Bab VI. KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN
F. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah keseluruhan dari kumpulan elemen yang memiliki sejumlah karakteristik umum, yang terdiri dari bidang-bidang untuk diteliti (Widayat dan Amirullah, 2002:52). Populasi pada penelitian ini adalah pasien Rumah Sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu.
Sampel adalah bagian yang diteliti atau sekelompok dari populasi yang dipilih dalam penelitian (Widayat dan Amirullah, 2002:52). Jumlah populasi dalam penelitian ini tidak dapat ditentukan atau dihitung. Oleh karena itu ukuran sampel tidak dapat ditentukan berdasarkan rumus-rumus matematis, karena rumus ukuran sampel mengandung ukuran populasi. Dalam kasus dimana ukuran populasi tidak diketahui, maka menurut Wallen (Sigit, 2001:91) ukuran sampel yang ideal adalah yang sebesar-besarnya selama peneliti dapat memperolehnya dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang wajar. Fraenkel dan Wallen menyarankan besar sampel minimum sebuah penelitian adalah sebanyak 100. Oleh karena itu peneliti menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 pasien. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan ukuran tersebut peneliti anggap ideal dalam mewakili ukuran populasi dan adanya keterbatasan waktu untuk pengambilan sampel.
Proses pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non random sampling yaitu proses pemilihan sampel dimana tidak semua anggota dari populasi memiliki kesempatan untuk di pilih (Kountur 2003:143), dengan teknik accidental sampling yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang bahwa orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2000:60).
G. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan (Narbuko & Achmadi, 2007:83).
2. Kuesioner
Kuesioner adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan/pernyataan mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti (Narbuko & Achmadi, 2007:76). Jumlah pasien yang diambil sebagai sampel sebanyak 100 pasien.
Kuesioner dalam penelitian ini terdari dari dua bagian : a. Identitas pasien
Bagian ini terdiri dari beberapa pertanyaan mengenai identitas pasien, yaitu jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan penghasilan.
b. Pernyataan-pernyataan tentang harga, promosi, kualitas pelayanan, dan loyalitas pasien.
1). Harga adalah persepsi pasien atau keluarga pasien terhadap biaya Rumah Sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu
2). Promosi adalah persepsi pasien atau keluarga pasien terhadap kegiatan promosi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu.
3). Kualitas Pelayanan adalah persepsi pasien atau keluarga pasien terhadap kualitas pelayanan Rumah Sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu
4). Loyalitas Pasien adalah tingkat kesetiaan pasien atau keluarga pasien terhadap pelayanan medis Rumah sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu.
Alternatif jawaban yang tersedia :
SS : Sangat Setuju skor 5
S : Setuju skor 4
N : Netral skor 3
TS : Tidak Setuju skor 2 STS : Sangat Tidak Setuju skor 1
H. Teknik Analisis Data 1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Uji validitas adalah suatu alat ukur yang menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu instrumen dikatakan valid apabila dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Rumus yang digunakan adalah yang dikemukakan oleh Pearson yang dikenal dengan rumus Korelasi Product Moment (Sugiyono, 2003:109) :
2 2 2 2
Y Y n X X n Y X n rxy dimana : xyr = koefisien korelasi product moment
X = nilai masng – masing butir atau item Y = nilai keseluruhan per item
n = jumlah responden atau sampel
Uji validitas ini adalah jika hasil r hitung lebih besar dari r tabel dengan taraf signifikan 5% maka item pertanyaan kuesioner dikatakan valid, dan sebaliknya jika hasil r hitung lebih kecil dari r table dengan taraf signifikan 5% maka item pertanyaan kuesioner dianggap gugur.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah tingkat kestabilan dari suatu alat dalam mengukur r suatu gejala atau dengan kata lain untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relative konsisten atau tidak berubah bila dilakukan pengkuran kembali terhadap subjek yang sama atau antar atribut dengan jenis alat pengukur yang dipakai ( Usman dan Akbar, 2000:287). Untuk mengukur gejala reliabilitas digunakan teknik Alfa Cronbach (Saifudin Azwar, 2001:78) :
2 2 1 1 sx sj k k dimana : = koefisien reliablek = banyaknya butir pertanyaan 2
sj = varians butir – butir pertanyaan 2
sx = varians skor total
I. Metode Analisis Data 1. Analisis Prosentase
Analisis prosentase digunakan untuk mengetahui karakteristik masing-masing responden dan mengidentifikasi karakteristik responden tersebut. Hal-hal yang dianalisis antara lain jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan tingkat penghasilan.
