• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

Dari tema Pola Pembinaan dan Pendidikan Agama Islam pada muallaf

(Studi Kasus Lima Muallaf di Dusun Ngandong Turi Sleman) perlu dikaji dan menarik untuk diteliti karena seseorang yang berpindah agama (konversi agama) mengalami pergolakan batin yang luar biasa sehingga perlu pengutaan dan pembinaan dari berbagai pihak, baik dari intern dirinya sendiri maupun pihak ektern atau lingkungan agar muallaf benar-benar yakin dengan agama Islam dan menjalankan syariat agama Islam dalam kehidupannya.

Adapun hasil penelaahan literatur peneliti yang berhubungan dengan tema penelitian sebagai berikut ini:

1. Zarkasi, Pola Pendidikan Agama Islam bagi Anak pada Keluarga Muslim Tionghoa di Kabupaten Bangka, Tesis, Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Prodi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014.9

Penelitian ini mengkaji tentang pola kehidupan masyarakat muslim tionghoa keluarga muallaf dan keluarga multireligius di kabupaten Bangka. Dengan kondisi masyarakat melayu (muslim) dan tionghoa yang menjunjung tinggi nilai- nilai toleransi sehingga konflik pertikaian dan kesenjangan akibat perbedaan ras dan agama jarang terjadi. Hal ini terjadi melalui proses internalisasi dan tradisi budaya yang sejak lama di bawa oleh

9 Zarkasi, “Pola Pendidikan Agama Islam bagi Anak pada Keluarga Muslim Tionghoa di Kabupaten Bangka”, (Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 2014), hlm. 101-104.

(2)

11 da’i penyebar agama Islam dan etnis Cina yang datang ke Bangka bekerja di penambangan Timah. Pola pendidikan sosioreligius masyarakat muslim tionghoa seperti tadarus, yasinan, pengajian ibu-ibu Jum’at sore, TPQ bagi anak-anak, pengajian dan peringatan hari besar Islam, adalah bentuk kegiatan sosioreligius yang dilakukan di masyarakat muslim. Pada keluarga muslim tionghoa, memberikan pengajaran dan pendidikan anak tentang Islam cara yang paling dominan adalah dengan memberikan reward berupa hadiah sebagai pemantik dimana nantinya anak-anak mereka sadar sendiri dengan berjalannya waktu karena pergaulan, mereka meyakini bahwa setiap agama mengajarkan kasih sayang yang sama, saling menghormati, saling mencintai apalagi masih dalam suatu keluarga, sehingga seluruh aktivitas dan mobilitas kehidupan sehari-hari mereka berjalan di atas pola masyarakat sekitar yang secara kolektif di sepakati.

2. Zain Irma Fitriati. Program Kerjasama Sekolah dan Orang tua dalam Pembinaan Pendidikan Islam Peserta Didik (Studi Kasus di TKIT Mua’az bin Jabal Yogyakarta dan TKIT Al-Khairaat Yogyakarta) Tesis, Yogyakarta: Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Prodi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. 2015.10

Penelitian ini mengkaji tentang kerjasama sekolah dengan orang tua sebagai bentuk perhatian lembaga pendidikan tidak hanya kepada peserta didik melainkan juga pentingnya kerjasama guru, orangtua dan peserta didik

10

Zain Irma Fitriati, “Program Kerjasama Sekolah dan Orang tua dalam Pembinaan Pendidikan Islam Peserta Didik Studi Kasus di TKIT Mua’az bin Jabal Yogyakarta dan TKIT Al-Khairaat Yogyakarta”, (Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 2015), hlm. 35-36

(3)

12 bersinergi dalam pembinaan pendidikan agama Islam di rumah dan sekolah. Keluarga merupakan lembaga Pendidikan pertama dan utama. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anaknya dalam segala hal dalam membekali anaknya dengan nilai-nilai agama. Tugas dan kewajiban orang tua menggali dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak sehingga perkembangannya optimal, mengarahkan, membimbing ke jalan yang benar, membantu dalam pembinaan dan pengembangan sesuai dengan potensi yang ia miliki, memelihara dan memberi bekal ilmu pengetahuan agama.

Sedangkan pendidikan agama Islam dalam kehidupan di sekolah bertujuan menanamkan nilai-nilai agama Islam yang diperoleh peserta didik dari hasil pembelajaran di sekolah agar menyatu dalam perilaku peserta didik sehari-hari baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pembinaan agama Islam tidak hanya dikuasi oleh peserta didik saja, namun lebih utama dikuasi, dipahami dan diamalkan oleh guru yang secara langsung dijadikan sebagai sosok teladan oleh peserta didik.

Progam kerjasama atau parenting yaitu pengetahuan tentang mendidik bagi orangtua merupakan salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pihak sekolah baik guru dan orang tua. Pendidikan Islam tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama tetapi menyangkut keseluruhan pribadi anak yang berawal dari kebiasaan melakukan kebaikan yang sesuai dengan tuntunan agama Islam, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia, alam sekitarnya, maupun hubungan dengan Allah.

(4)

13 3. Siti Afifah Adawiyah. Peran Rais/Kaum dalam Membangun Masyarakat Islami (Studi Kasus Masyarakat Desa Maguharjo). Tesis. Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Prodi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. 2016. 11

Penelitian ini bersifat social masyarakat. Melihat peran rais/ pak kaum di tengah-tengah masyarakat. Rois sebagai tokoh agama di suatu wilayah memiliki peran dan tanggungjawab yang besar, seorang pemimpin memiliki tiga yaitu: peran interpersonal roles, pemimipin menjalin hubungan baik dengan orang sekitar. Informational roles peran pemimpin menjadi seseorang yang dapat menjadi rujukan informasi yang luas, dan decisional

roles seorang pemimpin untuk mengambil keputusan yang adil bagi semua

pihak tanpa ada unsur deskriminasi. Dadang Ahmad mengemukakan; pemimpin agama memiliki beberapa peran yaitu sebagai motivator, mampu merangsang masyarakat agar berani melakukan perubahan hidup kearah yang lebih maju dan sejahtera, membangkitkan etos kerja masyarakat dan sebagai pembimbing moral.

Rois/kaum memiliki tugas social dan keagamaan diantaranya;

memimpin do’a, memimpin penyelenggaraan jenazah, memimpin pelaksanaan hari besar Islam, melakukan peletakan batu pertama dalam pembangunan rumah ibadah atau gedung di desa. Pemimpin yang baik

11

Siti Afifah Adawiyah, “Peran Rais/Kaum dalam Membangun Masyarakat Islami Studi Kasus Masyarakat Desa Maguharjo”, (Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 2016).

(5)

14 memiliki kepribadian religius seperti sifat adil, jujur taat ajaran dan menjadi contoh tauladan bagi masyarakat.

4. Masyuruhin Rosyid. Relevansi Pendidikan Berbasis Masyarakat dengan Pendidikan Islam. Tesis. Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Prodi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga 2010. 12

Penelitian ini berbasis kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat yang telah berproses berdasarkan pengalaman dalam pendidikan luar sekolah. Seperti tokoh masyarakat, organisasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama dan tokoh adat dan pendidikan berperan sebagai pemprakarsa, mediator, motivator, tutor pengelola bahkan penyedia fasilitas pendidikan.

Organisasi kemasyarakatan juga berperan sebagai pemprakarsa, perencana, penyelenggara, pengatur kegiatan dan pelayanan kegiatan. Tujuan pendidikan berbasis masyarakat dengan pendidikan Islam terdapat beberapa unsur diantaranya penanaman ahlak dan terciptanya pendidikan seumur hidup (long life education). Pendidikan berbasis masyarakat mengedepankan action (tindakan) dan sikap. Untuk mengatasi berbagai kekurangan di masyarakat selain mengadakan pengajian, pembinaan agama juga mencakup beberapa aspek skill, seperti penyuluhan dan inovasi kreatif disektor ekonomi guna memperkuat kehidupan beragama di masyarakat.

12

Masyuruhin Rosyid, “Relevansi Pendidikan Berbasis Masyarakat dengan Pendidikan Islam”, (Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 2010), hlm.67.

(6)

15 5. Eka Etty Septiana. Kesadaran orang tua terhadap pendidikan agama Islam dalam keluarga (Studi kasus di dusun Pokoh 1 Dlingo Bantul).Tesis. Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Prodi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga 2015. 13

Penelitian ini mengukur sejauh mana peran dan kesadaran orang tua terhadap penerapan pendidikan agama Islam dalam keluarga. Keluarga adalah wadah utama pendidikan anak untuk membentuk identitas anak yang dimulai jauh sebelum anak itu diciptakan, tugas orang tua adalah meletakan dasar-dasar pendidikan dalam keluarga. Dalam Islam keluarga memiliki peran penting dalam bidang jasmanai dan kesehatan anak, bidang pendidikan akal inteltual anak, bidang pendidikan agama, bidang pendidikan akhlak, perkembangan agama pada masa kanak-kanak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga.

