• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU

HAMIL KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS GAMBUT KABUPATEN BANJAR

TAHUN 2015

Proposal Penelitian

Diajukan Untuk Melengkapi Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan (S.Si.T)

Handriyati Sukmasari 11D40033

(2)

HUSADA BORNEOBANJARBARU

2015

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU

HAMIL KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS GAMBUT KABUPATEN BANJAR

TAHUN 2015

Proposal Penelitian

Diajukan Untuk Melengkapi Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan (S.Si.T)

(3)

PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

HUSADA BORNEOBANJARBARU

2015

(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan Kehadirat Allah SWT atas

Rahmat, Magrifah dan Hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan

proposal penelitian ini dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan

Dengan KEK Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut

Kabupaten Banjar Tahun 2015”.Proposal penelitian ini disusun dan dibuat

dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan tugas akhir untuk

menyelesaikan pendidikan pada program DIV Bidan Pendidik di Stikes

Husada Borneo Banjarbaru.

Proposal penelitian ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa

bantuan dari berbagai pihak, saya ingin mengucapkan terima kasih yang

tiada terhingga kepada Ibu Saidatunnisa S,Si,T, M.Kes, selaku

pembimbing utama yang telah banyak membantu saya dalam

menyelesaikan proposal penelitian dan Ibu Dewi Sari Yanti S.Si.T, selaku

pembimbing pendamping yang telah banyak memberikan masukan dan

saran dalam menyelesaikan proposal penelitian ini, tanpa adanya bantuan

dari pembimbing I dan pembimbing II proposal ini tidak dapat

terselesaikan dengan baik. Dan tidak lupa juga dalam kesempatan ini

saya ucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada :

1. Ketua dan Pembina Yayasan Stikes Husada Borneo Banjarbaru.

2. Ketua Program Studi DIV Bidan PendidikStikes Husada Borneo

Banjarbaru.

3. Seluruh staf pegawai Stikes Husada Borneo Banjarbaru yang telah

membantu dalam pembuatan surat studi pendahuluan dalam

penyusunan proposal penelitian ini.

4. Segenap Staf Dinas kesehatan yang telah membantu dalam

pengumpulan data pada proposal penelitian ini.

(6)

6. Kedua orang tuasayaBapak Moch. Sehan dan Ibu Wahyu Utami

Handayani yang selalu berdoa dan bekerja keras serta memberikan

semangat yang tiada hentinya, adik saya Moch. Syachrur Sukmana

yang menjadi penyemangat saya, dan semua keluarga tersayangyang

telah memberikan dukungan moril maupun meteril dengan tulus

ikhlasdan mencurahkan segala kasih sayang dan semangat yang tiada

henti-hentinya untuksaya.

7. Seluruh responden penelitian yang telah bersedia meluangkan

waktunya untuk berpartisipasi dalam proposal penelitian ini.

8. Semua pihak yang membantu saya terutama teman- teman mahasiswi

DIV Bidan PendidikStikes Husada Borneo yang telah banyak

membantu dukungan dan semangat sehingga proposal penelitian ini

dapat terselesaikan.

Semoga Allah SWT membalas budi baik semua pihak yang telah

memberikan kesempatan, dukungan dan bantuan kepada saya sehingga

proposal penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.Dengan segala

kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, saya menghapkan kritik

dan saran dari membangun untuk kesempurnaan proposal penelitian ini.

Akhirnya semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak dan dapat menjadi pedoman dalam melakukan penelitian lain dan

selanjutnya.

Banjarbaru, Juni 2015

Peneliti

DAFTAR ISI

(7)

HALAMAN COVER...i

2.2 KEK Pada Ibu Hamil...9

2.3 Pendidikan...13

2.9 Pola konsumsi Ibu Hamil...25

2.10 Gizi Ibu Hamil...43

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...54

3.3 Subjek Penelitian...54

3.4 Variabel Penelitiandan Definisi Operasional...55

3.5 Instrumen Penelitian...57

(8)

3.7 Teknik Analisis Data...58

3.8 Prosedur Penelitian...60

3.9 Rincian Biaya Dan Jadwal Penelitian...61

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Contoh Pengukuran Prilaku...

22

Tabel 2.2 Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya

30

Tabel 2.3Menu Untuk Ibu Hamil Pada Trimester Pertama...

39

Tabel 2.4Menu Untuk Ibu Hamil Pada Trimester Dua dan Tiga...

40

Tabel 2.5 Tanda Kecakupan Gizi Pada Wanita Dewasa Dan Ibu Hamil

42

(9)

Tabel 3.2 Rencana Biaya Penelitian...

65

Tabel 3.3 Jadwal Penelitian...

66

DAFTAR GAMBAR

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat permohonan Ijin Studi Pendahuluan Lampiran 2 Surat Ijin Studi Pendahuluan dari Puskesmas Lampiran 3 Permintaan Jadi Responden

Lampiran 4 Persetujuan Jadi Responden Lampiran 5 Lembar Kuesioner

(11)

Lampiran 8 Data Bumil dan WUS Dinkes Kab.Banjar Tahun 2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

KEK

padaibuhamilyaitukeadaandimanaibumengalamikekuranganmakananberg izi yang berlangsungmenahun.Tiga faktor utama indeks kualitas hidup yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat yang dapat digambarkan terutama pada status gizi anak balita dan wanita hamil (Harahap, 2010).

(12)

banyak terjadi kasus KEK (Kekurangan Energi Kronis) terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi (energi dan protein), sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Pada keadaan ini banyak ibu yang meninggal karena perdarahan, sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak (Chinue, 2010). Jika status ibu sebelum dan selama hamil normal maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal (Mulyaningrum, 2010). Sehingga dapat disimpulkan kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil.

Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putriatauwanita mempunyai kecenderungan menderita KEK (Arismas,2010).

Menurut World Health Organization (WHO,1995) menyebutkanhampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari dua per tiga kematian adalah BBLR yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR daan hampir semua terjadi di negara berkembang ( Zaenab, 2010).

Menurut data Survey DemogarafiKesehatan Indonesia (SDKI,2007) AKI di Indonesia adalah 228 per 100.000 kelahiranhidup, sedangkan data SDKI 2012 rata-rata AKI tercatat 359 per 100.000 kelahiranhidup.

MenurutDepkes, 2003 untuk menanggulangi serta mengurangi bayi dengan kelahiran BBLR perlu langkah yang lebih dini. Salah satu caranya dengan mendeteksi secara dini Wanita Usia Subur (WUS) dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).

