• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Ruang

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 58-61)

No.Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase

2.6.2 Pola Ruang

2.6.2 Pola Ruang

Rencana pola pemanfaatan ruang Kabupaten Ogan Ilir meliputi rencana pola pemanfaatan kawasan lindung dan rencana pola pemanfaatan kawasan budidaya.

a. Kawasan Lindung

Kawasan lindung di kabupaten Ogan Ilir terdiri dari kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, rawa/waduk) dan kawasan cagar budaya

Kawasan sempadan sungai merupakan kawasan yang diharapkan mampu mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan sempadan sungai. Kawasan perlindungan setempat, meliputi Kawasan Sempadan Sungai di Kabupaten Ogan Ilir.

Penetapan kawasan ini didasarkan pada kriteria-kriteria sebagai berikut :

· Garis sempadan sungai besar sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman.

· Garis sempadan sungai kecil/anak sungai yang berada di luar permukiman sekurang-kurangnya 50 m dari kiri kanan sungai.

· Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter.

Kawasan sempadan sungai ini tersebar pada sungai-sungai utama yang terdapat di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, meliputi :

1) Sungai Ogan;

2) Sungai Kelekar;

3) Sungai Air Rambang;

4) Sungai Air Kuang Besar dan 5) Sungai Air Keramasan.

Sempadan sungai ini belum termasuk sempadan dari sungai-sungai kecil yang terdapat di wilayah Kabupaten Ogan Ilir.

Kawasan Pelestarian Alam dan Cagar Budaya, meliputi : Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses budaya yang memiliki nilai sejarah dan perlu dilestarikan. Perlindungan dilakukan untuk tetap menjaga kekayaan budaya bangsa yang meliputi peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi di kawasan cagar budaya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pencegahan ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.

Kawasan Cagar Budaya yang terdapat di Ogan Ilir dan perlu dijaga kelestariannya antara lain :

1. Makam Gde Ing Rejak Raja I Palembang Darusalam di Desa Sakatiga Kecamatan Indralaya

2. Puteri Pinang Masak di Desa Senuro Kecamatan Tanjung Batu 3. Makam Puyang Muara Rambang di Kecamatan Lubuk Keliat

4. Makam Nyuak Junjungan Tangai Saidina Angkasa di Desa Tangai Kecamatan Rambang Kuang

5. Makam Puyang Usang Rimau di Meranjat Indralaya Selatan 6. Makam Sampurayo di Kecamatan Tanjung Batu

7. Makam Usang Sunggih di Kelurahan Tanjung Batu 8. Makam Said Umar Bagindo Sari di Tanjung Atap 9. Makam Usang Bujang di Meranjat

10. Makam Usang Berantai di Meranjat dan

11. Makam Pangeran Punto di Kecamatan Pemulutan.

b. Kawasan Budidaya

Strategi pengembangan budidaya akan diarahkan pada :

1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya baik produksi maupun permukiman secara optimal sesuai dengan daya dukung lingkungannya.

2. Kawasan budidaya secara garis besar terdiri atas kawasan budidaya perkotaan dan kawasan budidaya non perkotaan.

a) Kawasan budidaya perkotaan yang telah ada pengembangannya haruslah berdasarkan pendekatan kemampuan lahan dan kesesuaian lahan bagi pembangunan dan pengembangan fisik perkotaan. Berdasarkan pendekatan ini, dapat diantisipasi secara dini terhadap kemungkinan adanya biaya tambahan sebagai akibat diperlukannya masukan teknologi yang dalam pelaksanaan pembangunan konstruksinya. Pengembangan kawasan permukiman selain di perkotaan juga di pedesaan diarahkan ke pusat-pusat permukiman yang sudah ada.

b) Kawasan budidaya pertanian pangan lahan basah perlu diarahkan pada wilayah yang memiliki kesesuaian lahan optimal serta dukungan prasarana irigasi.

Pengembangan lahan padi sawah dilakukan baik melalui intensifikasi maupun ekstenfikasi.

c) Kawasan budidaya pertanian pangan lahan kering adalah meliputi kawasan untuk tanaman palawija, holtikultura atau tanaman pangan lainnya. Adapun pengembangannya dilakukan terhadap padi ladang, ubi jalar, kacang hijau, dan kacang tanah.

d) Kawasan budidaya perkebunan dirahkan pada pengembangan tanaman perkebunan atau tanaman tahunan perkebunan. Adapun sasaran pembangunan tanaman perkebunan adalah peningkatan produksi dalam rangka ekspor, perluasan kesempatan kerja, peningkatan pemanfaatan pertanian dan pemeliharaan lingkungan hidup, pengembangan komoditi perkebunan dilakukan oleh perkebunan rakyat dan oleh perusahaan perkebunan besar.

e) Pengembangan kawasan budidaya peternakan diarahkan pada lokasi transmigrasi dan pusat-pusat permukiman di perkotaan dan di pedesaan. Sasaran pengembangan sektor peternakan adalah meningkatkan produksi dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat.

f) Pengembangan kawasan budidaya perikanan sasarannya adalah meningkatkan produksi dalam rangka memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan pembinaan sumber daya hayati perikanan.

g) Penetapan kawasan pertambangan dan migas didasarkan pada potensi dan mutu mineral atau bahan galian, minyak dan gas bumi, namun belum dapat disajikan dengan rinci, karena belum ditunjang dengan hasil eksplorasi yang memadai.

h) Pengembangan kawasan industri mencakup aneka industri industri kecil, dan industri besar untuk mengolah bahan baku yang berasal dari hasil pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan. Dengan demikian, maka strategi pengembangan sektor perindustrian yang merupakan sektor kunci dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah terhadap produksi-produksi khususnya sumber daya daerah setempat. Pengembangan industri kecil diarahkan pada lokasi-lokasi yang sudah ada industri kecilnya. Pengembangan tersebut dilakukan melalui pembangunan sentra-sentra industri yang diharapkan dapat menambah kesempatan kerja.

3. Pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi konflik kepentingan antar sektor. Dalam upaya pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya, maka berlandaskan pada rencana penggunaan tanah yang mengacu pada berbagai peraturan terkait dan yang berhubungan dengan masalah pertanahan telah disusun pedoman penggunaan lahan kawasan budidaya oleh Badan Pertanahan Nasional, sebagai berikut :

a. Penetapan lokasi kegiatan pembangunan yang memerlukan tanah diarahkan pada tanah-tanah yang kurang produktif atau tanah kosong.

b. Penetapan lokasi disesuaikan dengan kondisi fisik (kesatuan lahan) dan ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

c. Penetapan lokasi disesuaikan melalui rapat-rapat koordinasi dengan instansi terkait, agar tidak terjadi konflik kepentingan.

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 58-61)

Dokumen terkait