Pendidikan agama sangat perlu diperhatikan untuk membangkitkan kekuatan dan kesediaan spiritual melalui bimbingan agama yang sehat serta mengamalkan ajaran-ajaran agama, selain itu juga membekali anak-anak dengan pengetahuan yang baik dalam bidang aqidah, ibadah, mu’amalah maupun sejarah, dengan mengajarkan cara-cara yang benar dalam menunaikan syiar dan kewajiban-kewajiban agama dapat membantu mereka dalam mengembangkan sikap agama yang baik dan benar.

13

Eka Etty Septiana, “Kesadaran orang tua terhadap pendidikan agama Islam dalam keluarga Studi kasus di dusun Pokoh 1 Dlingo Bantul”, (Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 2015), hlm. 20-27.

(7)

16 Metode dalam menyampaikan materi pendidikan Islam adalah melalui teladan, kisah-kisah, nasehat, hukuman dan ganjaran. Melalui jiwa anak menanamkan rasa keutamaan/fadilah, membiasakan kesopanan, mempersiapkan kehidupan yang suci dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

B. Gambaran Umum Dusun Ngandong

1. Letak dan Batas Wilayah.

Pedukuhan Ngandong merupakan salah satu dusun yang berada di

Desa Girikerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, tepatnya berjarak sekitar 24 kilometer dari Kota Yogyakarta. Pedukuhan Ngandong meliputi Ngandong, Tritis dan Relokasi Pelem. Pedukuhan Ngandong memiliki luas wilayah 178.030 Ha dan terdiri dari 3 RW dan 11 RT.

Secara administratif, wilayah pedukuhan Ngandong terletak di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah Pedukuhan Ngandong berada di bagian utara Kecamatan Turi dan termasuk berada di wilayah kaki gunung Merapi. Secara geografis Pedukuhan Ngandong berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Taman Nasional Gunung Merapi Sebelah Timur : Desa Turgo

Sebelah Selatan : Padukuhan Nganggring Sebelah Barat : Desa Tunggularum14

14

Sumber monografi padukuhan Ngandong KKN PPM UGM 2016 di rumah kepala Dukuh Ngandong.

(8)

17 2. Keadaan Demografi

Keadaan demografi memaparan keadaan demografi masyarakat diperlukan untuk mengindentifikasi masalah yang akan diteliti. Penulis memaparkan terkait jumlah penduduk, pendidikan, pekerjaan, sarana prasarana, agama dan budaya masyarakat pedukuhan Ngandong.

a. Jumlah Penduduk

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

T a

bel diatas menunjukkan bahwa jumlah penduduk Ngandong berjumlah 921 jiwa dengan luas wilayah 178.030 Ha. Menunjukan bahwa populasi penduduk pedukuhan Ngandong tergolong daerah yang jarang penduduk.

b. Latar Belakang Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Upaya memajukan anak bangsa telah dilakukan lembaga pemerintah maupun lembaga swasta dengan mendirikan

sekolah-Dusun RT Jumlah KK Jumlah Penduduk

L P Ngandong 1 28 42 44 2 51 83 78 3 40 61 68 4 30 43 49 Tritis 5 23 34 38 6 30 49 48 7 29 44 38 Relokasi Pelem 1 13 25 21 2 16 25 28 3 12 15 21 4 22 32 35 Total 11 294 453 468

(9)

18 sekolah dan lembaga pendidikan di seluruh tanah air. Kondisi geografis yang beragam di Indonesia terutama di daerah pedesaan atau daerah terluar, terpencil dan pelosok yang sulit terjangkau sehingga pembangunan sarana dan prasarana pendidikan masih sangat terbatas. Berikut tabel tingkat pendidikan masyarakat pedukuhan Ngandong.

Tabel 2. Tingkat Jenjang Pendidikan

T a b e l d i a

tas menunjukkan bahwa pendidikan tertinggi masyarakat Ngandong hingga saat ini adalah diploma. Angka pendidikan SD paling banyak. Rata-rata pendidikan masyarakat usia 30 tahun keatas adalah lulusan SLTP. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan masyarakat Ngandong tergolong masih rendah.

Dusun RT Tingkat Pendidikan

SD SLTP SLTA DI/III SI Ngandong 1 28 13 5 2 44 16 19 2 3 40 17 18 2 4 27 15 10 Tritis 5 19 9 14 1 6 26 9 10 7 25 11 6 Relokasi Pelem 1 11 4 6 2 23 7 5 3 6 3 12 4 15 6 13 2 Total 264 110 118 6 1

(10)

19 Tabel 3. Sarana Pendidikan

T a b

el di atas menunjukkan minimnya jumlah sekolah dan jauhnya akses pendidikan di pedukuhan Ngandong. Sekolah SLTP dan SLTA terdekat berada di Kecamatan Turi dan Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman dengan jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 3 -7 km. c. Pekerjaan

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Ngandong adalah petani, umumnya adalah petani salak. Cuaca pengunungan yang sejuk ditunjang tekstur tanah yang subur, sangat cocok untuk lahan perkebunan salak. Masa tanam awal hingga panen salak selama tiga tahun, kemudian salak dapat dipanen tiga hingga empat bulan sekali. Keuntungan bertani salak adalah usia produktif salak mencapai hingga puluhan tahun jika dirawat dan dipupuk dengan baik. Hasil panen salak dijual langsung oleh masyarakat atau dijual kepada pengepul. Pengolahan makanan atau minuman dari bahan baku salak belum maksimal dikelola masyarakat, jika panen salak berlimpah harga jual salak sangat murah hingga merugikan bagi petani salak.

Saat ini selain sebagai petani salak masyarakat beralih menaman cabe, karena harga jual cabe cukup stabil di pasaran. Masyarakat yang

No Sarana Pendidikan Jumlah

1. PAUD 0

2. SD 1

3. SLTP 0

(11)

20 memiliki tanah di area hutan memanfaatkan lahan untuk menanam kayu sengon dan bambu. Jenis bambu yang paling banyak ditaman adalah bambu petung. Bambu dijual untuk membantu perekonomian masyarakat serta dapat digunakan untuk membuat reng atap rumah dan aneka kerajinan rumah tangga.

Selain bertani, mata pencaharian masyarakat Ngandong sebagai peternak sapi, kambing dan ayam. Ternak sapi dan kambing sebagian besar milik warga, sedangkan peternakan ayam milik CV yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Sebagian kaum wanita di Dusun Ngandong bekerja sebagai buruh pengolahan susu kambing di Dusun Kemirikebo Desa Girikerto Kecamatan Turi. Berikut tabel mata pencahaian penduduk.

Tabel 4. Jenis Pekerjaan D a t a d

i atas menunjukkan bahwa secara umum masyarakat Ngandong berprofesi sebagai petani dan peternak. Berikut data populasi ternak di pedukuhan Ngandong.

No Jenis Pekerjaan Jumlah

1. Petani / Peternak 524

2. Pelajar 143

3. Karyawan swasta 30

4. Wiraswasta 12

5. Mengurus Rumah Tangga 14

6. Perangkat desa 1

7. Pedagang 2

8. PNS 3

9. TNI 1

10. Buruh harian lepas 2

(12)

21 Tabel 5. Populasi Ternak

d. S a

rana Prasarana

Adapun sarana umum di pedukuhan Ngandong sebagai berikut: Tabel 6. Sarana Umum

Data di atas menunjukkan bahwa fasilitas sarana umum masih sangat minim dan terbatas di pedukuhan Ngandong.

e. Agama.

Masyarakat pedukuhan Ngandong sebagian besar beragama Islam, sebagian beragama Katholik dan penganut kepercayaan. Berikut data penduduk menurut agama.

