• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jilid-06 Depernas 24-Bab-79

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jilid-06 Depernas 24-Bab-79"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

R A N T J A N G A N

Dasar Undang­Undang Pembangunan Nasional­

Semesta­Berentjana delapan tahun 1961­1969

Disusun oleh Dewan Perantjang Nasional

Republik Indonesia

­­­­­­­­­­­­

BUKU  KE – TIGA Bidang Mental/Ruhani

Dan Penelitian

­­­­­­­­­­

DJILID VI :

Pola Pendjelasan Bidang Pendidikan Paragrap :  909 – 989 Halaman :  1143 – 1380

(2)

RANTJANGAN

DASAR UNDANG-UNDANG PEMBANGUNAN NASIONAL - SEMESTA - BERENTJANA

DELAPAN TAHUN : 1961-1969 DJILID VI

(3)
(4)

R A N T J A N G A N

Dasar UndangUndang Pembangunan Nasional

-Semesta-Berentjana delapan tahun : 1961 -1969

disusun oleh Dewan Perantjang Nasional

Republik Indonesia

TERDIRI ATAS:

BUKU KE — SATU : Pokok-pokok Pembangunan Nasional Semesta-Berentjana.

BUKU KE — DUA : Rantjangan Bidang Pokok Projek Pem-bangunan Nasional-Semesta-Berentjana. BUKU KE — TIGA : Bidang Mental/Ruhani dan Penelitian. BUKU KE — EMPAT : Bidang Kesedjahteraan, Pemerintahan dan

(5)
(6)

B U K U K E - T I G A

BIDANG MENTAL/RUHANI DAN PENELITIAN

DJILID VI: POLA PENDJELASAN BIDANG PENDIDIKAN

ISINJA:

B A B PARAGRAP HALAMAN

79. PENDIDIKAN KEDJURUAN 909- 923 1149

79A. PENDIDIKAN MASJARAKAT 924- 933 1189

79B. PENDIDIKAN AGAMA 934- 939 1248

79C. PENDIDIKAN DJASMANI 940- 942 1260

79D. PENDIDIKAN DILAPANGAN

KEBUDAJAAN/KESENIAN 943- 947 1274

80. PERGURUAN TINGGI 948- 959 1302

81. USUL - USUL 960- 978 1333

82. KEWADJIBAN BELADJAR 979- 987 1362

(7)
(8)

BAB 79. PENDIDIKAN KEDJURUAN § 909. Pendahuluan

Tjara berfikir dan sikap masjarakat.

Untuk memberi pendjelasan bagaimana hubungan antara pendidikan umum dengpendidikan pendidikpendidikan kedjurupendidikan perlu kita mendjelaskpendidikan ke -adaan tjara berfikir rakjat Indonesia sekarang:

Tjara berfikir.

Keadaan tjara berfikir rakjat Indonesia sekarang pada dasarnja disebabkan oleh adanja 2 faktor jaitu pertama faktor-faktor jang ter-dapat didalam masjarakat Indonesia sendiri seperti misalnja adat-istiadat, kebiasaan dalam kehidupan sosialnja serta kedua faktor2 dari luar seperti misalnja perkembangan/kemadjuan ilmu ekonomi/teknik modern dan terutama akibat pendidikan dari zaman pendjadjahan jang sifatnja sangat intelektualistis dan mononolitis.

Sebagai tjontoh jang sekarang masih segar hidup didalam alam fikiran rakjat Indonesia dapat dikemukakan bahwa penilaian terhadap sesuatu kerdja dan djabatan tidak hanja meliputi segi efesiensi eko-nomis dan hasilnja, tetapi djuga segi prestige sosial, dsb.

Dalam hal ini dapatlah disini diberikan beberapa tjontoh-tjontoh jang lebih kongkrit lagi jaitu :

1. Pandangan jang merendahkan pendidikan kedjuruan pada umum -nja dan sekolah-sekolah kedjuruan pada chusus-nja terhadap pada pendidikan/sekolah-sekolah umum.

Banjak kaum buruh dan tani jang mengingini/memasukkan anak-anaknja kesekolah-sekolah umum, agar supaja anak-anak mereka kaiak dapat mendjadi pegawai negeri, terutama pegawai negeri jang bekerdja dikantor (dibelakang media). Dalam pandangan me-reka pegawai negeri dalam kedudukannja sosial maupun ekonomis adalah lebih tinggi daripada buruh atau tani.

Begitupun pandangan terhadap idjazah sebagai kuntji untuk dapat mendjadi pegawai negeri.

Walaupun dikota-kota besar pandangan terhadap pegawai negeri sudah banjak mulai merosot, namun penghargaan terhadap sese-orang berdasarkan idjazah masih djuga sangat besar.

S i k a p .

Setjara singkat dapat didjelaskan disini adanja gedjala2 jang di-rasakan sedang tumbuh didalam masjarakat Indonesia jaitu diantaranja mengenai sikap terhadap semangat gotong-rojong. Dirasakan sudah mulai adanja perobahan sifat gotong-rojong sebagai salah satu tjiri jang chas dari rakjat Indonesia jaitu dari gotong-rojong jang tadinja sifatnja tradisionilstatis mendjadi gotong-rojong jang sifatnja rasionil-dinamis.

(9)

terhadap sesuatu kerdja atau djabatan dari segi efisiensi-ekonomis dan hasilnja.

Tjatatan: Dikota-kota besar (mis. Djakarta dsb.) pada umumnja semangat berkorban, dsb. sudah sangat berkurang. Semangat individualisme mulai meradjalela.

Disini pendidikan seharusnja melakukan peranan jang menentukan.

§ 910. Persiapan untuk idee-idee baru Lembaga Pendidikan Guru.

Adanja Lembaga Pendidikan Guru sebagai tempat perseniaian idee2 baru harus dianggap sebagai urgensi, agar dapat ditjiptakan curriculum jang tegas ditudjukan kepada pembangunan.

Pembaharuan dengan idee-idee jang kabur tidak banjak artinja. Oleh sebab itu suatu Lembaga Pendidikan Guru jang tetap, jang memberikan bimbingan bagi tenaga-tenaga pelaksana, tenaga jang dapat dengan penuh kejakinan mengadjak anak-anak kepada tudjuan pen-didikan jang djelas, sangat diperlukan.

Berhasilnja realisasi pendidikan jang berdasarkan azas-azas dan komposisi curriculum Pendidikan Kedjuruan banjak tergantung pada Pendidikan Guru Kedjuruan.

Dan haruslah diakui bahwa Lembaga Pendidikan Guru Kedjuruan, oleh berbagai-bagai faktor, belum dapat memenuhi tugasnja se- baik2nja.

Lembaga Pendidikan Guru Kedjuruan haruslah termasuk dalam sistim dan organisasi Pendidikan Kedjuruan, untuk memelihara hu-bungan erat dengan sekolah-sekolah kedjuruan dimana para guru-guru keluaran Lembaga tersebut akan bergerak untuk merealisasi azas-azas Pendidikan Kedjuruan pada umumnja dan tudjuan tiap-tiap sekolah pada chususnja.

§ 911. Keadaan Sekarang Organisasi Sekolah Kedjuruan.

DJAWATAN PENDIDIKAN KEDJURUAN MELIPUTI: a. Pendidikan Kedjuruan Kewanitaan.

b. Pendidikan Teknik. c. Pendidikan Ekonomi.

d. Pendidikan Kedjuruan-kedjuruan lain. e. Pendidikan Guru.

Tiap-tiap matjam pendidikan itu, masing-masing mengasuh Sekolah/ Kursus-kursus sebagai berikut:

a. Pendidikan Kedjuruan Kewanitaan : 1. S.K.P. — 2 tahun

2. S.K.P. — 4 tahun 3. S.G.K.P.

(10)

b. Pendidikan Teknik : 1. S.K.

2. S.T. 3. S.T.M. 4. S.G.P.T. 5. K.G.S.T. 6. K.A.T. A/B c. Pendidikan Ekonomi:

1. S.M.E.P. 2. S.M.E.A. 3. K.D.P.

d. Pendidikan Kedjuruan-kedjuruan lain : 1. S.P.K.

2. S.M.K.A. 3. S.K.Ph.

4. S.G. Gambar & Pekerdjaan Tangan. 5. K.P.A.

6. K.P.A.A. 7. K.K.K. e. Pendidikan Guru :

B . I / B . II.

§ 912. Azas komposisi curriculum pendidikan kedjuruan pada

umumnja

a. Azas-azas pendidikan kedjuruan.

Menurut undang-undang pokok pendidikan (Undang-undang No. 12 tahun 1954) Bab III pasal 4, tentang dasar-dasar pendidikan dan pengadjaran disebut demikian: Pendidikan dan Pengadjaran berdasarkan atas azas-azas jang termaktub dalam „Pantja Sila” Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebu -dajaan kebangsaan Indonesia.

„Pantja Sila” ialah 5 dasar pokok : (1) Ketuhanan Jang Maha Esa. (2) Kebangsaan.

(3) Perikemanusiaan. (4) Demokrasi. (5) Keadilan Sosial.

Kebudajaan kebangsaan Indonesia ialah segala kekajaan budaja bangsa Indonesia, rochani dan djasmani.

b. Tentang tudjuan pendidikan dan pengadjaran disebut pada Bab

II pasal 3 U.U. pokok.

