BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9 Pola konsumsi Ibu Hamil
2.9.1 Pengertian pola konsumsi
Konsumsi makan adalah makanan yang dimakan
seseorang.Konsumsi makan merupakan jumlah makanan (tunggal
atau beragam) yang dikonsumsi masyarakat, keluarga dan individu
dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan
oleh tubuh.Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis,
jumlah pangan yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau
kelompok orang pada waktu tertentu.
Pola konsumsi makan merupakan berbagai informasi yang
memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan
yang dimakan setiap hari oleh setiap orang dan merupakan ciri
khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga
dikatakan sebagai suatu cara seseorang atau kelompok orang
(keluarga) memilih makanan sebagai tanggapan terhadap
pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan dan social. Di dalam
susunan pola menu tersebut ada satu bahan makanan yang
dianggap paling penting.Suatu hidangan dianggap tidak lengkap
apabila bahan makanan tersebut tidak ada.Bahan makanan
tersebut dinamakan bahan makanan pokok. Bahan makanan pokok
dalam pola menu di Indonesia adalah beras dan pada beberapa
daerah digunakan juga jagung, sagu dan ubi jalar.
Pola konsumsi pangan merupakan hasil budaya masyarakat
yang bersangkutan, dan mengalami perubahan terus menerus
sesuai dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya
masyarakat.Pola konsumsi ini diajarkan dan bukan diturunkan
secara herediter dari nenek moyang sampai generasi
mendatang.Masalah pangan dan gizi di suatu daerah terkait erat
dengan tingkat konsumsi perkapita.Konsumsi makanan masyarakat
dapat diperkirakan dengan mengumpulkan data-data tentang
kapasitas produksi seluruh makanan yang kemudian angka
tersebut dikurangi jumlah yang digunakan untuk bibit, eksport,
kerusakan paska panen dan distribusi serta untuk cadangan.Dalam
keluarga,yaitu pengetahuan, pendapatan rendah dan jumlah anak
yang banyak cenderung pola konsumsi pangan berkurang pula.
Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk
mengetahui kenyataan makanan yang dimakan oleh masyarakat
dan hal ini dapat berguna untuk mengukur status gizi dan
menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi.
Pengukuran konsumsi makanan ini dapat mengidentifikasi
kelebihan dan kekurangan zat gizi.Konsumsi makanan dalam
bentuk zat gizi diperoleh dari konsumsi bahan pangan yang
dikonversi ke dalam bentuk zat gizi dengan menggunakan
daftar.Perubahan hormonal selama kehamilan di duga sebagai
pemicu terjadinya rasa mual dan muntah pada ibu hamil.Ada yang
hanya berlangsung sebentar, tetapi ada juga yang sampai
berminggu-minggu bahkan hingga trimester kedua. Berikut
beberapa tips untuk mengurangi gejala mual dan muntah selama
hamil :
1. Hindari makanan porsi besar, makan lebih sering dengan porsi
kecil (2-3 jam sekali).
2. Makanan tinggi karbohidrat dan protein dapat mengurangi
rasa mual seperti : biscuit, roti, dan kentang.
3. Hindari bau makanan yang menyengat.
4. Sesudah makan janga terburu-buru berbaring, tetapi segera
berdiri.
5. Makan crakers 15 menit setelah bangun tidur di pagi hari.
6. Jangan menunda makan.
7. Hindari makanan terlalu berlemak dan berbumbu tajam.
8. Hindari kopi dan minuman bersoda.
10. Jangan minum disaat makan, tetapi minum setengah jam
sebelum dan sesudah makan.
11. Konsumsi makanan yan agak dingin akan mengurangi bau
menyengat.
12. Konsumsi makanan bercita rasa agak asam, aroma jahe, dan
buah segar.
13. Vitamin B6 dapat mengurangi rasa mual pada saat morning
sickness, namun konsultasikan terlebih dahulu ke dokter.
14. Terdapat beberapa makanan yang perlu dihindari selama
kehamilan, antara lain seperti :
a.Makanan yang miskin zat besi tapi kaya kalori, seperti gula,
lemak, permen, kue-kue bermentega, dank rim kental.
