• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA HUBUNGAN ANTARA PASIEN DENGAN TENAGA KESEHATAN

Dalam dokumen BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN (Halaman 178-183)

KEBUDAYAAN RUMAH SAKIT DAN INTERAKSI ANTAR PASIEN

B. MATERI PEMBELAJARAN 1. SUB KEBUDAYAAN RUMAH SAKIT

4. POLA HUBUNGAN ANTARA PASIEN DENGAN TENAGA KESEHATAN

Hubungan antara dokter dengan pasien telah terjadi sejak dahulu (zaman Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan terhadap orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang sangat pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter yang disebut dengan transaksi terapeutik. Transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dan pasien berupa hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban kedua belah pihak. Objek dari perjanjian ini adalah berupa upaya atau terapi untuk menyembuhkan pasien.

Hubungan antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola hubungan vertikal paternalistik seperti antara bapak dengan anak yang bertolak dari prinsip “father knows best” yang melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik. Hubungan timbul bila pasien menghubungi dokter karena merasa ada sesuatu yang dirasakannya membahayakan kesehatannya. Keadaan psikobiologisnya memberikan peringatan bahwa ia merasa sakit, dan dalam hal ini dokterlah yang dianggapnya mampu menolongnya dan memberikan bantuan pertolongan. Jadi, kedudukan dokter dianggap lebih tinggi oleh pasien dan peranannya lebih penting daripada pasien.

Hubungan hukum ini bersumber pada kepercayaan pasien terhadap dokter sehingga pasien bersedia memberikan

175

persetujuan tindakan medis (informed consent), yaitu suatu persetujuan pasien untuk menerima upaya medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hal ini dilakukan setelah ia mendapat informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya, termasuk memperoleh informasi mengenai segala risiko yang mungkin terjadi.

Di Indonesia, informed consent dalam pelayanan kesehatan, telah memperoleh pembenaran secara yuridis melalui Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.585/Menkes/1989. Walaupun dalam kenyataannya untuk pelaksanaan pemberian informasi guna mendapatkan persetujuan itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Namun setidak-tidaknya persoalan telah diatur secara hukum, sehingga ada kekuatan bagi kedua belah pihak untuk melakukan tindakan secara hukum. Hubungan antara dokter dengan pasien yang terjadi seperti ini merupakan salah satu ciri transaksi terapeutik yang membedakannya dengan perjanjian biasa sebagaimana diatur dalam KUH Perdata.

Alasan lain yang menyebabkan timbulnya hubungan antara pasien dengan dokter, adalah karena keadaan pasien yang sangat mendesak untuk segera mendapatkan pertolongan dari dokter, misalnya karena terjadi kecelakaan lalu lintas, terjadi bencana alam, maupun karena situasi lain yang menyebabkan keadaan pasien sudah gawat, sehingga sangat sulit bagi dokter yang menangani untuk mengetahui dengan pasti kehendak pasien. Dalam keadaan seperti ini dokter langsung melakukan apa yang disebut dengan zaakwaarneming sebagaimana diatur dalam pasal 1354 KUHPerdata, yaitu suatu bentuk hubungan hukum yang timbul karena adanya “persetujuan tindakan medis” terlebih dahulu, melainkan karena keadaan yang memaksa atau keadaan darurat.

Hubungan hukum kontraktual yang terjadi antara pasien dan dokter tidak dimulai dari saat pasien memasuki tempat praktek dokter sebagaimana yang diduga banyak orang, tetapi justru sejak dokter menyatakan kesediaannya yang dinyatakan secara lisan (oral statement) atau yang tersirat (implied

statement) dengan menunjukkan sikap atau tindakan yang

menyimpulkan kesediaan, seperti misalnya menerima pendaftaran, memberikan nomor urut, menyediakan serta

176

mencatat rekam medisnya dan sebagainya. Dengan kata lain hubungan terapeutik juga memerlukan kesediaan dokter. Hal ini sesuai dengan asas konsensual dan berkontrak.

Dari hubungan pasien dengan dokter yang demikian tadi, timbul persetujuan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 1601 KUHPerdata. Bagi seorang dokter hal ini berarti bahwa ia telah bersedia untuk berusaha dengan segala kemampuannya memenuhi isi perjanjian itu, yakni merawat atau menyembuhkan pasien. Sedang pasien berkewajiban untuk mematuhi aturan-aturan yang ditentukan oleh dokter termasuk memberikan imbalan jasa

Hubungan antara pasien dengan rumah sakit, dalam hal ini terutama dokter, memang merupakan hubungan antara penerima dengan pemberi jasa. Hubungan antara dokter dan pasien pada umumnya berlangsung sebagai hubungan biomedis aktif-pasif. Namun perlu disadari bahwa dokter tidak bisa disamakan dengan pemberi/penjualan jasa pada umumnya. Hubungan ini terjadi pada saat pasien mendatangi dokter/pada saat pasien bertemu dengan dokter dan dokter pun memberikan pelayanan maka sejak itulah terjadi suatu hubungan hukum.

