BAB 2 KONTEKS WILAYAH PENELITIAN
2.3 Sistem Religi
Seluruhpenduduk Desa Sei Antu yang tersebar di tiga dusun adalah penduduk yang terbilang masih memegang teguh pada setiap keyakinannya, baik itu menyangkut agama maupun menyangkut akan kepercayaan, adat dan tradisi yang sudah ada secara turun temurun.
Penduduk desa Sei Antu juga sangat dekat dengan alam di sekitarnya. Mereka selalu mengatakan bahwa segala sesuatunya yang mereka kerjakan itu merupakan bagian dari alam, yang juga diperuntukan untuk alam. Penduduk Desa Sei Antu yang sebagian
43 besar dari suku dayak Mualang masih percaya bahwa alam harus mereka jaga karena mereka juga dijaga oleh alam.
Penduduk desa Sei Antu, meski beragama katolik dan Kristen protestan tetapi masih banyak yang percaya akan tempat-tempat yang dianggap angker dan terdapat makhluk yang sering mengganggu manusia dengan penampakannya. Penduduk desa Sei Antu juga masih percaya bahwa akan adanya penguasa langit dan bumi, penguasa hutan, penguasa siang dan malam, penguasa sungai dan lain sebagainya sehingga mereka harus berperilaku dan bertindak sesuai dengan aturannya. Mereka tidak boleh sembarangan baik dalam bertindak maupun dalam berbicara. Karena jika sembarangan akan bisa terkena sanksi secara adat yang harus dipenuhi ataupun sanksi yang dikeluarkan alam untuk dirinya, yang bisa berupa gagal panen, terkena musibah atau lain sebagainya.Penduduk masih banyak yang percaya bahwa mereka lahir dan hidup kedunia ini merupakan kehendak dari alam yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi dan bersifat hanya sementara. Oleh karena itu, menurut anggapan mereka, hidup itu harus diisi dengan segala sesuatu yang berguna bagi alam dan sesama manusia selama masih mampunyai jiwa di tubuh mereka.
Banyak dari anggota penduduk desa Sei Antu yang mempunyai anggapan, bahwa bumi beserta tanah dan air yang dikandungnya itu adalah milik penguasa alam yang dititipkan kepada mereka untuk dipergunakan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kesejahteraan penduduk itu sendiri. Hal inilah yang menjadi salah satu factor yang mendorong penduduk untuk selalu membuka hutan dengan cara di bakar. Mereka kurang familiar dengan bertani atau berladang dengan menggunakan lahan tetap. Mereka menganggap bahwa lahan yang sudah pernah ditanami itu berkurang kesuburannya. Mereka juga beranggapan bahwa harga pupuk mahal dan tidak terjangkau bagi mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk membakar hutan.
Banyak diantara penduduk desa Sei Antu yang beranggapan bahwa dengan cara membakar hutan itu, selain agar bisa ditanami, kayu hasil bakaran tersebut dapat langsung dijadikan pupuk bagi tanaman mereka. Mereka menilai bahwa itu Iebih praktis dan tidak membutuhkan biaya banyak bila dibandingkan dengan mempunyai lahan tetap. Melihat cara mereka membakar hutan, maka akan
44
tersirat bahwa ada maksud lain dari membakar hutan. Ada ritual-ritual khusus sebelum membakar hutan. Ritual-ritual tersebut adalah pemberian sesaji berupa bahan makanan mentah dan makanan jadi beserta peralatan makannya, yang mereka taruh di lahan yang akan mereka bakar, dengan disertai doa-doa kepada penguasa hutan dan penguasa alam agar tanaman yang akan mereka tanam nanti bisa memberikan hasil yang berlimpah. Pemberian sesaji tersebut dimaksudkan sebagai pemberian sesembahan dan makanan bagi penguasa hutan dan penguasa alam sekaligus dihitung sebagai pengeluaran pertama yang diperhitungkan sebagai kerugian awal mereka dalam berusaha, sehingga nantinya mereka akan mendapatkan hasil yang berlimpah mengingat kerugian sudah di bayarkan pada awal masa tanam sebelum membuka lahan.