Analisis ini dihitung dengan rumus :
N N P X dimana : P : Jumlah prosentase X
N : Jumlah yang diambil N : Jumlah total
2. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui perumusan masalah pertama yaitu apakah ada pengaruh harga terhadap loyalitas pasien.
Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut : a. Mencari persamaan regresi linear sederhana :
1 bX a Y Keterangan : Y = Loyalitas pasien 1 X = Variabel harga a = Konstanta b = Koefisien regresi
b. Menentukan koefisien korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat, dengan rumus sebagai berikut :
2 2 2 2
Y Y n X X n Y X n rxy Keterangan : r = koefisien korelasi n = banyaknya sample X = variable tentang harga Y = variable loyalitas pasienc. Menguji kesignifikanan koefisien korelasi dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel pada taraf signifikan = 0,05 dengan db = n-2. Rumus yang digunakan sebagai berikut :
r n r thitung 1 2
d. Menarik kesimpulan yaitu jika t tabel t hitung t tabel maka hipotesis ditolak, dan jika t hitung > t tabel atau t hitung < t tabel maka hipotesis dapat diterima.
Untuk menjawab rumusan masalah kedua dan ketiga dilakukan langkah-langkah yang sama.
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Untuk menjawab pertanyaan keempat digunakan analisis regresi linear ganda, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mencari persamaan regresi linear ganda :
3 3 2 2 1 1X b X b X b a Y Keterangan : Y = Loyalitas pasien a = Konstanta 1
b = Slope yang berhubungan dengan variabel X1 2
b = Slope yang berhubungan dengan variabel X2 3
b = Slope yang berhubungan dengan variabel X3
1 X = skor harga/biaya 2 X = skor promosi 3 X = skor kualitas
Y
Y X a Y X a a Ry(1,2,3) 1 1 2 22 3 3 Keterangan : ) 3 , 2 , 1 ( yR = Koefisien korelasi antara variabel X1,X2,X3, dan Y
1 a = Koefisien prediktor X1 2 a = Koefisien prediktor X2 3 a = Koefisien prediktor X3 Y X
1 = Korelasi antara harga/biaya dengan loyalitas pasien YX
2 = Korelasi antara promosi dengan loyalitas pasien YX
3 = Korelasi antara kualitas dengan loyalitas pasienc. Melakukan uji F, dengan membandingkan F tabel pada taraf signifikansi = 0,05 dengan db pembilang = k dan db penyebut = n-k-1. Hal ini digunakan untuk mengetahui apakah koefisien korelasi tersebut signifikan.
Rumus yang digunakan sebagai berikut :
k R k n R Fhitung ) 1 ( ) 1 ( 2 2 Keterangan :
F hitung = harga F garis regresi yang dicari n = banyaknya responden
R = Koefisien determinasi korelasi ganda K = Jumlah variabel bebas
d. Menarik kesimpulan yaitu jika F hitung > F tabel maka hipotesis diterima, dan jika F hitung < F tabel maka hipotesis ditolak.
43
A. Sejarah Perkembangan Rumah Sakit Umu Panti Baktiningsih Klepu 1. Periode tahun 1961 – 1965
Dalam rentang waktu tahun 1961 – 1965, pemerintah Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bercita-cita mendirikan sebuah pusat pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah ini yang memadai. Pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah berujud poliklinik dan rumah bersalin. Namun keinginan luhur ini selalu dirintangi oleh aktivis PKI, yang senantiasa tidak sependapat dalam usaha-usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. Sehingga keinginan luhur ini mengalami kemacetan /terhenti beberapa waktu yaitu sebagai puncak kemacetan itu meletus G 30 S/PKI tahun 1965. Tetapi pada tahun 1966, seiring dengan konsensus nasional, Bangsa Indonesia membasmi PKI.
