METODOLOGI PENELITIAN
6.2. Dampak Pariwisata Terhadap Gaya Hidup
6.2.5. Pola Pemilikan Barang Sekunder Pengrajin Logam
Penghitungan materi yang terdapat di masyarakat pedesaan, selain dapat dilihat dari tipe atau bentuk bangunan rumah juga dilihat dari isi atau kepemilikan barang elektronik. Karena barang elektronik termasuk ke dalam peralatan dan perlengkapan hidup manusia. Pemilikan barang-barang elektronik dapat digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memiliki barang tersebut secara ekonomis. Sehingga dapat dikatakan seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi akan berbanding lurus dengan pemilikan barang sekunder tersebut
Lapisan sosial yang terdapat dalam rumah tangga pengrajin, terbukti secara nyata bahwa semakin tinggi tingkatan atau lapisan seseorang dalam komunitas pengrajin maka semakin tinggi pula tingkat penguasaan barang-barang elektronik yang dimilikinya. Semua rumah tangga responden pengrajin lapisan atas atau sebesar 100 persen responden memiliki barang elektronik dengan kategori baik atau lebih. Jumlah minimal jenis elektronik yang dimiliki pengrajin lapisan atas adalah televisi, radio tape, CD player, dan kulkas atau empat jenis barang elektronik. Demikian juga dengan pengrajin lapisan menengah, sebanyak tujuh dari 10 responden lapisan menengah atau 70 persen rumahtangga responden memiliki barang elektronik dengan kategori yang sama. Sebaliknya, kebanyakan pengrajin lapisan bawah kurang atau cukup memiliki barang elektronik. Sebanyak 40 persen responden lapisan bawah hanya memiliki televisi dan radio tape. Sedang sebesar 50 persen responden lapisan bawah memiliki tiga jenis barang elektronik. Hal tersebut menunjukkan bahwa lapisan sosial pengrajin berhubungan dengan pemilikan barang elektronik.
Kepemilikian barang elektronik dengan lapisan sosial dalam pengrajin juga memiliki hubungan dengan penguasaan alat komunikasi. Alat komunikasi mulai masuk ke dalam Kelurahan Purbayan sejak tahun 1995-an. Pada tahun tersebut hanya
beberapa rumah tangga pengrajin yang memiliki pesawat telepon. Tetapi sejak mulai maraknya telepon gengam atau HP, masyarakat lebih memilih menggunakan atau membeli HP daripada memasang pesawat telepon. Hal tersebut mempengaruhi kepemilikan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat.
Sebesar 90 persen reponden laisan bawah hanya memiliki satu alat komunikasi saja yang dapat diartikan sebagai tingkat kepemilikan terhadap alat komunikasi adalah rendah atau kurang. Dari 10 responden pengrajin lapisan atas rata-rata memiliki alat komunikasi dua atau lebih. Hanya satu dari rumah tangga pengrajin lapisan ini yang memiliki satu alat komunikasi. Sedang pada responden pengrajin lapisan menengah cenderung lebih bervariatif, terdapat tiga rumah tangga yang memiliki satu alat komunikasi, empat rumahtangga memiliki dua alat komunikasi atau sedang dan tiga rumah tangga yang memiliki lebih dari dua alat komunikasi.
Seiring dengan hal tersebut diatas, pemilikan alat transportasi juga berhubungan dengan lapisan sosial pengrajin logam. Hampir seluruh rumah tangga responden dari lapisan bawah memiliki alat transportasi dengan kategori rendah yaitu hanya memiliki sepeda dengan jumlah 80 persen sedang sisanya termasuk ke dalam kategori cukup atau memiliki sepeda dan satu motor saja. Untuk rumah tangga lapisan menengah terdapat sebanyak 30 persen memiliki alat transportasi kategori rendah, 40 persen rumah tangga dengan kategori sedang dan 30 persen rumah tangga dengan kategori tinggi. Hal tersebut hampir sama terjadi pada responden lapisan atas, yaitu sebesar 50 persen pengrajin dengan alat transportasi kategori tinggi, 30 persen pengrajin dengan kategori sedang dan hanya 20 persen pengrajin lapisan ini dengan kategori rendah.
Pemilikan barang elektronik, selain dipengaruhi oleh lapisan sosial pengrajin juga dipengaruhi oleh faktor usia. Pengrajin logam dengan usia tua cenderung lebih sedikit atau rendah pelaksanaan gaya hidup khususnya gaya bangunan rumahnya dibanding dengan pengrajin usia muda. Hal tersebut lebih disebabkan karena faktor kesederhanaan yang dianut oleh pengrajin usia tua. Sedang pengrajin usia muda
cenderung mengikuti perkembangan jaman dalam menerapkan gaya hidupnya. Seperti dalam kasus Ibu Nn
Peralatan elektronik yang ia miliki hanya berupa televisi dan radio tape. Hal tersebut bukan karena ia tidak mampu tetapi karena ia merasa tidak perlu. Seperti yang diungkapkannya:
“Kulo mung gadah televisi lan radio tape. Mergone memang merasa tidak perlu. Semono ugo lan telepon, HP kulo mboten butuh, anak -anak omahe cerak, pemesan bilih ajeng ngubungi sampun wonten telepon rumah. Jadi kulo merasa mboten perlu”
saya hanya punya televisi dan radio tape. Karena memang merasa tidak perlu. Begitu juga dengan telepon. Saya tidak butuh HP, karena anak-anak saya tinggalnya dekat, para pemesan bila akan menghubungi saya bisa lewat telefon rumah. Jadi saya merasa tidak perlu”
Hal tersebut berbeda dengan yang dikatakan oleh Bapak Ss:
“Wonten dalem kula mung gadah televisi lan radio. Bukane mboten mampu gih, tapi la wong kula mung kaleh garwo tok sing tinggal. Saya mboten perlu neko- neko. Masak ibu biasa masak teng pawon. Mbasuh jarene ibu luwih mantep ngangge penggilingan. La butuh nopo meleh?”