Mereka membakar hutan itu tidak boleh sembarangan. Mereka amat memilih tempat mereka dalam berladang. Jika di daerah yang akan di bakar tersebut terdapat makam, maka mereka tidak jadi membakar daerah tersebut dan pindah ke daerah lain. Jika ternyata api hasil bakaran tersebut mengenai daerah yang di keramatkan atau terkena daerah milik orang lain, maka mereka harus membayar denda adat yang besarannnya diatur oleh ketua adat setempat.
Penduduk Sei Antu juga masih percaya akan kekuatan supranatural seperti adanya roh-roh orang yang sudah meninggal, hantu, binatang-binatang jadi-jadian, dan lain-lain. Tidak jarang penduduk bercerita bahwa sewaktu berjalan di hutan atau sebelum membakar hutan, mereka sering menemukan pohon yang sehari sebelumnya itu sudah mereka tebang dan tumbang. Namun keesokan harinya pohon tesebut sudah berdiri tegak kembali tanpa menyisakan bekas-bekas dari tebangan. Hanya bekas-bekas di tanah dan pohon-pohon patah di sekitarnya saja yang menandakan bahwa pernah ada pohon tumbang sebelumnya.
Dengan keyakinan-keyakinan seperti itu, di daerah desa Sei Antu masih terdapat tradisi dan ritual-ritual yang berbungan dengan alam dan segala isinya. Seperti tradisi perayaan syukuran panen yang dilakukan setahun sekali yang mereka sebut ‘gawai’, ritual dalam membangun rumah, ritual dalam proses pemakaman, ritual penyembuhan sakit dan lain sebagainya.
45 Menurut Foster dan Anderson, Penduduk desa Sei Antu bisa digolongkan ke dalam penduduk yang masih menganut paham naturalistik dan paham personalistik. Paham naturalistik adalah paham yang menyatakan bahwa suatu penduduk amat dekat dan tergantung dengan alam sehingga mereka percaya dan meyakini bahwa suatu hal harus berjalan sebagaimana seharusnya seperti yang sudah digariskan oleh alam. Sedangkan paham personalistik adalah paham yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang berada di alam ini mempunyai hidup dan bernyawa sama seperti manusia, sehingga harus diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.
Penduduk desa Sei Antu sebagian besar beranggapan bahwa mereka itu hidup didunia ini hanya sementara. Yang membedakannya adalah apa yang mereka sebut sebagai mati. Selanjutnya tempat hidup mereka itu adalah suatu tempat di atas sana yang lazim mereka sebut sebagai tempat para dewa penguasa alam.Penduduk desa Sei Antu meyakini kematian itu bukanlah suatu kemusnahan tetapi hanyalah perpindahan saja. Penduduk desa Sei Antu menyebut kematian itu dengan kata ‘Ninggal’ yang merupakan kependekan dari kata meninggal. Ninggal bagi penduduk Sei Antu adalah suatu proses peralihan jiwa dan bentuk dari manusia yang utuh menjadi bentuk roh, dan dari hidup di dunia menjadi hidup bersama para dewa. Ketika ditanya mengenai sebab-sebab kematian, penduduk umumnya berpendapat bahwa penyebab kematian yang adalah karena sakit. Baik sakit karena memang dia mempunyai penyakit tertentu ataupun sakit karena di ganggu oleh makhluk gaib penunggu dari hutan. Penyebab kematian lainnya diyakini memang sudah waktunya orang tersebut untuk meninggal. Seperti yang diutarakan salah seorang informan yang tetangganya meninggal dunia.
“…dia ninggal karena Bapa di surga sudah memanggel…” Jika ada musibah kematian, penduduk desa Sei Antu datang mengunjungi rumah yang terkena musibah tersebut. Mereka biasanya membawa beras sekedarnya sebagai bukti santunan dan rasa belasungkawa mereka. Beras-beras santunan tadi akan dimasak oleh beberapa ibu-ibu, terutama yang rumahnya berdekatan dengan yang terkena musibah kematian, dimasak bersama dengan sayuran dan lauk seadanya (termasuk daging babi jika ada) yang nantinya akan
46
dimakan bersama-sama warga Desa setelah mereka pulang dari menguburkan yang meninggal.