2. Periode Tahun 1966 – 1970
Antara tahun 1966 – 1970, bangsa Indonesia berhasil membasmi PKI sehingga hasrat dan kemauan Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo yang cita-citanya terhenti itu bangkit dan dirintis kembali.
Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo bersama Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRKGR) Kelurahan memutuskan untuk tetap
melanjutkan cita-cita semula yaitu mendirikan pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang berujud Poliklinik dan Rumah Bersalin.
Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo dan DPRKGR menyerahkan pengelolaan Poliklinik dan Rumah Bersalin ini ke Paroki Klepu karena Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo danpihak lain tidak bersedia. Paroki Klepu menerima kepercayaan ini demi kesejahteraan masyarakat.
Atas kepercayaan itu, Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo menyediakan tanah Kas Desa yang terletak di sebelah Pastoran Klepu seluas 3000 m2. Penyerahan tanah kas desa dilakukan pada tanggal 5 Mei 1967, Nomor : 2/P/V/’67, dari Bapak Martawidjana selaku Lurah Pemerintah Kelurahan Sendangmulyo, Bapak H.J. Hardjawardaja selaku Ketua DPRKGR Kelurahan Sendangmulyo, yang diketahui/disaksikan oleh Bapak Prodjosastramihardja selaku Camat Minggir. Tanah kas desa persil no. 226, Kl. II itu kemudianditukar dengan sebidang tanah lain milik Paroki Klepu. Pengesahan penggunaan tanah kas desa untuk YKKR dari Dinas Agraria DIY Nomor : 27/PD/Agr./1969, tertanggal 15 Desember 1969. Untuk memperkuat penggunaan status tanah, selanjutnya Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,melalui Surat Keputusan (SK) No. I/1970, tertanggal 2 Januari 1970, mengukuhkan tanah kas desa yang sudah ditukar tersebut untuk tempat membangun sebuah Poliklinik dan Rumah Bersalin.
Untuk mengelola Poliklinik dan Rumah Bersalin, Paroki Klepu berupaya untuk mendirikan Yayasan. Pada tanggal 16 Juli 1969 di
hadapan Notaris R.M. Soerjanto Partaningrat, S.H., secara resmi berdirilah sebuah yayasan dengan nama “YAYASAN KESEJAHTERAAN KESEHATAN RAKYAT (YKKR) SANTO FRANSISKUS”. Yayasan berkedudukan di Klepu, Sendangmulyo, Minggir, Sleman,Yogyakarta. Akta Notaris Yayasan bernomor 28, dengan susunan kepengurusan sebagai berikut :
a. Pendiri Yayasan : Henri Antonius Marie Taks, SJ. (Pastor Paroki Klepu)
b. Ketua Umum : dr. Raden Agustinus Krisman Tjahjana
c. Ketua I : Raden Fransiskus Xaverius Martasapardjo (alm) d. Ketua II : Raden Gerardus Hardjoadisumarta (alm)
e. Penulis : Ignasius Sumantri, B.Sc. f. Bendahara : Michael Gimin Pratiwowijoyo g. Pembantu : Fransiskus Xaverius Hadisubroto
Setelah urusan dan status tanah jelas serta tidak bermasalah, persiapa pembangunan gedung Poloklinik dan Rumah Bersalin mulai dirintis. Semangat umat Paroki Klepu mengumpulkan batu-batu kali untuk fondasi bangunan gedung merupakan andil besar. Selain material/batu-batu kali yang dikumpulkan umat lingkungan (kring) Paroki Klepu juga membantu tenaga untuk kerja bakti menggali lubang untuk fondasi secara bergilir.
