LAPORAN AKHIR
PENELITIAN BOPTN IAIN SURAKARTA
DEKONSTRUKSI MAKNA FEMININ DAN RESISTANSI PEREMPUAN DALAM TAYANGAN FILM
(Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada Film “Mother”)
Diajukan untuk Laporan Akhir Penelitian yang dibiayai oleh BOPTN Penelitian DIPA IAIN Surakarta Tahun Anggaran 2020
Oleh:
Peneliti : KETUA
Nama : Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
NIP : 19720428 200003 2 002
Prodi / Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam ANGGOTA-1
Nama : Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, M. I. Kom.
NIDN : 2003029201
Prodi / Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam ANGGOTA-2
Nama : Joni Rusdiana
NIDN : 0602068302
Prodi / Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN 2021
A.3
FORMULIR PENDAFTARAN PENELITIAN
Assalamu’alaikum wr. wb
Dengan ini saya,
Nama : Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
NIP : 19720428 200003 2 002
Jabatan fungsional : Lektor Kepala Golongan / ruang : Pembina IV/a
No HP : 085725461699
Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Perguruan Tinggi : IAIN Surakarta
Bersama ini kami mengajukan pendaftaran proposal kegiatan penelitian untuk mendapatkan pembiayaan dari anggaran BOPTN Penelitian IAIN Surakarta Tahun Anggaran 2020 dengan judul :
DEKONSTRUKSI MAKNA FEMININ DAN RESISTANSI PEREMPUAN DALAM TAYANGAN FILM(Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada Film
“Mother”)
Demikian pendaftaran saya buat agar dapat diproses dalam tahapan kegiatan penelitian selanjutnya.
Wassalamu’alaikum wr wb
Surakarta, Agustus 2019 Pengusul,
Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
NIP. 19720428 200003 2 002
SURAT PERNYATAAN PENELITI
Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
Tempat, tanggal lahir : Ujung Pandang, 28 April 1972
NIP : 19720428 200003 2 002
Pangkat/Gol : Pembina IV/a Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Program Studi : Komunikasi dan Penyiaran Islam Judul Penelitian :
DEKONSTRUKSI MAKNA FEMININ DAN RESISTANSI PEREMPUAN DALAM TAYANGAN FILM(Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada Film
“Mother”)
menyatakan bahwa:
1. Penelitian yang saya usulkan ini tidak sedang diusulkan untuk mendapatkan bantuan pada pihak manapun;
2. Usulan penelitian ini belum pernah dilaksanakan penelitian sebelumnya;
3. Penelitian ini original hasil karya saya sendiri dan bukan plagiasi dan Saya bertanggung jawab penuh jika di kemudian hari timbul gugatan atas hasil penelitian ini.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sungguh-sungguh, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Surakarta, Oktober 2021 Yang membuat pernyataan, Peneliti
Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
NIP. 19720428 200003 2 002
LEMBAR PENGESAHAN
Nama Ketua : Eny Susilowati, S. Sos., M. Si.
Unit Kerja : IAIN Surakarta
NIP : 19720428 200003 2 002
Anggota 1 : Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, M. I. Kom.
NIDN : 2003029201
Anggota 2 : Joni Rusdiana, M.I.Kom.
NIDN : 0602068302
Judul : DEKONSTRUKSI MAKNA FEMININ DAN
RESISTANSI PEREMPUAN DALAM TAYANGAN FILM(Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada Film “Mother”)
Kluster : Penelitian Interdisipliner No. Kode Kluster : A.3
Sumber Dana : BOPTN IAIN Surakarta Tahun 2019 Biaya : Rp 26.000.000,00
Waktu Penelitian : Waktu Review : Paparan Hasil :
Surakarta, 08 Oktober 2021 Ketua LP2M IAIN Surakarta
Dr. Zainul Abas, S.Ag., M.Ag.
NIP.19720505 200112 1 001
KATA PENGANTAR
Puji syukur terucap untuk Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang senantiasa memberikan berkah, rahmat, nikmat, dan hidayah bagi semua hamba-Nya. Atas kehendak-Nya, penulis mampu menyelesaikan kewajiban melalui penelitian berjudul DEKONSTRUKSI MAKNA FEMININ DAN RESISTANSI PEREMPUAN DALAM TAYANGAN FILM(Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada Film “Mother”). Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang penelitian berbasis akademik bagi para Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
Penelitian ini pada dasarnya berbasis keilmuan yang dikembangkan secara interdisipliner. Mengingat pentingnya pengembangan serta peningkatan keilmuan bagi para Dosen di Program Studi KPI, maka dipilihlah penelitian interdisipliner ini guna mengembangkan fokus keilmuan sekaligus mewujudkan iklim akademis bagi seluruh Dosen di Program Studi KPI.
Membahas tentang lingkup keilmuan dalam bidang komunikasi dan penyiaran, salah satunya adalah mengenai bagaimana kekuatan media dan pesan dapat disampaikan kepada audiens melalui berbagai bentuk atau platform. Dalam tataran ini, media melalui kekuatan dan konstruksinya mampu menggambarkan dan merepresentasikan realitas simbolik atas realitas faktual yang ada di masyarakat. Tidak terkecuali pada film, film muncul sebagai salah satu bentuk media massa yang memiliki kekuatan tersendiri dalam memberikan pengaruh bagi penonton yang mengonsumsi pesan.
Analisis dalam penelitian ini berawal dari bagaimana posisi film digunakan untuk merepresentasikan konsep perempuan melalui peran dan fungsinya pada kehidupan keluarga. Berbalut dengan konstruksi tentang nilai-nilai feminitas yang seolah diyakini secara umum bagi perempuan, film Mother dipilih oleh peneliti sebagai salah satu subjek yang digunakan untuk membahas pembedahan nilai- nilai feminitas dan resistansi yang dimunculkan dalam film.
Penyusunan penelitian ini tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan sejumlah pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada beberapa pihak yang
telah membantu, mendukung, serta mendorong penulis dalam seluruh proses penelitian ini. Dengan setulus hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Mudofir, S. Ag., M. Pd. selaku Rektor IAIN Surakarta.
2. Dr. Islah, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta.
3. LP2M IAIN Surakarta sebagai lembaga utama dalam bantuan fasilitasi atas penyusunan penelitian ini.
4. Ketua dan Sekretaris Program Studi, serta seluruh Dosen dan mahasiswa KPI, terima kasih atas masukan dan dukungannya dalam penyelesaian penelitian ini.
5. Narasumber FGD, Nur Latifah Umi Satiti, M.A dan Ratmurti Mardika, S.Sos., serta para peserta FGD (Dosen dan Mahasiswa), yang berkenan untuk membersamai dalam penggalian data riset ini.
6. Pihak-pihak lain tidak dapat disebutkan satu per satu, tetapi turut berpartisipasi secara maksimal dalam penelitian ini.
Peneliti menyadari sejumlah kekurangan yang ada dalam penelitian ini.
Untuk itu, adanya masukan, kritik, ataupun saran terkait sangat penulis harapkan demi tersempurnanya hasil penelitian. Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi sejumlah pihak, baik dalam segi teoritis, metodologis, maupun secara praktis bagi masyarakat.
Surakarta, Oktober2021 Eny Susilowati
ABSTRAK
Film pada dasarnya mampu menciptakan kritik tersendiri melalui pesan yang disampaikan dan direpresentasikan. Melihat representasi perempuan dalam film
“Mother”, secara sekilas hal yang menjadi menarik adalah tentang bagaimana perempuan (sebagai sosok ibu) dikonstruksi dalam tataran alur cerita yang sarat dengan ketidakseimbangan kuasa, adanya pengemasan nilai feminitas yang berbeda, serta bagaimana representasi perempuan dalam upaya resistansi yang dilakukan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dekonstruksi makna feminin dan resistansi perempuan dalam tayangan film “Mother” ditinjau melalui analisis wacana Sara Mills.
Penelitian ini merupakan penelitian teks dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis utama melalui wacana kritis Sara Mills. Subjek penelitian adalah film produksi Korea Selatan berjudul “Mother”, yang bergenre drama, kriminal, dan thriller, dan disutradarai oleh Bong Joon-Ho. Pengumpulan data dilakukan dalam tataran teks, yakni melalui dokumentasi dan studi pustaka.
Selanjutnya, data divalidasi dengan melakukan diskusi bersama melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan ahli yang memiliki pengalaman serta keilmuan sesuai dengan objek penelitian.
Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa dekonstruksi makna atas nilai feminin dan resistansi perempuan dalam film “Mother” pada dasarnya memposisikan perempuan pada tataran objek. Dalam tataran ini, terjadi pengobjekan pada perempuan melalui karakter yang dimainkan secara dominan oleh Hye ja, meski kemudian muncul beberapa kecenderungan lain yang juga memposisikan perempuan sebagai subjek dalam alur cerita. Adanya aspek feminitas secara fisik dan emosional menjadi bentuk pengobjekan perempuan di dalam film. Selain itu, terjadi pembedahan atas nilai feminitas dan resistansi yang ada dalam film. Hal ini disebabkan karena adanya dinamika emosional pada tokoh utama yang memiliki karakter yang bersifat kompleks. Terakhir, keberadaan media sebagai sebuah industri dan kuasa pesan nyatanya menjadikan praktik komodifikasi media yang tergantung pada para pemilik modal sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa gambaran tokoh perempuan dalam film yang diteliti memang digunakan untuk merepresentasikan bentuk kuasa media atas komodifikasi pesan yang disampaikan.
