasmani dan rohani pada saat mendaftar pada saat Pilpres dan Pilkada yang kemarin diikuti. Begitu juga pada keterangan tidak pernah dihukum dari keterangan pribadi atau pengadilan.

77. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Surat sehat itu kami dapat dari rumah sakit melalui tentu saja pemeriksaan. Kemudian rumah sakit, begitu juga keterangan tidak pernah di penjara pada pengadilan negeri setempat.

78. PIHAK TERKAIT: ANDI NURPATI (ANGGOTA KPU) Dilampirkan dengan rekam medik?

79. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Kami lampirkan rekam mediknya.

80. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Ada lagi, silakan.

81. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU) Terima kasih Pak Ketua.

Bu Endang.

82. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Ya

83. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU) Di dalam proses rekrutmen, apakah ada tim seleksi?

84. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Tim seleksi dari KPU Pak.

85. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU) Ya

(30)

86. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Dari KPU dan Sekretariat.

87. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU)

Unsurnya darimana saja? 88. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Saya tidak pernah, saya tahunya dari KPU. Karena seleksi itu kami serahkan kepada KPU terus yang menerima Sekretariat KPU dan tesnya dari KPU saja.

89. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU)

Ya, kan memang dalam Peraturan KPU di dalam rekrutmen (...)

90. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Tidak ada unsur lain dari KPU itu sendiri.

91. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU) Ya, memang dia merupakan tim untuk menyeleksi. 92. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG

Ya

93. PIHAK TERKAIT: SYAMSUL BAHRI (ANGGOTA KPU) Terima kasih Pak Ketua.

94. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Pemerintah mau tanya juga?

95. PEMERINTAH: YUDAN ARIF FAKRULLOH (STAF AHLI MENDAGRI)

Dari Pemerintah sementara belum ada, Yang Mulia.

(31)

96. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H. Hakim cukup, tidak ada ya? Tidak ada, oke. Kalau begitu silakan duduk.

97. SAKSI DARI PEMOHON: ENDANG Terima kasih Pak

98. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Jadi kita dengarkan sekaligus tiga saksi, baru nanti di apa namanya, kalau ada pertanyaan-pertanyaan.

Pertama Pak Hadar, silakan Pak. Silakan Pemohon apa yang mau, yang harus diterangkan oleh Pak Hadar.

99. AHLI DARI PEMOHON: HADAR NAFIS GUMAY Assalamualaikum wr wb.

Majelis Hakim Yang Mulia dari Mahkamah Konstitusi, para pihak yang berperkara dalam sidang pagi ini.

Adalah suatu kehormatan buat saya, berdiri di sini untuk menyampaikan pandangan, pendapat saya sesuai dengan kemampuan saya dalam bidang yang saya minati ini.

Saya kira saya akan menyampaikan pandangan terkait dengan pengawas eksternal Pemilu. Jadi mohon dipahami Pemilu yang saya maksud ini adalah Pemilu yang umum dalam hal ini termasuk juga Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Tentu kita semua menginginkan suatu Pemilu yang demokratis dan pemahaman demokratis, suatu Pemilu yang demokratis itu sering kali atau populer sekali disebut dengan Pemilu yang free and fair election atau kita sering menyebutnya dengan pemilu bebas dan adil begitu.

Nah, sebetulnya sudah banyak pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan suatu free and fair election itu? Diukur melalui apa? Banyak lembaga yang sudah membahas, banyak ahli yang sudah bicara masalah ini, antara lain misalnya Interparliamentary Union atau OSC yaitu Organization for Security and Corporation. ODIHR, Office for Democratic Institution and Human Right, UN sendiri ya? Apa namanya Perserikan Bangsa-Bangsa sendiri dan banyak sekali batasan yang digunakan. Misalnya jaminan hak untuk memilih pada setiap warga, dijamin kerahasiaan dalam memilih, menjamin semua yang terhitung, suara yang terhitung itu akan dihitung dengan jujur, semua kursi, minimal dari satu kamar dari suatu parlemen itu adalah diperebutkan secara bebas, menjamin hak warga untuk dipilih dan seterusnya dan seterusnya. Antara lain juga misalnya minim pelanggran kalau toh ada

(32)

pelanggran ada penegakkan hukumnya. Jadi isu ini nanti saya akan coba kembangkan.