(11)

Tentang maksud pendidikan dan pengadjaran disebut pada Bab V pasal 7 ajat 3 mengenai sekolah landjutan :

Pendidikan dan pengadjaran menengah (umum dan vak) bermak-sud melandjutkan dan meluaskan pendidikan dan pengadjaran jang diberikan disekolah rendah untuk mengembangkan tjita2 hidup serta membimbing kesanggupan murid sebagai anggota ma-sjarakat, mendidik tenaga2 ahli dalam pelbagai lapangan chusus sesuai dengan bakat masing2 dan kebutuhan masjarakat dan/atau mempersiapkannja dan bagi pendidikan pengadjaran tinggi.

c. Komposisi curriculum.

Dalam rentjana peladjaran sekolah kedjuruan terdapat 3 djenis mata peladjaran :

1. Mata peladjaran pokok (professional subjects) jang meliputi rata2 50% daripada isi rentjana peladjaran.

2. Mata peladjaran penting (related subjects) jang bersifat pe-nerangan/pengetahuan theoretis kepada mata peladjaran pokok (25%).

3. Mata peladjaran umum, jang harus memberikan didikan ke-arah manusia susila jang tjakap dan warganegara jang ber-tanggung-djawab (civics = 25%).

Mata peladjaran pokok sekolah kedjuruan pada hakekatnja dapat digolongkan berhubungan dengan:

1. Produksi :

Pendidikan Teknik. 2. Distribusi :

Pendidikan Ekonomi.

3. Service/konsumsi/Social work. Pendidikan Wanita.

Pendidikan kedjuruan lain.

Sesuai dengan itu diselenggarakan djuga Pendidikan Guru.

§ 913. Azas dan Komposisi curriculum tiap2 djenis pendidikan

kedju-ruan jang chusus

a. Pendidikan Teknik.

Tudjuan pendidikan teknik pada chususnja ialah menjiapkan te-naga-tenaga ahli teknik dalam ber-matjam- tingkatan (rendah, menengah, atas) untuk menempati tempat2 diperusahaan pertu-kangan/teknik jang merupakan unsur2 penting dalam perkembang-an negara dperkembang-an masjarakat kearah industrialisasi.

1. Sekolah Keradjinan (1 atau 2 tahun sesudah S.R.).

Ada ± 20 matjam, bergantung pada djenis keradjinan, keka-jaan alam dan kebutuhan akan tukang2 setempat.

Keradjinan kaju, batu, besi, mobil, listrik, sepeda, perabot rumah, kulit sepatu, tenun, keramik, anjam, perahu, kaleng,

(12)

tjat, las, tanduk, mendjahit, ukir, dsb. + 80% rentjana pela-djaran untuk latihan kerdja praktis.

2. Sekolah Teknik (3 tahun sesudah SR.).

—Menjiapkan „skilled people” jang akan bekerdja sebagai „craftsmen” dalam sesuatu perusahaan teknik.

Djurusan bangunan gedung2 bangunan air, mesin, mobil, listrik, tambang, perabot rumah, ukir, ukur tanah, tenun, kramik, radio, bangunan kapal, pertjetakan, motor diesel dsb.

—Mata peladjaran praktek ± 50%.

3. Sekolah Teknik Menengah (3 tahun sesudah S.M.P.).

—Mempersiapkan „technician” untuk dapat memimpin seba-gian pabrik atau tempat kerdja (werkplaats).

—Djurusan bangunan gedung/air, mesin, listrik, mobil, tam-bang, pesawat tertam-bang, radio, bangunan/mesin kapal, kimia, gula.

4. Kursus Ahli Teknik A (K.A.T.-A 1 tahun sesudah S.T.M.).

—Untuk memperdalam pengetahuan jang didapat di S.T.M. —Bersifat Teoritis

5. Kursus Ahli TeknikB. (2 tahun sesudah K.A.T.-A)

Mendidik tenaga ahli teknik jang akan mendampingi insinjur2 dalam pekerdjaan research.

b. Pendidikan Ekonomi.

Maksudnja ialah mendidik tenaga2 untuk melaksanakan usaha2 perdagangan pertengahan, maupun tingkat perdagangan jang lebih tinggi dan perdagangan luar negeri.

1. Sekolah Menengah Ekonomi tk. Pertama.

(S.M.E.P. = 3 tahun sesudah S.R.).

Tudjuan: Menjiapkan tenaga2 jang tjukup mempunjai inisiatif dan bakal keachlian untuk berusaha sendiri dalam lapisan pel-bagai tjabang usaha pertengahan.

2. Sekolah Menengah Ekonomi tk. Atas.

(S.M.E.A. — 3 tahun sesudah S.L.T.P.):

Tudjuan : Menjiapkan tenaga2 ahli administrasi menengah jang diperlukan bagi usaha pembangunan baik dikantor-kantor pemerintah maupun perusahaan2 partikelir.

3. Kursus Dagang Pertama (K.D.P.)

Tudjuan: Memberikan kesempatan bagi jang beridjazah S.R. (umur 18 — 25 th.) untuk memperoleh pendidikan praktis agar dapat melaksanakan usaha2 perdagangan Pertengahan Tingkat Pertama (Tidak untuk melandjutkan sekolah).

(13)

c. Pendidikan Wanita.

Tudjuan: Mendidik gadis2 mendjadi wanita susila dan ber-guna dengan djalan pendidikan kedjuruan kewanitaan di:

S.K.P. 2 tahun (Home - making) S.K.P. 4 tahun (Vocational Education) S.G.K.P. 4 tahun (Teacher-Training Education) B.I.P.K.P. (Home - Economis College). Pendidikan Kedjuruan Kewanitaan diarahkan kepada: A. Pendidikan Kepribadian (watak)

B. Pendidikan Kedjuruan C. Pengetahuan Penting D. Pengetahuan Pelengkap. S.K.P. 2 tahun dan 4 tahun. Tudjuan :

—Mendidik anak2 gadis mengembangkan bakatnja dalam se-suatu kedjuruan sesuai dengan ketjakapannja, supaja dapat berdiri sendiri.

—Mendidik anak2 gadis kelak mendjadi ibu jang tjerdas dan tjekatan bagi kesedjahteraan keluarga dalam arti jang luas. (a). S.K.P. 2 tahun.

—Untuk mendidik dan memberikan ketjakapan kepada gadis2 (umur 15 - 1 7 tahun) jang berguna untuk da-pat mempertinggi tarap rumahtangga keluarga jang berarti pula mempertinggi tarap rumahtangga sekitar-nja.

—Pendidikan kedjuruan praktis untuk mentjukupi ke-perluan pokok sehari-hari ialah :

makanan, pakaian, pemeliharaan, keradjinan, penge-tahuan.

(b). S.K.P. 4 tahun.

— Dalam 2 tahun kelas persiapan diberikan matapela-djaran kerumahtanggaan dan pengetahuan umum. — Sesudah itu 2 tahun pendidikan kedjuruan chusus. (1). Kedjuruan Makanan. (Bagian A)

— Memberi pendidikan untuk dapat memimpin/ membantu dapur umum, restoran, rumah piatu, rumah penginapan, rumah sakit, tempat peristirahatan, asrama bagian dapur.

— Membantu Lembaga Makanan Rakjat dalam hal memberi penerangan kepada rakjat.

— Memberi peladjaran masak pada kursus2 se-derhana.

(14)

(2). Kedjuruan Pakaian. (Bagian B)

—Memberi pendidikan untuk dapat membuka sendiri atau membantu/pengawas perusahaan pakaian.

—Mendjadi pegawai asrama, hotel, rumah sakit dsb.

—Membuka kursus mendjahit. (3). Kedjuruan Keradjinan. (Bagian E)

—Memberikan pendidikan untuk dapat mem-buka/membantu/mengawasi perusahaan batik, atau keradjinan indah.

—Memberi peladjaran pada kursus2 kelas kedju-ruan dan untuk sementara pada S.R.

d. Pendidikan Kedjuruan Lain-lain.

Tudjuan: Memberikan pendidikan dalam djenis2 kedjuruan jang belum tertjantum dalam no. a, b dan c tersebut diatas.

1. Kursus Pegawai Administrasi (K.P.A.)

Tudjuan :

Memberikan pendidikan tambahan kepada pegawai2 Negeri tambahan S.R. Negeri 6 th. atau S.R. bersubsidi 6 tahun, guna mentjapai idjazah jang untuk bekerdja dipandang sederadjat dengan idjazah S.L.T.P.

2. Kursus Pegawai Administrasi tk. Atas. (K.P.A.A.).

Tudjuan :

Mendidik Pegawai Negeri tamatan K.P.A. dan/atau tamatan sekolah landjutan tingkat pertama dengan susunan peladjaran jang berpedoman kepada keahlian jang harus dimiliki seorang pegawai menengah untuk melakukan tugasnja dengan sebaik-baiknja.

3. Sekolah Menengah Kehakiman tk. Atas. (S.M.K.A.).

Tudjuan :

Memberi pendidikan chusus tingkat atas kepada (tjalon) Pe-gawai Kementerian Kehakiman jang beridjazah S.M.P.

4. Sekolah Pendidikan Kemasjarakatan (S.P.K.).

Tudjuan:

Mendidik dan memberi peladjaran beserta latihan pemuda2 jang berhasrat mendjadi pekerdja sosial tingkat menengah untuk Pembangunan Negara, teristimewa dalam lapangan pe-njuluhan dan bimbingan masjarakat.

Memberi kemungkinan dan kesempatan untuk mentjapai idjazah pekerdja sosial tingkat menengah, jang memberi we-wenang kepada pemegang idjazah untuk mendjalankan sesuatu kedjuruan dalam lapangan jang telah dipeladjarinja. Memberi kemungkinan untuk mengikuti peladjaran landjutan, jang ber-sifat spesialisasi, baik jang diselenggarakan oleh badan2

(15)

didikan jang bertingkat semi-akademis maupun akademis, dalam djurusan jang sesuai dengan disiplin dalam lapangan ilmu „Social Sciences”.

