• Tidak ada hasil yang ditemukan

Posisi ITK Papua Barat Secara Nasional

Dalam dokumen ttp://papuabarat.bps.go.id (Halaman 33-39)

Pada Triwulan I, terjadi penurunan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di 8 dari 33 Provinsi. Sebaliknya ada 12 provinsi dari 25 provinsi (nilai ITK di atas 100) memiliki nilai ITK di atas rata-rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 102,89). Provinsi Maluku memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 109,96). Sebaliknya, Provinsi Bangka Belitung memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 94,71. Provinsi Papua Barat berada pada peringkat tertinggi ke-28 secara nasional (nilai ITK 98,53)

Gambar 4.6 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2016 Tingkat Nasional dan Provinsi

http://papuabarat.bps.go.id

Pada Triwulan I, terjadi penurunan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di 8 Pada Triwulan I, terjadi penurunan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di 8 dari 33 Provinsi. Sebaliknya ada 12 provinsi dari 25 provinsi (nilai ITK di atas 100) memiliki nilai dari 33 Provinsi. Sebaliknya ada 12 provinsi dari 25 provinsi (nilai ITK di atas 100) memiliki nilai rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 102,89). Provinsi Maluku memiliki nilai ITK rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 102,89). Provinsi Maluku memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 109,96). Sebaliknya, Provinsi Bangka Belitung memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 109,96). Sebaliknya, Provinsi Bangka Belitung memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 94,71. Provinsi Papua Barat berada pada peringkat tertinggi ke

Konsumen di seluruh provinsi sebagian besar mengalami penurunan kondisi ekonomi dilihat dari nilai ITK di bawah 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini terdapat 13 dari 33 provinsi nilai indeksnya mengalami penurunan kondisi perekonomian (nilai indeks di bawah 100), sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian pada 8 dari 33 provinsi. Pada komponen tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan terjadi penurunan kondisi perekonomian pada 9 dari 33 provinsi.

Perbaikan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di seluruh provinsi dan 16 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata-rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 107,93) pada Triwulan II. Provinsi Kepulauan Riau memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 113,34). Sebaliknya, Provinsi Sulawesi Utara memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 102,14. Sementara itu, Provinsi Papua Barat berada pada peringkat tertinggi tertinggi ke-17 secara nasional (nilai ITK 107,81)

Konsumen di sebagian provinsi di Indonesia mengalami perbaikan kondisi ekonomi dilihat dari peningkatan nilai ITK. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini seluruh provinsi nilai indeksnya mengalami peningkatan nilai dan optimisme kecuali Provinsi Sumatra Selatan dan Bangka Belitung, sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi

Gambar 4.7 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II-2016 Tingkat Nasional dan Provinsi

http://papuabarat.bps.go.id

Perbaikan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di seluruh provinsi dan 16 Perbaikan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di seluruh provinsi dan 16 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata

provinsi memiliki nilai ITK di atas rata

Provinsi Kepulauan Riau memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 113,34). Sebaliknya, Provinsi Kepulauan Riau memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 113,34). Sebaliknya,

Gambar 4.7 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II Gambar 4.7 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II

terjadi pada komponen tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan terjadi pada perbaikan kondisi ekonomi di seluruh Indonesia.

Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III secara nasional terjadi di 33 provinsi dan 18 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata-rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 108,22). Provinsi DI Yogyakarta memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 115,02). Sebaliknya, Provinsi Kalimantan Selatan memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 100,21. Di triwulan ini, Provinsi Papua Barat berada pada peringkat tertinggi ke-9 secara nasional (nilai ITK 110,17).

Konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi dilihat dari nilai ITK yang di atas 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini, semua provinsi nilai indeksnya menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi kecuali Provinsi Kalimantan Tengah, sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian (nilai indeks di bawah 100) pada 11 dari 33 provinsi. Pada komponen tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan terjadi pada perbaikan kondisi ekonomi di seluruh Indonesia kecuali Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.

Pada Triwulan IV, perbaikan kondisi ekonomi konsumen secara nasional terjadi di 29 dari 33 provinsi dan 18 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata-rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 102,46). Provinsi Papua memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 112,47). Sebaliknya, Provinsi

Gambar 4.8 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan III-2016 Tingkat Nasional dan Provinsi

http://papuabarat.bps.go.id

Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III secara nasional terjadi di 33 provinsi Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III secara nasional terjadi di 33 provinsi dan 18 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata

dan 18 provinsi memiliki nilai ITK di atas rata--rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 108,22). Provinsi rata ITK nasional (nilai ITK sebesar 108,22). Provinsi DI Yogyakarta memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 115,02). Sebaliknya, Provinsi DI Yogyakarta memiliki nilai ITK tertinggi (Nilai ITK sebesar 115,02). Sebaliknya, Provinsi Kalimantan Selatan memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 100,21. Di triwulan ini, Provinsi Kalimantan Selatan memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 100,21. Di triwulan ini, Provinsi Papua Barat berada pada peringkat tertinggi ke

