• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola konsumsi Ibu Hamil

Dalam dokumen PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH (Halaman 38-58)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.9 Pola konsumsi Ibu Hamil

2.9.1 Pengertian pola konsumsi

Konsumsi makan adalah makanan yang dimakan

seseorang.Konsumsi makan merupakan jumlah makanan (tunggal

atau beragam) yang dikonsumsi masyarakat, keluarga dan individu

dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan

oleh tubuh.Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis,

jumlah pangan yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau

kelompok orang pada waktu tertentu.

Pola konsumsi makan merupakan berbagai informasi yang

memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan

yang dimakan setiap hari oleh setiap orang dan merupakan ciri

khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga

dikatakan sebagai suatu cara seseorang atau kelompok orang

(keluarga) memilih makanan sebagai tanggapan terhadap

pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan dan social. Di dalam

susunan pola menu tersebut ada satu bahan makanan yang

dianggap paling penting.Suatu hidangan dianggap tidak lengkap

apabila bahan makanan tersebut tidak ada.Bahan makanan

tersebut dinamakan bahan makanan pokok. Bahan makanan pokok

dalam pola menu di Indonesia adalah beras dan pada beberapa

daerah digunakan juga jagung, sagu dan ubi jalar.

Pola konsumsi pangan merupakan hasil budaya masyarakat

yang bersangkutan, dan mengalami perubahan terus menerus

sesuai dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya

masyarakat.Pola konsumsi ini diajarkan dan bukan diturunkan

secara herediter dari nenek moyang sampai generasi

mendatang.Masalah pangan dan gizi di suatu daerah terkait erat

dengan tingkat konsumsi perkapita.Konsumsi makanan masyarakat

dapat diperkirakan dengan mengumpulkan data-data tentang

kapasitas produksi seluruh makanan yang kemudian angka

tersebut dikurangi jumlah yang digunakan untuk bibit, eksport,

kerusakan paska panen dan distribusi serta untuk cadangan.Dalam

keluarga,yaitu pengetahuan, pendapatan rendah dan jumlah anak

yang banyak cenderung pola konsumsi pangan berkurang pula.

Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk

mengetahui kenyataan makanan yang dimakan oleh masyarakat

dan hal ini dapat berguna untuk mengukur status gizi dan

menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi.

Pengukuran konsumsi makanan ini dapat mengidentifikasi

kelebihan dan kekurangan zat gizi.Konsumsi makanan dalam

bentuk zat gizi diperoleh dari konsumsi bahan pangan yang

dikonversi ke dalam bentuk zat gizi dengan menggunakan

daftar.Perubahan hormonal selama kehamilan di duga sebagai

pemicu terjadinya rasa mual dan muntah pada ibu hamil.Ada yang

hanya berlangsung sebentar, tetapi ada juga yang sampai

berminggu-minggu bahkan hingga trimester kedua. Berikut

beberapa tips untuk mengurangi gejala mual dan muntah selama

hamil :

1. Hindari makanan porsi besar, makan lebih sering dengan porsi

kecil (2-3 jam sekali).

2. Makanan tinggi karbohidrat dan protein dapat mengurangi

rasa mual seperti : biscuit, roti, dan kentang.

3. Hindari bau makanan yang menyengat.

4. Sesudah makan janga terburu-buru berbaring, tetapi segera

berdiri.

5. Makan crakers 15 menit setelah bangun tidur di pagi hari.

6. Jangan menunda makan.

7. Hindari makanan terlalu berlemak dan berbumbu tajam.

8. Hindari kopi dan minuman bersoda.

10. Jangan minum disaat makan, tetapi minum setengah jam

sebelum dan sesudah makan.

11. Konsumsi makanan yan agak dingin akan mengurangi bau

menyengat.

12. Konsumsi makanan bercita rasa agak asam, aroma jahe, dan

buah segar.

13. Vitamin B6 dapat mengurangi rasa mual pada saat morning

sickness, namun konsultasikan terlebih dahulu ke dokter.

14. Terdapat beberapa makanan yang perlu dihindari selama

kehamilan, antara lain seperti :

a.Makanan yang miskin zat besi tapi kaya kalori, seperti gula,

lemak, permen, kue-kue bermentega, dank rim kental.

