BAB 82. KEWADJIBAN BELADJAR § 979. Tindjauan keadaan sekarang
Usaha Persiapan Kewadjiban Beladjar.
a. Usaha kewadjiban beladjar telah dimulai oleh Kementerian P.P. dan K. pada tahun 1950 dengan penjusunan sebuah „Rentjana Sepuluh Tahun”.
Meskipun tidak dapat tepat dilaksanakan, akan tetapi rentjana ini merupakan antjer2 jang penting, sehingga diperoleh gambaran apa jang hendak dikerdjakan berturut-turut.
Kementerian P.P. dan K. mulai dengan penjelenggaraan suatu pendidikan darurat untuk guru2 Sekolah Rakjat pada tahun 1951 guna memenuhi kekurangan tenaga pengadjar di S.R., disamping pendidikan guru jang telah ada (S.G.B. dan S.G.A.). Pendidikan guru darurat ini disebut K.P.K.P.K.B., singkatan dari Kursus Pengadjar Kursus Pengantar Ke-Kewadjiban Beladjar dan dibuka diseluruh Indonesia, se-dikit2nja 2 di-tiap2 kabupaten atau kota-besar.
Hasil usaha ini ialah pada tahun 1952 di S.R. dapat ditampung ± 500.000 orang anak lebih dari pada tahun jang lalu.
Pada tahun 1954 K.P.K.P.K.B. ini diubah sekaligus mendjadi S.G.B. biasa, sehingga diseluruh Indonesia terdapat tidak kurang dari 438 buah S.G.B. Negeri. Menurut perhitungan, dengan djalan ini kekurangan guru untuk memulai kewadjiban beladjar akan dapat diatasi dengan mudah.
Djumlah guru S.R. jang pada tahun peladjaran 1950/1951 hanja 83.850 orang banjaknja itu tiap2
tahun bertambah sebagai berikut :
1950/1951 = 83.850 orang 1951/1952 = 87.030 „ 1952/1953 = 104.330 „ 1953/1954 = 111.522 „ 1954/1955 = 113.616 „ 1955/1956 = 131.451 „ 1956/1957 = 155.034 ,, 1957/1958 = 176.653 „ 1958/1959 = 181.592 „
(dari 26 kabupaten tidak masuk laporan, berhubung dengan keadaan keamanan).
b. Balai Persiapan Kewadjiban Beladjar mulai bekerdja dengan: 1. Mengeluarkan: (a) Booklet tentang kewadjiban beladjar
pa-da tahun 1955.
(b) Buku tentang kewadjiban beladjar jang lebih lengkap lagi pada tahun 1956. (c) Petundjuk2 kearah pelaksanaan
kewa-djiban beladjar untuk para Penilik S.R., Pamong Pradja dan Pamong Desa dise-luruh Indonesia.
2. Menjelenggarakan penerangan2 tingkat Propinsi mengenai ke-wadjiban beladjar diseluruh Indonesia jang dihadiri oleh para Gubernur beserta stafnja, DPD/DPRD, Residen, Bupati, In-spektur S.R., Kepala Dinas P.P. dan K., Kepala Inspeksi S.R. Kabupaten, Kepala Dinas P.P. dan K. tjabang di Kabupaten, Penilik S.R., Kepala Djawatan tingkatan Propinsi, wakil Partai2, wakil-organisasi Pendidikan dan orang2 jang menaruh perhatian terhadap pendidikan dan pengadjaran.
3. Menjusun daftar2 jang diperlukan untuk kewadjiban beladjar, antara lain daftar kelahiran, kematian dan mutasi penduduk dari satu tempat ketempat jang lain.
4. Menjusun statistik penduduk, statistik S.R. dan statistik Se-kolah Guru jang meliputi seluruh Indonesia.
5. Menjusun peta Kabupaten2/kota-besar seluruh Indonesia jang berisikan semua :
— kewedanaan
— ketjamatan
— desa
— djumlah penduduk ditiap-tiap desa
— djumlah S.R. ditiap-tiap desa dan
— djumlah murid S.R. ditiap-tiap desa.
6. Mengadakan hubungan dengan Kementerian2 lain dan Djawatan-djawatan diluar Kementerian P.P. dan K. untuk memper-oleh bantuan dalam persiapan kewadjiban beladjar.