Kaum lelakinya segera menyiapkan peti mati bagi yang meninggal lengkap dengan nisannya yang berupa salib yang dipahat sederhana bertuliskan nama yang meninggal berikut dengan tanggal meninggalnya. Baik peti mati maupun salib nya terbuat dari kayu belian. Penggunaan kayu belian ini sesuai dengan anggapan mereka bahwa peti mati dan salib nisan itu harus menggunakan kayu belian karena kayu belian itu kuat dan tidak mudah hancur karena lapuk. Selain itu, penggunaan kayu belian yang kuat itu dimaksudkan untuk memperlama proses pembusukan mayat sehingga arwah/roh yang meninggal diyakini dapat melihat jasadnya yang masih utuh selama perjalanannya menuju tempat para dewa penguasa alam.
Penyiapan peti mati mati dilakukan di halaman rumah yang meninggal. Yang dilakukan pertama kali adalah mengukur panjang dan lebar serta tinggi badan jenazah, lalu papan kayu belian di ukur dan potong sesuai dengan ukuran jenazah. Peti mati tersebut di buat dari empat lembar papan kayu belian beserta dua bilah papan yang dipotong kecil untuk bagian di ujung kepala dan di ujung kakinya. Sehingga keseluruhan terdapat 6 bagian dari peti jenazah yang harus disiapkan. Keenam bilah papan tersebut dibuatkan lubang di beberapa bagian dengan cara dibor agar paku sepanjang 6cm yang nantinya pakai untuk merekatkan papan peti tidak bengkok dan dapat menembus kayu belian.
Bersamaan dengan penyiapan peti mati, sekelompok lain menyiapkan balok kayu tebelian lain seukuran 200 cm X 10 cm X 10 cm sebanyak tiga bilah, dimana dua bilah untuk dipahat dan dirangkai membentuk salib sedangkan sebilah lagi digunakan sebagai batas kepala pada kuburan. Pahatan nama yang meninggal tersebut dikerjakan dengan alat seadanya yang sederhana. Mereka menggunakan paku besar yang dipipihkan sebagai pahatnya serta menggunakan potongan dahan pohon sebagai pemukulnya. Mereka mengerjakannya dgn hati-hati, karena menurut mereka pahatan tersebut tidak boleh salah karena jika salah maka harus menggunakan balok kayu yang baru sebagai gantinya.
47 Papan peti beserta balok kayu hasil pahatan tersebut dibawa satu persatu ke kuburan dengan cara dipikul. Perlu perjuangan tersendiri untuk mencapai kuburan Desa tersebut mengingat beratnya papan kayu dan terletak kuburannya yang berada di tengah-tengah hutan. Setelah sekitar 20 menit berjalan kaki menembus lebatnya hutan, setelah badan dan lengan terasa sakit karena terkena patahan ranting serta banyaknya guguran daun di tanah yang membuat kaki yang menginjaknya membelesak sedalam sekitar 3-4 cm, setelah melewati sungai, setelah melewati beberapa tempat pemujaan yang masih terlihat bekas membakar dupa serta tonggak-tonggak tempat menancapkan kepala-kepala manusia di ujungnya, sampailah di daerah pekuburan Desa.
Gambar 2.6
Peti mati etnis Dayak Mualang masyarakat desa Sei Antu Sumber : Dokumentasi Peneliti
Suatu area pekuburan yang benar-benar terletak di tengah hutan yang dikelilingi rimbunnya pepohonan. Kesunyian melanda begitu memasuki area pekuburan. Tidak terdengar sedikitpun suara-suara binatang. Hanya suara-suara angin yang berdesir kuat menggoyangkan dedaunan dan dahan, menambah kuatnya bulu kuduk berdiri.
