• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM DESA SUKATANI

6.1 Pola Konsumsi Rumahtangga Petani

Rumahtangga dengan sejumlah pendapatan yang dimiliki akan menyiapkan sejumlah pilihan untuk menghabiskan pendapatan yang dimilikinya. Pendapatan yang ada siap dibelanjakan untuk membeli kebutuhan- kebutuhan pangan dan non pangan atau tidak dibelanjakan dengan kata lain disimpan atau ditabung. Besarnya bagian dari pendapatan yang dibelanjakan sangat beragam tergantung dari besar pendapatan yang dimilikinya.

Kondisi rumahtangga di desa penelitian menunjukkan keadaan bahwa sangat kecil kemampuan yang dimiliki oleh rumahtangga untuk menabung. Hampir sebagian besar bahkan seluruh pendapatan yang dimilikinya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya. kebutuhan-kebutuhan pangan dan non pangan sangat beragam macamnya. Karakteristik rumahtangga juga akan sangat berpengaruh di dalam mengalokasikan untuk masing-masing kelompok pengeluaran konsumsi.

Pola konsumsi merupakan susunan beragam dari berbagai macam jenis pengeluaran barang-barang yang dikonsumsi oleh suatu rumahtangga. Jenis- jenis konsumsi di dalam penelitian ini seperti yang disebutkan, terbagi atas konsumsi makanan/ pangan dan konsumsi non pangan/ non makanan. Dimana konsumsi makanan terdiri dari kelompok padi-padian, umbi-umbian,lauk pauk seperti ikan, daging, telur, susu, tahu, tempe, sayur-sayuran, buah-buahan, minyak goreng, bahan minuman seperti kopi, teh, gula pasir, bumbu-bumbu, tembakau atau rokok. Sedangkan konsumsi unuk barang bukan pangan, terdiri dari perumahan

38

dan fasilitas rumahtangga, pendidikan, pakaian, pesta, kesehatan, rekreasi, keperluan pesta, upacara, pajak dan iuran.

Tabel 11. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Petani Berdasarkan Luas Lahan Petani Responden Desa Sukatani Pacet Tahun 2008

<0.25 n = 41 ≥ 0.25 n = 19 Total n = 60 No Jenis Pengeluaran Nilai (Rp) (000) % Nilai (Rp) (000) % Nilai (Rp) (000) % 1 Padi-padian,umbian 2642 23,4 4548 13,8 3228 18,0 2 Lauk pauk,sayur&buah 1453 12,9 3898 11,8 2215 12,3 3 Bahan minuman(gula,teh,kopi), makanan jadi 924 8,2 3277 10,0 1646 9,2

4 Minyak goreng, Bumbu-bumbuan 765 6,8 1611 4,9 1019 5,7

5 Tembakau/rokok 1283 11,4 3124 9,5 1842 10,3 Total Pengeluaran Pangan 7069 62,6 16459 49,9 9951 55,5 6 Perumahan&fasilitas rumahtangga 1437 12,7 5798 17,6 2793 15,6 7 Pendidikan 1419 12,6 5076 15,4 2560 14,3 8 Pakaian 418 3,7 1542 4,7 761 4,2 9 Pesta 295 2,6 1636 5,0 698 3,9 10 Kesehatan 408 3,6 1272 3,9 675 3,8 11 Rekreasi,pajak& iuran 237 2,1 1133 3,4 500 2,8

Total Pengeluaran Non Pangan 4217 37,4 16460 50,1 7990 44,5

Total Pengeluaran 11287 100,0 32919 100,0 17942 100,0

Sumber : Data Primer 2008 (diolah)

Dari Tabel 11 terlihat adanya perbedaan alokasi antara rumahtangga golongan petani strata II dan golongan petani strata I. Perbedaan-perbedaan yang ada diantara keduanya tidak terlalu besar, namun angka-angka dari Tabel 11 menggambarkan bahwa hukum Engel berlaku didalamnya. Di dalam hukumnya Engel menyebutkan, bahwa semakin besar pendapatan yang dimiliki oleh seseorang atau rumahtangga maka bagian yang dialokasikan untuk pengeluaran pangannya akan semakin berkurang.

