HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Populasi yang telah memiliki akses terhadap jamban
Berdasarkan data Kantor Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi, jumlah kepemilikan jamban di Kota Bukittinggi tersaji pada Tabel 30.
Tabel 30 Jumlah kepemilikian jamban di Kota Bukittinggi
No Kecamatan Tempat Buang Air Besar (Rumah Tangga)
Sendiri Bersama Umum Tidak Ada
1 Aur Birugo Tigo Baleh 4339 1 2 NA
2 Guguk Panjang 9479 5 2 NA
3 Mandiangin Koto
Selayan 8274 7 NA NA
Keterangan NA = Tidak ada data
Kec. Guguk Panjang = di area Jam Gadang
Kec. ABTB = di area terminal dan pasar aur kuning
Sumber Kantor Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi 2013 dalam Buku Status Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi 2013
Berdsarkan data di atas, kepemilikan jamban di Kota Bukittinggi adalah sebesar 79% dari jumlah rumah tangga yang terdapat di Kota Bukittinggi. Baku mutu untuk kepemilikan jamban menururt Asian Green City Index adalah 20-100 %. Bobot nilai untuk indikator ini adalah
% − %
% − % × % = . % 2. Jumlah limbah cair yang dapat dikelola
Saat ini pengelolaan air limbah domestik dilakukan dengan sistem setempat/on-site, baik secara individu maupun komunal. Limbah yang dikelola hanya limbah yang berasal dari WC (black water), yaitu untuk rumah menengah keatas dengan menggunakan septic tank, sedangkan untuk yang menengah kebawah masih menggunakan cubluk, sedangkan penduduk yang belum memiliki
47 fasilitas sanitasi masih membuang langsung ke badan air/drainase. Pengolahan di Kota Bukittinggi terdiri dari pengolahan limbah domestik dan non domestik. Limbah domestik yaitu limbah rumah tangga sedangkan limbah non domestik adalah limbah selain rumah tangga seperti limbah rumah sakit, komersil, dsb. Jumlah limbah yang di olah oleh Kota Bukittinggi adalah 29.18 %. Baku mutu untuk indikator ini adalah 10-100% limbah yang diolah. Bobot nilai untuk indikator ini adalah sebagai berikut :
. % − %
% − % × % = . % 3. Kebijakan mengenai sanitasi
Kebijakan mengenai sanitasi yang dilakukan oleh Kota Bukittinggi adalah merencanakan pembangunan instalasi pengolahan limbah terpadu (IPLT). Sarana pengolahan limbah yang ada di Kota Bukittinggi sata ini masih sedikit, diantaranya terdapat pencacah sampai, 1 unit incinerator dan transfer depo. Pengolahan limbah secara komunal untuk limbah domestik belum terdapat di Kota Bukittinggi. Namun, sudah ada sebagian hotel, usaha kecil menengah (UKM), dan rumah sakit yang telah melakukan pengolahan limbah sendiri.
Pengolahan limbah dimestik rumah tangga dilakukan dengan cara biologis yaitu septic tank. Namun masih ada sebagian dari masyarakat yang belum mempunya septic tank, sehigga pembuangan limbahnya dilakukan ke saluran drainase (Gambar 21). Septic tank yang sudah penuh dilakukan pengurasan. Permintaan pengurasan septic tank di Kota Bukittinggi dalam satu hari rata-rata hanya 1 kali, dengan menggunakan tangki (kapasitas 2000 liter), dengan kondisi ini mengindikasikan bahwa septic tank yang ada banyak yang tidak kedap air sehingga terjadi rembesan dan “septic tank” tidak bisa penuh. Karena rendahnya permintaan penyedotan lumpur tinja ini, maka pelayanan penyedotan Lumpur tinja di alihkan ke pihak swasta yang membuang lumpur tinja ke Kota Payakumbuh dan Padang Panjang, karena saat ini Kota Bukittinggi belum memiliki IPLT sendiri (karena kesulitan lahan).
