BAB 3. METODE PENELITIAN
5.1. Pola Makan (Konsumsi Energi, Protein, Vitamin C dan Fe)
tinggal di asrama makanan mereka juga disediakan oleh pengurus asrama. Cara makan mereka dilakukan secara prasmanan (bebas mengambil sendiri makanan), kecuali jenis lauk hewani yang ditakar sepotong seorang.
Konsumsi bahan makanan dari jenis lauk pauk hewani masih belum bervariasi dari segi jenis dan frekwensinya, walaupun sudah ada menu 10 hari yang telah disusun, tapi dalam pelaksanaan tergantung dari dana yang tersedia. Menurut beberapa siswi yang dilakukan wawancara mereka sering merasa bosan dengan menu yang disediakan sehingga mereka sering tidak makan tapi hanya makan buah dan jajan. Sedangkan lauk-pauk nabati seperti tahu dan tempe tidak semua menyukainya. Ini disebabkan karena selain mereka tidak terbiasa mengonsumsi juga karena mereka merasa bosan, sebab setiap hari jenis tahu dan tempe selalu ada dimeja makan.
Sementara itu jenis bahan makanan sayuran juga sangat sedikit yang mengonsumsinya setiap hari. Ini disebabkan karena mereka juga tidak terbiasa makan sayur. Sayuran yang sering disediakan adalah sayur wertel, rebusan bayam dan daun ubi. Ini disebabkan karena selain murah dan cara masaknya lebih cepat.
Remaja putri pada saat makan sangat dipengaruhi teman-teman sekamarnya atau teman dekatnya. Bila ada salah satu yang tidak mau makan maka, teman yang
lain juga tidak makan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Proverawati (2010), Pengaruh kelompok bagi remaja sangat kuat, bahkan lebih kuat dari dari pengaruh keluarga.
5.1.1. Konsumsi Energi
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa siswi atlet yang jumlah konsumsi energinya baik yang mengalami anemia sebanyak 35,0% dan yang jumlah konsumsi energinya tidak baik yang mengalami anemia sebanyak 54,5%. Kejadian anemia pada remaja putri dengan tingkat konsumsi energi tidak baik hampir berimbang dengan mereka yang memiliki tingkat konsumsi energi baik. Hasil uji Chi- square menunjukkan tidak ada hubungan tingkat konsumsi energi terhadap terjadinya anemia.
Hal ini disebabkan karena pada saat makan, makanan dalam hal ini nasi tidak ditentukan porsinya. Siswi bebas untuk menggambil sendiri nasi seberapa yang diinginkan, selain itu remaja putri mempunyai kebiasan jajan makanan yang manis- manis dan jenis karbohidrat seperti coklat, beng-beng, siomai dan bakso.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sovia (2005) terhadap remaja putri di Kecamatan Ngrambe Kebupaten Ngawi yang didapatkan tidak ada hubungan antara konsumsi energi dengan kejadian anemia. Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan Basuki (1996), terhadap remaja putri SMU di Kabupaten Bandung dimana didapatkan ada hubungan antara tingkat konsumsi energi terhadap terjadinya anemia. Begitu juga penelitian yang di lakukan oleh Farida (2006), yang melihat determinan kejadian anemia pada remaja putri di Kecamatan
Gebog Kabupaten Kudus dimana ada hubungan antara konsumsi energi dengan kejadian anemia.
Sementara masih adanya tingkat konsumsi energi kurang dan defisit yang disebabkan karena ketidakseimbangan antara konsumsi makanan dengan kecukupan energi dibutuhkan dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari, dimana jumlah energi yang dikonsumsi kurang dari kebutuhan. Jika hal ini berkelanjutan akan mengakibatkan gangguan pada proses pertumbuhan dan perkembangan remaja.
Secara teori bila terjadi kekurangan salah satu zat gizi sering diikuti oleh kekurangan zat gizi lainnya termasuk Fe. Ini dikarenakan penyerapan dan metabolisme zat gizi saling terkait satu dengan yang lainnya.