Papua Barat berada pada peringkat tertinggi ke

Konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi dilihat dari nilai ITK Konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi dilihat dari nilai ITK yang di atas 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini, semua provinsi nilai indeksnya yang di atas 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini, semua provinsi nilai indeksnya

http://papuabarat.bps.go.id

menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi kecuali Provinsi Kalimantan Tengah, sedangkan pada menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi kecuali Provinsi Kalimantan Tengah, sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian

Gambar 4.8 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan III

Kalimantan Barat memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 95,07. Provinsi Papua Barat berada di peringkat ke-4 (nilai ITK 106,88) secara nasional dan merupakan peringkat tertinggi yang berhasil dicapai sepanjang tahun 2016.

Tidak semua konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi, terlihat ada 4 provinsi memiliki nilai ITK yang di bawah 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini terdapat 29 dari 33 provinsi yang nilai indeksnya menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi, sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian (nilai indeks di bawah 100) pada 18 dari 33 provinsi. Pada komponen tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan juga terjadi penurunan kondisi ekonomi pada 4 dari 33 provinsi.

Gambar 4.9 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan IV-2016 Tingkat Nasional dan Provinsi

http://papuabarat.bps.go.id

http://papuabarat.bps.go.id

Tidak semua konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi, terlihat Tidak semua konsumen di seluruh provinsi mengalami perbaikan kondisi ekonomi, terlihat ada 4 provinsi memiliki nilai ITK yang di bawah 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga ada 4 provinsi memiliki nilai ITK yang di bawah 100. Pada komponen pendapatan rumah tangga kini terdapat 29 dari 33 provinsi yang nilai indeksnya menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi, kini terdapat 29 dari 33 provinsi yang nilai indeksnya menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi, sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi sedangkan pada komponen pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi terjadi penurunan kondisi perekonomian (nilai indeks di bawah 100) pada 18 dari 33 provinsi. Pada komponen tingkat perekonomian (nilai indeks di bawah 100) pada 18 dari 33 provinsi. Pada komponen tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan juga konsumsi bahan makanan, makanan jadi di restoran/rumah makan dan bukan makanan juga terjadi penurunan kondisi ekonomi pada 4 dari 33 provinsi.

terjadi penurunan kondisi ekonomi pada 4 dari 33 provinsi.

Gambar 4.9 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan IV Gambar 4.9 Indeks Tendensi Konsumen Triwulan IV

STK 2016 di Provinsi Papua Barat yang dilaksanakan di tiga wilayah yaitu Kabupaten Manokwari, Kabupaten Fakfak, dan Kota Sorong. Karakteristik rumah tangga sampel STK dilihat dari tingkat pendidikan kepala rumah tangga mayoritas memiliki latar belakang pendidikan SLTA (sekitar 47,80—55,80 persen), lapangan pekerjaan utama berada di lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Motor (10,30—17,90), dengan status pekerjaan utama sebagai buruh/pegawai/karyawan (50,50—58,10 persen), dan rata-rata pendapatan di atas dua juta rupiah per bulan (77,95—81,40 persen).

Kondisi perekonomian dilihat dari sisi konsumen (rumah tangga) di Papua Barat sempat mengalami penurunan di Triwulan I (indeks di bawah 100) namun kembali mengalami perbaikan dari Triwulan II sampai dengan Triwulan IV-2016. Tingkat optimisme konsumen juga memberikan persepsi yang meningkat pada Triwulan II sampai dengan Triwulan IV-2016. Nilai ITK Papua Barat meningkat dari 98,53 di Triwulan I; 107,81 di Triwulan II; 110,17 di Triwulan III; dan akhirnya menjadi 106,88 di Triwulan IV-2016. Secara umum sebagian besar peningkatan kondisi ekonomi konsumen didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga dari triwulan I hingga triwulan IV. Konsumen juga berpersepsi bahwa terjadi peningkatan konsumsi makanan dan non makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka ditandai dengan nilai indeks yang berada di atas 100 dan meningkatnya optimisme tingkat konsumsi komoditi makanan dan non makanan, terutama pada momen-momen seperti peringatan Hari Raya Idul Fitri dan peringatan Hari Raya Natal. Walaupun pada kedua peringatan hari raya tersebut harga barang dan jasa melonjak (terjadi inflasi) tetapi daya beli masyarakat tetap terjaga terutama pada rumah tangga berpenghasilan tinggi. Perlu diingat juga bahwa STK dilakukan pada konsumen menengah keatas yang tinggal di daerah perkotaan.

