Baik, Bapak-Ibu sekalian, kita telah mendengar tadi laporan dari Komite IV. Jadi, ada keinginan mengadakan sebuah forum. Jadi, ini tentu akan kita tindak lanjuti ya. Jadi, saya minta Pak Sesjen untuk berkoordinasi dengan Setjen DPR RI untuk mencari bagaimana mekanisme tugasnya ya. Mungkin di tingkat Banggar sudah oke, tetapi surat yang saya ajukan itu kepada Pimpinan DPR dia mengikuti mekanisme. Mudah-mudahan melalui judicial review ini bisa kita lanjutkan.
Nah, Bapak-Ibu sekalian, mungkin barangkali kalau masih ada yang di luar ruangan, melalui Seketariat Jenderal mohon diajak ke dalam yang ada di luar. Karena, ini ada penjelasan lebih dalam sedikit terhadap apa yang diputuskan oleh MK. Barangkali bisa disampaikan agak lebih dalam. Tadi saya cuma memberikan kira-kira begitulah. Ya jadi mungkin waktunya lebih agak lima menit kita persilakan. Bagi yang ada di luar, mohon protokol untuk bisa dipanggil karena mulai hari ini kan kita akan ada di daerah sampai tanggal 30 April ya, 28 April. Jadi, hampir satu bulan. Jadi, tentu ingin bisa kita menyampaikan apa hasil keputusan tersebut ya berdampak kepada tugas dan kewenangan kita dan posisi kita yang menurut saya kita tidak boleh menyatakan diri kita lemah lagi.
Tidak ada lagi ini. Ini sudah kuat sekali tergantung artikulasi individu kita. Tepuk tangan.
Tidak ada lagi ya. Nah, nanti kami dari meja Pimpinan akan terus rapat ya, kami di Jakarta saja bersama Pimpinan-pimpinan nanti yang kami ajak untuk rapat bersama BK, PPUU, Ketua-ketua Alat Kelengkapan. Untuk anggota, nanti yang masuk dalam tim yang telah diamanatkan kepada Pimpinan.
Untuk itu, kami persilakan sekaligus juga laporan, kebetulan bersamaan orangnya, yaitu Panitia Perancang Undang-Undang dan Tim Litigasi ya. Jadi, mohon Pak Wayan dalam kesempatan ini memberikan secara, jangan bahasa hukum kalau bahasa hukum banyak yang tidak paham, kira-kira bagaimana implikasinya sehingga nanti teman-teman di daerah akan bisa menjelaskan kepada konstituennya. Baik, mari kita beri tepuk tangan Pak Wayan Sudirta. kami persilahkan.
PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (KETUA PPUU)
Laporan pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang Masa Sidang III Tahun Sidang 2012-2013 dan Tim Litigasi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia disampaikan pada Sidang Paripurna ke-11 hari ini, Kamis, 28 Maret 2013. Saudara Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang kami hormati, saudara-saudara Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dan hadirin yang kami hormati pula.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Om swastyastu.
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan YME atas segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga sidang pada hari ini dapat kita laksanakan dengan baik.
Para hadirin yang saya hormati, kemarin kita telah mendengarkan keputusan MK.
Pertama-tama, yang kita harus garis bawahi adalah bukan bagaimana kita sekarang bisa membahas secara penuh. Bukan sekadar itu, juga bukan bagaimana kita sekadar bisa mengajukan RUU, tetapi tadi saya dengan Pak Fatwa berbisik-bisik. Yang pertama justru
digarisbawahi adalah ketika majelis hakim MK mengupas pengertian kata "dapat" disamakan dengan "berhak". Banyak perdebatan bisa kita lakukan, tetapi satu hal yang kita garis bawahi, itu tandanya MK punya political will yang ingin menjajarkan DPD dengan DPR. Sekali lagi, ingin menjajarkan, menyetarakan DPR dan DPD. Kalau tidak, kata "dapat" bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi, karena Laica Marzuki sebagai ahli juga menjelaskan panjang lebar apa yang dimaksud kata "dapat" dalam konteks seperti ini, maka apa yang disampaikan tim ahli itu bisa diakomodasi oleh majelis hakim. Jadi, serius sekali kalau begitu pandangan MK terhadap posisi DPD.