Ukuran-ukuran atau indikator tadi yang digunakan untuk melihat suatu Pemilu demokratis atau Pemilu yang populer disebut free and fair election ini, tentu akhirnya adalah ukuran-ukuran yang sifatnya konposit ya? Gabungan-gabungan kesemuanya dan kita tahu bahwa yang dimaksudkan di negeri kita, Pemilu itu merupakan perwujudan kedaulatan rakyat untuk memilih pemerintahan dalam hal, ini pemimpin dan wakil rakyat melalui suatu proses pemungutan suara yang berasaskan, asas jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia. Saya kira asas ini sekaligus saya bisa simpulkan sebetulnya menunjukkan kurang lebih dari ukuran-ukuran yang saya coba sampaikan di awal tadi yang begitu banyak.

Nah, untuk mencapai suatu Pemilu yang demokratis, tentu diperlukan penyelenggara yang juga siap untuk menyelengarakan Pemilu yang demokratis dan penyelengara kita itu, misalnya, haruslah mandiri, haruslah imparsial, tidak berpihak kepada para peserta Pemilu itu sendiri, bekerja secara transparan, punya kapasitas, profesional mereka, kemudian juga berintegritas, berorientasi kepada publik, kepada pemilih, kepada semua stakeholder dari pada pemilih itu sendiri.

Nah, itu dari segi penyelengaranya. Tetapi kemudian juga sangat penting di dalam penyelengaraan ini, prosesnya itu dijalankan dengan integritas yang tinggi, berintegritas begitu. Nah, oleh karena itu untuk menciptakannya, pengawasan itu menjadi sangat penting di dalam Pemilu. Pengawasan itu ada ragamnya, ada berbagai macam. Misalnya saja pemantau Pemilu, itu sebetulnya suatu elemen pengawas yang ada kita kenal domestik maupun internasional, ada observation mission dari luar negeri misalnya. Kemudian juga ada pengawas dari lembaga politik seperti parlemen kita, DPR punya hak untuk mengawas juga. Walaupun dalam praktiknya kita juga tidak bisa mengandalkan sepenuhnya. Karena ini sering digunankan sebagai alat politik untuk kepentingang poltik mereka bisa mencoba mempengaruhi penyelenggara.

Kemudian ada juga pengawasan bersifat formal, dibangun betul sengaja untuk melakukan pengawasan sehingga integritas dari proses penyelenggara Pemilu itu bisa berjalan atau bisa tercipta. Ini pun terbagi dua yaitu pengawas yang sifatnya melekat atau internal ada di dalam penyelenggara atau election management policy-nya atau yang bersifat yang kedua, yaitu ada di luar pengawas yang terpisah dari penyelenggara dan ini pun juga modelnya di praktik di dunia ada dua macam. Ada yang langsung terkait dalam proses penegakkan hukumnya menjadi lembaga yudisial, tetapi ada semacam yang terpisah, tetapi dia hanya melakukan fungsi tertentu. Misalnya memproses awal dari suatu hasil pengawasan atau hasil temuan pelanggaran.

Nah, prinsip pengawasan itu. Beberapa hal yang penting, pertama bahwa pengawasan itu haruslah dilakukan juga oleh lembaga yang sifatnya mandiri. Karena kalau tidak maka akan terjadi kesulitan. Nah

(33)

misalnya saja model pengawasan yang ada di Indonesia, di negara kita dimana Bawaslu dan jajarannya ke bawah itu yang diberikan otoritas untuk mengawas. Tetapi pembentukanya itu dilakukan oleh pihak lain, bahkan pihak yang justru menjadi subjek pengawasannya yaitu KPU. Saya kira, di sini ada model upaya untuk membangun badan pengawas yang sifatnya eksternal, tetapi pembentukannya itu bisa menimbulkan persoalan, bisa mengakibatkan suatu pengawasan yang tidak efektif. Karena apa? Karena memang di dalam pembentukanya itu melibatkan lembaga yang nantinya akan diawasi.

Nah pengawasan itu sebetulnya banyak sekali. Tidak hanya setiap tahapan Pemilu, termasuk Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Tetapi juga tentang administrasi dan pengelolaan Pemilu itu sendiri, itu juga menjadi umumnya menjadi subjek pengawasan.

Nah di dalam penciptaan integritas proses Pemilu, sebetulnya badan pengawas Pemilu perlu mempunyai beberapa hal. Antara lain kebebasan untuk menentukan apa yang dikaji, yang diselidiki di dalam memproses pelanggaran maupun apa yang dia temukan. Kemudian ada akses informasi dan data yang luas untuk kebutuhan pengkajiannya, pengawasannya. Kemudian juga harus mempunyai kebebasan yang penuh untuk mempublikasikan temuan, kajian dan rekomendasi yang dihasilkan tanpa ada pembatasan dan intervensi politik.

