• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 40-48

E. Populasi dan Sampel Penellitian

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian, senada dengan itu Nana Sudjanan dan Ibrahim (1989; 84), menyatakan bahwa:

Populasi adalah seluruh sumber. Data yang memungkinkan memberikan informasi yangf berguna bagi masalah penelitian.

Menurut Suharsimi Arikunto (2010; 173) mengatakan bahwa Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Selanjutnya, menurut Muhammad Arif Tiro (2008; 3) bahwa secara teknis populasi menurut statistikawan tidak hanya mencakup individu atau objek dalam suatu kelompok tertentu, tetapi mencakup hasil-hasil pengukuran yang diperoleh dari peubah tertentu.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan aspek, karakteristik atau fenomena tertentu dari objek yang menjadi pusat perhatian dari peneliti kemudian ditarik kesimpulannya.

Jadi kesimpulannya bahwa yang dimaksud populasi adalah seluruh anggota obyek yang menjdai pusat penelitian sebagai sumber data dan informasi dalam suatu penelitian, dimana obyek tersebut tentulah sudah dibatas yang hendak dicapai. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang ada di MA. Aisiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa yang berjumlah 70 siswa.

2. Sampel

Menurut Suharsimi Arikunto (2010; 174) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Secara ideal kita harus meneliti seluruh populasi.

Bila populasi terlampau besar kita ambil sejumlah sampel yang representatif yaitu yang mewakili keseluruhan populasi itu (S. Nasution, 1996;106).

Adapun teknik sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2011; 124). Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. Sampel jenuh digunakan karena jumlah sampelnya tidak terlalu banyak. Sampel dalam penelitian ini adalah semua Siswa di MA. Aisyiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa yang berjumlah 70 siswa.

F. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah alat untuk mengukur sebagai variabel antara variabel yang satu dengan variable yang lainnya. Adapun instrumen yang penulis pergunakan untuk memperoleh data di lapangan mengenai konsep pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian siswa di MA.

Aisiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa terdiri atas:

1. Pedoman observasi digunakan untuk mengamati langsung terhadap obyek penelitian. Obsevasi ini digunakan untuk melihat secara langsung sejauh mana konsep pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian

siswa di MA. Aisiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, serta berbagai faktor yang mempengaruhinya.

2. Pedoman wawancara digunakan untuk mengetahui sejauh mana konsep pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian siswa di MA. Aisiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, dengan membuat sejumlah daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden yaitu guru-guru dan siswanya sendiri.

3. Catatan dokumentasi dengan cara mencatat secara langsung dokumen-dokumen yang dianggap berhubungan dengan penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode sebagai berikut:

1. Penelitian kepustakaan (library research) yaitu metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan jalan membaca buku-buku yang erat kaitannya dengan mater-materi yang akan dibahas dengan menggunakan kutipan sebagai beriktu:

a. Kutipan langsung, yakni mengutip suatu buku sesuai dengan aslinya tanpa mengubah redaksi tanda bacanya.

b. Kutipan tidak langsung, yakni mengambil ide dari suatu buku sumber, kemudian merangkumnya ke dalam redaksi penulis tanpa terikat pada redaksi sumber sehingga berbentuk ikhtisar atau ulasan.

2. Penelitian lapangan (field research) yaitu suatu metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan jalan mengadakan penelitian lapangan di daerah tertentu, dalam hal ini penulis menggunakan beberapa cara sebagai berikut:

a. Interview, yakni melakukan suatu teknik pengumpulan data dengan mengadakan Tanya jawab kepada beberapa responden dari guru-guru atau siswanya sendiri.

b. Observasi, yaitu Pedoman Observasi merupakan instrumen pengumpulan data atau alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati atau diteliti. Pedoman observasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan pembelajaran oleh Pendidikan Agama Islam di MA Aisyiyah.

c. Dokumentasi, yaitu suatu metode pengumpulan dan dengan jalan mencatat dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian.