Yang lain-lain, masalah Prolegnas kita sudah bisa ikut seperti kata tadi mengajukan RUU juga sudah ikut, membahas seluruhnya kecuali sampai sebelum persetujuan kita bisa melakukannya. Artinya apa? Masih ada catatan kecil kalau kita ingin mengamademen Undang-Undang Dasar 1945 tentu masalah persetujuan yang berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan daerah masih perlu kita kerjakan.
Para hadirin, kita tidak perlu berdebat apakah 90%, 99%, atau 70%. Sebaiknya tidak begitu. Tetapi, memang persetujuan belum bisa diberikan. Tetapi, ada beberapa pasal yang tidak dimohonkan oleh MK, seperti Pasal 71 Ayat (3) tentang Perpu, misalnya. Sesuatu yang tidak dimohonkan malah diputuskan dan diberikan peranan dan kewenangan di mana DPD ikut serta membahas Perpu itu. Ini suatu kemajuan luar biasa.
Para hadirin, ada pertimbangan lain. Seluruh pasal-pasal Undang-Undang MD3 dan P3 yang tidak dirinci dalam permohonan satu persatu, sepanjang pasal-pasal itu mereduksi kewenangan DPD tentang yang berkaitan dengan mengajukan RUU dan membahas, itu seluruhnya dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Sekali lagi, ketika pasal mana pun yang mereduksi kewenangan DPD dalam dua hal itu. Jadi, yang tidak dicantumkan seluruhnya, ini seperti pertimbangan sapu jagat. Mana saja pasal MD3 dan P3 yang mendistorsi kewenangan DPD seperti itu dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Ini political will yang kedua.
Saya sekali lagi mendapatkan terminologi ini dari Pak Fatwa. Mungkin maksudnya Pak Fatwa, jangan menganggap ini keputusan ini biasa-biasa. Ini suatu sikap politik Mahkamah Konstitusi yang ingin mengatur ketatanegaraan ini agar menjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada check and balances di antara lembaga-lembaga legislatif. Yang kedua, ini akan ada masa reses. Tetapi, kami ingin mengajukan imbauan kepada tim litigasi sekaligus mengucapkan terima kasih kepada mereka yang duduk dalam tim, sekaligus juga mengucapkan terima kasih kepada forum ini, kepada seluruh Anggota DPD, staf Seketariat yang selama ini selalu hadir di persidangan, dan tidak kalah pentingnya adalah betul apa yang kita estimasikan ketika Pimpinan DPD selalu hadir di forum yang seperti ini, kita punya keyakinan bahwa Mahkamah Konstitusi pun akan menaruh respek yang luar biasa kepada DPD. Maka, terima kasih kepada Pimpinan DPD, terima kasih kepada Tim Litigasi, terima kasih kepada Anggota yang hadir, dan staf Seketariat yang tidak kalah semangatnya.
Dalam masa sidang yang sekarang ini, sekali lagi sambil menunggu masa sidang berikutnya, kami akan mengerjakan beberapa hal yang patut dan karena tidak mungkin terlambat mengerjakannya. Pertama-tama, kami imbau jika hari ini tidak dapat ditulis, segera pada kesempatan pertama Pimpinan menulis surat agar ada rapat koordinasi, ada pertemuan, konsultasi antara Presiden, DPR, dan Pimpinan DPD. Terminologi yang benar, "rapat konsultasi", bukan "koordinasi", konsultasi karena antarlembaga.
Kami juga akan segera mengupayakan dari Tim Litigasi bahwa tim ahli yang sudah banyak sekali menghubungi kami mengucapkan selamat dan menunggu tugas berikutnya.
Harusnya pada kesempatan pertama juga diagendakan oleh Seketariat dan kebijakan Pimpinan karena ini berkaitan dengan hal-hal yang nonteknis. Bagaimana agar mereka bisa datang tanpa merasa terbebani, tetapi juga anggota-anggota itu tidak merasa terganggu tugasnya di daerah. Rasanya ini bisa ditangkap, tetapi kami menginginkan makin cepat
pertemuan ini makin baik. Para ahli ini akan sangat berguna, terutama apakah ada sebuah buku atau paper atau kajian lengkap atas keputusan ini terhadap Undang-Undang MD3 dan P3 sehingga sebelum DPR menyiapkan pembahasan secara menyeluruh, bahan pertama yang diterima oleh DPR, khususnya Baleg adalah bahan-bahan kajian yang datang dari para ahli.
