• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Sajian Data

2. Posisi Objek

Posisi objek dalam teks menggambarkan bagaimana tokoh direpresentasikan serta dikonstruksi melalui teks. Pada posisi objek di sini, tokoh di dalam teks ditafsirkan oleh pihak lain dan dipandang sebagai objek yang digambarkan oleh posisi lain (subjek). Penafsiran mengenai tokoh pada dasarnya dilakukan secara subjektif sehingga boleh jadi akan muncul pemaknaan sepihak atas peristiwa ataupun terhadap karakter tokoh yang ditafsirkan. Tokoh di dalam teks akan terikat dan tidak menafsirkan dirinya sendiri secara bebas di dalam teks. Beberapa penjelasan dalam posisi objek para tokoh di dalam film Mother dapat dilihat sebagai berikut:

a. Over-protective terhadap keluarga

Gambar 24 Gambar 25

Gambar 24 merupakan bagian scene awal dan berada pada menit 04.45.

gambaran mengenai jari Hye ja yang terluka akibat tidak memperhatikan pekerjaannya dan justru terlalu terfokus pada Do joon membuat Hye ja menjadi sosok yang dikonstruksikan over-protective dalam keluarga. Dalam gambaran ini, Hye ja direpresentasikan sebagai ibu yang terlalu mengkhawatirkan anaknya sampai-sampai tidak memperhatikan bagaimana kondisinya yang terluka dalam

pekerjaannya. Gambar 24 memperlihatkan dialog dari tetangga Hye ja yang mengatakan bahwa Hye ja terluka sehingga tokoh Hye ja secara tidak langsung digambarkan sebagai pihak yang over-protective oleh tokoh lain.

Selanjutnya, dalam gambar 25, gambar ini juga menunjukkan bagaimana Hye ja diobati jarinya oleh seorang dokter klinik. Meski kemudian dokter tersebut tidak menyampaikan dialognya, tetapi visualisasi pada gambar 24 menunjukkan Hye ja yang terlalu mengkhawatirkan anaknya sampai-sampai ia menyampaikan monolog “ini membuatku gila”. Makna dari monolog ini terkesan asinkron dengan kondisi jarinya yang harus diobati secara sepihak oleh dokter.

Gambar 26 Gambar 27

Rasa cinta kasih berlebihan juga ditunjukkan melalui visualisasi gambar 26 dan 27 yang mana menjelaskan posisi Hye ja yang sedang menengok Do joon di penjara. Hal ini dapat terlihat dari dialog yang disampaikan Hye ja mengenai kondisi Do joon, apakah kemudian para polisi telah memukuli Do joon, dan ketika Hye ja menanyakan lebam di tubuh Do joon.

Gambar 28 Gambar 29

Visualisasi dalam gambar 28 dan 29 juga cenderung memposisikan Hye ja sebagai objek. Dalam hal ini, gambaran bahwa Do joon masih tidur bersama Hye ja secara sekilas menggambarkan bahwa Do joon sangat tergantung pada

ibunya, dan ini terlihat pada adegan tidur Do joon yang harus ditemani oleh ibunya. Namun demikian, di sisi lain bahwa Do joon adalah pemuda yang sudah berusia dewasa, hal ini cenderung menjadikan Hye ja sebagai sosok ibu yang dinilai terlalu protektif dan mengkhawatirkan anaknya dengan cara yang tidak lazim. Pengobjekan terhadap sosok Hye ja sebenarnya menjadikannya sebagai pihak yang sebenarnya harus terikat dengan Do joon.