Untuk mengawali pembangunan gedung, secara resmi diadakan upacara pencangkulan I yang dihadiri oleh para pejabat pemerintah dari
Kelurahan sampai Kecamatan serta undanagn. Bapak Sutopo ( Dan Ramil) mewakili Camat Minggir menyampaikan sambutan, yang intinya :
a. Atas nama Pemerintah Kecamatan Minggir, kami mengucapkan terima kasih kepada Panitia Pendiri Poloklinik dan Rumah Bersalin,yang pada hari ini memberi waktu untuk menghadiri Upacara Pencangkulan I, yang pembangunannya untuk pusat pelayanan kesehatan akan dimulai. Pada kesempatan ini pula kami akan melakukan pencangkulan I sebagai pembangunan gedung dimulai.
b. Semoga usaha Yayasan Kesejahteraan Kesehatan Rakyat ( YKKR ) tidak ada halangan apapun, sehingga pembangunan dapat lancar dan aman, dan akhirnya kesejahteraan masyarakat segera tercapai.
c. Usaha dan cita-cita yang luhur itu tentu saja selalu ada gangguan atau pun rintangan, tetapi rintangan itu sendiri akan kalah dan mundur teratur kalau dihadapi dengan sabr, tenang, dan ketekunan. Sebagi contoh, cita-cita untuk mendirikan Poliklinik dan Rumah Bersalin ini sudah dirintis sebelum tahun 1965, tetapi tahun 1970 baru terwujud. d. Akhirnya sekali lagi kami atas nama Pemerintah/Tritunggal Minggir
melakukan Pencangkulan I sebagai awal pembangunan Gedung Poliklinik dan Rumah Bersalin, semoga Tuhan selalu merestui.
Pencangkulan I dilakukan oleh Bapak Sutopo,kemudian diteruskan oleh Dansek Minggir. Upacara Pecangkulan I ini pada hari Senin Pon, 3 Agustus 1970 antara ppukul 10.00 – 11.00 Wib. Pembangunan gedung Poliklinik dan Rumah Bersalin dikoordinir oleh Pastor H.A.M. Taks, SJ.
selaku pendiri Yayasan, sedangkan pengawasan sehari-hari oleh bruder Matheus Tirtosumarto, SJ. ( sekarang sudah almarhum ). Pembangunan gedung memerlukan waktu kurang lebih enam bulan, sejak Agustus 1970 – Januari 1971.
3. Periode tahun 1971 – 1972
a. Persiapan Peresmian Pembukaan Pelayanan Kesehatan
Setelah pembangunan Gedung Poliklinik dan Rumah Bersalin mendekati selesai, 2 orang petugas para medis yaitu perawat Sr. M. Aloysia, F. Ch., dan Sr. M. Bernada, F. Ch., sebagai bidan, pada bulan Februari sudah datang di Klepu untuk bertugas. Dua petugas para medis untuk cikal bakal di Klepu ini, dikirim oleh pimpinan kongregasinya yang induknya di Palembang,Sumatera Selatan. Kedua susuter ini di utus ke Tanah Jawa, khususnya Klepu yang jaraknya dari ibukota Propinsi DIY kurang lebih 18 km arah barat. Selain bertugas melayani kesehatan masyarakat, juga sekaligus mengembangkan Charitas di Klepu. Karena pembangunan gedung belum sempurna, 2 petugas paramedis ini sementara dititipkan di rumah Bapak Djokarsa ( Japanan, Sendangmulyo, Minggir ) yang jaraknya 2 km dari Klepu. Selaku dokter penanggungjawab BP-BKIA adalah dr. R.A. Krisman. b. Detik – detik Peresmian Poloklinik dan Rumah Bersalin
1) Bangunan gedung sudah mendekati selesai, permohonan ijin pelayanan kesehatan mulai diproses.
2) Selasa Pon, 16 Maret 1971, BPH seksi II dan DPRD Kabupaten Sleman meninjau gedung calon Poloklinik dan Rumah Bersalin Klepu.
