BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Sajian Data
1. Posisi Subjek
Penempatan posisi subjek melihat tentang bagaimana situasi dimunculkan dalam teks, terutama dalam menggambarkan posisi seorang tokoh dalam teks, baik melalui gagasan maupun peristiwa sosial yang melingkupinya. Posisi subjek dalam teks mengarah pada posisi yang lebih tinggi dalam pemaknaan teks karena posisi ini akan menentukan arah melalui pemaknaan realitas yang ada dalam menampilkan peristiwa. Posisi subjek pada dasarnya juga memuat maksud dalam mencitrakan ideologi tertentu. Mendefinisikan dan memposisikan seorang tokoh dan karakter dalam film bermakna bahwa terdapat maksud yang tersimpan di balik tanda pada teks tentang bagaimana seorang tokoh dimunculkan serta ditafsirkan. Adapun penjelasan melalui potongan gambar dalam merepresentasikan posisi subjek pada film Mother adalah sebagai berikut:
a. Kasih sayang untuk anggota keluarga
Gambar 4
Gambar di atas terdapat pada scene 4 menit ke 03.54 yang menjelaskan adegan Hye ja, ibu Do joon yang sedang memotong tanaman obat kering sebagai bahan pengobatan akupuntur yang ia jalani. Dalam scene ini, tidak ada dialog ataupun monolog yang disampaikan oleh Hye ja dan lebih berkonsentrasi pada
gambaran ekspresi wajahnya ketika memperhatikan Do joon yang sedang bermain seekor anjing. Namun demikian, scene ini secara tidak langsung menggambarkan pekerjaan dan profesi Hye ja, yakni sebagai seorang ahli pengobatan akupuntur yang memanfaatkan tanaman tertentu yang dikeringkan dan diolah untuk menjadi obat.
Pada tataran ini, scene yang menunjukkan pekerjaan atau profesi turut menggambarkan bagaimana Hye ja memposisikan dirinya sebagai subjek yang superior, bekerja layaknya laki-laki, dan bertugas dalam ranah publik untuk menghidupi serta mencukupi kebutuhan keluarga. Hal ini tidak terlepas dari sosok Hye ja yang diceritakan sudah menjanda selama bertahun-tahun dan hanya hidup berdua bersama Do joon, meski hal tersebut tidak dipaparkan secara jelas dalam narasi ataupun dialog yang disampaikan. Sisi superior Hye ja juga ditunjukkan ketika konsentrasi pekerjaannya terbelah ketika ia harus memperhatikan Do joon yang sedang bermain bersama anjingnya, ditemani oleh Jin tae, sahabatnya. Hye ja cenderung merasa khawatir dan selalu memperhatikan Do joon dalam pengawasannya karena menganggap Do joon tidak dapat hidup secara mandiri dan selalu memerlukan bantuannya.
Dominansi Hye ja terhadap Do joon secara tidak langsung didasari oleh rasa kasih sayang Hye ja sebagai orang tua satu-satunya bagi Do joon. Selain itu, konteks dominansi Hye ja dalam tataran teks ini juga menggambarkan cara Hye ja dalam bertahan pada kondisi ekonomi keluarganya yang tidak baik sehingga dirinya harus berjuang dan bekerja untuk menghidupi keluarganya.
b. Perjuangan membela anak
Gambar 4.
Gambar 5 Gambar 6
Gambar 5 ini berada dalam menit ke 33.30, menggambarkan Hye ja yang sedang bertahan untuk membela Do joon melalui upayanya menemui polisi bernama Jae moon. Jae moon adalah polisi yang menyelidiki kasus kematian Ah jung. Pihaknya juga yang membawa dan menangkap Do joon atas tuduhan pembunuhan yang memberatkan Do joon sebagai pelakunya.