b. Domestifikasi dan subordinasi terhadap perempuan

Gambar 30 Gambar 31

Gambar 30 pada menit 12.02 dan gambar 31 pada menit 01.56.12 merupakan adegan yang serupa tetapi hadir dalam scene yang berbeda. Dengan kondisi yang hampir serupa, posisi Do joon hadir bersama Hye ja dalam setting ruang makan, dimana Hye ja melayani makanan Do joon dan terlihat makan bersama. Hal ini dapat terlihat pada dialog yang disampaikan Hye ja yang meminta Do joon untuk memakan makanannya. Namun demikian, visualisasi ini cenderung memberikan gambaran atas citra perempuan yang hadir dalam ranah domestik, yakni dapur dan keluarga. Gambaran ini sekilas memang menunjukkan adanya feminitas atas cinta kasih seorang ibu kepada anak. Akan tetapi dalam bentuk visualisasi selanjutnya, kesan mengenai sosok Hye ja yang mencintai dan menyayangi anaknya hadir secara sosial dalam balutan area domestik yang dipandang melayani laki-laki terutama dalam setting area dapur dan ruang makan.

Gambar 32 Gambar 33

Gambar 32 dan 33 menunjukkan bentuk pelayanan dari perempuan (Hye ja).

Secara tidak langsung, visualisasi pada gambar tersebut menggambarkan kondisi Do joon yang tergantung dan harus dilayani oleh ibunya, bahkan dalam konteks visualasi terkesan cenderung seksis, bahwa Hye ja harus memberikan obat kepada Do joon ketika Do joon sedang membuang air kecil sembarangan di tembok jalan. Hal ini didukung dengan adegan selanjutnya bahwa Hye ja harus membersihkan bekas air kencing Do joon di pinggir jalan agar tidak menarik perhatian banyak orang. Pada penggambaran ini, terlihat bahwa muncul penggiringan informasi bahwa Hye ja adalah ibu Do joon sehingga harus bertanggung jawab dalam perbuatan yang dilakukan oleh Do joon sehingga menjadikan posisinya sebagai pihak yang tersubordinasi dibandingkan dengan Do joon.

Gambar 34

Gambar 34 ini menjelaskan adanya ancaman yang dilakukan oleh seorang pengusaha perempuan kepada Hye ja mengenai usaha pengobatan dan akupuntur yang dilakukan. Dalam scene ini, meski kemudian pengusaha perempuan tersebut menyatakan adanya dominasi terhadap Hye ja, tetapi muncul relasi gender dalam dialog yang disampaikan. Pada dialog “Suamiku pejabat

pemerintah” muncul pandangan dan penilaian bahwa pengusaha perempuan digambarkan sebagai sosok yang dominan atas pemberian dominansi laki-laki, yakni suaminya. Pada tataran ini, wujud dominansi pengusaha perempuan tidak benar-benar menjadi bentuk dominansi semu karena terikat dengan dominansi dan keberadaan laki-laki. Hal ini menjadikan posisi perempuan pada dasarnya menjadi pihak lapis kedua dan tidak benar-benar mandiri dalam mengelola kehidupannya.

c. Perlakuan Seksisme

Gambar 35 Gambar 36

Gambar 35 berada pada menit 58.18 yang memiliki setting di sebuah tempat pelacuran ataupun bar. Dalam visualisasinya, terkesan adanya perilaku seksisme yang dilakukan oleh Pengacara Gong (pengacara yang disewa Hye ja untuk membantu menyelesaikan kasus Do joon). Selain gambaran mengenai pengobjekan perempuan secara seksual melalui para pelacur, secara tidak langsung visual dalam gambar 33 menjelaskan posisi Hye ja yang dianalogikan serupa dengan para perempuan pelacur. Hye ja diminta menemui Pengacara Gong di sebuah bar yang mana lokasi tersebut seharusnya bukan merupakan lokasi resmi yang seharusnya digunakan untuk membahas pekerjaan. Muncul ranah atau latar yang abu-abu dimana sosok Pengacara Gong membawa sudut pandang bahwa pihak laki-laki memiliki dominansi seksual atas perempuan, sedangkan perempuan dikonstruksi identik dengan citra seksualitas yang terdominasi.