7. Mengadakan daerah-daerah pertjobaan kewadjiban beladjar. Karena pekerdjaan persiapan ini dipandang telah selesai oleh pim-pinan Kementerian P.P. dan K., maka Balai Persiapan Kewadjiban Beladjar dihapuskan dengan surat putusan Menteri P.P. dan K. tertanggal 13 Maret 1957 no. 27788/S.
§ 980. Undang2 Kewadjiban Beladjar
Kewadjiban beladjar tidak mungkin dilaksanakan, apabila tidak dilindungi oleh Undang2. Berhubung dengan itu, maka oleh Balai Persiapan Kewadjiban Beladjar telah disusun sebuah Rentjana Undang2 Kewadjibah. Beladjar jang ditjantumkan dalam buku Kewadjiban
Beladjar tahun 1956 halaman 74 lampiran III untuk dikemukakan kepada Pemerintah kelak apabila telah diperlukan. Akan tetapi ber -dasarkan pengalaman2 jang diperoleh dengan pertjobaan kewadjiban beladjar dibeberapa daerah rentjana ini perlu diubah dan ditambah dengan bab2 mengenai pembiajaan dan lain sebagainja (lihat lampiran). Berdasarkan pendapat, bahwa kewadjiban beladjar, jang dilaksana-kan atas keinginan dan keinsjafan masjarakat adilaksana-kan memberi hasil jang lebih memuaskan dari pada apabila dipaksakan atas dasar undang2, maka sambil menunggu adanja Undang2, di-daerah2 Pertjobaan, ke-wadjiban beladjar dilakukan atas peraturan2 jang dibuat oleh penduduk sendiri pada Rapat-Rapat. Desa dengan petundjuk dari Tjamat dan Penilik S.R.
Peraturan ini baru berlaku, apabila sudah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakjat di Kabupaten. Sanksi2, kebanjakan terdiri atas hukuman2 jang bersifat sosial, seperti membersihkan halaman sekolah selama satu minggu, mendjaga keamanan desa, memperbaiki djalan2 desa, membersihkan kuburan dan lain sebagainja. Pada umumnja peraturan2 jang dibuat oleh Rakjat sendiri ini ditaati, tetapi ada djuga desa2 jang tidak sanggup untuk mendjalankan sanksi2nja.
Jang mendjadi penghambat dari pelaksanaan kewadjiban beladjar ini ialah dibeberapa tempat disamping kewadjiban beladjar jang dise-lenggarakan oleh Kem. P.P. & K. terdapat djuga kewadjiban beladjar jang diselenggarakan oleh Kem. Agama, dengan pembukaan Madrasah Wadjib Beladjar. Karena aparat Kementerian P.P. dan K. tidak berhak untuk masuk di Madrasah2, maka tidak pula dapat diketahui berapa
Menurut statistik tahun peladjaran 1958/1.959 djumlah murid S.R. ada 7.380.734 orang dengan tenaga pengadjar 181.592 orang. Dengan demikian rata2 seorang guru mengadjar 41 orang murid. Djumlah guru sudah mentjukupi.
§ 982. Tempat ruangan pendidikan dan perlengkapan
Menurut perhitungan kasar biaja jang diperlukan untuk melaksa-nakan kewadjiban beladjar diseluruh Indonesia selama 10 tahun rata2 Rp. 9 miljar setahunnja.
Terang, bahwa kewadjiban beladjar tidak mungkin dilaksanakan dinegara kita, apabila semua biaja harus ditanggung oleh Pemerintah.
Berhubung dengan itu, maka sedjak tahun 1956 s/d 1959 pem-biajaan kewadjiban beladjar didaerah-daerah Pertjobaan diatur sebagai berikut :
a. Pemerintah memberi bantuan berupa :
— guru2 jang diperlukan, termasuk gadjinja
— alat2 peladjaran
b. Rakjat menjediakan:
bangunan sekolah beserta halamannja
rumah sewa/pondokan guru.
Tetapi berdasarkan putusan Konperensi Kewadjiban Beladjar se-luruh Indonesia jang diadakan pada bulan Mei.1959 di Purworedjo dan dihadiri djuga antara lain oleh wakil2 D.P.D. Swatantra tingkat II dari pelbagai daerah, maka sedjak tahun 1960 tjara pembiajaan ini diubah sebagai berikut:
1. Pemerintah bertanggung-djawab atas adanja:
— guru2 jang diperlukan, termasuk gadjinja
— alat2 peladjaran. 2. Rakjat menjediakan:
bangunan sekolah beserta halamannja
alat2 perlengkapan
rumah sewa/pondokan bagi guru.
