• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KONTEKS WILAYAH PENELITIAN

2.2 Geografi Dan Kependudukan

2.2.3 Pola Tempat Tinggal

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah adanya tempat untuk berlindung. Baik berlindung dari segala keadaan cuaca maupun berlindung dari segala gangguan seperti gangguan binatang dan sebagainya. Tempat tersebut lazim di sebut sebagai Rumah. Parsudi Suparlan, seorang pakar sosiologi mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang bisa digunakan sebagai sarana untuk membentuk sebuah keluarga dan sarana untuk saling berinteraksi secara intensif setiap individu yang ada di dalamnya (Parsudi Suparlan, 2000).

34

Penduduk desa Sei Antu di kecamatan Belitang Hulu ini juga mempunyai rumah. Fungsinya pun sama seperti rumah-rumah pada umumnya yaitu sebagai tempat berlindung. Namun di Desa Sei Antu, fungsi rumah ditambah sebagai tempat penyimpanan hasil panen di kebun dan ladang, sehingga harumnya hasil ladang dan kebun, seperti sahang (lada) menyeruak memenuhi penciuman begitu memasuki rumah-rumah warga di Desa Sei Antu.

Rumah-rumah di desa Sei Antu itu umumnya berdiri berjajar di kedua sisi jalan utama desa yang hanya selebar kira-kira tigameteran. Rumah-rumah tersebut umumnya adalah rumah tunggal, dalam artian satu rumah dihuni oleh satu keluarga saja. Jarak antara rumah tidak terlalu berdekatan, masih ada ruang halaman samping kiri kanan rumah yang cukup luas, yang biasanya ditanami oleh tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan sebagai sayuran pelengkap makan, seperti halnya singkong dan katuk.

Dalam pembangunan setiap gedung atau rumah, ada yang harus dilakukan pertama kali, yaitu membuat pondasi agar bangunan tersebut dapat berdiri dan ‘ajeg’. Begitu pula dalam pembangunan rumah di desa Sei Antu ini yang dilakukan pertama kali adalah membuat pondasi dengan menancapkan tonggak-tonggak dari kayu belian. Tonggak-tonggak dari kayu belian ini sifatnya wajib, mengingat sifat dari kayu belian yang kuat dan kokoh sehingga cocok dijadikan sebagai tonggak pondasi rumah. Ada ritual yang dilakukan oleh penduduk sebelum menancapkan tonggal kayu belian ke tanah utk pertaama kalinya.Ritual ini oleh penduduk desa Sei Antu disebut dengan “mesulan tanah” (lihat bagian kegiatan keagamaan).

Semua rumah di desa Sei Antu itu terbuat dari susunan papan-papan kayu, kecuali bangunan Polindes/Pustu, yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu belian setinggi 30-50 cm di atas permukaan tanahnya. Dibangunnya rumah di atas tonggak-tonggak ini adalah adaptasi dari pembangunan rumah betang yang memang di bangun di atas tonggak. Tonggak ini ternyata juga dipakai untuk mensiasati lahan atau tanah yang dipakai untuk membangun rumah, yang umumnya tidak rata dan terdiri dari campuran tanah dan pasir. Pemakaian tonggak-tonggak ini memungkinkan rumah yang dibangun di atasnya menjadi rata sehingga terasa nyaman dan tidak membahayakan.

35 Tonggak-tonggak yangdigunakan sebagai tiang panjang bangunan ini mengakibatkan adanya ruang di bawah rumah yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah tua. Namun tidak menutup kemungkinan penduduk menjadikannya sebagai kandang hewan seperti ayam, bebek, dan anjing. Di ruang bawah rumah ini terkadang penduduk menempatkan bara-bara yang terbuat dari ranting-ranting kecil. Ini dimaksudkan agar asap masuk ke dalam rumah melalui celah-celah lantai kayu yang ada untuk mengusir nyamuk yang ada di dalam rumah.

Semua rumah penduduk di desa Sei Antu di bangun dengan menggunakan prinsip yang sama, yaitu dibangun secara gotong royong. Semua penduduk desa terlibat dan dibangun setelah semua bahan-bahan, terutama papan-papan kayu tersedia secara lengkap. Penduduk tidak akan mengerjakan membangun sebuah rumah jika masih ada bahan yang belum tersedia atau belum cukup jumlah papan yang akan digunakan. Pantang bagi mereka jika hal itu terjadi. Karena itu pertanda bangunan itu tidak akan jadi dan pengerjaannya akan menyusahkan. Penuturan informan pemilik rumah yang letaknya disamping polindes ini :

“...kami ndai bisa bangun kalo blum ada bahan. Kurang bahan pun ndai bise.…ndai...aturannye begitu. orang-orang tua juge begitu…ndai tau ya...mungkin seperti pamali begitu orang bilang…sudah tradisi begitu…manang bilang juge begitu….”

