TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pinjaman Luar Negeri Swasta
Pinjaman yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pembiayaan suatu perusahaan. Sama halnya dengan pinjaman yang dilakukan oleh suatu negara, jika dikelola dengan baik, maka pinjaman akan dapat menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian.
Hampir semua negara terutama negara berkembang memiliki pinjaman dengan berbagai alasan, baik untuk membiayai pembangunan, menutup defisit anggaran maupun mengatasi liquidity mismatch. Penggunaan pinjaman luar negeri dalam pembangunan di negara berkembang menimbulkan pro dan kontra mengingat dalam kenyataannya banyak negara peminjam yang berhasil, gagal atau kurang berhasil dalam pembangunan dengan memanfaatkan pinjaman luar negeri. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Pinjaman Luar Negeri yang diterima suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan Pinjaman Luar Negeri hanya merupakan substitusi mobilisasi yang bersumber dari dalam negeri dan Pinjaman Luar Negeri yang besar dapat menyebabkan ekonomi suatu negara rentan terhadap gejolak perekonomian global. Hal ini telah terbukti di Indonesia yang merupakan salah satu negera berkembang dan memiliki Pinjaman Luar Negeri yang terus meningkat baik Pinjaman Luar Negeri Pemerintah maupun Pinjaman Luar Negeri Swasta.
Di lain pihak penelitian lain memberikan argumentasi yang berbeda dan menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif Pinjaman Luar Negeri atas pertumbuhan ekonomi bagi negara yang melakukan penyesuaian kebijakan. Hal ini mempertimbangkan bahwa peningkatan Pinjaman Luar Negeri akan menambah sumber dana dan dapat menutupi kesenjangan yang terjadi antara Investasi dan tabungan. Dengan kata lain jika tidak memanfaatkan Pinjaman Luar Negeri dari pemerintah atau swasta maka kesempatan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan Pinjaman Luar Negeri tersebut dapat hilang begitu saja.
Makhlani dalam tulisannya yang berjudul Pola Pembangunan Ekonomi dengan Pinjaman Luar Negeri (2007) menyatakan bahwa:
(i) Terdapat hubungan kausalitas antara Pinjaman Luar Negeri dengan
pertumbuhan ekonomi, Pinjaman Luar Negeri pemerintah, dan Pinjaman Luar Negeri swasta.
(ii)Sifat kausalitas antara Pinajaman Luar Negeri dan pertumbuhan ekonomi telah membentuk pola pembangunan dengan Pinjaman Luar Negeri dan dapat menjadi penyebab akumulasi Pinjaman Luar Negeri yang besar.
(iii)Karakteristik Pinjaman Luar Negeri pemerintah dan Pinjaman Luar Negeri swasta tidak sama sehingga berdampak beda atas pertumbuhan ekonomi dan sifat kausalitas antara Pinjaman Luar Negeri pemerintah dan Pinjaman Luar Negeri swasta dapat membentuk kombinasi Pinjaman Luar Negeri yang efektif.
Kondisi pinjaman luar negeri Indonesia baik yang diterima pemerintah maupun swasta menunjukkan peningkatan cukup signifikan sejak tahun 1970 sebesar US$ 2,52 miliar terus meningkat menjadi US$ 20,9 miliar (1980) dan US$ 136,09 miliar (1997). Jumlah pada tahun 1997 ini terdiri dari pinjaman luar negeri swasta sebesar US$ 71,95 miliar (Bank Indonesia, 1999). Peningkatan pinjaman luar negeri swasta terjadi akibat optimisme yang berlebihan dari beberapa perusahaan yang mendapatkan proteksi dari pemerintah dan melakukan monopoli. Faisal Basri (2002)
dalam bukunya “Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan
Indonesia” menyatakan bahwa proteksi yang diberikan pemerintah antara lain berupa
bea masuk tinggi yang melahirkan distorsi. Akibat distorsi itu antara lain:
1. Terdapatnya praktik-praktik yang kurang sehat dalam memupuk keuntungan.
Pinjaman luar negeri swasta digunakan untuk mendirikan berbagai macam pabrik yang pengelolanya tidak dilakukan dengan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip ekonomi yang sehat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
2. Eksposur sektor swasta terhadap pinjaman luar negeri kurang diikuti dengan pengelolaan pinjaman yang berhati-hati. Kekurang hati-hatian itu terutama tercermin dari mencuatnya fenomena maturity mismatch dan currency mismatch yang dihadapi sektor perusahaan secara umum. Maturity mismatch terjadi karena pinjaman jangka pendek yang diterima digunakan untuk membiayai investasi jangka panjang, sehingga terdapat risiko akibat perbedaan jatuh tempo antara aset dan kewajiban yang dimiliki. Maturity mismatch antara lain terjadi pada sektor perbankan karena dana yang
dihimpun dari pihak ketiga maupun dari pinjaman luar negeri memiliki jangka waktu pendek sedangkan produk yang ditawarkan berjangka waktu panjang. Pengelolaan Pinjaman Luar Negeri yang kurang berhati-hati pada masa sebelum krisis menyebabkan Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia melewati batas kewajaran. Selain hal di atas pada masa sebelum krisis tersebut Pemerintah Indonesia sedang giat mendorong peran sektor swasta dalam pembangunan dan sektor swasta diberikan keleluasaan untuk memperoleh dana dari luar negeri untuk menjalankan operasional perusahaannya. Pada saat itu pertumbuhan ekonomi terus meningkat sampai di atas 7% sehingga pemerintah kurang memperhatikan risiko yang akan terjadi di kemudian hari. Untuk menangani Pinjaman Luar Negeri Swasta yang terus meningkat pada masa krisis dan setelah krisis mengharuskan pemerintah indonesia melakukan restrukturisasi dengan membuat sebuah forum yang bertujuan membantu menyelesaikan Pinjaman Luar Negeri Swasta melalui Frankfurt Agreement yang menghasilkan 3 program yaitu:
1. Penyelesaian masalah Pinajaman Luar Negeri antarbank melalui program
Interbank Debt Exchange Offer.