H. Teknik Analiss Data

Data yang dikumpulkan kemudian di olah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Reduksi data, yaitu penulis merangkum beberapa data dan keterangan yang dianggap penting untuk dianalisa, kemudian dimasukkan kedalam pembahasan ini. Artinya, tidak semua data dan keterangan yang diperoleh masuk dalam kategori pembahasan ini.

2. Penyajian data, yaitu penulis memperoleh data dan keterangan dari objek yang bersangkutan, kemudian disajikan untuk dibahas guna menemukan kebenaran-kebenaran yang hakiki.

3. Verifikasi data, yaitu penulis membuktikan kebenaran data yang diperoleh dengan tujuan menghindari adanya unsur subjektifitas yang dapat mengurangi bobot kualitas skripsi ini. Artinya, data dan keterangan yang diperoleh dapat diukur melalui responden yang benar-benar sebagai pelaku atau sekurang-kurangnya memahami terhadap masalah yang diajukan.

59

A. Profesionalisme MA. Aisyiyah Sungguminasa Kecamatan MA. Aisyiyah Sungguminasa Kecamatan

Guru dalam konsep ideal adalah manusia yang ditiru, apa yang dikatakan guru merupakan sesuatu yang pantas dipercaya oleh murid, dan apa yang dilakukan oleh guru, merupakan teladan bagi murid. Begitu besarnya peranan guru khususnya dalam mengantarkan anak didik dalam mencapai keberhasilan.1

Sebagai pengendali dan pengarah proses serta pembinaan arah perkembangan dan pertumbuhan mansia didik ia adalah manusia hamba Allah yang bercita-cita Islami yang telah matang rohani dan jasmaninya dan memahami kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan manusia didik bagi kehidupannya masa depan.2

Bagi guru agama, karena tugas pokoknya mendidik dan mengajarkan pengetahuan agama dan menginternalisasikan serta mentransformasikan nilai-nilai agama ke dalam pribadi anak didik yang tekanan utamanya adalah mengubah sikap dan mental anak didik ke arah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mampu mengamalkan ajaran agama, maka secara buil-in, ia adalah

1Sintang Silaban. et.al. Pendidikan Indonesia Dalam Pandangan Limabelas Tokoh Pendidikan Swasta (Jakarta: Dasamedia, 1993), h. 107.

2M.Arifin, Ilmu Pendidikan agama Islam, Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Inter Disipliner. (Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 114.

pembimbing atau counselor hidup keagamaan anak didik. Lalu guru yang bagaiman yang kita inginkan?

Dalam pembahasan ini perhatian akan dipusatkan kepada tiga bagian penting, mengenai defenisi guru, kedudukan guru serta sifat dan syarat guru.

1. Defenisi Guru

Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya mampu melaksanakan tugas sebagai hamba Allah, khalifah di muka bumi, sebagai mahluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

Istilah lain yang lazim dipergunakan untuk pendidik ialah guru. Kedua istilah terbsebut bersesuaian artinya, bedanya ialah, istilah guru seringkali dipakai di lingkungan formal, informal maupun nan formal.4

Dalam kamus Besar bahasa Indonesia edisi kedua 1991, guru diartikan sebagai pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar. tapi sederhana inikah arti guru?. Kata guru yang dalam bahasa Arab disebut “Muallim” dab dalam bahasa Inggris disebut “Teacher” itu memang memiliki arti sederhana, yakni “ A person whose occupation Isim Dhamir teaching others” (McLeod, 1989). Artinya, guru ialah seorang yang pekerjaaannya mengajar orang lain.

3M. Umar dan Sartono, Bimbingan dan Penyuluhan (Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), h. 73.

4Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan agama Islam. (Cet. II; Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), h.

65.

Pengertian-pengertian seperti itu masih bersifat umum dan oleh karenanya dapat mengundang bermacam-macam interprestasi dan bahkan juga konotasi.