Makanan ini dapat menyebabkan obesitas dan bersifat
mengenyangkan.
b.Makanan bergaram tinggi, seperti kornet, ikan asin, dan
sayuran kalengan, sebab dapat meicu kenaikan tekanan
darah.
c. Alkohol, kopi, dan minuman bersoda yang dapat memicu
hipertensi.
d.Makanan yang diolah tidak sempurna dan mentah, seperti
ikan salmon mentah, steak setengah matang, telur mentah
atau setengah matang, dan susu segar. Makanan tersebut
dikhawatirkan masih mengandung bakteri berbahaya seperti
bakteri listeria monocytogenes penyebab keguguran, bakteri
e.coli yang merusak usus dan sel ginjal, serta bakteri
salmonella penyebab keracunan.
e.Makanan yang mengandung aditif sintesis, seperti
penyedap rasa, pewarna, pengawet, pemberi rasa,
pemanis, dan penambah aroma (aneka esen).
f. Makanan yang terlalu manis. (gizi terapan hal 57-58).
2.9.2 Anjuran Makan Ibu HamilKonsumsi makanan yang adekuat untuk ibu hamil adalah yang
jika dikonsumsi tiap harinya dapat memenuhi kebutuhan zat-zat gizi
dalam kualitas maupun kuantitasnya serta mendukung kondisi
fisiologis yang sedang dialami ibu hamil.Kualitas makanan
menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam
susunan makanan dan perbandingan yang satu terhadap
lainnya.Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi
terhadap kebutuhan tubuh (Sediaoetama, 1993 dalam Marlenywati
2010).
Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting.Pada
masa ini ibu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk
menyambut kelahiran bayinya. Ibu sehat akan melahirkan bayi
yang sehat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
kesehatan ibu adalah keadaan gizi ibu.Selama kehamilan ibu perlu
memperhatikan makanan sehari-hari agar terpenuhi zat gizi yang
dibutuhkan selama kehamilan.
Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI
(2000), kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi apabila ibu
mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, dengan
mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi
pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari
makanan lainnya. Makanan yang beranekaragam memberikan
manfaat yang besar terhadap kesehatan ibu hamil, karena makin
beragam yang dikonsumsi, makin baik mutu makanannya.
Makanan aneka ragam adalah hidangan dengan menu yang
bervariasi paling sedikit terdiri dari:
1. Satu jenis makanan pokok, misalnya nasi, jagung, roti, ubi,
kentang, sagu, yang merupakan sumber zat tenaga.
2. Satu jenis lauk pauk, misalnya tempe, tahu, telur, ikan, daging,
yang merupakan zat pembangun
3. Satu jenis sayuran dan buah-buahan yang merupakan sumber
zat pengatur.
Pola makanan yang baik bagi ibu hamil harus memenuhi
sumber karbohidrat, protein dan lemak serta vitamin dan mineral.
Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang
meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh
ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu
hamil dapat berakibat:
1. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut
Berat Badan Bayi Rendah (BBLR)
2. Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan)
3. Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati (Notoatmodjo,
2010).
Ibu hamil yang kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR).Oleh karena itu, ibu hamil
harus memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat bergizi
seimbang sebagai salah satu upaya untuk menjaga keadaan gizi
ibu dan janinnya tetap sehat (Kurniasih, dkk, 2010).
Hidangan bagi ibu hamil sebaiknya memperhatikan prinsip
menu seimbang, yaitu mengandung semua unsur zat gizi, yaitu
sumber karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air.Bahkan
makanan yang dipilih juga harus cukup mengandung serat, yaitu
yang bersumber dari sayur dan buah. Jenis bahan makanan yang
digunakan sebaiknya bersumber dari bahan makanan segar,
hindari bahan makanan hasil awetan (Sulistyoningsih, 2011).
Anjuran pembagian makanan sehari ibu hamil dapat
disederhanakan dalam bentuk bahan makanan dengan memakai
ukuran rumah tangga (URT) sebagai berikut:
Tabel 2.2
Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan atau Penukarnya
Bahan Makanan Atau Penukarnya
Anjuran Makanan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya
Trimester I Trimester II
Nasi 5 porsi 5 porsi
Sayur 4 porsi 3 porsi
Buah 3 porsi 5 porsi
Tempe 3 porsi 3 porsi
Daging 3 porsi 4 porsi
Minyak 4 porsi 4 porsi
Susu 1 porsi 1 porsi
Sumber: Anjuran Pembagian Makanan Sehari Ibu Hamil dalam Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang, 2010.