Kata kunci: feminitas, resistansi perempuan, film Mother, analisis wacana kritis, Sara Mills
ABSTRACT
Films are basically able to create their own criticisms through the messages that are conveyed and represented. Seeing the representation of women in the film
“Mother”, at a glance what becomes interesting is how women (as mother figures) are constructed at the level of a storyline that is full of power imbalances, the existence of different packaging of femininity values, and how the representation of women in resistance efforts is carried out. done. Thus, the purpose of this study is to describe the deconstruction of feminine meaning and women's resistance in the film "Mother" in terms of Sara Mills' discourse analysis.
This research is a text research using a descriptive qualitative approach and the main analysis through Sara Mills' critical discourse. The subject of research is a South Korean film titled "Mother", which is a drama, crime, and thriller genre, and was directed by Bong Joon-Ho. Data collection is carried out at the text level, through documentation and literature study. Furthermore, the data is validated by conducting joint discussions through Focus Group Discussions (FGD) with experts who have experience and knowledge in accordance with the object of research.
Based on the results of the analysis, it is concluded that the deconstruction of the meaning of feminine values and women's resistance in the film "Mother"
basically positions women at the object level. At this level, there is an objectification of women through the character played predominantly by Hye ja, although then there are several other tendencies that also position women as subjects in the storyline. The existence of physical and emotional aspects of femininity is a form of objectifying women in the film. In addition, there was deconstruction on the value of femininity and resistance in the film. This is due to the emotional dynamics of the main character who has a complex character.
Finally, the existence of the media as an industry and the power of messages in fact make the practice of media commodification that depends on the owners of capital, so it is possible that the image of the female character in the film is indeed used to represent the form of media power over the commodification of the message conveyed.
Keywords: feminity, women resistance, Mother movie, critical discourse, Sara Mills
DAFTAR ISI
FORMULIR PENDAFTARAN PENELITIAN ... ii
SURAT PERNYATAAN PENELITI ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka... 8
B. Landasan Teori ... 10
1. Komunikasi massa ... 10
2. Film ... 12
3. Konsep Feminisme dan Resistansi Perempuan ... 14
4. Analisis Wacana Kritis Sara Mills ... 18
5. Posisi Perempuan di Korea Selatan ... 20
C. Kerangka Berpikir ... 23
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 25
B. Metode Penelitian ... 25
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 26
D. Teknik Pengumpulan Data ... 26
E. Teknik Keabsahan Data ... 27
F. Teknik Analisis Data ... 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Film ... 29
1. Gambaran Umum Film Mother ... 29
2. Sinopsis Film Mother ... 33
B. Sajian Data ... 35
1. Posisi Subjek ... 36
2. Posisi Objek ... 45
3. Posisi Pembaca ... 54
C. Analisis Data ... 59
1. Feminitas dalam Konteks Fisik dan Emosional ... 59
2. Dekonstruksi Nilai Feminitas dan Bentuk Resistansi ... 61
3. Neoliberalisasi dan Pengobjekan Perempuan pada Media ... 62
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Poster film “Mother” ... 2
Gambar 2. Bagan kerangka berpikir penelitian ... 23
Gambar 3. Poster resmi film “Mother” ... 29
Gambar 4 ... 36
Gambar 5 ... 37
Gambar 6 ... 37
Gambar 7 ... 38
Gambar 8 ... 39
Gambar 9 ... 39
Gambar 10 ... 40
Gambar 11 ... 41
Gambar 12 ... 41
Gambar 13 ... 41
Gambar 14 ... 41
Gambar 15 ... 42
Gambar 16 ... 42
Gambar 17 ... 43
Gambar 18 ... 43
Gambar 19 ... 44
Gambar 20 ... 44
Gambar 21 ... 44
Gambar 22 ... 44
Gambar 23 ... 44
Gambar 24 ... 45
Gambar 25 ... 45
Gambar 26 ... 46
Gambar 27 ... 46
Gambar 28 ... 46
Gambar 29 ... 46
Gambar 30 ... 47
Gambar 31 ... 47
Gambar 32 ... 48
Gambar 33 ... 48
Gambar 34 ... 48
Gambar 35 ... 49
Gambar 36 ... 49
Gambar 37 ... 50
Gambar 38 ... 50
Gambar 39 ... 50
Gambar 40 ... 51
Gambar 41 ... 51
Gambar 42 ... 51
Gambar 43 ... 52
Gambar 44 ... 52
Gambar 45 ... 53
Gambar 46 ... 53
Gambar 47 ... 53
Gambar 48 ... 55
Gambar 49 ... 56
Gambar 50 ... 56
Gambar 51 ... 57
Gambar 52 ... 57
Gambar 53 ... 58
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kerangka analisis wacana kritis Sara Mills ... 20 Tabel 2 Struktur dan identitas pada film “Mother” ... 29
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Film merupakan salah satu media penyampai pesan. Merujuk pada sejumlah fungsi media massa, film diyakini menjadi salah satu altenatif media yang mampu menyampaikan informasi, hiburan, edukasi, sekaligus pewarisan budaya. Menilik pada hal tersebut, media pada konteksnya harus secara ideal mampu menampilkan kemasan yang berkualitas, baik dalam bentuk ataupun platform, maupun konsep pesan informasi yang disampaikan.
Berkenaan dengan film dan tayangannya, terdapat sejumlah jenis dan genre film yang dewasa ini muncul di masyarakat. Beberapa jenis film dapat diklasifikasikan ke dalam film dokumenter, film fiksi, dan film eksperimental (Pratista, 2008). Film dokumenter misalnya, film ini biasa dikenal sebagai film yang menampilkan pesan melalui tayangan yang “apa adanya”. Film dokumenter berbeda dengan film fiksi yang cenderung membentuk dan “menciptakan” pesan.
Namun demikian, baik dalam konteks film dokumenter maupun film fiksi ini, tayangan media muncul berdasarkan hasil konstruksi dan bentukan dari orang-orang di balik media.
Film mampu bercerita mengenai sejumlah makna yang beragam. Pada konteks ini, cerita dalam alur film merujuk pada genre-genre film yang mampu dimunculkan dalam kemasan tayangan film. Beragamnya genre film menjadikan film diarahkan pada klasifikasi ataupun segmentasi audiens yang menonton.
Apakah kemudian film diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, dewasa, atau bahkan dapat ditonton oleh semua usia. Adapun genre yang ada pada film lebih lanjut mampu menentukan, sekaligus memengaruhi bagaimana kualitas tayangan yang terdapat dalam sebuah film.
Sebagai bagian dari media massa, film menjadi media yang mampu memberikan gambaran tentang apa yang dikonstruksi melalui tayangannya.
Dalam sisi yang istimewa, film bahkan mampu menjadi sarana untuk memengaruhi persepsi khalayak terhadap nilai-nilai yang ditawarkan dalam film.
Membahas tentang substansi pesan dalam film, sejumlah nilai yang dimunculkan pada dasarnya sarat terhadap aspek sosial budaya yang melingkupi dimana sebuah film dimunculkan. Tak terkecuali, tentang bagaimana film turut dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang ada di sekitarnya.
Salah satu bahasan yang sering muncul dalam substansi pesan dalam film adalah mengenai perempuan. “Mother” menjadi salah satu film asal Korea Selatan yang memiliki spesifikasi luar biasa dalam kancah perfilman Korea, bahkan dunia.
Disutradari oleh Bong Joon-Ho, film “Mother” menjadi salah satu film yang muncul dengan tampilan berbeda untuk sebuah konteks film keluarga, horror, dan komedi dalam sekali tayang. Dengan durasi atau runtime 128 menit, film “Mother”
muncul sebagai film unggulan Korea Selatan yang menjadi salah satu nominasi dan bersaing dalam kategori Best Foreign Language dalam ajang The 82nd Academy Awards tahun 2009. Meski kemudian, film ini harus gagal dalam tahap seleksi akhir (Siregar, 2010).
Gambar 1. Poster film “Mother”
(sumber: IMDb, 2009 dan Tommatoes, 2009)
Film “Mother” dapat dikatakan sebagai salah satu masterpiece Bong Joon-Ho dalam perfilman Korea Selatan. Film ini memiliki kekuatan pada perpaduan audio dan visual yang cukup baik. Selain itu, kepiawaian Bong Joon-Ho dalam mengolah dan mengaduk emosi terhadap sosok ibu—Mother—seolah mampu memainkan peran nyata sekaligus gambaran tentang bagaimana seorang perempuan yang bertahan dan memperjuangkan keadilan bagi anaknya yang
mengalami keterbelakangan mental, didakwa melakukan tindakan kriminal. Lebih lanjut, Bong Joon-Ho sendiri merupakan salah satu sutradara Korea Selatan terkemuka dan memiliki banyak prestasi internasional atas karya-karya filmnya.
Genre utama dari film “Mother” adalah drama, misteri, thriller, dan kriminal.