Pertama, kata “seorang (A person)” bisa mengacu kepada siapa saja asal pekerjaan sehari-harinya (profesinya) mengajar. dalam hal ini berarti bukan hanya dia (seorang) yang sehari-harinya mengajar di sekolah yang dapat disebut guru, melainkan juga

“dia-dia” lainnya yang berposisi sebagai; kiai di pesantren, pendeta di gereja, instruktur di balai pendidikan dan pelatihan dan bahkan juga sebagai pesilat di padepokan. Kedua, kata mengajar dapat pula ditafsirkan bermacam-macam misalnya:

1. Menularkan pemgetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif) 2. melatih keterampilan bermain kepada orang lain (bersifat psikomotor); dan 3. Menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (bersifat efektif)

Akan tetapi terlepas dari aneka ragam interpretasi tadi, guru yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah tenaga pendidik yang pekerjaan utamanya mengajar.5

Guru sebagai pendidik atau pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan,6 yang memikul tanggung jawab untuk memimpin.7 Oleh sebab itu pendidik muslim dilihat dari fungsinya, bukanlah hanya sebagai pribadi yang berwibawa terhadap manusia didik, melainkan ia juga sebagai pembawa/

pendukung norma-norma Islami yang meneruskan tugas dan misi kerasulan para

5Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Ed. Revisi, (Cet.IV.

Bandung: Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1999). h. 222.

6Ibid., h. 223.

7Rama Yulis, Ilmu Pendidikan agama Islam. (cet.I. Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 36.

rasul. Oleh karena itu pandangan lama yang menganggap guru sebagai yang maha mengetahui yang harus digurui dan ditiru dirubah menjadi partner dalam proses belajar mengajar.9

2. Kedudukan Guru

Salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan Islam sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul.

Mengapa demikian? Karena guru selalu terkait dengan ilmu (pengetahuan).10

Hanya saja sekarang, sebatas manakah pengakuan masyarakat terhadap guru, hal ini sangat penting diketahui oleh para guru itu sendiri. Pentingnya dilihat dari sifat jabatan dan leyakan kerjanya. Ada beberapa pandangan mengenai status guru, ada yang membandingkan dnegan jabatan lain, ada yang mengukurnya dari status ekonomi, ada pula yang melihat dari sudut sosial.

Berikut ini akan dibicarakan kedudukan guru dari segi : a. Kedudukan Resmi

Kedudukan guru diatur dengan undang-undang, karena tugasnya melayani masyarakat, maka ia diangkat oleh penyelenggara pendidikan secara resmi. Karena

8M.Arifin,Op. cit. h. 143.

9H. M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan agama Islam Dan Umum. Ed. II (Cet. II; Jakarta:

Bumi Aksara, 1995), h. 33.

10Ahmad Tafsir, lmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. (Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1994), h. 76.

dia diangkat resmi oleh lembaga penyelenggara (negara dan Swasta), maka ia berstatus resmi sebagai pegawai.

b. Status Individual Dan Status Secara Umum

Status seorang guru berhubungan erat dengan kemampuan dirinya dan sumbangan pribadinya terhadap siswa dan masyarakat dimana dia bekerja. Hal ini berhubungan dengan kedudukannya dalam profesi mengajar.11 Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah kedudukan guru dalam pandangan masyarakat (umum).

Secara Internasional, Profesi keguruan itu telah diakui kedudukannya oleh karena :

1. Bidang tugas keguruan atau kependidikan bukan tugas rutin yang dapat dikerjakan karena pegulang-ulangan atau pembiasaan atau secara amatir, atau dengan trial dan error. Bidang ini memerlukan proses perencanaan yang mantap, merupakan manajemen yang memperhitungkan komponen dalam suatu sistem proses :

INPUT PROSES OUTPUT Comsumers

(pemakai)

Feed back

Environment (Lingkungan)

11Piet A, Sehertian dan Ida Aleida Sahertian. Supervisi Pendidikan. (Cet. II; Jakarta: Bineka Cipta, 1992), h. 28.