Makanan ini dapat menyebabkan obesitas dan bersifat

mengenyangkan.

b.Makanan bergaram tinggi, seperti kornet, ikan asin, dan

sayuran kalengan, sebab dapat meicu kenaikan tekanan

darah.

c. Alkohol, kopi, dan minuman bersoda yang dapat memicu

hipertensi.

d.Makanan yang diolah tidak sempurna dan mentah, seperti

ikan salmon mentah, steak setengah matang, telur mentah

atau setengah matang, dan susu segar. Makanan tersebut

dikhawatirkan masih mengandung bakteri berbahaya seperti

bakteri listeria monocytogenes penyebab keguguran, bakteri

e.coli yang merusak usus dan sel ginjal, serta bakteri

salmonella penyebab keracunan.

e.Makanan yang mengandung aditif sintesis, seperti

penyedap rasa, pewarna, pengawet, pemberi rasa,

pemanis, dan penambah aroma (aneka esen).

f. Makanan yang terlalu manis. (gizi terapan hal 57-58).

2.9.2 Anjuran Makan Ibu Hamil

Konsumsi makanan yang adekuat untuk ibu hamil adalah yang

jika dikonsumsi tiap harinya dapat memenuhi kebutuhan zat-zat gizi

dalam kualitas maupun kuantitasnya serta mendukung kondisi

fisiologis yang sedang dialami ibu hamil.Kualitas makanan

menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam

susunan makanan dan perbandingan yang satu terhadap

lainnya.Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi

terhadap kebutuhan tubuh (Sediaoetama, 1993 dalam Marlenywati

2010).

Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting.Pada

masa ini ibu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk

menyambut kelahiran bayinya. Ibu sehat akan melahirkan bayi

yang sehat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

kesehatan ibu adalah keadaan gizi ibu.Selama kehamilan ibu perlu

memperhatikan makanan sehari-hari agar terpenuhi zat gizi yang

dibutuhkan selama kehamilan.

Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI

(2000), kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi apabila ibu

mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, dengan

mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi

pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari

makanan lainnya. Makanan yang beranekaragam memberikan

manfaat yang besar terhadap kesehatan ibu hamil, karena makin

beragam yang dikonsumsi, makin baik mutu makanannya.

Makanan aneka ragam adalah hidangan dengan menu yang

bervariasi paling sedikit terdiri dari:

1. Satu jenis makanan pokok, misalnya nasi, jagung, roti, ubi,

kentang, sagu, yang merupakan sumber zat tenaga.

2. Satu jenis lauk pauk, misalnya tempe, tahu, telur, ikan, daging,

yang merupakan zat pembangun

3. Satu jenis sayuran dan buah-buahan yang merupakan sumber

zat pengatur.

Pola makanan yang baik bagi ibu hamil harus memenuhi

sumber karbohidrat, protein dan lemak serta vitamin dan mineral.

Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang

meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh

ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu

hamil dapat berakibat:

1. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut

Berat Badan Bayi Rendah (BBLR)

2. Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan)

3. Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati (Notoatmodjo,

2010).

Ibu hamil yang kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi

dengan berat badan lahir rendah (BBLR).Oleh karena itu, ibu hamil

harus memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat bergizi

seimbang sebagai salah satu upaya untuk menjaga keadaan gizi

ibu dan janinnya tetap sehat (Kurniasih, dkk, 2010).

Hidangan bagi ibu hamil sebaiknya memperhatikan prinsip

menu seimbang, yaitu mengandung semua unsur zat gizi, yaitu

sumber karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air.Bahkan

makanan yang dipilih juga harus cukup mengandung serat, yaitu

yang bersumber dari sayur dan buah. Jenis bahan makanan yang

digunakan sebaiknya bersumber dari bahan makanan segar,

hindari bahan makanan hasil awetan (Sulistyoningsih, 2011).

Anjuran pembagian makanan sehari ibu hamil dapat

disederhanakan dalam bentuk bahan makanan dengan memakai

ukuran rumah tangga (URT) sebagai berikut:

Tabel 2.2

Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan atau Penukarnya

Bahan Makanan Atau Penukarnya

Anjuran Makanan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya

Trimester I Trimester II

Nasi 5 porsi 5 porsi

Sayur 4 porsi 3 porsi

Buah 3 porsi 5 porsi

Tempe 3 porsi 3 porsi

Daging 3 porsi 4 porsi

Minyak 4 porsi 4 porsi

Susu 1 porsi 1 porsi

Sumber: Anjuran Pembagian Makanan Sehari Ibu Hamil dalam Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang, 2010.

