BAB III ANALISIS KOMPOSISI
3.8 Pola Meter “Fraunliebe und Leben”
3.8.8 Pola Meter Lagu “Nun Hast du mir den Ersten Schmerz Geten”
Nun-hast-du-mir-den-er-sten-Schmerz-ge-tan, 10
Dari pemenggalan setiap suku kata di atas maka dapat disimpulkan bahwa pola meter lagu ” Nun hast du mir den ersten Schmerz getan” karya Robert Schumann untuk semua bait pertama memakai pola Irreguler Meter (IM).
3.9 Makna Lagu “Lieder Fauenliebe und Leben”
3.9.1 Makna Lagu “Seit ich ihn gesehen“
Bagian ini menggambarkan tentang gadis muda yang bersahaja dan menarik. Pada suatu saat gadis ini melihat seorang pria dan menyatakan pada dirinya sendiri bahwa ia menginginkan pria tersebut menjadi suaminya, karena hal ini masih dalam tahap awal maka si gadis ini sepertinya berpikir bahwa dia
“buta”. Kondisi ini juga didukung dengan iringan piano tidak rumit, namun lambat dan manis yang menunjukkan "kesederhanaan gadis muda serta ketidak pastiannya". Iringan piano di bagian pertama ini penting bagi pendengar, karena melodi yang sama akan kembali dimunculkan pada akhir siklus lagu (bagian delapan dari karya Fraunliebe und leben).
3.9.2 Makna Lagu “Er, der herrlichste von Allen“
Bagian ini menonjolkan karakter yang gembira dan penuh “gairah".
Perempuan ini bersumpah dalam hatinya bahwa hanya wanita yang terbaiklah berhak mendapatkannya, dan jika ia tidak dalam posisi itu maka hatinya akan hancur. Keadaan ini tergambar jelas dengan iringan piano yang mencerminkan perasaannya dengan suasana hati yang gembira.
3.9.3 Makna Lagu ” Ich kann’s nicht fassen, nicht glauben“
Bagian ini menunjukkan kasih sayang, bahwa ia telah jatuh cinta dengan pria yang dilihatnya. Saya tidak dapat memahami atau percaya, saya seperti kena mantra dan bermimpi. Bagian ketiga ini adalah bagian satu-satunya menunjukkan karakter pria masuk dalam siklus. “Dia bilang, saya berpikir aku milikmu selamanya”.
3.9.4 Makna Lagu ” Du Ring an meinem Finger“
Bagian keempat dari siklus karya ini. Bagian ini mempunyai perbedaan dalam suasana hati bila dibandingkan dengan tiga bagian sebelumnya. Si gadis
“menatap cincin di jarinya, dia menyadari bahwa hidupnya berubah”. Ini adalah bagian yang menonjolkan suasana hati yang lembut, dan melodi yang indah.
Untuk penyanyi, bagian ini memerlukan garis legato halus dengan dukungan nafas yang kuat untuk mencapai kualitas yang diinginkan dari musik.
3.9.5 Makna Lagu ” Helft mirr ihr schwestern“
Bagian ini menampilkan perubahan suasana hati yang didukung dengan iringan piano. Secara teknis, ini adalah salah satu bagian yang paling sulit dinyanyikan karena tempo cepat dicampur dengan pemenggalan teks dan melodi.
Bagian ini menceritakan dimana si gadis meminta adik-adiknya untuk membantunya dalam persiapan hari pernikahannya. Bagian ini ditandai dengan ritme bertitik yang menggambarkan pawai pernikahan, keadaan yang serius dan menyenangkan.
3.9.6 Makna Lagu ” Süßer Freund, du blickest“
Bagian ini menceritakan bahwa ia telah hamil dan kabar ini ia sampaikan kepada suaminya. Seorang penyanyi pada bagian ini harus sadar akan sensitivitas dalam hal teks, dan harus mencerminkan adanya perubahan warna nada yang mengungkapkan kualitas suara yang manis dan lembut.
3.9.7 Makna Lagu ” An meinem Herzen, an meiner Brust“
Bagian ini begitu menantang dengan tempo cepat dan melodi upbeat yang mengungkapkan karakter emosi, kegembiraan dari sukacita menjadi seorang Ibu.
Schumann ingin mengekspresikan bentuk sukacita seorang Ibu muda saat ia memegang bayinya. Frase vokal dengan irama berulang-ulang seperti menggambarkan seorang ibu yang berbicara dengan bayi kecilnya.