Para hadirin yang saya hormati, dulu ketika kami bersama-sama dengan Pak Amang misalnya, merintis, membangun, bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, banyak sekali yang mempertanyakan apa, sih, kegunaan law center membangun hubungan dengan lembaga perguruan tinggi ini. Pertama-tama, kegunaannya adalah penelitian, kajian hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan daerah, hubungan pusat dan daerah. Kami sudah mendapatkan puluhan hasil penelitian. Yang kedua, kami sudah mendapatkan dukungan dari mereka sejenis petisi agar amademen ini segera dilakukan. Itu muncul dari kerja sama law center. Yang ketiga, saya tidak berani memastikan, tetapi beberapa daerah menyatakan kerja sama law center itu sudah membuahkan hasil di mana universitas di wilayah Sumatera Barat, di Sulawesi Selatan, dan lain-lain ketika didatangi oleh Baleg mempertanyakan tentang posisi DPD dalam Undang-Undang MD3 dan Undang-Undang P3, ternyata teman-teman universitas yang sedang melakukan kerja sama jawabannya seragam. Peranan DPD harus ditingkatkan. Dan, ketika saya membaca keputusan MK, apa yang dimuat dalam keputusan MK itulah yang menjadi suara teman-teman dari universitas yang kita ajak bekerja sama . Artinya, kerja sama itu di law center sekarang terasa sekali betapa pentingnya untuk mendukung kegiatan-kegiatan kita tanpa kecuali. Contoh yang dalam ilustrasi yang terakhir yang juga tidak berani kita pastikan, apakah DPR dan pemerintah tidak membawa ahli, sementara DPD demikian banyak ahli-ahli yang luar biasa dan bagus, apakah itu pertanda karena kita sudah banyak sekali berkenal dengan para ahli sampai ada slogan, jangan-jangan DPR dan Pemerintah tidak dapat ahli karena sudah diambil semua oleh DPD. Ada guyonan seperti itu, tetapi saya tidak berhak untuk menjawabnya. Mari kita renungkan, jangan-jangan guyonan itu menjadi serius sehingga kitalah selama ini terus didukung oleh para ahli. Itu bagian kedua dari yang saya sampaikan.
Bagian yang ketiga, pada Pimpinan, pada Seketariat Jenderal, pada Anggota yang saya hormati. Ini tidak bisa kita anggap sebuah kebahagian sepenuhnya. Ini sebuah rasa syukur, tetapi ada beban yang tidak kecil. Kelak kalau kita sudah diberikan kewenangan untuk membahas, catatan Ibu Sesjen yang kita hormati itu harus saya sampaikan di sini secara resmi. Berkali-kali Ibu Sesjen membisikkan kepada saya, “Pak Wayan, mampu tidak kalau nanti kita diberikan kewenangan membahas penuh?” Waktu itu, terus terang Ibu Sesjen bukan meragukan, tetapi mempertanyakannya kita. Bukan meragukan, mempertanyakannya.
Saya salah satu yang menjawab dengan pasti, bisa. Argumennya, karena kita punya 132 anggota, sedangkan beberapa partai kecil tidak memiliki jumlah sebanyak kita. Kedua, ketokohan DPD tidak kalah dengan rata-rata ketokohan di DPR. Maka, kita pastikan pasti kita bisa, dan saya ajukan beberapa syarat kepada Bu Sesjen.