(13)

dengan prevalensi 35,5 % dan yang paling rendah adalah Thailand denganprevalensi 15-25 %. Hal ini terjadi karena sebagian besar wanita yang mengalami kekurangan energi disebabkan asupan makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebuah penelitian di India yang menghubungkan pengukuran antropometri kehamilan dengan berat badan lahir rendah, menemukan rata- rata ibu dengan pertambahan berat badan selama kehamilan kurang dari 10 kg terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah dan berdampak pada kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah. Namun para wanita hamil di Colombia dengan sosial ekonomi rendah yang mempunyai risiko kekurangan gizi dengan asupan yang kurang energinya berhubungan signifikan dengan berat bayi lahir rendah (Mulyaningrum, 2010).

MenurutRiskesdas, 2007 meskipun demikian ditemukan beberapa Kabupaten kota yang mengalami prevalensi <10% yaitu Soppeng (9,4%), Pinrang (8%) Enrekang, (8,8%), Luwuk utara (7,5%), Makassar(7,7%) Pare-pare (9,75%) dan Palopo (9,1%).

Kabupaten yang memiliki prevalensi KEK tertinggi adalah Tana Toraja dengan 33,7 % Meskipun secara nasional mencapai 13,6%. Secara umum di Sulawesi Selatan Prevalensi KEK hanya 12,5% namun di Kabupaten Gowa mencapai 19,9%. Di Sulawesi Selatan persentase WUS yang mempunyai risiko KEK sebesar 17,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Indonesia masih memerlukan perhatian yang lebih besar dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. (Depkes, 2011).

Menurut data DinkesKabupatenBanjartahun 2013 jumlahibuhamilsebanyak 12421, yang mengalami KEK sebanyak 1142 orang, dantahun 2014 sebanyak 12815, yang mengalami KEK sebanyak 1091 orang. (DinKesKab.Banjar).

Data PWS KIA di PuskesmasGambutpadatahun 2013 jumlahibuhamilsebanyak 904 orang, yang mengalami KEK yaitusebanyak 63 orang. Sedangkantahun 2014 jumlahibuhamilsebanyak 924 orang, mengalami KEK sebanyak 74 orang.

(14)

PuskesmasGambutKabupatenBanjarterdapat 7 orang ibu mengalami KEK.

Fakta yang terjadi dilapangan penyebab ibu hamilmengalami KEK yaitumerekaberanggapanbahwamakananbanyaksajasudahcukupmemenu hikebutuhanmerekatanpamemikirkankandungandarimakanantersebut. Merekajugapercayadenganpantanganmakananyang diyaknisecaraturun-temurun. Hal tersebutdapat di atasidenganpemberian Informasi persepsi yang benar tentang kecakupangizibagiibuhamil.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor Yang BerhubunganDenganIbuHamilKekuranganEnergiKronik (KEK)Di Wilayah KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjarTahun 2015 “.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkanuraianlatarbelakang di atas, makarumusanmasalah yang diangkatdalampenelitianiniadalah “faktor-faktorapasaja yang berhubungandenganibuhamilkekurangan energi kronik (KEK) di wilayahkerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015?”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor-faktor Yang

BerhubunganDenganIbuHamilKekuranganEnergiKronik (KEK) Di WilayahKerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjarTahun 2015 “.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. MengidentifikasitingkatpedidikanibuhamilKekuranganEnergiKronik(KE K) di Wilayah Kerja PuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015. 2. MengidentifikasitingkatpengetahuanibuhamilKekuranganEnergiKronik

(KEK) di Wilayah Kerja PuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015.

(15)

6. MenganalisishubunganprilakudenganpadaibuhamilKekuranganEnergi Kronik (KEK) di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjartahun 2015.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 ManfaatBagiResponden

Untukmeningkatkanpengetahuanibutentang status gizi, danKekuranganEnergiKronik (KEK).

1.4.2 ManfaatBagiPuskesmas

Denganhasilpenelitianinidiharapkandapatmemberikanmasukanbagipe

tugaskesehatan agar

lebihmeningkatkanmutupelayanankesehatanterutama KEK padaibuhamil.

1.4.3 ManfaatBagiPeneliti

Penelitianinidigunakansebagai media

pembelajaranuntukmengaplikasikanilmupengetahuanataumenambahwaw asantentangilmukebidanan yang didapatdalamperkuliahan.

1.4.4 ManfaatBagiInstitusi

Sebagaisumberbacaan di Perpustakaan STIKES HUSADA BORNEO Banjarbarudandapatmenjadibahanpertimbanganuntukmelakukanpenelitia n-penelitianlebihlanjutdenganvariabel yang belumditeliti.

1.5 Keaslian Penelitian

1.5.1 Destianti Risky, Faktor-Faktor Yang MempengaruhiKejadian KEK (KurangEnergiKronik) PadaIbuHamil Di Wilayah PuskesmasCempakaTahun 2013dari Prodi DIV BidanPendidik STIKES

Husada Borneo BanjarbaruTahun 3013.

Perbedaandenganpenelitianterdahuluadalah variable penelitian yang di gunakanyaitutingkatpengetahuan, tingkatpendidikan, pekerjaan, umur, dan KEK, waktu, dantempatpenelitiandilakukan di PuskesmasCempaka. 1.5.2 Erma Syarifuddin Ausa1 ,Nurhaedar Jafar1, Rahayu Indriasari dari

Program Studi IlmuGizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, dengan judul Hubungan Pola Makan Dan Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kek Pada Ibu Hamil Di Kabupaten Gowa

Tahun 2013. Perbedaanpenelitian yang

(16)

digunakan yaitu pola makan, status ekonomi, dan KEK, waktu dan tempat penelitian dilakukan di Kabupaten Gowa Tahun 2013.

1.5.3 EfrinitaNurAgustianHubunganAntaraAsupan Protein DenganKekuranganEnergiKronik (Kek) PadaIbuHamil Di

KecamatanJebres Surakartadari Prodi D IV

KebidananFakultasKedokteranUniversitasSebelasMaretPadaTanggal 2

Agustus 2010”. Perbedaanpenelitian yang

akandilakukandenganpenelitianterdahuluadalahvariabel penelitian yang digunakan yaitu pola makan, status ekonomi, dan KEK, waktu dan tempat penelitian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kehamilan

2.1.1 Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah suatu keadaan istimewa bagi seorang wanita sebagai calon ibu, karena pada masa kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi kehidupannya (Kristiyanasari, 2010).

Kehamilan adalah suatu peristiwa yang dimulai dari konsepsi sampai adanya tanda-tanda persalinan (Wikipedia, 2010).

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterine mulai sejak konsepsi sampai permulaan persalinan (Vivin dan Sunarsih, 2011).