Tabel 7. Penganut Agama

Dusun RT Agama

Islam Katholik

Ngandong 1 85 1

2 142 17

3 93 36

Jumlah Polulasi Ternak

No Jenis Ternak Ngandong Tritis Relokasi Pelem

1. Kambing 413 - -

2. Sapi 58 - -

3. Ayam - 5000 -

No Sarana Umum Jumlah

1. Masjid 3 2. Gereja - 3 TPA 1 4. Aula /Pendopo - 5. Panti asuhan 1 6. Posyandu 1 7. Puskesmas - 8. Pos Kamling 2

(13)

22 4 69 20 Tritis 5 66 6 6 97 - 7 82 - Relokasi Pelem 1 45 1 2 51 1 3 27 5 4 59 8 Total 816 95

Dari data di atas jika diprosentasikan penganut agama Islam sebanyak 88 %, sedangkan beragama Katholik 10%. Masyarakat yang memiliki keyakinan kepercayaan tidak terdata karena bukan agama resmi. Namun dari hasil observasi peneliti terdapat 2% menganut kepercayaan atau dikenal dengan aliran kepercayaan Sapto Darmo.

Perkembangan agama di pedukuhan Ngandong mengalami tiga periode yaitu periode awal agama yang dikenal masyrakat Ngandong adalah kepercayaan, kemudian pada periode pertengahan 1970an hingga 1980an mulai masuk agama Katholik dan Islam, namun pemeluk agama Islam masih sedikit, mulai tahun 1990an sebagian masyarakat yang dahulunya beragama Katholik berpindah agama menjadi muslim. Hingga sekarang mayoritas masyarakat pedukuhan Ngandong memeluk agama Islam. Pengaruh transformasi agama hingga saat ini masih terlihat dalam beberapa keluarga multireligius, meskipun dalam satu keluarga beda agama dan keyakinan akan tetapi mereka hidup saling rukun dan menghargai agama masing-masing. Terjadinya konversi agama di wilayah ini disebabkan karena aliran kepercayaan tidak diakui sebagai agama resmi oleh Negara.

(14)

23 Karena identitas agama sangat perlu dalam urusan administrasi misalnya dalam pembuatan KTP, KK, identitas peserta didik di sekolah, sehingga mereka memilih agama yang telah resmi diakui oleh negara.

Berikut sejarah singkat perkembangan agama di Ngandong: 1) Kepercayaan.

Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sesepuh dusun Ngandong adalah aliran kerohanian Sapto Darmo. Tokoh utama pembawa aliran ini adalah Hardjosapoero asal Kediri Jawa Timur lahir pada tahun 1910. Pada tahun 1952 ajaran ini telah menyebar di Jawa Timur, Jawa Tengah termasuk di daerah Yogyakarta. Dalam istilah bahasa Jawa Sapto artinya tujuh sedangkan Darmo artinya menolong tanpa pamrih.

Aliran ini memiliki tiga ajaran utama yaitu sujud,

wewarah tujuh (ajaran tujuh) dan sesanti. Ritual ibadah sujud yang

diyakini penganut kepercayaan Sapto Darmo adalah duduk bersila bagi laki-laki dan duduk bertimpuh bagi perempuan dalam posisi tenang membaca do’a dalam batin kemudian sujud menghadap kearah timur dilakukan pada malam hari. Ritual ini dilakukan minimal sehari sekali selebihnya dianggap sebagai keutamaan.

Wewarah pitu atau ajaran tujuh yang diyakini adalah:

a) Setia pada Allah yang Maha Agung, Maha Adil, Maha Rahim dan Maha Kuasa.

(15)

24 b) Jujur dan suci hatinya melakukan peraturan di negaranya. c) Turut serta menjaga berdirinya nusa dan bangsa.

d) Saling menolong siapa saja yang membutuhkan tanpa pamrih. e) Berani hidup dengan kemampuan sendiri.

f) Tingkah laku kepada masyarakat harus susila dengan halusnya budi pekerti.

g) Meyakini bahwa dunia tidak akan kekal dan selau berubah.15 Ajaran Sesanti atau semboyan dari aliran Sapto Darmo adalah selalu siap membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. Ibadah penganut Sapto Darmo dapat dilakukan secara pribadi dirumah atau secara bersama-sama di tempat ibadah yang disebut sanggar. Sanggar Candi Sapta Rengga merupakan pusat kegiatan kerohanian Sapta Darmo di Yogyakarta.

Menurut penganut Sapto Darmo segala sesuatu yang dilakukan sebagai ibadah. Akan tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah sujud, racut, ening, dan olah rasa. Sujud adalah ibadah yang paling utama, sedangkan racut adalah ibadah Hyang Maha Suci (roh manusia) menghadap Tuhan terlepas dari raganya sebagai bekal perjalanan roh setelah kematian. Ening adalah ritual semedi dengan memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Adapun olah rasa adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan jasmani.

15 Wawancara dengan Bapak Mitro Utomo tokoh penganut aliran kepercayaan Sapto

Darmo. lihat pada kitab tuntunan ajaran Dasa Warsa Sapto Darmo, pada tanggal 5 Mei 2018 pukul

(16)

25 Tuhan yang diyakini penganut aliran ini adalah Allah Hyang Maha Kuasa memiliki lima sifat luhur yang disebut Pancasila Allah, Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha

Wasesa dan Maha Langgeng. Hari raya aliran Sapto Darmo yaitu

pada tanggal I Syuro diperingati dengan cara merefleksi diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Penganut aliran kepercayaan ini masih ada hingga saat ini di Dusun Ngandong namun jumlahnya sedikit dan usia penganutya rata-rata diatas lima puluh tahun. Menurut penganut aliran ini mereka meyakini bahwa agama adalah suatu keyakinan yang diamalkan sesuai dengan kemantapan hati. Tujuan puncaknya ialah untuk mencapai ketenangan dan ketentaraman jiwa. Orang tua penganut aliran kepercayaan cenderung tidak melarang terhadap pilihan agama atau keyakinan anak keturunannya.16

2) Agama Katholik

Agama Katholik mulai masuk di pedukuhan Ngandong sekitar tahun 1969. Penyebaran agama Katholik tidak secara terang-terangan membawa misi agama, namun melalui pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berdirinya sekolah dasar Tarakanita Tritis desa Turgo (sekarang SD Sanjaya) adalah sekolah pertama dan satu-satunya yang terjangkau oleh masyarakat. Siswa tamat SD Tarakanita diarahkan melanjutkan SMP Aloysius, pada

16

Wawancara dengan Bapak Sugito tokoh masyarakat Girikerto Sleman pada tanggal 15 Mei 2018, pukul 14.00 WIB, tempat masjid Turi Sleman.

(17)

26 jenjang SMA diarahkan masuk SMA Kanisius. Pelajaran agama dan peribadatan yang diajarkan di sekolah kepada semua siswa adalah pelajaran agama Katholik, sehingga agama yang diketahui dan dianut siswa adalah agama Katholik. Sarana pendidikan berbasis agama Katholik telah masuk di daerah ini, namun sarana ibadah gereja tidak dibangun di Ngandong hingga sekarang.

Kondisi geografi pegunungan yang subur dan sejuk di Ngandong merupakan salah satu peluang bagi misionaris untuk mengembangkan perkebunan apel dan cengkeh di daerah ini selain menanam salak. Perkebunan yang dikelola oleh masyarakat dan kembali untuk masyarakat, secara ekonomis akan menguntungkan masyarakat setempat.

Upaya pengaliran air bersih kerumah-rumah sangat membantu masyarakat karena sebelumnya untuk mendapatkan air harus ditempuh dengan jarak yang cukup jauh. Bantuan yang diprakarsai oleh Romo Paroki membuat simpati masyarakat karena merasa banyak dibantu dan diperhatikan oleh pemuka agama Katholik. Sehingga mengubah pandangan dan keyakinan agama sebagian masyarakat yang dahulunya menganut aliran kepercayaan berpindah agama menjadi pemeluk agama Katholik. 17

3) Islam

17

Wawancara dengan Bapak Parjo Tokoh agama Tritis Ngandong. Pada Tanggal 15 Maret 2018, pukul 16.30 WIB, tempat di rumah Tritis.

(18)

27 Agama Islam mulai banyak dianut oleh masyarakat pedukuhan Ngandong sekitar tahun 1970an. Terjadinya islamisasi pada tahun itu disebabkan karena faktor pernikahan. Pasangan yang menikah dengan seorang muslim/muslimah melakukan konversi agama dari agama sebelumnya menjadi Islam atau menjadi muallaf.

Perhatian tokoh agama dan perguruan tinggi Islam terhadap dakwah Islam di daerah pedesaan mulai menyentuh masyarakat pedukuhan Ngandong. Pentingnya pemahaman agama Islam agar umat muslim faham dan menjalankan syariat Islam dalam setiap sendi kehidupan.