Keterangan:
1. Nasi 1 porsi = ¾ gls = 100 gram
2. Sayur 1 porsi = 1 gls = 100 gram
3. Buah 1 porsi = 1-2 bh = 50-190 gram
4. Tempe 1 porsi = 2 ptg sdg = 50 gram
5. Daging 1 porsi = 1 ptg sdg = 35 gram
6. Minyak 1 porsi = 1 sdt = 5 gram
7. Susu bubuk 1 porsi = 4sdm
Dengan mengkonsumsi makanan tersebut diperhitungan
bahwa kebutuhan gizi ibu hamil dapat tercukupi.
Dalam PUGS susunan makanan yang dianjurkan adalah
menjamin keseimbangan zat-zat gizi.Hal ini dapat dicapai dengan
mengkonsumsi beranekaragam makanan tiap hari.Tiap makanan
dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya.
Pengelompokan bahan makanan disederhanakan, yaitu didasarkan
pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu sebagai berikut:
1. Sumber zat energi/tenaga: padi-padian, tepung-tepungan,
umbi-umbian, sagu.
2. Sumber zat pengatur: sayuran dan buah-buahan.
3. Sumber zat pembangun: ikan, ayam telur, daging, susu,
kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan
oncom.
Untuk mencapai prinsip gizi seimbang hendaknya susunan
makanan sehari terdiri dari campuran ketiga kelompok bahan
makanan tersebut yang terdiri dari:
1. Bahan Makanan Pokok
Dalam susunan hidangan Indonesia sehari-hari, bahan
makanan pokok merupakan bahan makanan yang memegang
peranan penting.Pada umumnya porsi makanan pokok dalam
jumlah (kuantitas/volume) terlihat lebih banyak dari bahan
makanan lainnya.Porsi nasi dalam prinsip gizi seimbang untuk
ibu hamil adalah 5 porsi untuk semua trimester.Dari sudut ilmu
gizi, bahan makanan pokok merupakan sumber energi dan
mengandung banyak karbohidrat.
Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber bahan
bakar (energi) utama bagi tubuh.Karena sebagian besar energi
berasal dari karbohidrat, maka makanan sumber karbohidrat
digolongkan sebagai makanan pokok (Kurniasih, dkk, 2010).
Kebutuhan akan energi pada trimester 1 meningkat secara
minimal. Setelah itu, sepanjang trimester 2 dan 3, kebutuhan
akan terus membesar sampai pada akhir kehamilan. Energi
tambahan selama trimester 2 diperlukan untuk pemekaran
jaringan ibu, yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan
uterus dan payudara, serta penumpukan lemak.Sepanjang
trimester 3, energi tambahan dipergunakan untuk pertumbuhan
janin dan plasenta.Pertambahan energi disebabkan oleh
peningkatan laju metabolisme basal.Selain itu, tambahan
energi juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan cadangan
protein.Pertambahan energi ini terutama diperlukan pada 20
minggu terakhir dari masa kehamilan, yaitu ketika pertumbuhan
janin berlangsung sangat pesat.
Intake energi yang cukup yaitu penambahan 55.000 kkal
selama 9 bulan kehamilan diperlukan untuk:
1. Fetus (pertumbuhan fetus dan aktivitas fisik fetus)
2. Ibu (peningkatan basal metabolisme, simpanan lemak,
pertumbuhan uterus dan payudara, volume darah
bertambah dan perubahan aktivitas)
Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi.Menurut
Glade B. Curtis mengatakan bahwa tidak ada satu rekomendasi
yang mengatur berapa sebenarnya kebutuhan ideal karbohidrat
bagi ibu hamil.Namun, beberapa ahli gizi sepakat sekitar 60%
dari seluruh kalori yang dibutuhkan tubuh adalah
karbohidrat.Jadi, ibu hamil membutuhkan karbohidrat sekitar
1.500 kalori (Kristiyanasari, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Syahnimar (2004),
menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara
frekuensi makan makanan pokok dengan risiko KEK, selain itu
wanita yang mempunyai frekuensi makan makanan pokok yang
kurang dapat berpeluang untuk mengalami risiko KEK
sebanyak 3,2 kali dibanding dengan wanita dengan frekuensi
makan makanan pokok cukup. Energi dalam tubuh manusia
dapat timbul dikarenakan adanya pembakaran karbohidrat,
protein dan lemak, dengan demikian agar selalu tercukupi
energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup
ke dalam tubuhnya.