Dalam pembangunannya, sebuah rumah bisa diselesaikan secara lengkap dan siap untuk dihuni itu dalam waktu paling lama sekitar satu bulan, tergantung banyaknya ruangan yang diminta dan besarnya rumah yang diinginkan. Padahal, dalam pengerjaannya hanya menggunakan peralatan sederhana dan manual, seperti palu, gergaji tangan, paku, pahat tangan, mistar besi sepanjang 30 cm dan tali yg sudah diberi arang untuk membuat garis lurus yang panjang, tangga bambu, serutan kayu manual, kuas tangan, cat kiloan, lembaran seng untuk atap, gunting seng manual, kapak, dan parang. Namun, karena dikerjakan secara gotong royong maka pembangunan rumah tersebut bisa berlangsung cepat. Dalam pembangunannya, tidak pernah sekalipun warga menggunakan konsep yang dituliskan

36

atau digambarkan di atas sebuah kertas. Pembangunan rumah dibuat berdasarkan konsep dan keinginan sang pemilik rumah yang dibicarakan pada saat pembangunan berlangsung dan diutarakan secara langsung pula oleh sang pemilik kepada warga yang mengerjakan rumah tersebut.

Sering terjadi diskusi (yang tentunya menggunakan bahasa lokal, yang umumnya menggunakan bahasa Dayak Mualang) antara sang pemilik dengan warga yang membantu dalam tahap pembangunan ini. Diskusi berlangsung cepat dan terlihat cepat pula dipahami oleh kedua belah pihak sehingga tidak menghabiskan waktu. Rumah dibangun secara gotong royong dan cepat karena konsep dan tata letak ruang dari pembangunan setiap rumah hampir mirip satu dengan lainnya. Seperti adanya teras, ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tempat berkumpulnya keluarga sekaligus difungsikan sebagai runag untuk terima tamu dan ruang makan, ruang kamar-kamar (jumlahnya tergantung kebutuhan dan permintaan yang punya rumah), ruang belakang dimana disini ini terdapat dapur yang ditandai adanya perapian untuk memasak menggunakan kayu bakar. Dapur sengaja diletakkan di bagian belakang rumah dengan alasan bila nanti memasak, asap yang keluar dari pembakaran kayu yang berfungsi sebagai tungku, tidak masuk ke dalam rumah dan langsung keluar melalui ventilasi yang ada. Penempatan WC terletak di bagian belakang dengan bangunannya tersendiri yang tidak menyatu dengan rumah induk meski masih berdekatan.

Bagian setiap rumah yang dibangun di desa Sei Antu memiliki ukuran yang cukup lumayan bagi ukuran kota. Rumah disana rata-rata berukuran sekitar 6 X 15 meter dengan luas tanah sekitar 600 meter persegi dan jarak antara rumah ke rumah rata-rata sekitar 10-25 meter. Ukuran ini dirasa wajar bagi ukuran Desa, dimana kawasan hunian tidak berbanding lurus dengan luasnya area desa. Pintu depan dan teras rumah yang menandakan bagian depan rumah selalu menghadap ke jalan Desa. Warga desa berpendapat bahwa menghadapnya rumah itu ke jalan akan memudahkan merekak memasuki rumah karena langsung dari jalan.

Desa Sei Antu adalah salah satu sedikit desa di kabupaten Sekadau yang sampai sekarang masih memiliki rumah betang atau

37 biasa juga disebut sebagai rumah panjang, dengan konstruksi yang masih asli dan benar-benar dikerjakan secara manual. Menurut salah satu warga yang dipercaya sebagai pengelola atau yang lebih tepatnya adalah untuk mengurusinya, rumah betang yang ada di desa Sei Antu adalah rumah betang yang tergolong baru karena dibangun sekitar tahun 1940-an setelah rumah betang yang sebelumnya sudah tidak layak untuk dihuni lagi karena mengalami kerusakan di beberapa di banyak tempat didalamnya. Menurut salah seorang manang yang biasa memberikan pengobatan secara tradisional kepada wargadesa Sei Antu, rumah betang yang sekarang berdiri ini memang rumah yang baru. Sedangkan rumah betang yang lama mengalami kerusakan parah setelah salah satu pohon besar yang ada di sekeliling rumah betang rubuh menimpa rumah betang tersebut.