3.9.8 Makna Lagu ” Nun hast du mir den ersten Schmerz getan“
Bagian ini adalah bagian paling dramatis dari tujuh bagian siklus sebelumnya, terdapat kontras yang jelas dan nyata bila dibandingkan dengan bagian sebelumnya dan bagian ini merupakan akhir cerita. Pada saat ini, perempuan tadi sudah menjadi seorang janda, dan sedang menatap tubuh suaminya yang telah meninggal dunia. Iringan piano hanya memainkan akord yang bermakna kesedihan Vokal dalam interval yang rendah dan bernyanyi seperti resitativo mendukung suasana kematian. Bagian ini menggambarkan kondisi dimana kebahagiaan yang dirasakan perempuan itu telah jatuh dan hilang dan hanya kekosongan yang ada saat ini dalam hatinya. Setelah baris terakhir,
iringan dan melodi piano kembali ke melodi dari lagu pertama yang bertujuan agar perempuan tersebut mengingat masa-masa yang dilalui meskipun dia telah menjadi janda.
BAB IV
TEKNIK VOKAL DAN ADAPTASI
Dalam Bab IV penulis akan membahas tentang teknik bernyanyi lagu seriosa pada tujuh lagu yang sudah dipilih sebelumnya. Hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan Ibu Aning Katamsi dan Catharina Wiriadinata Leimena terkait penggunaan teknik bernyanyi dalam lagu seriosa, beliau mengatakan bahwa seluruh teknik-teknik bernyanyi barat digunakan dalam bernyanyi lagu seriosa. Oleh karena itu, dalam Bab ini penulis akan menjelaskan teknik-teknik yang digunakan dalam bernyanyi seriosa dan pada ketujuh lagu tersebut. Selain itu penulis juga akan membahas tentang persamaan dan perbedaan konsep komposisi secara umum antara lagu lied dan lagu seriosa.
4.1 Teknik Vokal
Bernyanyi memiliki teknik-teknik fundamental yang wajib dan harus dikuasai oleh seorang vokalis/penyanyi. Teknik-teknik vokal yang dimaksud penulis dalam hal ini adalah segala hal yang dapat dilakukan untuk dapat bernyanyi dengan baik yaitu: meliputi sikap tubuh dalam posisi berdiri dan duduk;
teknik produksi suara, warna suara, artikulasi huruf vokal dan konsonan.
4.1.1 Sikap Tubuh
Sikap tubuh yang baik penting untuk mengontrol sikap bernyanyi juga untuk membentuk sikap pribadi yang menarik dan kesehatan suara. Seorang vokalis haruslah berdiri dengan alami. Hal ini tidak mengandung arti bahwa vokalis dapat sesuka hati melakukan hal yang dianggap alami, yang dalam kenyataannya merupakan hal yang salah. Agar mampu bernyanyi dengan alami, vokalis bernyanyi dengan bebas dan benar, hal ini dimulai dari sikap tubuh yang benar.
Sikap bernyanyi menuntut kelenturan posisi dan beberapa gerakan tubuh yang berhubungan erat dengan produksi suara. Dalam hal ini, dada, bahu, lengan dan tangan harus tenang. Ketika bernyanyi, tubuh harus tegak, seimbang, stabil dan lentur, tidak kaku dan dada dibusungkan dengan nyaman. Posisi tegak menuntut sikap kaki, pinggang, punggung dan leher dalam satu garis lurus.
Kepala harus seimbang terhadap poros tulang punggung.
Keseimbangan terletak pada kaki dan jari-jari kaki. Tumit kaki tidak diangkat, namun perasaan haruslah sekan-akan siap melompat. Dalam posisi berdiri, tinggi tumit sepatu yang tidak terlalu jauh dari lantai sangat membantu dalam sikap tubuh yang benar. Kaki tidak terkunci kaku pada lutut akan tetapi rileks dan ringan.
Punggung dan tulang punggung harus meregang membentuk satu garis lurus. Punggung terasa menjadi lebar dan memanjang. Leher merupakan kelanjutan dari tulang punggung, pertahankan untuk tetap merasa panjang, meregang dan tidak maju ke depan atau mundur.