Tabel 11 menunjukkan besarnya pengeluaran pangan rata-rata rumahtangga petani responden secara keseluruhan adalah 55,5 persen dan untuk pengeluaran non pangan sebesar 44,5 persen. Dapat dikatakan pada umumnya para rumahtangga petani di Desa Sukatani mengeluarkan konsumsi untuk pangan, dan ini pun menunjukkan pendapatan petani belum meningkat dan kehidupan rumahtangga petani wortel rata-rata belum sejahtera. Seperti yang dikemukakan oleh Engel, nampak pada tabel pengeluaran pangan rumahtangga petani strata I lebih besar dibandingkan rumahtangga petani strata II. Pengeluaran pangan rumahtangga petani strata II sebesar 49,1 persen dan pengeluaran non pangan sebesar 50,1 persen sedangkan untuk rumahtangga petani strata I pengeluaran pangannya sebesar 62,6 persen dan untuk pengeluaran non pangan sebesar 37,4 persen.

Untuk rumahtangga petani strata I sulit untuk mengalokasikan anggaran belanjanya, yang lebih diutamakan adalah pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan yang paling vital yaitu pangan atau makanan. Untuk rumahtangga petani strata II mulai mengurangi porsi pengeluaran pangannya dan memperbesar porsi pengeluaran non pangannya. Adapun konsumsi pangan untuk rumahtangga petani strata II dalam alokasi konsumsi pangannya lebih beragam untuk konsumsi yang lainnya.

Komponen pengeluaran pangan terbesar seluruh rumahtangga petani responden di Desa Sukatani adalah untuk beras atau padi-padian, umbi-umbian yaitu sebesar 18 persen dari total konsumsi pengeluaran rumahtangga. Perumahan dan fasilitas rumahtangga berada diurutan posisi kedua dalam alokasi pengeluaran konsumsi rumahtangga yaitu sebesar 15,6 persen dari total

40

rumahtangga petani responden secara keseluruhan, ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran terbesar selain untuk konsumsi beras adalah untuk perbaikan rumah, bahan bakar, pembayaran listrik dan fasilitas rumah lainnya. Rumahtangga petani di Desa Sukatani ini rata-rata memperbaiki rumahnya bila kebutuhan panmgannya terpenuhi selain itu penggunaan bahan bakar setiap hari dikonsumsi untuk memasak, transportasi dan sebagainya.

Rata-rata persentase konsumsi tembakau atau rokok terlihat cukup besar pada rumahtangga petani responden secara keseluruhan yaitu sebesar 10,3 persen. Hal ini disebabkan karena sebagian besar petani mempunyai kebiasaan merokok yang sulit untuk dihilangkan. Hampir semua rumahtangga petani mengalokasikan pendapatannya untuk mengkonsumsi tembakau atau rokok.

Pengeluaran konsumsi terkecil seluruh responden adalah rekreasi, pajak dan iuran. Ini dapat terlihat dari jumlah proporsi pengeluarannya sebesar 2,8 persen. Kebanyakan rumahtangga petani jarang melakukan rekreasi atau mengeluarkan biaya hiburan dan transportasi yang besar untuk mengunjungi keluarganya yang lain karena keluarga mereka masih dalam satu desa, sedangkan untuk hiburan serta refreshing mereka lebih menikmati alam yang ada disekitar lingkungan mereka.

Konsumsi padi-padian, umbian merupakan konsumsi yang paling besar

untuk rumahtangga petani strata I yaitu sebesar 23,4 persen. Tingginya tingkat persentase rumahtangga petani strata I yang mengalokasikan pendapatannya untuk konsumsi atau pengeluaran padi-padian, umbian ini disebabkan karena hampir sbagian besar rumahtangga petani strata I yang berpendapatan rendah akan mengutamakan mengkonsumsi padi-padian, umbian untuk dapat meneruskan

hidupnya, memiliki energi untuk bekerja, berpikir dan lain-lain. Sedangkan untuk rumahtangga petani strata II konsumsi padi-padian, umbian berada pada posisi urutan ketiga yaitu sebesar 13,8 persen. Hal ini disebabkan pendapatan rumahtangga petani strata II yang lebih besar sehingga mereka mampu mengalokasikan pendapatannya selain untuk mengkonsumsi padi-padian, umbi-umbian.