Nah saya kira fungsi-fungsi ini bisa saja dimiliki oleh pengawas atau Bawaslu dengan strukturnya yang model di negeri kita ini. Tetapi saya melihat persoalanya justru itu di bagian awal atau dibagian proses pembentukannya. Jadi kalau proses pembentukannya ini juga sudah menjadi persoalan, apa yang kita harapkan dari fungsi mereka, dimana diharapkan integritas dari proses Pemilu itu bisa berjalan juga tidak bisa dicapai.

Saya ingin memberikan ilustrasi perkembangan tentang pengawasan internal yang selama ini cukup populer dan sangat punya otoritas yang kuat untuk bahkan menjatuhkan sanksi, itu sudah dalam upaya perubahan untuk dijadikan pengawasan eksternal.

Dua negara saya ambil contoh Thailand. Election commision Thailand, itu sebetulnya punya pengawasan internal. Dia ada biro sendiri dan otoritasnya luar biasa besar, bukan hanya mengawasi pelaksanaan penyelenggara tetapi juga peserta, melakukan penyelidikan investigasi dan kemudian menjatuhkan sanksi. Ada istilah di Thailand itu jatuhkan kartu kuning misalnya, ada kartu merah misalnya, itu sampai mencabut hak dipilih dari calon di dalam Pemilu berikutnya. Dia harus menunggu Pemilu yang lain untuk bisa ikutan. Jadi luar biasa, demikian juga di Filipina (suara tidak jelas) itu punya bagian yang juga melakukan pengawasan dan penegakkan hukum sekaligus.

Tetapi kita juga sudah lihat persoalan di sana, dimana ada kasus sendiri di dalam waktu skandal antara pihak “Komelek” ada telepon dengan Presiden Arroyo misalnya. Kemudian yang belakangan, terakhir dalam persiapan Pemilu dengan menggunakan counting machine,

(34)

elektronik, itu juga ada skandal tentang pengadaan barangnya yang terkait dari dalam.

Nah jadi, persoalan ini dirasakan oleh mereka juga sebagai satu ketidakmampuan untuk bisa mengawasi diri sendiri. Nah oleh karena itu, di dua negara ini sedang siap-siap untuk melakukan perubahan dalam waktu dekat. Walupun di Filipna itu dibutuhkan perubahan konstitusi untuk ini. Jadi akan cukup berat dilakukan, tetapi keinginan atau kehendak, kebutuhan untuk perubahan ini sudah cukup besar dirasakan di sana.

Alasan lain adalah, dengan adanya fungsi pengawasan sendiri di dalam oleh lembaga penyelenggara Pemilu ini, mereka menjadi target juga akibat dari putusan-putusan yang mereka buat. Jadi ada pihak yang tidak puas, ada calon yang tidak puas, itu menjadikan mereka target untuk dikejar-kejar.

Kemudian mereka penuh disibukan dengan fungsi pengawasan dan penegakan hukum ini, sehingga core bisnis mereka yaitu menyelenggarakan Pemilu, itu menjadi agak tertinggal dimana mereka sebetulnya harus mempersiapkan sejak pendaftaran pemilih dan seterusnya sampai penetapan hasil.

Kemudian, juga persoalan, kekurangmampuan mereka untuk mengawasi dirinya sendiri. Jadi itu terjadi persoalan. Nah, saya kira kalau di Indonesia kita sudah sepakat untuk menempatkan pengawas itu adalah yang sifatnya eksternal, maka konsekuensinya untuk kita bisa memastikan kerja pengawasan itu efektif, haruslah kita punya pengawas yang sejajar. Pengawas yang betul-betul duduk sama tinggi dengan penyelenggaranya, sehingga fungsi pengawasan akan efektif, fungsi pengecekan check and ballance itu juga akan berjalan. Kalau kita hanya mengandalkan pengawasan dari pihak lain, apalagi tadi saya sudah sebutkan dari lembaga politik misalanya, yang sering sekali dipolitisasi untuk alat politik mereka, maka memang kita butuhkan satu lembaga pengawas yang berbeda, yang satu level. Sehingga kekhawatiran-khawatiran yang terjadi, yang sedang berlangsung di Thailand, yang sedang berlangsung di Filipina itu tidak akan terjadi di negeri kita.