Nah, di forum ini ada syarat-syarat yang bisa kita kemukakan, ada yang tidak. Yang tidak bisa saya kemukakan adalah sarannya Prof. Farouk, nanti kita bahas kemudian. Bagus, tetapi tidak elok kalau dibahas di sini. Yang bisa kita sarankan di sini adalah kerja sama dengan antara Alat Kelengkapan dan PPUU karena saya sedang melapor dari PPUU ini harga yang harus dibayar mahal. Mari kita bersatu menyepakati konsep-konsep sebelum kita ke DPR. Sepanjang itu memang untuk kebaikan kita agar mutu RUU kita di DPR tidak dipersoalkan, maka penting sekali pemahaman kita tentang Undang-Undang P3. Penting kita memahami masalah-masalah yang berkaitan dengan legal drafting. Saya berharap besok setelah Paripurna ini selesai tidak ada lagi perdebatan antara komite dengan PPUU ketika menyangkut legal drafting. PPUU juga tidak boleh nanti bersikukuh memperdebatkan materi-materi yang menjadi substansi dari komite masing-masing. Sekali lagi, kerja sama sudah semakin baik, tetapi tentu membutuhkan kerja sama yang lebih baik lagi ketika kita
akan hadir membawa RUU ke DPR. Sesuatu misal, jangan sampai ada RUU yang mengutip lagi aturan yang sudah dibuat dalam RUU yang lain, dalam Undang-Undang yang lain kita muat lagi dalam RUU kita. Karena, itu sudah berkali-kali diingatkan oleh Baleg. Tetapi, dengan keterbatasan kemampuan kami, kami terpaksa harus berbaik-baik, luwes-luwes, tidak boleh keras-keras pada komite, sekalipun itu pesan dari Baleg. Jangan lagi mengutip Undang-Undang yang sudah diatur, kecuali dengan alasan tertentu.
Demikian kira-kira poin-poin penting bahwa bagaimana caranya Pimpinan DPD, Pimpinan Komite, memastikan bahwa kehadiran dari Anggota DPD nanti tidak mengecewakan di sana. Lalu, mohon maaf dengan segala kerendahan hati, bagaimana Ketua Komite memastikan bahwa delegasi yang dikirim itu memadai kemampuannya. Dan, yang terakhir, siapa pun yang menjadi ketua tim ke DPR itu benar-benar bisa mengayomi seluruh anggota, memberikan peranan yang adil kepada anggota, sehingga ketua timnya tidak main sendiri, tidak kerja sendiri sekalipun selama ini kita anggap sudah bagus kerja samanya.
Ibarat menggarami lautan, tidak ada salahnya Anggota-anggota yang ikut menjadi anggota tim diberikan peranan yang memadai.
Yang paling akhir, Komite II dengan RUU Kelautan itu contoh yang paling baik untuk ditiru. Bagaimana komite bekerja sama dengan staf ahli PPUU. Dan, saya mendengar selalu cara-cara seperti itu hendaknya dapat dilakukan. Komite lain juga sudah melakukan hal yang sama, tetapi kerja samanya masih sebatas di lingkungan DPD. Tetapi, Komite II sudah memberikan contoh yang baik ketika berhadapan dengan DPR, tim dari PPUU dan tim dari komite itu bersatu padu sehingga berkali-kali sekarang kelihatan di media betapa komite II atas nama DPD ternyata bisa juga membuat RUU yang layak dibawa ke DPR.
Para hadirin, hanya sekian saja yang bisa saya sampaikan. Sekali lagi, waktu yang pendek tidak mungkin bisa menjawab semua, tetapi dengan semangat Pimpinan, semangat Pimpinan alat kelengkapan, semangat Anggota, pasti masalah ini bisa teratasi. Dan, jika tidak ingin dipermalukan, maka pertanyaan Ibu Sesjen yang mengatakan apakah mampu kita, kita harus jawab dengan bukti, bukan dengan kata-kata.
Terima kasih.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Mengenai PPUU dan law center, sengaja tidak saya bacakan karena waktunya sudah panjang. Saya serahkan saja untuk dua hal itu. Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Terima kasih, Pak Wayan Sudirta sebagai ketua PPUU dan juga ketua Tim Litigasi yang telah menyampaikan laporan dan progress-nya. Marilah kita sekali lagi memberikan apresiasi dengan applause buat Tim Litigasi dan kerjanya belum selesai dan makin berat karena tidak, harus dipanggil terus ada di senayan ini untuk bersama Pimpinan nanti melakukan rapat konsultasi, baik dengan DPR yang kita lagi agendakan, sekitar hari Rabu ya, kita sudah cek tadi supaya dalam keadaan begini bisa kita mengimplementasikan. Dan, harapan saya, Bapak-Ibu sekalian, ini merupakan suatu kehormatan buat kita bisa dipercaya rakyat oleh daerah kita untuk hadir di sini. Dan, kita akan maksimalkan kewenangan yang telah diberikan kita penuh ini, menurut saya, sehingga tidak ada ruang lagi dalam pembahasan itu. Jadi, kita terlibat penuh dari awal menyiapkan DIM, pandangan mini, kemudian juga waktu Paripurna pun juga kita hadir, kita juga menyampaikan pembahasan, hanya putusan saja tidak. Jadi artinya, subtansinya itu kita terlibat penuh. Yang penting kan itu-nya. Mungkin bagi teman-teman yang pernah di DPR, hampir seluruh produk Undang-Undang itu lebih banyak dibahas pada pembahasan tersebut. Apa kita buka forum? Sebab, waktunya tidak ada ini. Saya khawatir nanti ya, bagaimana? Nanti kita akan lanjutkan sebab
masih ada lima lagi, saya khawatir. Saya harus kejar flight juga ke Pekanbaru, setengah tujuh.