3) Selasa Wage, 6 April 1971 yayasan menerima Nota Dinas dari Bapak Kepala Dinas Kesehatan Rakyat ( DKR ) Sleman yang ditandatangani oleh Bapak dr. Sugiyatmo, yang isinya bahwa ijin buka Poliklinik dapat dikabulkan.
4) Senin Kliwon, 12 April 1971 Panitia Peresmian pembukaan Poloklinik terbentuk. Panitia meliputi unsur pengurus Yayasan dan Pengurus Harian Paroki ( PHP ) Klepu.
5) Panitia memutuskan bahwa nama Poliklinik dan Rumah Bersalin adalah PANTI BAKTININGSIH, sedangkan peresmian pembukaan ditetapkan pada hari Senin Wage, 26 April 1971 pukul 10.00 WIB.
6) Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan Rakyat ( DKR ) Sleman menerbitkan Surat Keputusan ( SK ) tertanggal 19 April 1971, No. 807/14/D.K.S./71, yang isinya memberi ijin penyelenggaraan Balai Pengobatan ( BP ), Balai Kesehatan Ibu dan Anak ( BKIA ).
c. Peresmian Pembukaan BP-BKIA Panti Baktiningsih Klepu
Atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Mahaesa, pelayanan kesehatan yang dicita-citakan oleh masyarakat bisa dibuka dan terwujud. Impian menjadi kenyataan bahwa pada hari Senin Wage, 26
April 1971 pukul 10.00 WIB telah dibuka dan diresmikan pusat pelayana kesehatan. Sebagai tanda peresmian pembukaan, dr. Sugiyatma selaku Kepala Dinas Kesehatan Rakyat ( DKR ) Kabupaten Sleman melakukan pengguntingan pita. Sore harinya pukul 17.00 – 18.00 WIB diteruskan acara selamatan dengan tradisi jawa yaitu kenduri yang dihadiri oleh tetangga sekitar pusat pelayanan kesehatan ( BP-BKIA ) Panti Baktiningsih Klepu.
d. Resminingsih Lahir pada saat BP-BKIA diresmikan
Senin Wage, 26 April 1971 pukul 07.00 WIB lahirlah seorang bayi perempuan ikut menjemput tamu-tamu undangan peresmian pembukaan gedung BP-BKIA Panti Baktiningsih Klepu. Bayi mungil yang lahir 3 jam sebelum peresmian BP-BKIA Panti Baktiningsuh Klepu ini adalah puteri Ibu Antonia Sugiyah Wignya Atmadja dan Bapak Antonius Djoemangi Wignya Atmadja dari Dusun Pranan, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
Sebagai kenangan karena lahir pada waktu BP-BKIA diresmikan, maka bayi mungil ini diberi nama “Resminingsih” oleh Sr. Bernada, F.Ch. Oleh kedua orang tuanya bayi ini dipermandikan dengan nama Aloysia, maka jadilah nama lengkapnya “Aloysia Resminingsih”. Bayi ini sekarang sudah dewasa, bekerja sebagai karyawati kantor Kanisius Jakarta, dan berganti nama “Aloysia Nining Astuti”.
Kiranya pelayanan kesehatan kesejahteraan asyarakat belum tercapai bila yang ada hanya BP-BKIA, sehingga perlu dilengkapi dengan rawat inap bagi ibu yang melahirkan. Maka pengurus Yayasan berusaha mengajukan permohonan ijin unuk rawat inap bagi ibu-ibu yang akan melahirkan.
Setahun kemudian mengingat kebutuhan masyarakat semakin mendesak, Kepala Dinas Kesehatan Rakyat ( DKR) Kabupaten Sleman menerbitkan surat ijin No. 2321/4/D.K.S./1dz/72, tanggal 11 September 1972, yang isinya mengijinkan untuk ijin opname pasien bersalin atau rumah bersalin. Dengan demikian hasrat dan cita-cita masyarakat Sendangmulyo dan sekitarnya akan kebutuhan pelayanan kesehatan mulai saat itu dapat dilayani.