Film ini dikategorikan ke dalam film drama dengan rating R (restricted atau terbatas). Makna dalam rating R pada film adalah bahwa film yang ditayangkan memang hanya bisa dikonsumsi secara terbatas pada beberapa orang dalam segmentasi usia tertentu, yang mana anak atau remaja usia di bawah 17 tahun harus ditemani orang tua atau wali ketika menonton film jenis ini. Asumsinya, ada beberapa adegan yang bersifat dewasa yang dipertontonkan dalam film, atau mengandung unsur kekerasan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak atau remaja di bawah usia yang ditetapkan. Layaknya film detektif, penonton akan dibawa ke dalam posisi dimana kebenaran akan terkuak di akhir cerita, dimana sebelumnya fakta dan realita yang ada tersembunyi melalui sejumlah kode-kode semiotik dalam film yang didistribusikan oleh CJ Entertainment dan Magnolia Pictures ini.
Kelebihan lain dalam film “Mother” juga merujuk pada beberapa artis yang membintanginya. Sebut saja artis senior Kim Hye-ja yang berperan sebagai sosok utama ibu; aktor Won Bin sebagai putra ibu yang memiliki keterbelakangan mental di usianya yang sudah dewasa dan didakwah melakukan tindak kriminal;
serta Jin Goo yang juga merupakan aktor berbakat di sejumlah drama Korea Selatan.
Film “Mother” sekilas bercerita tentang sebuah misteri pembunuhan seorang gadis remaja dengan background cinta kasih seorang ibu kepada putranya. Sosok ibu—Kim Hye-ja—adalah seorang orang tua tunggal yang sangat menyayangi anaknya, Do-joon (Won Bin). Do-joon pada dasarnya memiliki keterbelakangan mental dan berperilaku tidak seperti lelaki seusianya (27 tahun). Singkat cerita, Do-joon dituduh membunuh seorang gadis remaja yang ditemukan tewas di suatu pagi pada bangunan yang sudah lama tidak digunakan, dimana Do-joon terbukti telah mengikuti gadis remaja ini di malam hari sebelumnya. Dinyatakannya Do-joon menjadi tersangka pembunuhan, selanjutnya menjadikan ibunya
memperjuangkan keadilan dan memutuskan untuk melakukan penyelidikan sendiri atas kasus yang menimpa anaknya (Metacritic, 2010).
Terkait dengan uraian alur cerita pada film “Mother” di atas, dapat dikatakan bahwa sosok ibu—Kim Hye-ja—dikonstruksi sebagai sosok yang struggle dalam memperjuangkan nasib anaknya. Karena kasih sayang yang teramat sangat kepada anak semata wayangnya, Kim Hye-ja memutuskan untuk menyelidiki kasus penangkapan anaknya karena ia percaya bahwa anaknya tidak akan melakukan hal tersebut. Dalam konteks ini, sosok keperempuanan atas tokoh ibu dalam film
“Mother” dinilai memiliki relevansi dengan bagaimana citra pilar atas mitos feminitas dimunculkan dalam pesan media.
Merujuk citra pilar dalam tayangan media massa, sedikit mengingat mengenai pendapat Tomagola (dalam Santi, 2004) tentang bagaimana citra dan gambaran perempuan dimunculkan di media massa. Temuan Tomagola seolah menjadi salah satu “simpul” yang mempertemukan adanya persinggungan antara konsep realitas simbolik media dengan realitas sebenarnya. Bagaimana kemudian perempuan dimunculkan dalam citra tertentu atas beberapa hal yang melekat pada dirinya, baik sesuai dengan perspektif keyakinan masyarakat, maupun beberapa hal yang justru dianggap tabu oleh masyarakat. Persoalannya, apakah dalam hal ini media yang memengaruhi persepsi masyarakat, ataukah justru pandangan masyarakat lah yang selanjutnya memengaruhi konsep tayangan atas pesan media.
Tomagola memulai penelitian dalam sejumlah iklan yang ada di beberapa majalah. Dalam penelitiannya, ditemukan beberapa gambaran mengenai bagaimana citra perempuan tidak terlepas dari seorang sosok yang mampu mendukung kekuatan iklan. Lebih lanjut, Tomagola (dalam Santi, 2004) menyimpulkan temuannya dalam analisis lima citra perempuan pada sejumlah iklan majalah, yakni: citra pigura; citra pilar; citra peraduan; citra pinggan; dan citra pergaulan.
Berdasarkan pandangan di atas, film “Mother” dirasa memiliki beberapa penggambaran yang identik dengan konstruksi citra perempuan dalam penelitian Tomagola, terutama citra pilar yang mengarah pada sejumlah mitos feminitas bagi perempuan. Meski kemudian pesan dan saluran media yang diteliti berbeda, tetapi
dalam konsepnya, media massa pada dasarnya memiliki kuasa dan kekuatan untuk membentuk pesannya. Hal inilah yang selanjutnya menjadi realitas simbolik media dan bersifat second hand reality. Namun demikian, pesan inilah yang justru memengaruhi preferensi masyarakat dalam menentukan persepsinya. Alhasil, tak jarang media membentuk konstruksi pesan yang selanjutnya mengintervensi pandangan dari masyarakat kebanyakan.
Selain masalah penggambaran citra perempuan, film “Mother” lebih jauh mampu mempertemukan adanya sejumlah analisis sosial budaya di masyarakat.
Film pada dasarnya mampu menciptakan kritik tersendiri melalui pesan yang disampaikan. Hal inilah yang nyatanya juga menjadi titik poin tersendiri terhadap pesan yang disampaikan dalam film “Mother”. Meskipun film ini tergolong film yang sangat lama rilis produksinya, tetapi dalam konteks tertentu, film ini cukup mampu mewakili bagaimana kisah-kisah perempuan memperjuangkan apa yang menjadi haknya, memperjuangkan keadilan yang harus dia terima, sampai dengan memutuskan bertahan ataupun melakukan resistansi dengan cara melakukan perlawanan.
Bagaimana melihat serta menganalisis perempuan dalam ranah minoritas dan ketimpangan sosial, wacana kritis (critical discourse analysis) mampu menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan. Wacana kritis biasa membongkar adanya penyalahgunaan mengenai kekuasaan, dominasi, persuasi ideologi, serta ketidakadilan yang ditunjukkan secara implisit melalui teks berita (Sobur, 2001).
Analisis wacana kritis turut melihat wacana dalam kaitannya dengan pemakaian bahasa pada tuturan dan tulisan (Fairclough & Wodak, 1997 dalam Eriyanto, 2015). Wacana, lebih lanjut muncul sebagai praktik sosial yang mengaitkan antara hubungan dialektis pada diskursif tertentu dengan aspek situasi, institusi, serta struktur-struktur sosial yang melingkupinya (Eriyanto, 2015).
Praktik wacana kritis lebih lanjut dapat menampilkan kultur ideologi.
Misalnya saja, ketika wacana memunculkan praktik yang tidak seimbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, sampai pada kelompok mayoritas versus kelompok minoritas. Wacana kritis akan membahas tentang bagaimana teks bermain untuk mencitrakan bagaimana ketimpangan itu dikonstruksikan. Terkait
hal ini, sejumlah karakteristik dalam analisis wacana kritis ditinjau melalui beberapa hal, yaitu: tindakah; konteks; historis; kekuasaan; dan ideologi (van Dijk, Fairclough, dan Wodak dalam Eriyanto, 2015).
Menyelisik tentang film “Mother”, analisis wacana kritis yang dipilih adalah model Sara Mills. Analisis ini merupakan salah satu reaksi yang dimunculkan terhadap kritik linguistik tradisional yang cenderung bersifat formal. Fokus pada analisis wacana akan memusatkan pada poin utama yang berhubungan dengan struktur kalimat serta tata bahasa. Hal ini didukung pendapat (Harjudin, 2001) bahwa bahasa tidak dilihat sebagai medium yang bersifat transparan. Bahasa sebagai medium tidak mampu mengekspresikan pengalaman atau peristiwa yang benar-benar terjadi, melainkan sebagai konstruksi realitas dan sesuatu yang sifatnya subjektif.
Harjudin (2001) menambahkan bahwa adanya penguasa pada akhirnya memengaruhi sejumlah aturan wacana yang muncul secara ideologis dalam arahan pola tertentu. Konteks ini menjelaskan bajwa adanya peluang dari individu ataupun kelompok yang kuat posisinya akan cenderung melakukan penetrasi terhadap kelompok lain yang lebih lemah posisinya (Badara, 2014). Begitu pula dengan analisis wacana kritis yang dikemukakan oleh Sara Mills, Mills menitikberatkan perhatiannya pada wacana mengenai aspek feminisme maupun teks yang mengandung bias terhadap pencitraan perempuan. Mills (dalam Eriyanto, 2015) melihat bagaimana perempuan dimunculkan dalam sudut pandang yang marjinal dan tersubordinasi. Lebih jelas, wacana kritis model Sara Mills secara khusus menganalisis serta mengkaji penggambaran perempuan yang dimarjinalkan, bentuk pemarjinalan perempuan dalam teks yang ditampilkan, sampai kepada latar belakang terhadap mengapa bentuk pemarjinalan perempuan mampu dimunculkan dalam teks.
Sesuai dengan uraian di atas, pemilihan film “Mother” dengan spesifikasi alur cerita yang dirasa menyudutkan perempuan dalam posisi marjinal, mencitrakan aspek feminitas yang seolah didobrak sebagai bentuk resistansi dan pertahanan tokoh ibu dalam film, sampai pada bagaimana kuasa media seolah mendominasi konstruksi citra perempuan sebagai seorang ibu, maka dalam penelitian ini,
peneliti berupaya untuk menganalisis bagaimana dekonstruksi makna feminin dan resistansi dimunculkan dalam citra perempuan pada tayangan film “Mother”.