Gambar 4.1. Posisi Berdiri (sebelah kiri posisi salah & sebelah kanan posisi benar) Sumber: Christy dalam Expresive Singing
Kepala harus seimbang di atas poros tulang punggung, pertahankan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kepala harus ditundukkan sedikit tetapi tidak tenggelam di dalam dada karena tulang punggung meregang lebih banyak oleh tekanan nafas. Sebaiknya saat bernyanyi, alis mata dinaikkan dan bukan kepala yang naik untuk nada-nada yang tinggi. Gerakan rileks dari posisi kepala ke bawah harus merupakan suatu perputaran yang ringan, karena jika dagu dan dada bertemu maka leher terasa meregang lebih kuat. Kepala sedikit bergerak ke atas untuk kualitas suara ”terang” dan sedikit menunduk untuk kualitas suara”gelap”.
Dada membusung dengan nyaman sebelum menghirup udara hingga mengakhiri sebuah frase dari keseluruhan lagu. Bahu harus sejajar dan lentur ke bawah dan ke belakang, bahu terasa ringan tidak kaku atau terangkat dan maju ke depan sewaktu-waktu. Waspadalah untuk tidak menarik bahu ke atas untuk nada-nada tinggi.
Ada tiga bentuk posisi tangan yang dapat dilakukan ketika bernyanyi, yaitu: (1) mengatup ringan ke depan dan ke atas pinggang, punggung tangan yang satu di atas telapak tangan yang satu lagi; (2) terkulai dan rileks di kedua sisi tubuh; (3) satu tangan terkulai di satu sisi tubuh dan yang satu lagi mengenggam di depan tubuh.
Gambar 4.2. Posisi tangan saat berdiri berdiri Sumber: Christy dalam Expresive Singing
Bila sikap tubuh berdiri dilakukan dengan benar, maka perasaan, stabilitas yang lentur serta keseimbangan akan terasa nyaman. Ayunkan tubuh dari sisi tubuh yang satu ke sisi tubuh yang lainnya untuk menguji sikap tubuh ini. Jika cenderung terlalu kaku, emosi akan sulit keluar; jika terlalu lemas cenderung mengakibatkan kehilangan keseimbangan tubuh. Perasaan nyaman akan timbul bila ayunan berasal dari mata kaki.
Dalam posisi duduk, sikap tubuh sama dengan posisi berdiri. Pinggang harus ke belakang, bahu jauh dari sandaran kursi dan kedua kaki di lantai dengan salah satu kaki maju ke depan.
Gambar 4.3. Posisi duduk Sumber: Christy dalam Expresive Singing
4.1.2 Produksi suara
Teknik produksi suara meliputi segala hal yang berhubungan erat dengan pengolahan organ-organ produksi suara. Hal ini mencakup tiga elemen yaitu (1) pernafasan, disebut sebagai generator, (2) sumber bunyi (pita suara), disebut sebagai vibrator, (3) gema suara (rongga resonansi), disebut sebagai resonator, (4) artikulasi (pengucapan), (5) kesigapan dan kelenturan
4.1.2.1 Pernafasan (generator)
Pada dasarnya, pernafasan terdiri dari dua proses, yaitu (1) menghirup udara (inhalasi) dan (2) menghembuskan udara (ekshalasi). Proses menghirup udara adalah saat yang terjadi pada waktu vokalis mengadakan persiapan untuk memproduksi suara dengan menghirup udara. Proses ini menimbulkan gejala sekat rongga badan turun menuju posisi mengembang yang maksimal. Dengan mengembangnya sekat rongga badan tersebut, menunjukkan bahwa paru-paru telah menampung udara secara maksimal tanpa dipaksakan untuk tidak mengakibatkan ketegangan yang berlebihan. Udara dapat ditarik melalui hidung dan mulut secara bersamaan untuk beberapa sebab; (1) Seorang penyanyi tidak dapat menarik nafas secara cepat dan dalam hanya melalui hidung tetapi juga melalui mulut karena saluran nasal hidung terlalu sempit; (2) Menarik nafas melalui hidung secara cepat dapat menyebabkan ekspresi muka kurang atraktif, menimbulkan suara yang tidak diinginkan dan menggangu penampilan; dan (3) Menarik napas melalui mulut dan hidung bersamaan membuka saluran resonansi, mempersiapkan kondisi membran vokal untuk lebih bebas bergetar.