5.1.2. Konsumsi Protein
Protein merupakan zat gizi yang sangat penting, karena yang sangat erat hubungannya dengan proses kehidupan. Protein berfungsi sebagai zat pembangun dalam pertumbuhan dan memelihara jaringan juga dapat menggantikan sel-sel yang mati. Sumber protein yang berkualitas tinggi dapat berasal dari daging, susu, telur dan ikan.
Berdasarkan hasil penelitian ini masih didapatkan siswi yang konsumsi protein defisit dan mengalami anemia. Siswi dengan konsumsi protein baik yang mengalami anemia sebanyak 35,3% dan yang konsumsinya tidak baik yang mengalami anemia sebanyak 50,0%. Kejadian anemia pada remaja putri yang tingkat konsumsi protein baik hampir berimbang dengan remaja putri dengan tingkat konsumsi protein yang tidak baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,409
(p > 0,05) artinya tidak ada hubungan tingkat konsumsi protein terhadap terjadinya anemia.
Hal ini karena jenis protein hewani yang disediakan disukai oleh siswi. Masyarakat Aceh mempunyai kebiasaan suka mengonsumsi ikan, mungkin karena letak geografis alam di Aceh yang dikelilingi oleh laut. Jadi walaupun mereka tidak makan nasi tapi mereka suka mengambil ikan untuk dimakan di asrama. Selain itu porsi lauk hewani dan nabati yang diberikan sesuai dengan porsi, bahkan berlebih, misalnya untuk ikan atau daging perporsi 50-75 gr porsi, sedangkan untuk remaja dianjurkan 50 gr per porsi. Begitu juga untuk jenis tahu atau tempe, mereka bebas untuk mengambil sesuka mereka. Bagi siswi yang suka tahu atau tempe mereka bisa memakannya lebih dari yang seharusnya, misalnya tempe yang disediakan 25 gr per potong. Seharusnya porsi 50 gr perporsi sekali makan tapi bagi yang suka bisa menghabiskan 3 potong, jadi 75 gr sekali makan. Namun bagi yang tidak suka sepotong pun tidak dimakan.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sovia (2005), terhadap remaja putri di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi yang didapatkan tidak ada hubungan konsumsi protein terhadap terjadinya anemia. Namun demikian penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Lestari (1996), Adraini (2002), penelitian Farida (2006) yang melakukan penelitian terhadap remaja putri di Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus yang membuktikan ada hubungan antara konsumsi protein dengan terjadinya anemia.
Walau tingkat konsumsi protein remaja putri rata-rata sudah baik, tetapi ada sebagian yang masih defisit, dan ini harus diperbaiki tingkat konsumsinya. Tingkat konsumsi protein perlu diperhatikan karena semakin rendah tingkat konsumsi protein maka semakin cenderung untuk menderita anemia (Linder, 1992). Protein berfungsi dalam pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh. Hemoglobin, pigmen darah yang berwarna merah dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbon dioksida adalah ikatan protein. Protein juga berperan dalam proses pengangkutan zat-zat termasuk besi dari saluran cerna kedalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan dan melalui membran sel kedalam sel-sel. Sehingga apabila kekurangan protein akan menyebabkan gangguan pada absorbsi dan transportasi zat-zat gizi (Almatsier, 2004).
Transportasi zat besi dimukosa sel dan didalam darah sangat membutuhkan mekanisme protein yang spesifik sebagai carrier. Protein ini disebut transferrin yang disintesa di hati. Transferrin akan membawa zat besi dalam darah yang akan digunakan pada sintesa haemoglobin (Mahan, 1992).
5.1.3. Konsumsi Vitamin C
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa siswi atlet yang konsumsi vitamin C-nya katagori baik, yang mengalami anemia 22,2% dan yang konsumsinya vitamin C tidak baik, yang mengalami anemia 69,2%. Kejadian anemia pada remaja putri yang konsumsi vitamin C yang tidak baik lebih besar dibanding pada remaja putri yang konsumsi vitamin C yang baik. Berdasarkan uji Chi-Square didapatkan bahwa p = 0,009 (< 0,05) artinya bahwa ada hubungan antara konsumsi vitamin C dengan terjadinya anemia.
