PLNS KURSR
4.7.4. Uji Statistik Hasil Estimasi Model Penelitian
Estimasi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independent variable) terhadap variabel terikat (dependent variable) dilakukan dengan menggunakan menggunakan model regresi berganda.
Tabel 4.9. Output Regresi Dependent Variable: LOG(PLNS)
Method: Least Squares Date: 02/16/10 Time: 09:51 Sample: 1998:1 2008:4 Included observations: 44
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C 7.984889 0.424776 18.79790 0.0000 IRD 0.002903 0.005651 0.513644 0.6104 KR -0.028686 0.008193 -3.501360 0.0012 NE 0.000156 5.68E-05 2.748901 0.0090 TS 2.25E-06 3.71E-07 6.050900 0.0000 R-squared 0.576326 Mean dependent var 8.148843 Adjusted R-squared 0.532873 S.D. dependent var 0.664733 S.E. of regression 0.454323 Akaike info criterion 1.366628 Sum squared resid 8.049967 Schwarz criterion 1.569377 Log likelihood -25.06582 F-statistic 13.26300 Durbin-Watson stat 1.466352 Prob(F-statistic) 0.000001
Sumber: Lampiran Eviews.
Hasil perhitungan analisis regresi ganda dengan menggunakan program Eviews Versi 5.1 dapat dilihat seperti data berikut:
Log PLNS = 7,985 + 0,003IRD - 0,029KURS + 0,0002NE +0,000006TS
Std error (0.005) (0,008) (5.680) (0.000) t-statistic (0.513) (-3.501) (2.74) (6.050)
Prob t-statistic (0.610) (0,012) (0.009) (0.000) R2 = 0,576
F-Statistic = 13,263 Prob-Stat = 0.000
Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat menunjukan bahwa R2 = 0.576 yang
bermakna bahwa variabel independen Interest Rate Differensial (IRD), Kurs riil (Kursr), Net ekspor (NE), Tabungan (Tab) mampu menjelaskan variasi Pinjaman Luar Negeri Swasta sebesar 57,6% dan sisanya sebesar 42,4% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam modal estimasi.
Berdasarkan hasil uji simultan (serempak) yang dilakukan melihat signifikansi secara bersama-sama variabel bebas Interest Rate Differential (IRD), Kurs riil (Kursr), Net ekspor (NE), Tabungan (Tab) dalam mempengaruhi variabel terikat (pinjaman luar negeri swasta). Hasil estimasi tersebut diperoleh nilai prob (F-Statistik) sebesar 0.000 < 0,05 yang berarti secara bersama-sama (Interest Rate Differential (IRD)), Kurs riil (Kursr), Net ekspor (NE), Tabungan Swasta (TS) dapat mempengaruhi Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia.
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-hitung diketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kurs riil, net ekspor dan tabungan swasta. Nilai kurs riil memiliki probabilitas sebesar 0,0012 < 0,05, net ekspor memiliki nilai probabilitas 0,05 < 0,009, tabungan swasta memiliki nilai probabilitas 0,000 < 0,05. Sedangkan terdapat pengaruh yang tidak signifikan interest rate differential dengan
nilai probabilitas sebesar 0,610 > 0,05. Jadi dari 4 variabel independen terdapat 3 variabel yang signifikan yaitu kurs riil, net ekspor dan tabungan swasta sedangkan interest rate differential tidak signifikan pengaruhnya terhadap Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia.
Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa:
1. Koefisien regresi untuk IRD sebesar 0,003 mengandung arti bahwa setiap
peningkatan terhadap 1% nilai IRD maka Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia akan mengalami peningkatan sebesar sebanyak 0,003 Persen Ceteris paribus. Keadaan ini berarti bahwa jika IRD Indonesia dan Negara Pendonor Pinjaman memiliki selisih yang lebih menguntungkan bagi Perusahaan peminjam maka perusahaan akan cenderung memilih untuk melakukan Pinjaman Luar Negeri. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa IRD merupakan variabel yang dapat meningkatkan Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia. Nilai koefisien IRD sebesar 0,003 dapat dihitung elastisitas IRD dengan formula sebagai berikut:
EIRD = f¹(X1)* X
= 0,003 x 3,03 = 0,009 < 1 berarti inelastis
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan IRD maka Pinjaman Luar Negeri Swasta akan meningkat, namun hasil elastisitas menunjukkan nilaI elastis, artinya persentase peningkatan terhadap IRD akan menghasilkan persentase peningkatan terhadap
Pinjaman Luar Negeri Swasta yang lebih kecil. Ini mengindikasikan bahwa variabel IRD tidak responsif terhadap Pinjaman Luar Negeri Swasta.