Lebih jauh, analisis akan diarahkan pada wacana kritis Sara Mills guna membuka perspektif mengenai bagaimana teks mampu membentuk realitas simbolik tentang perempuan, sekaligus menampilkan sejumlah kritik sosial budaya atas perspektif yang telah berkembang di masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana dekonstruksi makna feminin dan resistansi perempuan dalam tayangan film “Mother” ditinjau melalui analisis wacana kritis Sara Mills?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dekonstruksi makna feminin dan resistansi perempuan dalam tayangan film “Mother” ditinjau melalui analisis wacana Sara Mills.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat akademis dan metodologis
a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara akademis dalam pengembangan kajian ilmu komunikasi, terutama mengenai peran media melalui film dalam memengaruhi pembentukan dan pemaknaan nilai makna; studi mengenai gender dan media; tinjauan kritis mengenai kuasa media dalam mengkonstruksi realitas terhadap perempuan.
b. Secara metodologis, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk rujukan ke depan, serta pengembangan penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi dasar praktis bagi sejumlah perempuan—dan audiens perempuan—untuk lebih kritis dalam memaknai tayangan media dalam menampilkan perempuan serta pemaknaan perempuan dalam konteks sosial budaya di masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Sejumlah penelitian terdahulu berhasil dirangkum untuk menjadi dasar pemikiran serta replikasi atas arah analisis dari penelitian. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang diperoleh merujuk pada konteks film sebagai bagian dari media massa mampu memunculkan wacana serta representasi atas konstruksi perempuan, baik dalam kaitannya dengan aspek feminitas, maupun bagaimana media membentuk penggambaran mengenai perempuan secara keseluruhan.
Secara garis besar, pemetaan telah dilakukan sebelumnya untuk mengidentifikasikan sejumlah tinjauan pustaka atas penelitian terdahulu, terutama mengenai film-film yang sejenis serta menggambarkan substansi pesan bagaimana tampilan perempuan dalam bentuk perlawanan, resistansi, ataupun di sela-sela ketimpangan yang ada. Film “Mother” merujuk pada adanya penggambaran atas sosok perempuan pada akhirnya tidak hanya perkara citra atas perempuan itu sendiri, melainkan ada muatan yang kemudian melingkupi bagaimana perempuan dicitrakan dalam film, bagaimana latar belakang sosial budaya mampu mendasari perempuan dalam kemasan sosok tokoh yang difilmkan, sampai pada bagaimana sebenarnya pemaknaan masyarakat sebagai audiens film yang menerima pesan.
Film “Mother”, meski film ini tergolong film lama karena muncul pada tahun 2009, tetapi berdasarkan pemetaan yang dilakukan, dinyatakan masih minim terkait dengan ada rujukan atas penelitian sebelumnya yang menggunakan film ini.
Namun demikian, peneliti menemukan sejumlah penelitian terdahulu yang sejenis dan membahas mengenai bagaimana aspek feminitas serta keperempuanan menjadi substansi utama dalam pesan film.
Biasini (2018) membahas bagaimana feminitas mengalami pergeseran dalam representasi yang dimunculkan pada film animasi “Disney Princess”. Dalam tulisannya, Biasini menjelaskan adanya pergeseran makna feminitas dalam sejumlah karakter dalam film animasi “Disney Princess”, dengan dianalisis menggunakan analisis wacana kritis dari Sara Mills.
Masih mengenai representasi, penelitian selanjutnya merujuk pada bagaimana media massa mampu mewakilkan penggambaran perempuan dalam beberapa tayangan film, yakni dari Eviyono Adi Wibowo (2015) pada film “Wanita Tetap Wanita” serta Ganjar Wibowo (2019) pada film “Siti”. Lebih lanjut, sejumlah penelitian dalam ranah kritis merujuk pada tulisan Novi Kurnia (2017) mengenai resepsi ataupun penerimaan khalayak dalam memaknai gender dan aspek disabilitas fisik pada film Indonesia, serta Danadharta (2019) terkait dengan penggambaran feminis marxis dalam film Suffragette.
Salah satu penelitian yang membahas tentang feminisme dan perlawanan perempuan juga dimunculkan dalam film lain sejenis yang muncul di Indonesia.
Dalam film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”, misalnya, sejumlah penelitian telah ditulis oleh Irma Febryani (2019) dan Asrita (2019). Kedua penelitian ini merujuk secara khusus bagaimana gambaran mengenai feminisme muncul dalam tayangan film. Selanjutnya, diperoleh pula penelitian terdahulu yang merujuk pada representasi kekerasan fisik dan simbolik serta penerimaan khalayak terhadap perempuan, khususnya dalam film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”. Penelitian tersebut ditulis oleh Ratu Bulkis Ramli (2018).
Lebih lanjut, Niken Prahastiwi (2019) turut membahas tentang bagaimana perlawanan atas kekerasan fisik dan simbolik yang diterima oleh sosok Marlina dalam filmnya. Berbeda dengan Ramli dan Prahastiwi, S. B. Lestari (2019) meneliti tentang bagaimana pemaknaan (resepsi) khalayak terhadap pesan yang ditayangkan dalam tayangan film, sampai pada konteks gaya bahasa yang digunakan dalam dialog.
Berbicara mengenai aspek resistansi perempuan, adanya bentuk ataupun model pertahanan yang dilakukan oleh perempuan pada dasarnya dapat dilihat melalui sejumlah teks media yang beragam. Pertama, riset dari Wildan (2014) membahas tentang model pertahanan atau resistansi perempuan dalam novel Perempuan Berkalung Sorban; wacana resistansi perempuan dan kehidupan rumah tangga dalam cerpen Intan Paramaditha oleh Ery Agus Kurnianto (2016) pertahanan perempuan Papua dan lingkungannya pada roman Isinga oleh Puji
Retno Hardiningtyas (2016); serta wacana kekerasan dan resistansi perempuan dalam sejumlah film karya sutradara perempuan (Dayanti, 2011).
Meninjau salah satu teks media massa yang dapat disampaikan melalui film, film Mother sebagai subjek dalam penelitian ini memberikan gambaran secara sekilas tentang bagaimana perempuan dan sosok ibu konstruksi Korea Selatan digambarkan. Melalui lingkungan yang sarat akan pemahaman mengenai konfusionisme, apakah kemudian sosok ibu dalam “Mother” benar-benar mampu mewakili peran dan fungsi perempuan bagi Korea Selatan, atau justru menampilkan bentuk konstruksi atas konsep perempuan (ibu) Korea Selatan yang berbeda. Terkait hal ini, sejumlah riset terdahulu tentang bagaimana konstruksi dan gambaran perempuan Korea Selatan, beserta beberapa kecenderungan mengenai perlakuan terhadap perempuan di Korea Selatan, secara sekilas dapat dilihat melalui penelitian Hye-Run Kang & Chris Rowley (2005) mengenai perempuan Korea Selatan dan sistem manajemen pembagian kerja; Yonjoo Cho et al. (2021) tentang perempuan karier dan tantangannya di Korea Selatan; Louise Patterson & Brandon Walcutt (2013) tentang deskriminasi gender yang terjadi dalam lingkungan kerja di Korea Selatan pada kisaran tahun 1990-2010; Fang Lee Cooke (2010) tentang partisipasi perempuan dalam bidang kerja di Korea Selatan, Cina, India, dan Jepang; Kyoungtae Nam et al. (2011) mengenai gambaran stereotif gender yang dimunculkan pada Majalah Gadis Remaja Korea.
B. Landasan Teori 1. Komunikasi massa
Komunikasi dapat berarti proses penyampaian ataupun pemberian pesan, ide, dan gagasan yang merujuk pada informasi dari pihak sumber kepada pihak penerima, disampaikan melalui sebuah media dan/atau saluran tertentu, guna memperoleh efek tertentu pula. Dalam hal ini, komunikasi dimaknai secara sederhana sebagai proses penyampaian pesan yang mana di dalamnya memuat adnaya sumber (komunikator); pesan; penerima (komunikan); media (saluran);
serta efek. Selanjutnya konsep massa, dimaknai sebagai sekumpulan orang, baik
itu bersifat sebagai kelompok, agregat, ataupun dalam konteks lebih luas lagi, yakni publik.
Melalui pemahaman di atas, komunikasi massa dianalisis oleh Rivers (2003) sebagai komunikasi yang dijalankan oleh media dan ditujukan untuk massa.
Komunikasi massa juga merujuk pada pesan dalam komunikasi yang dijalankan media massa dan ditujukan bagi sebagian besar orang atau khalayak (Bitter dalam Rivers, 2003)
Adapun komunikasi massa diarahkan pada proses dimana seluruh sumber pesan (komunikator) menggunkaan media sebagai alat untuk menyampaikan informasi yang bersifat luas, dalam wkatu yang kontinyu guna membentuk pemaknaan yang disesuaikan dengan keinginan media sehingga efeknya dapat memengaruhi khalayak dalam lingkup yang besar dan masif (Defleur dan Dennis dalam Rivers, 2003). Sekilas, konsep komunikasi massa ini dapat dikatakan sangat ditentukan oleh kekuatan sumber pesan informasi yang digunakan. Lebih lanjut, adanya unsur dalam komunikasi massa turut secara dominan dapat terlihat pada beberapa batasan ataupun aspek komponen, yaitu: pesan, khalayak, dan sumber informasi yang merujuk pada media itu sendiri—dalam hal ini media massa, baik itu media cetak, media elektronik, maupun film.
