nja kader dan bertanggung-djawab mengenai Buta Huruf/pendidikan dalam desanja, umum-
2. Pilot Project.
— Pusat Latihan Pendidikan Masjarakat (P.L.P.M.)
P.L.P.M. adalah tempat pemusatan usaha2 Pend. Masj. jang bersifat penjelidikan, pertjobaan, pentjaharian pengalaman
dsb.
Disamping sebagai pemusatan usaha-usaha tsb. P.L.P.M. didjadikan tempat latihan2, baik bagi petugas2 Djawatan Pend. Masjarakat maupun bagi kepentingan masjarakat tempat P.L.P.M. itu sendiri, terutama kepentingan2 jang bersangkutan dengan usaha2 pembangunan.
Sesuai dengan luasnja fungsi P.L.P.M. tsb. maka penjeleng- garaannja diserahkan kepada suatu Panitia P.L.P.M. jang anggota2nja terdiri dari: wakil2 masjarakat setempat dan wakil2/Kepala2 Instansi Pemerintah setempat.
Petugas2 Pend. Masjarakat (Penilik Pend. Masjarakat) sebagai tenaga chusus P.L.P.M. mendjadi sekretaris Panitia disamping memimpin urusan teknis setjara langsung me-
ngenai pelaksanaan hal-hal jang sudah diputuskan oleh Panitia.
Sebagai tempat penjelidikan dan pertjobaan P.L.P.M. mem- punjai daerah jang meliputi satu Ketjamatan. Berhubung dengan itu, untuk kepentingan koordinasi, maka Tjamat duduk dalam Panitia P.L.P.M. dan memegang djabatan Ketua.
Dalam Panitia P.L.P.M. tsb. maka tertjerminlah idee gotong- rojong antara Pemerintah dengan masjarakat dalam rangka demokrasi terpimpin. Jang memimpin adalah tjita/ rentjana pembangunan masjarakat setempat.
Tjiri dari pada P.L.P.M.
(a) keluar sebagai suatu daerah pembangunan masjarakat lengkap dengan basis interdepartemental.
(b) kedalam sebagai daerah pertjobaan dan pertjontohan. (c) Balai P.L.P.M. merupakan bagi masjarakat suatu Balai
Kebudajaan.
—Pusat Latihan Pendidikan Masjarakat Wanita (P.L.P.M.
Wanita).
Dalam garis besarnja sama dengan P.L.P.M., hanja gerak usahanja chusus dibidang kewanitaan. Adanja P.L.P.M. chusus Wanita ini dipandang perlu mengingat pentingnja bidang kewanitaan dalam rangka usaha2 „Kesedjahteraan Keluarga” dan penanaman „idee Kekeluargaan”.
P.L.P.M. wanita merupakan pertjobaan untuk membina „perkembangan keluarga terpimpin”.
—Craft Project.
Craft Project bertudjuan mempertinggi taraf penghidupan rakjat dengan melalui usaha keradjinan tangan. Dengan melalui Craft Project ini Pend. Masjarakat meletakkan dasar2 bagi :
(1). penggunaan waktu terluang jang lebih effisien dan ekonomis.
(2). penggunaan bahan2 setempat (serabut, tempurung, bambu, rumput2an, kaju2an, dsb.) setjara lebih pro- duktif.
(3). tumbuhan daja kreasi baru (motif baru, alat2 baru, tjara2 baru, dsb.).
(4). usaha-usaha setjara kooperatif (gotong-rojong setjara rasionil.
Tempat penjelenggaraan usaha pilot ini di P.L.P.M. dan penjelenggaraannjapun diserahkan kepada P.L.P.M.
Usaha keradjinan tangan meliputi:
a) keradjinan tangan jang sudah dikenal, hingga Craft Project berusaha untuk mempertinggi teknik, kwalitet dan organisasinja.
1203 t
b) keradjinan tangan jang belum dikenal, tetapi jang bahan2nja ada ditempat itu.
— Project Batjaan.
Pilot Project Batjaan ini bermaksud untuk mendapatkan tjara penjelenggaraan usaha pemeliharaan bagi mereka jang telah terberantas buta-hurufnja dengan melalui pener- bitan madjallah.
Usaha pilot ini diserahkan kepada daerah jang sanggup menjelenggarakannja. Djawatan Pend. Masjarakat membe- rikan „stoot kapitaal” sebesar Rp. 25.000,— jang kemudian hari harus dikembalikan setjara ber-angsur2. Stootkapitaal jang sudah dikembalikan ini kemudian diberikan kepada daerah lain jang sanggup menjelenggarakannja. Dengan tjara ini ditumbuhkanlah kemampuan daerah (masjarakat setempat) untuk menjelenggarakan usaha pemeliharaannja sendiri bagi orang jang telah terberantas buta-hurufnja. Organisasi penjelenggara Project Batjaan ini disusun dari atas (Kabupaten) sampai ke-pelosok2 (desa2, RK dan RT). Langganan madjallah dapat dilakukan setjara kolektip de- ngan melalui kelompok2 pembatja jang dibentuk di RK2/ RT2. Jang sedang berdjalan di Madjalengka, maksudnja untuk diluaskan sebanjak mungkin.