2. Bidang pekerjaan ini memerlukan dukungan ilmu teoritis pendidikan dan melandasi pelaksanaan opresional pendidikan.

3. Bidang pekerjaan ini memerlukan waktu lama dalam pendidikan dan latiha sejak pendidikan dasar (Basic education) samapai kepada pendidikan profesional guru.12

Lebih dari sekedar panutan, hal inipun menunjukkan bahwa guru sampai saat ini masih dianggap eksis, sebab sampai kapan pun posisi dan peran guru tidak akan bisa digantikan sekalipun oleh mesin canggih. Karena tugas guru menyangkut pembinaan sifat mental manusia yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat manusiawi yang unik dalam arti berbeda satu dengan yang lainnya.13

c. Status Sosial

1. Bahwa guru merupakan jabatan yang masih dihargai orang

2. Dalam urutan jabatan, tugas mengajar merupakan suatu ukuran yang mempunyai penghargaan yang relatif masih terhormat.

3. Guru-guru itu dari latar belakang sosial yang berbeda.

4. Kebanyakan mereka yang menjadi guru berasal dari latar belakang sosial yang relatif rendah.14

12M. Arifin, op. cit., h. 114.

13Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. Ed. II (Cet. X; Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1999), h. 2.

14Piet A. Sahertian dan. Ida Aledia Sahertian. op. cit., h. 32.

d. Status Ekonomi Guru

Pernyataan terakhir ini sudah tidak asing lagi. Dalam pembahasan tentang dana bagi sekolah Islam telah tegaskan bahwa salah satu kegunaan dana itu ialah untuk menggaji guru-guru. Tidak ada lagi yang mempertanyakan apakah wajar guru menerima gaji.15 Ini adalah tuntutan yang universal. Bagi guru yang menjalani pekerjaannya secara profesional, ekonomi amat penting dalam meningkatkan profesinya. Pemegang profesi harus belajar terus, harus meneliti, harus berlangganan media profesi, harus bekerja full time. Itu semua tidak dapat dilakukannya dengan baik bila keadaan ekonomi relatif rendah. Kesimpulannya ialah gaji guru harus besar agar ia ikhlas, agar ia rajin mengajar, agar profesinya meningkat terus.16

3. Syarat Dan Sifat Guru a. Syarat Guru

Dilihat dari ilmu pendidikan agama Islam, maka secara umum untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaniyahnya, baik akhlaknya, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.

1) Taqwa Kepada Allah

Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan agama Islam, tidak mungkin mendidik anak agar bertaqwa kepadanya, sebab ia adalah teladan bagi muridnya sebagaimana Rasulullah menjadi teladan bagi ummatnya. Sejauh mana seorang guru

15Ahmad Tafsir. loc. cit., h. 103.

16Ibid., h. 106.

mampu memberi teladan baik kepada murid-muridnya sejauh itu pulalah ia diperkirakan akan berhasil mendidik mereka agar menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan mulia.

2) Sehat Jasmani

Kesehatan jasmani sering kali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular umpamanya sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Disamping itu, guru yang berpenyalit tidak akan bergairah mengajar. Kita kenal ucapan “Mens sana in corpore sano” yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Walaupun pepatah itu tidak benar secara menyeluruh, akan tetapi bahwa kesehatan badan sangat mempengaruhi semangat bekerja. Adalah jelas guru yang sakit-sakit kerap kali terpaksa absendan tentunya merugikan anak.

3) Berkelakuan Baik

Budi pekerti guru sangat penting dalam pendidikan watak murid. Guru harus menjadi suri tauladan, karena anak-anak meniru. Diantara tujuan pendidikan ialah membentuk akhlak baik pada anak dan ini hanya mungkin jika guru itu berakhlak baik pula. Guru yang tidak berakhlak baik tidak mungkin dipercayakan pekerjaan mendidik. Yang dimaksud dengan akhlak baik dalam ilmu pendidikan agama Islam

adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti dicontohkan oleh pendidik utama Muhammad.17

Selain dari tiga hal tersebut di atas, untuk melengkapi pembahasan ini syarat lain yang perlu diperhatikan setiap pendidik yaitu :

1. Beriman

Seorang pendidik Islam harus seorang yang beriman, yaitu menyakini akan keEsaan Allah. Iman kepada Allah merupakan azaz setiap qaidah dan dengan mengimani Allah selanjutnya akan diikuti pula dengan keimanan kepada yang lainnya.