Komunikasi massa identik dengan penyampaian pesan yang bersifat masif.
Rivers (2003) menyampaikan beberapa ciri khas dari komunikasi massa yang mampu membedakannya dengan komunikasi dalam level yang lain, yakni:
komunikasi bersifat searah; dilakukan melalui proses seleksi dalam media dengan kriteria bahwa khalayak ditentukan dan disegmentasi sebelumnya oleh media;
bersifat masif dan mampu menjangkau khalayak secara luas; anonim, dimana khalayak tidak akan saling mengenal; secara khusus memiliki tujuan tertentu sesuai dengan arahan media; bersifat terstruktur atas bentuk lembaga media yang bersifat formal serta profesional sehingga media memiliki tujuan tertentu dan berpengaruh terhadap masyarakat sebagai publik khalayaknya.
Komunikasi massa adalah proses dimana sebuah organisasi media membentuk dan mengkonstruksi pesan bagi publik sebagai sasarannya.
Komunikator dalam komunikasi massa akan cenderung terstruktur sebagai
lembaga media, informasi yang disampaikan bersifat serentak, dan ditujukan bagi khalayak luas yang bersifat heterogen, masif, serta anonim. Dalam konteks ini, media massa sebagai lembaga memiliki hak untuk menentukan pesan apa yang akan disampaikan, terutama melalui proses seleksi dan pemilihan dari pihak redaksi di dalam media.
Komunikasi dalam level massa memiliki beberapa fungsi dan tujuan. Fungsi dan tujuan ini, antara lain adalah: fungsi informasi; fungsi hiburan; fungsi persuasi;
fungsi transmisi budaya (Jay Black dan Frederick C. Whitney dalam Nurudin, 2003). Selain itu fungsi di atas, komunikasi massa juga dinyatakan berfungsi untuk pengawasan, interpretasi, membangun hubungan ataupun relasi, sosialisasi (Joseph Dominick dalam Nurudin, 2003)
Melalui pemahaman di atas, dapat dianalisis bahwa komunikasi massa pada dasarnya bersifat teratur. Media sebagai organisasi dan lembaga akan secara kontinyu menyampaikan pesan, begitu pula dengan khalayak dan publik sebagai audiens akan menerima pesan secara kontinyu juga. Sifat dari pesan komunikasi massa akan cenderung memiliki pengaruh layaknya yang diinginkan oleh orang-orang di balik media. Lebih lanjut, komunikasi massa tidak memungkinkan adnaya relasi yang dimainkan secara lebih intim. Komunikasi tidak berjalan secara pribadi sehingga antara pihak media dan khalayak hanya terhubung melalui saluran ataupun media yang digunakan untuk berkomunikasi saja. Dengan demikian, efek yang dimunculkan dalam komunikasi massa akan cenderung tertunda (delayed) dan tidak dapat diketahui secara langsung layaknya pada komunikasi interpersonal.
2. Film
Film adalah salah satu bentuk media massa yang identik dengan aspek visualisasi citra serta sinematografi yang dikemas sedemikian rupa. Sedikit berbeda dengan produk media massa lainnya, film mampu menjadi sejenis platform khusus dalam media massa yang dapat menyalurkan pesan informasi, baik yang bersifat fiksi maupun nonfiksi. Namun demikian, secara fungsional,
film tergolong media massa yang dalam cara kerjanya muncul berdasarkan hasil konstruksi dari orang-orang yang hidup dan bekerja di balik layar.
Secara etimologi, film adalah gambar hidup. Film adalah bayangan yang secara khusus diangkat dari kenyataan hidup ataupun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Film, dalam cara kerjanya merujuk pada adanya kecenderungan untuk memadukan hubungan serta relevansi antara realitas kehidupan dengan kemasan tayangan dalam media massa (Prakoso, 1997).
Definisi film merujuk pada Undang-undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009, bahwa film adalah sebuah karya seni budaya yang menjadi representasi atas pranata sosial. Film merupakan salah satu media dalam komunikasi massa yang dibentuk berdasarkan kaidah sinematografi, baik dengan suara, ataupun tanpa suara ketika dipertontonkan (Vera, 2014). Dalam keberadaannya, film terkesan lebih fleksibel dibandingkan produk tayangan pada media massa lainnya. Hal ini dikarenakan film tidak terbatas pada ruang dan lingkupnya. Film lebih menekankan pada unsur cita rasa yang tervisualisasikan sehingga menciptakan alur cerita yang berkesinambungan dan dapat dipahami secara lebih efektif bagi para audiensnya.
Pratista (2008) menyebutkan jenis-jenis film ke dalam sejumlah klasifikasi, yaitu: film dokumenter; film fiksi; dan film eksperimental. Film dokumenter adalah film yang identik dengan penyajian fakta melalui data. Film ini memiliki ciri khas dimana tokoh, peristiwa, serta sejumlah latar yang ada di dalamnya merujuk pada hal yang nyata. Film dokumenter akan cenderung bekerja dengan sejumlah metode, antara lain perekaman langsung pada peristiwa yang benar atau senar terjadi, ataupun merekonstruksi ulang peristiwa yang terjadi berdasarkan fakta dan data yang telah dihimpun. Penyusunan film dokumenter tidak serta merta hanya mengandalkan sinematografi saja, melainkan lebih kepada susunan sederhana tetapi mampu memudahkan para penonton untuk memahami fakta atas pesan informasi yang disampaikan. Tak jarang, film dokumenter turut mengandung persuasi atas argumentasi fakta yang ditayangkan.
Selanjutnya adalah film fiksi. Film ini merupakan jenis film yang banyak ditemukan dalam layar perfilman Indonesia. Film fiksi pada dasarnya berbeda
dengan film jenis dokumenter, dimana film ini lebih merujuk pada rekaan adegan di luar keadaan nyata, dengan struktur cerita yang cenderung mengarah pada kausal sebab akibat. Tak jarang alur cerita dalam film fiksi akan membahas tentang si kaya dan si miskin, ataupun tokoh protagonis dan antagonis. Alur dalam film fiksi memiliki tahapan, dimana di dalamnya terdapat konflik, klimaks, pengembangan cerita, serta resolusi. Lebih lanjut, aspek sinematografi dalam film fiksi dinilai sangat menentukan baik tidaknya kemasan film sehingga pembuatan film fiksi akan cenderung lebih menghabiskan banyak biaya dan waktu yang lama, tetapi lebih bervariasi dalam pengemasannya (Ardianto & Komala, 2007).
Jenis film terakhir adalah film eksperimental. Film ini merupakan film yang tidak memiliki alur atau plot cerita, tetapi tetap memiliki struktur. Struktur dalam penayangan film ini sangat dipengaruhi oleh adanya insting subjektif dari sineas serta orang-orang yang ada di balik cerita film. Adanya gagasan, ide, maupun pemikiran turut muncul melatarbelakangi cerita dalam film eksperimental.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa film eksperimental cenderung tidak sesuai dengan aturan perfilman pada umumnya karena menunjukkan secara dominan bagaimana ideologi dan pemikiran sineas pembuatnya muncul dalam film (Ardianto & Komala, 2007).
Selanjutnya, terdapat klasifikasi film berdasarkan genre ataupun jenis cerita yang ditampilkan dalam film menurut Pratista (2008). Beberapa klasifikasi film berdasarkan genrenya dapat dikategorikan menjadi: film drama; film action; film komedi; film horror; film fiksi; film fantasi; film ilmiah; film kriminal; dan film petualangan.
3. Konsep Feminisme dan Resistansi Perempuan
Pandangan mengenai feminisme salah satunya merujuk pada adanya ketertarikan dalam meneliti serta mengkritisi pelabelan gender yang mencitrakan wanita melalui media. bagaimana media merepresentasikan perempuan dan konsep gender yang melingkupinya dipandang oleh Hermes (McQuail dikutip dalam Biasini, 2018) tidak terlepas dari aspek feminitas serta maskulinitas.
Adanya konstruksi mengenai feminitas dan maskulinitas secara tidak langsung
dinyatakan sebagai bagian dari ideologi dominan yang biasa diyakini di dalam masyarakat. Alhasil, media dalam hal ini masih mencitrakan gambaran layaknya pandangan dominan yang ada di masyarakat tersebut.
Pandangan dalam Teori Media dan Film Feminis turut diperkenalkan oleh Thornham (dalam Jackson & Jones, 2009; Biasini, 2018) sebagai bentuk keprihatinan dalam memaknai penggambaran media mengenai citra yang “keliru”.
Dalam konteks ini, kritik feminis ala McQuail (dikutip dalam Biasini, 2018) menyatakan bahwa persoalan pandangan feminis pada akhirnya memunculkan dua isu penting. Pertama, bagaimana teks media mampu menggambarkan perempuan—dalam opera sabun ataupun roman—untuk persoalan hiburan, dimana memberikan perasaan terbebas bagi perempuan meskipun teks yang diwacanakan media justru mewujudkan realitas masyarakat yang patriarkal serta adanya lembaga keluarga. Kedua, bagaimana teks dalam media mampu menolak adanya stereotif gender dan mencoba untuk menunjukkan adanya model peran positif guna mengarahkan pemberdayaan bagi perempuan.
Terdapat tiga gelombang feminisme dan feminitas yang biasa digunakan dalam pandangan kritis feminis. Sanders (dikutip dalam Biasini, 2018) menyatakan feminisme muncul dan diawali dengan tulisan karya Wollstonescraft tidak mempertimbangkan hilangnya peran perempuan dalam ranah domestik.
Pandangan feminis ini lebih merujuk padanya kepentingan untuk memperjuangkan hak pilih perempuan.
Selanjutnya, terdapat pandangan feminis gelombang kedua yang mengimplisitkan fokus ganda pada gerakan perempuan. Pandangan feminis gelombang kedua ini memosisikan gerakan perempuan sebagai kelompok sosial yang tertindas, sekaligus menyatakan bahwa perempuan didominasi oleh laki-laki atas tubuhnya dan turut menjadi sasaran mendasar penindasan atas otonomi seksual yang ada (Thornham dalam Biasini, 2018).
Terkait dengan sejumlah pandangan tentang feminisme, dalam kajiannya, feminis berkenaan pula dengan bagaimana perempuan bertahan terhadap sejumlah ketimpangan. Dalam hal ini, perempuan bertahan dengan melakukan resistansi, bertahan dengan melawan, serta berupaya untuk mempertahankan posisinya dari
sejumlah ketimpangan. Pemahaman ini berkaitan pula dengan permasalahan patriarki dan persoalan gender. Bhasin (dalam Kurnianto, 2016) menjelaskan bahwa kehidupan sosial dan gender berkaitan dengan konsep patriarkat. Hal ini merujuk pada sistem sosial, dimana kendali keluarga berada di bawah kepemilikan kepala keluarga—ayah. Model patriarki ini memunculkan wacana terhadap ketidaksetaraan relasi gender, sosial, ekonomi, dan politik.
Pandangan tentang feminisme, dalam perkembangannya turut diwarnai dengan adanya sejumlah protes terhadap beberapa kontes kecantikan serta pendirian berbagai organisasi wanita (Hollow dalam Biasini, 2018). Krolokke dan Sorensen (dalam Biasini, 2018) menyatakan bahwa pemikiran feminisme gelombang kedua diklaim sebagai bagian dari sebuah sisterhood dan solidaritas terhadap perempuan. Sedangkan dalam feminisme gelombang ketiga lebih membahas mengenai bagaimana efek dari globalisasi dan redistribusi kekuasaan berbicara dalam kehidupan perempuan. Adanya globalisasi dan perkembangan industri nyatanya turut memengaruhi bagaimana kuasa terhadap perempuan berubah menjadi lebih kompleks (Krolekke & Sorensen dalam Biasini, 2018). Hal ini mengakibatkan diversifikasi kepentingan serta perspektif terhadap perempuan menjadi fokus permasalahan, terutama tentang bagaimana pembebasan atas penindasan perempuan menjadi hal yang harus diperjuangkan.
Selanjutnya adalah mengenai resistansi, yang mana konsep resistansi memberikan posisi pada sikap untuk bertahan, upaya untuk melawan, menentang, dan memberikan oposisi terhadap keberadaan kuasa. Foucault (dikutip dalam Dosi, 2012; Adnani et al., 2016) menjelaskan bahwa kekuasaan kerap mendapatkan bentuk perlawanan dalam konteks relasi sosial. Hal ini merujuk pada pandangan Barker (2000) yang menyatakan bahwa perlawanan yang dilakukan sebagai resistansi merupakan bentuk kekuatan yang bertemu dengan kekuatan lainnya (adanya kekuatan perlawanan terhadap bentuk kekuatan lainnya). Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa resistansi dalam tataran ini adalah kekuatan sikap bertahan yang bertujuan untuk memberikan perlawanan dan penentangan terhadap kekuatan lain pada kelas sosial yang sedang berkuasa di lingkungan masyarakat.
Munculnya bentuk resistansi biasa terjadi dalam tataran kondisi masyarakat yang identik dengan hegemoni. Hegemoni dalam hal ini dapat merujuk pada bentuk kekuasaan atas struktur, sistem sosial, dan bidang-bidang lainnya. Dalam konteks hegemoni, Fairclough (dikutip dalam Jorgensen, 2007) meyakini bahwa ideologi adalah makna yang melayani bentuk kekuasaan. Lebih lanjut, bentuk hegemoni dalam muncul tidak hanya bicara mengenai dominasi, melainkan juga pada proses negosiasi yang melahirkan konsensus terhadap suatu pemaknaan.
Adanya unsur-unsur yang saling bersaing akan menimbulkan adanya perlawanan sehingga aspek hegemoni yang bekerja menjadi tidak stabil dan mengalami dinamika. Alhasil, konsep hegemoni yang ada pada akhirnya diyakini oleh Fairclough untuk melihat proses pemaknaan atas wacana yang muncul dalam praktik-praktik sosial di masyarakat yang saling melawan dan melakukan pertahanan (Jorgensen, 2007).
Praktik resistansi yang muncul atas dasar kekuasaan biasa terjadi lingkup ideologi patriarki dan seksualisme. Selain itu, pembacaan resistansi secara implementatif mengarah pada aspek feminisme, salah satunya bentuk ekofeminisme yang memberikan celah bagi perempuan untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan eksploitatif atas suatu wilayah. Pada beberapa kasus, Walby (2014) menemukan adanya bentuk patriarkat privat dan eksploitasi perempuan dalam rumah tangga yang dipertahankan melalui keterlibatan mereka di lingkup ruang publik. Aspek patriarkat privat ini pada dasarnya bersumber pada kehidupan rumah tangga, yang mana rumah tangga adalah kekuasaan utama laki-laki atas perempuan dan beredar di wilayah privat rumah tangga (keluarga).
Hal ini berbeda dengan sistem patriarkat publik yang cenderung menonjolkan bentuk eksploitasi perempuan pada setiap lini, meski kemudian tidak berarti bahwa perempuan sepenuhnya disingkirkan. Akibatnya, muncul adanya hukum-hukum sosial yang dikonstruksi masyarakat dan harus diyakini serta diterapkan oleh perempuan dalam kehidupannya (Hardiningtyas, 2016).
4. Analisis Wacana Kritis Sara Mills
Analisis wacana kritis adalah salah satu metode alternatif yang berfungsi untuk membuka teks media secara lebih berbeda. Dalam konteks ini, analisis terhadap isi media biasa dilakukan dalam paradigma positivis dan konstruktivis sehingga melalui analisis wacana kritis, isi media tidak hanya dipahami dalam ranah teks saja, melainkan lebih dari itu, analisis akan diarahkan pada latar belakang mengapa pesan dihadirkan dalam teks-teks yang diteliti.
Mills (1994) (dikutip dalam Eriyanto, 2015) menjelaskan bahwa analisis wacana adalah reaksi yang dimunculkan terhadap bentuk linguistik tradisional yang bersifat formal. Dalam hal ini, fokus kajian dalam linguistik tradisional adalah mengenai pemilihan struktur kalimat, tetapi tidak menitikberatkan pada analisis bahasa dalam penggunaannya. Sedangkan dalam analisis wacana, poin utama akan berkenaan dengan struktur kalimat dan tata bahasa. Hal inilah yang selanjutnya menjadikan Sara Mills untuk memprioritaskan wacananya pada konsep feminisme. Analisis wacana kritis Sara Mills memusatkan perhatiannya pada wacana tentang feminisme. Wacana kritis Sara Mills mencitrakan tentang bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, baik melalui novel, gambar, foto, maupun dalam berita, sekaligus melihat bagaimana representasi teks menjadi bias dalam menampilkan perempuan. Hal ini menjadikan wacana kritis pandangan Sara Mills merujuk pada analisis wacana kritis berprespektif feminis.
Sara Mills (dalam Eriyanto, 2015) turut melihat bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks pada posisi yang marjinal. Pihaknya memandang perempuan digambarkan dalam ketidakadilan sehingga memunculkan sejumlah ketimpangan atas perlakuan buruk kepada perempuan, misalnya perkosaan, penindasan, pelecehan, dan sebagainya. Lebih lanjut, titik perhatian dalam analisis ini secara khusus adalah melihat penggambaran perempuan yang dimarjinalkan, bentuk pemarjinalan perempuan dalam teks yang ditampilkan, sampai kepada latar belakang terhadap mengapa bentuk pemarjinalan perempuan mampu dimunculkan dalam teks.
Terdapat dua konsep utama dalam analisis wacana kritis Sara Mills. Konsep utama pembagian dalam analisis Sara Mills merujuk pada posisi subjek-objek dan
posisi pembaca. Dalam posisi subjek dan objek, wacana kritis ala Sara Mills menempatkan adanya representasi sebagai bagian penting dalam analisisnya. Teks pada dasarnya mampu menampilkan satu pihak, kelompok, orang, ataupun gagasan atas peristiwa tertentu, lengkap dengan cara tertentu dalam wacana yang dimunculkan. Namun demikian, pemikiran Sara Mills nyatanya berbeda dengan analisis dalam tradisi critical linguistics, yang lebih menitikberatkan pada struktur kata dan kalimat. Dalam konteks ini, wacana dalam pandangan Sara Mills lebih memusatkan perhatiannya pada posisi sejumlah aktor sosial yang ada dalam teks, penempatan gagasan, serta bagaimana sebuah fakta peristiwa dikonstruksi melalui teks (Eriyanto, 2015).