Pada tahun 1995 mulai didirikan masjid Ar-Rahman namun masyarakat setempat mengenal dengan sebutan masjid Muaz bin Jabal. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun di Tritis atas swadaya masyarakat dan bantuan dari IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga). Dimulailah pengajian umum setiap mingguan tepatnya dilaksanakan pada malam hari. Pengajian ini dipelopori oleh bapak Budi Ruhiatuddin salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga dan mendatangkan beberapa dosen UIN Sunan Kalijaga secara bergantian mengisi pengajian di Pedukuhan Ngandong.

Pengajian ini mendapat perhatian dan respon dari warga. Dari pengajian tersebut, selalu terjadi peningkatan jama’ah yang ingin mempelajari agama Islam. Estapet pembinaan agama dan

(19)

28 pengabdian masyarakat terus berlanjut dilakukan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai kampus Islam dengan menerjunkan mahasiswa KKN di Ngandong- Tritis dimulai pada tahun 2000. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2003, dan 2008. Kegiat an KKN lebih difokuskan pada pembinaan pendidikan agama Islam bagi masyarakat.

Perhatian lembaga pendidikan tinggi khususnya Universitas Islam terhadap pembinaan desa dan agama juga dilakukan oleh Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Secara geografis kampus UII terpadu paling dekat dengan Dusun Ngandong KecamatanTuri Sleman.

Berkembangnya Islam di Ngandong tidak terlepas dari kesadaran warga Ngandong yang menginginkan masyarakat muslim faham akan pengetahuan agama dan dapat menjalankan syariat Islam sesuai dengan tuntunan agama yang benar.

Perhatihan tokoh agama setempat atau disebut pak Rais adalah bapak Supardi warga RT 2 Dusun Ngandong. Beliau adalah warga asli Ngandong yang mempunyai perhatian dan tanggung jawab terhadap masalah-masalah agama dan kegiatan keagamaan di masyarakat seperti pelaksanaan idul fitri dan idul adha, penyelesaian jenazah, dan lain sebagainya. Awalnya pada tahun 1990 bapak Supardi mempelajari baca al Qur’an d a n berguru

(20)

29 langsung kepada K.H. As’ad Umam di Kota Gede Yogyakarta. Selain belajar baca al Qur’an dengan metode Iqro’ beliau belajar agama Islam kurang lebih selama dua tahun di Kota Gede Yogyakarta. Kemudian pulang kembali ke Ngandong membawa ilmunya serta mengajarkan kepada masyarakat, pada saat itu jumlah muslim di Ngandong masih sedikit.

Selain bapak Supardi tokoh agama dan tokoh masyarakat adalah bapak Parjo yang mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Tritis termasuk Pedukuhan Ngandong hingga saat ini. Bersama bapak Supardi pada tahun 1990 beliau belajar BCM d a n berguru langsung kepada K.H. As’ad Umam di Kota Gede Yogyakarta. Pulang dari Kota Gede, mereka mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Pendidikan Alqur’an (TPA) Pendirian TK dan TPA ini mendapat dukungan positif dari masyarakat serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Turi kemudian mengangkat bapak Parjo dan Supardi menjadi guru Yayasan Muhammadiyah di TK dan TPA.

Pada tahun 1995 di Tritis Pedukuhan Ngandong mulai didirikan masjid Muaz bin Jabal atas bantuan dari Yayasan Sinar Melati dan IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga). Bapak Parjo adalah takmir masjid Muaz bin Jabal. Masjid ini adalah pusat kegiatan keagamaan masyarakat diantaranya kegiatan TPA Masjid Muaz bin Jabal bagi anak-anak Tristis dilaksanakan tiga kali

(21)

30 dalam sepekan, pengajarnya ibu-ibu warga sekitar. Selain TPA di belakang masjid terdapat panti asuhan Muaz bin Jabal yang dikelola oleh bapak Parjo. Sebanyak 27 anak dari tingkat SD hingga SMA menjadi tanggung jawab panti asuhan. Salah satu donatur panti asuhan Muaz bin Jabal adalah CSR paket JNE untuk menopang biaya sekolah anak panti asuhan tersebut.

Kegiatan keagaman yang lakukan oleh masyarakat pedukuhan Ngandong adalah pengajian tahlil setiap malam jum’at yang diselenggarakan di kediaman bapak Parjo. Kegiatan pengajian umum selapanan (35 hari) hari Sabtu Wage diagendakan masyarakat bertempat dimasjid al-Karim Ngandong. Mengundang tokoh agama bapak Makmun Kholid dari Kecamatan Turi. Pengajian ini berisi tausiah dan mauidoh hasanah. Setiap bulan rutin diadakan mujahadah (tahlil, dzikir, dan yasinan) secara bergilir di rumah-rumah warga. Saat memperingati hari besar Islam diadakan pengajian akbar mengundang penceramah dari luar untuk memberikan tausiah agama bagi masyarakat pedukuhan Ngandong. Perhatian pemerintah terhadap dakwah Islam khususnya muallaf dilaksanakan oleh penyuluh agama KUA Kecamatan Turi. Ceramah yang disampaikan berisikan tentang penguatan akidah, sholat, sejarah nabi, makna Ramadhan, zakat, penerapan Islam di lingkungan keluarga. Pengajian ini dilakukan setiap bulan pada hari Selasa terpusat di Dusun Tunggularum Kecamatan Turi. Selain

(22)

31 ceramah agama juga dikuatkan dengan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Selain pengajian bagi muallaf dan muslim umumnya, pembinaan agama juga dilakukan pada anak usia dini. Hal ini sangat penting bagi anak-anak, maka diadakanlah kegiatan TPA yang dipelopori oleh lembaga dakwah kampus Pendidikan Agama Islam “Al-Farabi” UII setiap akhir pekan. Kegiatan TPA lebih intensif dilakukan pada saat bulan Ramadhan dimana relawan pengajar TPA lebih banyak ditambah kegiatan agama seperti lomba-lomba islami dan games yang menyenangkan bagi anak.

Masjid al-Karim satus-satunya sarana ibadah umat Islam di Dusun Ngandong Girikerto. Masjid al-Karim dididirikan pada tahun 2006 dan diresmikan oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr.HM. Amin Abdullah. Masjid ini dibangun diatas tanah wakaf bapak Adi Utomo warga Ngandong, bantuan dari UIN Sunan Kalijaga, bantuan dari para donatur dan swadaya masyarakat. f. Kebudayaan

Masyarakat pedukuhan Ngandong termasuk masyarakat pedesaan yang sangat kuat dengan nilai-nilai gotong royong, saling kerjasama dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan gotong royong aktif dilakukan warga setiap akhir pekan, misalnya membersihkan sarana umum, jalan, membangun dan merenovasi rumah warga yang rusak, serta kegiatan sosial lainnya.

(23)

32 Tradisi masyarakat masih sangat kuat mempercayai para leluhur atau orang sakti yang dianggap mampu membaca tanda-tanda alam. Menurut adat istiadat setempat dilarang melakukan acara hajatan pada hari Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon karena dikhawatirkan mendatangkan bencana.

Kebudayaan yang masih dipercayai masyarakat Ngandong yaitu

Grenda. Merupakan wadah budaya Jawa campuran Islam (kejawen)

yaitu ritual ibadah menyembah kepada Tuhan dengan cara kidungan atau nyayian Jawa dilaksanakan sesuai waktu kelahiran anak. Tradisi ini berasal dari karaton Yogyakarta tokohnya adalah Mawahyu Buwono. Kebudayaan ini lebih fokus berupa kegiatan seni tari, lukis, karawitan.

Kebudayaan lokal lain yang dikenal masyarakat setempat adalah wayang ketoprak, budaya Kobro Siswo yaitu gerakan jathilan dengan lagu bernafaskan Islam ditampilkan pada acara acara peringatan hari besar Islam.18

18

Wawancara dengan Bapak Supardi (pak rais) Tokoh agama Ngandong. Pada Tanggal 14 Maret 2018, pukul 16.00 WIB tempat di kediaman bapak Supardi di Ngandong.

(24)

33 C. Gambaran Umum Subyek Penelitian Muallaf

Subyek utama penelitian ini adalah muallaf dari Dusun Ngandong

Girikerto Kecamatan Turi Sleman. Berikut data jumlah muallaf di Dusun Ngandong 19

Tabel 8 Jumlah Muallaf Dusun Ngandong

No RT Jumlah Muallaf Keterangan

1. RT 01 2 Muallaf

2. RT 02 8 Muallaf

3. RT 03 7 Muallaf

4. RT 04 2 Muallaf

Total 19 -

Dari data tabel diatas menunjukkan bahwa terdapat 19 muallaf atau 30% dari 69 muslim di Ngandong. Dari 19 orang muallaf terdiri dari 12 muallaf perempuan dan 7 orang muallaf laki-laki. Dapat disimpulkan bahwa muallaf perempuan lebih banyak dari pada muallaf laki-laki.

