• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Prilaku

2.5.1 Pengertian Prilaku

Prilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi, dan tujuan baik disadari maupun tidak.Prilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi.Sering tidak disadari bahwa berinteraksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan prilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik prilaku individu, sebelum ia mampu mengubah prilaku tersebut (A. Wawan dan Dewi M, 2010).

Menurut suryani dalam machfoedz adalah aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungan dengan lingkungannya. Dengan kata lain, prilaku baru terjadi apabila sesuatu rangsangan yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi. Jadi, suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi berupa prilaku tertentu.

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan sangat luas anatara lain, berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

2.5.2 Konsep Prilaku

Sebelum kita membicarakan tentang prilaku, terlebih dahulu akan dibuat batasan tentang prilaku itu sendiri.

Prilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.Jadi prilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.Oleh sebab itu, prilaku manusia itu mempunyai bentangan yang cukup luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya.Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berfikir, persepsi, dan emosi juga merupakan prilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisa dapat dikatakan bahwa prilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.

Prilaku dan gejala prilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan

lingkungan ini merupakan penentu dari prilaku makhluk hidup termasuk prilaku manusia.

Menurut (Skinner, 1938 dalam A. Wawan dan Dewi, 2010) ada dua respon yang dikenal yaitu :

a. Respondent responds atau reflexise respons, yaitu respon yang dihasilkan oleh stimulus tertentu. Stimulus seperti ini disebut elicting stimulation karena stimulus ini menimbulkan respon-respon yang tetap.

b. Operant respons atau instrumental respons, yaitu timbulnya respon diikuti oleh stimulasi atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce. Reinforce artinya penguat, hal ini dikarenakan perangsang itu memperkuat respon.

Menurut WHO ada empat alasan pokok yang menyebabkan

seseorang berperilaku tertentu, yakni:

1. Pemahaman dan pertimbangandalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadapobjek (objek kesehatan).

a. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

b. Kepercayaan sering atau orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tannpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pun dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu pada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.

2. Orang penting sebagai referensi

Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang dia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

3. Sumber-sumber daya

4. Kebudayaan, kebiasaan, nilai-nilai dan tradisi

Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia.

2.5.3 Prosedur Pembentukan Prilaku

Seperti telah disebutkan diatas, sebagian besar prilaku manusia adalah operant respons atau prilaku ini perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :

1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforce berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi prilaku yangakan dibentuk.

2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk prilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya prilaku yang dimaksud.

3. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.

4. Melakukan pembentukan prilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau prilaku (tindakan) tersebut cenderung sering dilakukan. Didalam kenyataannya prosedur ini banyak dan bervariasi sekali dan lebih kompleks dari contoh tersebut diatas. Teori Skinner ini sangat besar pengaruhya terutama di Amerika Serikat. Konsep-konsep behavior control, behavior theraphy, dan behavior modification yang dewasa ini berkembang adalah sumber pada teori ini. ( A.Wawan dan Dewi M, 2010).

Bentuk perubahan perilaku menurut WHO yang disadur oleh Notoatmodjo (2010) meliputi :

1. Perubahan Alamiah(Natural Change)

Bentuk perubahan perilaku yang terjadi karena perubahan alamiah tanpa pengaruh faktor- faktor lain. Apabila dalam masyarakat

sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial, budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya yang akan mengalami perubahan.

2. Perubahan Rencana (Planned Change)

Bentuk perubahan perilaku yang terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subyek.

3. Kesediaan Untuk Berubah (Readiness to Change)

Setiap orang di dalam masyarakat mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda meskipun kondisinya sama. Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, namun sebagian lagi sangat lamban.

2.5.4 Bentuk Prilaku

Secara lebih operasional prilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perlu dapat dibedakan menjadi dua macam :

1. Bentuk pasif (respon internal)adalah terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat orang lain. Misalnya berpikir, tanggapan, atau sikap batin, dan pengetahuan. Oleh sebab itu prilakunya masih terselubung atau tertutup(covert behavior).

2. Bentuk aktif yaitu apabila prilaku tersebut jelas dan dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena itu prilaku mereka sudah tampak dalam tindakan nyata (overt behavior).

Prilaku manusia sebagian besar adalah prilaku yang dibentuk , atau prilaku yang dipelajari. Tiga cara membentuk prilaku agar sesuai dengan yang diharapkan :

a. Pembentukan prilaku dengan kebiasaan (conditioning)

Cara pembentukan prilakunya dengan membiasakan diri untuk berprilaku seperti yang diharapkan, akan terbentuk prilaku tersebut.

b. Pembentukan prilaku dengan pengertian (insight)cara pembentukan prilaku didasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian.

c. Pembentukan prilaku dengan menggunakan model. Cara ini didasarkan atas teori belajar social (Social Learning Theory) atau Observational Learning Theory.

2.5.5 Pengukuran Prilaku

Tabel 2.1contoh pengukuran prilaku

Klasifikasi Kategori prilaku Minum Jahe Ya

Tidak Minum jahe Tidak

Sumber : A. Wawan dan Dewi M, 2010

2.5.6 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prilaku

Menurut Lawrence Green (1960) dalam Notoadmodjo (2010) bahwa prilaku manusia dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu sebagai berikut : a. Faktor Predisposisi (predisposing factor). Prilaku individu bisa

dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, tingkat pendidikan, kepercayaan, social ekonomi, tradisi dan sistem nilai yang ada didalam masyarakat. Sebagai contoh jika seorang individu menerima suatu nilai tertentu dari suatu objek, dia dapat menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Begitu pula faktor tradisi di masyarakat, individu yang selalu hidup dalam suasana tradisional akan sulit untuk membuka diri terhadap gagasan dan teknik-teknik baru guna meningkatkan kemampuannya dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan kesehatan.

b. Faktor pemungkin (enabling factor) merupakan faktor pendukung individu untuk dapat meningkatkan prilaku positif misalnya buku-buku, brosur-brosur tentang suatu masalah kesehatan. Selain itu faktor pendukung lainnya adalah fasilitas sarana kesehatan. Sarana kesehatan merupakan faktor yang memungkinkan terwujudnya prilaku hidup sehat. Sarana kesehatan merupakan akses seseorang untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatannya.

c. Faktor penguat (Reinforcing Factor). merupakan faktor penguat bagi individu untuk berprilaku sehat. Untuk berprilaku sehat individu perlu dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan dalam memberikan pesan-pesan kesehatan dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan status kesehatannya.

Komponen sikap terdiri atas 3 bagian yang saling menunjang

yaitu:

a. Komponen Kognitif

Merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu

pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotipe yang dimiliki individu menegnai sesuatu dapat

disamakan penanganan (opini) terutama apabila,

menyangkut masalah suatu problem yang kontroversial.

b. Kompenen Afektif

Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional ini yang biasanya berakar paling dalan sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

c. Komponen Konatif

Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.Dan berkaitan dengan obyek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.

Dalam dokumen PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH (Halaman 29-35)

Dokumen terkait