3. — Taman Teruna (Youth Centre).
Taman Teruna adalah tempat untuk melatih pemuda2 baik setjara umum maupun untuk keperluan2 chusus (gerakan kebersihan, kepanduan, olah raga, kedjuruan, dsb.) guna mempelopori usaha2 dalam daerahnja.
Keadaan Taman Teruna harus disesuaikan dengan keadaan alam pemuda.
Tempatnja dialam terbuka (diluar kota, didaerah pegu- nungan, dsb) Taman mempunjai perlengkapan2 seperti : pondok penginapan, tempat beladjar, ruang2 kerdja, ruang rekreasi lapangan olah raga, kebun2 dsb.
Selain untuk tempat melatih pemuda2 guna didjadikan pelopor bagi usaha2 pembangunan didaerahnja. Taman Teruna dapat pula dipergunakan sebagai tempat peristira- hatan pemuda (jeugdherberg). Sambil beristarahat mereka dapat diberi latihan2 jang berguna.
Taman Teruna direntjanakan sebuah ditiap Kabupaten. Pemimpin Taman Teruna diserahkan kepada Penilik Pend. Masjarakat jang telah mendapat latihan terlebih dahulu chusus mengenai Teruna Karya. Dimaksud setiap keputus-an memiliki sebuah Taman Teruna Lengkap dan permanen, sedang latihan ketarunaan dapat djuga diadakan terlepas di Ketjamatan.
4. — Perentjanaan tugas dan usaha untuk Pemerintah dan Swasta dalam lapangan pendidikan/pengadjaran.
Pada dasarnja dalam Pend. Masjarakat tak ada pembatasan tugas dan usaha antara Pemerintah dan pihak Swasta.
Berdasarkan prinsip kesatuan, maka usaha Pend. Masjara- kat diselenggarakan oleh Pemerintah dan masjarakat ber- sama-sama.
Perbedaan tugas dan usaha, bila ada, hanjalah akibat dari pada pembagian kerdja dalam penjelenggaraan usaha Pend. Masjarakat.
Dalam soal tenaga, pemerintah menjediakan pegawai2nja (Djuru, Pengamat, Peneliti, dsb.) sedang masjarakat me- njediakan kader2nja.
Dalam soal keuangan dan alat2 Pemerintah memberikan bantuan sekedarnja sedang masjarakat menjediakan keku- rangan-kekurangannja sesuai dengan keperluan dan ke- mampuannja.
Dalam soal gedung2, Pemerintah memberikan sekedar bantuan keuangan sedangkan masjarakat menjediakan bahan2 (pasir batu, dsb.), tenaga2 kerdja (gotong-rojong penduduk) dll. sesuai dengan kemampuannja.
Dalam soal teknik penjelenggaraan Pend. Masj., Pemerintah memberikan pedoman, bimbingan2, dsb. sedang masjarakat menjediakan badan2 penjelenggaraannja (Panitia2 Pend. Masjarakat, Lembaga2 Pendidikan, dsb.).
5. — Tjara2 baru untuk menambah dan meninggikan ketjerdas-
an rakjat.
Karena dalam Pend. Masjarakat usaha menambah dan meninggikan ketjerdasan rakjat dimaksudkan untuk mem- berikan dasar2 bagi semua usaha pembangunan, maka tjara jang se-tjepat2nja adalah integrasi dengan semua instansi jang bersangkutan dengan itu.
Pendidikan Kader, penjelenggaraan Pilot Project, dll. harus dilakukan ber-sama-sama dengan instansi-instansi jang bersangkutan (prinsip kesatuan usaha dalam meng- hadapi masjarakat).
Dasar integrasi ini perlu mengingat bahwa semua usaha pembangunan harus didahului dengan usaha pendidikan (ingat putusan musjawarah Nasional Pembangunan).
6. — Tjara2 untuk menambah djumlah dan perbaikan mutu Para
tenaga kedjuruan.
Lihat tentang Craft Project. § 927. Keadaan jang mendjadi tudjuan
Tudjuan dari pada Pendidikan Masjarakat.
a. Djika pendidikan disekolah pada umumnja ditudjukan kepada pembangunan generasi masa datang, maka pendidikan masjarakat adalah untuk memetjahkan persoalan2 jang dihadapi pada saat se- karang atau menghendaki pemetjahan pada waktu dekat. Karenanja selalu kelihatan 2 aspek didalam pekerdjaannja jaitu:
1. membuat fungsionil atau aktip tenaga atau organisasi jang telah ada ditengah-tengah masjarakat dan
2. sekedar mempertinggi mutu individu2 sebagai landasan untuk menjusun suatu ikatan (community) jang hidup kreatip me- njelesaikan segala persoalan jang dihadapi.