48
Gambar 2.7
Barang-barang di atas kuburan etnis Dayak Mualang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Area magis begitu kuat terasa meski di siang hari. Terlihat beberapa barang-barang tua seperti piring, gelas, panci, sendok makan, sepatu boot, dan lain-lain ada di atas beberapa makam tua. Memang menurut kepercayaan penduduk di desa Sei Antu, di atas kuburan orang yang meninggal itu harus diletakkan barang-barang peninggalan yang meninggal yang biasa dipakainya semasa hidup. Maksud diletakannya barang-barang tersebut dipercaya untuk digunakan roh/arwah yang meninggal dalam perjalanannya menuju tempat para dewa. Tidak ada yang berani mengambil barang-barang tersebut karena jika diambil, dipercaya roh yang meninggal akan selalu mengganggu yang mengambil karena roh/arwah tersebut tidak tenang dan terganggu perjalanannya ke tempat para dewa.
Setelah sampai di pekuburan, kaum lelaki membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas untuk merangkai dan menyusun peti jenazah menjadi siap digunakan. Sedangkan kelompok yang kedua bertugas untuk menggali tanah untuk tempat kubur sedalam sekitar 150 cm dengan alat pacul/cangkul.Jenazah yang akan dimakamkan di bawa dengan menggunakan tandu/usungan yang terbuat dari beberapa batang dahan pohon yang dijalin dengan menggunakan tali rotan. Jenazah pun setelah di beri baju dan diberi semacam kerudung lalu ditutup kain putih dan di ikat dengan rotan setelah terlebih dahulu di bungkus dengan tikar dari anyaman rumput. Tandu atau usungan itu di tandu oleh dua orang melewati jalan setapak yang satu-satunya yang menuju ke pekuburan yang diiringi oleh rombongan keluarga, kerabat dan tetangga.
49
Gambar 2.8
Pemakaman warga desa yang meninggal dunia Sumber : Dokumentasi Peneliti
Setelah tiba di pekuburan, jenazah diletakkan di samping peti yang sudah disiapkan dan sudah diletakkan di atas liang kubur dengan ditopang oleh dua batang pohon. Lalu peti mati di isi dengan kasur yang biasa di pakai tidur jenazah semasa hidup,untuk dipakai sebagai alas jenazah. Lalu bungkusan tikar berisi jenazah dibuka dan jenazah di taruh di dalam peti yang sudah di beri alas. Setelah dirapikan posisinya dan kain putih ditutupkan ke jenazah, pihak keluarga menaruh berbagai macam barang-barang peninggalan almarhum, terutama baju-baju yang dibiasa di pakai almarhum semasa hidupnya. Baju-baju tersebut di taruh di dalam peti di bagian kaki jenazah. Setelah selesai dan sebelum peti ditutup, diadakan sembahyang kubur secara katolik yang dipimpin oleh seorang gembala yang nerupakan sebutan bagi pemimpin umat Katolik di suatu daerah.
Setelah peti ditutup dan di paku, diadakan lagi sembahyang kubur, kemudian peti diturunkan ke liang lahat secara perlahan dengan menggunakan tali dari rotan muda. Setelah peti mencapai dasar, tali rotan yang digunakan untuk menurunkan tadi di tancapkan di sisi-sisi peti untuk ikut dikuburkan. Hal ini mempunyai makna bahwa dalam perjalanannya nanti, arwah/roh akan membutuhkan tali dalam meniti jembatan menuju tempat para dewa. Setelah dibacakan
50
doa yang dipimpin oleh gembala, penduduk yang ikut mengiringi jenazah ke pekuburan, mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke dalam liang lahat. Ini dimaksudkan agar doa dan cinta kasih mereka akan selalu bersama dan selalu mengiringi arwah/roh dalam perjalanannya nanti. Setelah itu barulah peti dikubur dengan tanah galian yang sudah di gali sebelumnya.Bagian akhir dari posesi penguburan ini adalah menancapkan salib dari kayu belian di bagian kaki kuburan dan baloknya di bagian kepala kuburan, serta memasangkan balok-balok kayu di sekeliling liang lahat yang sudah di uruk sebagai tanda dan batas dari suatu kuburan.