(17)

menjadi janin yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan didalam uterus sampai proses persalinan.

2.1.2 Pembagian Trimester

Masa kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (9 bulan 7 hari, atau 40 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Masa kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu:

1) Triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (pertambahan berat badan sangat lambat yakni sekitar 1,5kg)

2) Triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (penambahan berat badan 4 ons perminggu).

3) Triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (penambahan berat badan keseluruhan 12kg) (Waryono, 2010).

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT).Menurut Farah (2011) kehamilan dibagi atas 3 trimester yaitu :

1) Trimester I (0-12 minggu) 2) Trimester II (12-28 minggu) 3) Trimester III (28-40 minggu) 2.1.3 Kebutuhan Kehamilan

1. Kebutuhan ibu hamil trimester I

a. Diet dalam kehamilan

Ibu dianjurkan untuk makan makanan yang mudah

dicerna dan makan makanan yang bergizi untuk menghindari

adanya rasa mual dan muntah begitu pula nafsu makan

yang menurun.Ibu hamil juga harus cukup minum 6-8 gelas

sehari.

b. Pergerakan dan gerakan badan

Ibu hamil boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan

tetapi jangan terlalu lelah sehingga harus di selingi dengan

istirahat. Istirahat yang dibutuhkan ibu 8 jam pada malam

hari dan 1 jam pada siang hari.

(18)

Ibu dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan untuk

mengurangi kemungkinan infeksi, kebersihan gigi juga harus

dijaga kebersihannya untuk menjamin pencernaan yang

sempurna.

d. Koitus

Pada umumnya koitus diperbolehkan pada

masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-hati.Pada

akhir kehamilan, sebaiknya dihentikan karena dapat

menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan.Pada ibu yang

mempunyai riwayat abortus, ibu dianjurkan untuk koitusnya

ditunda sampai dengan 16 minggu karena pada waktu itu

plasenta telah terbentuk.

e. Ibu diberi imunisasi TT1 dan TT2.

2. Kebutuhan ibu hamil trimester II

a. Pakaian dalam kehamilan

Menganjurkan ibu untuk mengenakan pakaian yang

nyaman digunakan dan yang berbahan katun untuk

mempermudah penyerapan keringat.Menganjurkan ibu untuk

tidak menggunakan sandal atau sepatu yang berhak tinggi

karena dapat menyebabkan nyeri pada pinggang.

b. Nafsu makan meningkat dan pertumbuhan yang pesat,

maka ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi protein, vitamin,

juga zat besi.

c. Ibu diberi imunisasi TT3.

3. Kebutuhan ibu hamil trimester III

a. Mempersilahkan kelahiran dan kemungkinan darurat

(19)

b) Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat

untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi,

termasuk :

- Mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut.

- Mempersiapkan donor darah. - Mengadakan persiapan financial.

- Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat.

b. Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan

a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.

b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada servik.

c) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

d) Pada pemeriksaan dalam: servik mendatar dan pembukaan telah ada.

2.2 KEK Pada Ibu Hamil

2.2.1 Pengertian KEK

Kekurangan energi kronik adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan ibu dengan tanda-tanda atau gejala antara lain badah lemah dan muka pucat. (Depkes RI,1995 skripsi kesmas).

Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun.Risiko Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang dikatakan menderita risiko KEK apabila LILA (Lingkar Lengan Atas) <23,5 cm (Chinue, 2010).

(20)

Istilah KEK atau Kurang Energi Kronik adalah merupakan istilah lain dari Kurang Energi Protein (KEP) yang diperuntukkan untuk wanita yang kurus dan lemak akibat kurang energi kronik. Definisi ini diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO).

Kekurangan Energi Kronik adalah keadaan dimana remaja putri atau wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun.

Menurut Depkes, ibu hamil yang berisiko KEK adalah ibu hamil yang mempunyai ukuran LILA <23,5 cm, sedangkan ibu KEK adalah ibu yang mempunyai ukuran LILA <23,5 cm dan dengan beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Berat badan ibu sebelum hamil <42 kg 2. Tinggi badan ibu <145 cm

3. Berat badan ibu pada kehamilan trimester III <45 kg 4. IMT sebelum hamil <17,00

5. Ibu menderita anemia (Hb <11 gr%)

Menurut WHO (2005), ibu hamil dengan risiko KEK akan meningkatkan kemungkinan kesakitan maternal, terutama pada trimester ketiga (bulan 7-9) dan meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Ibu hamil dengan risiko KEK kemungkinan akan mengalami kesulitan pada saat persalinan, perdarahan, dan berpeluang untuk melahirkan bayi dengan BBLR yang akhirnya menyebabkan kematian pada ibu atau bayi.

Risiko KEK pada ibu hamil mempunyai akibat tidak saja pada terhambatnya pertumbuhan janin, berat badan lahir, pertumbuhan bayi dan anak, tetapi juga mempunyai pengaruh buruk pada generasi selanjutnya.Siklus status gizi yang kurang baik ini berlanjut dari status gizi pada masa bayi, balita, masa remaja, dan calon ibu sebagai generasi selanjutnya.

(21)

akan menimbulkan risiko BBLR (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000).

Ibu hamil KEK mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar, terutama pada trimester ketiga kehamilan, akibatnya mempunyai risiko lebih besar untuk melahirkan BBLR. Selain itu ibu hamil KEK yang telah melalui masa persalinan dengan selamat, akan mengalami masa pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan. Hal ini akan mempengaruhi produksi ASI dan menurunkan kemampuan merawat anak sertadirinya sendiri (Depkes RI).

Menurut Guthrie (1995) dalam Hapni (2010), ibu hamil yang menderita KEK dapat terjadi karena jumlah makanan yang dikonsumsi tidak cukup, atau penggunaan zat gizi dalam tubuh tidak optimal, atau kedua-duanya. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah sel darah dalam tubuh, sehingga suplai darah dan zat-zat gizi yang diberikan ke janin berkurang, maka pertumbuhan janin akan terhambat dan bayi yang dilahirkan akan BBLR.

Berbagai penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa separuh dari penyebab terjadinya kasus BBLR adalah status gizi ibu.

Hasil penelitian Rosikin di Kota Cirebon (2004), menunjukkan bahwa ibu hamil dengan risiko KEK berisiko melahirkan bayi BBLR sebanyak 3 kali dibanding ibu dengan LILA normal.