Dari hasil tabulasi silang terlihat bahwa, semakin baik konsumsi vitamin C maka semakin tidak anemia. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi vitamin C yang membantu penyerapan Fe, sehingga Fe yang terdapat dalam bahan makanan bisa meningkat penyerapannya. Untuk itu agar vitamin C yang terdapat dalam buah dapat dikonsumsi oleh siswi, diharapkan jenis buah-buahan yang disajikan untuk lebih bervariasi lagi, sehingga tidak timbul kebosanan.
Berdasarkan hasil wawancara, pada umumnya siswi tidak makan buah karena buah yang disediakan kurang bervariasi sehingga mereka suka bosan bahkan tidak memakannya. Buah yang sering disediakan antara lain seperti pisang, pepaya dan jeruk. Sebagian dari siswi suka membawa buah-buahan dari luar asrama, itupun hanya hari minggu. Karena hanya hari minggu mereka bisa keluar dari asrama. Karena itulah maka konsumsi buah sangat kurang pada siswi di asrama.
Ada beberapa penelitian yang menguatkan penelitian ini, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Adriani (2002), terhadap remaja putri pada Pondok Pasantren Tahsinul Akhlak Bahrul Ulum di Surabaya yang menyatakan ada hubungan tingkat konsumsi vitamin C dengan anemia gizi. Diperkuat juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Farida (2006), Hayatinur (2001) yang juga mendapatkan bahwa ada hubungan antara konsumsi vitamin C dengan kejadian anemia. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (1996) didapatkan bahwa vitamin C merupakan faktor yang paling berhubungan terhadap terjadinya anemia di banding faktor-faktor yang lain.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sovia (2005), terhadap remaja putri di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi yang menyatakan tidak ada hubungan antara konsumsi vitamin C dengan anemia.
Peran vitamin C adalah membantu penyerapan dan pengangkutan besi didalam usus (Husaini dan Karyadi,1978). Vitamin C mempunyai banyak fungsi didalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Dalam absorpsi dan metabolisme besi, vitamin C mereduksi besi feri menjadi fero dalam usus halus sehingga mudah diabsorpsi. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. Absorpsi besi dalam bentuk non heme meningkat empat kali lipat bila ada vitamin C. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke feritin hati. Kekurangan vitamin C dapat menghambat proses absorpsi besi sehingga lebih mudah terjadi anemia (Almatsier,2004).
5.1.4. Konsumsi Fe
Pada penelitian ini diperoleh bahwa responden dengan jumlah konsumsi Fe yang baik yang mengalami anemia 11,1% dan yang konsumsi Fe tidak baik yang mengalami anemia sebesar 84,6%. Kejadian anemia pada remaja putri lebih besar pada tingkat konsumsi Fe yang tidak baik dibanding dengan remaja putri yang konsumsi Fe baik. Hal ini disebabkan remaja putri kurang suka mengonsumsi sayuran tetapi lebih suka mengonsumsi ikan sebagai lauk. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) artinya ada hubungan konsumsi Fe terhadap terjadinya anemia.
Menurut WHO (2001), menyatakan batasan kriteria anemia > 40% dinyatakan berat. Hasil penelitian yang dilakukan pada remaja putri yang atlet pada SMA 9 didapatkan 41,9% mengalami anemia dan sudah termasuk dalam katagori berat. Hal ini disebabkan karena jumlah Fe yang dikonsumsi remaja putri tidak sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil recall yang dilakukan didapatkan bahwa, pada kelompok umur 13-15 tahun 57,1% mempunyai tingkat konsumsi katagori tidak baik, begitu juga pada kelompok umur 16-18 tahun 37,5% mempunyai tingkat konsumsi Fe katagori tidak baik.
Hasil tabulasi silang antara konsumsi Fe dengan anemia terlihat bahwa semakin baik konsumsi Fe, maka semakin tidak anemia. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi Fe yang baik sangat berperan dalam status anemia pada remaja putri. Untuk meningkatkan konsumsi Fe diharapkan bagi siswi yang kurang suka mengonsumsi sayuran dianjurkan untuk mengonsumsi tablet tambah darah. Agar Fe yang terdapat dalam sayuran dapat dikonsumsi siswi diharapkan sayuran yang disajikan lebih bervariasi baik jenis maupun frekuensinya agar tidak terjadi kebosanan.