Kita lanjut sajalah ya yang penting, saya khawatir kalau saya buka lagi nanti kita tidak bisa selesaikan.
Baik, terima kasih sekali lagi kepada PPUU dan Tim Litigasi. Dan, selanjutnya kita mintakan kepada Pimpinan Badan Kehormatan.
PEMBICARA : Drs. H. A. M. FATWA (KETUA BK )
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera.
Om swastyastu.
Saudara Pimpinan dan rekan-rekan senator serta para hadirin yang saya muliakan, sebelum saya memulai laporan ini, saya menumpangi sedikit laporan dari Ketua PPUU. Tadi, pertukaran singkat saya karena Pak Wayan ini sebenarnya pengacara saya dulu. Jadi, saya biasa mendengar perdebatan kalangan pengacara itu bahwa istilah "dapat" itu memang tidak imperatif. Nah, jadi di sinilah kita perlu di dalam kesyukuran kita perlu memberikan kita apresiasi khusus kepada MK tentang political will-nya, keberpihakannya. Jadi, DPR dalam hal ini mengartikan "dapat" itu tidak imperatif. Jadi, dia menganggap dirinya tidak salah dari segi hukum ya di dalam Undang-Undang Dasar. Tetapi, dalam hal ini MK karena sikap keberpihakannya, dia mengartikan "dapat" itu dalam Undang-Undang Dasar itu 'harus'. Ini sekadar karena ini bekas terdakwa, jadi mendengar perdebatan para pengacara ya.
Nah, laporan singkat dari BK ini, yang pertama, rencana kegiatan seminar nasional, pelaksanaan hak-hak keprotokolan bagi anggota lembaga perwakilan, jadi pusat dan daerah.
Telah menyepakati untuk menyelenggarakan kegiatan seminar nasional mengenai pelaksanakan hak-hak keprotokolan bagi anggota legislatif di pusat dan daerah pada tanggal 30 Mei 2013. Ini sudah dikoordinasikan dengan Panmus dengan rencana narasumber: Kepala Protokoler Negara; mantan Ketua Pansus RUU di DPR; mantan Sekretaris Negara Bambang Kusowo; mantan Sesjen DPD Dr. Ir Siti Nurbaya; Mantan Sesjen DPR Dra. Nining Indra Saleh; dan Sesjen MPR Drs. Edy Siregar. Lalu, peserta: Ketua BK DPRD provinsi seluruhnya, sedangkan kabupaten dan kota secara selektif; Kepala Humas dan Protokol Kemendagri; Kepala Humas dan Protokol Daerah Provinsi seluruhnya, kemudian untuk kabupaten dan kota secara selektif; kemudian Sekretaris Dewan Sekwan DPRD Provinsi seluruhnya, sedangkan kabupaten kota secara selektif.
Nah, ini sedikit catatan di dalam bicara soal protokoler. Tadi malam dengan segala hormat kita kepada Ketua KPU dan Ketua Bawaslu atas kehadirannya di sini dan perhatiannya yang besar atas undangan kita. Tetapi, ada sedikit keganjilan protokoler tadi malam sehingga saya koreksi juga staf protokol. Ketika masuk Ketua KPU, hadirin dipersilakan berdiri. Nah, ini mungkin kita ingin mendapatkan perhatian dari KPU, tetapi kan tidak perlu merendahkan diri dan kepribadian karakter kita itu, posisi kita itu harus tetap menurut Undang-Undang Protokol. Jadi, itu maksudnya untuk tidak harus terulang karena yang berhak untuk menurut Undang-Undang Protokoler berdiri itu, yang hanya Indonesia Raya, Presiden, dan Wakil Presiden sebagai simbol negara.