4. Periode tahun 1973 – 1987
Berada dalam naungan Yayasan Kesejahteraan kesehatan Rakyat ( YKKR ) Santo Fransiskus, BP-BKIA Panti Baktiningsih Klepu menjadi wadah untuk mengamalkan ajaran sosial. Cinta kasih yang dijiwai oleh semangat alturistik ( mendahulukan kepentingan orang lain ) dan karitatif ( tidak mencari keuntungan ) dalam kerangka karya menolong sesama dan meringankan penderitaannya. Secara idiil nilai ini merupakan cermin dari penghayatan dan pengamalan Pancasila, terutama Sila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap”. Selain itu, secara operasional BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih Klepu menjadi slah satu medan bakti yang membantu
program pemerintah dalam pembnagunan di bidang ketenaga kerjaan yaitu menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran.
Dalam perkembangan selanjutnya atas pertimbangan dan desakan masyarakat/pasien untuk mengadakan rawat inap bagi pasien umum, jadi tidak hanya rawat inap bagi ibu-ibu yang melahirkan saja melainkan juga untuk pasiuen umum.
Yayasan berusaha mengadakan pendekatan ke Kanwil Kesehatan Propinsi DIY dan Puskesmas Minggir, kemudian pengurus yayasan beserta pengelola BP-BKIA-RB mendapatkan pengarahan dari Ibu Tri Utartin ( bagian perijinan Dinas Kesehatan Rakyat Propinsi DIY ). Hasil dari pendekatan ini, pada tanggal 7 Februari 1979 pengurus yayasan mengajukan permohonan persetujuan kepada Pimpinan Puskesmas Minggir untuk menyelenggarakan rawat inap bagi pasien umum. Pimpinan Puskesnas Minggir menyetujui permohonan yayasan ini.
Sehingga sejak awal bulan Februsri 1979, BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih Klepu diperkenankan melayani kesehatan dengan rawat inap untuk pasien umum. Usaha ini sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pada kasus penyakit-penyakit tertentu, BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih Klepu menerima rujukan rawat inap dari Puskesmas Minggir dan kecamatan sekitar Minggir. Pelayanan kesehatan selain BP-BKIA-RB dab rawat inap untuk pasien umum ini berlangsung hingga 14 Februari 1988.
Lahir dan berkembangnya Rumah Sakit Umum Panti Baktiningsih Klepu a. Terbitnya SK Menteri Kesehatan RI No : 920,17 Desember 1986
mendorong YKKR untuk meningkatka status
Kiranya Tuhan memang menghendaki di kawasan Barat Daya Kabupaten Sleman perlu adanya pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang memadai. Dengan terbitnya Surat Keputusan ( SK ) Menteri Kesehatan RI No : 920/MEN. KES/PER/XII/86, tertanggal 17 Desember 1986, tentang upaya pelayanan kesehatan swasta di bidang medik. Kemudian dilengkapi dengan Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik No : 098/Yan. Med/RSKS/1987, tertanggal 5 Februari 1987, tentang petunjuk pelaksanaan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 920/MEN. KES/PER/XII/1986; seperti status BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih Klepu, mau tidak mau harus mengikuti dan mentaati surat Keputusan Menteri Kesehatan. Dengan demikian status BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih berubah menjadi Rumah Sakit Klas Pratama.
Perubahan status ini adalah kerja keras pengurus yayasan bersama pengelola BP-BKIA-RB yang memperoleh dukungan dari berbagai pihak antara lain Pimpinan Kongregasi Suster-suster Charitas di Palembang yang merupakan induk dari BP-BKIA-RB Panti Baktiningsih Klepu, Pemerintah dari kelurahan sampai propinsi maupun dari seluruh masyarakat. Meskipun sarana dan prasarana yang dituntut untuk memenuhi syarat sebagai sebuah rumah sakit belum
lengkap, namun karena terdorong oleh kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak bahwa pelayanan kesehatan perlu diutamakan, maka dalam hal ini keperluan untuk rawat inap segera dipenuhi.