2. Koefisien regresi untuk kurs riil sebesar -0,029 mengandung arti bahwa setiap peningkatan terhadap 1 poin nilai kurs riil maka Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia akan mengalami penurunan sebesar 0,029 Persen Ceteris Paribus. Artinya jika Rupiah terapresiasi maka perusahaan dalam negeri akan cenderung untuk menahan pinjaman luar negeri dan lebih memilih meminjam dalam negeri sehingga keadaan ini dapat membantu memperkecil Pinjaman Luar Negeri Swasta. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kurs riil merupakan variabel yang dapat menurunkan Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia. Nilai koefisien kurs riil sebesar - 0,029 dapat dihitung elastisitas kurs riil dengan formula sebagai berikut:
EKR = f¹(KR)* KR
= 0,029 x 78,97 = 2,29013 > 1 berarti elastis
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan maka pinjaman luar negeri swasta akan meningkat, namun hasil elastisitas kurs riil menunjukkan nilai elastis, artinya persentase peningkatan terhadap kurs riil akan menghasilkan persentase peningkatan terhadap pinjaman luar negeri swasta yang lebih besar. Hal ini mengindikasikan bahwa Kurs Riil responsif terhadap Pinjaman Luar Negeri Swasta.
3. Koefisien regresi untuk net ekspor sebesar 0,0002 mengandung arti bahwa setiap
Swasta di Indonesia akan mengalami peningkatan sebanyak 0,0002 persen. Ceteris paribus. Artinya akibat dari transaksi perekonomian berbasis ekspor impor akan memungkinkan perusahaan dalam negeri melakukan pinjaman luar negeri baik untuk pembelian bahan ataupun transaksi lainnya. Keadaan ini memicu perusahaan untuk melakukan pinjaman sebagai tambahan modal. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa net ekspor merupakan variabel yang dapat meningkatkan Pinjaman Luar Negeri net ekspor Swasta di Indonesia. Nilai koefisien net ekspor sebesar 0,002 dapat dihitung elastisitas net ekspor dengan formula sebagai berikut:
EIRD = f¹(NE)* NE
= 0,002 x5 ,691 = 0,01138 < 1 berarti in elastis
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan net ekspor maka pinjaman luar negeri swasta akan meningkat, namun hasil elastisitas menunjukkan nilai inelastis, artinya persentase peningkatan terhadap net ekspor akan menghasilkan persentase peningkatan terhadap pinjaman luar negeri swasta yang lebih kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa Net Ekspor kurang responsif terhadap Pinjaman Luar Negeri Swasta.
4. Koefisien regresi untuk tabungan swasta sebesar 0,0000025 mengandung arti
bahwa setiap terjadi peningkatan terhadap 1 Miliar tabungan maka akan meningkatkan Pinjaman Luar Negeri Swasta di Indonesia sebesar 0,0000025 persen. Ceteris paribus. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa tabungan swasta merupakan variabel yang dapat meningkatkan Pinjaman Luar Negeri
Swasta di Indonesia. Nilai koefisien tabungan swasta sebesar 2,250 dapat dihitung elastisitas tabungan swasta dengan formula sebagai berikut:
ETS = f¹(TS)* TS
= 0,0000025 x 682,562 = 0,01365 < 1 berarti inelastis
Berdasarkan hasil koefisien regresi diketahui nilai positif yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan tabungan swasta maka pinjaman luar negeri swasta akan meningkat, namun hasil elastisitas menunjukkan nilai inelastis, artinya persentase peningkatan terhadap tabungan swasta akan menghasilkan persentase peningkatan terhadap pinjaman luar negeri swasta yang lebih kecil. Hal Ini mengindikasikan bahwa Variabel ini memiliki tidak responsif terhadap Pinjaman Luaar Negeri Swasta.
Dalam penelitian kali ini variabel Tabungan berhubungan positif dengan Pinjaman Luar Neger Swasta. Hasil regresi yang dihasilkan tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa pinjaman Luar Negeri Swasta berpengaruh negatif terhadap Tabungan. Keadaan ini dipicu oleh beberapa keadaan perekonomian yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia yaitu:
1. Masyarakat lebih memilih untuk menabung di Indonesia mengingat suku
bunga yang ditawarkan relatif lebih tinggi sedangkan suku bunga pinjaman tetap pada level yang sangat memberatkan pengusaha sehingga perusahaan lebih memilih meminjam di luar negeri.
2. Jika pinjaman luar negeri swasta digunakan untuk suatu proyek investasi maka akan mengakibatkan pendapatan masyarakat meningkat, peningkatan pendapatan akan mengakibatkan tabungan meningkat.
BAB V