BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Potensi dan Masalah
Pada tahap pertama dalam penelitian ini yaitu potensi dan masalah. Pada tahap ini,peneliti melakukan identifikasi potensi dan masalah melalui kegiatan observasi dan wawancara serta melakukan kegiatan analisis kebutuhan guru dan siswa dengan menggunakan kuisioner analisis kebutuhan. Potensi yang ditemukan oleh peneliti di SD N Tampir Kulon 1 berupa pohon berkayu berupa (kayu jati, kayu rambutan, dan kayu nangka) yang tumbuh di sekitar lingkungan sekolah, dan banyak sampah plastik yang dapat digunakan kembali dalam pembeuatan media pembelajaran. Selain itu, banyak pula pengrajin kayu di lingkungan sekolah. Dalam kenyataannya penggunaan media pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran masih terbatas, bahkan dalam pembelajaran guru tidak menggunakan media pembelajaran.
64 Berdasarlan hasil observasi dan wawancara, peneliti menemukan permasalahan di lapangan bahwa siswa kurang memahami materi pelajaran IPA, Hal ini dikarenakan guru tidak menggunakan media ketika menjelaskan materi dalam pembelajaran. Sesuai dengan pernyataan tersebut peneliti akan memanfaatkan potensi yang ada dengan membuat media pembelajaran yang tersedia di lingkungan sekitar. Peneliti juga akan mengumpulkan beberapa data dengan menggunakan kuisioner analisis kebutuhan yang diberikan kepada guru dan siswa kelas II. Kuisioner analisis kebutuhan digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti dalam pembuatan desain media pembelajaran supaya dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada. Berikut ini meruapakan penjelasan dari identifikasi masalah adan analisis kebutuhan.
4.1.1.1Identifikasi Masalah
Tahap awal penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh peneliti yaitu mengidentifikasi permasalahan terkait dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran. Penliti melakukan identifikasi masalah dengan observasi dan wawancara. Hasil observasi dan wawancara tersebut kemudian dikaji menggunakan triangulasi data.
4.1.1.1.1 Observasi
Observasi adalah salah satu teknik yang digunakan peneliti untuk menganalisis permasalahan di sekolah dasar. Dalam penelitian ini secara khusus observasi dilakukan untuk mengetahui ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran. Tujuan lain dilakukannya observasi adalah mengetahui kesulitan
65 dan karakteristik siswa pada saat pembelajaran IPA. Validasi instumen observasi dilakukan beberapa
Validasi yang dilakukan merupakan validasi konstruk yaitu melihat kesesuaian instrumen yang digunakan dengan teori yang ada. Adapun hasil validasi terhadap instrumen observasi dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Validasi Instrumen Observasi
Ahli Nomor Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4,0
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4,0
Rerata 4,0 4,0
Berdasarkan hasil validasi pada tabel 4.1 tersebut, didapatkan rerata skor sebesar 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa instrumen observasi layak digunakan. Apabila dibandingkan dengan tabel 3.11 hal 59, rerata tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Oleh karena itu, instrument dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar validasi pedoman observasi oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.1 halaman 128
Setelah pedoman wawancara selesai divalidasi, peneliti melakukan observasi pada pembelajaran IPA kelas II dan ketersiadian media pembelajaran di SD N Tampir Kulon 1. Observasi dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2016. Lembar observasi dapat dilihat pada lampiran 1.1 juga disajikan pada tabel 4.2
66 Tabel 4.2 Lembar Observasi
Objek yang diamati Jawaban Catatan Ada media pembelajaran
yang diletakkan di kelas untuk pembelajaran IPA.
Tidak Tidak ada media pembelajaran untuk mata pelajaran IPA di dalam kelas.
Media Pembelajaran
layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
Tidak Tidak ada alat peraga
Guru menggunakan
media pembelajaran
untuk menjelaskan materi pembelajaran IPA.
Tidak Pada pembelajaran IPA guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Guru menggunakan bebrapa buku cetak sebagai pedoman untuk mengajar. Guru menulis di papan tulis materi yang dianggap penting. Setelah guru menjelaskan materi kepada
siwa. Guru meminta siswa untuk
mengerjakan soal.
Guru menguasai cara
menggunakan media
pembelajaran.
Tidak Guru tidak menggunakan media
pembelajaran
Siswa dapat
menggunakan media
pembelajaran secara
mandiri.
Tidak Guru tidak menggunakan media
pembelajaran
Siswa mengalami
kesulitan dalam
pembelajaran IPA.
Ya Ketika pembelajaran IPA siswa tidak
menggunakan media pembelajaran. siswa mempelajari materi dengan mendengarkan penjelasan dari guru.
Siswa mengalami
kesulitan ketika
mengerjakan soal IPA.
Ya Dalam mengerjakan soal masih banyak
siswa yang menjawab pertanyaan dengan jawaban kurang tepat.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan media pembelajaran IPA masih terbatas. Hal menjadikan kurang mendukung dan kurang efektif dalam aktivitas pembelajaran IPA. Guru menggunakan beberapa buku cetak dan menulis materi yang dianggap penting di papan tulis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran IPA dalam pembelajaran IPA di kelas II SD N Tampir Kulon
67 1 belum optimal. Selain itu, peneliti menemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar, terlihat ketika siswa kurang tepat dalam menjawab pertanyaan dari guru.
4.1.1.1.2 Wawancara
Peneliti mengkaji permasalahan yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran IPA melalui teknik wawacara. Kegiatan wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, guru kelas II, dan 5 siswa kelas II SD Negeri Tampir Kulon. Sebelum peneliti melakukan kegiatan wawancara, instrumen wawancara divalidasi kepada beberapa ahli terlebih dahulu seperti ahli bahasa, pembelajaran IPA, dan guru SD setara. Validasi yang dilakukan merupakan validasi konstruk yaitu melihat kesesuaian instrumen yang digunakan dengan teori yang ada.