Keterangan:

1. Nasi 1 porsi = ¾ gls = 100 gram

2. Sayur 1 porsi = 1 gls = 100 gram

3. Buah 1 porsi = 1-2 bh = 50-190 gram

4. Tempe 1 porsi = 2 ptg sdg = 50 gram

5. Daging 1 porsi = 1 ptg sdg = 35 gram

6. Minyak 1 porsi = 1 sdt = 5 gram

7. Susu bubuk 1 porsi = 4sdm

Dengan mengkonsumsi makanan tersebut diperhitungan

bahwa kebutuhan gizi ibu hamil dapat tercukupi.

Dalam PUGS susunan makanan yang dianjurkan adalah

menjamin keseimbangan zat-zat gizi.Hal ini dapat dicapai dengan

mengkonsumsi beranekaragam makanan tiap hari.Tiap makanan

dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya.

Pengelompokan bahan makanan disederhanakan, yaitu didasarkan

pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu sebagai berikut:

1. Sumber zat energi/tenaga: padi-padian, tepung-tepungan,

umbi-umbian, sagu.

2. Sumber zat pengatur: sayuran dan buah-buahan.

3. Sumber zat pembangun: ikan, ayam telur, daging, susu,

kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan

oncom.

Untuk mencapai prinsip gizi seimbang hendaknya susunan

makanan sehari terdiri dari campuran ketiga kelompok bahan

makanan tersebut yang terdiri dari:

1. Bahan Makanan Pokok

Dalam susunan hidangan Indonesia sehari-hari, bahan

makanan pokok merupakan bahan makanan yang memegang

peranan penting.Pada umumnya porsi makanan pokok dalam

jumlah (kuantitas/volume) terlihat lebih banyak dari bahan

makanan lainnya.Porsi nasi dalam prinsip gizi seimbang untuk

ibu hamil adalah 5 porsi untuk semua trimester.Dari sudut ilmu

gizi, bahan makanan pokok merupakan sumber energi dan

mengandung banyak karbohidrat.

Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber bahan

bakar (energi) utama bagi tubuh.Karena sebagian besar energi

berasal dari karbohidrat, maka makanan sumber karbohidrat

digolongkan sebagai makanan pokok (Kurniasih, dkk, 2010).

Kebutuhan akan energi pada trimester 1 meningkat secara

minimal. Setelah itu, sepanjang trimester 2 dan 3, kebutuhan

akan terus membesar sampai pada akhir kehamilan. Energi

tambahan selama trimester 2 diperlukan untuk pemekaran

jaringan ibu, yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan

uterus dan payudara, serta penumpukan lemak.Sepanjang

trimester 3, energi tambahan dipergunakan untuk pertumbuhan

janin dan plasenta.Pertambahan energi disebabkan oleh

peningkatan laju metabolisme basal.Selain itu, tambahan

energi juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan cadangan

protein.Pertambahan energi ini terutama diperlukan pada 20

minggu terakhir dari masa kehamilan, yaitu ketika pertumbuhan

janin berlangsung sangat pesat.

Intake energi yang cukup yaitu penambahan 55.000 kkal

selama 9 bulan kehamilan diperlukan untuk:

1. Fetus (pertumbuhan fetus dan aktivitas fisik fetus)

2. Ibu (peningkatan basal metabolisme, simpanan lemak,

pertumbuhan uterus dan payudara, volume darah

bertambah dan perubahan aktivitas)

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi.Menurut

Glade B. Curtis mengatakan bahwa tidak ada satu rekomendasi

yang mengatur berapa sebenarnya kebutuhan ideal karbohidrat

bagi ibu hamil.Namun, beberapa ahli gizi sepakat sekitar 60%

dari seluruh kalori yang dibutuhkan tubuh adalah

karbohidrat.Jadi, ibu hamil membutuhkan karbohidrat sekitar

1.500 kalori (Kristiyanasari, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Syahnimar (2004),

menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara

frekuensi makan makanan pokok dengan risiko KEK, selain itu

wanita yang mempunyai frekuensi makan makanan pokok yang

kurang dapat berpeluang untuk mengalami risiko KEK

sebanyak 3,2 kali dibanding dengan wanita dengan frekuensi

makan makanan pokok cukup. Energi dalam tubuh manusia

dapat timbul dikarenakan adanya pembakaran karbohidrat,

protein dan lemak, dengan demikian agar selalu tercukupi

energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup

ke dalam tubuhnya.