Kalimat “dia bahkan tak sanggup melukai serangga air” menunjukkan pada diri Do joon sebagai seorang anak laki-laki yang tidak pernah berbuat jahat, apalagi membunuh seseorang. Hye ja merasa harus memperjuangkan anaknya dan melakukan pembelaan terhadap anaknya. Resistansi Hye ja bahkan di saat kondisi sedang hujan lebat (ditunjukkan dari kondisi Hye ja yang menggunakan jas hujan) tidak membuat posisinya menyerah untuk mencari keadilan dan membela Do joon.
Pertahanan Hye ja dalam membela Do joon juga berlanjut dalam scene yang berada pada menit 34.03 (gambar 6), tetapi dalam dialog lanjutan yang berbeda.
Terdapat dialog Hye ja yang menyampaikan makna tersirat terhadap Je moon,“ini sedikit bubuk ginseng yang biasa kau pakai ketika masih sekolah”.
Secara tidak langsung, Hye ja terkesan memiliki relasi yang dekat dengan Je moon. Kalimat yang digunakan Hye ja dinilai menggunakan kedekatannya dengan Je moon untuk menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh membela serta memperjuangkan keadilan untuk anaknya. Di sisi lain, Hye ja merasa mengenal Je moon sebagai seorang polisi yang baik dan pasti akan membantunya. Namun demikian, sisi lain konteks konotatif dalam memaknai kalimat Hye ja secara tidak langsung justru menggiring anggapan bahwa Hye ja bermaksud melakukan suap kepada polisi untuk mengurangi hukuman Do joon.
Gambar 7
Gambar di atas berada pada menit ke 36.51 dan menjelaskan tentang bagaimana Hye ja membagikan selebaran kepada masyarakat yang turut menyaksikan olah TKP atas kasus pembunuhan Ah jung. Dalan situasi tersebut, Hye ja dibantu oleh salah seorang tetangganya, yang bekerja di sebuah percetakan foto. Upaya ini ditempuh Hye ja untuk membela Do joon dengan berusaha menarik simpati masyarakat agar mau membantunya. Gambaran diperkuat melalui dialog yang disampaikan oleh Hye ja yakni “Dia anakku satu-satunya”.
Isi dari selebaran yang disebar Hye ja secara tidak langsung juga menunjukkan adanya penggiringan asumsi mengenai praktik “pemaksaan”
kepolisian yang terhadap proses penangkapan Do joon. Hye ja melihat bagaimana Do joon secara sepihak pada akhirnya menandatangani berkas BAP sehingga posisinya semakin menguatkan bahwa Do joon dianggap bersalah. Di sisi lain, Hye ja yang tidak terima kemudian berupaya untuk menggiring opini publik melalui selebaran yang dibuatnya guna menarik perhatian dan simpati dari masyarakat.
Pada pemaparan ini, secara tidak langsung memposisikan Hye ja sebagai pencerita bahwa aparat kepolisian melakukan tindakan yang kurang baik dengan
“memaksa” dengan cara yang berbeda atas pengakuan Do joon dan kesediaannya untuk menandatangani berkas BAP. Dalam konteks ini, Hye ja berupaya menggiring gagasan atas peristiwa yang penangkapan Do joon dengan memberikan labeling tertentu terhadap ketidakadilan yang diterima oleh anaknya. Hal ini lebih lanjut dapat dilihat pada isi selebaran yang menyatakan
“menggigit apel pelanggaran HAM”.
Gambar 8 Gambar 9
Gambar 10
Gambar 8 terdapat pada menit 38.23 dan menunjukkan situasi yang ramai dan memunculkan keributan akibat kedatangan Hye ja. Di sisi lain, tempat yang menjadi latar gambar adalah area pemakaman tempat Ah jung disemayamkan.
Dalam keributan tersebut, tampak Hye ja secara dominan mempresentasikan dirinya secara dominan dengan datang seorang diri dan memberikan pernyataan atas pembelaannya terhadap Do joon. Hye ja secara tegas juga menyatakan bahwa Do joon bukan pembunuh Ah jung.
Gambar 9 adalah lanjutan dari gambar 8, dan berada pada menit ke 39.18.
Gambar 9 menggambarkan situasi riuh rendah akibat pembelaan Hye ja terhadap Do joon. Hye ja digambarkan tidak terima atas penghinaan salah satu keluarga Ah jung terhadap Do joon. Gambar 9 ini juga menunjukkan secara superior bagaimana Hye ja dengan yakinnya bahwa pihaknya tidak tinggal diam apabila putranya, Do joon, dikutuk dan dihina seperti perkataan dalam dialog tokoh keluarga Ah jung.
Selanjutnya untuk gambar 10 gambar ini berada dalam scene yang berbeda dengan gambar 8 dan 9. Gambar 10 secara langsung terdapat pada menit ke 01.41.43. Secara penggambaran, gambar 10 ini juga menguatkan posisi superioritas Hye ja yang secara langsung melakukan pembelaan kepada Do joon, sekaligus menyangkal pernyataan tokoh Kakek atas kesaksiannya yang dinilai memberatkan Do joon.
Gambar 11
Gambar 11 terdapat pada menit ke 01.04.51 dan menggambarkan pandangan Hye ja bahwa Do joon berada dalam posisi yang bahaya, yang mana ia sedang dikambinghitamkan oleh beberapa oknum polisi. Pandangan Hye ja secara didukung dan disetujui oleh Jin tae yang selanjutnya juga turut membantu Hye ja dalam mencari bukti mengenai kematian Ah jung. Gambar 10 ini secara tidak langsung memberikan representasi bahwa Hye ja secara yakin mempercayai bahwa Do joon tidak bersalah, serta bertekat untuk berjuang mencari bukti-bukti selanjutnya agar Do joon dapat dibebaskan. Mengenai pernyataan “Do joon jelas dijadikan kambing hitam bagi mereka” secara tidak langsung menggiring opini penonton bahwa keyakinan Hye ja benar adanya.
c. Berjuang untuk mencari bukti pembunuhan
Gambar 12 Gambar 13
Gambar 14
Gambar 12 berada dalam menit 46.21 menjelaskan perjalanan Hye ja menuju ke rumah Jin tae untuk mencari tahu beberapa bukti yang mungkin bisa membantu dalam kasus Do joon. Ini berlanjut dan berkaitan dengan gambar 13 yang berada pada menit ke 54.18 yang mengambil gambar secara close up untuk tongkat golf milik Jin tae. Secara visual, hal ini menunjukkan penggambaran bahwa tokoh Hye ja secara dominan menganggap membawa barang bukti yang berhasil ia temukan untuk kemudian dibawa menuju kepolisian. Gambaran tongkat golf terbungkus sarung tangan plastik tersebut juga menunjukkan kondisi angin yang kencang karena mengesankan bahwa Hye ja terburu-buru untuk membawa bukti tersebut, sekaligus menilik pada cuaca yang yang mendung dan berpotensi untuk hujan. Terakhir, ada gambar 14 yang berfokus close up pada sepatu dan tetesan air dari pakaian Hye ja. Gambaran ini menguatkan posisi bahwa Hye ja telah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan harus bertemu dengan hujan.
Tiga gambaran di atas secara implisit memberikan visualisasi bahwa Hye ja berupaya memperjuangkan keadilan bagi Do joon tindakannya dalam mencari barang bukti untuk kemudian diserahkan kepada kepolisian. Hye ja berpikir bahwa pihak polisi akan membantunya apabila ia berhasil mencari barang bukti yang mampu meringankan tuduhan yang ditujukan kepada Do joon. Secara subjektivitas, Hye ja menggunakan gesture dan tanda-tanda non verbal yang cenderung bersifat maskulin. Contohnya adalah berusaha untuk kuat ketika harus menempuh perjalanan yang jauh dari rumah Jin tae menuju kantor polisi, serta keras dan pantang menyerah untuk memperjuangkan keinginannya.
Gambar 15 Gambar 16
Penjelasan pada gambar sebelumnya juga senada dengan presentasi pada gambar 15 dan gambar 16. Gambar 15 secara teknis berada dalam menit 54.18, sedangkan gambar 16 berada dalam menit 01.34.27. Kedua gambar ini mampu memberikan representasi tentang bagaimana perjuangan Hye ja untuk mencari bukti selanjutnya. Jika dalam gambar 12, 13, dan 14 pada scene selanjutnya diarahkan pada upaya mencari bukti berdasarkan kecurigaan terhadap Jin tae, tetapi dalam scene gambar ini, perjuangan memperoleh bukti ditujukan kepada tokoh kakek tua yang dicurigai oleh Hye ja.
Permainan gambar berusaha dibentuk untuk menguatkan pesan yang disampaikan. Teknik long shoot untuk menggambarkan secara keseluruhan medan atas kondisi alam yang ada sehingga membuat kesan perjalanan Hye ja menjadi semakin sulit dan panjang. Selain itu, gambar dengan close up pada sepatu Hye ja yang menginjak lumpur turut memvisualisasikan bahwa medan yang ia tempuh untuk menuju ke rumah tokoh kakek tidak mudah.
d. Superioritas diri
Gambar 17 Gambar 18
Gambar 17 menjelaskan tentang visualisasi Hye ja yang memukul berusaha untuk memukul tokoh Kakek dengan menggunakan besi. Gambar 17 ini berada pada menit ke 01.42.34 dan merupakan bagian dari klimaks peruncingan konflik dalam upaya Hye ja mencari bukti kasus pembunuhan. Hye ja yang sebelumnya terlibat perkelahian dengan tokoh Kakek selanjutnya menggunakan besi untuk memukul dan bahkan membunuh Kakek tersebut. Hal ini terkesan tidak disadari Hye ja, karena memang dia hanya ingin mencari keadilan dan memberikan pelajaran kepada tokoh Kakek yang telah memberikan penjelasan berbeda menurut Hye ja atas penuduhan Do joon sebagai pelaku pembunuhan.
Selanjutnya di gambar 18 gambar yang berada pada menit ke 01.46.59 ini memberikan representasi mengenai superioritas tokoh Hye ja yang berusaha mencari solusi atas perbuatannya. Hye ja lantas meninggalkan gubuk Kakek yang telah ia bakar guna menghilangkan jejak.
Perilaku yang ditunjukkan oleh Hye ja secara tidak langsung justru digambarkan sarat akan maskulinitas. Sebut saja mengenai keberanian, rasa tegas, bahkan tidak segan dalam melakukan kekerasan untuk meluapkan emosinya. Meski kemudian sikap dan perilakunya didasari atas nilai-nilai kasih sayang terhadap anaknya, Do joon, tetapi dalam memperjuangkan keadilan untuk Do joon, ada perubahan tension atas manifestasi perilaku dalam karakter Hye ja. Hal ini dipengaruhi oleh adanya stressing atau tekanan yang berlebih atas konflik-konflik yang dialami oleh Hye ja dari lingkungannya.
Gambaran mengenai superioritas diri dan maskulinitas juga dimunculkan melalui tokoh-tokoh perempuan lainnya. Pengelompokkan ini dapat dilihat pada beberapa gambar berikut:
Gambar 19 Gambar 20
Gambar 21 Gambar 22
Gambar 23
Beberapa gambar di atas menunjukkan bentuk superioritas perempuan dalam kaitannya dengan lambang ataupun simbol maskulinitas. Contohnya adalah ketika tokoh lain (gambar 19) dan Hye ja (gambar 23) terlihat merokok.
Selanjutnya, gambar 20, 21, dan 22 menunjukkan bagaimana superioritas dapat dilihat melalui penonjolan diri individu atas apa yang dikonsumsinya. Secara tidak langsung, mengkonsumsi arak beras, bir, dan juga merokoh, pada akhirnya menjadi simbol maskulinitas.