Keadaan magis makin terasa mencekam karena sesaat setelah selesai ditancapkannya salib ke kuburan, keadaan menjadi mendung gelap dan hujan turun dengan lebatnya membasahi semua yang hadir serta seluruh area pekuburan. Warga yang hadir di pekuburan tersebut berkata bahwa setiap kali ada yang meninggal dan dikuburkan di pekuburan desa tersebut, pastilah turun hujan lebat. Mereka mempercayai bahwa hujan yang turun itu merupakan petanda bahwa dewa penguasa alam dan hutan tempat pekuburan itu berada turut bersedih atas kematian yang terjadi tersebut.
Penduduk di desa Sei Antu masih percaya akan hal-hal yang berhubungan dengan mistik dan alam gaib. Mereka juga percaya akan reinkarnasi. Mereka percaya bahwa setan, roh halus, makhluk jejadian, arwah gentayangan adalah wujud dari arwah atau roh orang yang meinggal dengan tidak di doakan terlebih dahulu. Atau mereka menjadi roh jahat yang suka menggangu manusia karena tidak diterima di tempat para dewa atau roh tersebut tersesat dalam perjalanannya menuju tempat para dewa. Menurut kepercayaan penduduk, roh atau arwah yang tidak diterima juga bisa menjelma menjadi binatang-binatang jejadian yang biasanya suka menampakkan diri pada manusia dan membawanya ke tengah hutan untuk disesatkan disana.
2.3.2Praktek Keagamaan/Kepercayaan Tradisional
Seperti telah disebutkan di atas bahwa meski telah menganut agama Katolik dan Kristen Protestan, penduduk di desa Sei Antu masih percaya akan hal-hal yang bersifat gaib, mistis dan supranatural. Hal ini melekat begitu kuat sehingga tercermin dalam pola perilaku
51 penduduk disana dalam kesehariannya. Tidak jarang dan tidak sedikit penduduk yang bercerita bahwa mereka suka mendengar hal-hal yang aneh, seperti suara orang memanggil, suara tangisan, suara orang tertawa, suara hewan yang tidak tau bentuk dan rupanya.
Tetapi setelah adanya pembangunan jalan beberapa tahun lalu menurut pengakuan mereka hal-hal tersebut sudah jarang terjadi. Ajaran Katolik dan ajaran Kristen Protestan melarang akan hal-hal seperti itu. Tetapi, meski agama telah melarang, sampai sekarang masih banyak penduduk yang mempercayai beberapa tempat yang dianggap angker. Dalam hal pengobatan pun, masih banyak anggota penduduk desa Sei Antu yang berobat dan menjalani pengobatan secara tradisional yang dilakukan oleh pengobat tradisional pula. Dengan kondisi penduduk yang seperti itu ditambah dengan lokasi wilayah dan keadaan alam sekitarnya yang amat mendukung menyebabkan banyaknya kegiatan ritual-ritual yang dilakukan oleh penduduk desa Sei Antu. Dan bagi penduduk Sei Antu, dengan sering dilakukannya ritual-ritual keagamaan dimaksudkan agar mereka bisa menjalani hidup dengan baik dan tenang.
Ada beberapa ritual unik yang selalu dilakukan warga desa Sei Antu apabila mereka baru pulang dari pekuburan. Bila dalam arah pulang mereka melewati sungai, maka mereka akan beramai-ramai menceburkandiri ke sungai dan mandi bersama membersihkan diri. Ini dipercaya mereka bahwa roh/arwah yang baru dikuburkan tidak ikut pulang bersama mereka. Bagi warga yang masih mempunyai anak kecil pun tidak berani langsung menggendong anaknya sebelum mandi dan membasuh diri terlebih dahulu. Mereka beralasan agar si anak tidak dimasuki arwah dari pekuburan.