Menurut Suhardjo di dalam Kristiyanasari (2010) dalam

prinsip-prinsip ilmu gizi, seseorang tidak dapat bekerja dengan

energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan

kecuali jika menggunakan cadangan energi dalam tubuh,

namun apabila kebiasaan menggunakan cadangan ini terus

menerus, maka akan dapat mengakibatkan keadaan kurang

gizi khususnya energi dalam tubuh.

Asupan energi pada trimester 1 diperlukan untuk

menyalurkan makanan dan pembentukan hormon, sedangkan

pada janin diperlukan untuk pembentukan organ.Asupan energi

pada trimester 2 diperlukan untuk pertumbuhan kepala, badan,

dan tulang janin. Trimester 3 juga terjadi pertumbuhan janin dan

plasenta serta cairan amnion akan berlangsung cepat selama

trimester 3 (Sulistyoningsih, 2011).

Ketika jumlah makanan yang dikonsumsi tidak cukup atau

tidak adekuat. Hal ini menyebabkan penurunan volume darah,

sehingga aliran darah ke plasenta menurun, maka ukuran

plasenta berkurang dan transfer nutrient juga berkurang yang

mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan bayi yang

dilahirkan akan BBLR. Hal ini terjadi karena pentingnya peran

plasenta yaitu sebagai alat transport, menyeleksi zat-zat

makanan sebelum mencapai janin, efisiensi plasenta dalam

mengkonsentrasikan, mensintesis, dan transport zat gizi

menentukan suplai ke janin.

2. Bahan Makanan Lauk Pauk

Kadar zat makanan (gizi) pada setiap bahan makanan

memang tidak sama, ada yang rendah dan ada pula yang

tinggi, karena itu setiap bahan makanan akan saling

melengkapi zat makanan/gizinya yang selalu dibutuhkan tubuh

manusia guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik

serta energi yang cukup guna melaksanakan

kegiatan-kegiatannya. Zat makanan (gizi) yang diperlukan tubuh

manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau biasa

disebut dengan lauk nabati dan ada pula yang berasal dari

hewan yaitu lauk hewani.

Lauk sebaiknya terdiri dari atas campuran lauk hewani dan

nabati.Lauk hewani, seperti daging, ayam, ikan, udang dan

telur mengandung protein dengan nilai biologi lebih tinggi

daripada lauk nabati.Kacang-kacangan dalam bentuk kering

atau hasil olahannya, walaupun mengandung protein dengan

nilai biologi sedikit lebih rendah daripada lauk hewani karena

mengandung lebih sedikit asam amino esensial metionin,

merupakan sumber protein yang baik. Pengolahan

kacang-kacangan menjadi tempe, tahu, susu kedelai, dan oncom tidak

saja meningkatkan cita rasa tetapi juga meningkatkan

kecernaan dan ketersediaan zat-zat gizi bagi tubuh (Almatsier,

2011).

Dalam pola makan bergizi seimbang porsi lauk-pauk

sumber protein hewani ibu hamil harus lebih besar daripada ibu

tidak hamil. Bila kebutuhan energy ibu hamil 2.000 kkal per

hari, maka kebutuhan proteinnya 50 gram ditambah 17 gram

protein, yang setara dengan 1 porsi daging (35 gram) dan 1

porsi tempe (50 gram). Adapun makanan kaya protein nabati

adalah kacang-kacangan dan hasil olahnya, terutama tempe,

tahu susu kedelai (Kurniasih, dkk, 2010).

WHO menganjurkan tambahan protein sebanyak 0,75 g/kg

berat badan bagi wanita.

Sedangkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Tahun

2004 menganjurkan tambahan protein sebesar 17 gram, baik

untuk trimester I, II maupun III (Arisman, 2010). Konsumsi

protein kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadinya:

1. Defisiensi protein selama pertumbuhan fetus

2. Pengurangan transfer protein ke fetus

3. Penurunan jumlah sel dalam jaringan ketika lahir

4. Efek serius pada otak

Hasil penelitian yang dilakukan Saraswati (2006) terhadap

ibu hamil di Sukabumi menunjukkan bahwa pola konsumsi

merupakan faktor yang berpengaruh terhadap ibu hamil KEK.

Pola konsumsi lauk hewani pada ibu hamil yaitu sebesar

27,60% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi daging dan

diatas 65% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi hati, terlihat

bahwa mereka mengkonsumsi makanan yang kurang dari

aspek kuantitas dan kualitas.

Menurut Penelitian Azma (2002) di Sukabumi, proporsi ibu

dengan pola konsumsi lauk nabati tidak sesuai mengalami

risiko 30,4% dan 9,4% ibu hamil dengan pola konsumsi lauk

nabati sesuai. Ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati tidak

sesuai mempunyai risiko untuk KEK sebesar 4,225 kali

dibanding dengan ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati

sesuai.

Dalam buku ilmu gizi, protein selain akan digunakan bagi

pembangun struktur tubuh (pembentukan berbagai jaringan)

juga akan disimpan untuk digunakan dalam keadaan darurat,

sehingga pertumbuhan terus berlangsung, akan tetapi apabila

dalam keadaan terus-menerus menerima makanan yang tidak

seimbang, dengan sendirinya akan terjadi pertumbuhan yang

kurang baik, daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap

penyakit, dan lain-lain.

Proses-proses yang berlangsung di dalam tubuh

dikendalikan oleh tersedianya protein di dalam tubuh. Proses

pencernaan misalnya hanya akan berlangsung secara teratur

dengan dukungan hormon yang mencukupinya, sedangkan

hormon itu terdiri dari protein. Untuk memenuhi kebutuhan

metabolisme dan kecepatan sintesis protein, maka pangan

yang dikonsumsi harus mengandung asam amino dalam jumlah

dan kualitas yang cukup.Asam amino arginin dan taurin secara

fungsional penting dalam perkembangan janin dan bayi. Protein

yang akan dihidrolisis menjadi asam amino, diabsorpsi dan

diangkut melalui sistem portae ke hati. Asam amino masuk

sirkulasi sistemik dan didistribusikan ke seluruh tubuh.Hati

merupakan tempat sintesis protein dari asam amino. Karena

adanya penggunaan kembali asam amino maka sintesis dan

degradasi protein akan terjadi setiap hari terhadap protein yang

dikonsumsi. Pada saat hamil terjadi metabolisme asam amino

yang cukup tinggi.Peningkatan volume darah dan pertumbuhan

jaringan ibu membutuhkan sejumlah protein. Protein yang tidak

memenuhi kebutuhan secara nyata akan menurunkan

pertumbuhan janin yaitu penurunan berat badan ibu, penurunan

jumlah sel, dan berbagai perubahan biokimia. Janin menerima

asam amino dari ibu melalui plasenta dengan sistem transport

tidak aktif (difasillitasi). Konsentrasi asam amino pada janin

lebih tinggi dari pada ibu.Plasenta sangat aktif dalam

metabolisme yang berperan penting dalam metabolisme

nitrogen (Aritonang, 2010).

Hampir 70% protein digunakan untuk pertumbuhan janin

yang dikandung.Pertumbuhan dimulai dari pertumbuhan

sebesar sel sampai tubuh janin mencapai kurang lebih 3.5 kg,

protein juga digunakan untuk pembentukan plasenta.Bila

asupan protein tidak mencukupi maka plasenta menjadi kurang

sempurna padahal plasenta berfungsi untuk menunjang,

memelihara, dan menyalurkan makanan bagi janin.Protein juga

diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak

dan myelin selama masa janin dan berkaitan erat dengan

kecerdasan.Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan

janin, protein juga dibutuhkan untuk persiapan persalinan.

Sebanyak 300-500 ml darah diperkirakan akan hilang pada

persalinan sehingga cadangan darah diperlukan pada periode

tersebut dan hal ini tidak terlepas dari peran plasenta

(Sulistyoningsih, 2011).

3. Bahan Makanan Sayuran

Vitamin dan mineral terutama banyak terdapat dalam sayur

dan buah, khususnya yang berwarna kuning dan hijau gelap.

