1. Pengertian Pola Pembinan
Menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia pengertian pola adalah suatu bentuk (stuktur) yang tetap, sistem; cara kerja sesuatu. Pengertian pembinaan adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.24 Sedangkan menurut Berger dan Luckmann pembinaan adalah habitualisasi atau proses pembiasaan sebagai tindakan yang berulang yang pada akhirnya menjadi suatu pola dan dipahami oleh pelakunya.25
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pola pembinaan adalah bentuk usaha dan tindakan yang dilakukan secara efisien berupa pendampingan, pengawasan, pembiasaan, mengubah sesuatu agar menjadi lebih baik, yang dilakukan secara efektif, terencana dan terarah untuk mencapai suatu tujuan.
24
Badudu, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Lengkap, (Jakarta: Cijago Pers, 2002), hal. 316.
25
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan, (Jakarta: LP3ES, 2012), hlm. 72.
41 Adapun pola pembinaan dalam konteks pembinaan muallaf adalah rangkaian kegiatan dilakukan secara efektif dan kontinyu dalam upaya memberikan pemahaman dan pendidikan ajaran agama Islam kepada muallaf sehingga mereka faham dan mampu melaksanakan ajaran agama Islam dan menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan.
2. Metode Pembinaan
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara) sehingga metode dapat diartikan metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. 26
Berikut metode pembinaan yang dilakukan untuk pembinaan mullaf . 27
a) Metode Personal approach
Metode personal approach adalah pendekatan secara langsung kepada setiap pribadi muallaf. Dalam metode ini diadakan dialog langsung untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan pemecahan masalah muallaf dari segi penghayatan dan pengamalan agama.
b) Metode Konsultasi
Metode konsultasi yaitu kegiatan meminta nasehat seorang yang dipandang ahli dan mampu memberikan nasehat tentang permasalahan yang dihadapinya. Dalam hal ini muallaf yang datang kepada tokoh agama atau lembaga agama untuk meminta nasehat dan bimbingan ajaran agama Islam.
26 M. Munir, Metodde Dakwah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2015), hlm.6
27
Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan Muallaf, (Jakarta: Kemenag Pusat, 1998), hlm.26-31
42 c) Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang disampaikan da’i secara lisan dilakukan kepada banyak orang dengan tujuan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Metode ini paling banyak digunakan dalam berdakwah karena lebih efisien.
d) Metode Haloqoh
Metode halaqoh disampaikan dalam kelompok kecil seperti ceramah dipandu oleh seseorang yang lebih faham ilmu agamanya. Metode ini bersifat dialog atau bersifat interaktif. Pendengar dapat bertanya langsung dengan pembicara dalam forum tersebut.
e) Pengunaan Audio Visual
Metode audio visual pada zaman modern ini banyak digunakan dalam metode pengajaran. Cara ini dapat dilakukan memberikan edukasi melalui pemutaran fim, media radio, internet yang dapat mengakses informasi yang lebih luas mengenai ajaran dan keilmuan Islam.
3. Bentuk Pembinaan
Bentuk pembinaan yang dilakukan oleh pembina terbagi dalam dua bentuk, yakni pembinaan dalam bentuk klasikal dan individual. Beri-kut adalah penjelasan dari masing-masing bentuk pembinaan. 28
28
Noorkamilah, Pembinaan Muallaf; Belajar Dari Yayasan Ukhuwah Muallaf (yaumu). Yogyakarta: Jurnal PMI Vol. XII. No. 1, September 2014.
43 a) Pembinaan Individual
Pembinaan individual adalah pembinaan yang dilakukan secara privat, satu pembimbing satu muallaf, seperti pembinaan baca al-Qur’an. Beberapa muallaf meminta untuk membimbing mereka membaca al-Qur’an.
b) Pembinaan Klasikal.
Proses pembinaan klasikal dilakukan layaknya sebuah majlis
taklim. Dalam proses pembinaan klasikal semua muallaf atau peserta pembinaan membentuk formasi melingkar, termasuk pembina ada diantara mereka. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembinaan klasikal seperti ini sekitar 1,5 jam.
c) Pembinaan Bersama
Pembinaan model ketiga ini, yakni pembinaan bersama,
di-maksudkan untuk pembinaan klasikal, akan tetapi dari sisi materi merujuk kepada permasalahan individu, sedangkan dari sisi strategi penyelesaian masalah, dilakukan secara bersama-sama antara semua peserta dan pembina. Model pembinaan bersama ini dilakukan secara berkala setiap bulan sekali dalam sebuah forum membentuk lingkaran besar, dilakukan semacam sharing antar individu.29
Masing-masing muallaf atau peserta diberi kesempatan yang sama untuk mengungkapkan berbagai masalah, hambatan atau rintangan, serta kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan kehidupan
29
Wawancara dengan Ibu Lilis Widiyasih Pengelola PAUD dan Pengajian Mu’alaf Pada Tanggal 7 April 2018 Pukul 11.30 WIB tempat di rumah Tunggularum Sleman.
44 sehari-hari. Akan tetapi solusi atas apa yang menjadi permasalahan tersebut ditawarkan kepada seluruh peserta yang hadir.
4. Fungsi Pembinaan Agama
Masalah agama tidak mungkin dapat dipisahkan dari masyarakat. Bentuk ikatan antara agama dan masyarakat memiliki fungsi untuk mengatur norma-norma dalam kehidupan. Menurut Jalaludin dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat adalah:
a) Berfungsi edukatif
Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur ini mengarahkan agar menjadi pribadi yang baik.
b) Berfungsi penyelamat
Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan didunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para penganutnya melalui pengenalan masalah sakral berupa keimanan kepada Tuhan.
c) Berfungsi sebagai perdamaian
Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa bersalah dan berdosa menjadi hilang apabila seseorang menebus dosa dan kesalahannya melalui tobat, pensucian ataupun penebusan dosa.
45 d) Berfungsi sosial kontrol
Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu maupun kelompok.
e) Berfungsi transformatif
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang. Kehidupan baru yang diterimanya berdasarkan ajaran agama baru yang dianutnya kadangkala mengubah kesetiannya kepada adat atau norma kehidupan yang dianut sebelumnya.30