Nah, saya kira itu yang saya ingin sampaikan dan sebagai penutup. Menurut hemat saya, pengaturan-pengaturan terkait dengan yang sedang diajukan oleh Pemohon, ada dua blok kira-kira itu. Pengaturan tentang bagaimana Panwas itu dibentuk, kemudian pengaturan tentang yang terkait penegakkan hukum internal yaitu penegakkan kode etik melalui badan kehormatan, itu sebetulnya pengaturan yang secara struktural bermasalah sejak awal. Dan menurut saya ini tidak konsisten dengan konstitusi kita yang menginginkan, sebetulnya Pemilu kita itu demokratis, jujur, adil dan seterusnya. Jadi kalau kita teruskan model seperti ini pengaturannya, potensi untuk terjadinya pengawasan yang tidak efektif, kemudian akan diikuti dengan rendahnya atau sulitnya nanti akan terciptanya integritas proses Pemilu, akhirnya tidak bisa kita capai hasil Pemilu yang demokratis.

(35)

Saya kira itu saja yang saya ingin sampaikan, tentu saya akan sangat antusias merespon kalau ada pertanyaan dari semua yang memang punya hak untuk bertanya di ruangan ini.

Terima kasih Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat. Mohon maaf kalau ada kata yang salah, mungkin satu yang saya ingin sampaikan di sini, ada teman-teman KPU, maaf saya berdiri di sini, mohon dilihat saya sebagai, apa ya, posisi profesional, gitu ya. Tidak dimaksudkan untuk membela yang satu atau menjatuhkan yang lain.

Demikian, terima kasih. Wassalamu’alaikum. wr. wb. 100. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Wassalamu’alaikum .

Silakan duduk dulu Pak, nanti biar tiga orang dulu pertanyaan-pertanyaan supaya disimpan dulu.

Pak Saldi.

101. AHLI DARI PEMOHON:PROF. DR. SALDI ISRA, S.H., MPA Terima kasih Bapak Ketua Majelis Hakim yang saya muliakan. Bapak-Bapak dan Ibu Majelis Hakim yang saya muliakan.

Bapak-Bapak dan Ibu dari Pemerintah, dari KPU, Bapak Ketua KPU dalam hal ini diwakili oleh tiga orang angota KPU, Bapak-Bapak dan Ibu dari Bawaslu, kawan-kawan dari Ahli, hadirin sekalian yang saya hormati.

Saya diminta oleh Bawaslu sesuai dengan keahlian saya yaitu hukum tata negara untuk menjelaskan konstruksi Pasal 22E yang kemudian ditempatkan dalam fungsi konstitusi.

Saya tidak akan masuk ke wilayah-wilayah praktis karena itu tidak kompetensi saya untuk menjelaskannya dan tidak semuanya masuk keahlian saya. Mungkin kalau hal-hal yang agak praktis, kawan-kwan Bawaslu bisa menjelaskan. Termasuk juga salah seorang ahli, Bapak Hadar Nafis Gumay.

Bapak Ibu Majelis Hakim Konstitusi yang saya hormti,, secara klasik kalau orang bicara mengenai konstitusi, fungsi pokoknya itu ada tiga.

Yang pertama, untuk menentukan lembaga-lembaga apa saja yang ada dalam sebuah negara. Lalu kemudian yang kedua, untuk menjelaskan bagaimana hubungan, kewenangan, interaksi antar lembaga-lembaga negara itu? Yang ketiga hubungan antara negara dengan warganya. Pada prinsinya secara klasik fungsi konstitusi menjelaskan yang tiga itu. Tapi dalam perkembangan teori-teori ketatanegaraan modern, fungsi-fungsi klasik itu kemudian coba dielaborasi lebih jauh, terutama berkembangnya pemikiran tumbuh kembangnya lembaga-lembaga yang ada dalam negara. Misalnya, munculnya negara-negara di luar tiga cabang kekuasaan yang secara tradisonal kita kenal, menyebabkan ada pemikiran ulang tentang tujuan

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa dasar surat Komisi Pemilihan Umum Nomor 2545.1/13/VIII/2008 menjadi rujukan atau dasar Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Timur Tengah Selatan mengetahui kepengurusan

Menurut hemat saya kedudukan penjelasan pada Undang-Undang Nomor 30 tidak bertentangan dengan pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005 Tahun 2005,

Pada yang terhormat Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, hal permohonan pengujian materiil judicial review Pasal 154 ayat (10) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015

Maka Pemohon sangat mengharapkan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi sebagai benteng terakhir serta sebagai penjaga konstitusi di Republik Indonesia untuk melindungi hak

Pengujian Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan [Pasal 9 ayat (2a),

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945, Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Mulia, dalam kesempatan yang berbahagia ini izinkan kami menyampaikan ringkasan dari permohonan yang kami ajukan ke Mahkamah Konstitusi

Pemerintah tidak sependapat dengan Pemohon, yang menyatakan bahwa Pasal 2 ayat (2) telah bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2), dan Pasal 28D Undang-Undang Dasar