Vitamin dan mineral adalah zat gizi makro yang memperlancar

proses pembuatan energi dan proses biologis lainnya yang

diperlukan untuk mempertahankan kesehatan. Oleh sebab itu

didalam tumpeng gizi seimbang, sayuran dan buah dianjurkan

dikonsumsi sesering mungkin setiap hari (Kurniasih, dkk, 2010).

Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral

yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di dalam

tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran

berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan

energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi

normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan

dalam pembentukan protein tubuh (Almatsier, 2001).

Vitamin B6 diperlukan pada proses metabolisme protein,

apabila terjadi defisensi vitamin ini, maka akan terjadi ketidak

normalan pada metabolisme protein sehingga tidak dapat

mengubah asam amino menjadi niasin. Vitamin B6 ini banyak

terkandung pada sayur-mayur.

Pada penelitian Azma (2002) di Sukabumi, terlihat

prevalensi ibu hamil yang menderita risiko KEK lebih banyak

dijumpai pada ibu hamil dengan frekuensi konsumsi sayur <3

kali sehari (29,6%) dan 22,4% ibu hamil yang frekuensi

konsumsi sayur ≥3 kali sehari. Ibu hamil yang frekuensi

konsumsi sayur <3 kali sehari mempunyai risiko untuk KEK

sebesar 1,456 kali disbanding dengan frekuensi konsumsi

sayur ≥3 kali sehari. Sedangkan pada penelitian Yuliani (2002)

di Bogor, sebagian besar pola konsumsi sayuran pada ibu

hamil tidak sesuai dengan anjuran makan ibu hamil yaitu

sebesar 81,6%.

4. Bahan Makanan Buah-buahan

Buah berwarna kuning seperti mangga, papaya dan pisang

raja kaya akan provitamin A, sedangkan buah seperti jeruk,

jambu biji, dan rambutan kaya akan vitamin C. Secara

keseluruhan buah merupakan sumber vitamin A, vitamin C,

kalium dan serat. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin

dan mineral yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di

dalam tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran

berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan

energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi

normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan

dalam pembentukan protein tubuh.

Vitamin B1 sangat diperlukan tubuh, tersedianya dalam

tubuh karena diserap usus dari makanan , selanjutnya diangkat

bersama darah ke jaringan-jaringan tubuh. Vitamin B1

ditemukan sebagai cadangan dalam jumlah yang terbatas di

dalam hati, jantung, otot dan otak.Sebagai cadangan diperlukan

untuk memelihara fungsi alat-alat tubuh. Vitamin B1 membantu

dalam pembakaran karbohidrat dan diangkat didalam darah

oleh sel darah putih yang mempunyai inti dengan vitamin B1.

Dari fungsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa makin banyak

karbohidrat yang dikonsumsi maka kebutuhan akan vitamin B1

akan banyak pula, salah satu contoh bagi ibu-ibu yang sedang

hamil atau menyusui sudah tentu akan memerlukan vitamin B1

lebih banyak daripada biasanya.

Pada penelitian Azma (2002), terlihat prevalensi ibu hamil

yang menderita risiko KEK lebih banyak dijumpai pada ibu

hamil dengan frekuensi konsumsi <2 kali sehari sebesar 30,7%

dan 24,2% ibu hamil dengan frekuensi konsumsi buah ≥2 kali

sehari mengalami risiko KEK. Begitu juga dengan hasil

penelitian Hapni (2004) dan penelitian Yuliani (2002).

5. Susu dan Hasil Olahannya

Susu merupakan makanan alami yang hampir sempurna.

Sebagian besar zat gizi esensial ada dalam susu, yaitu protein

bernilai biologi tinggi, kalsium, fosfor, vitamin A, dan tiamin.

Susu merupakan sumber kalsium paling baik, karena

disamping kadar kalsium yang tinggi, laktosa didalam susu

membantu absorpsi susu didalam saluran cerna. Balita, ibu

hamil dan ibu menyusui dianjurkan paling kurang minum satu

gelas susu sehari, atau hasil olahannya berupa yogurt, yakult,

dan keju dalam jumlah yang ekivalen (Almatsier, 2010).

Dalam dokumen PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH (Halaman 38-58)

Dokumen terkait