Selanjutnya pada gambar 36, gambar ini berada dalam menit ke 01.27.47 yang menjelaskan bahwa para pemuda merendahkan posisi Hye ja secara seksualitas. Secara tidak langsung, dialog yang menyebutkan bahwa Do joon

tidur dengan ibunya dimaknai secara konotasi pada makna “tidur” dan tidak merujuk pada perilaku tidur yang sebenarnya. Hal ini menjadikan anggapan dan label terhadap Hye ja sebagai perempuan dan ibu yang tidak baik.

Gambar 37 Gambar 38

Gambar 39

Perlakuan dan anggapan berbau seksisme terhadap tokoh lain dapat dilihat pada gambar 37 (menit 16.16), gambar 38 (menit 51.00), dan gambar 39 (menit 01.24.39). Pada gambar 37, anggapan seksisme disampaikan oleh Do joon kepada perempuan pemilih bar yang berada di depannya. Lalu untuk gambar 38, scene tersebut menggambarkan adanya visualisasi perilaku seks bebas yang dilakukan oleh Jin tae dan anak pemilik bar. Hal ini dipandang merendahkan posisi perempuan dan menempatkannya sebagai objek seksualitas dan pemuas hawa nafsu bagi laki-laki. Adapun sudut pandang dalam mengpengobjekan gambaran pada gambar 36 adalah melalui pemaknaan Hye ja yang bersembunyi di balik tirai. Terakhir untuk gambar 39 yang mengkonstruksi anggapan seksisme terhadap Ah jung yang disampaikan oleh dua anak lelaki SMA, mantan pacar Ah jung. Pandangan para anak lelaki SMA ini menyebutkan dalam dialog

“berikan dua arak beras dan tiduri” seolah menggambarkan bagaimana Ah jung adalah gadis yang gampangan dan mudah ditipu.

d. Sifat emosional perempuan

Gambar 40 Gambar 41

Gambar 42

Gambar 40 pada menit ke 01.12.03 dan gambar 41 pada menit 01.43.07 secara tidak langsung menggambarkan sifat emosional pada perempuan.

Gambaran dan visualisasi yang dimunculkan mengenai sifat emosional ini dapat ditinjau pada permainan ekspresi dan gesture yang diperlihatkan oleh tokoh Hye ja. Ekspresi Hye ja menunjukkan bahwa dia merasa terkejut dan emosional atas pesan yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Ekspresi Hye ja ditampilkan secara non verbal dan menguatkan bagaimana kondisi emosinya. Adanya sifat emosional yang berlebih ini juga merujuk pada anggapan sosial bahwa perempuan memiliki sifat feminitas yang cenderung emosional dan mengedepankan perasaan.

Gambar 40 menggambarkan Hye ja yang terkejut atas perkataan Do joon yang mengingat kejadian pilu saat Do joon berusia 5 tahun, dimana Hye ja berusaha untuk bunuh diri bersama Do joon karena himpitan ekonomi. Dalam paparan yang digambarkan, Do joon mengingat semuanya dan menyampaikan protes kepada Hye ja. Hal ini mengakibatkan Hye ja terkejut dan emosional karena harus mengingat kejadian masa lalunya.

Gambar 41 memvisualisasikan ekspresi Hye ja yang baru saja memukul dan membunuh tokoh Kakek. Hal ini disebabkan karena Hye ja merasa pembunuh Ak jung bukanlah Do joon, melainkan si Kakek tersebut. Ketika tokoh Kakek menyebutkan bahwa Do joon adalah pihak pembunuh Ah jung serta memberikan kesaksian yang menurut Hye ja tidak benar, selanjutnya Hye ja terbawa emosi dan tidak terima dengan pernyataan Kakek tersebut. Hingga pada akhirnya, Hye ja sendiri merasa terkejut karena ternyata dia telah berbuat kriminal dengan membunuh tokoh Kakek di gubuknya.