Lebih lanjut, wacana media bukan merupakan sarana yang netral. Media melalui wacananya akan menampilkan dan membentuk aktor tertentu sebagai pelaku yang menjelaskan peristiwa ataupun sudut pandang kelompok tertentu. Hal inilah yang mampu membangun sejumlah unsur dalam teks. Selain itu, pihak yang mendominasi akan bertugas untuk mendefinisikan realitas kepada khalayak serta menampilkan realitas tersebut di atas pihak lainnya yang lebih subordinat. Posisi subjek dan objek dalam tampilan pesan media akan menjadi perwujudan yang mengandung ideologi tertentu. Dalam hal ini, masing-masing posisi akan ditampilkan secara general dalam menjelaskan ideologi yang dibawa serta memengaruhi kepercayaan dominan yang bekerja dalam teks (Eriyanto, 2015).
Posisi kedua adalah posisi pembaca. Teks pada awalnya hanya dianggap mampu memunculkan sudut pandang dari penulis atau orang-orang di balik teks, tetapi tidak memiliki keterkaitan dengan pembaca. Namun demikian, wacana kritis dalam pandangan Sara Mills justru menyatakan berbeda. Teks dinyatakan sebagai negosiasi antara penulis dan pembaca (Mills dalam Eriyanto, 2015).
Pembaca dinyatakan bukan merupakan pihak yang pasif. Pembaca mampu memberikan konstribusi dalam proses transaksi pesan, sebagaimana hal ini mampu terepresentasikan melalui tampilan dalam pesan teks.
Terkait penggunaannya, wacana kritis model Sara Mills memiliki dua kecenderungan (Eriyanto, 2015). Pertama, teks secara komprehensif akan mampu disampaikan dengan melihat posisinya bersama dengan penulis dan pembaca.
Dalam konteks ini, pesan yang dimunculkan akan berelasi dengan penulis dan pembaca secara keseluruhan, satu kesatuan (produksi dan resepsi). Kedua, pembaca memiliki posiis yang penting dalam pemaknaan teks. Hal ini disebabkan karena teks pada dasarnya ditujukan, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pembaca. Teks dimaksudkan untuk dapat “berkomunikasi” dengan khalayak sekaligus memiliki ragam sapaan dengan khalayak.
Kerangka analisis dalam wacana kritis model Sara Mills (dalam Eriyanto, 2015) adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Kerangka analisis wacana kritis Sara Mills
Tingkat Yang ingin dilihat
Posisi Subjek-Objek a. Bagaimana peristiwa dilihat dan melalui sudut pandang siapa peristiwa dilihat?
b. Siapa yang diposisikan sebagai subjek pencerita dan siapa yang diposisikan sebagai objek yang diceritakan?
c. Apakah masing-masing aktor dan kelompok sosial memiliki kesempatan untuk menampilkan diri dan gagasannya, ataukah justru kehadiran dan gagasannya ditampilkan oleh kelompok lain?
Posisi Pembaca a. Bagaimana posisi pembaca ditampilkan penulis dalam teks?
b. Bagaimana pembaca memosisikan dirinya dalam teks yang ditampilkan?
c. Kepada kelompok mana pembaca
mengidentifikasikan dirinya?
5. Posisi Perempuan di Korea Selatan
Dewasa ini nasib perempuan di Korea Selatan telah mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Saat ini peran perempuan di Korea Selatan mulai dipertimbangkan dalam kehidupan masyarakat baik pada sektor sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, maupun politik.
Berdasarkan laporan survei ekonomi yang dilakukan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2018 lebih dari setengah jumlah perempuan dewasa di Korea Selatan (56,1%) saat ini bekerja.
Anak-anak dan remaja perempuan juga banyak yang bersekolah bahkan
menempuh pendidikan tinggi sebagaimana laki-laki di Korea selatan. Demikian juga dalam politik, mereka mulai terlibat aktif sebagai politisi. Pada pemilihan parlemen tahun 2020 sebanyak 57 kursi berhasil diduduki oleh perempuan.
Jumlah ini jauh lebih banyak, hampir tiga kali lipat, dibandingkan pemilihan pada periode sebelumnya yang hanya mendapatkan 20 kursi dari 299 kursi yang tersedia di Majelis Nasional Korea Selatan (“No Title,” n.d.
https://www.oecd-ilibrary.org).
Penelitian yang dilakukan oleh Louise Pattersona and Brandon Walcut menggambarkan kondisi yang sama bahwa kesetaraan gender di Korea Selatan sedang dimulai. Pattersona and Walcut meneliti diskriminasi gender yang terjadi di tempat kerja dengan judul “Korean Workplace Gender Discrimination Research Analysis: a Review of the Literature from 1990 to 2010.” Sebanyak 52 artikel yang membahas diskriminasi gender ditempat kerja di Korea Selatan berhasil didokumentasikan dan dianalisa. Dari penelitian ini didapati kesimpulan bahwa meskipun diskriminasi gender di Korea Selatan masih cukup kuat namun data menunjukkan semangat kesetaraan gender sedang dimulai di Korea Selatan.
Para perempuan di Korea Selatan banyak yang bersekolah dan bekerja. Selain itu sejumlah aturan hukum di Korea Selatan juga mulai mempertimbangkan dan mengusung semangat kesetaraan gender. (Patterson & Walcutt, 2013).
Namun demikian kondisi ini sepertinya belum cukup bagus bagi kesetaraan gender di Korea Selatan. Data yang diunggah oleh Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Republik Korea memperlihatkan bahwa dari semua perempuan dewasa yang bekerja ternyata sebanyak 45% mereka bekerja paruh waktu. Sementara total pekerja paruh waktu di Korea Selatan baik laki-laki maupun perempuan mencapai 36,3% dari total jumlah pekerja di negara itu.
Angka ini menunjukkan bahwa meskipun para perempuan di Korea Selatan mulai diijinkan bekerja namun ternyata mereka masih belum diijinkan memperoleh kesempatan yang sama dengan laki-laki. Para perempuan masih diposisikan sebagai pelengkap dari laki-laki (“No Title,” n.d. http://www.mogef.go.kr).
Portal online Tirto.id pada 17 November 2019 mencatat sejumlah ketimpangan yang dialami pekerja perempuan di Korea Selatan. Tirto
menyebutkan bahwa Korea Selatan merupakan negara dengan kesenjangan gaji tertinggi antara pekerja laki-laki dan perempuan yaitu mencapai angka 35%.
Hanya 2% korporasi di Korea Selatan yang mengangkat perempuan sebagai pemimpin di tempat kerja mereka. Para pekerja perempuan di Korea Selatan juga dibayang-bayangi ketakutan akibat tekanan sosial agar berhenti dari pekerjaannya ketika mereka hamil dan melahirkan. Kodrat perempuan ini dianggap merepotkan dan menghalangi produktivitas dalam bekerja sehingga rekrutmen karyawan akan selalu mengutamakan laki-laki (Dayana, 2019).
Meskipun beberapa perusahaan di Korea Selatan menerima pekerja perempuan sebagai karyawan mereka namun itu bukanlah kabar baik. Alih-alih terjadi kesetaraan gender, ternyata para perempuan dijadikan sebagai karyawan karena mereka dibayar dengan standar gaji yang lebih rendah dari pekerja laki-laki. Dengan cara ini perusahaan bisa menghemat pengeluaran mereka sehingga selisih keuntungan yang diperoleh perusahaan tentu menjadi lebih besar.
Para pekerja perempuan biasanya juga bersikap tidak terlalu kritis terhadap perusahaan. Selain itu merekrut pekerja perempuan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan di Korea Selatan karena dianggap sebagai perusahaan yang sudah maju.
Fang Lee Cooke (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Women's Participation in Employment in Asia: A Comparative Analysis of China, India, Japan and South Korea” berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan bias gender dalam dunia kerja yang terjadi di empat negara, salah satunya Korea Selatan. Faktor-faktor yang dimaksud yaitu tingkat pendidikan, nilai dan tradisi sosial yang berkembang di masyarakat, sistem dan kebijakan rekrutmen, peraturan dan kebijakan pemerintah tentang buruh, organisasi dan tingkat keterwakilan perempuan.
Tampaknya budaya patriarki dan kolektivisme masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat Korea Selatan. Laki-laki dipandang pada posisi utama sedangkan perempuan dipandang sebagai pelengkap. Konisi ini terjadi dalam kehidupan keluarga, tempat kerja sampai politik. Seorang ayah dalam keluarga besar bertanggung jawab atas keluarga mereka. Seluruh anggota keluarga harus
hormat dan patuh pada ayah. Selain ayah, orang yang lebih tua dalam suatu keluarga juga harus dihormati dan diutamakan. Sebagai contoh, saat makan malam, maka orang tertua dipersilakan duduk terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Semua anggota keluarga tidak boleh mengambil makanan dan minuman sebelum orang tertua dan ayah mereka mengambil dahulu. Tradisi ini masih dijaga oleh masyarakat Korea Selatan. Orang-orang yang lebih muda harus membungkukkan badan ketika bertemu dengan orang yang lebih tua untuk menyapa dan sebagai bentuk penghormatan kepada senior.
Sebagaimana semua masyarakat pertanian, kehidupan Korea Selatan menjadikan keluarga sebagai pusat sosial. Keluarga besar memiliki peran yang sangat dominan dalam kehidupan masyarakat mereka. Peran keluarga besar yang dominan ini tampak salah satunya dari masih terjaganya nama klan. Sebut saja nama seperti Kim, Kang, Park, dan Lee adalah nama-nama klan yang cukup terkenal di Korea Selatan. Dalam masyarakat tradisional di Korea Selatan para perempuan diharapkan tidak bekerja melainkan tetap tinggal di rumah untuk mengurusi rumah, menyiapkan makanan, membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Kalaupun bekerja sebaiknya tidak pada sektor publik seperti menjadi petani.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut:
INPUT PROSES OUTPUT
Gambar 2. Bagan kerangka berpikir penelitian Tayangan Film
“Mother” Analisis Wacana
Kritis Sara Mills
Dekonstruksi Nilai Feminis dan Resistansi
Perempuan
Posisi Subjek dan
Objek Posisi Pembaca
Kerangka berpikir dalam penelitian ini dimulai dengan input atau masukan yang mengarah pada tayangan film yang berjudul “Mother”. Film ini secara kontennya memiliki relevansi tentang bagaimana media menampilkan nilai serta makna feminis bagi seorang perempuan. Mother merupakan film yang menampilkan perlawanan atas resistansi perempuan dalam sosok seorang ibu yang memperjuangkan keadilan untuk anaknya. Film ini sarat dengan ketidakadilan yang bersumber dari konteks sosial budaya, terutama bagaimana sistem patriarki lebih terasa dominan dalam tayangan film tersebut.
Penelitian selanjutnya diarahkan pada bagaimana wacana nilai feminis dirombak serta dikonstruksi menjadi bentuk dan konteks yang berbeda. Dalam hal ini, penelitian akan diarahkan proses analisis wacana kritis model Sara Mills guna membongkar bagaimana nilai atas feminitas dimunculkan dalam tayangan film, baik dalam menggambarkan bagaimana perempuan dalam citra seorang ibu maupun perempuan yang memperjuangkan keadilan bagi anak dan kehidupannya, atas ketimpangan dan dominasi perlakuan laki-laki. Secara teknis dan operasional, penggunaan wacana kritis model Sara Mills ini ditekankan pada penggunaan struktur melalui posisi subjek dan objek sebagai sudut pandang dari pencerita atau film. Selanjutnya, sebagai pembanding, Sara Mills juga memuat struktur untuk mencari sudut pandang dari pembaca.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan tipe kualitatif deskriptif, dengan strategi studi teks melalui analisis wacana kritis model Sara Mills. Penelitian dalam jenis kualitatif tergolong penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah, dimana tujuannya adalah menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan mengikutsertakan sejumlah metode yang tersedia (Moleong, 2014). Dalam konteks ini, penelitian kualitatif merujuk pada kata-kata, gambar, dan rekaman. Lebih lanjut, penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan sebuah fenomena melalui pengumpulan data (Kriyantono, 2006).
Adapun sasaran dari pendekatan kualitatif yang digunakan merujuk pada pola yang berlaku sebagai suatu prinsip umum yang menetap di dalam konteks masyarakat (Bungin, 2006). Penelitian jenis kualitatif deskriptif ini dipilih karena fokus analisis dalam penelitian yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengkaji teks secara kritis melalui penggambaran wacana yang dimunculkan secara kualitatif.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan mengarah pada bentuk analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Analisis wacana kritis yang digunakan adalah model Sara Mills, dimana analisis wacana kritis ini ditujukan pada salah satu film korea yang secara dominan menggambarkan sosok perempuan di dalamnya, yakni film “Mother”.
Film memang tidak serta merta memunculkan adanya pesan secara teks saja.
Dalam konteks komunikasi, film mampu membentuk gambaran mengenai realita—baik yang dikemas dalam fiksi maupun nonfiksi—melalui perpaduan teks, gambar, dan suara sehingga film tergolong ke dalam media massa dalam platform penyampai pesan audiovisual. Lebih lanjut, bentuk pesan yang disampaikan melalui film pada dasarnya mampu mengkonstruksi adanya pesan “teks”, yang
mana menganalisis teks adalah bagian dari menganalisis wacana suatu pesan media. Hal ini sejalan dengan pemahaman van Dijk dalam Sobur (2001) yang menjelaskan bahwa analisis wacana ataupun isi dalam teks media, pada dasarnya menekankan bentuk wacana sebagai sebuah interaksi, wacana dapat berfungsi sebagai penyataan (assertion), pertanyaan (question), tuduhan (accusation), serta ancaman (threat).
C. Subjek dan Objek Penelitian
Sumber data sekaligus subjek dalam penelitian ini secara utama diarahkan pada salah satu film produksi Korea Selatan berjudul “Mother”. Film ini bergenre drama, kriminal, dan thriller, dan disutradarai oleh Bong Joon-Ho. Pemain utama yang menonjol dalam film ini adalah Kim Hye-ja, Won Bin, serta Jin Goo, dan diproduksi pada tanggal 28 Mei 2009. Film ini dipilih karena pesan atas objek penelitian mengenai dekonstruksi nilai feminis serta resistansi perempuan demi mencari keadilan untuk kehidupan anaknnya, terutama melalui sosok ibu—atau Mother—yang diperankan oleh Kim Hye-ja.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk dokumentasi pada film “Mother”.
Adanya pengumpulan data secara dokumentasi dipahami oleh Ary (2010) merujuk pada sejumlah materi yang berwujud teks, baik itu catatan publik, buku teks, surat, catatan harian, laporan, tak terkecuali juga film. Peneliti mengumpulkan data melalui sejumlah teks yang dimunculkan dalam dialog kedua objek film, adegan, alur atau plot film, tata artistik gambar, musik (backsound) yang digunakan untuk mengiringi film dan setiap adegannya, serta sejumlah unsur-unsur instrinsik maupun ekstrinsik yang ada di dalamnya. Lebih lanjut, pengumpulan data juga didukung dengan beberapa sumber referensi lain, seperti buku, berita, jurnal, sumber internet, maupun sejumlah informasi mengenai kedua objek film yang diteliti.
E. Teknik Keabsahan Data
Mengenai teknik keabsahan data, validitas data diperoleh melalui strategi peer debriefing guna meningkatkan akurasi data dalam analisis. Dalam konteks ini, peneliti akan melibatkan pihak lain (peer debriefer) untuk mengkaji dan mengulas sejumlah data yang diperoleh dalam penelitian. Strategi ini dimaksudkan untuk memperoleh adanya pemaknaan di luar peneliti guna menambah tingkat kevalidan sebuah data penelitian (Creswell, 2014).
Adapun langkah peer debriefing dilakukan dengan cara melakukan diskusi bersama (FGD) dengan beberapa dosen dan tokoh yang memiliki pengalaman serta keilmuan yang mencukupi terhadap objek penelitian, baik yang merujuk pada keilmuan komunikasi atas studi atau kajian teks, praktisi film, maupun paham terhadap topik penelitian yang berkaitan dengan feminisme, gender, dan ilmu sosial sejenisnya.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini merujuk pada teknik analisis kualitatif teks, terutama dalam hal menggali wacana apa yang dimunculkan melalui teks dalam film. Analisis data tekstual menggunakan model Sara Mills, dimana wacana tidak hanya berhenti pada bentuk discourse yang dimunculkan, melainkan juga meninjau tentang aspek kekritisan yang dapat dianalisis dari pesan film (wacana kritis).
Analisis data diawali dengan mendokumentasikan film yang akan diteliti, yakni film “Mother”. Selanjutnya, data yang diperoleh melalui dokumentasi akan direduksi sesuai dengan kriteria dan batasan dalam wacana kritis model Sara Mills.
Dalam konteks ini, temuan data akan berupa reduksi atas bentuk dialog, gambar, penokohan atau karakter, sound atau musik, sampai pada sejumlah pesan yang dirasa dapat direduksi menjadi kelompok-kelompok data yang sama.
Analisis wacana kritis model Sara Mills pada dasarnya digunakan untuk sejumlah persoalan ataupun pesan yang sarat dengan konsep minoritas. Dalam konteks ini, analisis wacana Sara Mills terbagi ke dalam beberapa posisi ataupun sudut pandang, yakni posisi subjek-objek dan posisi pembaca. Untuk sudut
pandang subjek-objek, posisi ini akan melihat tentang bagaimana pesan ditinjau dari kacamata siapa yang melihat. Arahnya adalah bahwa pesan dalam tayangan film “Mother” akan dianalisis melalui sudut pandang si pencerita (subjek), serta siapa yang diceritakan (objek), serta sejauh mana masing-masing aktor dalam film akan berupaya untuk menampilkan sosok karakternya dalam film. Sedangkan untuk posisi pembaca, pesan dalam kedua film yang diteliti akan diarahkan pada bagaimana audiens membaca teks yang ada dalam film, sekaligus ke arah mana sudut pandang pembaca akan diletakkan.