Tjatatan: Melihat keadaan dewasa ini, apabila ada uang baik sekali sebagai pendorong djika Pemerintah bisa mem-berikan sumbangan sebesar Rp. 5.000,— untuk tiap2 ruangan beserta perlengkapannja jang dibuat dengan biaja Rakjat.
Bahwa Rakjat bersedia untuk memberikan bantuannja sebesar-besarnja dapat dilihat dari angka2 mengenai bilik S.R. jang ada dise-luruh Indonesia. Menurut statistik tahun peladjaran 1958/1959 dari 115.862 buah bilik S.R. Milik Pemerintah hanjalah 41.183 sadja, se-dangkan jang 74.679 buah adalah kepunjaan rakjat.
§ 983. Alat2 peladjaran
Alat2 peladjaran didaerah pertjobaan kewadjiban beladjar diberi-kan oleh Pemerintah a Rp. 30,— tiap2 murid baru setahunnja. Uang ini ketjuali dipergunakan untuk membeli kitab dan buku-tulis dipakai djuga untuk membeli bibit tanam2an, kambing, ajam, itik, lembu, alat2 untuk mentjukur, tjangkul dan lain sebagainja, sehingga didaerah pertjobaan kewadjiban beladjar sedikit demi sedikit sudah dapat di-mulai dengan pemberian pendidikan jang bersifat kerdja.
§ 984. Pelaksanaan kewadjiban beladjar
a. 1. Dengan pelaksanaan kewadjiban beladjar dimaksudkan untuk mengusahakan :
Perluasan S.R., sehingga semua anak jang telah mentjapai usia wadjib beladjar (8 — 14 tahun) dapat ditampung di-sekolah rakjat.
Prinsip kearah pembaharuan ini adalah :
swadaja dan daja tjipta murid
sekolah adalah suatu bagian dari masjarakat
meskipun menjiapkan djuga sekolah Landjutan, pen-didikan/pengadjaran S.R. terutama bersifat bulat (af-gerond) dan praktis, sehingga murid jang tamat siap menggunakan tenaga/fikirannja dalam masjarakat bagi kehidupan dan penghidupannja.
dengan melalui S.R. dapat tertjapai perbaikan masja-sjarakat dalam lapangan ekonomi dan sosial.
2. Untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut diatas, disekolah diadakan usaha-usaha mengenai:
pembuatan alat2 peraga untuk peladjaran, kooperasi,
perindustrian rumah, kebersihan/kesehatan, kesenian dan lain sebagainja.
3. Usaha jang dimaksud dalam a dilaksanakan bersama-sama dengan semua djawatan jang ada didaerah dan dengan bantuan penuh dari Rakjat.
b. Tugas dari urusan Kewadjiban Beladjar pada dewasa ini, adalah terutama memberi pendidikan kepada masjarakat kearah pengerti-an, bahwa mengusahakan pendidikan/pengadjaran bagi sang anak adalah tugas kewadjiban orang tua dan masjarakat. Pemerintah memberi pimpinan dan djika mungkin memberi djuga bantuan sekedarnja.
1. Pemerintah akan memberikan bantuan berupa :
—tenaga pengadjar, termasuk gadjinja
—sekedar alat2 peladjaran. 2. Masjarakat diharap menjediakan :
—bangunan sekolah beserta halamannja
—tanah untuk berkebun
—rumah sewa/pondokan bagi guru2 baru
1. Daerah2 Kewadjiban Beladjar.
Pada waktu ini ada 3 matjam daerah kewadjiban beladjar:
(a) Daerah2
jang melakukan kewadjiban beladjar atas penundjukan
Kementerian P.P. dan K.