5. Kursus Kader Koperasi. (K.K.K.).

Tudjuan :

Mendidik tenaga2 kader koperasi jang dapat membimbing koperasi didaerah-daerah, bank didalam maupun diluar sekolah.

6. Sekolah Kedjuruan Perhotelan (S.K.Ph.).

Tudjuan :

Memberi pendidikan kedjuruan Perhotelan.

e. Pendidikan Guru Kedjuruan.

Tudjuan lembaga2 Pendidikan Guru Djawatan Pendidikan Kedju-ruan pada pokoknja jaitu mempersiapkan tenaga2 pendidik jang akan tjita2 pendidikan kedjuruan dan tjukup terlatih dan berpe-ngetahuan untuk dapat melakukan tugasnja sebaik-baiknja.

1. Pendidikan Guru Pendidikan setingkat S.L.T.P. (a). Sekolah Guru Pendidikan Teknik. (b). Kursus Guru Pendidikan Teknik. (c). Sekolah Guru Kepandaian Putri.

(d). T.P.G.K.P. (Kursus Tertulis Persamaan Guru Kepandaian Putri).

(e). Sekolah Guru Gambar dan Pekerdjaan Tangan.

ad. a. Sekolah Guru Pendidikan Teknik (S.G.P.T. 3 tahun sesudah S.T.).

—Mendidik guru2 untuk sekolah Teknik 3 tahun. Terutama guru2 praktek (workshop) dan guru2 „related subjects” (Pelengkap).

—Djurusan mesin, listrik, mobil, diesel, kerdja kaju dengan mesin, perkapalan, pertjetakan.

ad. b. Kursus Guru Pendidikan Teknik (K.G.P.T.).

—Memberikan „upgrading” kepada guru2 Sekolah Teknik jang belum mempunjai wewenang penuh. ad. c. Sekolah Guru Kepandaian Putri (4 tahun sesudah

S.L.T.P.).

a. Tudjuan :

1. Mendidik dan memberi peladjaran beserta latihan kepada gadis2 jang berhasrat mendjadi guru dalam mata2 peladjaran kedjuruan.

2. Memberi kemungkinan dan kesempatan untuk mentjapai idjazah guru keahlian jang memberi wewenang kepada pemilik idjazah tersebut diatas untuk mengadjar dalam mata2 peladjaran kedju-ruan pada Sekolah Landjutan tingkat Pertama.

(16)

3. Mendidik gadis2 mendjadi tenaga menengah untuk turut serta dalam pembangunan dan perbaikan rumah tangga rakjat melalui kursus2.

4. Menjiapkan gadis2 mendjadi tenaga kedjuruan di-perusahaan2 Pemerintah/Partikelir.

5. Menjempurnakan pendidikan menengah dengan pendidikan chusus laksana wanita.

b. Kedjuruan2 jang ada di S.G.K.P.

1. Kedjuruan A : Memasak dan Pemeliharaan Ru-mah-tangga, ditambah dengan Pe-ngetahuan Umum.

2. Kedjuruan B : Djahit-mendjahit, ditambah de-ngan Pengetahuan Umum.

ad. d. Kursus Tertulis Persamaan Guru Kepandaian Putri.

Memberikan kesempatan bagi guru2 S.K.P. jang belum berwenang untuk menerima pendidikan jang setaraf dengan S.G.K.P.

ad. e. Sekolah Guru Gambar dan Pekerdjaan Tangan.

Pendidikan bagi guru2 untuk matapeladjaran Menggam-bar dan Pek. Tangan bagi sekolah2 kedjuruan.

(Dahulu dibawah Djawatan Pendidikan Umum).

2. Pendidikan Guru B. — I dan B. — II.

Pendidikan Guru B.-I dan B.-II merupakan kursus untuk memenuhi kebutuhan akan guru2 sekolah2 kedjuruan untuk tingkat S.L.T.P. dan S.L.T.A., jang diadakan menunggu lembaga Pendidikan Guru Kedjuruan jang lebih tetap (ump. Akademi Pendidikan Guru Kedjuruan jang diidam-idamkan) :

(a).

Pendidikan Guru untuk djurusan Pendidikan Ekonomi:

1. B. — I Ekonomi 4. B. — II Ekonomi 2. B. — I Perniagaan 5. B. — II Perniagaan 3. B. — I Administrasi.

(b). Pendidikan Guru Kedjuruan djurusan Pendidikan Teknik. 1. B. — I Teknik

2. B. — I Teknik Teori 3. B. — I Teknik Praktek.

3. B. — I Pendidikan Kepandaian Putri (P.K.P.) (a). Tudjuan:

Mendidik guru2 Vak A dan B untuk mendjadi pengadjar Vak A, B pada S.G.K.P.

(b). Kedjuruan2pada B. — I — P.K.P.

1 . Kedjuruan A. — I memasak (Food and looking) 2 . Kedjuruan A. — II — Pemeliharaan Rumah Tangga 3 . Kedjuruan B. — Djahit-mendjahit (clothing) 4 . Kedjuruan C. — M e n g g a m b a r .

(17)

(c).

(d).

Abiturien B. — I — P.K.P.:

Mendjadi guru pada S.G.K.P.

Pendidikan Guru Kedjuruan djurusan2:

1. B. — I Ilmu Pasti 7. B. — I Bah. Indonesia 2. B. — I Ilmu Alam 8. B. — I Bah. Inggeris 3. B. — I Ilmu Pesawat 9. B .— II Teknik 4. B. — I Ilmu Kimia 10. B. — II Pasti 5. B. — I Ilmu Hajat 11. B. — II Kimia 6. B. — I Menggambar

Tjatatan :

Keterangan lebih landjut dapat dilihat pada Almanak 1960 Dja-watan Pendidikan Kedjuruan.

§ 914. Sekedar tindjauan mengenai azas2 dan komposisi curriculum

pendidikan kedjuruan

a. Walaupun azas2 dan komposisi diatas adalah berdasarkan U.U. no. 4 tahun 1950 jo. 12 tahun 1954, namun kita berpendapat tak ada pertentangan prinsipiil antara azas itu dengan seruan kembali ke U.U.D. 1945, karena seperti tertjantum diatas U.U. tentang dasardasar Pendidikan no. 4 tahun 1950 adalah berdasarkan Pan -tjasila.

b. Untuk menempatkan sistim Pendidikan Kedjuruan dalam rangka sistim Pendidikan di Indonesia jang berdasarkan Pantjasila, perlu diadakan penindjauan jang integral, agar tiap2 djenis sekolah men-dapat tempat jang djelas dalam sistim keseluruhan tersebut.

c. Pemikiran jang mendalam masih dibutuhkan untuk merealisir lebih landjut usaha-usaha jang telah dilakukan disekolah selama ini, dalam memupuk semangat Pantjasila, musjawarah Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, U.U.D. 1945, Sosialisme a la Indonesia, Gotong-rojong, kekeluargaan, kebudajaan dsb. dengan mengingat norma-norma paedagogis.

d. Berhubung dengan no. b dan c tersebut diatas perlu diadakan lagi penindjauan curriculum setjara integral.

§ 915. Peranan Swasta dilapangan pendidikan

Dilapangan pendidikan kedjuruan dalam arti : pendidikan diseko-lah-sekolah kedjuruan jang diselenggarakan oleh Djawatan Pendidikan Kedjuruan Departemen P.P. dan K. hingga kini perguruan Swasta belum banjak dapat memberikan sumbangannja, karena:

a. pembiajaan mahal

b. guru2 ahli untuk sekolah2 itu masih sangat kurang (djuga pada sekolah pemerintah).

Djumlah S.M.E.P., S.M.E.A., S.K.P., apalagi S.T. dan S.T.M. dst. partikelir, bantuan, bersubsidi sedikit sekali sebab :

a. S.M.E.P., S.M.E.A., memerlukan a.l. mesin2 tik.

b. S.K.P., S.G.K.P., misalnja harus mempunjai mesin djahit, alat2 dapur.

c. S.T., S.T.M. perlu diperlangkapi dengan mesin2 alat2 Teknik.

(18)

Disamping jang tersebut diatas pihak Swasta banjak menjeleng-garakan kursus2 kemasjarakatan untuk orang dewasa : tata-buku, steno, mengetik, montir mobil, radio dll.

Dalam lapangan ini besar sekali djasa2 perguruan swasta. § 916. Pembiajaan Pendidikan

a. Untuk pembiajaan pendidikan ini, disamping biaja jang dikeluar-kan Pemerintah, orang2 tuapun turut serta dalam pembiajaan tersebut.

Misalnja : (1) Gedung sekolah (2) Buku/alat2 (3) Uang sekolah (4) Belandja praktek.

1. Gedung2:

Dimana dirasakan perlu untuk mendirikan sesuatu ge-dung sekolah adakalanja P.O.M.G. aktif dalam usaha pembangunan tsb.

Disamping itu pula tak kurang bantuan jang diterima dari Jajasan Pendidikan atau lainnja.

2. Buku2/Alat :

Oleh karena sekolah tak dapat menjediakan buku2 jang dibutuhkan anak2, maka hampir semua buku2 peladjaran harus diadakan oleh anak2 sendiri. Begitu pula halnja dengan alat2 sekolah lainnja.

3. Uang sekolah :

Murid2 membajar uang sekolah jang untuk tiap2 murid, banjaknja disesuaikan/diperhitungkan dengan djumlah pendapatan orang tuanja dalam setahun.

