• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 30/PUU-VIII/2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 30/PUU-VIII/2010"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 30/PUU-VIII/2010

PERIHAL

PERMOHONAN PENGUJIAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN

MINERAL DAN BATUBARA TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (I)

J A K A R T A

SENIN, 17 MEI 2010

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 30/PUU-VIII/2010

PERIHAL

Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

PEMOHON

- Asosiasi Pengusaha Timah Indonesia

- Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Senin, 17 Mei 2010 Pukul 09.35 – 10.25 WIB

Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) M. Akil Mochtar (Ketua)

2) Achmad Sodiki (Anggota)

3) Ahmad Fadlil Sumadi (Anggota)

Ina Zuchriyah Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

Kuasa Hukum Pemohon:

- Dharma Sutomo Hatamarrasjid - Gala Adhi Dharma

- Fahriansyah

(4)

1. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Sidang Pemeriksaan Panel dalam Perkara Nomor 30/PUU-VIII/2010 saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Saudara Pemohon, sebagaimana ketentuan di Mahkamah Konstitusi untuk pertama kali saya persilakan Saudara memperkenalkan diri sebagai apa dalam perkara ini, silakan.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Terima kasih, Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang kami muliakan. Izinkan kami dalam kesempatan ini untuk memperkenalkan diri bahwa kami nama Dharma Sutomo Hatamarrasjid, S.H., M.H., kedua Saudara Gala Adhi Dharma, S.H., ketiga Saudara Fahriansyah, S.H., yang dalam perkara ini dalam permohonan ini mewakili Pemohon yaitu pertama Asosiasi Pengusaha Timah Indonesia (APTI), kedua Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (Astrada) Kepulauan Bangka Blitung yang dalam hal ini kami mewakili para Pemohon untuk melakukan Pengujian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sekian, terima kasih.

.

3. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Ya, yang hadir 2 orang, ya?

4. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya.

5. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Yang di belakang ?

SIDANG DIBUKA PUKUL 09.35 WIB

KETUK PALU 3X

(5)

6. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Yang di belakang kebetulan tidak pakai toga, Pak, jadi di belakang, Pak.

7. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Advokat bukan?

8. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya.

9. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Ya, diingatkan, kalau Advokat di sini harus pakai toga, kalau nggak ya duduk di belakang atau di luar. Memang ketentuannya harus begitu, jadi kita harus menegakkan ketentuan bersama-sama, ya.

10. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya, terima kasih, Majelis.

11. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Jadi diingatkan bagi mereka yang bersatus sebagai advokat karena Anda penegak hukum juga. Baik, hari ini adalah pemeriksaan Panel untuk perkara yang Saudara ajukan berkenaan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 artinya pengujian undang-undang, ya. Nah, untuk itu saya persilakan kepada Saudara untuk menjelaskan pokok-pokok permohonannya, ya soal kewenangan Mahkamah, kemudian legal standing-nya ya, norma yang diuji, batu ujinya, kemudian kenapa diuji apa kerugian-kerugian, jadi tidak usah dibaca secara highlight saja karena permohonan ini sudah ada di kita dan kita pun sudah baca, tapi karena kewajiban undang-undang kita harus memberikan masukan-masukan kalau dianggap perlu ada kepada Saudara. Oleh sebab itu dalam persidangan ini saya persilakan dijelaskan pokok-pokok permohonannya, jadi prinsip-prinsip dasarnya lah, ya sehingga Saudara mengajukan beberapa pasal hubungannya dengan konstitusionalitas yang dijamin, hak konstitusi yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar sesuai dengan batu uji dari Undang-Undang Dasar yang Saudara gunakan untuk menguji Undang-undang ini, pasal-pasal yang dimintakan.

Saya persilakan.

(6)

12. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Terima kasih, Majelis yang mulia.

Pertama, sebagaimana yang telah kami sampaikan di dalam permohonan kami, pada kesempatan ini kami mewakili para Pemohon akan mengajukan permohonan terhadap beberapa pasal dalam Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 yaitu pertama Pasal 22 yang mengatur tentang kriteria untuk menetapkan wilayah pertambangan rakyat, dimana dalam Pasal 22 Undang-Undang Minerba ini mensyaratkan yaitu pertama pada huruf a mempunyai cadangan mineral terdapat di sungai dan di antara tepi sungai, dan b endapan teras dan dataran banjir dan endapan sungai purba. Dan di dalam penjelasan undang-undang ini disebutkan tentang pengertian tepi dan tepi sungai. Nah, menurut pendapat kami atau pendapat para Pemohon bahwa khususnya dalam penambangan timah ini tidak dapat dilakukan di sungai dan di tepi sungai. Dan menurut peraturan perundang-undangan termasuk dalam peraturan daerah dinyatakan bahwa kegiatan penambangan di sungai, di tepi sungai dan di daerah aliran sungai atau DAS itu dilarang.