Dari hasil wawancara dengan responden didapatkan bahwa mereka kurang suka makan sayuran. Ini diasumsikan mereka memang tidak terbiasa makan sayur, walaupun ada jumlah yang dimakan hanya sekedarnya, misal hanya satu sampai dua sendok makan. Mereka terbiasa makan hanya pakai ikan atau daging dan itu sudah cukup bagi mereka. Pola makan remaja dimiliki melalui proses yang menghasilkan kebiasaan makan sejak dini sampai dewasa dan akan berlangsung selama hidupnya,
hingga kebiasaan makan dan susunan hidangan masih bertahan sampai ada pengaruh dari luar yang dapat merubahnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hayatinur (2001), pada siswi SMUN 2 Kuningan juga menunjukkan ada hubungan antara tingkat konsumsi Fe dengan kejadian anemia. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Lestari (1996), Bhargava, et al. (2000), Adriani (2002), Sovia (2005) dan Farida (2006).
Besi merupakan micro elemen yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia dan hewan yaitu sebanyak 3-5 gr di dalam tubuh manusia. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial dalam tubuh yaitu sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di dalan sel, dan sebagai reaksi enzim didalam jaringan tubuh (Indra, 2011). Menurut Depkes (1998), masalah anemia gizi yang disebabkan kekurangan besi masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Anemia kekurangan besi terjadi karena pola konsumsi makanan masyarakat Indonesia masih didominasi sayuran sebagai sumber besi yang sulit diserap, sedangkan daging dan bahan pangan hewani sebagai sumber besi yang baik dikonsumsi dalam jumlah yang kurang.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan terjadinya anemia karena pembentukan sel-sel darah merah dan fungsi lain dalam tubuh terganggu. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya anemia maka perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan tubuh dengan masukan zat besi yang berasal dari makanan. Tetapi menu makanan yang banyak mengandung zat besi belum menjamin ketersediaan zat besi yang memadai karena jumlah zat besi yang diabsorbsi sangat dipengaruhi oleh jenis
makanan sumber zat besi dan ada atau tidaknya zat penghambat maupun peningkat absorbsi besi dalam makanan (Muhilal, 1993).
Dengan kurangnya zat besi yang dapat dipenuhi dari asupan makanan karena kebiasaan makan/minum yang kurang baik (banyak mengonsumsi zat penghambat dan kurang mengonsumsi zat peningkat absorbsi besi). Sementara kebutuhan zat besi yang cukup tinggi terutama remaja putri, bila hal ini berlangsung terus maka keseimbangan zat besi dalam tubuh akan terganggu yang pada akhirnya dapat memberikan dampak negatif yaitu terjadinya anemia gizi besi.
Kebiasaan yang sering dilakukan di asrama putri adalah sarapan pagi bersamaan dengan teh. Walaupun ada disediakan susu, namun hanya sebagian kecil dari siswi yang meminumnya. Kebiasaan minum teh memiliki pengaruh terhadap absorpsi besi. Linder (1992) menyatakan bahwa tanin yang terdapat dalam teh dan daun-daun sayuran tertentu dapat menurunkan absorpsi besi. Penyerapan zat besi oleh teh dapat menyebabkan banyaknya besi yang diserap turun hingga 2%, sedangkan penyerapan besi tanpa penghambatan teh sekitar 12% (Muhilal, 1998).
Menurut Indra (2011), atlet mendapatkan perhatian khusus mengenai status zat besi, karena besi pembawa oksigen dan fungsi enzim oksidatif yang merupakan faktor kritis dalam ketahanan fisik. Kekurangan zat besi merupakan salah satu kekurangan zat gizi yang umum terjadi dan dapat pula terjadi pada atlet. Penyebab kekurangan zat besi pada atlet antara lain: asupan makanan yang lebih difokuskan pada karbohidrat serta mengurangi daging-dagingan dan sport anemia yang sering terjadi pada atlet karena latihan yang berat sehingga dapat merusak sel darah merah.