4. Belandja praktek :

Untuk peladjaran praktek, belandja jang dikeluarkan disamping bahan2 jang telah tersedia disekolah, murid2 masih harus mengeluarkan uang untuk keperluan tsb. Dengan adanja pengeluaran2 diatas ini dapatlah

diki-rakan, bahwa untuk biaja seorang anak dalam 1 bulan, orang tua mengeluarkan ± Rp. 60,- (Angka ini di-peroleh dari S.K.P.N. Bogor, jang pada dewasa ini mendjadi objek penjelidikan Urs. Penjelidikan Djapk).

5. Perlu ditambahkan pula, bahwa oleh karena sekolah Kedjuruan: baik tingkat menengah maupun Menengah Atas belum ter-dapat diseluruh daerah Indonesia.

Maka orang2 tua harus pula mengeluarkan biaja lebih besar lagi biaja penginapan/makan (kostgeld) untuk anak2nja jang harus beladjar didaerah jang mempunjai sekolah jang mendjadi tudjuan anak tersebut.

(19)

PEMBIAJAAN PENDIDIKAN KEDJ URUAN

TAHUN-1960 .

B E L A N D J A- BE L A N D J A BIAJA TIAP SISWA

NAMA Djumlah Djumlah

Sekolah/Kursus Penjelenggaraan Praktek/ Pemeliharaan Sekolah/ siswa

Pegawai Barang pengadjaran Latihan Mesin Perpustakaan Djumlah Kursus Setahun Sebulan

1. S.K.P.-2 th. Rp.

17. S.G.Gb./P.T. Belum ada sekolah

18. K.P.A. & „ 13.241.000 ,, 495.000,,, „ — „ — ,, — „ 14.096.00 „ 56, 4.485 ,, 3.143, ,, 270,

19. BI/BII „ 7.992.800,

— „ 505.000,— „ „ 10.000,—„ — „ —10.000, „ 9.127.800 „ 48'—1 „ 2.194 „ 4.151,— „ 346,

Anggaran Belandja untuk Djawatan Pendidikan Kedjuruan.

Belandja Pegawai : Rp. 270.076.000, —

Belandja Barang : ,, 96.587.600,— Belandja Lain2 : ,, 1.759.000,—

+ D j u m l a h : Rp. 368.423.400,—

(20)

§ 917. Hal-hal-lain Kesulitan2.

Dalam usaha2 pembaharuan pendidikan, Djawatan Pendidikan Ke-djuruan (Djapk.) menemui banjak kesulitan2 dalam pelaksanaan teknis administratip, maupun politik pendidikan Pemerintah/Departemen P. P. K.

Kesulitan2 itu dapat dimasukkan dalam dua golongan : a. Dari dalam

b. Dari luar. a. Dari dalam.

1. Guru2 jang berwenang tidak tjukup djumlahnja untuk meng-ikuti perkembangan sekolah2, sehingga banjak jang dipimpin, ataupun diadjar oleh guru2 jang kurang sesuai.

Jang paling tidak beruntung dalam hal ini ialah Pendidikan Teknik.

2. Pergantian guru2 jang disebabkan karena usaha2 mempertinggi mutu guru2 tidak menguntungkan bagi kelantjaran peladjaran. 3. Hanja sedikit sekolah2 Kedjuruan jang mempunjai/mewarisi

gedung sendiri. Biasanja dipondokkan disekolah lain, atau di-sewakan rumah biasa, ada djuga jang oleh P.O.M.G. sekolah tersebut dibuatkan rumah sekolah, tetapi jang djauh dapat memenuhi kebutuhan sekolah.

Kerapkali terdjadi mesin2 ataupun alat-alat lain jang mahal2, ditempatkan dalam rumah jang tidak diperbuat untuk keper-luan itu.

4. Buku2 pegangan guru, maupun untuk murid2 belum men-tjukupi atau belum ada, dan kalau ada, buku2jang seharusnja sudah lama diapkir atau tiada memenuhi sjarat2 (metode) pendidikan.

5. Banjak sekolah2 tidak tjukup mempunjai alat-alat peladjaran njata (praktek).

Lagi pula kerapkali terdjadi pengiriman alat-alat jang tidak sesuai dengan keperluan sekolah.

Sebagai tjontoh dapat dikemukakan, bahwa sekolah Keradjinan Keramik di Wonosari menerima berpeti-peti pukul besi.

6. Tiada tjukup kesempatan bekerdja njata (praktek).

7. Anggaran Belandja Pendidikan belum pernah melampaui angka 6.4% dari A.B. Negara. Angka tertinggi itu ialah dalam th. 1958.

b Dari luar.

1. Tidak djarang Djapk. dihadapkan kepada keputusan Pemerin-tah, jang disebabkan karena tuntutan daerah, sehingga dengan tjara istimewa pos-pos A.B. harus digeser untuk keperluan jang belum pernah direntjanakan.

2. Peraturan Pegawai jang berbelit-belit menjulitkan penempatan guru2 maupun tenaga administrasi, sehingga pengelolaan per-alatan tak dapat diselenggarakan dengan baik.

(21)

Kursus B.-I Kimia dan Ilmu Alam di Djakarta misalnja ber-tahun-tahun bekerdja dengan djumlah pegawai jang begitu ketjilnja, sehingga alat2 jang serba lengkap dan mahal2 dari bantuan luar negeri tidak dapat dirawat semestinja.

Djuga karena kekurangan tempat masih banjak peti alat2 jang belum dibuka.

c. Duplikasi.

Belum adanja penegasan tentang djenis sekolah apa jang dapat diselenggarakan oleh Kementerian2 lain, pula karena belum adanja koordinasi jang baik antar — Kementerian, maka kerap kali ter-djadi duplikasi jang tidak menguntungkan.

Misalnja : Djawatan Penempatan Tenaga dan Djawatan Perindus-trian Rakjat membuka sekolah2/kursus2 jang sudah diselenggarakan oleh Djapk., atau sebaliknja, jang berarti penggunaan Keuangan Negara maupun tenaga ahli jang tidak effisien.

d. Bantuan luar negeri.

Melalui badan2 internasional : Colombo-plan, I.C.A., Unesco, Ford-foundation dll. Djapk. maupun sekolah2 menerima bantuan dalam bentuk : tenaga2 ahli, alat2 modern dan buku2.

Biarpun alat2 dan buku2 itu diberikan dengan tjuma2, tetapi untuk menebusnja dari pelabuhan harus dibajar T.P.I. Oleh karena untuk itu tidak tersedia mata anggaran tersendiri, harus dimintakan dahulu dari Pemerintah, dan oleh karena harus melalui prosedur jang begitu sulit, dan berbelit-belit maka biasanja baru setelah menunggu ber-bulan2 lamanja alat2 dan sebagai itu baru dapat di-terimanja. Selain menambah biaja (ongkos gudang), hal itu djuga mengakibatkan kerusakan2.

Urusan Penjelidikan (Research) Djapk. dalam bulan Djuni 1959 diberitahu akan kedatangan hadiah I.C.A. berupa alat2 maupun buku2, sampai sekarang (Maret 1960) barang2 itu belum djuga dapat ditebus. Hal ini tidak hanja menimbulkan keketjewaan dalam kalangan sendiri, tetapi djuga pada orang jang mengusahakan ban -tuan itu.

Bantuan2 tersebut terutama dipergunakan dalam usaha2 memper-tinggi mutu guru2 dalam bentuk kursus2 B. -I dan II, seminar2, training centre, dengan maksud supaja dengan demikian mutu peladjaranpun meningkat.

Dengan tidak mengurangi keuntungan jang telah tersebut tadi, sebaliknja ada tampak keburukannja.

Di S. G. P. T. misalnja, tjalon2 guru S. T. dididik mempergunakan alat2 serba lengkap, modern dan otomatis, tetapi bila mereka itu kemudian ditempatkan disekolah jang perlengkapan alat2nja serba kurang dan kuna (malahan kadang2 tidak tersedia alat-alat sama sekali), maka timbullah rasa ketjewa, jang menjebabkan pelarian dari kenjataan. Akibat lain jang sudah dirasakan baik oleh pim-pinan sekolah maupun anak2 didik ialah: beberapa guru, setelah mendapat kesempatan melandjutkan peladjarannja, tidak mau/ segan kembali ketempatnja semula disekolah, sehingga kemadjuan

(22)

peladjaran sangat terganggu dan seakan-akan sekolah hanja dipakai tempat latihan dan batu lontjatan belaka.

e. Usaha2 jang sedang didjalankan.

1. Curriculum lama bersifat intelektualistis, kurang bersifat praktis. Metode2 sedang ditjari dan ditjobakan untuk menghu-bungkan anak2 dengan kenjataan hidup dalam masjarakat jang sebenarnja dan mempersiapkan mereka untuk kenjataan hidup sehari-hari.

Ditjari djalan untuk membangkitkan pada anak2: inisiatip, keteguhan hati, pendapat sendiri, rasa tanggung-djawab, dan rasa kemasjarakatan.

Seluruh pengadjaran dan pendidikan harus dapat dipergunakan untuk pembangunan nasional, pembangunan semesta baik mental maupun materiil.

2. Agar tamatan Sek. Kedjuruan dapat memenuhi harapan masja-rakat telah diandjurkan supaja pimpinan sekolah mengadakan hubungan baik dengan: Djawatan2 Pemerintah, Bank; per-usahaan-perusahaan, agar murid2 mendapat kesempatan ber-latih di-kantor2, di-bengkel2 dsb. baik milik Pemerintah, maupun swasta. Dibeberapa tempat usaha ini telah mendapat sambutan baik.

f. Tjita2 Djawatan Pendidikan Kedjuruan.