Dalam hubungannya dengan Undang-Undang Dasar 1945 kami melihat bahwa dalam Pasal 28 ayat (2) dinyatakan bahwa setiap orang itu berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif tersebut. Kemudian dalam Pasal 33 ayat (1),

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan”. Pasal 33 ayat (4), “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan dan berwawasan lingkungan, kemandirian, serta guna menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.

Dan kemudian ada syarat yang sudah dikerjakan itu sekurang- kurangnya 15 tahun dan inipun kami anggap bahwa kami ini adalah sebagai satu syarat yang tidak realistis khususnya untuk pertambangan timah. Karena ketentuan ini sangat tidak lazim dilakukan dalam praktik penambangan timah khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sehingga syarat tersebut kami nilai sebagai upaya yang sengaja menghalang-halangi atau menjegal rakyat untuk melakukan penambangan biji timah.

Kemudian mengenai Pasal 38 Undang-Undang Minerba itu menyatakan bahwa Izin Usaha Pertambangan atau IUP itu diberikan kepada A. Badan Usaha, B. Koperasi dan C. Perseorangan. Dan ini juga kami nilai telah bertentangan dengan Pasal 28I ayat (2), Pasal 33 ayat (1), Pasal 33 ayat (4).

Menurut hukum perusahaan, badan usaha itu dikualifikasikan, satu badan usaha yang berkualifikasi badan hukum dan kedua badan usaha yang bukan dikualifikasikan sebagai badan hukum. Karena di dalam ketentuan umum Pasal 1 angka 23 disebutkan bahwa yang dimaksud

(7)

dengan badan usaha pada Pasal 38 adalah badan usaha yang berbentuk badan hukum. Dengan hanya badan usaha yang merupakan badan hukum seperti PT, Perusahaan Negara dan Koperasi yang dapat diberikan IUP sementara badan usaha yang bukan merupakan badan hukum seperti yang berbentuk CV dan Firma tidak dapat diberikan IUP. Maka Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba telah melakukan diskriminasi dalam pemberian IUP. Ketentuan Pasal 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba ini sebagaimana tadi kami sampaikan bertentangan dengan ketentuan Pasal 28I ayat (2) dan Pasal 33 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945.

Selanjutnya mengenai Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Minerba yang menyatakan bahwa pemegang IUP atau Izin Usaha Pertambangan eksplorasi, mineral logam diberi WIUP (Wilayah Izin Usaha Penambangan) dengan luas paling sedikit 5000 hektar dan seterusnya.

Ketentuan tentang 5000 hektar sebagai syarat luas minimum IUP eksplorasi mineral dan batubara 5000 hektar, jadi Pasal 52 huruf I, Pasal 52 ayat (1), Pasal 55 ayat (1), Pasal 58 ayat (1), Pasal 61 ayat (1) ini mengenai syarat minimum luas. Ketentuan syarat minimum ini adalah syarat yang tidak mungkin dipenuhi oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah karena pemberian WIUP menimbulkan konsekuensi pembiayaannya sangat besar yang wajib dikeluarkan oleh pemegang IUP seperti membayar uang jaminan kesungguhan, memberikan jaminan reklamasi dan yang lain-lainnya. Kalau menurut hitungan kami untuk mendapatkan WIUP 5000 hektar ini harus mengeluarkan modal paling tidak sekitar 300 sampai 400 juta rupiah.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh WIUP eksplorasi seluas 5000 hektar ini maka pengusaha kecil menengah tidak akan mampu untuk memenuhi syarat tersebut. Nah, ketentuan syarat luas minimum WIUP telah menghalang-halangi, kami nilai telah menghalang- halangi dan menjegal pengusaha kecil menengah untuk berusaha di bidang pertambangan. Jika untuk mendapatkan IUPK dengan kemudian Pasal 51, Pasal 60 dan Pasal 75 ayat (4) yaitu disebutkan bahwa badan usaha swasta sebagaimana dimaksud ayat (2) untuk mendapatkan IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan IUPK ( Izin Usaha Pertambangan Khusus) dilaksanakan dengan sistem lelang, dengan pelelangan WIUP. Jika untuk mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus dan Izin Pertambangan dengan sistem pelelangan atau WIUPK secara bebas dan terbuka sama halnya menghadap-hadapkan pengusaha kecil dan pengusaha besar secara tidak seimbang. Dengan sistem lelang bebas atau terbuka seperti ini maka akan sulit bagi pengusaha kecil dan menengah bersaing dengan pengusaha besar untuk mendapatkan WIUP. Ketentuan tentang pelelangan ini telah memposisikan pengusaha kecil menengah secara tidak berdaya dan tidak adil terhadap jika dihadap-hadapkan dengan pengusaha besar.