1965 1. Djepara - Djawa Tengah -2. Pasuruan - Djawa Timur -3.
ngandow - Sulawesi terhenti karena Permesta 1957 4. Lampung Tengah - Sumatra Selatan
-5. Limapuluh Kota - Sumatra Barat terhenti ka-rena P.R.R.I. 6. Sumedang - Djawa Barat -7. Banjuwangi - Djawa Timur -1958 8. Atjeh Selatan - Atjeh
-9. Labuan Batu - Sumatra Utara tidak begitu lantjar kare-na P.P.R.I. 10. Barabai - Kalimantan Sel. -11. - Kramat- Djakarta Raja
-djati
12. Purworedjo - Djawa Tengah -1959 13. Bandung - Bali -14. Madjalengka - Djawa Barat -15. Klaten - Djawa Tengah
-(b) Daerah-daerah jang melaksanakan kewadjiban beladjar atas pe-nundjukan Biro Pembangunan Masjarakat Desa:
pembiajaan dilakukan oleh Biro Pusat P.M.D.; guru-guru dan
alat2 peladjaran jang diperlukan didjamin oleh Dinas P.P. dan K. jang bersangkutan.
Pimpinan teknis dilakukan oleh Departemen P.P. dan K:
Tahun
di-1958 1. Sukabumi Sukabumi Djawa Barat
(c) Daerah2 jang melaksanakan persiapan kewadjiban beladjar atas usaha masjarakat sendiri:
Nama Daerah Daerah
Swatantra I Keterangan Swatantra II Kewedanan/
Kota Pradja
1. Tasikmalaja - Djawa Barat
2. G a r u t - ,,
3. Purwakarta - ,,
4. Tjiamis - ,,
5. Purwokerto - Djawa Tengah
6. — Magelang ,, 7. — Grobogan ,, 8. Kulon Progo - D. I. Jogjakarta
9. — Wlingi Djawa Timur
10. Bodjonegoro - ,, 11: Bangkalan - ,,
12. Soppeng - Sulawesi Selatan
13. Hulu Sungai Sel. - Kalimantan Sel, 14, Musi Ilir/Banju- - Sumatera Sel.
asin
-15. Timor - Nusatenggara
Biaja seluruhnja dipikul oleh masjarakat.
Pimpinan diberikan oleh Inspeksi S.R./Dinas P.P. dan K. setempat.
Guru – guru dan sekedar alat2 diperoleh dari dinas P.P. dan K.
Daerah.
2. Daerah2
Tjalon untuk tahun 1960
No. Urut Daerah Swatantra II Daerah Swatantra I
1. Pandeglang Djawa Barat
2. Semarang/Purwokerto Djawa Tengah
3. Kulon Progo D.I. Jogjakarta
4. Lombok Nusatenggara Barat
5. Maumere Nusatenggara Timur
6. Makasar (kota) Sulawesi Selatan
7. Kotawaringin Kalimantan Tengah
8. Pontianak Kalimantan Barat
9. Musi Ilir/Banjuasin Sumatera Selatan
d. Keadaan di-daerah2 Kewadjiban Beladjar:
1) Djumlah anak jang berusia wadjib beladjar dalam
tahun 1959 adalah ………...………… 15.000 orang Dapat ditampung ...13.000 orang Djumlah anak jang berusia beladjar dalam tahun
1960 ada………... 6.000 orang sisa tahun 1959... 2.000 orang
Harus ditampung 8.000 orang Jang dapat dilakukan dengan mudah.
Dalam tahun 1960 semua anak jang berusia wadjib beladjar dapat ditampung.
2) Angka 2 pada tahun 1957/1958, sedangkan angka tahun 1958/1959 belum diterima.
e. Kegiatan² dibeberapa Daerah Kewadjiban Beladjar.
Dengan pelaksanaan kewadjiban beladjar telah dapat tertjapai be-berapa keuntungan:
a. Terbentuknja suatu team jang terdiri dari wakil2 semua djawatan Pemerintahan jang ada di Kabupaten/Ketjamatan jang merasa bertanggung-djawab atas pelaksanaan kewadjiban beladjar didae-rahnja masing2.
b. Diterimanja usaha kewadjiban beladjar oleh sebagian terbesar masjarakat dianggap sebagai dasar untuk segala pembangunan di-daerah2.
c. Pendaftaran kelahiran, kematian dan mutasi penduduk setjara ter-atur, sehingga statistik mengenai penduduk dapat diketahui dengan mudah.
d. Pengaruh dari sekolah terhadap pada masjarakat, sehingga pendu-duk bersedia datang kesekolah untuk mendapat petundjuk2 /ban-tuan dalam lapangan pertanian, perikanan, kebersihan, kesehatan dan lain sebagainja.
e. Timbulnja kegiatan2 disementara daerah untuk meninggikan peng-hasilan jang memungkinkan pembiajaan kewadjiban beladjar oleh daerah sendiri, antara lain dengan:
+ pembuatan saluran air untuk pertanian,
f. Terdapatnja kegiatan2 jang menghasilkan disementara S.R. sehingga dapat membiajai sebagian dari keperluannja dengan hasil itu.
g. Tumbuhnja Kelas2 Masjarakat dibeberapa daerah dengan tudjuan lain sebagainja selama 1 a 2 tahun,
h. Tabungan jang dipelopori oleh para guru.