Dari hasil survei peneliti bahwa sebagian besar muallaf adalah sebelumnya penganut Katholik. Motif pindah agama adalah karena pernikahan, mendapat hidayah dari Tuhan, serta ajakan dari keluarga muslim. Karena luasnya pedukuhan Ngandong peneliti memfokuskan penelitian studi kasus pada lima muallaf sebagai informan primer di Ngandong yang mempunyai latar belakang menjadi muallaf dengan alasan yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini penulis mewawancari muallaf bagaimana proses pengalaman masuk Islam, pengalaman ikut pembinaan agama Islam dan kegiatan pendukung lainnya serta penerapan agama Islam dalam

19

Wawancara dan observasi dengan Ibu Dukuh Ngandong tanggal 7 Maret 2018 Pukul 14.00 WIB di rumah bu Dukuh Dusun Ngandong.

(25)

34 kehidupannya. Subyek lain adalah informan yang dipilih secara social

mapping dari kalangan tertentu yang dianggap menguasai dan faham tentang

latar belakang agama dalam pembinaan muallaf. Secara keseluruhan subyek penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Daftar Subyek Penelitian a. Data informan primer

No Nama Status/ Jabatan

1. Yunantini Muallaf, pengusaha buah

2. Ngadimin, Muallaf, kepala Dusun Ngandong

3. Agus Setiawan, Muallaf, pengusaha bambu

4. Jana Sugiati Muallaf, karyawan toko

5. Ngatini Muallaf, ibu rumah tangga

b. Data informan

1. Supardi Rois Tokoh agama Ngandong- Tritis

2. Parjo Tokoh agama Ngandong- Tritis

3. Sugi Takmir masjid Ngandong

4. Mitro Utomo Tokoh aliran kepercayaan Sapto Darmo 5. Ani Sulistyowati Muallaf, mantan guru SD Katholik Tarakanita 6. Sabar Sediono Pengelola Sosial Lingkungan Turi

7. Lilis Widayasih Pengelola PAUD dan pengajian Yayasan Mutiara Qolbu Turi

8. Sugito Tokoh Masyarakat

9. Dra. H.Siti Aminah Penyuluh Agama KUA Kec. Turi

10. Widodo, S.Ag. M.S.I Penyuluh Agama KUA Kec. Pakem, Pendiri Yayasan Mutiara Qolbu

11. dr. Sunarto, M.Kes Dosen FK UII, relawan dakwah sosial

12. Khoirul Fahmi, M.Pd.I Divisi Pendidikan dan Pengembangan Dakwah DPPAI UII

13. Fathur Al Katitanji Divisi Pengkajian dan Pengembangan Agama Islam DPPAI UII

(26)

35 D. Strategi Pembinaan Lima Muallaf di Dusun Ngandong

Strategi pembinaan muallaf di Dusun Ngandong Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. 20

1. Melalui Pendekatan Psikologi

Muallaf yang baru masuk Islam harus dikuatkan jiwanya. Setelah masuk Islam kewajiban sesama muslim untuk mengajarkan dan membimbing ajaran agama Islam kepada mereka. Cara penyampaian materi agama bagi muallaf adalah melalui pendekatan personal (person to

person) agar seorang muallaf lebih privasi dan leluasa bertanya kepada

pembina tentang ajaran agama Islam yang baru dianutnya. Penyampaian dengan metode aktif learning dalam pembinaan kepada muallaf dapat dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan hambatan yang dialami muallaf sehingga mendapatkan solusi yang tepat dari pembina.

Menurut Jalaluddin, sikap keagamaan terbentuk oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern manusia seperti naluri, akal, perasaan memiliki potensi agama pada dirinya. Namun potensi tersebut memerlukan bimbingan dan pengembangan diri dari lingkungannya. Lingkungannya pula yang mengenalkan seseorang akan nilai-nilai dan norma-norma agama yang harus jalani. Faktor ekstern seperti rasa takut ketergantungan rasa bersalah. Dalam kehidupan manusia pengaruh

20 Wawancara dengan Bapak Widodo S.Ag., M.S.I Penyuluh Agama KUA Kec. Pakem.

Pendiri Yayasan Mutiara Qolbu. Pada Tanggal 16 Mei 2018, pukul 12.55 WIB, tempat di KUA Pakem.

(27)

36 psikologi membentuk keyakinan dalam dirinya dan menampakkan pola tingkah laku sebagai realisai dari keyakinan tersebut.21

2. Melalui Pendekatan Sosial Religious

Masjid adalah sarana ibadah bagi umat muslim, selain sebagai sentral tempat ibadah, fungsi masjid dapat dijadikan sebagai sarana kegiatan keagaman dan sosial lainnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yayasan Mutiara Qolbu menjadikan masjid sebagai pos kesehatan umat. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memakmurkan masjid dan menjamin kesehatan para jama’ah. Program ini bekerja sama dengan lembaga kesehatan Rumah Sehat BAZNAS dan PKU Muhamadiyah dalam acara pengajian di masjid. Pelakasanaan agenda khusus muallaf seperti yang dilakukan oleh Penyuluh agama dari KUA dan Yayasan Mutiara Qolbu mengadakan acara “Gebyar Muallaf“. Pada pelaksanaan acara tersebut mengundang pejabat pemerintah agar para muallaf mendapat perhatian khusus dari pejabat setempat. Adapun kegiatan acara “Gebyar Muallaf“ terealisasi pemberian bantuan berupa bebek mentok kepada 200 KK, acara khitanan masal sebanyak 58 anak, pemberian sembako untuk 200KK, baksos pakaian baru, gelar potensi muallaf bagi muallaf yang kreatif dan mampu membuat industri olahan seperti bahan singkong, salak ditampilkan di stasiun televisi TVRI Yogykarta agar menjadi inspirasi bagi muallaf yang lain.

21

Jalaluddin, Psikologi Agama, Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, cet. Ke-16, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 257-258

(28)

37 Mengadakan penyembelihan hewan qurban bersama serta pembagian zakat fitrah yang diakumulasikan khususnya wilayah Sleman Utara, untuk diberikan kepada muallaf Turi dan Pakem.

3. Pemberdayaan Ekonomi bagi Muallaf, Fuqarā’ dan Masākīn

Suatu hal yang mendasar dalam perbaikan tatanan kehidupan manusia adalah perbaikan tatanan ekonomi. Dalam Islam tatanan ekonomi bersendikan beberapa nilai dasar yakni nilai kemanfaatan, nilai prinsip keseimbangan yang menyangkut kepentingan perorangan maupun kepentingan umum yang harus dipelihara, dan nilai keadilan. 22

Pengembangan ekonomi berbasis zakat santunan kepada masyarakat khususnya bagi muallaf, fuqarā’ dan masākīn dilakukan dengan pemberian modal bergulir. Masyarakat yang telah siap mengembangkan usaha diberikan modal tiap orang tiga juta rupiah. Akad pengembalian modalnya adalah dengan cara berinfak sebesar tiga ribu rupiah setiap hari di masjid, dana ini kemudian dikelola oleh pengurus masjid. Setelah uang infak modal telah terkumpul, dikembangkan lagi untuk orang lain yang ingin mengembangkan usahanya. Dengan harapan seorang muallaf dulunya menjadi mustahiq atau penerima zakat, suatu saat ia akan menjadi muzzaki atau pemberi zakat.

Dana dari BAZNAS untuk pemberdayaan ekonomi umat kurang lebih tiga ratus juta pertahun. Dana tersebut dikembangkan untuk usaha lokal masyarakat setempat seperti ternak, bengkel, budidaya jamur dan

22

Moh. Ali Aziz, dkk, Dakwah Pemberdayaan Masyarakat Paradigma Aksi Metodotologi, cet. Ke-2, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009), hlm. 28-30

(29)

38 olahan makanan dari jamur, olahan salak (sarisa) untuk membantu meningkatkan usaha perekonomian masyarakat. Sangat disayangkan jika dana tersebut tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik dan bijak.

Mengadakan pelatihan keterampilan usaha kecil keluarga atau kelompok tani misalnya pengeloaan daur ulang sampah menjadi barang yang bisa dipakai dan dan dijual seperti dompet, tas, dari bungkus minuman, membuat kerajian dari bambu, mengolah tanaman di pekarangan rumah menjadi keripik kelor, kerpik bayam, salak dibuat manisan salak, dan pelatihan packaging modern serta memberikan bantuan alat packaging mesin agar makanan atau minuman kemasan yang dibuat memiliki harga jual ekonomis yang lebih tinggi. Selain kegiatan tersebut di atas, pembina juga mengajak warga untuk melatih skill lainnya seperti pelatihan menjahit bekerjasama dengan DPLK agar mereka lebih mandiri.