“Di rumah saya hanya ada televisi dan radio. Bukannya tidak sanggup membeli, tetapi cuma saya dan istri saya yang tinggal di rumah. Saya tidak perlu apa-apa lagi. Memasak , ibu lebih memilih memasak di tungku. Mencuci, kata ibu lebih mantap menggunakan penggilingan. Jadi saya butuh apa lagi?”
Perbedaan gaya pada pola pemilikan barang sekunder dalam satu lapisan bukan saja disebabkan oleh pemilikan modal tetapi juga pada kondisi, pilihan dan kognisi (Walters, 1994 dalam Chaney, 1996). Hal tersebut dimaksudkan bahwa selain perbedaan modal yang dimiliki oleh pengrajin antar lapisan, pola pemilikan barang sekunder tersebut dapat berbeda bagi pengrajin di setiap lapisannya. Perbedaan pada kasus Ibu Nn dan Bapak Ss, lebih dipengaruhi oleh pilihan masing-masing rumah tangga dari pada perbedaan modal. Secara tidak langsung perbedaan tersebut juga dipengaruhi oleh perbedaan waktu atau lama mereka berada pada lapisan tersebut. Pengrajin lapisan atas yang baru cenderung mengikuti atau membeli barang-barang sekunder sesuai perkembangan seperti komputer, handphone, dan sebagainya.
Seiring dengan kondisi diatas, maka perubahan kepemilikan barang sekunder terjadi pada pengrajin lapisan atas. Pengembangan industri pariwisata di daerah tersebut secara tidak langsung juga mempengaruhi perubahan tersebut. Sehingga terjadi perubahan pola pemilikan barang sekunder menjadi lebih modern pada pengrajin lapisan atas dan kemudian menjadi prestise mereka.
Tabel 19. Distribusi Frekuensi Menurut Lapisan Sosial Pengrajin Dan Pola Pemilikan Barang Sekunder Tahun 2004
Lapisan Sosial Pengrajin
Bawah Menengah Atas Pola
Pemilikan Barang Sekunder
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Jumlah persen Rendah Sedang Tinggi 8 2 - 80 20 - 1 6 3 10 60 30 - 2 8 - 20 80 9 10 11 30 33,3 36,7 Jumlah 10 100 10 100 10 100 30 100
Sumber: Data Primer 2005
Dari tabel tersebut diatas maka dapat dipaparkan bahwa pada rumah tangga responden lapisan bawah tidak ada yang memiliki barang sekunder rumah tangga dengan kriteria tinggi. Sebesar 80 persen dari jumlah total pengrajin lapisan bawah yang rendah dalam memiliki barang sekunder. Sebaliknya, pada rumah tangga lapisan atas tidak terdapat responden yang memiliki barang elektronik dengan kriteria rendah, tetapi hampir semua atau sebanyak 80 persen responden dengan kriteria tinggi.
Secara keseluruhan, dikatakan bahwa variabel lapisan sosial pengrajin dan variabel pola pemilikan barang sekunder berhubungan nyata berdasarkan uji statistika Korelasi Spearman dengan nilai sebesar 0,801. Dengan kata lain semakin tinggi lapisan sosial pengrajin maka semakin tinggi pula pola pemilikan barang sekunder. Hubungan kedua variabel tersebut dapat disajikan dalan tabel distribusi frekuensi menurut pelapisan sosial dengan pola pemilikan barang sekunder dalam tabel 19.
Secara kuantitatif, variabel pola pemilikan barang sekunder tidak dipengaruhi oleh status penduduk. Dari total rumah tangga responden, terdapat tiga rumah tangga yang berstatus sebagai pendatang. Dari ketiga responden pendatang tersebut tidak terdapat perbedaan pada pola pemilikan barang sekunder dengan responden asli pada tiap lapisannya.
Berdasarkan karakteri stik responden berupa tingkat pendidikan terdapat empat rumah tangga responden yang memiliki barang sekunder dengan kriteria rendah adalah tamatan SD, dua tamatan SLTP, tiga tamatan SLTA dan satu lulusan
perguruan tinggi. Pada rumah tangga responden yang memiliki pola pemilikan barang sekunder dengan kriteria sedang, terdapat dua responden tamatan SD, lima responden tamatan SLTA dan tiga responden tamatan perguruan tinggi. Pada rumah tangga responden dengan pemilikan barang sekunder berkriteria tinggi, terdapat empat responden tamatan SD, satu tamatan SLTP, tiga responden tamatan SLTA dan tiga responden tamatan perguruan tinggi. Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa variabel gaya bahasa tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.