Oleh karena itu iman atau Tauhid bukan saja merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh aspek kehidupan.

Oleh karena itu seorang pendidik Islam harus mempunyai keimanan yang benar.

Iman yang benar harus mempunayi tiga syarat yaitu : pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dnegan anggota badan.18

2. Ikhlas

Pendidik hendaknya mencanamkan niatnya semata-mata untuk Allah dalam seluruh pekerjaan edukatifnya baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan

17Zakiah Darajat. Ilmu Pendidikan agama Islam. Ed. I (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 40-42.

18Rama Yulis. Ilmu Pendidikan Agama Islam (Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia, 1994). h. 37.

dan hukuman, buah yang dipetiknya adalah ia akan melaksanakan metode pendidikan secara terus menerus disamping mendapat pahala dari Allah.19

Ikhlas bukan berarti ia tidak boleh menerima imbalan jasa, akan tetapi jangan terniat dalam hati bahwa pekerjaan mendidik yang dilakukannya karena mengharapkan materi, akan tetapi semata-mata pengabdian kepada Allah. 20 3. Berkepribadian Yang Integral (Terpadu)

Kepribadian yang terpadu dapat menghadapi segala persoalan dengan wajar dan sehat, karena segala unsur dalam pribadinya bekerja seimbang dan serasi.

Pikirannya mampu bekerja dengan tenang, setiap masalah dapat dipahami dengan objektif, sebagaimana adanya. Maka sebagai guru ia dapat memahami kelakuan anak didik sesuai dengan perkembangan jiwa yang sedang dilaluinya. Pernyataan anak didik dapat dipahami secara obyektif, artinya tidak ada ikatan dengan prasangka atau emosi yang tidak menyenangkan.21

4. Cakap

Menurut Burlian Somad, untuk dapat menjadi pendidik yang memiliki kecakapan, maka harus :

a. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pembuatan standar kualitas minimal (Tasmin).

19Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulad Fil Islam Diterjemahkan oleh ; Jamaluddin Miri, dengan judul: Pendidikan Anak Dalam Islam (Jilid II Cet. I; Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h. 193.

20Rama Yulis. op. cit., h. 38.

21Ibid., h. 40.

b. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pembuatan unit bahan pembentukan kualitas minimal itu (ubak).

c. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pembentukan dan pengembangan tasmin pada diri anak didik dengan mempergunakan ubak itu.

d. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan pembuatan standar pengukur kualitas diri anak didik (stapek).

e. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pelaksanaan pengukuran tasmin dengan mempergunakan estapek itu,

f. Menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pelaksanaan managemen pendidikan yang dapat membawa kemajuan.

g. Terlatih dan terbiasa mengerjakan /mempraktekkan yang tersebut dari poin satu sampai dnegan enam tadi.

5. Bertanggung Jawab

Islam menempatkan manusia di dunia ini dalam kedudukan istimewa yaitu sebagai khalifah Allah di atas bumi ini. Firman Allah Q.S. al-Baqarah(02) : 30



“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini… “

Sebagai khalifah ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepada Allah 22 Hal inilah yang perlu diperhatikan bagi dunia pendidikan yaitu rasa tanggung jawab yang besar dalam pendidikan anak baik segi mana perangai pembentukan jasmani dan rohaniyah maupun mempersiapkan mental dan sosialnya.23 6. Memiliki Kompetensi Keguruan

Kompetensi keguruan adalah kemampuan yang diharapkan yang dapat dimiliki oleh seorang guru. Pada mulanya kompetensi ini diperoleh dari “In service training”.24

Terlepas dari poin-poin yang telah dijelaskan di atas syarat lain untuk menjadi guru dapat dilihat dalam empat aspek sebagai berikut :

1. Di bidang fisik

a. Hendaknya ia berbadan sehat, kuat dan mulus, siupaya terhindar dari kekecewaan-kekecewaan yang mungkin sekali dialaminya.

b. Hendaknya ia berusaha, supaya segala gerak-gerik dan tutur katanya menggambarkan mnausia yang berbudaya.

