DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Populasi dan Distribus
Burung maleo hanya dapat dijumpai di Pulau Sulawesi yaitu di Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara
6 (Whittenet al. 1987, Gazi 2008). Populasi maleo terbanyak ditemukan di daerah
Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah (Hendro 1974).
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Ma’dika et al. (2001), maleo
di TNLL tersebar di 10 lokasi. Lokasi peneluran Saluki memiliki ukuran populasi maleo besar dan habitat berdekatan dengan tanaman coklat. Lokasi peneluran Kadidia memiliki ukuran populasi maleo kecil dan habitat berdekatan dengan tanaman kopi sedangkan lokasi peneluran Bora memiliki ukuran populasi maleo kecil dengan habitat berupa semak dan perdu (Tabel 1).
Tabel 1. Penyebaran maleo di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (Ma’dikaet al.2001)
Koordinat Lokasi Habitat LubangJumlah PopulasiUkuran PerkiraanPopulasi
LS BT
Pakuli Semak dan perdu 164 Sedang 70 – 130 01o13’50” 119 o57’48”
Saluki Tanaman coklat 722 Besar 325 – 650 01o17’54” 119o58’32”
Mapane Semak belukar 49 Kecil 22 – 44 01o19’23” 119o58’33”
Kadidia Tanaman kopi 14 Kecil 6 – 13 01o11’30” 120o07’13”
Hulurawa Hutan primer 258 Besar 116 – 232 01o13’44” 120o06’13”
Mangku Semak belukar 48 Kecil 27 – 47 01o39’25” 120o05’90”
Kaya Tanaman bambu 94 Sedang 42 – 85 01o39’56” 120o05’17”
Kertambe Hutan primer 8 Kecil 4 – 7 01o49’52” 120o08’07”
Taveki Sempadan sungai 130 Sedang 59 – 117 01o21’58” 120o11’45”
Bora Semak dan perdu 59 Kecil 27 – 53 01o03’32” 119o56’32”
Keterangan: Penentuan ukuran populasi mengikuti Butchart et al. (1998) dengan kriteria:1) Besar (>200
lubang); 2) Sedang (75–200 lubang); 3) Kecil (<75 lubang)
Secara keseluruhan populasi maleo di semua tempat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu selama 10 tahun terakhir telah mengalami penurunan. Ma’dika et al. (2001) dalam laporannya menyebutkan bahwa pengambilan telur
maleo merupakan penyebab utama menurunnya populasi burung tersebut di habitat alaminya, selain aktivitas manusia yang merusak habitat maleo. Pada tahun 1978 populasi maleo diperkirakan 5.000–10.000 ekor, dengan produksi telur tahunan sebanyak 30 butir per individu betina (MacKinnon 1978).
2.3. Habitat
Garshelis (2000) mendefinisikan habitat sebagai tempat dimana hewan dapat hidup secara normal, atau lebih spesifik lagi, sekumpulan sumberdaya dan kondisi yang diperlukan oleh hewan untuk hidup. Bailey (1984) menyatakan
7 bahwa habitat memiliki fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung. Dari segi komponennya habitat terdiri atas komponen fisik dan komponen biotik.
Komponen fisik dan biotik ini membentuk suatu sistem yang dapat mengen- dalikan kehidupan satwaliar. Suatu habitat adalah hasil interaksi dari sejumlah komponen. Komponen fisik terdiri dari air, udara, iklim, topografi, tanah dan ruang; sedangkan komponen biotik terdiri dari vegetasi, mikro dan makro fauna, serta manusia (Alikodra 1990).
Istilah seleksi atau pemilihan habitat dan preferensi habitat atau habitat yang disukai sering digunakan dan tertukar maknanya satu sama lain. Banyak peneliti berpendapat bahwa pemilihan habitat sama dengan preferensi habitat , akan tetapi Johnson (1980) menyatakan bahwa seleksi habitat lebih menekankan pada proses pemilihan habitat atau sumberdaya oleh satwaliar, sedangkan preferensi habitat mencerminkan tingkat kesukaan satwaliar dalam memilih suatu habitat atau sumberdaya tertentu jika semua habitat tersebut secara bersama-sama ada dan memiliki jumlah yang sama. Tipologi habitat merupakan proses klasifikasi habitat yang dapat dibedakan melalui definisi habitat, narasi jenis flora dan fauna dan fungsi dari habitat itu sendiri. Definisi tipologi habitat sangat jarang digunakan dalam banyak literatur, akan tetapi definisi yang pernah digunakan tentang tipologi habitat adalah unit lahan atau perairan yang berisi sekumpulan habitat yang memiliki kesamaan struktur, fungsi dan respon terhadap gangguan (Lengyel & Kobler 2007).
Burung maleo tidak membuat sarang, tidak menyimpan telur di sarang, serta tidak mengerami telurnya seperti umumnya jenis burung lain, melainkan hanya meletakkan telurnya di dalam tanah yang memiliki suhu cukup hangat untuk menetaskan telur tersebut. Kehangatan bersumber dari panas matahari (di pantai terbuka), panas bumi (di hutan) ataupun gabungan panas matahari dan panas bumi.
Habitat bertelur burung maleo terdapat di hutan-hutan berbukit dengan
semak-semak serta hutan dekat pantai yang memiliki sumber panas. Nesting
ground terbagi atas habitat bertelur di pantai (coastal nesting ground) dan habitat
bertelur di dalam hutan dengan sumber panas geothermal (inland nesting ground)
8 Tengah terdapat di Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Suaka Margasatwa Bakiriang, Cagar Alam Tanjung Api, Cagar Alam Tanjung Dako, dan Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop (BKSDA Sulawesi Tengah 2002).
Joneset al. (1995) menyatakan bahwa lubang pengeraman terletak di tanah
vulkanik dan pantai yang terekspos matahari, tepi danau, tepi sungai dan bahkan jalan berdebu sepanjang tepi pantai. Lubang sangat bervariasi dalam ukuran dan kedalaman tergantung substrat dan temperatur tanah. Lebar lubang dapat men- capai 300 cm dengan kedalaman lebih dari 100 cm. Masa inkubasi 60–80 hari dengan temperatur tanah 32o–39oC (del Hoyo et al. 1994). Gunawan (2000)
menyatakan bahwa suhu tanah di lubang pengeraman yang optimal adalah 34oC
dengan kelembaban berkisar 50–80% dan pH tanah bervariasi mulai dari 5,1–7,1. Burung maleo memilih tempat bertelur dengan cara mematuk-matukkan paruhnya ke permukaan tanah. Biasanya tempat bertelur dipilih pada areal yang lebih banyak penyinaran matahari. Demikian pula dengan keadaan tekstur tanah, maleo memilih tanah yang memiliki tekstur berpasir karena hal ini erat hubungannya dengan lamanya penggalian lubang dan keadaan posisi telur di dalam lubang (Wiriosoepartho 1980).
Gunawan (2000) menyatakan bahwa kedalaman lubang sarang pengeraman telur burung maleo ditentukan oleh kuatnya pengaruh dari sumber panas. Apabila pengaruh dari sumber panas bumi cukup kuat maka kedalaman lubang pengeraman tidak terlalu dalam, tetapi bila panas bumi kurang maka lubang digali cukup dalam. Lebar lubang sarang pengeraman telur dipengaruhi oleh kedalaman lubang dan tekstur tanah, semakin dalam lubang yang digali semakin bertambah ukuran lebar. Terdapat beberapa tipe sarang pengeraman telur bagi burung maleo, yakni:
a). Tipe sarang pengeraman di tempat terbuka, adalah sarang yang dibuat di tempat yang langsung mendapat sinar matahari sepanjang siang, umumnya ditemukan di habitat pantai dimana sumber panas pengeraman berasal dari radiasi matahari.
b). Tipe sarang pengeraman di bawah naungan tajuk, adalah sarang yang dibuat di bawah tajuk dengan fungsi sebagai pelindung sinar matahari dan hujan. Tipe sarang ini umum dijumpai di habitat tempat bertelur yang bersumber
9 panas bumi (geothermal). Tajuk bambu atau rumpun rotan menjadi naungan
yang disukai maleo untuk bersarang.
c). Tipe sarang pengeraman di bawah lindungan pohon tumbang, adalah sarang yang dibuat di bawah batang pohon tumbang. Maleo cenderung memilih pohon dengan diameter batang yang mampu melindungi sarang dari sinar matahari, hujan dan longsor.
d). Tipe sarang pengeraman di bawah naungan tebing atau batu, adalah sarang yang dibuat di samping batu-batu yang miring, di celah-celah batu atau di samping tebing.
e). Tipe sarang pengeraman di dalam goa, adalah sarang yang dibuat di dalam lubang-lubang goa di daerah karst sehingga sarang tersebut terlindung dari sinar matahari dan hujan.
f). Tipe sarang pengeraman disamping perakaran pohon, adalah sarang yang dibuat dengan salah satu sisinya menempel pada sistem perakaran tumbuhan sehingga pada sisi tersebut terhindar dari longsor.
g). Tipe sarang pengeraman di antara banir pohon adalah sarang yang dibuat di sela-sela banir atau sistem perakaran yang rumit sehingga sarang tersebut terhindar dari satwa predator.
2.4. Pakan
Seperti halnya dengan jenis unggas yang lain, burung maleo membutuhkan pakan sebagai sumber zat-zat makanan untuk tumbuh dan berkembangbiak. Burung maleo mencari pakan di sekitar lokasi peneluran di tepi pantai dan hutan (MacKinnon 1981). Burung maleo aktif mencari pakan sejak matahari terbit (pukul 05:00) hingga terbenam (pukul 18:00) dan maleo mencari pakan secara berpasangan di hutan-hutan (Wiriosoepartho 1979).