Bernafas hanya melalui hidung akan memungkinkan jika ada cukup waktu seperti pada bagian intro lagu atau interlude. Menahan udara atau napas cenderung menegangkan otot tenggorokan. Apabila vokalis berada dalam situasi harus menahan udara, tahanlah secara rileks, buka saluran tenggorokan dengan menahan udara dalam rongga dada dan perut bagian bawah (diafragma). Rongga dada harus dikembangkan untuk udara yang masuk. Untuk tarikan nafas penuh, rongga dada akan menekan diafragma ke bawah sehingga paru-paru dapat ber-kembang. Perut bagian bawah tetap rileks dan mengembang pada waktu menarik napas. Tarikan napas yang penuh akan terasa pada bagian pinggang yang ikut berkembang atau punggung bagian bawah. Tujuannya adalah untuk menyediakan ruang agar paru-paru dapat berkembang sepenuhnya ke bawah (perut) dan ke depan (dada). Juga sangat efektif untuk mengkonsentrasikan aliran udara ke bagian bawah punggung.
diafragma
Gambar 4.4. Proses Menarik Udara
Sumber: Pra Budidharma dalam Metode Bernyanyi Profesional
Proses menghembuskan udara adalah saat yang terjadi ketika vokal
udara
Vokalis harus mengusahakan agar udara yang keluar dari paru-paru diatur sehemat mungkin dan dalam pembagian waktu yang rata. Di samping itu, posisi mengembang dari otot-otot perut harus dipertahankan selama mungkin agar menghasilkan intensitas suara yang stabil dalam waktu yang relatif lama.
Sistem pernafasan dalam bernyanyi adalah sistem pernafasan diafragma.
Diafragma merupakan sekat rongga badan yang membatasi rongga dada dan rongga perut yang berfungsi sebagai pengatur pernafasan. Sistem pernafasan sekat rongga badan (diafragma) adalah saat vokalis menghirup udara, menimbulkan gejala baik perut dan terutama sisi-sisi tubuh mengembang ke luar. Dengan mengembangnya perut dan sisi-sisi tubuh tersebut, menunjukkan berkembangnya secara maksimal sekat rongga badan yang disebabkan paru-paru dapat terisi dengan sempurna di seluruh rongga.
Gambar 4.5. Pernafasan Diafragma
(Garis tebal posisi setelah menarik nafas; garis putus-putus posisi sebelum tarik nafas)
Dalam sistem pernafasan ini, saat menghirup udara, usahakan untuk menghirup udara dengan penuh dan dalam waktu yang cukup memadai; saat menahan nafas, usahakan udara tersebut berada dalam paru-paru untuk waktu yang cukup; usahakan agar udara tersebut keluar sehemat mungkin dan pusatkan pengaturan udara sebagai penggetar pita suara secara efektif.
Dalam bernyanyi, mengisi paru-paru dengan udara akan memberikan efektivitas, yaitu kemampuan untuk menyanyikan nada-nada panjang, kontrol terhadap nada tinggi, nada rendah, tekstur suara lembut/keras, warna suara, fleksibilitas, vibrato, non-vibrato, nada yang lebih jernih dan bernyanyi lebih lancar dalam wilayah register tangga nada. Untuk mencapai penguasaan dalam praktek mengenai sistem pernafasan sekat rongga badan, lebih lanjut vokalis harus melatih diri dengan beberapa sistem latihan menghirup udara dan menghembuskan nafas. Berikut ini adalah latihan untuk pernafasan:
1. Dalam posisi duduk, latihan menghirup nafas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: duduk di atas sebuah kursi seperti supir bus. Kaki dan paha berjarak dan ujung lengan di atas paha. Punggung membengkok ke depan. Vokalis harus benar-benar merasakan rileks. Hembus dan hirup udara dalam metrum bebas. Rasakan bahwa punggung melebar ketika nafas mengalir dalam tubuh. Kemudian duduk dalam sikap tubuh yang normal, hirup udara dengan hitungan teratur dan berusaha untuk merasakan hal yang sama saat sebelumnya.
2. Letakkan ke dua tangan di pinggul, lalu tarik ke atas kira-kira 10 cm sampai ibu jari berada di bagian tulang iga bagian belakang. Sekarang
tariklah napas kuat-kuat melalui mulut, hidung dan tenggorokan secara santai. Kembangkan rongga dada ke depan, tekan ibu jari dan tangan kita.