Gambar 42 pada menit ke 01.46.10, secara langsung merupakan lanjutan pergerakan emosi dari Hye ja atas kejadian yang menimpanya. Mengetahui bahwa ia telah membunuh tokoh Kakek, maka kemudian Hye ja meluapkan emosinya dengan membakar lokasi pembunuhan (gubuk Kakek) guna menghilangkan barang bukti. Pada gambar 41 terlihat jelas bahwa terdapat pandangan yang menggiring pembaca terhadap dinamika emosi Hye ja atas dasar kemarahan yang ia rasakan terhadap kondisi serta situasi yang dihadapi.

e. Feminitas secara fisik

Gambar 43 Gambar 44

Gambar 43 menggambarkan posisi Hye ja yang membenahi make up nya setelah berkelahi dengan anggota keluarga Ah jung di area pemakaman. Dalam tataran ini, gambar 43 memberikan pandangan bahwa Hye ja yang hendak menemui Pengacara Gong dan memiliki keperluan untuk meminta bantuan secara tidak langsung harus berpenampilan rapi. Upaya yang digambarkan Hye ja adalah dengan membenahi make up yang digunakannya, yakni dengan mengoleskan lipstik pada bibirnya.

Senada dengan gambar 43, gambar 44 pada menit ke 55.11 juga merepresentasikan bahwa perempuan identik dengan make up yang dikenakan.

Gadis muda yang berhubungan dengan Jin tae dipandang mengoleskan riasan terlalu tebal dan menjadikannya secara fisik terlihat berlebihan (menor). Pada paparan ini, baik Hye ja ataupun gadis muda yang digambarkan pada dasarnya direpresentasikan dalam bentuk penilaian fisik pihak laki-laki yang harus terikat dengan make up atau riasan. Sudut pandang laki-laki dapat dianalisis pada tokoh Hye ja di gambar 43 menunjukkan keterikatannya dengan keperluannya bersama Pengacara Gong, sedangkan pandangan standar feminitas secara fisik mengenai gadis yang ada pada gambar 44 diperoleh melalui dialog yang disampaikan polisi ketika mengomentari riasan gadis tersebut.

f. Anggapan lemah bagi perempuan

Gambar 45 Gambar 46

Gambar 47

Gambar 45, gambar 46, dan gambar 47 pada dasarnya menggambarkan sisi lemah yang terdapat pada diri perempuan (tokoh perempuan lain selain Hye ja).

Gambar 45 memunculkan label lemah pada perempuan dan menjadikannya sebagai bahan kekerasan (bullying) yang dilakukan oleh laki-laki. Dalam tataran ini, gambar 45 menunjukkan bagaimana gadis SMA, teman Ah jung, yang

menerima perlakuan kekerasan dari dua anak lelaki SMA. Hal ini disebabkan karena dua anak lelaki SMA tersebut sedang mencari barang bukti ponsel Ah jung yang hilang pasca Ah jung meninggal. Para lelaki merasa mereka terancam ketika bukti tersebut ditemukan sehingga mereka melakukan kekerasan kepada teman Ah jung agar memberitahu mereka di mana letak ponsel tersebut.

Selanjutnya pada gambar 46 menunjukkan labelling yang disematkan kepada Ah jung melalui seorang Nenek yang kerap memproduksi arak beras.

Dialog tokoh Nenek menyatakan bahwa Ah jung selalu meminta kembali apa yang dimilikinya dan menyebut Ah jung sebagai orang gila. Dalam teks ini, dapat dikatakan bahwa tokoh Nenek menganggap kata gila merepresentasikan ketidakwarasan Ah jung, sekaligus mencitrakan kelemahan Ah jung yang selalu bergantung pada Nenek tersebut.

Keberadaan gambar 46 didukung oleh gambar 47 yang menjelaskan flash back mengenai kesaksian tokoh Kakek terhadap kejadian malam sebelum Ah jung terbunuh. Dalam pandangan Kakek, Ah jung menyatakan bahwa ia membenci lelaki, tetapi seolah tidak memiliki kekuatan untuk melawan dominansi atas lelaki kepadanya. Hal ini dikonstruksikan melalui pernyataan dan sudut pandang Kakek terhadap Ah jung. Secara tidak langsung, pandangan ini menjadikan Ah jung dalam gambaran yang lemah dan tidak berdaya.