Pasien umumnya hanya dapat menerima saja segala sesuatu yang dikatakan dokter tanpa dapat bertanya apapun. Dengan kata lain, semua keputusan sepenuhnya berada ditangan dokter. Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-haknya, maka pola hubungan demikian ini juga mengalami perubahan yang sangat berarti. Pada saat ini secara hukum dokter adalah partner dari pasien yang sama atau sederajat kedudukannya, pasien mempunyai hak dan kewajiban tertentu seperti halnya dokter. Hubungan pasien dengan dokter adalah suatu Perikatan Berusaha (Inspannings-verbintenia) yaitu dimana dalam melaksanakan tugasnya dokter berusaha untuk mnyembuhkan atau memulihkan kesehatan pasien.

Selain dokter, tenaga kesehatan yang memiliki hubungan dengan pasien salah satunya adalah perawat. Perawat merupakan seorang advokat pasien. Advokat pasien adalah seorang advokat yang membela hak-hak pasien. Defenisi lain menekankan advokat sebagai pendukung dan pelindung dari hal-hal yang merugikan pasien, sumber informasi tentang status kesehatan pasien, penolong dalam mengidentifikasi kebutuhan,

177

pilihan-pilihan, keinginan dan penolong pasien dalam membuat keputusan yang dibutuhkan dalam pengobatan pasien. Oleh karena itu advokasi merupakan konsep yang penting dalam praktik keperawatan, peran perawat sebagai advokat disini harus bertanggung jawab untuk melindungi hak pasien mereka dari adanya penipuan atau penyimpangan.

Nelson (1988) dalam Creasia & Parker (2001) menjelaskan bahwa tanggung jawab perawat dalam menjalankan peran advokat pasien adalah :

a. Sebagai pendukung pasien dalam proses pembuatan keputusan, dengan cara: memastikan informasi yang diberikan pada pasien dipahami dan berguna bagi pasien dalam pengambilan keputusan, memberikan berbagai alternatif pilihan disertai penjelasan keuntungan dan kerugian dari setiap keputusan, dan menerima semua keputusan pasien. b. Sebagai mediator (penghubung) antara pasien dan

orang-orang disekeliling pasien, dengan cara : mengatur pelayanan keperawatan yang dibutuhkan pasien dengan tenaga kesehatan lain, mengklarifikasi komunikasi antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lain agar setiap individu memiliki pemahaman yang sama, dan menjelaskan kepada pasien peran tenaga kesehatan yang merawatnya.

c. Sebagai orang yang bertindak atas nama pasien dengan cara: memberikan lingkungan yang sesuai dengan kondisi pasien, melindungi pasien dari tindakan yang dapat merugikan pasien, dan memenuhi semua kebutuhan pasien selama dalam perawatan.

C. PENUTUP

Perilaku sakit (iiines behaviour) ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang: gejala dan penyebab penyakit, dan sebagainya. Perilaku sakit ini kemudian akan mengarah kepada perilaku pencarian pengobatan. Penunjang keberhasilan upaya pengobatan seseorang dipengaruhi beberapa faktor, antara lain faktor pasien sendiri, hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan, serta lingkungan yang mendukung.

178

Referensi

1. Sarwono, S. Sosiologi Kesehatan. Gajah Mada University Perss, Jogjakarta, 2004

2. Undang-Undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

3. Putri. H. T. & Fanani. A. Etika profesi keperawatan. Yogyakarta. Citra pustaka, 2010.

4. Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan Pertanggung Jawaban Dokter, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

5. Djikstra, K. Understanding Healing Environments: Effects of

Physical Environmental Stimuli on Patiens’ Effects of Health and WellBeing, Netherlands: University of Twente, 2009.

6. Dani, S. Mekanisme Percepatan Pemulihan Keradangan karena Rasa

Senang. Surabaya: Universitas Airlangga, 2004.

7. Kaplan, R.M., Sallis, J.M., Jr. & Patterson, T.L. Health and Human

Behavior. New York: Mc. Graw Hill Inc, 1993.

8. Marberry, S.O., Innovations in Healthcare Design, Van Nostrand Reinhold, New York, 1995.

9. Endang Kusumah Astuti. Hubungan Hukum Antara Dokter Dan Pasien Dalam Upaya Pelayanan Medis, Semarang, 2003.

10. Anderson, F. 2009. Antropologi Kesehatan. UI Press, Jakarta. 11. Purba. J. M. & Pujiastuti. S. E. Dilema etik & pengambilan

179

BAB XIII

STUDI KASUS TENTANG KAJIAN ANTROPOLOGI

Dalam dokumen BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN (Halaman 178-183)