Apalagi dengan dibukanya jembatan Ngapak yang menghubungkan Ibu Kota Propinsi DIY dengan Kabupaten Kulon Progo, kemungkinan akan terjadi peningkatan ruda paksa ( tratic eceident ) atau kecelakaan lalu lintas, maka rumah sakit harus segera terwujud.
Adanya saling pengertian dan kerja sama yang baik antara YKKR dengan pemerintah Kalurahan, Kecamatan, Kabupaten, Kanwil, Dep Kes Propinsi DIY dapat mempercepat terwujudnya RSU Klas Pratama, sehingga pelayanan kesehatan dan kesejateraan masyarakat yang memadai dapat tercapai. Dokter Yosef Victor Zebua yang berstatus sebagai dokter tamu praktek di BP-BKIA-RB juga ikut berpartisipasi secara aktif dalam mewujudkan peningkatan status menjari Rumah Sakit.
b. Sarana dan Prasarana sebagai sarana Lahirnya Rumah Sakit
Setelah kebutuhan sarana dan prasarana seperti bangunan fisik, alat medis, tenaga medis, paramedis, dll terpenuhi, maka secara berturut-turut Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi DIY menerbitkan surat keputusan sebagai berikut :
1) Surat Keputusan ( SK ) No : 01047/Kanwil/SK/2/533/X/1988, tertanggal 1 Oktober 1988, tentang surat ijin berdirinya RSU Kelas Pratama.
2) Surat Keputusan dari Kantor Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi DIY, No : 445/2690/PK-2/XII/1988, tertanggal 10 Desember 1988 tentang Surat Keputusan Ijin sementara penyelenggaraan atau Ijin Operasional Rumah Sakit Kelas Pratama Panti Baktiningsih.
3) Setelah perpanjangan I dan II berjalan dengan baik, akhirnya terbitlah ijin dari Menteri Kesehatan RI No : YM.02.04.3.5.9545, tertanggal 8 November 1993 untuk menyelenggarakan Rumah Sakit Umum Kelas Pratama hingga sekarang tahun 1996.
c. Perjalanan Hidup Rumah Sakit Panti Baktiningsih
Pelayanan kesehatan Panti Baktiningsih Klepu, selama berstatus Rumah Sakit selain melayani an merawt orang sakit juga selalu dilibatkan dalam kegiatan kemasyarakatan oleh Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi DIY, Dinas Kesehatan Tingkat II Kabupaten Sleman, maupun Pemerintah Tingkat II Kabupaten Sleman. Dalam keterlibatannya ini, Rumah Sakit Panti Baktiningsih Klepu memperoleh berbagai piala maupun piagam. Adapu piala dan piagam yang pernah diperoleh selama berstatus Rumah Sakit adalah : 1) Piagam Penghargaan sebagai Juara III
Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional Tingkat Propinsi DIY tentang penampilan Rumah Sakit swasta kelas D. 2) Surat Tanda Penghargaan dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II
Sleman dalam partisipasinya mengikuti kegiatan HAri Kesehatan Nasional XXVII tahun 1991.
3) Piagam Penghargaan sebagai Juara II
Lomba Rumah Sakit swasta Kelas D, dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXVIII tahun 1992, se-Propinsi DIY. 4) Piala sebagai Juara I
Lomba penampilan kerja Rumah Sakit Kelas Pratama se-Kabupaten Sleman, dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXIX tahun 1993, se-Kabupaten sleman.
5) Piala sebagai Juara I
Lomba penampilan kerja terbaik dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXX tahun 1994, se-Kabupaten Sleman.
6) Piala terbaik penampilan kerja dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXX se-Kabupaten Sleman tahun 1994 sebagai Rumah Sakit Swasta.
7) Piala Juara I
Lomba tingkat Propinsi DIY dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXX, tahun 1994 sebagai Rumah Sakit Swasta.
Lomba penampilam kerja Rumah Sakit Kelas Pratama Tingkat Propinsi DIY dalam rangka Hari Kesehatan Nasional XXXI,