Didalam suatu bentuk jang ekstrim, maka djika suatu kelompok masjarakat (ump. desa) kekurangan „pangan” maka harus diada- kan „pendidikan” demikian rupa jang membuat masjarakat:
— menjadari akan kurangnja pangan itu,
— merasa bertanggung-djawab akan pemetjahan persoalan itu, — mengadakan musjawarah (kursus) untuk mengatasinja,
— menjusun rentjana dan organisasinja untuk menjelesaikan per- soalannja,
— melatih tenaga2 pimpinan dan tenaga pelaksananja,
— mengatur methode kerdja, serta timing didalam pelaksanaannja, — mengadakan perhitungan (evaluasi) kalau hasil sudah masuk
untuk bahan penjempurnaan buat masa datang.
Dalam perwudjudan tjita2- jang bulat sebagai tertera diatas, maka „perentjanaan usaha-usaha, pembangunan mental berbeda dari pada dalam dunia pendidikan sekolah.
Kalau pendidikan masjarakat menundjukkan usahanja kepada pembangunan masjarakat desa (termasuk kampung2 didalam kota), maka ini tidak berarti bahwa para tjerdik-pandai tidak termasuk dalam rangka itu, melainkan ditempatkan dalam kedudukan „jang bertanggung-djawab”, sebagai tenaga-masjarakat jang diharapkan akan memegang pimpinan.
Usaha2 pembangunan mental jang ingin dikerdjakan didalam suatu community itu adalah :
(a). mempertinggi pengetahuan dan ketjerdasan masjarakat desa umumnja sementara paling sedikit setaraf lulusan S.R.
(b). menanamkan rasa tanggung-djawab terhadap keadaan masja- rakat dan desanja sehingga selalu bergerak membangun untuk mentjukupi keperluan hidup ;
(c). menanamkan rasa kekeluargaan (kesosialan) sekian djauhnja sehingga hidup bergotong-rojong-desa, bukan sadja bertjorak sosial, melainkan djuga bergotong-rojong ekonomis.
(d). menanamkan kesadaran bahwa untuk membangun diperlu- kan:
— taraf pengertian dan kesadaran umum jang tjukup,
— tersedianja kader2 dalam segala lapangan jang terdidik, sesuai dengan keperluan dan kemampuan desa,
— adanja usaha mendapatkan keuangan untuk membiajai pembangunan.
(e). tudjuan djangka pendek dari seluruh usaha pendidikan ma- sjarakat dalam taraf desa ialah tertjapainja suatu masjarakat swadaja dalam anti kulturil, sehingga siap sedia untuk disuruh menjelenggarakan daerah otonom tingkat ke-III dengan hasil jang baik dan sampai batas2 tertentu tidak memerlukan bantuan/subsidi dari mana djugapun.
b. Perentjanaan Pendidikan Masjarakat.
Sesuai dengan prinsip Kesatuan dan swadaja jang dianut oleh Djawatan Pendidikan Masjarakat maka perentjanaannjapun bertjorak bulat, utuh, total, lengkap.
Orang baru dapat puas, kalau boleh menginginkan sesuatu, boleh merentjanakan untuk mentjapainja boleh berbuat sesuatu untuk mendapatkan, boleh menikmati hasilnja dan boleh mengambil ke- simpulan dari perbuatannja itu. Sesuatu gambaran djiwa jang bulat itulah jang merupakan pendorong, motief untuk perbuatannja.
Agar masjarakat djangan terhalang untuk mendapatkan hasil per- buatan itu, perlu disadarkan bahwa sjarat jang berupa alat dan biajapun harus dipenuhi pula. Kalau didatangkan bantuan dari luar (pemerintah) baik berupa tenaga, maupun biaja sekedarnja adalah bersifat bantuan sementara, pada taraf permulaan.
Untuk membawa masjarakat kearah pendewasaannja, jaitu masja- rakat jang serba-menggantungkan baik bathin maupun lahir, men - djadi masjarakat bertanggung-djawab, berswadaja dan berswatjipta jang sanggup mengisi suatu daerah otonom sebagai perumahan jang selaras untuk masjarakat dewasa, maka usaha2 pendidikan masjarakat adalah alat belaka untuk menjediakan sjarat dan sifat jang diperlukan oleh suatu masjarakat-dewasa itu.
Rangkaian usaha jang disusun atas dasar pemikiran sosial-paeda- gogis, harus satu dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Orang dewasa hanja tertarik oleh masalah2 jang langsung membawa ke- madjuan dalam hidupnja. Bentuk Usaha, organisasinja, isinja dan tjara pelaksanaannja seharusnja merupakan suatu kesatuan-bulat dengan hidup kemasjarakatan masing2 kelompok (community). Diakui bahwa pada saat sekarang pemikiran sematjam ini masih menghadapi kesulitan. Orang masih terlalu biasa untuk mengada- kan batas jang tadjam antara pendidikan (pengadjaran ?) dengan kehidupan atau pembangunan.
§ 928. Target untuk pelaksanaan sistim pendidikan
Djumlah desa diseluruh Indonesia ± 50.000 (49.435) dan djumlah Ketjamatan ± 3.000 buah. Target untuk satu Ketjamatan dapat dilihat dalam rentjana 5 tahun jang ke-3 Djawatan Pendidikan Masjarakat seperti tertera dibawah ini.