2. Penyelesaian kendala pembiayaan perdagangan melalui program Trade
Maintence Facility.
3. Penyelesaian masalah pinjaman sektor swasta non bank melalui program
2.1.1. Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Swasta Indonesia
Pinjaman baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pembiayaan suatu perusahaan. Di Indonesia Pinjaman Luar Negeri Swasta dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sektor ekonomi yakni sektor industri pengolahan, sektor keuangan, persewaan dan jasa keuangan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, serta sektor pertambangan dan penggalian. Penggunaan Pinjaman Luar Negeri Swasta untuk sektor-sektor tersebut digunakan baik untuk menambah modal kerja ataupun perluasan kegiatan usaha. Selama ini sektor yang mendominasi pencairan Pinjaman Luar Negeri Swasta adalah sektor industri pengolahan. Ini dikarenakan adanya kebutuhan valas untuk membeli bahan baku yang diimpor.
Sektor lain yang mendominasi Pinjaman Luar Negeri Swasta adalah sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan serta sektor pertambangan. Sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan dalam kurun waktu 1996-1998 lebih dominan dibandingkan sektor lainnya namun nilai tersebut mulai menurun hingga setara dengan posisi penerimaan pinjaman sektor lain pada tahun 1999. Keadaan ini sejalan dengan menurunnya kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional mengingat pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan beberapa bank dilikuidasi dan penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat.
Pinjaman Luar Negeri Swasta yang diterima perusahaan-perusahaan Indonesia dalam kurun waktu 1990 s.d 2007 mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada
Akhir 2007, pinjaman yang berjangka panjang (di atas 1 tahun) mendominasi sebesar US$ 46,9 miliar yang terdiri dari Pinjaman Luar Negeri Swasta Bank US$ 2,8 miliar dan Pinjaman Luar Negeri Swasta Perusahaan sebesar US$ 44,1 miliar (Bank Indonesia, 2007) Pinjaman Luar Negeri Swasta perbankan sedikit lebih terkendali, hal ini dikarenakan pengendalian yang dilakukan Bank Indonesia selaku Bank Sentral yang mengawasi operasional perbankan nasional.
2.1.2. Pinjaman Luar Negeri Swasta dan Implikasi Moneter
Di sisi moneter, Pinjaman Luar Negeri Swasta memiliki implikasi yang sangat penting. Keterkaitan Pinjaman Luar Negeri Swasta dapat dilihat dari berbagai perspektif, terutama keterkaitannya dengan fluktuasi nilai rupiah dan Sustainabilitas Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Perkembangan eksposure Pinjaman Luar Negeri Swasta termasuk perubahan struktur pinjaman, penarikan pinjaman dan profil pembayaran pinjaman akan memberikan implikasi terhadap kedua aspek moneter tersebut.
Perubahan yang cukup mendasar misalnya terjadi pada struktur Pinjaman Luar Negeri Swasta setelah era deregulasi 1988. Pinjaman Luar Negeri Swasta yang sebelumnya lebih berorientasi pada pinjaman jangka panjang untuk investasi, mulai bergeser dengan didominasi dengan pinjaman jangka pendek dengan suku bunga tinggi. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang menggunakan Pinjaman Luar Negeri untuk tujuan Spekulasi. Arus modal masuk dalam bentuk pinjaman jangka pendek dan investasi portofolio mengandung resiko yang tinggi terhadap sustainabilitas NPI, yaitu rentan terhadap arus modal keluar secara cepat (reversal effect) apabila pada
suatu ketika perekonomian domestik dilanda oleh sentimen negatif. Struktur Pinjaman Luar Negeri Swasta seperti itu pada masa krisis telah terbukti memberikan tekanan serius terhadap Neraca Pembayaran Indonesia.
Pinjaman Luar Negeri Swasta juga berimplikasi terhadap fluktuasi nilai tukar yang merupakan salah satu parameter penting dalam mengendalikan dan menjaga stabilitas moneter. Eksposur Pinjaman Luar Negeri Swasta yang berlebihan dan dilakukan secara kurang berhati-hati dapat memberikan tekanan depresif terutama karena sentimen negatif. Pinjaman Luar Negeri Swasta yang tidak terkendali dan bermasalah secara berkepanjangan akan meningkatkan premi risiko dan biaya pinjaman yang akhirnya akan menurunkan credit rating dan memberi tekanan kepada nilai tukar.
Dilihat dari sisi moneter, filosofi dari pengaturan Pinjaman Luar Negeri Swasta adalah untuk meningkatkan ketepatan dan keberhasilan dalam pengendalian moneter. Dalam rangka itu diperlukan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang kewajiban finansial sektor swasta khususnya dalam bentuk Pinjaman Luar Negeri Swasta. Informasi ini juga sangat penting dalam rangka perumusan kebijakan moneter terutama yang terkait dengan penyusunan Neraca Pembayaran Indonesia, pengelolaan cadangan devisa, pengendalian nilai tukar dan inflasi. Pengaturan Pinjaman Luar Negeri dalam bentuk pemantauan Pinjaman Luar Negeri Swasta merupakan salah satu upaya pemantauan lalu lintas devisa secara efektif sebagai bagian dari upaya untuk mengefektifkan kebijakan moneter.