Rumah betang yang ada sekarang ini merupakan rumah betang generasi ke dua yang memiliki panjang sekitar 60 meter atau sekitar 12 depa. Depa adalah satuan ukuran yang dipakai oleh orang dayak untuk mengukur sesuatu. 1 depa diperhitungkan sekitar 5 meter. Rumah betang yang ada di desa Sei Antu ini dihuni oleh 6 kepala keluarga dari 17 kepala keluarga yang terdaftar di data desa Sei Antu menghuni rumah betang tersebut. Menurut keterangan dari pengurus rumah betang yang juga berprofesi sebagai pandai besi yang suka memproduksi parang, kapak, dan alat-alat pertanian tradisional yang manual ini, di dalam rumah betang di desa Sei Antu ini tidak ada ketentuan yang mengatakan bahwa rumah betang hanya dihuni oleh kalangan keluarga saja, Siapa saja boleh tinggal di rumah betang, asal bisa mengikuti aturan dan ketentuan yang berlaku di rumah betang. Tetapi memang pada kenyataanya yang menghuni dan tinggal serta menetap di rumah betang adalah keluarga-keluarga yang masih ada pertalian saudara satu dengan lainnya meski tidak secara langsung. Jadi rumah betang itu bisa juga dikatakan sebagai rumah tinggal bagi keluarga besar suatu family bagi suku dayak di Desa Sei Antu.

Rumah betang memang rumah yang dibangun dalam skala besar karena memang dimaksudkan untuk menampung sejumlah besar keluarga, namun sebenarnya konsep dibangunnya rumah betang itu adalah rumah yang bisa bertumbuh sesuai dengan kebutuhan dari yang keluarga-keluarga menempatinya. Jika ada

38

keluarga baru yang akan tinggal di rumah betang, maka akan dibangun ruangan baru yang menempel dan tersambung dengan rumah induk yang posisinya dan letaknya tergantung kebijaksanaan dan ketentuan dari pemimpin rumah betang atau yang dituakan di rumah betang tersebut.

Gambar 2.5

Rumah Betang (Panyai) dan bagian-bagian di dalamnya Sumber : Dokumentasi Peneliti

Rumah betang yang ada di desa Sei Antu berdiri di atas topangan tonggak-tonggak yang terbuat dari kayu belian setinggi 2-2,5 meter. Dipilihnya kayu belian ini sebagai tonggak karena kayu ini kuat, bersifat keras dan tidak mudah lapuk karena cuaca, dan air serta tidak dimakan rayap. Menurut keterangan dari para informan seperti para kepala dusun, ketua adat, orang-orang tua dan manang yang ditemui, semuanya memberikan informasi bahwa dahulunya tonggak-tonggak kayu yang digunakan sebagai pondasi bagi rumah betang itu tidaklah sependek tonggak-tonggak yang ada di rumah betang sekarang ini. Dahulu tonggak-tonggak kayu belian itu bisa mempunyai ketinggian sekitar 10-15 meter di atas permukaan tanah. Hal itu dimaksudkan untuk keamanan dari penghuni rumah betang tersebut, agar para musuh keluarga yang menempati rumah betang tersebut tidak bisa mencapaikan senjatanya menembus bagian bawah rumah betang. Hal itu juga dimaksudkan agar pelemparan senjata musuh yang berupa

39 Mandau atau parang tidak bisa mencapai bagian atas rumah betang serta memperjauh tempat perkenaan bila musuh mempergunakan senjata sumpit. Untuk lebih amannya juga, tangga di rumah betang di buat menjadi dua bagian, dimana bagian atasnya dapat ditarik ke atas sehingga musuh tidak bisa memasuki rumah betang.