Kemudian, kemarin juga diadakan peluncuran buku berjudul Menegakkan Etika Memajukan Parlemen yang digabungkan dengan pelaksanaan Dialog Kenegaraan dengan tema “Peran Badan Kehormatan dalam Menjaga Harkat Martabat Kehormatan dan Citra Lembaga Legislatif" dengan para pembahas kemarin, Zain Badjeber, Prof. Tjipta Lesmana, dan Teguh Juwarno dari DPR. Nah, sekarang jadi waktunya kemarin persis sama dengan pembacaan keputusan MK.
Sekarang, mungkin perhatian kita bersama tentang rekapitulasi rata-rata kehadiran anggota pada masing-masing alat kelengkapan. Ini termasuk di sini Paripurna. Yang pertama,
Paripurna rata-rata kehadiran 77,34%. Kemudian, Rapat Pimpinan dari tiga orang Pimpinan DPD itu rata-rata kehadirannya 88,89%. Nah, kemudian Panmus rata-rata kehadiran 76,19%.
Komite I rata kehadiran 77,88%. Komite II rata kehadiran 67,15% . Komite III rata-rata kehadiran 67,11 %. Komite IV rata-rata-rata-rata kehadiran 68,25%. PPUU rata-rata-rata-rata kehadiran 81,16%. PURT rata-rata kehadiran 74,51%. Badan Kehormatan rata-rata kehadiran 78,63%.
PAP rata-rata kehadiran 69,80%. PHAL rata-rata kehadiran 61,88%.
Ini kalau rankingnya ini begini, rankingnya ialah Rapat Pimpinan nomor 1, ranking ke-2 adalah PPUU. Nah, Badan Kehormatan cuma ranking ke-3, jadi belum jadi contoh ini, tetapi masih masuk tiga besar. Nah, ranking 4 Komite I. Paripurna kita masuk ranking ke-5. Kemudian, PURT masuk ranking ke-6. Kemudian, Panmus masuk ranking ke-7. Komite II ranking ke-8. Dan, Komite IV ranking ke-9. Wah, saya turut memikul dosa di sini karena itu saya anggota di situ. Kemudian, ranking ke-10 ini Komite III. Nah, ini ranking ke-11 PAP.
Nah, karena saya anggota, saya juga anggota PAP, Ketua kita itu sangat rajin mengadakan rapat, tetapi yang hadir cuma sedikit. Jadi, ini bukan dosa Ketua ya, ini dosa para anggota.
Jadi, ini ranking terakhir ialah PHAL ya.
Nah, para hadirin yang terhormat, sebenarnya untuk Pimpinan, Wakil Pimpinan DPD itu menurut tradisi konvensi itu tidak perlu ada, tidak perlu ada absensi-absensi begini, tidak perlu. Jadi, karena itu di dalam edaran imbauan pelaksanaan kolektif kolegial Pimpinan alat kelengkapan kepada itu, antara lain kami di dalam alenia kelima kami katakan, sebagaimana diketahui bahwa Anggota Pimpinan DPD RI tidak diwajibkan untuk masuk ke dalam salah satu komite atau alat kelengkapan lainnya. Oleh karena itu, seyogyanya Sidang Paripurna rutin dipimpin oleh satu orang Pimpinan, sedangkan anggota Pimpinan lainnya dapat
Nah, para hadirin yang terhormat, sebenarnya untuk Pimpinan, Wakil Pimpinan DPD itu menurut tradisi konvensi itu tidak perlu ada, tidak perlu ada absensi-absensi begini, tidak perlu. Jadi, karena itu di dalam edaran imbauan pelaksanaan kolektif kolegial Pimpinan alat kelengkapan kepada itu, antara lain kami di dalam alenia kelima kami katakan, sebagaimana diketahui bahwa Anggota Pimpinan DPD RI tidak diwajibkan untuk masuk ke dalam salah satu komite atau alat kelengkapan lainnya. Oleh karena itu, seyogyanya Sidang Paripurna rutin dipimpin oleh satu orang Pimpinan, sedangkan anggota Pimpinan lainnya dapat