• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

B. Selatan 50.40 316 323 318 329 331 355 Timur 59.08 681 798 790 834 889

6 IMPLIKASI KEBIJAKAN MODEL KO-DI TERHADAP KONSERVASI/WISATA – PERIKANAN

6.1 Potensi dan Manfaat Ekonomi Sumberdaya Pesisir Selat Lembeh

Dengan diketahuinya nilai ekonomi kawasan pesisir Selat Lembeh dari bab sebelumnya, maka potensi dan manfaat Selat Lembeh dapat dikelola berdasarkan data yang telah dianalisa tersebut. Nilai ekonomi tersebut juga akan menjadi informasi yang penting bagi pemerintah kota Bitung dalam membuat suatu keputusan dalam rangka perlindungan dan pemanfaatan kawasan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Sebagaimana diketahui bahwa sumberdaya kelautan yang dimiliki oleh Sulawesi Utara khususnya Kota Bitung sangat beragam baik jenis dan potensinya. Daerah ini, dengan pelabuhan alamnya, melayani segala kebutuhan masyarakat mulai dari minyak sampai bahan makanan ke pulau-pulau kecil di sebelah utara daratan Sulawesi Utara, dengan memanfaatkan Selat Lembeh sebagai tempat pelabuhan utamanya.

Perairan selat Lembeh sangat potensial dalam pengembangan berbagai bidang kegiatan seperti perikanan, pariwisata dan konservasi, industri skala kecil menengah maupun skala besar yang ditunjang oleh adanya pelabuhan Samudera. Potensi sumberdaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sumberdaya yang dapat diperbarui seperti sumberdaya perikanan dan berbagai jenis jasa lingkungan pesisir dan kelautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan yaitu pariwisata bahari. Keduanya memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan di masa mendatang dan diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan nasional.

Sekarang ini pun, selat Lembeh telah menjadi sangat populer di dunia karena mengandung keanekaragaman biota yang tinggi dan telah menjadi perhatian besar bagi para petualang bawah air, fotografer maupun ilmuan. Di samping itu, ajakan untuk melestarikan daerah ini telah berkembang di berbagai negara.

Dengan adanya berbagai kegiatan yang berlangsung di Selat Lembeh terutama untuk kepentingan perekonomian kota Bitung khususnya, dan Provinsi

Sulawesi Utara umumnya maka jika perairan ini tidak dikelola secara terpadu dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek perlindungannya maka dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan di masa yang akan datang.

Apabila ditinjau dari kondisi oseanografi, Selat Lembeh yang terletak antara Kota Bitung dan Pulau Lembeh, mempunyai kondisi yang berbeda dengan pantai Timur Pulau Lembeh atau bagian-bagian lainnya dari semenanjung Sulawesi Utara. Seperti diketahui bahwa Selat Lembeh secara umum lebih terlindung. Selat yang tidak terlalu lebar atau hanya memiliki lebar lebih kurang 2 km ini mengalami pergantian massa air yang cukup lancar selama proses pasang surut. Dengan kondisi seperti demikian maka akan sangat membantu membersihkan pencemaran di Selat Lembeh. Selain itu apabila dilihat dari kondisi biologis, selat ini memiliki ekosistem sebagaimana ekosistem yang dimiliki oleh wilayah pesisir lainnya di daerah tropis yang dibangun oleh komponen-komponen seperti mangrove, terumbu karang, padang lamun, payau, pasir dan batuan. Komponen pelagis yang sangat dipengaruhi oleh Laut Sulawesi dan Laut Maluku atau pada umunya Laut Pasifik juga dimiliki oleh Selat Lembeh. Secara keseluruhan, wilayah ini memiliki multi fungsi seperti penyediaan sumberdaya alam yang beraneka ragam tersebut dapat menjadi potensi yang bermanfaat bagi perikanan tangkap dan budidaya perairan, penyediaan jasa-jasa pendukung kehidupan termasuk kenyamanan.