4. Kaderisasi Pemuda

Kaderasi pemuda dilakukan untuk membelajarkan kepada generasi penerus selanjutnya agar lebih baik dan berkembang dari generasi sebelumnya. Maka atas inisiasi masyarakat Turi dibuatlah forum KMG (Kaderisasi Muslim Girikerto), Forsilmi (Forum Silaturahmi Masyarakat Muslim). Para pemuda dibina dan dikuatkan agamanya dengan berkumpul dan sharing masalah agama bersama organisasi masyarakat seperti: MTA, NU, Muhamadiyah, dan LDII.

(30)

39 5. Melalui Pendekatan Sosial

Program pendampingan melalui pendekatan sosial merupakan strategi yang menentukan keberhasilan pemberdayaan masyarakat, karena membantu orang agar mampu memperdayakan dirinya sendiri atau memilik etos. 23

Pendekatan sosial dilakukan dengan memetakan kebutuhan masyarakat, misalnya masalahnya kesehatan, masyarakat pegunungan masih percaya kepada pengobatan alternatif dari pada pengobatan medis, sehingga mereka enggan memerisa kesehatan ke rumah sakit, atau ke dokter. Sebagai bentuk pengabdian masyarakat dilakukan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan bekerja sama dengan fakultas kedoteran UII melakukan yang dilakukan setiap bulan khususnya bagi lansia. Di samping penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan secara jasmani, ditamankan kepada mereka pentingnya merawat kesehatan mental spiritual.

6. Lembaga Dakwah Kampus

Lembaga Dakwah Kampus menjadi wadah gerakan dakwah kampus, menjadi ruang alternatif bagi masyarakat kampus untuk belajar Islam, menjadi mitra pihak universitas secara akademik, dan menjadi ruang penyalur minat dan bakat mahasiswa. Lembaga Dakwah Kampus tidak hanya berperan di kampus saja akan tetapi juga berperan di luar kampus. Dalam hal ini LDK UII adalah lembaga dakwa kampus yang mempunyai

23

Asep Aripudin, Pengembangan Metode Dakwah (Respon Da’i Tehadap Dinamika Kehidupan Beragama di Kaki Cermai), (Jakarta: RajaGrafindo Persanda, 2011), hlm. 188

(31)

40 sasaran dakwah dan pendidikan agama Islam di sekitas wilayah kampus. Adapun salah satu program LDK adalah ikut dalam pembinaan dan pendidikan agama Islam terhadap anak-anak di dusun Ngandong. Bentuk kegiatannya adalah mengajarkan TPA di masjid yang bertujuan untuk mendidik karakter generasi Islam dan menanankan nilai-nilai keislaman sejak dini.

E. Pola Pembinaan

1. Pengertian Pola Pembinan

Menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia pengertian pola adalah suatu bentuk (stuktur) yang tetap, sistem; cara kerja sesuatu. Pengertian pembinaan adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.24 Sedangkan menurut Berger dan Luckmann pembinaan adalah habitualisasi atau proses pembiasaan sebagai tindakan yang berulang yang pada akhirnya menjadi suatu pola dan dipahami oleh pelakunya.25

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pola pembinaan adalah bentuk usaha dan tindakan yang dilakukan secara efisien berupa pendampingan, pengawasan, pembiasaan, mengubah sesuatu agar menjadi lebih baik, yang dilakukan secara efektif, terencana dan terarah untuk mencapai suatu tujuan.

24

Badudu, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Lengkap, (Jakarta: Cijago Pers, 2002), hal. 316.

25

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan, (Jakarta: LP3ES, 2012), hlm. 72.

(32)

41 Adapun pola pembinaan dalam konteks pembinaan muallaf adalah rangkaian kegiatan dilakukan secara efektif dan kontinyu dalam upaya memberikan pemahaman dan pendidikan ajaran agama Islam kepada muallaf sehingga mereka faham dan mampu melaksanakan ajaran agama Islam dan menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan.

2. Metode Pembinaan

Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara) sehingga metode dapat diartikan metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. 26

Berikut metode pembinaan yang dilakukan untuk pembinaan mullaf . 27

a) Metode Personal approach

Metode personal approach adalah pendekatan secara langsung kepada setiap pribadi muallaf. Dalam metode ini diadakan dialog langsung untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan pemecahan masalah muallaf dari segi penghayatan dan pengamalan agama.

b) Metode Konsultasi

Metode konsultasi yaitu kegiatan meminta nasehat seorang yang dipandang ahli dan mampu memberikan nasehat tentang permasalahan yang dihadapinya. Dalam hal ini muallaf yang datang kepada tokoh agama atau lembaga agama untuk meminta nasehat dan bimbingan ajaran agama Islam.

26 M. Munir, Metodde Dakwah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2015), hlm.6 27

Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan Muallaf, (Jakarta: Kemenag Pusat, 1998), hlm.26-31

(33)

42 c) Metode Ceramah

Metode ceramah adalah metode yang disampaikan da’i secara lisan dilakukan kepada banyak orang dengan tujuan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Metode ini paling banyak digunakan dalam berdakwah karena lebih efisien.

d) Metode Haloqoh

Metode halaqoh disampaikan dalam kelompok kecil seperti ceramah dipandu oleh seseorang yang lebih faham ilmu agamanya. Metode ini bersifat dialog atau bersifat interaktif. Pendengar dapat bertanya langsung dengan pembicara dalam forum tersebut.

e) Pengunaan Audio Visual

Metode audio visual pada zaman modern ini banyak digunakan dalam metode pengajaran. Cara ini dapat dilakukan memberikan edukasi melalui pemutaran fim, media radio, internet yang dapat mengakses informasi yang lebih luas mengenai ajaran dan keilmuan Islam.

3. Bentuk Pembinaan

Bentuk pembinaan yang dilakukan oleh pembina terbagi dalam dua bentuk, yakni pembinaan dalam bentuk klasikal dan individual. Beri-kut adalah penjelasan dari masing-masing bentuk pembinaan. 28

28

Noorkamilah, Pembinaan Muallaf; Belajar Dari Yayasan Ukhuwah Muallaf (yaumu). Yogyakarta: Jurnal PMI Vol. XII. No. 1, September 2014.

(34)

43 a) Pembinaan Individual

Pembinaan individual adalah pembinaan yang dilakukan secara privat, satu pembimbing satu muallaf, seperti pembinaan baca al-Qur’an. Beberapa muallaf meminta untuk membimbing mereka membaca al-Qur’an.

b) Pembinaan Klasikal.

Proses pembinaan klasikal dilakukan layaknya sebuah majlis

taklim. Dalam proses pembinaan klasikal semua muallaf atau peserta pembinaan membentuk formasi melingkar, termasuk pembina ada diantara mereka. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembinaan klasikal seperti ini sekitar 1,5 jam.

c) Pembinaan Bersama

Pembinaan model ketiga ini, yakni pembinaan bersama,

di-maksudkan untuk pembinaan klasikal, akan tetapi dari sisi materi merujuk kepada permasalahan individu, sedangkan dari sisi strategi penyelesaian masalah, dilakukan secara bersama-sama antara semua peserta dan pembina. Model pembinaan bersama ini dilakukan secara berkala setiap bulan sekali dalam sebuah forum membentuk lingkaran besar, dilakukan semacam sharing antar individu.29

Masing-masing muallaf atau peserta diberi kesempatan yang sama untuk mengungkapkan berbagai masalah, hambatan atau rintangan, serta kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan kehidupan

29

Wawancara dengan Ibu Lilis Widiyasih Pengelola PAUD dan Pengajian Mu’alaf Pada Tanggal 7 April 2018 Pukul 11.30 WIB tempat di rumah Tunggularum Sleman.

(35)

44 sehari-hari. Akan tetapi solusi atas apa yang menjadi permasalahan tersebut ditawarkan kepada seluruh peserta yang hadir.

4. Fungsi Pembinaan Agama

Masalah agama tidak mungkin dapat dipisahkan dari masyarakat. Bentuk ikatan antara agama dan masyarakat memiliki fungsi untuk mengatur norma-norma dalam kehidupan. Menurut Jalaludin dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat adalah:

a) Berfungsi edukatif

Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur ini mengarahkan agar menjadi pribadi yang baik.

b) Berfungsi penyelamat

Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan didunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para penganutnya melalui pengenalan masalah sakral berupa keimanan kepada Tuhan.

c) Berfungsi sebagai perdamaian

Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa bersalah dan berdosa menjadi hilang apabila seseorang menebus dosa dan kesalahannya melalui tobat, pensucian ataupun penebusan dosa.