Menurut Suhardjo di dalam Kristiyanasari (2010) dalam
prinsip-prinsip ilmu gizi, seseorang tidak dapat bekerja dengan
energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan
kecuali jika menggunakan cadangan energi dalam tubuh,
namun apabila kebiasaan menggunakan cadangan ini terus
menerus, maka akan dapat mengakibatkan keadaan kurang
gizi khususnya energi dalam tubuh.
Asupan energi pada trimester 1 diperlukan untuk
menyalurkan makanan dan pembentukan hormon, sedangkan
pada janin diperlukan untuk pembentukan organ.Asupan energi
pada trimester 2 diperlukan untuk pertumbuhan kepala, badan,
dan tulang janin. Trimester 3 juga terjadi pertumbuhan janin dan
plasenta serta cairan amnion akan berlangsung cepat selama
trimester 3 (Sulistyoningsih, 2011).
Ketika jumlah makanan yang dikonsumsi tidak cukup atau
tidak adekuat. Hal ini menyebabkan penurunan volume darah,
sehingga aliran darah ke plasenta menurun, maka ukuran
plasenta berkurang dan transfer nutrient juga berkurang yang
mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan bayi yang
dilahirkan akan BBLR. Hal ini terjadi karena pentingnya peran
plasenta yaitu sebagai alat transport, menyeleksi zat-zat
makanan sebelum mencapai janin, efisiensi plasenta dalam
mengkonsentrasikan, mensintesis, dan transport zat gizi
menentukan suplai ke janin.
2. Bahan Makanan Lauk Pauk
Kadar zat makanan (gizi) pada setiap bahan makanan
memang tidak sama, ada yang rendah dan ada pula yang
tinggi, karena itu setiap bahan makanan akan saling
melengkapi zat makanan/gizinya yang selalu dibutuhkan tubuh
manusia guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik
serta energi yang cukup guna melaksanakan
kegiatan-kegiatannya. Zat makanan (gizi) yang diperlukan tubuh
manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau biasa
disebut dengan lauk nabati dan ada pula yang berasal dari
hewan yaitu lauk hewani.
Lauk sebaiknya terdiri dari atas campuran lauk hewani dan
nabati.Lauk hewani, seperti daging, ayam, ikan, udang dan
telur mengandung protein dengan nilai biologi lebih tinggi
daripada lauk nabati.Kacang-kacangan dalam bentuk kering
atau hasil olahannya, walaupun mengandung protein dengan
nilai biologi sedikit lebih rendah daripada lauk hewani karena
mengandung lebih sedikit asam amino esensial metionin,
merupakan sumber protein yang baik. Pengolahan
kacang-kacangan menjadi tempe, tahu, susu kedelai, dan oncom tidak
saja meningkatkan cita rasa tetapi juga meningkatkan
kecernaan dan ketersediaan zat-zat gizi bagi tubuh (Almatsier,
2011).
Dalam pola makan bergizi seimbang porsi lauk-pauk
sumber protein hewani ibu hamil harus lebih besar daripada ibu
tidak hamil. Bila kebutuhan energy ibu hamil 2.000 kkal per
hari, maka kebutuhan proteinnya 50 gram ditambah 17 gram
protein, yang setara dengan 1 porsi daging (35 gram) dan 1
porsi tempe (50 gram). Adapun makanan kaya protein nabati
adalah kacang-kacangan dan hasil olahnya, terutama tempe,
tahu susu kedelai (Kurniasih, dkk, 2010).
WHO menganjurkan tambahan protein sebanyak 0,75 g/kg
berat badan bagi wanita.
Sedangkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Tahun
2004 menganjurkan tambahan protein sebesar 17 gram, baik
untuk trimester I, II maupun III (Arisman, 2010). Konsumsi
protein kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadinya:
1. Defisiensi protein selama pertumbuhan fetus
2. Pengurangan transfer protein ke fetus
3. Penurunan jumlah sel dalam jaringan ketika lahir
4. Efek serius pada otak
Hasil penelitian yang dilakukan Saraswati (2006) terhadap
ibu hamil di Sukabumi menunjukkan bahwa pola konsumsi
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap ibu hamil KEK.
Pola konsumsi lauk hewani pada ibu hamil yaitu sebesar
27,60% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi daging dan
diatas 65% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi hati, terlihat
bahwa mereka mengkonsumsi makanan yang kurang dari
aspek kuantitas dan kualitas.
Menurut Penelitian Azma (2002) di Sukabumi, proporsi ibu
dengan pola konsumsi lauk nabati tidak sesuai mengalami
risiko 30,4% dan 9,4% ibu hamil dengan pola konsumsi lauk
nabati sesuai. Ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati tidak
sesuai mempunyai risiko untuk KEK sebesar 4,225 kali
dibanding dengan ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati
sesuai.
Dalam buku ilmu gizi, protein selain akan digunakan bagi
pembangun struktur tubuh (pembentukan berbagai jaringan)
juga akan disimpan untuk digunakan dalam keadaan darurat,
sehingga pertumbuhan terus berlangsung, akan tetapi apabila
dalam keadaan terus-menerus menerima makanan yang tidak
seimbang, dengan sendirinya akan terjadi pertumbuhan yang
kurang baik, daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap
penyakit, dan lain-lain.
Proses-proses yang berlangsung di dalam tubuh
dikendalikan oleh tersedianya protein di dalam tubuh. Proses
pencernaan misalnya hanya akan berlangsung secara teratur
dengan dukungan hormon yang mencukupinya, sedangkan
hormon itu terdiri dari protein. Untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme dan kecepatan sintesis protein, maka pangan
yang dikonsumsi harus mengandung asam amino dalam jumlah
dan kualitas yang cukup.Asam amino arginin dan taurin secara
fungsional penting dalam perkembangan janin dan bayi. Protein
yang akan dihidrolisis menjadi asam amino, diabsorpsi dan
diangkut melalui sistem portae ke hati. Asam amino masuk
sirkulasi sistemik dan didistribusikan ke seluruh tubuh.Hati
merupakan tempat sintesis protein dari asam amino. Karena
adanya penggunaan kembali asam amino maka sintesis dan
degradasi protein akan terjadi setiap hari terhadap protein yang
dikonsumsi. Pada saat hamil terjadi metabolisme asam amino
yang cukup tinggi.Peningkatan volume darah dan pertumbuhan
jaringan ibu membutuhkan sejumlah protein. Protein yang tidak
memenuhi kebutuhan secara nyata akan menurunkan
pertumbuhan janin yaitu penurunan berat badan ibu, penurunan
jumlah sel, dan berbagai perubahan biokimia. Janin menerima
asam amino dari ibu melalui plasenta dengan sistem transport
tidak aktif (difasillitasi). Konsentrasi asam amino pada janin
lebih tinggi dari pada ibu.Plasenta sangat aktif dalam
metabolisme yang berperan penting dalam metabolisme
nitrogen (Aritonang, 2010).
Hampir 70% protein digunakan untuk pertumbuhan janin
yang dikandung.Pertumbuhan dimulai dari pertumbuhan
sebesar sel sampai tubuh janin mencapai kurang lebih 3.5 kg,
protein juga digunakan untuk pembentukan plasenta.Bila
asupan protein tidak mencukupi maka plasenta menjadi kurang
sempurna padahal plasenta berfungsi untuk menunjang,
memelihara, dan menyalurkan makanan bagi janin.Protein juga
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak
dan myelin selama masa janin dan berkaitan erat dengan
kecerdasan.Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan
janin, protein juga dibutuhkan untuk persiapan persalinan.
Sebanyak 300-500 ml darah diperkirakan akan hilang pada
persalinan sehingga cadangan darah diperlukan pada periode
tersebut dan hal ini tidak terlepas dari peran plasenta
(Sulistyoningsih, 2011).
3. Bahan Makanan Sayuran
Vitamin dan mineral terutama banyak terdapat dalam sayur
dan buah, khususnya yang berwarna kuning dan hijau gelap.