Sebagai tjontoh dapat dilaporkan, bahwa di Pasuruan tabungan guru ini sudah dapat merupakan modal sebesar ± Rp. 2.800.000,—. Dari beberapa wilajah dilaporkan, bahwa dalam waktu 1 tahun 128 buah S.R. mempunjai tabungan sebesar Rp. 777.035 dengan kete-rangan bahwa:
S.R. Sumare mempunjai tabungan Rp. 56.731,25
S.R. Kaliredjo „ „ „ 73.686,45
S.R. Erlangga ,, ,, ,, 27.510,— S.R. Redjosari ,, ,, ,, 25,586,05
§ 986. Rentjana dasar kewadjiban beladjar seluruh Indonesia
a. 1. Instruksi Presiden kepada Menteri Muda P.P. dan K. supaja buta-huruf telah dapat terberantas dalam tahun 1964 memaksa urusan Kewadjiban Beladjar menjesuaikan rentjana perluasan Sekolah2 Rakjat dengan instruksi tersebut.
Buta-huruf tidak akan terberantas, bahkan akan tambah besar djumlahnja, apabila djumlah S.R. dan djumlah murid jang ditampung tiap2 tahunnja tetap seperti tahun jang sudah2. 2. Tjara jang didjalankan oleh urusan Kewadjiban Beladjar kini
ialah menambah daerah kewadjiban beladjar dengan 10 daerah baru tiap2 tahun, sesuai dengan biaja jang dapat diperoleh dari Departemen Dalam Negeri.
Karena Indonesia terbagi atas ± 200 Daerah Swatantra tingkat II/Kota Pradja dan pada tahun 1960 akan terdapat 25 daerah jang melaksanakan kewadjiban beladjar setjara resmi, maka selandjutnja harus dipikirkan pelaksanaan kewadjiban beladjar di 175 daerah jang lain.
tidak melandjutkan peladjarannja dapat menggunakan tenaga dan fikirannja dalam masjarakat, terutama dalam bidang pen-tjaharian hidup.
4. Berhubung dengan hal2 tersebut diatas perlu pelaksanaan ke-wadjiban beladjar dipertjepat untuk seluruh Indonesia, sehingga dapat selesai selambat-lambatnja pada tahun 1970 dengan djalan :
(a). Memusatkan tanggung-djawab mengenai kewadjiban be-ladjar dalam satu pimpinan, ialah Departemen P.P. dan K. (b). Mengikut-sertakan semua Departemen dalam
melaksana-kan kewadjiban beladjar.
(c). Memberikan penerangan dan bimbingan kepada semua daerah setjara teratur dan terus-menerus, sehingga Rakjat dan masjarakat bersedia memberikan bantuan sebesar-besarnja dalam melaksanakan kewadjiban beladjar.
(d). Mendjadikan kewadjiban beladjar usaha Departemen P.P. dan K. untuk waktu 10 tahun dan memerintahkan kepada semua Inspeksi Pengadjaran Rendah Daerah Swa-tantra tingkat I/II dan para Penilik Sekolah Rakjat untuk melaksanakan kewadjiban beladjar dalam batas waktu selama-lamanja 10 tahun dengan mengusahakan bantuan dari masjarakat jang sebesar-besarnja.
(e). Memerintahkan untuk melaksanakan pembaharuan isi pendidikan dan pengadjaran S.R. setjara merata diseluruh Indonesia dengan memperhatikan kepentingan sang anak dan masjarakat dengan mengambil sebagai dasar peng-alaman-pengalaman jang diperoleh Science Teaching Centre dan urusan Kewadjiban Beladjar.
(f). Menindjau kembali penggunaan keuangan jang tersedia untuk penjelenggaraan S.R., sehingga dengan biaja jang sama dapat tertjapai hasil jang djauh lebih banjak.