Konsumsi perumahan dan fasilitas rumahtangga merupakan konsumsi yang terbesar bagi rumahtangga petani strata II, ini dapat dilihat dari persentase dari total konsumsi rumahtangga yaitu sebesar 17,6 persen. Untuk pengeluaran perumahan dan fasilitas rumahtangga ini, bagian yang terbesar adalah biaya perbaikan rumah karena rumahtangga petani strata II selalu mengalokasikan pendapatannya yang berlebih untuk perbaikan rumah. Sedangkan rumahtangga petani strata I konsumsi perumahan dan fasilitas rumahtangganya lebih kecil dibandingkan petani strata II yaitu sebesar 12,7 persen dari total konsumsi rumahtangga, walaupun konsumsi ini juga menjadi urutan ketiga dari total konsumsi rumahtangga petani strata I dan cukup besar persentase dari total pengeluarannya tetapi bagian yang terbesar untuk pengeluaran perumahan dan fasilitas rumahtangga adalah biaya bahan bakar yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari rumahtangga tersebut, dimana alokasi pengeluaran perumahan dan fasilitas rumahtangga tentunya berbeda dengan rumahtangga petani strata II.

Tidak semua rumahtangga petani responden mengeluarkan biaya untuk pendidikan, rumahtangga yang mengeluarkan biaya pendidikan adalah mereka yang memiliki anak di bangku sekolah. Jika melihat pada Tabel 11 rumahtangga

42

petani strata II persentase konsumsi atau pengeluaran lebih banyak mengeluarkan biaya untuk pendidikan hal ini ditunjukkan oleh persentasenya sebesar 15,4 persen dan untuk rumahtangga petani strata I sebesar 12,6 persen. Banyaknya konsumsi pendidikan untuk rumahtangga petani strata II adalah adanya kemampuan rumahtangga tersebut untuk membeli perlengkapan sekolah dengan harga yang cukup tinggi. Sedangkan rumahtangga petani strata I tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dengan harga yang mahal. Walaupun biaya sekolah atau SPP di sekolah bebas dari biaya atau gratis, tetap saja konsumsi atau pengeluaran pendidikan masih cukup tinggi karena selain biaya SPP anak sekolah, biaya uang saku, transpor anak, buku-buku pelajaran, alat-alat tulis, seragam, dan perlengkapan sekolah juga merupakan biaya pendidikan yang termasuk pengeluaran pendidikan.

Konsumsi tembakau atau rokok yang terlihat dalam Tabel 11 terlihat cukup menonjol dalam konsumsi rumahtangga petani khususnya konsumsi pangan. Pada rumahtangga petani strata I konsumsi tembakau atau rokoknya mencapai 11,4 persen dari total konsumsi rumahtangga. Sedangkan rumahtangga petani strata II sebesar 9,5 persen dari persentase total pengeluaran konsumsi rumahtangga. Hal ini terlihat ironis, karena rata-rata petani mengkonsumsi tembakau atau rokok setiap harinya sehingga alokasi pendapatan untuk konsumsi atau pengeluaran rokok menjadi lebih besar.

Untuk konsumsi pakaian dan pesta pada rumahtangga petani strata II adalah sebesar 4,7 persen dan 5,0 persen. Dimana untuk rumahtangga petani strata I pun tidak berbeda jauh yaitu sebesar 4,2 persen dan 3,9 persen. Dalam mengkonsumsi keperluan pesta, selamatan ataupun acara-acara tahunan di desa

bagi rumahtangga petani strata II rata-rata mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Sedangkan untuk rumahtangga petani strata I masih terdapat rumahtangga petani yang tidak mengeluarkan biaya untuk keperluan tersebut dikarenakan pendapatannya yang kurang, walaupun rata-rata rumahtangga di Desa Sukatani ini memiliki tradisi dalam mengalokasikan biaya pengeluarannya untuk keperluan acara tahunan yaitu Maulud Nabi dan Isra Miraj.

Secara keseluruhan besarnya konsumsi kesehatan rumahtangga petani masih tergolong kecil, itu dapat dilihat dari persentase konsumsi rumahtangganya. Untuk rumahtangga petani strata II sebesar 3,9 persen dan rumahtangga petani strata I sebesar 3,8 persen. Persentase pengeluaran paling sedikit pada kedua rumahtangga adalah rekreasi, pajak dan iuran yaitu sebesar 2,1 persen untuk rumahtangga petani strata I dan 3,4 persen untuk rumahtangga petani strata II. Seperti yang dijelaskan diatas, baik untuk rumahtangga petani strata II maupun rumahtangga petani strata I jarang melakukan rekreasi atau mengeluarkan biaya hiburan dan transportasi yang besar untuk mengunjungi keluarganya yang lain, karena keluarga mereka masih dalam satu desa dan untuk hiburan serta refreshing mereka lebih menikmati alam yang ada disekitar lingkungan mereka. Adapun pajak dan iuran nilainya tidak terlalu besar dalam pengeluaran satu tahunnya.

6.2 Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi

Dokumen terkait