1. Agar daerah2 ikut serta dalam pemikiran penjebaran, perluasan pengelolaan sekolah2 jang efisien dikandung maksud untuk mengusulkan pembagian pembiajaan sekolah setjara sama (fifty-fifty) antara Kem. P.P.K. dengan daerah.

2. Perlu diadakan koordinasi antar — Kementerian.

3. Akan diusahakan sebuah Jajasan Pendidikan Kedjuruan de-ngan mengikut-sertakan perusahaan2, bank2, jajasan-jajasan pendidikan swasta dan badan2 lain.

g. Kesimpulan.

1. Tjara berfikir rakjat Indonesia, semangat dan sikap pribadi dan berkelompok rakjat Indonesia sekarang masih perlu dise-lidiki lebih mendalam oleh para anthropoloog dan sosioloog Indonesia.

Tjara itu masih harus ditentukan.

2. Kita masih terus-menerus mentjari sistim pendidikan kedju-ruan jang tepat untuk Indonesia dalam rangka sistim pendi-dikan seluruhnja.

Perkembangan masjarakat dalam segala bidang tidaklah memudah-kan penemuan sistim ini.

(23)

§ 918. Keadaan jang mendjadi tudjuan

Pendjelasan tentang perentjanaan usaha2 pembangunan mental.

Mengenai pendjelasan perentjanaan usaha2 pembangunan mental pada dasarnja/umumnja dapat diterangkan dengan menundjuk pada : a. Instruksi Menteri Muda P.P. dan K., No. 1 tahun 1959 jang

me-rupakan inti pokok Sapta Usaha Tama, jang didjadikan pendorong kerdja bagi seluruh pegawai/petugas Departemen P. P. dan K. Usaha itu telah ditegaskan pula berupa garis2 pelaksanaan pada setiap bidang usaha Departemen P.P. dan K.

b. Pendjelasan tentang azas dan komposisi curriculum Pendidikan Kedjuruan jang bersumber pada filsafat Pendidikan Kedjuruan jang berbunji sebagai berikut:

Undang2 pokok Pendidikan (Undang2 No. 12 th. 1954) Bab III pasal 4, tentang dasar2 pendidikan dan pengadjaran menjebutkan antara lain :

Pendidikan dan Pengadjaran berdasarkan azas2 jang termaktub dalam „Pantja Sila”, Undang2 Dasar Negara Republik Indonesia dan kebudajaan kebangsaan Indonesia.

„Pantja Sila” ialah dasar pokok:

Ke-Tuhanan Jang Maha Esa Kebangsaan

Perikemanusiaan Demokrasi Keadilan Sosial.

Kebudajaan kebangsaan Indonesia ialah segala kekajaan budaja bangsa Indonesia, rochani dan djasmani.

c. Dasar2 pokok penjusunan rentjana Pendidikan Teknik jang efektip di Indonesia jang telah dirumuskan oleh Panitya Kursus Penjeli-dikan PendiPenjeli-dikan Teknik (Lihat Laporan Teknik nomor C-1) lampiran.

Tjontoh : Lihat pasal 12 tentang : Beladjar dengan djalan berbuat. pasal 14 tentang : Mengalami pemetjahan soal jang

praktis.

pasal 15 tentang : Membina warganegara jang sempurna.

d. Seminar Plano ke-II antara Kepala U.P.T. dan Staf, Kepala2 I.P.T.D. dan Wakil, Kepala2 S.T.M., K.G.S.T./S.G.P.T, seluruh Indonesia jang diselenggarakan pada tanggal 8, 9 dan 10 Desember 1958 di Bandung jang antara lain mengupas tentang masalah2:

Employment Competence

Hubungan2 manusia Kebutuhan-kebutuhan Inisiatip

Kerdjasama (Collaboration/team work) Sikap (attitude)

(24)

§ 919. Usaha mengubah sistim pendidikan

a. Usaha mengubah sistim pendidikan kearah sistima Indonesia sampai saat ini belum dapat dirumuskan setjara tepat.

Tindakan2 kearah itu, a.l. ialah :

1. pendidikan kearah djiwa Nasional.

2. memasukkan unsur2 Pantjasila sebagai dasar pendidikan mi-salnja :

(a). Adanja usaha pengintegrasian pendidikan agama dan pengadjaran di Atjeh.

(b). Upatjara2 penaikan bendera dsb. di-sekolah2 pada per-mulaan dan achir pekan dll.

Tetapi semua usaha2 kearah ini masih merupakan usaha2 jang terpetjah 2 dan belum merupakan usaha jang bulat.

Dengan kembali ke U.U.D. 45, perlu ditjari djalan untuk me-njesuaikan undang2 Pendidikan No. 4 th. '50, dengan isi Manifesto Politik Presiden.

b. Perentjanaan curriculum pendidikan.

Mengenai perentjanaan curriculum pendidikan, kita batasi dalam bidang2 pendidikan kedjuruan. Telah dibuat suatu rentjana per-bandingan prosentasi pemberian mata2 peladjaran disekolah-sekolah kedjuruan jaitu : 50% mata peladjaran pokok,

25% mats peladjaran penting, 25% mata peladjaran pelengkap.

Perentjanaan curriculum ini disesuaikan dengan usaha2 pembangun-an mental.

Dalam hal ini dapat disebutkan usaha2 jang telah didjalankan ke-arah perbaikan/penjempurnaan curriculum itu.

a. l.: Oleh pemerintah telah dibentuk Panitia Negara Pendidikan Teknik.

Dep. P.P. & K. telah membentuk Panitia Chusus Penjeli-dikan (research).

c. Perentjanaan pendidikan kedjuruan.

Dalam perentjanaan pendidikan kedjuruan sebagai pedoman dapat digunakan plan pemerintah tentang rentjana pembangunan 5 th. tentang pendidikan th. '55/'60.

Usaha selandjutnja tentang perentjanaan pendidikan kedjuruan ini masih dalam persiapan.

Dapat ditambahkan bahwa ada dikandung maksud untuk mengada-kan school-guidance dan vocational guidance.

d. Perentjanaan tugas dan usaha Pemerintah dan Swasta dalam

la-pangan pendidikan/pengadjaran.

Lihat keterangan/pendjelasan mengenai komposisi curriculum.

(25)

e. Tjara2baru untuk menambah dan meninggikan ketjerdasan rakjat.

Pembukaan sebanjak mungkin kursus2 dan sekolah2 kedjuruan jang meliputi segala bidang.

f. Tjara2 untuk menambah djumlah perbaikan mutu para tenaga

kedjuruan.

Terkandung maksud dan tjita2 untuk membuka kursus2 dan sekolah kedjuruan jang meliputi segala bidang. Djuga mengadakan „Jajasan Pendidikan Kedjuruan” jang didalamnja duduk tenaga2 dari Dja-watan Pendidikan Kedjuruan dan partikelir untuk menghimpun sekolah dan kursus partikelir didalamnja, mengusahakan kesera-gaman pada sekolah dan kursus partikelir jang sedjenis.

Dengan demikian tinggi mutu peladjaran dikursus-kursus itu dapat terdjamin.

g. Ta r g e t .

Target untuk : 1. Pelaksanaan sistim pendidikan.

Pendidikan kedjuruan harus benar2 merupakan Vocational Education, bukan Vocational Train-ing.

(a) Ketjuali memberikan skill (keachlian) pendidikan kedjuruan harus menanamkan. djiwa nasional, disiplin, pengabdian pada negara dan kepentingan umum, kedjudjur-an dkedjudjur-an ketabahkedjudjur-an hati.

(b) Sekolah2 Kedjuruan, walaupun sekolah2 achir (jang menamatkan tenaga2 untuk langsung dapat bekerdja) harus memberi kemungkinan bagi peladjar2-nja untuk melandjutkan sekolah hingga di Perguruan Tinggi.

Perguruan Tinggi hendaknja membuka kesempatan bagi anak2 tamatan Sekolah Kedjuruan tingkat Atas dengan/tanpa Udjian masuk.

2. Usaha2 penjelenggaraan pendidikan dan pem-biajaannja :

Untuk Pendidikan Kedjuruan diharapkan:

(a) Pelaksanaan pembagan Anggaran Belan-dja: Pend. Kedjuruan: Pend. Umum = 7 : 3.

(b) Kenaikan Anggaran Belanda Departemen P.P. & K. hingga 25% dari Anggaran Be-landja Negara.

h. S a r a n2.

Hendaklah diadakan koordinasi antara semua pendidikan kedjuruan jang diselenggarakan oleh semua Departemen dan Swasta.

(26)

§ 920. Ketinggalan (achterstand) dalam Pendidikan Kedjuruan dan usaha perluasan

a. Daftar achterstand seperti terlampir menggambarkan dengan djelas betapa kekurangan jang dialami oleh tiap2 djenis sekolah kedjuruan ditiap-tiap propinsi dalam hal :

1. gedung sekolah, 2. perumahan guru,

3. alat2 perlengkapan berupa mebiler, 4. alat2 kantor,

5. buku2 peladjaran, dan 6. alat2 praktek.

Dasar jang dipergunakan untuk menjusun daftar achterstand itu terdapat dalam „Unit biaja penjelenggaraan sekolah kedjuruan”. Menurut daftar achterstand tersebut ketinggalan jang dialami oleh sekolah2 kedjuruan seluruh Indonesia sampai achir 1959 berdjumlah Rp. 5.170.735.550,—. Mustahil bahwa biaja ini dapat diberatkan pada Anggaran Belandja biasa Departemen P.P. dan K. Djuga apabila achterstand ini direntjanakan untuk dikedjar dalam waktu 10 — 15 tahun, maka beban ini masih merupakan beban berat bagi Dep. P.P.K.