Biarkan bagian perut juga ikut berkembang pada waktu yang sama. Rasakan pengembangan ke depan dan ke bawah tersebut. Bahu tidak terangkat tetapi tetap rileks, juga bagian leher dan rahang. Rasakan lidah kita ke depan dan rileks, ujung lidah berada menempel dibelakang gigi bagian bawah. Rasakan sensasi seperti menguap ketika udara mengalir melalui mulut dan hidung mendinginkan tenggorokan kita. Tarik napas untuk dua hitungan dan keluarkan dengan menyuarakan ”sss” untuk empat hitungan, sebanyak tiga kali berturut-turut. Bernyanyi sama seperti berenang, bertambah banyak udara yang ditahan atau dikeluarkan, akan bertambah pula udara yang akan ditarik. Untuk cara bernyanyi yang santai selalu usahakan mengisi kembali rongga dada dengan penuh, nafas yang dalam. Jika ada tenggang waktu, biarkan nafas mengalir secara normal.
3. Setelah menarik nafas secara sepenuhnya, keluarkan dalam empat hitungan, gunakan lidah dan gigi untuk menahan udara. Isi kembali udara dalam satu hitungan. Keluarkan udara dengan lima hitungan. Tarik kembali udara dengan satu hitungan. Keluarkan enam hitungan, lalu tarik kembali dalam satu hitungan, dan seterusnya. Tingkatkan panjang nafas ke dalam hitungan minimal sepuluh atau lima belas atau lebih. Selalu mengisi kembali udara dengan satu hitungan, dengan demikian kita dapat mengukur berapa lama nafas dapat bertahan. Pertahankan tekanan udara yang stabil. Usahakan jangan ada istirahat antara saat menarik udara dan
awal mengeluarkan nafas. Biarkan nafas udara mengalir. Cobalah bernafas dengan lebih kuat atau lebih lembut tanpa mempengaruhi tekanan yang konstan dari awal sampai akhir setiap napas. Dengan cara latihan ini vokalis melatih diri untuk bernafas lebih kuat, cepat dan lebih dalam, guna memperpanjang kalimat nada lagu dan meningkatkan kontrol vokal dalam berbagai kemungkinan.
Selanjutnya, untuk latihan menghembuskan nafas, dalam posisi berdiri, gunakan nada-nada berikut. Biarkan tenggorokan terbuka bebas. Pertahankan udara dari diafragma seperti terengah-engah. Nyanyikan nada-nada dengan satu hembusan nafas.
Gambar 4.6. Latihan Pernafasan Diafragma
Sumber: Pra Budi Bharma dalam Metode Benyanyi Profesional
4.1.2.2 Tekanan Udara Ke Luar dan Ke Bawah (Out and Down Support) Vokalis mengendalikan tekanan udara dengan otot-otot yang sama seperti untuk tertawa, batuk dan bersin. Setelah seorang penyanyi memulai menyanyikan lagu, dia akan selalu merasakan ekspansi keluar yang mengembang, walaupun pada saat rongga dada mengempis ke dalam.
Kondisi tekanan udara ke luar dan ke bawah disebut out and down support, istilah ini menjelaskan perasaan fisik yang dialami penyanyi. Pendekatan ini memberikan vokalis kendali yang tepat pada aliran udara dan dapat dijadikan teknik yang efektif untuk kontrol vokal. Ketika vokalis menggunakan out and down support, pertahankan ekspansi rongga dada khususnya pada awal kalimat nada untuk selama mungkin. Kempiskan dada hanya untuk menarik nafas.
Out and down support memberikan kontrol yang tepat untuk tekanan udara dan menciptakan power yang harus digunakan dalam batas yang memadai untuk menjaga kualitas suara yang sehat dan prima. Kendala utama pada vokal adalah jika udara ditekan terlalu kuat pada membran suara (vocal cord) dapat menyebabkan tenggorokan seperti terjepit. Otot perut memungkinkan untuk mendorong udara lebih kuat daripada ketahanan vocal cord. Berikut ini adalah beberapa latihan untuk out and down support
1. Letakkan jari atau jempol pada bagian pinggang di bawah tulang iga, di bagian atas tulang pinggul. Batuk perlahan 2 kali. Tekanan ke luar dapat dirasakan dengan jari, tekanan ini disebut outward support yang alami.
Rasakan kembali dengan menggunakan suara ”hiss” atau ”sss” yang kencang. Lalu suara ”f ” yakinkan dapat merasakan tekanan outward
support yang sama. Pertahankan ekspansi rongga dada bagian bawah.
2. Latihan berikutnya, rasakan support yang bekerja di belakang suara nada vokal. Gunakan “hiss” yang kuat diikuti dengan teriakan yang santai.
Napas - “sss” - “sss” - Napas, lalu teriakan 'hey’. Support yang dirasakan dimulai ketika vokalis mengucapkan “sss”, tetapi dalam kondisi bernyanyi, tentukan support sebelum mengeluarkan suara sampai akhir suara vokal.