2. Di bidang psikis

a. Spiritual; ia harus seorang beriman b. Mental;

- Ia harus mencintai, paling tidak menggemari pelajaran yang diberikannya.

22Ibid., h. 41.

23Abdullah Nasih Ulwan. loc. cit. h. 195

24Rama Yulis. Op. cit. h. 43

- Ia harus merasakan keperluan untuk selalu menambah ilmunya sesuai dengan kemajuan zaman.

- Ia harus progresif dan modern; cara mengajar selalu diperbaikinya secara ilmiah.

- Ia harus mengenal dan menyayangi anak didiknya - Ia harus berlaku adil dan demokratis.

3. Di bidang Sosial

Ia hendaknya menjadi peserta pembangunan bangsa yang produktif.

4. Di bidang profesi keguruan dan organisasi profesinya, ia hendaknya memahami dan mengamalkan kode etik.25

2. Sifat Guru

Para penulis muslim ternyata membicarakan panjang lebar sifat pendidik dan guru. Biasanya mereka membicarakannya bersama-sama atau bercampur dengan pembicaraan tentang tugas dan syarat guru, memang harus diakui sulit membedakan denga tegas antara tugas, syarat dan sifat guru. Dalam tulisan ini … pembedaaan itu diperlukan karena kita tidak mudah memperoleh guru dengan syarat maksimal.

Dalam hal ini dengan memenuhi syarat minimal, seorang dapat diangkat menjadi guru. Pembedaan syarat dan sifat juga diperlukan karena syarat harus terbukti secara empiris pada saat penerimaan guru.

Al-Ghazali memaparkan sifat guru muslim sebagai berikut :

25Balnadi Sutadipura. Aneka Problema Keguruan (Cet. II; Bandung: Angkasa, 1985). h. 44-45.

1.Guru harus memiliki kesadaran bahwa dirinya harus memikul amanah dan tanggung jawab dalam mendidik generasi muda.

2.Sebagai guru yang baik tentulah dia melakukan persiapan yang sempurna 3.Bila ternyata suatu saat penghargaan terhadap guru kurang memadai

hendaknya guru dengan niat sucinya sejak semula dapat memahami dan tetap mengabdi.

4.Guru, dalam Islam semestinya cukup paham terhadap ajaran Islam atau nilai ke Islaman untuk dapat ditransformasikan kepada peserta didik.

5.Seorang guru hendaknya berhati lembut, berwawasan luas, berjiwa mulia, berakhlak terpuji dan menarik.

6.Karena guru merupakan teladan dan menjadi setra penglihatan para muridnya, maka guru harus sellau tampil rapi, agar dapat dijadikan figur oleh para muridnya.

7.Seorang guru hendaknya jujur, satu kata satu perbuatan.

8.Kendatipun tidak berhubungan langsung dengan para muridnya, aplikasi kebenaran hendaknya dicerminkan pula dalam rumah tangganya.

9.Seorang guru harus siap memberikan kasih sayang kepada para muridnya dan menunjukkan hubungan dekat dengan muridnya (anak didiknya).29 Sifat-sifat guru yang telah diuraiakn tersebut di atas pada hakekatnya terdapat didalamnya tugas syarat dan sifat guru. Hal ini dapat dipahami karena tiga-tiganya merupakan hal yang tidak terpisahkan, namun perlu ditegaskan kembali dari rincian tersebut di atas hendaknya dijadikan tolak ukur untuk meningkatkan mutu seorang guru agama.

B. Mutu Pendidikan Agama Islam di MA. Aisyiyah Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Sebelum membahas pengertian pendidikan Agama Islam, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya. Istilah pendidikan

29Adi Sasono, et. Al, Solusi Islam Atas Problematika Ummat: Ekonomi, Pendidikan dan

29Adi Sasono, et. Al, Solusi Islam Atas Problematika Ummat: Ekonomi, Pendidikan dan

Dokumen terkait