Oleh karena itu alangkah baiknja apabila biaja ini diusahakan dari luar Anggaran Belandja Departemen P.P. dan K.

b. Mengenai usaha baru dan pembaharuan dibidang sekolah2 kedjuru-an, dapat dikemukakan bahwa Djawatan Pendidikan Kedjuruan merentjanakan :

1. 5 buah Kursus Dagang tingkat Atas (K.D.A.) di Djakarta Raya, Semarang atau Tegal, Malang, Palembang dan Bandjar-masin.

2. Sebuah Sekolah Kepandaian Putri tingkat Atas (S.K.A.) jang untuk sementara ditempatkan pada salah satu S.G.K.P.

3. Pilot Comprehensive School: S.K., S.T., S.T.M., dan S.G.P.T. di Djakarta.

Rentjana biaja usaha baru dan pembaharuan sekolah2 kedjuruan ini berdjumlah Rp. 5.018.300,—.

§ 921. Pendidikan Teknik

a. Mempersiapkan untuk bekerdja dan hidup.

Istilah pendidikan teknik, sebagai jang digunakan didalam laporan ini, ialah perumusan djenis pendidikan kedjuruan formil dan tak formil, jang tingkatnja umumnja lebih rendah dari pada perguruan tinggi dan jang tudjuannja agak luas djuga, seperti tertera di-bawah ini:

1. Mempersiapkan pemuda2 kita dan orang2 dewasa, baik laki2 maupun perempuan, untuk dapat memasuki lapangan2 kerdja biasa dan lapangan kerdja teknik.

(27)

2. Mempersiapkan pemuda2, supaja mereka itu dengan hasil karya-nja dapat memberikan sesuatu sumbangan pada pekerdjaan dan kehidupan masjarakat.

3. Menambah pengetahuan dan keahlian orang2 jang sudah mem-punjai sesuatu pekerdjaan.

4. Mengadakan latihan baru bagi mereka jang akan memasuki lapangan kerdja itu.

b. Mentjukupi keperluan nusa dan bangsa.

Program pendidikan teknik jang efektif hendaknja merupakan bagian penting dari masjarakat jang dilajani pendidikan itu. Pro-gram itu haruslah dapat melihat djenis latihan teknik jang diper-lukan masjarakat dan dapat menjusun rentjana latihan jang praktis untuk mentjukupi keperluan itu.

1. Suatu djalan baik untuk mengetahui keperluan tersebut dan untuk menjusun suatu rentjana kerdja njata ialah penggunaan panitia2 penasehat jang terdiri dari orang2 jang akan menerima hasil pendidikan itu (madjikan, pekerdja, pedjabat pemerintah dan sebagainja).

2. Untuk mendjamin terlaksananja suatu rentjana pendidikan teknik jang efektif dan teratur hendaknjalah panitia (atau dewan) jang sama susunannja diadakan, baik pada tingkat daerah, maupun pada tingkat nasional. Panitia-panitia inilah jang akan bertanggung-djawab tentang: (i) penindjauan ber-kala terhadap perkembangan dilingkungan tehnologi dan la-pangan kerdja ; (ii) penghubungan perkembangan ini dengan keperluan dilapangan pendidikan ; (iii) andjuran mengenai politik pendidikan dan prosedur administrasi, baik untuk pen-didikan jang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun jang diselenggarakan oleh pihak Swasta ; (iv) penetapan penilaian dan ukuran dan (v) pemeliharaan kesedjahteraan umum se-genap segi pendidikan teknik.

3. Pengusaha tiap2 sekolah teknik hendaknja berusaha setjermat-nja untuk menjusun suatu rentjana jang efektif, jang bermak-sud mentjiptakan koordinasi antara pekerdjaan disekolah dan keperluan akan pendidikan teknik jang terdapat didalam ma-sjarakat. Penjelidikan berbagai pekerdjaan merupakan salah satu alat untuk menentukan djenis pendidikan teknik jang diperlukan. Keperluan akan pendidikan didaerah, jang ada hubungannja dengan pertumbuhan dan perkembangan trans-migrasi, hendaknja mendapat perhatian.

4. Rentjana pendidikan jang efektif menghendaki kerdjasama jang seeratnja : (i) antara sekolah2 jang memberikan pelbagai djenis pendidikan teknik ; (ii) antara badan2 pemerintah jang me-njelenggarakan rentjana pendidikan teknik; (iii) antara pe-djabat-pedjabat pemerintah jang bertanggung-djawab tentang pendidikan dan mereka jang bertanggung-djawab dilapangan perburuhan dan tehnology; (iv) antara pendjabat2 pendidikan teknik dan industri, termasuk tenaga pimpinan dan tenaga2

(28)

penjelenggara. Hal itu perlu sekali untuk menghindarkan kekurangan dan/atau kedjadian berulang didalam pendidikan jang disuguhkan.

c. Membanggakan nilai segenap kerdja jang bermutu.

Didalam suatu negara jang hendak inendjalankan industrialisasi hendaknja diadakan suatu rentjana jang tjermat mengenai „public relation” jang akan membantu warga2 negara itu memandang pekerdjaan tangan sebagai pekerdjaan terhemat dan sebagai se-suatu jang lajak dikerdjakan. Hal itu akan membantu negara mem-berikan hasil jang lebih besar lagi dan dengan demikian tingkat hidup dapat ditinggikan.

1. Pertumbuhan sikap jang baik terhadap pekerdjaan merupakan tanggung-djawab seluruh pendidikan beserta pedjabat2 resmi dan pedjabat2 perusahaan.

2. Mulai dari kelas satu pengadjaran rendah pengadjaran dan alat2 pendidikan hendaknja direntjanakan setjermatnja untuk membantu anak2 dalam mengembangkan suatu sikap jang baik terhadap pekerdjaan jang menghasilkan.

3. Haruslah ada rentjana jang disusun dengan teliti untuk mem -bangun kepertjajaan nasional tentang kemampuan bangsa kita untuk menghasilkan barang dan djasa, seperti negara2 lain jang telah merupakan negara industri.

d. Menghasilkan sebagai bahagian beladjar.

Oleh karena pendidikan teknik jang baik adalah pendidikan jang mahal dan oleh sebab suatu negeri jang sedang bertumbuh seperti negeri kita terbatas pula sumbernja untuk membiajai seluruh pen-didikannja, rentjana pertjobaan jang bermaksud merendahkan biaja pendidikan teknik itu hendaknja kita setudjui dan kita bantu per-kembangannja.

1. Bantuan uang untuk pendidikan teknik hendaknja disediakan oleh badan2 resmi, tapi bantuan tambahan seharusnja datang dari orang2, perusahaan dan perkumpulan2 jang langsung berkepentingan dan jang djelas akan memperoleh keuntungan dari hasil2 pendidikan itu.

2. Sedapat mungkin peladjaran untuk memperoleh keahlian di-lapangan teknik itu hendaknja didasarkan pada penghasilan sesuatu dan/atau pekerdjaan pemeliharaan jang dapat didjual didalam masjarakat atau kepada sekolah2 lain.

3. Pertjobaan mengenai konsep tersebut diatas amat kita lukan. Sementara itu hendaknja diingat bahwa tudjuan per-tama pendidikan teknik ialah memberikan kepada peladjar latihan2 sehat dalam mengembangkan ketjakapannja, penge-tahuannja dan sikapnja, agar supaja ia berhasil didalam pe-kerdjaannja. Djenis kesibukan jang menghasilkan sesuatu akan tetapi tidak membantu kita dalam mentjapai tudjuan tersebut hendaknja djangan diadakan.

(29)

4. Untuk memadjukan pendidikan teknik didalam masjarakat daerah hendaknja kita pertimbangkan konsep „modal bertan-dingan” („matching funds"). Artinja: Pemerintah akan me-njediakan djumlah uang jang besarnja sebanding dengan djum-lah jang disediakan daerah atau masjarakat setempat sesuai dengan ketentuan jang diatur dalam suatu Undang2.

e. Bekerdjasama : sekolah dan industri.

Program pendidikan teknik jang efektif hendaknja didasarkan pada pengakuan, bahwa latihan teratur haruslah diselenggarakan bukan sadja disekolah, melainkan djuga didalam perusahaan. Dua djenis latihan itu haruslah saling melengkapi. Untuk itu diper-lukan kerdjasama jang erat dalam menjusun politik dan tata-tjara pendidikan.

1. Manakala industri menggunakan rentjana latihan ditempat kerdja dengan mengikuti sistim „magang”, maka sekolah tek-nik didalam masjarakat hendaknja sedia untuk memberikan latihan pendidikan teknik jang berhubungan dengan itu selama sebahagian waktu kerdja.

2. Didalam suatu masjarakat seperti jang kita miliki, jang menudju kearah industrialisasi, hendaknjalah kita memadjukan dan menerima pelbagai „pilot program” untuk mendjamin adanja hubungan antara sekolah dan industri jang paling tjo-tjok bagi keperluan kita.

3. Keperluan perusahaan2 ketjil akan latihan teknik hendaknja diperhatikan dengan tjermat. Pendidikan itu hendaknja djuga memuat pengadjaran jang berhubungan dengan tjara meng-organisasi dan mengadministrasi sebuah perusahaan ketjil.

f. Berubah keadaan, berubah pula rentjana kerdja.

Rentjana Pendidikan Teknik jang efektif lebih banjak menghen-daki djenis administrasi jang agak longgar dan elastis dari pada administrasi jang kaku dan terlampau terikat pada norma2 tertentu, ataupun administrasi chusus sesuai dengan udjudnja pendidikan teknik.

1. Hasil pendidikan teknik didalam suatu masjarakat akan seim-bang dengan kemampuan pendidikan itu untuk menjesuaikan diri perubahan2 jang terdjadi dilingkungan pasaran kerdja dan ekonomi masjarakat itu.