Selanjutnya pada Pasal 169 huruf a itu yang mengatur menyatakan bahwa kontrak karya dan perjanjian karya pengusaha pertambangan yang

(8)

telah ada sebelum berlakunya undang-undang ini tetap berlaku sampai jangka waktu berakhirnya kontrak perjanjian. Ini merupakan ketentuian dalam peraturan peralihan Undang-Undang Minerba. Dalam Pasal 27 ayat ( 1 ) Undang Undang Dasar 1945 menyatakan “Bahwa segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Nah, Pasal 169 huruf a ini hanya memberikan pengecualian atau dispensasi terhadap ketentuan Pasal 72 yang menyatakan, “Kontrak karya dan perjanjian karya yang nota bene adalah dipegang atau dimiliki oleh perusahaan asing atau PMA masih tetap diakui dan berlaku.

Sementara terhadap kuasa pertambangan dan kuasa pertambangan rakyat yang dipegang atau dimiliki perusahaan nasional dan penambang rakyat tidak diberikan pengecualian atau dispensasi terhadap ketentuan Pasal 71, Pasal 73. Pasal 169 huruf a ini merupakan aturan yang diskriminatif dan bertentangan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28 huruf I dan Pasal 73 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945.

Kemudian yang keenam, Pasal 172 Undang-Undang Minerba menyatakan bahwa “Permohonan kontrak karya dan perjanjian karya, pengusahaan pertambangan batubara yang telah diajukan kepada menteri paling lambat satu tahun sebelum berlakunya undang-undang ini dan sudah mendapat persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya tanpa melakukan lelang berdasarkan undang-undang ini. Ketentuan Pasal 172 ini tidak berlaku bagi pemohon kuasa pertambangan dan kuasa pertambangan rakyat sehingga terjadinya perlakuan diskriminatif terhadap pemohon kuasa pertambangan dan kuasa pertambangan rakyat.

Ketentuan Pasal 172 merupakan aturan yang diskriminatif dan bertentangan dengan ketentuan Pasal 28I dan Pasal 33 ayat (1) dan ayat (4) Undang Undang Dasar 1945.

Majelis Hakim yang mulia, inilah beberapa ketentuan pasal-pasal dalam Undang- Undang Minerba yang kami nilai sangat bertentangan dan kami mohonkan untuk kiranya dapat diuji di persidangan ini.

Sekian, terima kasih.

13. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Baik. Sesuai dengan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, Panel ini mempunyai kewajiban memberi nasihat kepada Pemohon berkaitan dengan hal-hal yang Saudara ajukan, baik kelengkapan administrasi maupun materi permohonannya. Saya ulangi ya, Saudara mengajukan uji materi ini sebanyak 11 norma ya, 11 pasal?

14. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya.

(9)

15. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Pasal 23, Pasal 38 (…)

16. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Pasal 22, Pak.

17. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Pasal 22, Pasal 38, Pasal 51, Pasal 52 ayat (1), Pasal 55 ayat (1), Pasal 58 ayat (1), Pasal 60, Pasal 60 ayat (1), Pasal 61 ayat (1), Pasal 75 ayat (4), Pasal 172 dan Pasal 173 ayat (3)

18. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya.

19. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Nah, terhadap Pasal 22 huruf f ini, itu ada pengujian juga di Mahkamah ini ya, sedang diuji tetapi belum diputus. Kemudian Pasal 52 ayat (1) ini juga dan Pasal 172 itu merupakan materi yang juga diuji di Mahkamah Konstitusi oleh Pemohon yang lain. Nah, nanti kalau misalnya putusannya terhadap yang itu tentu akan…, kalau ini belakangan maka mutatis mutandis dia, sudah diputus terlebih dahulu.

Nah baik, sekarang coba Saudara lihat struktur permohonan Saudara, ya. Kewenangan Mahkamah okelah ya, sudah kita anggap cukuplah. Mulai dari satu, halaman 3 ini, ya. Kemudian kedudukan hukum (legal standing) ini Saudara menggunakan…, artinya dari sisi uraian tentu akan berpengaruh kepada pilihan yang Saudara pergunakan. Pasal 51 Undang-Undang MK itu memberikan beberapa kriteria dari Pemohon, pertama dia perorangan, kedua masyarakat hukum adat yang masih diakui dan sepanjang sesuai dengan hukum yang masih berlaku.