Gambar 21 Saluran drainase tempat pembuangan limbah domestik Sumber : RTRW Kota Bukittinggi 2010-2030
Mengenai limbah non domestik yang ada di Bukittinggi berdasarkan laporan pengkajian lingungan terhadap kegiatan hotel di Bukittinggi (2009), menyebutkan bahwa jumlah hotel yang ada di Bukittinggi berjumlah 55 buah. Dari jumlah tersebut telah dilakukan observasi terhadap 34 hotel, hasil observasi menunjukkan bahwa ke 34 hotel tersebut telah memiliki ijin, namun baru 3 hotel
48
yang memiliki dokumen lingkungan dan baru 2 yang memiliki IPAL.Limbah industri yang ada di Kota Bukittinggi hanya berasal dari industri/usaha kecil menengah, karena tidak ada industri besar di Bukittinggi. Berdasarkan laporan pengkajian dampak lingkungan terhadap kegiatan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Bukittinggi (2009), jumlah UKM yang ada sebanyak 1765 buah. Jumlah tersebut dilakukan observasi terhadap 37 UKM. Hasil observasi menunjukkan bahwa 27 UKM telah memiliki ijin, tidak ada UKM yang memiliki dokumen lingkungan dan baru 2 UKM yang mempunyai IPAL. Hasil pengecekan terhadap effluent dari IPAL tersebut, dari 4 parameter yang diuji ada 3 parameter yang berada diatas baku mutu
Sedangkan observsi terhadap 33 jumlah rumah makan/restoran dari total 60 restoran yang ada, menunjukkan bahwa 15 restoran telah memiliki ijin namun tidak ada yang memiliki dokumen lingkungan dan IPAL. Pengelolaan dan pengolahan limbah medis baru dilakukan oleh Rumah Sakit besar seperti RS.Achmad Muhtar, Rumah Sakit Struk Nasional (RSSN), Rumah Sakit Madina, dan Rumah Sakit Yarsi. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap limbah medis oleh Dinas Kesehatan, masih belum sesuai dengan Baku Mutu Limbah Rumah Sakit (Keputusan Men LH No.52/MenLH/10/1995, tentang baku mutu limbah Rumah Sakit). Perbaikan dan pembangunan MCK baru. Fasilitas komunal ini (1 MCK untuk 40 KK) diperuntukan bagi masyarakat yang belum memiliki jamban sendiri. Perbaikan dan pembangunan MCK ini terdapat di Kelurahan Pulai Anak Air (perbaikan), Kelurahan Campago Guguk Bulek (pembangunan baru), dan di Kelurahan Birugo (Perbaikan).
Saat ini telah ada satu unit percontohan pengolahan limbah rumah tangga (pondok pesantren) sudah dibangun (th.2007) di Kelurahan Aur Tajungkang Tangah Sawah, yaitu dengan bio digester. IPAL ini melayani lebih dari 200 jiwa. Kegiatan ini dalam rangka Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), kerjasama dengan Borda. Gas yang dihasilkan dari proses bio digester ini dimanfaatkan untuk kegiatan memasak dan penerangan. Sedangkan pada tahun 2008, dibangun di Kelurahan Puhun Tembok, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan. Sedangkan penanganan untuk limbah non domestik, pada tahap awal akan dilakukan sosialisasi, penertiban dan penyusunan peraturan daerah, karena saat ini belum ada peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan limbah cair sehingga landasan hukum pengelolaan limbah cair di Kota Bukittinggi masih mengacu pada Peraturan Pemerintah maupun peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup
Pemerintah Kota Bukittinggi merencanakan pembangunan sistem pembuangan air limbah dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul dan diolah secara terpusat pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) baik skala kawasan (modular) atau skala kota dengan memperhatikan kondisi daya dukung lingkungan serta mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinjah (IPLT) kapasitas kurang lebih 20m3/hari pada tahun 2011. Pengadaan perlatan sanitasi yang berupa truk tinja guna mengangkut lumpur tinja ke IPLT. Timbulan lumpur tinja sebanyak 18m3/hari, maka truk tinja yang dibutuhkan sebanyak 5 unit (dengan kapasitas 2000 liter) dengan asumsi masing-masing unit beropersi 2 kali/trip sehari. Sistem pembuangan air limbah terpusat dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul dan diolah secara terpusat pada IPAL baik skala kawasan (modular) atau skala kota
49 dengan memperhatikan kondisi daya dukung lingkungan serta mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Sistem pembuangan air limbah terpusat dikembangkan pada kawasan perdagangan dan jasa dan kawasan permukiman padat yang dilengkapi dengan IPAL diarahkan disebelah timur dan tenggara Kota Bukittinggi. Analisis indikator kebijakan mangenai sanitasi terdapat pada Tabel 31.
Tabel 31 Analisis indikator kebijakan mengenai sanitasi
Indikator Upaya Skor
0 1 2 3
Kebijakan mengenai sanitasi
Pembangunan instalasi pengolahan lumpur
tinja (IPLT)
Sosialisasi penanganan limbah dimestic Mengembangkan sistem pembuangan air
limbah terpusat
Pembuatan fasilitas MCK di beberapa
kelurahan di Kota Bukittinggi
Pengurasan septic tank rumah tangga
Perda No. 8 tahun 2001 tentang Retribusi
Pemakaian Kakus
Total Skor 10 (a)
Bobot Nilai 13.88% (b)
a[Total Skor (x
t) = x1+x2+…+xn] ; Keterangan (x : skor yang diperoleh) b[Bobot Nilai (%) = � � � ��
� �� � � × %]
Air Quality 1. Tingkat konsentrasi NO2 di udara
Konsentrasi NO2 di udara di Kota Bukittinggi adalah 61.45 µg/Nm3. Uji emisi kendaraan di udara di lakukan di Terminal Aur Kuning Kota Bukittinggi. Baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 konsentrasi NO2 diudara per hari adalah 150 µg/Nm3 . Bobot nilai untuk indikator ini adalah
− . μg/Nm μg/Nm × % = . %