(22)

2.2.2 Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)

Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui

status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat

badan selama hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk

badan ukuran masa jaringan adalah masa tubuh. Contoh ukuran

masa jaringan adalah LILA, berat badan, dan tebal lemak. Apabila

ukuran ini rendah atau kecil, menunjukan keadaan gizi kurang

akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu

pengukuran dilakukan.Pertambahan otot dan lemak di lengan

berlangsung cepat selama tahun pertama kehidupan.Lingkaran

Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan

lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh.

Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang

biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil

dengan resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm. Pengukuran

LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita

Kurang Energi Kronik. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK

di Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm

atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai

risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir

rendah (Arisman, 2010).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA

a. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.

b. Lengan harus dalam posisi bebas.

c. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.

d. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata.

(23)

berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, pengukuran LILA

sebagai indikator risiko KEK telah sering digunakan dalam

penelitian. Selain murah, mudah, cepat dan praktis untuk

penggunaan di lapangan, LILA cukup representatif dalam

menentukkan status gizi ibu hamil terutama berkaitan dengan risiko

KEK (Hardinsyah, 1999 dalam Marlenywati 2010).

Menurut Gibson (2005) dalam Mulyaningrum (2010),

pengukuran mid-upper-arm circumference (MUAC) atau yang lebih

dikenal dengan LILA dapat melihat perubahan secara pararel dalam

massa otot sehingga bermanfaat untuk mendiagnosis kekurangan

gizi.

Pada penelitian di India didapatkan hasil yaitu besar LILA relatif

stabil atau hanya sedikit perubahan selama masa hamil, dan

pengukurannya independen terhadap umur kehamilan.Oleh sebab

itu, LILA hanya dapat digunakan untuk penapisan (screening).

Screening bermanfaat dalam program gizi dan kesehatan misalnya

dalam menentukan wanita hamil yang perlu mendapatkan PMT

(pemberian makanan tambahan) atau membutuhkan penyuluhan,

pengobatan atau lainnya selama periode kehamilan, namun tidak

disarankan untuk digunakan dalam mengevaluasi hasil intervensi

(Shah, 2001 dalam Khasanah 2010).

2.2.3 Tujuan Pengukuran LILA

Beberapa tujuan pengukuran LILA adalah mencakup masalah

WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum dan

peran petugas lintas sektoral. Adapun tujuan pengukuran LILA

menurut Depkes RI (1994) adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).

(24)

3. Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.

4. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.

5. Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita KEK.

2.2.4 Ambang Batas LILA

Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.

Cara Mengukur LILA

1) Tetapkan posisi bahu dan siku

2) Letakkan pita antara bahu dan siku.

3) Tentukan titik tengah lengan.

4) Lingkaran pita LILA pada tengah lengan.

5) Pita jangan telalu ketat.

6) Pita jangan terlalu longgar.

7) Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2010)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah

pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku

lengan kiri.Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot

lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.Alat pengukur

dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat

sehingga permukaannya tidak rata.

2.3 Pendidikan

(25)

Menurut Nursalam (2003) didalam buku (Dewi dan Wawan, 2010) yaitu makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menunjukkan cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan (Dewi dan Wawan, 2010).

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU No.22 th 2003).

Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup, pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya.

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendwasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, pembuatan cara mendidik, kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikaps seseorang terhadap pengatahuan yang diserapnya.

2.3.2 Tujuan Pendidikan

(26)

2.3.3 Jenjang Pendidikan

Menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang akan dikembangkan.

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, yaitu :

a) Pendidikan dasar

Berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau berbentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

b) Pendidikan Menengah

Berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

c) Pendidikan Tinggi

Merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan dokter yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

(27)

2.4 Pengetahuan

2.4.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Wawan, 2010).

Pengetahuan adalah struktur organisasi pengetahuan yang biasanya merupakan suatu fakta prosedur dimana jika dilakukan akan memenuhi kinerja yang mungkin (Gordon, 2012).

Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai (Ngatimin, 2012).

2.4.2 Tingkatan Pengetahuan

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai

enam tingkatan :

1) Tahu (Know)

(28)

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

4) Analisa (analysis)

Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjawab materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan/membuat bagian membedakan, mengelompokan dan sebagainya.

5) Sintesis (synthesis)

Sentesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

(29)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas.

2.4.3 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tetntang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

Menurut arikunto (2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan interprestasikan dengan skala yang bersifat kuantitatif, yaitu (Wawan, 2010) :

1. Baik : Hasil Presentasi 76%-100% 2. Cukup : Hasil Presentasi 56%-75% 3. Kurang : Hasil Presentasi <50%

2.5 Prilaku

2.5.1 Pengertian Prilaku

(30)

Menurut suryani dalam machfoedz adalah aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungan dengan lingkungannya. Dengan kata lain, prilaku baru terjadi apabila sesuatu rangsangan yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi. Jadi, suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi berupa prilaku tertentu.

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan sangat luas anatara lain, berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

2.5.2 Konsep Prilaku

Sebelum kita membicarakan tentang prilaku, terlebih dahulu akan dibuat batasan tentang prilaku itu sendiri.

Prilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.Jadi prilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.Oleh sebab itu, prilaku manusia itu mempunyai bentangan yang cukup luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya.Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berfikir, persepsi, dan emosi juga merupakan prilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisa dapat dikatakan bahwa prilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.

(31)

lingkungan ini merupakan penentu dari prilaku makhluk hidup termasuk prilaku manusia.

Menurut (Skinner, 1938 dalam A. Wawan dan Dewi, 2010) ada dua respon yang dikenal yaitu :

a. Respondent responds atau reflexise respons, yaitu respon yang dihasilkan oleh stimulus tertentu. Stimulus seperti ini disebut elicting stimulation karena stimulus ini menimbulkan respon-respon yang tetap.

b. Operant respons atau instrumental respons, yaitu timbulnya respon diikuti oleh stimulasi atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce. Reinforce artinya penguat, hal ini dikarenakan perangsang itu memperkuat respon.

Menurut WHO ada empat alasan pokok yang menyebabkan

seseorang berperilaku tertentu, yakni:

1. Pemahaman dan pertimbangandalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadapobjek (objek kesehatan).

a. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

b. Kepercayaan sering atau orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tannpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pun dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu pada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.

2. Orang penting sebagai referensi

Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang dia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

3. Sumber-sumber daya

(32)

4. Kebudayaan, kebiasaan, nilai-nilai dan tradisi

Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia.

2.5.3 Prosedur Pembentukan Prilaku

Seperti telah disebutkan diatas, sebagian besar prilaku manusia adalah operant respons atau prilaku ini perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :

1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforce berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi prilaku yangakan dibentuk.

2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk prilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya prilaku yang dimaksud.

3. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.

4. Melakukan pembentukan prilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau prilaku (tindakan) tersebut cenderung sering dilakukan. Didalam kenyataannya prosedur ini banyak dan bervariasi sekali dan lebih kompleks dari contoh tersebut diatas. Teori Skinner ini sangat besar pengaruhya terutama di Amerika Serikat. Konsep-konsep behavior control, behavior theraphy, dan behavior modification yang dewasa ini berkembang adalah sumber pada teori ini. ( A.Wawan dan Dewi M, 2010).

Bentuk perubahan perilaku menurut WHO yang disadur oleh Notoatmodjo (2010) meliputi :

1. Perubahan Alamiah(Natural Change)

(33)

sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial, budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya yang akan mengalami perubahan.

2. Perubahan Rencana (Planned Change)

Bentuk perubahan perilaku yang terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subyek.

3. Kesediaan Untuk Berubah (Readiness to Change)

Setiap orang di dalam masyarakat mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda meskipun kondisinya sama. Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, namun sebagian lagi sangat lamban.

2.5.4 Bentuk Prilaku

Secara lebih operasional prilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perlu dapat dibedakan menjadi dua macam :

1. Bentuk pasif (respon internal)adalah terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat orang lain. Misalnya berpikir, tanggapan, atau sikap batin, dan pengetahuan. Oleh sebab itu prilakunya masih terselubung atau tertutup(covert behavior).

2. Bentuk aktif yaitu apabila prilaku tersebut jelas dan dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena itu prilaku mereka sudah tampak dalam tindakan nyata (overt behavior).

Prilaku manusia sebagian besar adalah prilaku yang dibentuk , atau prilaku yang dipelajari. Tiga cara membentuk prilaku agar sesuai dengan yang diharapkan :

a. Pembentukan prilaku dengan kebiasaan (conditioning)

(34)

b. Pembentukan prilaku dengan pengertian (insight)cara pembentukan

Tabel 2.1contoh pengukuran prilaku

Klasifikasi Kategori prilaku Minum Jahe Ya

Tidak Minum jahe Tidak

Sumber : A. Wawan dan Dewi M, 2010

2.5.6 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prilaku

Menurut Lawrence Green (1960) dalam Notoadmodjo (2010) bahwa prilaku manusia dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu sebagai berikut : a. Faktor Predisposisi (predisposing factor). Prilaku individu bisa

dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, tingkat pendidikan, kepercayaan, social ekonomi, tradisi dan sistem nilai yang ada didalam masyarakat. Sebagai contoh jika seorang individu menerima suatu nilai tertentu dari suatu objek, dia dapat menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Begitu pula faktor tradisi di masyarakat, individu yang selalu hidup dalam suasana tradisional akan sulit untuk membuka diri terhadap gagasan dan teknik-teknik baru guna meningkatkan kemampuannya dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan kesehatan.

b. Faktor pemungkin (enabling factor) merupakan faktor pendukung individu untuk dapat meningkatkan prilaku positif misalnya buku-buku, brosur-brosur tentang suatu masalah kesehatan. Selain itu faktor pendukung lainnya adalah fasilitas sarana kesehatan. Sarana kesehatan merupakan faktor yang memungkinkan terwujudnya prilaku hidup sehat. Sarana kesehatan merupakan akses seseorang untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatannya.

(35)

Komponen sikap terdiri atas 3 bagian yang saling menunjang

yaitu:

a. Komponen Kognitif

Merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu

pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotipe yang dimiliki individu menegnai sesuatu dapat

disamakan penanganan (opini) terutama apabila,

menyangkut masalah suatu problem yang kontroversial.

b. Kompenen Afektif

Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional ini yang biasanya berakar paling dalan sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

c. Komponen Konatif

Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.Dan berkaitan dengan obyek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.

2.6 Pendapatan Keluarga

(36)

menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur.

Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan.Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007).

2.7 Status Perkawinan

Status Perkawinan ibu dibedakan menjadi: Kawin adalah status dari mereka yang terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah. Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah, secara hukum (adat, agama, negara dan sebagainya) tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri.Cerai hidup adalah status dari mereka yang hidup berpisah sebagai suami istri karena bercerai dan belum kawin lagi.Cerai mati adalah status dari mereka yang suami atau istrinya telah meninggal dunia dan belum kawin lagi.

2.8 Faktor Biologis

(37)

Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan.Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik.

2.8.2 Jarak Kehamilan

Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun.

Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung. 2.8.3 Paritas

Menurut Mochtar paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable).Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir.

(38)

c. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.

2.9 Pola Konsumsi Ibu Hamil

2.9.1 Pengertian pola konsumsi

Konsumsi makan adalah makanan yang dimakan

seseorang.Konsumsi makan merupakan jumlah makanan (tunggal

atau beragam) yang dikonsumsi masyarakat, keluarga dan individu

dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan

oleh tubuh.Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis,

jumlah pangan yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau

kelompok orang pada waktu tertentu.

Pola konsumsi makan merupakan berbagai informasi yang

memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan

yang dimakan setiap hari oleh setiap orang dan merupakan ciri

khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga

dikatakan sebagai suatu cara seseorang atau kelompok orang

(keluarga) memilih makanan sebagai tanggapan terhadap

pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan dan social. Di dalam

susunan pola menu tersebut ada satu bahan makanan yang

dianggap paling penting.Suatu hidangan dianggap tidak lengkap

apabila bahan makanan tersebut tidak ada.Bahan makanan

tersebut dinamakan bahan makanan pokok. Bahan makanan pokok

dalam pola menu di Indonesia adalah beras dan pada beberapa

daerah digunakan juga jagung, sagu dan ubi jalar.

(39)

dengan tingkat konsumsi perkapita.Konsumsi makanan masyarakat

dapat diperkirakan dengan mengumpulkan data-data tentang

kapasitas produksi seluruh makanan yang kemudian angka

tersebut dikurangi jumlah yang digunakan untuk bibit, eksport,

kerusakan paska panen dan distribusi serta untuk cadangan.Dalam

keluarga,yaitu pengetahuan, pendapatan rendah dan jumlah anak

yang banyak cenderung pola konsumsi pangan berkurang pula.

Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk

mengetahui kenyataan makanan yang dimakan oleh masyarakat

dan hal ini dapat berguna untuk mengukur status gizi dan

menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi.

Pengukuran konsumsi makanan ini dapat mengidentifikasi

kelebihan dan kekurangan zat gizi.Konsumsi makanan dalam

bentuk zat gizi diperoleh dari konsumsi bahan pangan yang

dikonversi ke dalam bentuk zat gizi dengan menggunakan

daftar.Perubahan hormonal selama kehamilan di duga sebagai

pemicu terjadinya rasa mual dan muntah pada ibu hamil.Ada yang

hanya berlangsung sebentar, tetapi ada juga yang sampai

berminggu-minggu bahkan hingga trimester kedua. Berikut

beberapa tips untuk mengurangi gejala mual dan muntah selama

hamil :

1.

Hindari makanan porsi besar, makan lebih sering dengan porsi

kecil (2-3 jam sekali).

2.

Makanan tinggi karbohidrat dan protein dapat mengurangi

rasa mual seperti : biscuit, roti, dan kentang.

3.

Hindari bau makanan yang menyengat.

4.

Sesudah makan janga terburu-buru berbaring, tetapi segera

berdiri.

5.

Makan crakers 15 menit setelah bangun tidur di pagi hari.

6.

Jangan menunda makan.

7.

Hindari makanan terlalu berlemak dan berbumbu tajam.

8.

Hindari kopi dan minuman bersoda.

(40)

10. Jangan minum disaat makan, tetapi minum setengah jam

sebelum dan sesudah makan.

11. Konsumsi makanan yan agak dingin akan mengurangi bau

menyengat.

12. Konsumsi makanan bercita rasa agak asam, aroma jahe, dan

buah segar.

13. Vitamin B6 dapat mengurangi rasa mual pada saat morning

sickness, namun konsultasikan terlebih dahulu ke dokter.

14. Terdapat beberapa makanan yang perlu dihindari selama

kehamilan, antara lain seperti :

a.Makanan yang miskin zat besi tapi kaya kalori, seperti gula,

lemak, permen, kue-kue bermentega, dank rim kental.

Makanan ini dapat menyebabkan obesitas dan bersifat

mengenyangkan.

b.Makanan bergaram tinggi, seperti kornet, ikan asin, dan

sayuran kalengan, sebab dapat meicu kenaikan tekanan

darah.

c. Alkohol, kopi, dan minuman bersoda yang dapat memicu

hipertensi.

d.Makanan yang diolah tidak sempurna dan mentah, seperti

ikan salmon mentah, steak setengah matang, telur mentah

atau setengah matang, dan susu segar. Makanan tersebut

dikhawatirkan masih mengandung bakteri berbahaya seperti

bakteri listeria monocytogenes penyebab keguguran, bakteri

e.coli yang merusak usus dan sel ginjal, serta bakteri

salmonella penyebab keracunan.

e.Makanan yang mengandung aditif sintesis, seperti

penyedap rasa, pewarna, pengawet, pemberi rasa,

pemanis, dan penambah aroma (aneka esen).

f. Makanan yang terlalu manis. (gizi terapan hal 57-58).

2.9.2 Anjuran Makan Ibu Hamil

(41)

fisiologis yang sedang dialami ibu hamil.Kualitas makanan

menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam

susunan makanan dan perbandingan yang satu terhadap

lainnya.Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi

terhadap kebutuhan tubuh (Sediaoetama, 1993 dalam Marlenywati

2010).

Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting.Pada

masa ini ibu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk

menyambut kelahiran bayinya. Ibu sehat akan melahirkan bayi

yang sehat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

kesehatan ibu adalah keadaan gizi ibu.Selama kehamilan ibu perlu

memperhatikan makanan sehari-hari agar terpenuhi zat gizi yang

dibutuhkan selama kehamilan.

Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI

(2000), kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi apabila ibu

mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, dengan

mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi

pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari

makanan lainnya. Makanan yang beranekaragam memberikan

manfaat yang besar terhadap kesehatan ibu hamil, karena makin

beragam yang dikonsumsi, makin baik mutu makanannya.

Makanan aneka ragam adalah hidangan dengan menu yang

bervariasi paling sedikit terdiri dari:

1. Satu jenis makanan pokok, misalnya nasi, jagung, roti, ubi,

kentang, sagu, yang merupakan sumber zat tenaga.

2. Satu jenis lauk pauk, misalnya tempe, tahu, telur, ikan, daging,

yang merupakan zat pembangun

3. Satu jenis sayuran dan buah-buahan yang merupakan sumber

zat pengatur.

(42)

ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu

hamil dapat berakibat:

1. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut

Berat Badan Bayi Rendah (BBLR)

2. Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan)

3. Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati (Notoatmodjo,

2010).

Ibu hamil yang kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi

dengan berat badan lahir rendah (BBLR).Oleh karena itu, ibu hamil

harus memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat bergizi

seimbang sebagai salah satu upaya untuk menjaga keadaan gizi

ibu dan janinnya tetap sehat (Kurniasih, dkk, 2010).

Hidangan bagi ibu hamil sebaiknya memperhatikan prinsip

menu seimbang, yaitu mengandung semua unsur zat gizi, yaitu

sumber karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air.Bahkan

makanan yang dipilih juga harus cukup mengandung serat, yaitu

yang bersumber dari sayur dan buah. Jenis bahan makanan yang

digunakan sebaiknya bersumber dari bahan makanan segar,

hindari bahan makanan hasil awetan (Sulistyoningsih, 2011).

Anjuran pembagian makanan sehari ibu hamil dapat

disederhanakan dalam bentuk bahan makanan dengan memakai

ukuran rumah tangga (URT) sebagai berikut:

Tabel 2.2

Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan atau Penukarnya

Bahan Makanan Atau Penukarnya

Anjuran Makanan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya

Trimester I Trimester II

Nasi 5 porsi 5 porsi

Sayur 4 porsi 3 porsi

Buah 3 porsi 5 porsi

Tempe 3 porsi 3 porsi

Daging 3 porsi 4 porsi

Minyak 4 porsi 4 porsi

Susu 1 porsi 1 porsi

(43)

Keterangan:

1. Nasi 1 porsi = ¾ gls = 100 gram

2. Sayur 1 porsi = 1 gls = 100 gram

3. Buah 1 porsi = 1-2 bh = 50-190 gram

4. Tempe 1 porsi = 2 ptg sdg = 50 gram

5. Daging 1 porsi = 1 ptg sdg = 35 gram

6. Minyak 1 porsi = 1 sdt = 5 gram

7. Susu bubuk 1 porsi = 4sdm

Dengan mengkonsumsi makanan tersebut diperhitungan

bahwa kebutuhan gizi ibu hamil dapat tercukupi.

Dalam PUGS susunan makanan yang dianjurkan adalah

menjamin keseimbangan zat-zat gizi.Hal ini dapat dicapai dengan

mengkonsumsi beranekaragam makanan tiap hari.Tiap makanan

dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya.

Pengelompokan bahan makanan disederhanakan, yaitu didasarkan

pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu sebagai berikut:

1. Sumber zat energi/tenaga: padi-padian, tepung-tepungan,

umbi-umbian, sagu.

2. Sumber zat pengatur: sayuran dan buah-buahan.

3. Sumber zat pembangun: ikan, ayam telur, daging, susu,

kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan

oncom.

Untuk mencapai prinsip gizi seimbang hendaknya susunan

makanan sehari terdiri dari campuran ketiga kelompok bahan

makanan tersebut yang terdiri dari:

1. Bahan Makanan Pokok

(44)

Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber bahan

bakar (energi) utama bagi tubuh.Karena sebagian besar energi

berasal dari karbohidrat, maka makanan sumber karbohidrat

digolongkan sebagai makanan pokok (Kurniasih, dkk, 2010).

Kebutuhan akan energi pada trimester 1 meningkat secara

minimal. Setelah itu, sepanjang trimester 2 dan 3, kebutuhan

akan terus membesar sampai pada akhir kehamilan. Energi

tambahan selama trimester 2 diperlukan untuk pemekaran

jaringan ibu, yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan

uterus dan payudara, serta penumpukan lemak.Sepanjang

trimester 3, energi tambahan dipergunakan untuk pertumbuhan

janin dan plasenta.Pertambahan energi disebabkan oleh

peningkatan laju metabolisme basal.Selain itu, tambahan

energi juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan cadangan

protein.Pertambahan energi ini terutama diperlukan pada 20

minggu terakhir dari masa kehamilan, yaitu ketika pertumbuhan

janin berlangsung sangat pesat.

Intake energi yang cukup yaitu penambahan 55.000 kkal

selama 9 bulan kehamilan diperlukan untuk:

1. Fetus (pertumbuhan fetus dan aktivitas fisik fetus)

2. Ibu (peningkatan basal metabolisme, simpanan lemak,

pertumbuhan uterus dan payudara, volume darah

bertambah dan perubahan aktivitas)

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi.Menurut

Glade B. Curtis mengatakan bahwa tidak ada satu rekomendasi

yang mengatur berapa sebenarnya kebutuhan ideal karbohidrat

bagi ibu hamil.Namun, beberapa ahli gizi sepakat sekitar 60%

dari seluruh kalori yang dibutuhkan tubuh adalah

karbohidrat.Jadi, ibu hamil membutuhkan karbohidrat sekitar

1.500 kalori (Kristiyanasari, 2010).

(45)

frekuensi makan makanan pokok dengan risiko KEK, selain itu

wanita yang mempunyai frekuensi makan makanan pokok yang

kurang dapat berpeluang untuk mengalami risiko KEK

sebanyak 3,2 kali dibanding dengan wanita dengan frekuensi

makan makanan pokok cukup. Energi dalam tubuh manusia

dapat timbul dikarenakan adanya pembakaran karbohidrat,

protein dan lemak, dengan demikian agar selalu tercukupi

energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup

ke dalam tubuhnya.

Menurut Suhardjo di dalam Kristiyanasari (2010) dalam

prinsip-prinsip ilmu gizi, seseorang tidak dapat bekerja dengan

energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan

kecuali jika menggunakan cadangan energi dalam tubuh,

namun apabila kebiasaan menggunakan cadangan ini terus

menerus, maka akan dapat mengakibatkan keadaan kurang

gizi khususnya energi dalam tubuh.

Asupan energi pada trimester 1 diperlukan untuk

menyalurkan makanan dan pembentukan hormon, sedangkan

pada janin diperlukan untuk pembentukan organ.Asupan energi

pada trimester 2 diperlukan untuk pertumbuhan kepala, badan,

dan tulang janin. Trimester 3 juga terjadi pertumbuhan janin dan

plasenta serta cairan amnion akan berlangsung cepat selama

trimester 3 (Sulistyoningsih, 2011).

(46)

mengkonsentrasikan, mensintesis, dan transport zat gizi

menentukan suplai ke janin.

2. Bahan Makanan Lauk Pauk

Kadar zat makanan (gizi) pada setiap bahan makanan

memang tidak sama, ada yang rendah dan ada pula yang

tinggi, karena itu setiap bahan makanan akan saling

melengkapi zat makanan/gizinya yang selalu dibutuhkan tubuh

manusia guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik

serta energi yang cukup guna melaksanakan

kegiatan-kegiatannya. Zat makanan (gizi) yang diperlukan tubuh

manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau biasa

disebut dengan lauk nabati dan ada pula yang berasal dari

hewan yaitu lauk hewani.

Lauk sebaiknya terdiri dari atas campuran lauk hewani dan

nabati.Lauk hewani, seperti daging, ayam, ikan, udang dan

telur mengandung protein dengan nilai biologi lebih tinggi

daripada lauk nabati.Kacang-kacangan dalam bentuk kering

atau hasil olahannya, walaupun mengandung protein dengan

nilai biologi sedikit lebih rendah daripada lauk hewani karena

mengandung lebih sedikit asam amino esensial metionin,

merupakan sumber protein yang baik. Pengolahan

kacang-kacangan menjadi tempe, tahu, susu kedelai, dan oncom tidak

saja meningkatkan cita rasa tetapi juga meningkatkan

kecernaan dan ketersediaan zat-zat gizi bagi tubuh (Almatsier,

2011).

(47)

adalah kacang-kacangan dan hasil olahnya, terutama tempe,

tahu susu kedelai (Kurniasih, dkk, 2010).

WHO menganjurkan tambahan protein sebanyak 0,75 g/kg

berat badan bagi wanita.

Sedangkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Tahun

2004 menganjurkan tambahan protein sebesar 17 gram, baik

untuk trimester I, II maupun III (Arisman, 2010). Konsumsi

protein kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadinya:

1. Defisiensi protein selama pertumbuhan fetus

2. Pengurangan transfer protein ke fetus

3. Penurunan jumlah sel dalam jaringan ketika lahir

4. Efek serius pada otak

Hasil penelitian yang dilakukan Saraswati (2006) terhadap

ibu hamil di Sukabumi menunjukkan bahwa pola konsumsi

merupakan faktor yang berpengaruh terhadap ibu hamil KEK.

Pola konsumsi lauk hewani pada ibu hamil yaitu sebesar

27,60% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi daging dan

diatas 65% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi hati, terlihat

bahwa mereka mengkonsumsi makanan yang kurang dari

aspek kuantitas dan kualitas.