Vitamin dan mineral adalah zat gizi makro yang memperlancar
proses pembuatan energi dan proses biologis lainnya yang
diperlukan untuk mempertahankan kesehatan. Oleh sebab itu
didalam tumpeng gizi seimbang, sayuran dan buah dianjurkan
dikonsumsi sesering mungkin setiap hari (Kurniasih, dkk, 2010).
Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral
yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di dalam
tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran
berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan
energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi
normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan
dalam pembentukan protein tubuh (Almatsier, 2001).
Vitamin B6 diperlukan pada proses metabolisme protein,
apabila terjadi defisensi vitamin ini, maka akan terjadi ketidak
normalan pada metabolisme protein sehingga tidak dapat
mengubah asam amino menjadi niasin. Vitamin B6 ini banyak
terkandung pada sayur-mayur.
Pada penelitian Azma (2002) di Sukabumi, terlihat
prevalensi ibu hamil yang menderita risiko KEK lebih banyak
dijumpai pada ibu hamil dengan frekuensi konsumsi sayur <3
kali sehari (29,6%) dan 22,4% ibu hamil yang frekuensi
konsumsi sayur ≥3 kali sehari. Ibu hamil yang frekuensi
konsumsi sayur <3 kali sehari mempunyai risiko untuk KEK
sebesar 1,456 kali disbanding dengan frekuensi konsumsi
sayur ≥3 kali sehari. Sedangkan pada penelitian Yuliani (2002)
di Bogor, sebagian besar pola konsumsi sayuran pada ibu
hamil tidak sesuai dengan anjuran makan ibu hamil yaitu
sebesar 81,6%.
4. Bahan Makanan Buah-buahan
Buah berwarna kuning seperti mangga, papaya dan pisang
raja kaya akan provitamin A, sedangkan buah seperti jeruk,
jambu biji, dan rambutan kaya akan vitamin C. Secara
keseluruhan buah merupakan sumber vitamin A, vitamin C,
kalium dan serat. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin
dan mineral yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di
dalam tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran
berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan
energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi
normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan
dalam pembentukan protein tubuh.
Vitamin B1 sangat diperlukan tubuh, tersedianya dalam
tubuh karena diserap usus dari makanan , selanjutnya diangkat
bersama darah ke jaringan-jaringan tubuh. Vitamin B1
ditemukan sebagai cadangan dalam jumlah yang terbatas di
dalam hati, jantung, otot dan otak.Sebagai cadangan diperlukan
untuk memelihara fungsi alat-alat tubuh. Vitamin B1 membantu
dalam pembakaran karbohidrat dan diangkat didalam darah
oleh sel darah putih yang mempunyai inti dengan vitamin B1.
Dari fungsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa makin banyak
karbohidrat yang dikonsumsi maka kebutuhan akan vitamin B1
akan banyak pula, salah satu contoh bagi ibu-ibu yang sedang
hamil atau menyusui sudah tentu akan memerlukan vitamin B1
lebih banyak daripada biasanya.
Pada penelitian Azma (2002), terlihat prevalensi ibu hamil
yang menderita risiko KEK lebih banyak dijumpai pada ibu
hamil dengan frekuensi konsumsi <2 kali sehari sebesar 30,7%
dan 24,2% ibu hamil dengan frekuensi konsumsi buah ≥2 kali
sehari mengalami risiko KEK. Begitu juga dengan hasil
penelitian Hapni (2004) dan penelitian Yuliani (2002).
5. Susu dan Hasil Olahannya
Susu merupakan makanan alami yang hampir sempurna.
Sebagian besar zat gizi esensial ada dalam susu, yaitu protein
bernilai biologi tinggi, kalsium, fosfor, vitamin A, dan tiamin.
Susu merupakan sumber kalsium paling baik, karena
disamping kadar kalsium yang tinggi, laktosa didalam susu
membantu absorpsi susu didalam saluran cerna. Balita, ibu
hamil dan ibu menyusui dianjurkan paling kurang minum satu
gelas susu sehari, atau hasil olahannya berupa yogurt, yakult,
dan keju dalam jumlah yang ekivalen (Almatsier, 2010).
Dalam dokumen
PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH
(Halaman 38-58)