Rasakan out and down support secara stabil pada teriakan 'hey'. Ulangi latihan ini sebanyak tiga kali. Selanjutnya lakukan dengan teriakan panjang dan dapat diganti dengan huruf vokal.
3. Latihan ini dapat dilakukan dengan menggunakan suara yang keras dan lembut bergantian sampai mendapatkan support yang konstan. Mulailah dengan suara “sss” yang keras dan perlahan-lahan menjadi lembut (decrescendo) tanpa mempengaruhi support. Cek dengan jari jika support melemah. Cobalah latih dengan huruf “fff” dan “sss” secara bergantian.
Napas - support - sssssssssssssssssssssss
Napas – support - fffffffffffffffffffffffffffff
4.1.2.3 Sumber Bunyi (vibrator)
Sumber bunyi diproduksi pada larynx, sebuah pipa yang panjangnya 15 cm dan lebar 4 cm. Terletak di antara pharynx trachea. Saluran ini terdiri dari bentuk-bentuk lingkaran pyramid, dan perisai tulang rawan cincin menyambung dengan otot yang bisa bergerak. Di belakang tulang rawan berbentuk perisai bersatu pada tulang rawan berbentuk pyramid, terletak tali suara (vocal cord).
Pada wanita, panjangnya sekitar14 – 19 mm dan pada pria, panjangnya sekitar 18 – 25 mm. Dari beberapa hasil penyelidikan, menyatakan bahwa ketinggian suara bergantung pada panjang, tebal dan elastisitas tali suara dan tekanan nafas;
kekuatan suara bergantung pada tenaga otot ketika udara didorong atau dihembuskan; timbre (warna suara) bergantung pada organ resonansi dan bentuk individual organ suara.
Larynx bergerak secara vertikal. Pada pergerakan ke atas, membimbing tiap nafas melalui pharynx. Otot yang berbentuk perisai menarik keluar sehingga larynx berubah bentuk. Pada saat ini larynx memendekkan tali suara dan membatasi fungsinya. Pada saat yang bersamaan juga mengangkat dasar lidah ke langit-langit lembut, dan lubang tenggorokan tertutup. Saat pergerakan ke bawah, larynx bertegang kea rah luar yang mengakibatkan tali suara dan glottis memanjang. Bersama-sama dengan larynx, dasar lidah ke bawah dan melebarkan pharynx juga lubang tenggorokan. Pada saat bernyanyi, posisi larynx seperti tindakan menguap. Dengan cara ini, aliran udara mendapat kontak yang lebih baik dengan tali suara dan tanpa resonansi tidak ada halangan untuk bisa mencapai nada tinggi.
Pada saat udara mengalir melalui vocal cord, ketika ter-'fokus,' vocal cord bervibrasi menghasilkan suara vokal yang jernih. Suara vokal yang fokus dapat digambar kan seperti kulit drum yang kencang, sedangkan jika tidak fokus (unfocus) vocal cord terlalu terbuka dan mengakibatkan suara yang agak pecah. Unfocus vocal cord dapat mengganggu dan terasa gatal sehingga seakan-akan ingin batuk.
Bernyanyi dalam waktu yang lama akan menimbulkan banyak lendir di tenggorokan. Hal ini disebabkan mekanisme perlindungan fisik oleh tubuh pada vocal cord. Perlu diingat ketika vokalis menyanyikan nada-nada tinggi dan suara yang keras, hendaknya tidak menekan udara terlalu kuat sehingga dapat mengakibatkan suara 'unfocus' yang serak. Namun demikian, walaupun vocal cord harus fokus agar kita bisa bernyanyi dengan baik, sedikit suara serak dan seolah-olah 'kehabisan udara' dapat menjadi efek ekspresi emosi. Hal ini menjadi sebab
Bernyanyi dalam waktu yang lama akan menimbulkan banyak lendir di tenggorokan. Hal ini disebabkan mekanisme perlindungan fisik oleh tubuh pada vocal cord. Perlu diingat ketika vokalis menyanyikan nada-nada tinggi dan suara yang keras, hendaknya tidak menekan udara terlalu kuat sehingga dapat mengakibatkan suara 'unfocus' yang serak. Namun demikian, walaupun vocal cord harus fokus agar kita bisa bernyanyi dengan baik, sedikit suara serak dan seolah-olah 'kehabisan udara' dapat menjadi efek ekspresi emosi. Hal ini menjadi sebab