2. Setiap usaha hendaknja didjalankan untuk mentjegah pembo-rosan. Tetapi dibawah suatu djumlah biaja minimum „per capita” tak mungkinlah menjelenggarakan pendidikan teknik. Apabila keadaan keuangan tidak mengizinkan pengeluaran diatas minimum itu hendaknjalah pendidikan teknik itu dja-ngan diselenggarakan.

3. Pendidikan teknik disekolah hendaknja hanja meliputi latihan2 jang meminta tjalon pekerdja jang tjukup besar djumlahnja untuk membuat usaha kita, dipandang dari sudut ekonomi, dapat dipertanggung-djawabkan.

(30)

4. Pendidikan teknik disekolah hendaknja dibatasi pada mata peladjaran jang dapat diadjarkan diruang kelas, dibengkel dan dilaboratorium.

g. Membina pendidikan teknik jang berwenang.

Didalam rentjana pendidikan teknik jang efektif sistim pendidikan guru jang bersifat „pre-service” hendaknja mendapat tempat jang lajak.

1. Pemilihan, persiapan dan pemeliharaan suatu staf pendidik jang berwenang merupakan satu2-nja faktor utama dalam mendjamin hasil baik sesuatu rentjana pendidikan teknik.

2. Dalam masa pertumbuhan pendidikan teknik itu boleh djadi kita terpaksa mempekerdjakan guru2 jang pendidikan formil-nja dan pengalaman kerdjaformil-nja belum memenuhi sjarat2 jang kita inginkan.

Guru-guru ini hendaknja diharuskan mengikuti latihan pe-nambah pengetahuan dan ketjakapan jang direntjanakan lebih dahulu untuk meniadakan kekurangan2 jang terdapat pada mereka itu.

3. Tingkat dan rentjana formil pendidikan guru teknik hendaknja mengikuti susunan jang pada garis besarnja sama dengan jang diadakan bagi djenis2 pendidikan guru lainnja.

4. Dalam menjusun program pendidikan guru2 teknik hendaknja keharusan untuk memperoleh pengalaman kerdja kita perhati-kan terus-menerus.

h. Memperkerdjakan guru jang telah membuktikan keahliannja di-dalam pekerdjaannja.

Pendidikan teknik jang efektif menghendaki pendidikan jang telah memperoleh pengalaman baik dalam menggunakan ketangkasan dan pengetahuan jang berhubungan dengan pekerdjaan dan kesi-bukan-kesibukan jang hendak diadjarkan. Ketjuali itu ia harus mempunjai pengertian tentang proses mengadjar dan beladjar dan mengenal waktu peladjaran2 jang dipimpinnja.

1. Untuk dapat mengadjar dengan efektif guru pendidikan teknik wadjib memiliki tingkat keahlian jang lebih tinggi dari pada jang dimiliki peladjaran2nja.

2. Pengadjaran teknik jang efektif mengharuskan pendidikan mengikuti zamannja dengan djalan mengadakan hubungan jang tak kundjung putus dengan bahan2 baru, alat2 dan pertumbuh-an dilappertumbuh-angpertumbuh-an kerdjpertumbuh-anja.

3. Pengadjaran teknik akan tjukup efektif hanja kalau pendidik paham akan proses beladjar dan mampu menggunakan dasar2 beladjar didalam pengadjarannja.

4. Pengadjaran teknik akan tjukup efektif djika pendidik me-ngenal sifat dan watak peladjar2 jang dipimpinnja.

(31)

i. Memperbaiki kedudukan pengadjaran teknik.

Staf tenaga pendidik sekolah2 teknik haruslah memperoleh suatu kedudukan jang dapat membuat pekerdjaan dilingkungan pendidikan teknik itu menarik dan diinginkan.

1. Rentjana pendidikan teknik jang efektif mengharuskan kita mendjalankan segala usaha untuk mempekerdjakan ahli2 jang berwenang dan tjakap dari perusahaan2 pada sekolah2 teknik. Prosedur pemberian idjazah hendaknja mengakui ketjakapan bekerdja selaku sjarat utama dalam mengangkat guru2 teknik. Dibeberapa lingkungan latihan ketjakapan sjarat ini hendaknja dipandang lebih utama dari pada pendidikan formil disekolah. 2. Dimana pekerdja2 ahli dari industri bekerdja sebagai guru

teknik terutama atas dasar: untuk sebagai waktu kerdja (On a part-time basis) hendaknja disusun dengan tjermat suatu rentjana pendidikan guru untuk membantu pekerdja2 ahli itu bertumbuh djadi guru jang efektif.

3. Didalam suatu rentjana pendidikan jang efektif keahlian se-seorang jang bersifat menghasilkan merupakan sjarat utama untuk dapat diberi pekerdjaan jang bertanggung-djawab dan untuk perbaikan kedudukannja.

j. Memberikan bimbingan jang tjukup.

Pendidikan teknik jang efektif memberikan kesempatan kepada setiap pribadi untuk mengembangkan keinginannja, perhatiannja, dan bakatnja sampai pada suatu tingkat maksimum jang dapat ditjapainja.

1. Tanpa bimbingan sehat dalam menentukan djenis pekerdjaan (bagi orang-seorang) pendidik teknik itu akan njata kurang efisien dan tidak ekonomis.

2. Pendidik teknik hendaknja diberikan hanja kepada sesuatu kumpulan orang2 terpilih jang memerlukan serta menginginkan pendidikan itu dan dapat menggunakan pendidikan itu untuk kepentingan mereka masing2.

3. Adanja minat terhadap dan kesanggupan untuk mengambil keuntungan dari pendidikan merupakan modal permulaan un-tuk bagi mereka jang ingin mengikuti program pendidikan teknik, bukannja kegagalan dilapangan pekerdjaan lain.

4. Apabila pendidikan teknik itu hendak efektif adanja, maka tugasnja dalam hal membimbing haruslah ditunaikan sebelum, selama dan sesudah masa pendidikan.

5. Peladjar jang masuk sekolah teknik hendaknja tjukup dewasa untuk dapat melakukan pekerdjaan jang dapat dipertanggung-djawabkan. Djasmaninja dan rohaninja harus pula tjukup matang untuk melakukan pekerdjaan jang dikehendaki dari padanja dan pada waktu meninggalkan bangku sekolah usianja harus pula tjukup menerima sesuatu pekerdjaan dan melaku-kan pekerdjaan itu sehari kerdja penuh.

(32)

k. Mendidik mereka jang menginginkan pendidikan.

Pendidikan teknik dapat meladeni masjarakat sebaik-baiknja de-ngan djalan mengadakan/latihan jang chusus jang diperlukan sesuatu golongan masjarakat. Latihan2 itu hendaknja diatur se-demikian rupa, hingga golongan tersebut dapat mengambil manfaat jang sebesarnja dari pengadjaran jang diberikan.

1. Pemimpin2 pendidikan teknik, dengan bekerdja sama dengan orang2 lain pendidikan jang memiliki pengetahuan tentang dan menaruh minat akan pendidikan teknik, bertanggung-djawab dalam menentukan golongan2 mana jang memerlukan latihan. 2. Apabila djumlah peladjar membenarkan dibukanja sebuah

kelas maka sekolah teknik setempat wadjib menjelenggarakan kelas jang demikian sesuai dengan dasar2 pendidikan teknik jang efektif.

3. Pendidikan teknik hendaknja ditudjukan pada pemberian se-genap tingkat latihan jang diperlukan, seraja luasnja pendidikan bergantung pada keadaan.

4. Rentjana pendidikan teknik jang chusus hendaknja diberikan hanja kalau hal itu memang diperlukan dan rentjana itu dapat dilaksanakan dipandang dari sudut sosial dan ekonomi.

Rentjana pendidikan teknik jang efektif haruslah terus-menerus dapat berubah, agar supaja dapat mengikuti kemadjuan2 di-lapangan ekonomi dan ilmu pengetahuan.

1. Beladjar dengan djalan berbuat.

Latihan ketjakapan dilapangan teknik akan tjukup berhasil, apabila pekerdjaan2 latihan merupakan titian kesibukan dilingkungan pe-kerdjaan dengan menggunakan alat2 dan mesin2, seperti jang di-pakai dilingkungan pekerdjaan itu sendiri.

1. Manakala alat2 dan bahan jang sesungguhnja tidak dapat di-sediakan disekolah, hendaknja diadakan rentjana untuk meng-gunakan perlengkapan dan bahan jang terdapat diperusahaan-perusahaan (kursus „sandwich, sistim magang”, latihan atas dasar kerdjasama untuk sebahagian waktu kerdja atau usaha2 lain jang serupa dengan itu).

2. Pendidikan teknik disekolah kita haruslah luas dasarnja dan tudjuannja, jakni mempersiapkan seseorang untuk bekerdja dilingkungan keluarga pekerdja teknik. Dasar pendidikan itu hendaknja djangan sampai dan tudjuannja djangan pula hanja mempersiapkan untuk suatu pekerdjaan jang chusus.

3. Dalam arti kata tersebut diatas pendidikan teknik disekolah haruslah mengadjarkan proses2 dan tindakan-tindakan pokok jang dapat disesuaikan dengan sjarat2 chas jang dikehendaki pekerdjaan, apabila peladjar bekerdja diperusahaan.

m. Menggantungkan harapan pada pengalaman pekerdja-ahli.

Pengalaman seorang pekerdja-ahli disuatu lapangan kerdja meru-pakan sumber isi pengadjaran jang paling tepat bagi pendidikan dilapangan itu.