(36)

45 d) Berfungsi sosial kontrol

Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu maupun kelompok.

e) Berfungsi transformatif

Ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang. Kehidupan baru yang diterimanya berdasarkan ajaran agama baru yang dianutnya kadangkala mengubah kesetiannya kepada adat atau norma kehidupan yang dianut sebelumnya.30

F. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pengertian pendidikan secara umum menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan dalam bidang keagamaan adalah kegiatan di bidang kegamaan dan pengajaran dengan sasaran utama memberikan pengetahuan keagamaan dan menanamkan sikap hidup beragama.31

Agama adalah jalan hidup yang memberikan arah dalam segala lini kehidupan, berfungsi sebagai agent of mental spriritual power dan sebagai agent of social and cultural change bagi masyarakat.

Islam dari kata “salama” artinya patuh atau menerima kata dasarnya “salima “ yang berarti sejahtera, tidak tercela, tidak cacat. Dari

30

Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hlm.286-287 31https://kbbi.web.id> pendidikan

(37)

46 kata tersebut terbentuk kata masdar salamat (dalam bahasa Indonesia selamat). Dari kata-kata salm, silm yang berarti kedamaian, kepatuhan, penyerahan (diri). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa arti yang terkandung dalam perkataan Islam adalah kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan (diri), ketaatan dan kepatuhan.32

Menurut A. Hasan, agama Islam adalah kepercayaan buat keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat yang diwahyukan Allah kepada manusia dengan perantaraan rasul. Atau agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang diturunkan dalam al-Quran dan tertera didalam as-Sunnah, berupa perintah, larangan dan petunjuk untuk keselamatan dunia dan akhirat.33

Pendidikan agama Islam termasuk relevated knowladge yaitu ilmu pengetahuan yang diwahyukan. Pendidikan Agama Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu system pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideology Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan Pendidikan Islam dengan “Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan cara

32 Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, cet.ke-12,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 49.

33 Aminuddin dkk, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hlm. 37.

(38)

47 pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.34

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpukan bahwa pendidikan Islam adalah “Proses transinterlisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada individu melalui uapaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. 2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Dalam pembahasan ini penulis menitik beratkan tujuan pendidikan agama Islam dalam masyarakat. Munir Mursi (1977: 18-19) menjabarkan tujuan pendidikan Islam adalah bahagia di dunia dan akhirat, menghambaan diri kepada Allah, memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam serta berahlak mulia.35 Tujuan pendidikan Islam memiliki beberapa prinsip yaitu:

a) Prinsip universal (syumuliyah). Prinsip yang memandang keseluruhan aspek agama (akidah, ibadah, ahlak serta mua’malah), manusia (jasmani, rohani, dan nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagad raya dan hidup.

b) Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun wa iqtishadiyah). Prinsip ini adalah bentuk keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pribadi dan kebutuhan komunitas.

34 Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Falsafah pendidikan Islam, terj. Hasan langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979),hlm. 399

(39)

48 c) Prinsip kejelasan (tabayun). Prinsip ini terdapat ajaran dan hukuman yang memberi kejelasan terhadap jiwa manusia berupa hati, akal dan hawa nafsu.

d) Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan pendidikan serta di dukung oleh lingkungan. 36

3. Sistem Pendidikan Agama Islam

Sistem adalah suatu sarana yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Sistem Pendidikan Agama Islam yang mencakup pendidikan formal, non formal maupun pendidikan di masyarakat. Dalam hal ini penulis memfokuskan sistem pendidikan agama Islam di masyarakat dengan sistem pendekatan yang intergalistik yaitu:

a) Pendekatan Psikologis

Pendekatan psikologis yaitu memberikan pemahaman dan pengajaran agama Islam sesuai dengan kondisi psikologi. Misalnya dari sisi usia, cara penyampaian materi agama untuk remaja dengan orangtua. Karena daya serap dan kemampuan melaksanakan dari materi yang disampaikan tentunya berbeda. Selain berdasarkan usia, perlu diperhatikan berdasarkan latar belakang seseorang. Misalnya seseorang yang baru masuk Islam (muallaf) atau seseorang yang baru “hijrah” meyakini Islam perlu pendekatan khusus secara psikologi untuk memahamkan dan mengajarkan agama Islam agar sampai dan diterima oleh mereka.

36

(40)

49 b) Pendekatan Sosiokultural

Pendekatan sosiokultural adalah pendekatan yang dilakukan agar masyarakat bersikap aktif dan interaktif sesuai dengan budaya dan tradisi lingkunganya. Mengemas budaya agar dapat diinternalisasi kedalam nilai-nilai keislaman. Seperti para Wali Songo dalam penyampaian dakwahnya bersahabat dan akrab dengan lingkungan sosiokultural (di Jawa) dakwah melalui pendekatan seni wayang, gamelan, suluk yang digemari masyarakat, sehingga tidak timbul benturan sosiokultural dengan unsur-unsur tradisional yang telah mapan dalam masyarakat. Namun secara bijaksana dan bertahap lingkungan sosiokultural dapat diubah sesuai dengan tuntuan agama. 4. Keutamaan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam tampil melalui tujuan yang syarat dengan konsepsi ketuhanan. Suatu konsep yang berhubungan dengan ketuhanan memiliki berbagai keutamaan yaitu:

a) Bersumber pada kesempurnaaan ilahi sehingga pendidikannya pun sempurna. Kesempurnaan itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Pendidikan Islam mampu menjauhkan manusia dari kekurangan dan mengarahkan pada keutamaan dan kebaikan, baik manusia sebagia makhluk individu maupun makhluk social.

b) Meliputi segala kehidupan manusia sehingga bersifat universal

c) Bersumber dari keberadaanya disisi Allah sehingga dapat eksis dan lestari sepanjang masa.

(41)

50 d) Sangat selaras dengan fitrah kemanusian artinya dalam aplikasi tidak menghilangkan segala potensi manusia. Manusia yang memiliki kecendrungan nafsu, syahwat atau dorongan naluriah dan memiliki akal. Dengan demikian tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan seluruh potensi tersebut kearah yang lebih ideal yaitu penghambaan diri kepada Allah SWT.

e) Mengantarkan manusia kepada keseimbangan keselarasan serta keharmonisan hubungan antar aspek.

f) Sangat realistis, mudah diaplikasikan dan berpengaruh pada perilaku seluruh manusia walupun berasal dari berbagai budaya dan usias yang berbeda.

g) Sangat elastis sehingga selalu relefan dengan berbagai situasi dan kondisi manusia walaupun berbeda waktu wilayah atau pola hidup yang bervariasi.37

G. Muallaf

1. Pengertian Muallaf

Muallaf berasal dari kata bahasa arab muallafah adalah bentuk jamak dari kata muallaf yang berasal dari kata al- ulfah, maknanya adalah menyatukan, melunakkan, menjinakkan. Berdasarkan firman Allah dalam Q.S. At-Taubah [9]: 60.

... ۡمُهُبىُلُق ِةَفَّلَؤُم ۡلٱَو اَهۡيَلَع َنيِلِم ََٰعۡلٱَو ِنيِك ََٰسَمۡلٱَو ِءٓاَرَقُفۡلِل ُتََٰقَدَّصلٱ اَمَّنِإ

37 Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani), hlm. 131-133.

(42)

51 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,

orang- orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya….”

Menurut Mushtafa Al-Maraghy Muallaf kaum yang dikendaki, agar hatinya cenderung atau tetap kepada Islam, menghentikan kejahatannya terhadap kaum muslimin, atau diharapkan memberi manfaat dalam melindungi kaum muslimin atau menolong mereka terhadap musuh. Muallaf terbagi menjadi dua golongan yaitu: Pertama: kaum kafir yang diharapkan akan beriman dengan membujuk hatinya, seperti Shafwan bin Ummayah yang diberi keamanan oleh Nabi saw saat penaklukan Mekkah. Kedua: kaum yang keislamannya masih lemah. Dengan pemberian ini diiharapkan keislaman dan keimanannya menjadi kuat.38

Dari pengertian di atas dapat disimpukan bahwa muallaf adalah orang yang dicondongkan hatinya pada Islam yaitu beralih agama dari agama tertentu maupun kepercayaan tertentu ke dalam Islam.