Dengan latar belakang seperti diuraikan di atas, maka pengelolaan di kawasan pesisir Selat Lembeh juga harus memperhatikan dinamika karakteristik oseanografi, kondisi bio fisik daratan dan pesisir Kota Bitung dengan aktifitas sosial-ekonominya.

Pemanfaatan yang tidak baik terhadap salah satu komponen penyusun ekosistem pesisir tersebut dapat mengancam komponen lainnya. Oleh karena itu upaya pengelolaan kawasan ini perlu adanya keterpaduan antara pengelolaan pesisir, laut dan daratan. Pengelolaan perlu dilakukan bersama-sama semua pihak terkait antara pemerintah dan masyarakat.

Sebenarnya, pengelolaan pesisir di kawasan pesisir Selat Lembeh merupakan upaya implementasi dari kesepakatan Indonesia pada waktu penandatangan Konferensi Rio pada tahun 1992. Sejak saat itu pemerintah

Indonesia telah bekerjasama dengan pihak USAID untuk menerapkan kesepakatan tersebut. Sudah hampir sepuluh tahun terakhir telah dilakukan upaya-upaya pengelolaan bersama masyarakat dan pendampingan masyarakat dengan pembuatan Daerah Perlindungan Laut atau DPL. Dengan memperhatikan kondisi ruang pemanfaatan Selat Lembeh, maka strategi pengelolaan yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat adalah pada kawasan pemanfaatan saat ini yaitu pada kawasan budidaya maupun di dalam kawasan alami yang belum diperuntukan untuk pengembangan. Pengelolaan Pesisir Terpadu tersebut membutuhkan adanya kawasan konservasi untuk melindungi keanekaragaman hayati yang ada di Selat Lembeh.

Pemerintah Kota Bitung merencanakan pengelolaan kawasan pesisir Selat Lembeh dibagi atas 3 (tiga) kawasan utama pengelolaan, yaitu :

1. Kawasan Budidaya, saat ini merupakan kawasan yang sedang berkembang

dengan pengawasan oleh instansi sektoral pemerintah dimana antara lain untuk kepentingan transportasi, komunikasi, industri, pemukiman penduduk, fasilitas umum masyarakat, pembuangan, pengelolaan limbah dan sebagainya. Contoh dalam kawasan ini adalah kawasan ke pelabuhan Bitung, kawasan tradisional untuk penangkapan ikan dan kawasan wisata pesisir Selat lembeh

2. Kawasan Lindung, seperti kawasan Cagar Alam Tengkoko dan kawasan

yang mempunyai potensi untuk Konservasi Laut di Selat Lembeh dan sekitarnya.

3. Kawasan Alami, merupakan kawasan untuk menopang kawasan-kawasan

Budidaya dan Lindung (termasuk KKL) yang masih belum dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan sosial dan ekonomi atau yang masih bersifat alami yang sebagian dari kawasan tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai kawasan cadangan yang dapat di manfaatkan, sebagai kawasan budidaya, maupun kawasan konservasi.

Selain itu, pengendalian dengan berbasis KKL ini dapat memberikan nilai tambah karena bukan saja manfaat ekonomi yang dapat diperoleh, namun juga manfaat ekologi yang dalam jangka panjang akan pula memberikan tambahan manfaat

ekonomi bagi Selat Lembeh itu sendiri. Selain itu sebagai instrumen

pengendalian, KKL dapat mencegah terjadinya over eksploitasi terhadap sumber

daya perikanan, sehingga dalam jangka panjang dampak overfishing dapat

diminimalkan. Jika overfishing bisa dikurangi, bukan saja kesejahteraan nelayan

dapat ditingkatkan dengan meningkatnya return per vessel, namun lebih penting

lagi adalah menurunnya biaya pengelolaan (management cost) karena kawasan

konservasi selain dapat menjadi sumber ekonomi, juga bisa bersifat self financing

sehingga beban pemerintah daerah dalam hal biaya pengelolaan dapat dikurangi.

Dokumen terkait