Kayu belian memang primadona dalam penggunaan kayu sebagai bahan sadar pembuatan bagunan di desa Sei Antu. Pemanfaatan kayu belian pada pembangunan rumah betangpun bukan hanya terpaku pada sebagai tonggak-tonggak pondasi saja. Pemanfaatan kayu belian ternyata juga digunakan sebagai bahan pembuatan atap dari rumah betang. Kayu belian dipotong-potong dengan ukuran sekitar 15 X 30 cm dengan ketebalan sekitar 1-1,5 cm, dimana di salah satu bagian sisinya di beli lubang-lubang sebagai tempat tali. kayu-kayu belian nyang sudah dipotong tadi dilumuri semacam getah agar licin sehingga tidak menyerap air ahujan yang jatuh. Kemudian kayu-kayu tersebut kemudian disusun-susun satu demi satu dengan menngunakan tali dari rotan hingga menutupi seluruh bagian atap rumah betang.

Di bagian dalam, rumah betang itu terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama adalah bagian ruangan-ruangan sebagai tempat tinggal keluarga yang menghuninya. Bagian pertama ini mempunyai selasar di sisi depannya. Selasar selebar sekitar satu setengah meter ini biasa digunakan untuk kegiatan menumbuk beras dengan menggunakan alu dan lesung oleh keluarga yang menempati ruangan tersebut. Bagian ini disebut ‘telok’.Di bagian pertama ini terbagi atas ruangan-ruangan sebagai tempat hunian sebuah keluarga. Jumlah ruangan-ruangan itu sesuai dengan jumlah keluarga yang menempati rumah betang tersebut.Ruangan-ruangan yang menjadi tempat tinggal setiap keluarga itu berukuran 3 x 4 meter di mana bagian belakangnya masih dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan dari keluarga yang menempatinya. Di bagian dalam ruangan-ruangan tersebut, di bagi-bagi lagi atau di sekat-sekat menjadi beberapa bilik sebagai penanda dan pembeda antar ruangan, seperti ruang untuk terima tamu sekaligus berfungsi sebagai tempat makan dan tempat kumpul keluarga, dapur, kamar-kamar untuk pasangan suami istri dan untuk para gadis tidur atau beristirahat.

40

Para gadis atau para wanita yang belum menikah juga dapat ditempatkan di bagian atas dari ruangan yang juga berfungsi sebagai media penyimpanan barang-barang keperluan keluarga. Namun biasanya yang disimpan di sana adalah beras hasil panen yang ditaruh di ‘tibang’ yaitu Tempat menaruh hasil panen padi yang berbentuk silinder berdiameter sekitar 1-2 meter yang menurut penuturan mereka terbuat dari kulit kayu ‘Pudo’ atau kayu ’nteli’. Dipilihnya kulit kayu ini karena memiliki kelenturan yang bagus dan tidak mudah hancur sehingga setelah di lemaskan dengan cara di pukul-pukul dan disambung dengan tali dari rotan muda, kulit kayu tersebut dapat di buat tempat beras berbentuk silinder. Bagian tingkat dua di tiap-tiap rungan di rumag betang lazim juga dikatakan sebagai bagian lumbung dari sebuah rumah. Bagian di tingkat dua ini biasa disebut mereka dengan sebutan ‘padung’.

Di dalam ruangan-ruangan di rumah betang, disediakan juga bagian dapur yang ditandai dengan adanya tumpukan tanah yang dipadatkan setinggi kira-kira 10-15 cm yang digunakan sebagai penyekat agar panas dari kayu bakar yang terbakar tidak merusak lapisan kayu di lantai. Dapur biasanya terletak ada di bagian depan di dekat pintu masuk dari ruangan tersebut. Ini mengandung falsafah bahwa; dapur adalah tempat mengolah dan memasak rizki yang didapat dan dimasukkan melalui pintu depan. Posisi dapur yang berada dekat pintu depan itu juga bermakna bahwa rizki yang didapat harus segera di masak dan dimakan agar bisa dapat memberikan manfaat. Dari falsafah tersebutlah sehingga sudah sewajarnya dapur mendapat tempat terhormat berada di samping pintu depan.

Ada yang unik ditemukan, bahwa di sisi samping dapur terdapat lubang yang biasa digunakan untuk buang air. Memang, menurut pengakuan penghuni rumah betang, lubang itu lazim digunakan untuk buang air kecil, sementara untuk buang air besar mereka pergi ke semak-semak.Namun, di zaman dahulunya, dimana rumah betang masih berada di ketinggian sekitar 10 meter di atas permukaan tanah, lubang itu juga digunakan sebagai sarana untuk buang air besar bagi keluarga yang menempati ruangan tersebut. Mereka berpendapat bahwa feses yang keluar akan langsung jatuh dan menjadi makanan babi hutan dan binatang-binatang lainnya

41 sehingga tidak menimbulkan bau. Sedang apabila terdapat sisa-sisa kotoran di lubang tersebut, maka mereka akan membersihkannya dengan ditaburi pasir terlebih dahulu yang diambil dari perapian lalu di buang ke bawah. Lubang tempat buang air itu mereka sebut sebagai ‘tempuan’.