2. Golongan Muallaf

Menurut Yusuf Qardawi, macam-macam golongan muallaf yaitu: Pertama, golongan yang diharapkan keislamannya atau keislaman kelompok serta keluarganya. Kedua, golongan yang dikhawatirkan kelakuan jahatnya. Ketiga, golongan orang yang baru masuk Islam. Mereka perlu diberikan santunan agar bertambah mantap keyakinannya terhadap Islam. Keempat, pimpinan dan tokoh masyarakat yang telah memeluk Islam yang mempunyai sahabat-sahabat orang kafir. Kelima,

38

Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra Persada, 1987), hlm. 241

(43)

52 pimpinan dan tokoh kaum muslimin yang berpengaruh dikalangan kaumya akan tetapi imannya masih lemah. Keenam, kaum muslimin yang bertempat tinggal di benteng- benteng dan di daerah perbatasan dengan musuh. Ketujuh, kaum muslimin yang membutuhkannya untuk mengurus zakat orang yang tidak mau mengelurkan, kecuali dengan paksaan seperti dengan diperangi. Semua kelompok tersebut di atas termasuk dalam pengertian golongan muallaf, baik mereka yang muslim maupun yang kafir. 39

3. Teori Konversi Agama

Konversi berasal dari kata conversion yang berarti berarti: tobat, pindah, berubah. Dalam bahasa Inggris bahasa Inggris conversion mengandung pengertian; berlawanan arah, berubah dari suatu kedaan, atau dari suatu agama ke agama yang lain. Konversi agama adalah diartikan sebagai bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk kedalam agama.40

Menurut Zakiah Daradjat berdasarkan proses kejiwaan dimasa ketidaktenangan dikarenakan suatu krisis, musibah maupun perbuatan dosa yang dialaminya hal ini menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan batinnya. Rasa gelisah, putus asa dan ragu dan bimbang menyebabkan orang lebih sensitif dan sugesibel sehingga mulai terjadi proses pemilihan terhadap ide atau kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya. Setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin telah

39

Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, jilid 2, (Pustaka Nasional), hlm. 563-566

40 Jalaluddin, Psikologi Agama, Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, cet. Ke-16, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 379

(44)

53 terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesedian menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk Ilahi. Ketenangan batin yang dilandaskan suatu perubahan sikap kepercayaan yang bertentangan dengan sikap kepercayaan sebelumnya, maka terjadilah proses konversi agama

Tiap-tiap konversi agama melaui proses-proses jiwa yaitu: a) Masa tenang artinya, masa tenang sebelum mengalami konversi dimana

sikap, tingkah laku dan sifat sifatnya acuh tak acuh atau menentang agama.

b) Masa ketidaktenangan; konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya gelisah, putus asa, tegang, panik dan sebagainya, baik disebabkan moralnya, kekecewaan atau oleh juga. Pada masa tegang gelisah, dan konflik jiwa yang berat itu, bisanya orang mudah perasa, cepat tersinggung dan hampir-hampir putus asa dalam hidupnya dan kena sugesti.

c) Peristiwa konversi itu sendiri setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka terjadilah peristiwa konversi itu sendiri. Orang tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan.

d) Keadaan tentram dan tenang. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah telah dilalui, maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa aman dalam hati, tidak lagi dosa yang tidak diampuni. Tuhan; tiada kesalahan yang patut disesali, semuanya telah berlalu

(45)

54 segala persoalan menjadi enteng dan terselesaikan. Hati lega tiada lagi yang perlu disesali.

e) Ekspressi konversi dalam hidup. Tingkat terakhir dari konversi adalah pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelaukan, sikap, dan perkataan, dan seluruh jalan hiduppnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan dalam agama. 41

4. Faktor-Faktor Penyebab Konversi Agama.

Terjadinya konversi atau pindah agama disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhuinya. Adapun faktor yang melatar belakangi timbulnya konversi agama faktor yaitu internal dan eksternal.

a) Faktor Internal

Tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian William James ia menemukan bahwa tipe melankolis yang memiliki rentetan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.

b) Faktor Eksternal 1) Keluarga

Terjadinya keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kurang mendapatkan pengakuan dari kaum kerabat dan lainnya. Kondisi demikian menyebabkan seorang mengalami tekanan batin sehingga memutuskan konversi agama untuk meredakan tekanan batin pada dirinya.

41

Zakiah Daradjad, Ilmu Jiwa Agama, cet. Ke-4, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 164-165.

(46)

55 2) Lingkungan tempat tinggal

Orang yang merasa tersingkir dari lingkungan tempat tinggal di suatu tempat merasa hidupnya sebatangkara. Keadaan demikian menyebabkan seorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahannya hilang. 3) Perubahan status

Perubahan stastus terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya: pernikahan dengan orang yang berlainan agama, perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan.

4) Kemiskinan

Kondisi sosial ekonomi yang sulit merupakan salah satu faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyrakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan yang mendesak akan sandang dan pangan juga dapat mempengaruhi keyakinannya.

Para pakar agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi, pengaruh supranatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada seseorang atau kelompok. Sedangkan menurut para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh

(47)

56 kondisi pendidikan. Suasana lingkungan pendidikan dapat mempengaruhi konversi agama.

Para ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu sendiri terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

a) Pengaruh hubungan antara pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang kebudayaan yang lain).

b) Pengaruh kebiasaan rutin yang dilakukan secara rutin hingga terbiasa misalnya menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan yang bersifat keagamaan.

c) Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang terdekat misal keluarga, family.

d) Pengaruh pemimpin agama

Hubungan yang baik dengan pemimpin agama merupakansalah satu faktor pendorong konversi agama.

e) Pengaruh kekuasaan pemimpin yaitu pengaruh kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Masyarakat cenderung menganut agama yang dianut oleh kepala negara atau raja mereka.42

42

Jalaluddin, Psikologi Agama, Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, cet. Ke-18, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2016), hlm. 333

(48)

57 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode dapat diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian sendiri dapat diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta dan prinsip-prinsip dengan tekun, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran.43 Menurut Hasan Iqbal, metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan yang mencakup prosedur dan tehnik penelitian.44

Supaya penelitian ini memperoleh hasil yang tepat dan akurat tentunya dibutuhkan metode yang tepat pula. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yakni meneliti informan sebagai subyek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya.45 Penelitian ini merupakan penelitian lapangan tentang pola pembinaan dan pendidikan agama Islam pada lima muallaf, maka penelitian ini lebih bersifat deskriptif analisis. Metode ini bertujuan untuk menguraikan suatu keadaan objek penelitian melalui analisa dan interpretasi data di lapangan untuk mengemukakan fakta (fact finding). Beberapa aspek tertentu dalam kehidupan

43

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bina Aksara, 2004), hlm. 24.

44

Hasan Iqbal, Pokok-Pokok materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta: Ghalia Indonesia), 2002,hlm.21.

45

Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, Pendekatan Kuantitatif dan kualitatif, (Yogyakarta : Erlangga, 2009), hlm. 23.

Gambar

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Tabel 2. Tingkat Jenjang Pendidikan
Tabel 4. Jenis Pekerjaan            D a t a d
Tabel 6. Sarana Umum
+3

Referensi

Dokumen terkait

Aktivitas antimikroba terhadap E.coli Indikator waktu inkubasi optimum adalah waktu dimana senyawa antimikroba bakteriosin diproduksi optimal yang ditandai dengan

Setelah melakukan survei kepada 140 anak dari kelas 1 – kelas 5, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar anak–anak dari SD Tarakanita 4 Pluit sangat

Dengan menulis kegiatan sehari-hari, siswa dapat menceritakan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di sekolah.. Dengan mengamati alat timbang, siswa dapat menyebutkan ukuran

Artikel yang diajukan ke Jurnal Farmasi Udayana belum pernah dipublikasikan sebelumnya (kecuali dalam bentuk abstrak atau sebagai bagian dari skripsi), tidak dalam

Berns (2011:115) menjabarkan bahwa pengasuhan berarti menerapkan serangkaian keputusan tentang sosialisasi anak-anak, hal yang akan dilakukan orang tua untuk membentuk anak

Dapat dimulai dengan membuka usaha sederhana dengan jadi distributor maupun agen resmi dari Cv.Surga Bisnis ﴾Surga Pewangi Laundry﴿.. BERIKUT INI MARKET PASAR

Dari tabel 4.2 yaitu tabel WISN diatas diketahui bahwa perhitungan standar beban kerja dengan rumus beban kerja dalam satu tahun berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas berkah dan limpahan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul