• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pondok pesantren sesungguhnya telah lama didefinisikan oleh para ahli.

Pondok berasal dari kata Arab "funduq "yang berarti hotel atau asrama, sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri yang dengan awalan "pe" dan akhiran “an"

berarti tempat tinggal para santri (Dhofir, 1985: 18). Pondok juga berarti ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi pelajar yang jauh tempat tinggalnya, sementxdbvara pesantren berasal dari kata santri yaitu gabungan dari kata sant (manusia baik) dan tra (suka menolong), sehingga pondok pesantren adalah tempat pendidikan bagi manusia-manusia baik (Ziemek, 1986: 99).

Keduanya mempunyai konotasi yang sama, yakni menunjuk pada suatu tempat kediaman dan belajar para santri. Dengan demikian pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang dilaksanakan dengan sistem asrama (pondok) dan dengan kyai sebagai sentra utama serta masjid sebagai pusat lembaganya, Sedangkan menurut Abdulloh dalam Arifin, kata pesantren berasal dari kata santra, yaitu san yang berarti orang baik,dan tra yang berarti suka menolong, sehingga santra artinya orang yang suka menolong (Arifin, 2010: 13).

Beberapa pemerhati masalah pendidikan Islam di Indonesia mencoba untuk menjelaskan pondok pesantren sekaligus melacak akar sejarahnya. Steenbring (1986) mengatakan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang diadopsi dari India. Pasca menyebarnya Islam di Nusantara, terdapat banyak persamaan antara pendidikan Hindu di India dan pesantren di Indonesia. Persamaan itu diantaranya: pendidikan bersifat keagamaan, guru yang mengajar tanpa gaji, penghormatan kepada guru, bangunan pesantren biasanya dibangun di luar area perkotaan. Persamaan juga terlihat dari bagaimana perhatian Negara yang menyerahkan tanah untuk kepentingan pendidikan baik dalam tradisi Hindu maupun Pesantren (Steenbring, 1986: 20-21).

Sedangkan Bruinessen mengungkapkan pendapat yang senada, yaitu terdapat indikasi yang kuat bahwa pendidikan pesantren berasal dari luar. Namun berbeda dengan Steenbring yang mengatakan pesantren dari India, Bruinessen berangggapan pesantren tidak bias dilepaskan dari Arab sebagai pusat orientasi umat Islam. Ia mencontohkan tradisi pembelajaran kitab kuning yang begitu kuat dan mengakar di pesantren. Kitab kuning yang berbahasa Arab merupakan bukti bahwa pesantren tidak bias dilepaskan dari tradisi Arab. Selain kitab kuning,

indikasi lain bahwa pesantren erat kaitannya dengan Arab adalah sistem pendidikannya itu sendiri. Ia berpendapat, pola pendidikan pesantren menyerupai pola pendidikan yang berkembang di Timur Tengah yaitu madrasah dan zawiyah.

Di samping itu banyak di antara Ulama-ulama yang menyebarkan Islam di nusantara melalui jalur pesantren mengenyam pendidikan di tanah Arab (Bruinessen, 1995: 22).

Pondok pesantren tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan keberadaan santri atau pelajar yang tinggal di dalamnya. Karena adanya santri inilah sebuah lembaga pendidikan dinamakan pondok pesantren. Santri belajar menimba ilmu, khususnya ilmu-ilmu agama kepada seorang kiai di pondok pesantren, ia secara penuh berada di bawah pengawasan kiai karena ia telah meninggalkan tempat tinggal di kampung halamannya masing-masing. Secara sederhana dan secara teknis pondok pesantren adalah “a place where santri (student) live. Yang berarti bahwa pesantren adalah suatu lembaga di mana santri atau murid tinggal.

Senada dengan penjelasan di atas, Bawani (1983: 129) menambahkan pondok (asrama santri) adalah bukti tradisional pondok pesantren. Pondok pesantren disebut lembaga pendidikan Islam tradisional jika memiliki pondok atau asrama santri yang berstatus mukim. Bawani juga menjelaskan bahwa kecenderungan untuk berkelana menuntut ilmu dan menetap di suatu tempat di mana seorang guru berada, adalah juga tradisi yang menyatu dengan ulama masa lalu. Pendidikan pesantren dengan segala karakteristiknya, memiliki sejarah panjang. Sebagai pendidikan tradisional, pendidikan pesantren telah mampu berdialog dengan zamannya serta mampu untuk melewati berbagai pasang surut perubahan zaman dan tantangannya. Di saat pendidikan Islam tradisional di

berbagai penjuru dunia telah tergilas oleh laju perubahan zaman, justru pendidikan pesantren sebagai representasi pendidikan Islam tradisional di Indonesia tetap eksis dan bertahan hingga kini. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Azra (2012: 107-116), bahwa “pesantren merupakan pendidikan Islam tradisional di dunia yang mampu bertahan hingga kini karena karakter pesantren yang akomodatif, mampu menyesuaikan diri dan berakulturasi dengan budaya setempat”.

5. Kiai

Secara umum gelar kiai diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama atau tokoh agama Islam yang memimpin pondok pesantren. Dalam pengertiannya yang paling luas di Indonesia, gelar Kiai disematkan kepada para pendiri dan pemimpin pondok pesantren, sebagai muslim terpelajar, menguasai ilmu-ilmu agama dan membaktikan hidupnya untuk memperdalam dan menyebarluaskan ajaran-ajaran agama Islam melalui kegiatan pendidikan (Ziemek, 1986), (Geertz, 1981), Kiai disebut sebagai emerging leader, pemimpin non-formal yang diangkat oleh masyarakat, serta actual leader, seorang pemimpin yang diakui masyarakat karena kharisma yang dimilikinya. Legitimasi tersebut diperoleh dari masyarakat karena keahlian-keahlian tertentu.

Kiai mempunyai pengaruh yang cukup kuat dalam masyarakat, karena kewibawaan dan kharisma yang melekat pada diri seorang kiai. Hal ini menunjukkan bahwa kiai mempunyai kharisma tersendiri bagi masyarakat pesantren atau lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Menurut Horikoshi (1987), ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang diakui sebagai seorang kiai; pertama, sifat-sifat yang dimiliki kiai harus sesuai dengan nilai-nilai ideal

yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam konteks budaya yang spesifik. Kedua, kemampuan yang tinggii itu dipandang oleh kelompok sekuler sesuatu yang sangat sulit dicapai atau dipertahankan. Gagasan tentang sifat yang tidak mudah dicapai oleh masyarakat umum inilah yang kelihatan luar biasa. Kiai adalah teladan yang patut untuk dicontoh dan ditaati.

Istilah kiai berbeda dengan terminology pondok pesantren yang terindikasi berasal dari luar yakni Arab atau India, istilah kiai berasal dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa, istilah kiai mempunyai cakupan makna yang amat luas. Kiai mempunyai makna sesuatu yang agung, keramat dan dituahkan. Julukan kiai tidak hanya diberikan kepada manusia, namun benda-benda yang dalam tradisi Jawa dianggap keramat dan bertuah juga disebut kiai misalnya keris, tombak, gerobak dan benda-benda lain (Arifin, 1992: 48).

Walaupun sebutan istilah kiai muncul dalam tradisi jawa, namun masyarakat di Jawa Barat mempunyai istilah lain; yaitu Ajengan. Perbedaan istilah tidak lantas menjadikan peran fungsi social keagamaan seorang kiai menjadi berbeda. Perbedaan istilah ini juga terdapat pada daerah-daerah lain. Di Madura, ada istilah Mak Kyiae, Bendara atau Nun. Di Nusa Tenggara Barat ada istilah Tuan Guru. Di Aceh ada Ulema. Sementara di daratan Sumatera teradapat istilah Buya (Arifin, 2010: 31).

BAB VI PENUTUP A. PENGANTAR

Bab ini adalah bab penutup yang merupakan akhir dari disertasi ini. Pada bab penutup ini akan disajikan tiga hal utama, yaitu; pengantar, kesimpulan dan implikasi hasil penelitian yang meliputi implikasi teoritis dan implikasi praktis.

B. KESIMPULAN

Berdasarkan temuan dan pembahasan pada penelitian di Pondok Pesantren Amanatul Ummah ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan:

1) Dalam penelitian ini, penelusuran tentang nilai-nilai multikultural, mengungkap beberapa nilai yang berkembang di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, yaitu: (i) Nilai Kebersamaan; (ii) Nilai Toleransi dalam Keragaman;

(iii) Nilai Kerjasama; (iv) Nilai Kasih Sayang; (v) Nilai Musyawarah; (vi) Nilai Keadilan; (vii) Nilai Demokrasi; (viii) Nilai Menghilangkan Kecurigaan (prejudice reduction); dan (ix) Nilai Kesetaraan. Pondok pesantren adalah lahan yang subur bagi tersemainya benih-benih multikultural yang responsif-adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan serta dinamika konstelasi geopolitik baik nasional maupun dalam skala internasional. Pondok pesantren turut berperan aktif dalam menyebarkan gagasan tentang nilai-nilai multikultural, di saat gejala tentang eksklusivisme dan radikalisme agama dalam Islam sedang mengalami trend peningkatan. Sehingga berangkat dari teori besar ajaran Alquran tentang keniscayaan kemajemukan masyarakat,

suku, warna kulit, bahasa, agama dan lain sebagainya dalam konstruksi multikulturalisme, penelitian ini mengungkap nilai-nilai multikultural yang ada di lembaga pendidikan pesantren. Nilai-nilai multikultural yang terdapat pada kehidupan sehari-hari para santri ketika santri belajar, di asrama, mengaji, ketika santri makan, shalat, membaca wirid dan sebagainya

2) Desain pengembangan nilai-nilai multikultural kiai tidak lepas dari karakter dasar pesantren yang dinamis. Desain pengembangan nilai-nilai multikultural di Pondok Pesantren Amanatul Ummah terdapat tiga temuan: Pertama, meneguhkan spirit keagamaan. Yaitu kiai membekali para santri dengan nilai-nilai spiritual yang dalam bahasa santri disebut dengan riyadloh. Dalam hal ini, kiai menjadi pengawal pesantren dalam menjaga tradisi-tradisi yang selama ini melekat dengan jati diri pesantren. Riyadloh menjadi kekuatan tersendiri bagi kaum santri dalam memenangkan “medan jihad” yaitu merumuskan konsep pendidikan maju yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, meneguhkan identitas santri dengan prestasi. Yaitu kiai menerapkan disiplin belajar ketat dengan menuntut dedikasi tinggi dari guru. Guru menjadi episentrum pendidikan di Amanatul Ummah dengan menjadi pelopor bagi prestasi yang dicanangkan oleh pesantren. Sehingga hasilnya adalah torehan prestasi yang dihasilkan para santri. Sedangkan desain Ketiga, membangun peradaban dari pesantren. Yaitu Kiai menjadi instrumen paling utama perihal tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai multikultural di pondok pesantren.

Masyarakat pesantren yang merupakan sub-kultur masyarakat—

terminologi yang diperkenalkan Gus Dur dalam membaca realitas masyarakat pesantren, mempunyai orisinalitas cara hidup sendiri dalam menentukan sikap menghadapi segala bentuk perubahan. Dibawah asuhan seorang kiai, pondok pesantren mempunyai watak dinamis, sebagaimana teori Gus Dur, yaitu mampu menjadi bagian integral dari proses perubahan, namun di sisi lain, pesantren masih tetap memegang teguh jati diri dan identitasnya sebagai lembaga tradisional keagamaan dengan segala ciri khas dan keuinikannya. Sikap pesantren dalam merespon perubahan tidak bisa lepas dari kerangka acuan almuhafadhah ‘alal qodimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Dalam penelitian ini diungkapkan ketika pondok pesantren Amanatul Ummah bertekad membenahi kualitas pendidikan pesantren dengan cara—salah satunya—mengirim santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi terbaik di dalam ataupun di luar negeri, sesungguhnya pondok pesantren sedang mengirimkan duta-duta multikultural, karena sebelumnya para santri telah hidup dalam komunitas masyarakat multikultural di pesantren. Rentang waktu para santri belajar di pondok pesantren menjadi sarana untuk membekali santri dengan kesadaran multikultural.

3) Model pengembangan nilai-nilai multicultural kiai dalam masyarakat pesantren dicapai melalui tiga hal; pertama, membentuk komunitas multikultural; yaitu keadaan dimana santri Amanatul Ummah berasal dari berbagai latar belakang sosial dan budaya, serta kebijakan kiai yang mendatangkan santri dari luar

negeri menjadikan Pondok Pesantren ini rumah bagi keragaman. Kedua, menghindari bangkitnya isu sektarianisme; yaitu kiai menghindari perilaku eksklusif dengan bersikap menutup diri dari kelompok dan faham keagamaan yang berbeda dengan yang dianutnya. Kiai terbuka menerima santri di luar NU serta melarang eksklusifisme di lembaganya. Ketiga, menumbuhkan pemahaman Islam moderat di kalangan santri; yaitu penolakan kiai terhadap ideology radikal dalam bentuk organisasi yang hendak merubah dasar Negara untuk memasuki lembaga pesantren. Sebagaimana teori Horikoshi tentang kiai dan perubahan sosial, dalam konteks penelitian ini, kiai menjadi aktor utama dalam mengemas pondok pesantren menjadi lebih ramah, toleran dan terbuka dalam koridor multikulturalisme, dengan cara membuka ruang-ruang multicultural serta membatasi ruang gerak nilai-nilai anti-multikultural. Kiai menjadi inisiator pengembangan nilai-nilai multicultural melalui terobosan-terobosan besar tentang agenda pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa mengembangkan pendidikan pesantren adalah sekaligus mengembangkan nilai-nilai multikultural.

Dokumen terkait