Kemudian badan hukum, badan hukum ini bisa privat, bisa publik.

Kemudian lembaga negara. Sedangkan Saudara dalam legal standing ini mempergunakan Pemohon adalah Asosiasi Pengusaha Timah Indonesia dan Asosiasi Tambangan Rakyat Daerah (ASTRADA). Nah, apakah kedua ini badan hukum?

20. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Begini Majelis, setelah kami lihat di dalam Pasal 51 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi di dalam penjelasannya disebutkan bahwa perorangan ini adalah orang perorangan atau kumpulan orang, di dalam penjelasan Pasal 51 itu disebutkan yang dimaksud dengan orang adalah

(10)

orang perorangan dan kumpulan orang, beberapa orang. Tadi memang kami kesulitan untuk menyatakan apakah ini merupakan badan hukum, karena syarat-syarat untuk ditetapkan sebagai badan hukum itu tidak ada syarat yang bisa di…, karena dia merupakan asosiasi perkumpulan, tidak ada harus disahkan oleh pemerintah (…)

21. KETUA : DR. H. M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Begini, Saudara dengar dulu, Saudara catat dulu, nanti baru Saudara respon. Saya hanya mempertanyakan apakah badan hukum atau bukan?

22. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Bukan.

23. KETUA : DR. H. M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Kalau bukan badan hukum maka sebaiknya Saudara mempergunakan perorangan warga negara atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama. Tapi kalau Saudara mulai masuk dengan legal standing asosiasi maka itu konsekuensinya Saudara bisa hitung sendiri, artinya tidak punya legal standing. Nah, jadi Saudara harus memulai masuk dengan perorangan warga negara Indonesia atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama. Kan bisa diwakili oleh salah satu warga negara pekerjaannya memang dia adalah pengusaha tambang atau apa itu beberapa orang, kelompok orang. Tapi kalau asosiasi, apakah dia badan hukum atau bukan? Memang dia tempat wadah berhimpun, tapi kan tidak asosiasi ansich. Paham, ya.

24. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya, paham.

25. KETUA : DR. H. M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Jadi pakai peorangan warga negara Indonesia atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama. Kelompok orang itu kan bisa beberapa orang, bahwa dia punya kepentingan yang sama, dalam hal ini mempunyai usaha di bidang pertambangan itu, gitu lho. Yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang atau pasal yang berlaku atau menurut Saudara bahwa pasal ini berpotensi setidak-tidaknnya merugikan kepentingan kelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama di bidang itu. Satu orang saja pun boleh. Kita sudah baca, bahwa memang asosiasinya pakai akte notaris, tapi itu namanya perkumpulan. Tapi organisasi itu, bukan badan hukum dia, ya. Itu satu catatannya.

(11)

Jadi, kalau Saudara mau, perbaiki. Kalau tidak juga tidak apa-apa, karena resikonya di sana, di sini hanya memberi penilaian dan putusan saja nanti. Itu yang berkaitan dengan legal standing. Konsekuensinya juga itu juga kepada surat kuasa Saudara, makanya tadi saya lihat ini surat kuasanya kan dari asosiasi. Si Juristio Permadata dan Hendra Apollo ini mewakili organisasi, bukan mewakili perorangan warga negara yang mempunyai kepentingan terhadap undang-undang ini. Kalau perorangan, perorangan langsung, kan bisa misalnya Juristio ini apa? Pengusaha tambang, kan begitu, pekerjaannya, punya apa, itu kan bisa dijelaskan, bisa dibuktikan dengan fotokopi tanda penduduk atau izin usaha dia, itu sudah jelas. Artinya ini entry point buat masuk. Tapi entry point ini penting, kalau Anda terganjal di situ, selesai, wassalam dia. Tapi kalau bisa masuk, baru kita bicara berikutnya. Di sini dia mewakili asosiasi. Betul bahwa mereka bergabung di asosiasi, memang perlu wadah kan, macam- macam wadahnya. Tapi tetap saja bahwa dalam melakukan kepentingan hukum ini bisa dilihat apakah asosiasi ini bisa mewakili anggotanya beracara di pengadilan? Kan perlu kita lihat nanti aktenya. Tetapi kalau dia badan hukum artinya badan hukum publik bisa saja perorangan kan?

Badan hukum privat bisa saja koperasi, PT,… jadi perorangan warga negara Indonesia. Saran kalau Saudara mau itu, itu satu.

Yang kedua, Saudara menggunakan batu uji itu 3 pasal, ya? Yang pertama Pasal 28I ayat (2), kemudian Pasal 33 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (2), ya? Betul tidak?

26. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Betul, Pak.

27. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Saudara lihat permohonannya, kalau salah nanti salah lagi.

28. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Pasal 28I ayat (2), Pasal 33 ayat (1), Pasal 3 ayat (4), Pasal 27 ayat (1).

29. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Ya? Saudara sebutkan nggak dalam permohonannya? Jangan tiba- tiba muncul di tengah jalan. Kayaknya Pasal 28I, tidak ada Pasal 27. Pasal 28I ayat (2), Pasal 33 ayat (4). Jadi tidak ada, jangan nambah-nambah di tengah jalan. Nanti Saudara perbaiki kalau Saudara mau nambah, ya.

Tidak ada Pasal 27 itu, baru tadi kita dengar. Makanya kita bilang ini Pasal 27 nya soal persamaan di depan hukum, besar dan kecil Anda persoalkan

(12)

diskriminatif, tetapi di hadapan hukum minta sama-sama. Itu juga perlu dipikirkan.

Baik, sekarang yang ada ya, Saudara menggunakan salah satu saja, yang lain silakan. Pasal 28I ayat (2) itu soal diskrimnasi. Saudara lihat Putusan Mahkamah Nomor 024 ya, Tahun 2006. Kira-kira benar tidak Saudara menggunakan pasal ini untuk menguji ini? Pengertian diskriminasi itu sudah ada, ya. Lihat Undang-Undang HAM ya 39, dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 24, di situ jelas, “Jika setiap pembatasan pelecehan, pengucilan, langsung berdasarkan pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan seterusnya….”, jadi ini dimasukkan kalau Saudara mau pakai menjadi argumentasi di dalam permohonan. Pengertian diskriminasi itu berdasarkan Undang-Undang HAM dan Putusan Mahkamah Konstitusi itulah yang Saudara pakai bahwa di situ ada undang-undang ini telah memberikan satu kualifikasi diskriminasi berdasarkan tafsir Saudara dengan argumentasi itu, ya. Ya, itu catatannya.

Kemudian permohonannya yang bagian 3 Pasal 10…, halaman 10 ini Saudara lihat, Saudara langsung menyebutkan pasal-pasal Undang- Undang Dasar. Harusnya pasal-pasal yang diuji dulu. Bolehlah argumentasi pembukaan begini, tapi jangan langsung menyebut pasal.

Pasalnya di belakang sekali setelah Saudara berargumentasi, gitu lho, bukan di depan. Tetapi itu ya soal selera, tapi struktur yang biasa di kita itu seperti itu, ya.

Lalu ada kesimpulan, boleh ada boleh tidak ada kesimpulan.

Petitum, Saudara minta yang angka duanya, “Menyatakan ketentuan pasal ini, ini, ini, khususnya ketentuan…., dan dinyatakan tidak konstitusional”.

Jadi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dulu.

Setelah pertentangan baru tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, sudah benar ayat (3) itu, tetapi yang di depan itu tidak perlu juga Saudara menyebutkan pasal-pasal Undang-Undang Dasar pun tidak apa-apa tetapi tetap menyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Baru yang ketiga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Yang keempat memerintahkan putusan ini dimuat dalam Lembaran Negara,…dimasukkan dalam Lembaran Negara atau Berita Negara perintahnya? Berita Negara.

Ya, memerintahkan Putusan MK ini dalam berita negara, begitu.

Kemudian Saudara tidak minta et aequo et bono? Ya, terserah Saudara, kalau mau tambah, kalau nggak ya kita berarti sesuai itu saja, kan gitu.

Nah, jadi saya ulangi ya, saya ingatkan legal standing kaitannya dengan kuasa, kuasanya harus ada perubahan, struktur, kemudian…, jadi legal standing-nya untuk masuk, strukturnya ya balikkanlah. Soal argumentasi diskriminasi karena Saudara pakai pasal tadi Pasal 28I itu, kira-kira tepat nggak? Kalau Saudara mau pakai 27 ya 27, gitu lho. Tadi disebut-sebut 27. Tapi Saudara bilang argumentasinya diskriminasi. Kalau saya toganya tidak sama dengan Saudara, di sini ada merah Saudara

(13)

hitam saja apakah diskriminasi? Tapi kan Pasal 27 sama di hadapan hukum. Tolonglah di (…)

Pak…, Pak Sodiki? Pak Fadlil?

30. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Saudara Kuasa Pemohon ya, tadi sudah dijelaskan tentang legal standing, saya akan masuk pada pokok permohonan dan halaman 10 kalau tidak salah itu ya, dimulai halaman 10, yang terkait dengan logika yang Saudara bangun. Saudara di dalam membangun argumentasi ini dengan menggunakan logika deduksi. Oleh karena itu Saudara sebutkan Undang-Undang Dasar ini, lalu sebutkan pasal dari Undang-Undang Minerba, lalu Saudara simpulkan pertentangan. Logika deduksi yang Saudara bangun itu kurang meyakinkan karena kurang uraian tentang argumentasi Saudara, mengapa pasal itu Saudara sebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Kalau mau mengikuti nasihat Panel, tidakpun tidak apa-apa, gitu ya. Dibalik saja, Saudara penulisannya dengan menggunakan logika tidak deduksi lagi tapi induksi. Dari induksi itu misalnya pasal yang Saudara uji itu bunyinya apa, lalu implikasi- implikasi dari pasal itu seperti apa. Implikasi itu bisa lebih dari satu, bisa 5, bisa 10 bahkan, tapi itu soal-soal yang khusus kan implikasi itu, soal- soal yang khusus itu lalu dihimpun Saudara tarik benang merahnya sehingga simpulnya apa. Dari simpulan apa itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar yang bunyinya begini, karena Undang-Undang Dasar yang bunyinya begini ini melarang diskriminasi pasal itu diskriminasi, nah begitu kan lebih enak.

Jadi untuk sampai pada simpul bertentangannya itu menggunakan peristiwa-peristiwa yang jadi implikasi dari adanya norma di dalam Undang-Undang Minerba. Lalu batu ujinya ditaruh di belakang. Katakan setelah diuraikan tentang pasal-pasal dalam Undang-Undang Minerba itu implikasinya 1, 2, 3, 4. Terus Pasal 28 ayat (1) itu, bunyinya begini, pengertiannya begini. Kemudian berikutnya lagi tinggal mudah saja ini argumentasi Saudara. Dengan demikian maka pasal…, Undang-Undang Minerba Pasal 173 atau 172 itu bertentangan dengan substansi dari pasal Undang-Undang Dasar, itu saja.

Saya membaca ini agak bingung, karena Saudara mau menguraikan ketentuan konstitusional itu begitu panjang lebarnya, ketika masuk ke norma yang diuji justru malah sedikit, malah yang diceritakan itu soal-soal fakta yang tidak bersifat normatif malah. Katakan misalnya bayarnya mahal, itu fakta, tapi mahal itu menjadikan rakyat berat, membebani rakyat itu soal lain. Nah, ini tidak ada penjelasannya. Ini mbok dibedakan antara yang pertambangan rakyat misalnya dengan izin yang berbentuk ini, kan ada 3 macam atau berapa macam tadi kan, itu dasar-dasar pembedaannya apa dibedakan menjadi kategori-kategori seperti itu, golongan golongan seperti itu? Itu lalu implikasi masing- masing apa? Kalau masing-masing itu mempunyai hak yang berbeda

(14)

diskriminasi apa tidak? Ya misalnya seperti itu. Nah, ini hantam kromo saja, makanya Pak Ketua tadi bilang ketika Saudara bilang apa namanya…, kewajiban pemerintah Saudara bilang diskriminasi, tapi ketika Saudara bilang hak-hak, Saudara ingin disamakan, gitu ya.

Nah, ini kan lalu rancu. Tapi itu silakan, ini hanya…, saya setelah membaca itu simpul saya begitu, sehingga kurang tajam, kalau bahasa yang digunakan di sini kurang menukik ke persoalan yang sesungguhnya yang Saudara harus menukik pada persoalan pertentangan itu, baru yang kedua tidak punya kekuatan mengikat itu akibat saja, karena ini tidak apa namanya…., karena bertentangan maka harus dinyatakan tidak mengikat, gitu Pak ya. Jangan lupa Undang-Undang Dasar itu adalah norma yang digunakan untuk memvalidasi norma-norma di bawahnya. Sebagai ketentuan yang memvalidasi harus simpulnya itu harus tegas, pengertiannya harus dikuasai, misalnya diskriminasi itu Mahkamah Konstitusi pernah menafsirkan apa, secara ilmiah diskriminasi itu apa. Lalu undang-undang itu bagaimana, apakah ada unsur-unsur diskriminasi di dalam undang-undang itu atau memang hal yang berbeda memang harus diperlakukan secara berbeda, gitu Pak ya.

Terima kasih.

31. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Terima kasih. Saudara Pemohon ya, coba lihat halaman 2. Halaman 2 ini Saudara yang Saudara mohon untuk dibatalkan ini Pasal 22 huruf a, c dan seterusnya sampai dengan Pasal 172 huruf a ini jumlahnya hanya 10. Tapi petitum Saudara itu tambah satu itu, ini 173 ayat (2).

Coba lihat halaman 20! Betul?

32. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Betul.

33. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Yang benar yang mana? Yang belakang apa yang muka? Coba halaman 2, yang terakhir kan Pasal 172 ayat (2), perihal itu lho, yang benar yang mana yang belakang apa yang muka? Apa benar semua?

34. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Yang Perihal, Pak.

35. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI Ya, yang perihal coba baca!

(15)

36. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Kemudian Pasal 22 huruf a dan huruf f (…)

37. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Terusnya pasal 22 huruf a, c dan f, Pasal 38, Pasal 51, Pasal 52 ayat (1)……, yang terakhir pasal berapa itu ?

38. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Pasal 73 ayat (2).

39. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI Tidak ada itu.

40. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Perihalnya Mas, perihal, coba lihat perihal depan sekali, setelah Pasal (…)

41. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Pasal 172 ayat (2) betul, ya? Nah, sekarang Kamu lihat di petitumnya halaman 20 yang terakhir pasal berapa?

42. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID 173 ayat (2)

43. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Ya, itu ada lagi 172, ayat (2) nya tidak ada, itu 172 saja. Tapi di belakang 172 saja tho petitumnya? Yang muka?

44. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID 172 ayat (2)

45. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI Yang benar yang mana ?

(16)

46. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID 172 saja yang benar.

47. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

172 ayat (2) salah? Yang muka halaman 2.

48. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID 172 itu tanpa ayat, Pak.

49. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI Ya, ayat 2 tho ?

50. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Tidak-tidak, tanpa ayat, Pak.

51. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Di Perihal Saudara itu kan pakai ayat, nah itulah nanti diperbaiki itu yang gitu itu.

52. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya, nanti diperbaiki, Pak.

53. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Ya, makanya saya tanya dulu, itu yang benar yang mana, yang muka apa yang belakang?

54. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Ini kalau yang menguji kan apa Saudara yang bikin atau orang lain yang bikin permohonan ini? Kan kira-kira gitu. Ini kok di depan hanya Pasal 172?

55. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Kesalahan ketik, Pak.

(17)

56. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Itulah jawaban yang paling mudah, salah ketik.

57. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Jadi nanti biar Saudara tidak bingung, ini maksud saya supaya diperbaiki. Oke, sekarang Saudara mau menguji Pasal 51, Pasal 51 itu bagaimana bunyinya itu? Pasal 51 kan bunyinya, “WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha, koperasi dan perseorangan dengan cara lelang”.

58. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya.

59. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Kalau itu dihapus lalu tidak ada begitu diberikan pada siapa?

60. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Tidak, maksudnya begini Pak, di pasal ini artinya WIUP diberikan dengan cara lelang, kalau lelang kan siapa penawar tertinggi, ya. Nah, artinya disamaratakan peserta lelang ini baik pengusaha kecil, pengusaha menengah, pengusaha besar, pengusaha asing itu untuk mendapatkan itu harus lelang. Jadi di sinilah kami melihat bahwa dengan sistem lelang terbuka, lelang ini terbuka, sehingga tidak…, artinya menghadap- hadapkan antara pengusaha kecil, pengusaha menengah (…)

61. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Ya, saya mengerti itu. Tapi ketika pasal itu dibatalkan berarti Pasal 51 kan tidak ada? Lalu sekarang masalahnya itu WIUP itu diberikan kepada siapa? Kan tidak ada, kan ini sudah dibatalkan, tidak kepada badan usaha, tidak kepada koperasi, tidak kepada perseorangan dengan cara lelang, ya tho?

62. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya, cuma kami berpikir begini, Pak. Pada permohonan kami, kami tidak memberikan… artinya kami minta batalkan ini kami tidak me..me..

apa…, memberikan alternatif pasal pengganti atau bunyinya penggantinya.

(18)

63. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Ya terserah Saudara, saya memberi pertanyaan lho ya, sebab pertanyaan itu Saudara nanti apakah mau memperbaiki dalam permohonan atau tidak itu terserah. Juga pada Pasal 60 itu kalau dihapus diberikan kepada siapa itu, ya, apa mau diberikan kepada asosiasi Saudara begitu, kan tidak tho. Mestinya itu pasal itu dirumuskan secara umum. Ketika WIUP itu mineral logam itu tidak jelas diberikan kepada siapa karena dibatalkan itu lalu bagaimana, gitu lho. Jadi Saudara itu harus mikir, itu dibatalkan dengan persyaratan atau dibaca secara konstitusional bersyarat atau bagaimana ini Saudara pikir, ya tho?

64. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Ya, perlu kami sampaikan Majelis, jadi di sini yang kami persoalkan sebenarnya di pasal ini mengenai caranya ya cara lelangnya itu.

65. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Ya terserah, Saudara harus bisa meyakinkan bahwa cara lelang itu adil apa tidak, gitu ya. Apa Saudara minta semacam affirmative action khusus untuk pertambangan rakyat itu begini, ini kan pemikiran baru barangkali Saudara mau berpikir ke sana, ya.

Terima kasih, Pak Ketua.

66. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Baik, semua sudah dicatat, ya. Yang perlu Saudara perbaiki itu Saudara perbaiki, jadi sesuai dengan ketentuan Pasal 49 ayat (2) itu Mahkamah wajib memberi nasihat terhadap perbaikan permohonan dan perbaikan itu selambat-lambatnya 14 hari sudah harus masuk lagi. Supaya tidak habis waktu 14 hari saya kasih waktu seminggu lah. Jadi perbaikan sesuai dengan saran-saran yang sudah disampaikan ya, diperbaiki lagi, pasal-pasal juga yang mau diuji apa seluruh pasal atau normanya atau ayatnya Anda pikir ulang, gitu lho. Kalau nanti seluruh pasalnya batal malah kekosongan hukum. Sedangkan yang Saudara maksudkan dengan cara lelang ya mungkin rasa dengan cara lelangnya saja yang batal, gitu lho, kan kira-kira begitu supaya jangan main hantam kromo saja semua, kosong pula nanti misalnya, atau seluruh undang-undangnya Saudara minta batalkan, ya jadi pikirkan kembali hal-hal yang sudah disampaikan itu Saudara perkuat kembali argumentasinya, ya. Kemudian seminggu sejak sekarang itu sudah harus masuk lagi ke Panitera. Bisa?

67. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Bisa.

(19)

68. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Dengan demikian sidang dalam perkara ini saya nyatakan (…) 69. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID

Pak Majelis, bisa mohon (…) 70. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Apalagi?

71. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Mohon bertanya, Pak, boleh Pak?

72. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Ya, apa?

73. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Nanti waktu kami merubah bisa tidak misalnya dibenarkan tidak misalnya kami mencoba untuk apa membandingkan dengan aturan-aturan yang sudah ada. Misalnya contohnya begini, mengenai lelang Pak ya, di dalam Undang-Undang Konstruksi misalnya itu ada kualifikasi dibedakan pelelangan untuk pengusaha kecil, menengah dan besar (…)

74. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Begini Pak, kalau itu kan penerapan, aplikasi. Undang-undang pengujian ini norma daripada undang-undang, jadi bukan aplikasi dari…, itu akibat daripada penerapan pasal ini, kan gitu. Nah, itu mungkin Saudara bisa contoh saja di dalamnya. Kalau di presentasi ya tidak bisa, nantilah pada saat misalnya perkara ini lolos di Pleno Saudara mengajukan Ahli, mengajukan Saksi bisa disampaikan itu ya, sebagai hal memperkuat permohonan Saudara bahwa itu memang tidak adil, bahwa itu diskriminatif, kan gitu kira-kira. Ya, cukup ya?

75. KUASA HUKUM PEMOHON: DHARMA SUTOMO HATAMARRASJID Cukup, Pak.

(20)

76. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

Dengan demikian sidang dalam Perkara Nomor 30 saya nyatakan ditutup.

Jakarta, 17 Mei 2010

Kepala Biro Administrasi Perkara dan Persidangan

Kasianur Sidauruk KETUK PALU 3X

SIDANG DITUTUP PUKUL 10.25 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Dasar-dasar yang dilakukan ini merupakan pembaharuan yang dijalankan oleh kerajaan serta kementerian pendidikan malaysia bagi mewujudkan pelajar yang mempunyai daya

Diharapkan kepada guru matematika untuk dapat menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan pendekatan Reciprocal Teaching ini sebagai salah satu

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

Subbagian Administrasi Pendidikan, Subbagian Administrasi Tenaga Kependidikan, Subbagian Administrasi Praktek Kerja Nyata, dan Subbagian Administrasi Ketarunaan dan

Berdasarkan dinamika atmosfer yang terjadi di wilayah Provinsi Jawa Tengah pada saat kejadian longsor di Pejawaran Kabupaten Banjarnegara menunjukkan sebaran jenis

Sedangkan tanah (soil) berarti bahan atau material di permukaan atau di bawah permukaan yang menyusun dan membentuk lahan di permukaan bumi. Berdasarkan pengertian tersebut,

Sehubungan dengan hal tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konstruksi model pembelajaran berbasis penemuan yang dapat meningkatkan

Tujuan penyelenggaraan Sayembara Desain Arsitektur Gedung LKPP yaitu untuk mewujudkan ide atau gagasan paling optimal sesuai dengan program ruang yang dibutuhkan serta dapat