(33)

1. Penilaian isi pendidikan jang harus dilakukan agak sering penting sekali untuk mendjamin masuknja bahan dan tjara jang sesuai dengan perkembangan zaman.

2. Panitia penasehat pendidikan teknik setempat (termasuk panitia2 penasehat untuk pelbagai djenis pekerdjaan) dapat menjumbangkan djasa jang berharga dalam mengembangkan dan menilai setjara terus-menerus isi pendidikan teknik.

n. Mengalami pemetjahan seal jang praktis.

Pendidikan teknik jang efektif melatih orang-seorang setjara lang-sung dan chas dalam kebiasaan2 berpikir dan bertindak seperti jang dikehendaki pekerdjaan jang bersangkutan.

1. Kemampuan untuk memetjahkan persoalan dan untuk men-tjernakan adalah faktor2 utama jang membedakan pekerdja tinggi daripada pekerdja tingkat rendah.

2. Pendidikan chas memperoleh pengalaman dalam hal berpikir dengan tjermat dan dalam hal berbuat haruslah dilakukan berulang-ulang, sehingga kebiasaan jang dikembangkan itu merupakan hal jang menguntungkan didalam pekerdjaan jang berhasil.

o. Membina warganegara jang sempurna.

Tudjuan pokok pendidikan teknik ialah untuk memberi persiapan bagi sesuatu pekerdjaan. Sementara itu tudjuannja jang lain meng-haruskan kita menaruh perhatian jang tjermat akan pertumbuhan adat kebiasaan dan nilai estetika pada orang-seorang.

1. Tanggung-djawab langsung seorang guru teknik jaitu mem-berikan latihan chas untuk sesuatu pekerdjaan. Dalam pada itu ia mempunjai kewadjiban lain jang sama pentingnja, jaitu mendidik anak djadi warganegara jang berguna didalam su-sunan masjarakat tempat ia hidup.

2. Pertumbuhan sikap jang baik (pada orang-seorang) merupa-kan bagian penting pendidimerupa-kan teknik jang efektif.

p. Mengadakan tempat berlatih jang baik.

Bangun dan perlengkapan sekolah teknik harus disesuaikan dengan tudjuan pendidikan jang diberikan disekolah itu. Bangun sekolah dan perlengkapan itu haruslah menarik dan merupakan alam se-kitar (milieu) jang dapat melantjarkan pendidikan dan kemadjuan. 1. Pokok pikiran tersebut diatas mengharuskan kita mendjamin

keselamatan kerdja, sjarat2 kesehatan jang sebaik-baiknja dan keadaan jang memungkinkan terlaksananja rentjana sebaik-baiknja.

2. Asrama tempat peladjar2 dari daerah djauh hendaknja didiri-kan bilamana perlu dan mungkin. Tempat berolah-raga jang memadaipun hendaknja disediakan. Hal itu sesuai dengan rentjana nasional untuk memadjukan kesehatan dan pemba-ngunan djasmani angkatan muda kita.

(34)

q. Mengadakan latihan bagi Pemimpin-pemimpin dari Industri.

Pendidikan dilapangan pengawasan dan pendidikan pekerdja kepala (foreman) merupakan bagian penting rentjana pendidikan teknik. 1. Rentjana peladjaran pendidikan teknik seharusnja memberikan

kemungkinan untuk memperoleh pengalaman, jang dapat membangunkan pengertian tentang pengawasan dan mengem-bangkan kemampuan untuk mendjalankan pengawasan itu. Guru jang mengadjar pada kursus2 seperti itu hendaknja telah memperoleh pengalaman tentang pengawasan di-perusahaan2. 2. Pekerdja kepala atau pengawas jang efektif ialah seorang jang

memiliki pengertian praktis tentang pekerdjaan jang harus diawasinja dan jang lebih penting lagi, ia harus memiliki pe-ngertian jang hidup tentang hubungan antara manusia dan manusia, jang memungkinkannja bekerdja selaku pemimpin. 3. Pendidik-pendidik dilapangan teknik hendaknja memberikan

bantuannja dalam merentjanakan kursus2 singkat tentang pengawasan, jang dapat disuguhkan kepada pekerdja2 dipel-bagai perusahaan.

r. Memberikan kesempatan untuk pendidikan orang dewasa.

Pendidikan untuk orang dewasa dan kursus2 jang ditudjukan ke-pada pengluasan ketjakapan berusaha (trade extension classes) merupakan bagian2 penting rentjana pendidikan teknik.

Pendidikan teknik harus menerima kewadjiban untuk menambah pengetahuan/ketjakapan pekerdja2 jang telah mempunjai pekerdjaan. Hal itu dapat dilakukan didalam kelas-kelas selaku bagian rentjana sekolah malam jang berdjalan selama sebahagian waktu kerdja.

s. Kerdjasama diseluruh bidang pendidikan.

Pendidikan teknik wadjib bersedia membantu perusahaan2 dengan menjadjikan pendidikan djangka pendek atau pandjang, jang di-susun sesuai dengan keperluan chusus perusahaan itu.

Didalam keseluruhan rentjana pendidikan kita rentjana peladjaran dan kesempatan beladjar hendaknja diatur sedemikian, hingga peladjar2 sekolah teknik jang tjakap dapat memasuki sekolah jang bersifat umum dan peladjar2 sekolah umum jang tjakap dapat memasuki sekolah teknik.

1. Pintu perguruan tinggi hendaknja sama terbukanja bagi ta-matan sekolah2 teknik jang tjakap dan tamatan sekolah2 umum jang tjakap.

2. Pengetjualian hanja untuk tamatan sekolah atau kursus teknik jang dilatih chusus untuk langsung bekerdja.

t. Memperkenalkan nilai2 pendidikan teknik.

Pendidikan teknik jang efektif haruslah dibantu oleh suatu program pendidikan pengadjaran rendah, jang memberikan pengalaman da-lam hal menggunakan alat dan bahan, penggunaan praktis tentang pengetahuan teori dan memberikan pengalaman pula dalam hal pembinaan kemampuan untuk memetjahkan masalah-masalah.

(35)

1. Pengadjaran rendah merupakan pendidikan terachir bagi ke-banjakan anak-anal. Anak-anak ini hendaknja dipersiapkan untuk memainkan peranannja didalam kehidupan ekonomi masjarakat.

2. Pengalaman jang diperoleh sambil beladjar, jang berisi ke-sibukan-kesibukan dilapangan pemetjahan masalah dengan menggunakan alat-alat dan pelbagai bahan, merupakan pendi-dikan umum jang baik, pekerdjaan apapun jang akan dilakukan anak kelak.

§ 922. Pembaharuan Guru untuk Sekolah Kedjuruan Rendah dan

Menengah Pertama

a. Untuk dapat memahami pentingnja pembaharuan pendidikan guru kedjuruan perlu dikemukakan bahwa pendidikan kedjuruan tugas-nja meliputi pelbagai hal, jakni :

1. Persiapan pemuda2 dan orang2 dewasa, supaja mereka itu da-pat memasuki lapangan2 pekerdjaan jang memerlukan sesuatu kedjuruan.

2. Persiapan pemuda2 dan orang dewasa, supaja mereka itu dengan pengetahuannja dan keahliannja dan dengan menggu-nakan bahan2 jang terdapat di Indonesia masing2 dapat me-njumbangkan sesuatu bagi kehidupan bangsanja dan negaranja. 3. Penambahan pengetahuan dan keahlian orang2 jang telah

mempunjai sesuatu pekerdjaan.

4. Pendidikan baru bagi orang2 jang karena sesuatu hal terpaksa melepaskan pekerdjaannja jang lama dan ingin memasuki se-suatu lapangan kerdja baru.

b. Tenaga2 jang diperlukan suatu pembangunan semesta dapat dibagi dalam 10 golongan, seperti tersebut dibawah ini :

1. Tenaga2 pekerdja untuk kegiatan2 tingkat pertama seperti:

(a) Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan per-ikanan ;

(b) pertambangan dan penggalian.

2. Tenaga2 pekerdja untuk „kegiatan2 tingkat kedua” jakni: (a) pembuatan ;

(b) pembangunan.

3. Tenaga2 pekerdja untuk „kegiatan2 tingkat ketiga” jakni:

(a) pemberian djasa dibidang urusan2 jang berhubungan de-ngan listrik, gas, air dan usaha kesehatan;

(b) perdagangan;

(c) pengangkutan, penjimpanan dan perhubungan;

(d) administrasi negara (ketjuali jang mengenai angkatan perang) ;

(e) usaha kemasjarakatan;

(f) rekreasi dan pelbagai usaha jang berhubungan dengan itu.

Referensi

Dokumen terkait

Negara harua segera memulai dengan pembangunan industri, chusus industri dasar, karena dengan tidak adanja industri dasar, sembojan untuk mentjukupi

Berpikir luhur ini harus didjadikan pedoman hidup mental sebagai dasar

  Kenjataan  ini  tidak tjukup,  berhubung  dengan  operasi­operasi  

sebenarnja dengan modal jang ada dalam negeri ini dimobilisir untuk da­ pat melaksanakan program Pemerintah sebagai jang dikenal dengan tiga

Tanggal 18­8­1959 Depernas melakukan sidang pertama infor­

Untuk kelantjaran pembangunan listrik perlu diadakan koor-dinasi

Umur jang pendek itu (125 hari) mempunjai arti ekonomi jang besar, karena membuka kemungkinan untuk menanam padi 2 X dalam 1 tahun dan palawidja (misalnja

Susunan vertikal hanja perlu diadakan apabila ternjata benar, bahwa tugas jang harus diselenggarakan di- daerah itu tak dapat diserahkan kepada instansi lain