Pembagian atau tataruangan-ruangan bagi setiap keluarga yang menempatinya itu diatur oleh penanggung jawab atas rumah betang itu. Pada zaman dahulu menurut penuturan para kepala dusun, penanggung jawab dari setiap rumah betang itu dipilih dari orang yang dianggap paling bijaksana, palling mengerti adat, paling pintar, paling bisa melindungi, namun pada kenyataannya, yang paling sering dipilih sebagai penanggung jawab adalah orang yang yang paling berani. Sehingga dahulu itu yang dipilih untuk menjadi penangung jawab dari setiap rumah betang itu adalah orang yang sudah pernah membunuh orang lain atau musuh-musuhnya serta yang sudah pernah memenggal kepala manusia.

Penanggung jawab itu dipilih karena dianggap bisa melindungi dari musuh. dan dia di beri kehormatan berupa lokasi tempat tinggalnya atau lokasi ruangannya berada pas di tengah-tengah rumah betang. Lokasi atau ruangan yang ditempatinya pun memiliki ukuran yang lebih luas di bandingkan dengan ukuran dari ruangan-ruangan lain yang ditempati oleh keluarga lainnya. Hal ini juga bisa berarti bahwa si penangungjawab tersebut wajib dilindungi bila ada musuh yang menyerang, sehingga dia bisa melanjutkan kepemimpinannya di rumah betang tersebut.

Bagian kedua yang ada di dalam rumah betang yang ada di Desa Sei Antu itu adalah bagian selasar selebar sekitar dua meteran yang dipergunakan sebagai sarana lalu lalangnya bagi para penghuni atau para tamu yang berkunjung ke salah satu keluarga yang tinggal dirumah betang tersebut. Menurut ketentuan yang berlaku di rumah betang ini, selasar tempat lalu lalang orang ini harus selalu dalam keadaan lengang. Tidak diperbolehkan menyimpan barang atau sesuatu di area ini, hal ini dimaksudkan agar lalulalang orang yang melintas lancar dan tidak terganggu atau terhalang. Bagian ini di sebut ‘ruwai belakang’.

42

Bagian ketiga di dalam rumah betang disebut ‘ruwai depan’, yaitu selasar selebar sekitar dua sampai dua setengah meter di depan selasar ruwai belakang. Ruwai bagian depan ini paling banyak difungsikan oleh warga penghuni rumah betang. Karena hampir setiap aktifitas penghuni dilakukan dilakukan di bagian ini.

Di bagian ini, orang bisa beraktifitas dan bekerja seperti membuat parang, menganyam membuat tikar, membuat tampi atau peralatan lainnya, meng’kisar’ beras dengan kisar yaitu Alat untuk memecah kulit beras, sehingga mudah untuk dipisahkan pada saat di tampi sehingga bulir beras terlihat bersih tanpa ada kulitnya lagi. Alat kisar ini terbuat dari dua balok kayu berbentuk silinder, dimana silinder kayu yang atas di beri lubang dikedua sisi sampingnya,sebagai tempat untukmemasukkan dan mengeluarkan butiran-butir beras yang sudah bersih sehingga bisa di konsumsi.

Dalam rumah betang, ruwai depan digunakan sebagai sarana berinteraksi dan kumpul-kumpul warga penghuni. Seringkali di waktu malam hari selasar ini di buat sebagai tempat tidur atau tempat beristirahatnya para pemuda/bujang atau siapa saja yang ingin tidur disana kecuali para gadis yang memang harus tidur di dalam kamar d dalam di rumah betang itu atau sebagai sarana tempat menggantung hasil-hasil kerajinan yang sudah selesai dibuat.Bagian di depan selasar ini adalah bagian luar dari rumah betang yang tidak terlindungi oleh atap rumah betang. Bagian ini adalah bagian yang terkena matahari dan seringkali digunakan sebagai sarana untuk menjemur, baik menjemur padi, ataupun hasil hasil ladang dan hutan yang didapat. Bagian ini disebut sebagai ‘gangang’.

2.3 Sistem Religi