Menurut Husaini dan Karyadi (1980), kadar Hb darah umumnya berhubungan dengan konsumsi protein, Fe dan vitamin C. Tetapi yang paling berpengaruh adalah Fe, sebab Fe merupakan faktor utama pembentuk hemoglobin (Hb). Sedangkan peran vitamin C dan protein adalah membantu penyerapan dan pengangkutan besi di dalam usus.
Cara untuk meningkatkan kualitas makanan untuk mencegah anemia diantaranya adalah memperbanyak konsumsi zat besi, dengan cara menghidangkan lebih banyak daging, hati, ikan dan bahan makanan hewani lainnya, kemudian perbanyak konsumsi bahan makanan yang kaya vitamin C, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, karena vitamin C, seperti sayuran dan buah-buahan. Vitamin C dapat meningkatkan ketersediaan zat besi yang lebih mudah diabsorpsi serta kurangi konsumsi bahan makanan yang mengandung zat inhibitor seperti teh. Perubahan menu makanan terutama konsumsi bahan makanan hewani misalnya daging dan hati jelas berkorelasi dengan masalah ekonomi. Selain itu perubahan kebiasaan makan juga memerlukan waktu yang cukup lama. Kebiasaan makan yang tertanam sejak kecil umumnya terbawa sampai dewasa, tetapi bukan berarti tidak dapat diperbaiki dan perubahan ini memerlukan waktu yang relatif lama.
5.2. Aktivitas Fisik
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jenis aktivitas berat yang dilakukan siswi atlet adalah latihan olahraga. Sebagian besar siswi atlet (35,5%) adalah atlet angkat besi. Bila di lihat dari tingkat anemia terbesar adalah pada tingkat
olahraga pencak silat yaitu 83,3% sedangkan yang terendah (25%) pada pada cabang olahraga karate dan bulu tangkis. Hal ini disebabkan karena waktu latihan yang mereka lakukan tidak sama. Pada olahraga angkat besi latihan yang dilakukan hanya antara ½ - 1 jam, sedangkan waktu latihan yang lain digunakan untuk pemanasan saja. Beda dengan olahraga pencak silat, mereka mulai dari waktu pertama latihan langsung melakukan olahraga pencak silat. Jadi kalori yang keluar pada olahraga pencak silat lebih besar dari olahraga angkat besi
Jumlah siswi atlet yang mempunyai aktivitas ringan ada 12,2 % yang mengalami anemia. Sedangkan yang aktivitasnya berat ada 50% yang mengalami anemia Namun demikian dari hasil uji statistik didapatkan bahwa nilai p = 0,155 (p > 0,05) artinya tidak ada hubungan aktivitas fisik dengan terjadinya anemia.
Hal ini terjadi karena selain aktivitas yang dilakukan siswi tergolong berat juga disebabkan karena asupan Fe dari makanan juga sangat kurang dari kebutuhan sehingga dapat memperberat akan terjadinya anemia pada remaja putri.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amaliah (2009), yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan konsumsi zat besi.
Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Putri (2004), Asih (2001), dan Hayati (2003) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan status gizi.
Sebagian besar energi yang masuk melalui makanan pada anak remaja seharusnya digunakan untuk aktivitas fisik. Semakin berat aktivitas fisik yang
dilakukan semakin besar energi yang dikeluarkan, sehingga orang yang konsumsi energi kurang di tambah lagi kurangnya konsumsi makanan yang mengandung besi cenderung akan mengalami anemia.
Hasil wawancara yang dilakukan dengan siswi dan pengurus asrama didapatkan, selama ini tidak pernah dilakukan pemeriksaan darah terhadap siswi. Ini disebabkan karena tidak adanya dana yang tersedia untuk melakukan pemeriksaan darah. Namun demikian pada saat pada saat penelitian dilakukan siswi minimal sudah hampir satu tahun tinggal diasrama. Diasumsikan anemia yang terjadi pasa siswi dikarenakan pengaruh pola makan.
Anemia kekurangan zat besi dikarateristikkan dengan kekurangan kapasitas pembawa oksigen. Sebuah kondisi yang menyebabkan gangguan ketahanan atlet. Kekurangan zat besi biasanya dihubungkan dengan kekurangan fungsi imun, daya tahan dan penurunan kemampuan belajar (Indra, 2011).