Tjontoh :
(1). Untuk 1 gedung S.R. umpamanja tersedia biaja sebesar rata2 Rp. 200.000,—. Apabila uang ini di -berikan sebagai subsidi kepada masjarakat a seba-njak-banjaknja Rp. 25.000,— dapat didirikan 8 buah gedung S.R. a 6 bilik jang dapat dipergunakan se-perlengkapan dapat dipergunakan untuk :
membantu daerah2 jang tidak mampu,
menambah subsidi untuk pembuatan gedung2, pembelian alat2 peladjaran termasuk alat2 untuk pekerdjaan tangan seperti tjangkul, sabit dsb.
(3). Kegiatan disekolah dalam lapangan pertanian, per-ikanan, pertukangan dan lain sebagainja memberi-kan penghasilan djuga kepada sekolah dapat diper-gunakan untuk ber-matjam2 keperluan seperti : membeli buku2 peladjaran kan Rp. 1.750,— dalam beberapa bulan sadja. Uang ini dipergunakan untuk memperlengkapi sekolah dengan bangku2 jang diperlukan.
Di Purworedjo sebuah S.R. menjewa sebidang tanah Rp. 500,— setahun, untuk bersawah. Sesudah 4 disemua kabupaten didaftarkan, sehingga dapat diketahui dengan pasti berapa anak jang harus ditampung setiap tahunnja dimasing-masing daerah. Untuk memimpin pe-kerdjaan ini, jang dilakukan oleh tiap2 desa, dapat ditiap-tiap Daerah Swatantra II diangkat seorang Pemeriksa Daerah jang bersangkutan Panitia-panitia ini merupakan Team Kerdja untuk menggerakkan daerah.
Pelaksanaan langsung dilakukan oleh Panitia Kewadjiban Beladjar Desa jang dipimpin oleh Kepala Desa, sedangkan anggauta2nja dipilih oleh rapat Desa.
b. Untuk mentjapai hasil jang diharapkan, pemberian sebuah jeep/ perahu bermotor kepada Inspeksi S.R. di Daerah Swatantra ting-kat I dan II merupakan suatu sjarat mutlak. Pemberian alat pengangkutan ini dapat dilakukan setjara berangsur-angsur dalam waktu 5 tahun, sehingga setahunnja diperlukan ± 45 buah jeep/ perahu bermotor.
d. Biaja.
Berdasarkan pengalaman bagian tiap2 kabupaten rata2 diperlukan biaja tambahan sebesar Rp. 3 djuta untuk melaksanakan kewadjiban beladjar dengan bantuan masjarakat jang terdiri atas:
— gedung sekolah beserta halaman
— rumah sewa/pondokan bagi guru
— alat2 perlengkapan
Djika setahunnja dapat disediakan biaja tambahan sebesar Rp. 150 djuta, maka dalam waktu 8 tahun kewadjiban beladjar dapat dilaksanakan diseluruh Indonesia (Dalam biaja tambahan ini sudah termasuk biaja untuk membeli alat2 pengangkutan bagi Inspeksi S.R., biaja kantor baru, gadji guru baru).
§ 987. Usul-usul
a. Pelaksanaan kewadjiban beladjar pada dewasa ini berada dibawah dua Departemen ialah :
1. Tentang keuangannja diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri.
2. Tentang alas, organisasi, tudjuan, curriculum diselenggarakan oleh Departemen P.P. dan K.
Untuk lantjarnja maka tanggung-djawab pelaksanaan kewadjiban beladjar sebaiknja dipusatkan pada Departemen P.P. dan K. sadja.
b. Sampai kini usaha pelaksanaan kewadjiban beladjar belum memperoleh dukungan sepenuhnja dari Pemerintah dan Masjarakat. Untuk memperbaiki keadaan ini sebaiknja kewadjiban beladjar didjadikan suatu „nationale zaak” dengan mengadakan propaganda seluasnja dikalangan rakjat jang harus diselenggarakan bersama-sama oleh Departemen P.P. dan K., Departemen Penerangan dan Departemen Dalam Negeri.
Disamping itu dapat dikemukakan, bahwa apabila hal itu terlak-sana maka dengan sendirinja usaha Pemberantasan buta-huruf sekaligus akan terlaksana sebaik-baiknja.