Menurut Penelitian Azma (2002) di Sukabumi, proporsi ibu

dengan pola konsumsi lauk nabati tidak sesuai mengalami

risiko 30,4% dan 9,4% ibu hamil dengan pola konsumsi lauk

nabati sesuai. Ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati tidak

sesuai mempunyai risiko untuk KEK sebesar 4,225 kali

dibanding dengan ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati

sesuai.

(48)

kurang baik, daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap

penyakit, dan lain-lain.

Proses-proses yang berlangsung di dalam tubuh

dikendalikan oleh tersedianya protein di dalam tubuh. Proses

pencernaan misalnya hanya akan berlangsung secara teratur

dengan dukungan hormon yang mencukupinya, sedangkan

hormon itu terdiri dari protein. Untuk memenuhi kebutuhan

metabolisme dan kecepatan sintesis protein, maka pangan

yang dikonsumsi harus mengandung asam amino dalam jumlah

dan kualitas yang cukup.Asam amino arginin dan taurin secara

fungsional penting dalam perkembangan janin dan bayi. Protein

yang akan dihidrolisis menjadi asam amino, diabsorpsi dan

diangkut melalui sistem portae ke hati. Asam amino masuk

sirkulasi sistemik dan didistribusikan ke seluruh tubuh.Hati

merupakan tempat sintesis protein dari asam amino. Karena

adanya penggunaan kembali asam amino maka sintesis dan

degradasi protein akan terjadi setiap hari terhadap protein yang

dikonsumsi. Pada saat hamil terjadi metabolisme asam amino

yang cukup tinggi.Peningkatan volume darah dan pertumbuhan

jaringan ibu membutuhkan sejumlah protein. Protein yang tidak

memenuhi kebutuhan secara nyata akan menurunkan

pertumbuhan janin yaitu penurunan berat badan ibu, penurunan

jumlah sel, dan berbagai perubahan biokimia. Janin menerima

asam amino dari ibu melalui plasenta dengan sistem transport

tidak aktif (difasillitasi). Konsentrasi asam amino pada janin

lebih tinggi dari pada ibu.Plasenta sangat aktif dalam

metabolisme yang berperan penting dalam metabolisme

nitrogen (Aritonang, 2010).

(49)

protein juga digunakan untuk pembentukan plasenta.Bila

asupan protein tidak mencukupi maka plasenta menjadi kurang

sempurna padahal plasenta berfungsi untuk menunjang,

memelihara, dan menyalurkan makanan bagi janin.Protein juga

diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak

dan myelin selama masa janin dan berkaitan erat dengan

kecerdasan.Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan

janin, protein juga dibutuhkan untuk persiapan persalinan.

Sebanyak 300-500 ml darah diperkirakan akan hilang pada

persalinan sehingga cadangan darah diperlukan pada periode

tersebut dan hal ini tidak terlepas dari peran plasenta

(Sulistyoningsih, 2011).

3. Bahan Makanan Sayuran

Vitamin dan mineral terutama banyak terdapat dalam sayur

dan buah, khususnya yang berwarna kuning dan hijau gelap.

Vitamin dan mineral adalah zat gizi makro yang memperlancar

proses pembuatan energi dan proses biologis lainnya yang

diperlukan untuk mempertahankan kesehatan. Oleh sebab itu

didalam tumpeng gizi seimbang, sayuran dan buah dianjurkan

dikonsumsi sesering mungkin setiap hari (Kurniasih, dkk, 2010).

Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral

yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di dalam

tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran

berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan

energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi

normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan

dalam pembentukan protein tubuh (Almatsier, 2001).

(50)

Pada penelitian Azma (2002) di Sukabumi, terlihat

prevalensi ibu hamil yang menderita risiko KEK lebih banyak

dijumpai pada ibu hamil dengan frekuensi konsumsi sayur <3

kali sehari (29,6%) dan 22,4% ibu hamil yang frekuensi

konsumsi sayur ≥3 kali sehari. Ibu hamil yang frekuensi

konsumsi sayur <3 kali sehari mempunyai risiko untuk KEK

sebesar 1,456 kali disbanding dengan frekuensi konsumsi

sayur ≥3 kali sehari. Sedangkan pada penelitian Yuliani (2002)

di Bogor, sebagian besar pola konsumsi sayuran pada ibu

hamil tidak sesuai dengan anjuran makan ibu hamil yaitu

sebesar 81,6%.

4. Bahan Makanan Buah-buahan

Buah berwarna kuning seperti mangga, papaya dan pisang

raja kaya akan provitamin A, sedangkan buah seperti jeruk,

jambu biji, dan rambutan kaya akan vitamin C. Secara

keseluruhan buah merupakan sumber vitamin A, vitamin C,

kalium dan serat. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin

dan mineral yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di

dalam tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran

berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan

energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi

normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan

dalam pembentukan protein tubuh.

Gambar

Tabel 2.1contoh pengukuran prilaku
Tabel 2.5 Tanda Kecakupan Gizi Pada Wanita Dewasa Dan Ibu Hamil
Tabel 2.6 peningkatan berat badan selama kehamilan
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pendapat dari !eblen tentang masyarakat yang mengejar status sosial dengan sedikit untuk kebahagiaan mereka sendiri. #eberapa merk dan toko dianggap sebagai 9kelas

Jumlah peserta sebanyak 19 kader, pengetahuan kader tentang gizi anak mengalami peningkatan dari rata- rata 61,8 menjadi 93,7 dan telah dilakukan monitoring kegiatan untuk

Reservoir terdiri dari komponen Wadah,komponen Isi,dan komponen Kondisi.Komponen wadah disusun oleh karakteristik batuan reservoir (sifat fisik dan sifat

Pada pengujian pola dasar wanita metode pola yang digunakan sebagai perbandingan standar ukuran Indonesia adalah metode Burgo dan Aldrich dimana kedua metode ini

Sementara itu, meskipun pada awal penelitian glukosa darah pada tikus diabetes dengan pakan tapioka normal lebih rendah (323,0 mmol/dl) dibandingkan glukosa darah pada

Pembinaan Pos Kamling di Lingkungan Kecamatan Samarinda Ulu P P P P Pembangun an Lingkungan Sosial &amp; Kemasyarak atan Kecamatan Samarinda Ulu ( Seksi Pemerintaha n umum,

muqaddamun ‘ala jalbi al-mashâlih (mencegah kerusakan itu didahulukan dari pada mendapatkan kemaslahatan). 145 Abdul Hamîd Hakîm di dalam kitab as-sullam menjelaskan mengenai

Salah satu keinginan klien HIGI tentun agar produk yang mereka iklankan menjadi nomor satu dimata para konsumer, oleh karenanya dibutuhkan lah sebuah video testimoni pada