Ada hal yang unik dari perjalanan pulang dari pekuburan, yaitu, tidak adanya warga yang berani mengambil jalan pintas ketika pulang meski jalan pintas yang akan diambil itu lebih dekat, lebih terbuka,dan lebih mudah dilalui. Mereka masih percaya bahwa jika mengambil jalan pintas sewaktu pulang dari pekuburan, maka mereka akan terkena kutukan berupa penyakit gila atau bahkan bisa membawa kematian bagi yang melakukannya. Ini di buktikan dengan adanya warga desa yang mendadak menjadi hilang ingatan sampai meninggal karena nekat mengambil jalan pintas sewaktu pulang dari pekuburan.
52
Merekaberpendapat bahwa orang yang mengambil jalan pintas dari pekuburan itu diganggu jiwanya oleh arwah hingga menjadi gila. Jadi perjalanan pulang dari pekuburan itu harus melewati jalan yang sama sewaktu datang ke pekuburan tersebut, agar terhindar dari gangguan setan atau makhluk yang bisa membuat gila.
Ritual lainya lagi adalah dibuatnya ‘pentik’ oleh salah seorang warga. Pentik ini adalah ranting kayu berdiameter sekitar sebesar ibu jari dengan panjang sekitar 20 cm, yang ujungnya di pasangi bulu ayam yang dililit dan diikat oleh tali rotan, serta di taruh di jalan masuk menuju pekuburan. Maksudnya dibuatkan pentik ini adalah agar roh jenazah yang baru meninggal dan baru dikuburkan tadi tidak kembali ke rumah, mengingat masih adanya keterikatan batin yang kuat antara keluarga yang ditinggalkan dengan roh orang yang meninggal tersebut.
Ritual terakhir dalam prosesi kematian, yang dilakukan oleh seluruh penduduk adalah membakar kayu di halaman rumah masing-masing. Kayu dipilih yang setengah basah agar banyak asap keluar. Ini sudah merupakan tradisi penduduk Desa Sei Antu, sebagai tanda bahwa mereka berkabung atas orang yang meninggal, sekaligus mengantarkan rohnya yang dipercaya berbentuk seperti asap karena ringan, bisa melayang di udara, bisa berbentuk apa saja serta ada dimana-mana, menuju tempat para dewa penguasa alam.
Banyaknya warga yang membakar kayu, maka Desa Sei Antu itu seperti tertutup oleh kabut asap yang justru menambah suasana menjadi lebih mencekam di sore dan malam harinya. Bagi keluarga yang terkena musibah kematian, akan mengadakan puji-pujian dirumah yang dilakukan di malam pertama, malam ke tiga, malam ketujuh, malam ke empat puluh dan malam ke seratus hari nya orang yang meninggal tersebut. Ini dimaksudkan agar keluarga mengingat terus arwah orang yang meninggal dan bagi arwah yang meninggal agar diberikan ketentraman dan ketenangan di alam sana karena dihadiahi doa dan puji-pujian oleh keluarga, kerabat dan tetangga. Doa dan puji-pujian tersebut juga diartikan untuk mengantar dan mendampingi arwah agar tidak merasa kesepian.
53 Penduduk yang ingin bersalin di desa Sei Antu masih jarang yang mau menggunakan tenaga kesehatan yang ada. Mereka seringkali menggunakan jasa dukun kampung. Penduduk desa Sei Antu masih menganggap bahwa dukun kampung lebih bisa menangani segala permasalahan yang terjadi sewaktu persalinan. Banyak kasus yang sebelumnya tidak bisa ditangani oleh tenaga kesehatan dan harus dirujuk ke pusat pelayanan yang lebih lengkap seperti puskesmas perawatan di Balai Sepuak bisa ditangani oleh dukun kampung. Penyulit sewaktu kelahiran itu seperti sungsang, leher terlilit tali pusar, lahir kaki dahulu, adanya pembengkakan, tekanan darah yang terlalu tinggi, tetapi oleh dukun kampung semua permasalahan tersebut bisa selesaikan dengan lancar dan semua dilahirkan dengan baik secara normal tanpa adanya kesulitan.
Penduduk masih percaya bahwa dukun kampung mempunyai suatu ilmu tertentu yang kemungkinan besar dibantu oleh para makhluk halus yang bisa membuat lancarnya proses kelahiran. Mereka percaya