KESIMPULAN

5

http://papuabarat.bps.go.id

dari tingkat pendidikan kepala rumah tangga mayoritas memiliki latar belakang pendidikan SLTA dari tingkat pendidikan kepala rumah tangga mayoritas memiliki latar belakang pendidikan SLTA 55,80 persen), lapangan pekerjaan utama berada di lapangan usaha Perdagangan 55,80 persen), lapangan pekerjaan utama berada di lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Motor (10,30

Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Motor (10,30 pekerjaan utama sebagai buruh/pegawai/karyawan (50,50

pekerjaan utama sebagai buruh/pegawai/karyawan (50,50——58,10 persen), dan rata58,10 persen), dan rata —

—81,40 persen).81,40 persen).

Kondisi perekonomian dilihat dari sisi konsumen (rumah tangga) di Papua Barat sempat Kondisi perekonomian dilihat dari sisi konsumen (rumah tangga) di Papua Barat sempat mengalami penurunan di Triwulan I (indeks di bawah 100) namun kembali mengalami perbaikan mengalami penurunan di Triwulan I (indeks di bawah 100) namun kembali mengalami perbaikan dari Triwulan II sampai dengan Triwulan IV

dari Triwulan II sampai dengan Triwulan IV--2016. Tingkat optimisme konsumen juga memberikan 2016. Tingkat optimisme konsumen juga memberikan persepsi yang meningkat pada Triwulan II sampai dengan Triwulan IV

persepsi yang meningkat pada Triwulan II sampai dengan Triwulan IV

meningkat dari 98,53 di Triwulan I; 107,81 di Triwulan II; 110,17 di Triwulan III; dan akhirnya meningkat dari 98,53 di Triwulan I; 107,81 di Triwulan II; 110,17 di Triwulan III; dan akhirnya menjadi 106,88 di Triwulan IV

menjadi 106,88 di Triwulan IV--2016. Secara umum sebagian besar peningkatan kondisi ekonomi 2016. Secara umum sebagian besar peningkatan kondisi ekonomi konsumen didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga dari triwulan I hingga triwulan konsumen didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga dari triwulan I hingga triwulan IV. Konsumen juga berpersepsi bahwa terjadi peningkatan konsumsi makanan dan non makanan IV. Konsumen juga berpersepsi bahwa terjadi peningkatan konsumsi makanan dan non makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka ditandai dengan nilai indeks yang berada di atas 100 dan untuk memenuhi kebutuhan mereka ditandai dengan nilai indeks yang berada di atas 100 dan

Posisi nilai ITK Papua Barat di kawasan Sulampua pada Triwulan I-2016 berada pada peringkat sembilan, Triwulan II-2016 mengalami peningkatan peringkat sehingga berada di peringkat keenam, Triwulan III-2016 kembali di peringkat keempat, dan Triwulan IV-2016 meningkat kembali sehingga berada pada peringkat ketiga dari sepuluh provinsi.

Dilihat dari posisi nilai ITK-nya secara nasional (33 provinsi dan Indonesia), Papua Barat berada pada peringkat ke-28 (Triwulan I-2016), peringkat ke-17 (Triwulan II-2016), peringkat ke-9 (Triwulan III-2016), dan peringkat ke-4 (Triwulan IV-2016). Bila dibandingkan dengan nilai ITK rata-rata nasional, Papua Barat hanya sekali berada di bawah nilai ITK rata-rata-rata-rata nasioal, yaitu pada Triwulan I-2016 (nilai ITK nasional 102,89), dan Triwulan II-2016 (nilai ITK nasional 107,93) selebihnya pada Triwulan III sampai dengan Triwulan IV-2014 nilai ITK-nya selalu di atas nilai rata-rata nasional.

http://papuabarat.bps.go.id

nya selalu di atas nilai rata nya selalu di atas nilai rata

Badan Pusat Statistik. 2016. Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi

Konsumen 2016. BPS: Jakarta.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. 2016. Berita Resmi Statistik:

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Provinsi Papua Barat 2016. BPS

Provinsi Papua Barat: Manokwari.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. 2016. Berita Resmi Statistik:

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II Provinsi Papua Barat 2016. BPS

Provinsi Papua Barat: Manokwari.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. 2016. Berita Resmi Statistik:

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan III Provinsi Papua Barat 2016. BPS

Provinsi Papua Barat: Manokwari.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. 2016. Berita Resmi Statistik:

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan IV Provinsi Papua Barat 2016. BPS

Provinsi Papua Barat: Manokwari.

---. 2016. Berita Resmi Statistik: Perkembangan Indkes Harga Konsumen/

Inflasi Provinsi Papua Barat 2016 (Bulan Januari-Desember 2016). BPS

Provinsi Papua Barat: Manokwari.

---. 2016. Berita Resmi Statistik: Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua

Barat 2016. BPS Provinsi Papua Barat: Manokwari.

---. 2016. Berita Resmi Statistik: Profil Kemiskinan di Provinsi Papua Barat

Maret 2016. BPS Provinsi Papua Barat: Manokwari.

---. 2016. Berita Resmi Statistik: Profil Kemiskinan di Provinsi Papua Barat

September 2016. BPS Provinsi Papua Barat: Manokwari.

Dalam dokumen ttp://papuabarat.bps.go.id (Halaman 33-39)

Dokumen terkait