Makanan burung maleo pada umumnya adalah biji-bijian dan beberapa jenis
buah-buahan di hutan. Biji atau buah yang dimakan antara lain Aleurites
moluccana, Dracontomelan mangiferum, Endiandra sp., Ficus sp., Macaranga sp.,Garuga floribunda,Arenga pinnata,Syzygium sp.,Cananga odorata,Alstonia scholaris, Garcinia sp., Gouia sp., Aglaia argentea, Gnetum gnemon, Koordersiodendron pinnatum, Diospyros sp., Pterospermum javanicum dan
10
Endiandra sp. Selain itu burung maleo juga memakan serangga kecil seperti ulat,
siput dan kepiting (Hendro 1974, Wiriosoepartho 1980, Tikupadang et al. 1993,
Gunawan 1994, Satriani 2004). Burung maleo jarang terlihat langsung memakan buah dan biji yang masih menempel di pohon, tetapi lebih menyukai buah dan biji yang telah jatuh di permukaan tanah (Wiriosoepartho 1979).
2.5. Perkembangbiakan
Burung maleo memilih tempat bertelur yang berpasir, bervegetasi, namun masih dapat disinari matahari secara intensif. Persyaratan tempat bertelur burung maleo adalah: (1) tanah berpasir, (2) adanya sumber panas, (3) terletak di pesisir pantai dengan letak yang agak tinggi sedikit dari permukaan pantai atau tepi sungai yang tidak begitu lebat hutannya, (4) suhu tanah berkisar antara 32–39oC (Nurhayati 1986). Areal peneluran alami memiliki suhu pengeraman yang relatif konstan sepanjang siang dan malam hari.
Musim bertelur burung maleo berlangsung sepanjang tahun, tetapi produksi telur pada suatu tempat bervariasi dari bulan ke bulan (Joneset al. 1995). Waktu
bertelur burung maleo terjadi pada pukul 06:00–12:00 waktu setempat. Pada malam sebelum bertelur pasangan burung maleo akan bertengger di atas dahan pepohonan tidak jauh dari tempat bertelur. Esok paginya pasangan burung maleo turun berpasangan mencari pakan, kemudian menuju daerah berpasir untuk menggali lubang tempat bertelur sambil berbunyi terus menerus seperti bernyanyi dan menandai teritorinya. Penggalian tempat bertelur dilakukan secara bergantian antara jantan dan betina, dan berlangsung sangat cepat sekitar 30 menit. Tonjolan di kepala burung maleo yang menyerupai helm merupakan alat pengukur suhu tanah dalam aktivitas penggalian lubang peneluran (MacKinnon 1978, Wiriosoepartho 1980, Dekker 1990).
Setelah membuat lubang, pasangan burung akan menghilang ke dalam belukar sekitar 15 menit untuk beristirahat sambil mengawasi keamanan sekitar lubang. Bila dirasakan aman, betina akan bertelur dan jantan berjaga-jaga sekitar lubang. Selesai bertelur keduanya akan bersama-sama menutup lubang dalam waktu sekitar 10 menit dan biasanya pasangan burung ini akan membuat kamuflase dengan bekas cakaran segitiga agak jauh dari lobang sesungguhnya
11 (Nurhayati 1986). Terdapat kecenderungan lokasi bertelur yang sudah dipilih selalu digunakan dari generasi ke generasi selama tempat tersebut tidak mengalami gangguan (Hendro 1974, Tikupadanget al. 1993, Gunawan 2000).
Seekor induk maleo hanya dapat menghasilkan 8–12 butir telur dalam setahun dan untuk memproduksi 1 butir telur, seekor maleo membutuhkan waktu 7–9 hari (Dekker 1990). Di Sulawesi Utara pada bulan November sampai Januari produksi telur lebih banyak 3 sampai 4 kali dari bulan-bulan yang lainnya. Peningkatan yang nyata ini terjadi karena pada bulan-bulan tersebut pohon-pohon penghasil bahan pakan maleo berbuah sehingga produksi telur meningkat tajam dibanding bulan-bulan saat pohon belum berbuah (Nurhayati 1986).
Berat telur berkisar antara 178–267 gr dengan panjang 92,1–112,6 mm dan diameter 57,6–65,5 mm (Dekker & Brom 1990). Masa pengeraman tergantung pada temperatur tanah yaitu berkisar antara 62–85 hari (Dekker 1990). Apabila tidak busuk, pecah, dimakan predator atau diambil manusia, maka telur maleo akan menetas. Anak maleo yang baru menetas akan menggali pasir untuk keluar dari lubang dan langsung terbang mencari pohon terdekat, bila tidak dimakan predator. Anak maleo memerlukan waktu 1–2 hari untuk memecah kulit telur dan menggali lubang untuk keluar (MacKinnon 1986).