4.1.1.1.3 Kepala Sekolah
Peneliti melakukan kegiatan wawancara pertama kali kepada kepala SD Negeri Tampir Kulon. Wawancara kepada kepala sekolah ini dilakukan untuk mengetahui ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran IPA di SD Negeri Tampir Kulon. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2016. Hasil validasi terhadap instrumen wawancara kepala sekolah yang telah dilakukan oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 4.3.
68 Tabel 4.3 Hasil Validasi Instrumen Wawancara Kepala Sekolah
Ahli Nomor Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 64 4,0
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 64 4,0
Rerata 64 4,0
Bedasarkan hasil validasi pedoman wawancara kepala sekolah oleh ahli pada tabel 4.1 didapatkan rerata skor 4. Jika dibandingkan pada tabel 3.11 halaman 59 termasuk kategori sangat baik. Dengan demikia instrumen valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara Kepala Sekolah oleh ahli dapat dilihat pada tabel 3.2 halaman 45 Peneliti melakukan wawancara kepada kepala SD N Tampir Kulon 1. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2016. Transkip wawancara dengan Kepala Sekolah dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 139. Berikut merupakan paparan hasil wawancara yang disajikan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Wawancara dengan Kepala SD Tampir Kulon
Topik Pertanyaan No Item Hasil Wawancara
Informasi berkaitan dengan sekolah
1,2, 3, dan 4
Dalam bidang akademis SD Tampir Kulon mendapatkan peringkat ke-3 nilai Ebtanas se-kecamatan. Dalam bidang nonakademis prestasi yang diraih adalah juara I lomba pencak silat tingkat kecamatan. Rata-rata nilai UN khususnya mata pelajaeran ipa selama dua tahun terakhir adalah 6,9.
Ketersediaan media pembelajaran di
sekolah
5, 6, 7, 8, dan 9
Media pembelajaran yang sudah tersedia di SD Negeri Tampir Kulon antara lain media gerhana matahari, organ tubuh telinga, organ tubuh jantung dan paru-paru, alat pencernaan, jenis-jenis batuan, alat peredaran darah,
69 magnet, aliran listrik. Media pembelajaran yang tersedia di SD Tampir Kulon dirawat dengan baik, tetapi belum ada tempat khusus untuk menyimpan media pembelajaran. Sekolah memperoleh media pembelajaran dari dana BOS. Beberapa contoh media pembelajaran yang dibuat oleh guru antara lain kincir angin dan alat pernafasan pada manusia. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media pembelajaran yaitu faktor kemanfaatan untuk siswa, faktor biaya, faktor keamanan, dan kualitas.
Penggunaan media pembelajaran dalam
pembelajaran IPA
10, 11, 12, 13, dan 14
Pelaksaan pembelajaran IPA selama ini sesuai dengan materi. Pelaksanaan pembelajaran IPA sebagian besar menggunakan media pembelajaran yang ada dilingkungan sekolah. Penggunaan satu media pembelajaran tidak hanya satu siswa, karena jumlah media pembelajaran yang terbatas. Dalam pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan media pembelajaran respon siswa positif, 95 % siswa memerhatikan, dengan adanya media pembelajaran siswa dapat mencoba dan praktik sendiri sehingga menjadi lebih paham. Tingkat pemahaman siswa setelah menggunakan media pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran IPA yaitu bisa maksimal.
Penelitian yang pernah dilakukan di sekolah berkaita dengan media
pembelajaran
15 dan 16 Belum pernah ada penelitian di SD Negeri Tampir Kulon yang berkaitan dengan media pembelajaran.
4.1.1.1.1.2 Guru
Peneliti selanjutnya melakukan kegiatan awancara kepada guru kelas II SD Negeri Tampir Kulon. Hal tersebut dilakukan untuk mengkaji ketersediaan dan penggunaan media pembeajaran IPA. Kegiatan wawancara juga dilakukan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran
70 IPA. Wawancara tersebut dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2016. Pedoman wawancara guru yang telah divalidasi oleh ahli dipaparkan dalam tabel 4.5
Tabel 4.5 Hasil Validasi Instrumen Wawancara Guru Kelas II
Ahli Nomor Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 64 4,0
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 64 4,0
Rerata 64 4,0
Berdasarkan hasil validasi pedoman wawancara guru oleh ahli pada tabel 4.5, didapatkan rerata skor sebesar 4,00. Apabila dibandingkan dengan tabel 3.11 halaman 59, rerata skor tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk ke dalam kategori sangat baik. Maka dari itu, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara guru oleh ahli dapat dlihat pada lampiran 1.3 halaman 132. Setelah pedoman wawancara selesai divalidasi, peneliti melakukan wawancara kepada Guru SD N Tampir Kulon 1. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2016. Lembar wawancara dengan guru dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 139. Berikut ini merupakan hasil wawancara dengan Guru yang siajikan pada tabel 4.6
Berikut merupakan paparan hasil wawancara dengan guru kelas II yang disajikan pada tabel 4.6.
71 Tabel 4.6 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas II SD Negeri Tampir Kulon
Topik Pertanyaan No.Item Hasil Wawancara
Ketersediaan media pembelajaran dikelas
1,2, dan 3 Media pembelajaran yang dimiliki di kelas II adalah gambar tumbuhan dan hewan. Dalam penggunaanya siswa menggunakan dengan melihat secara bersama sama. Media yang pernah dibuat oleh guru adalah kincir angina. Pengggunaan media pembelajaran IPA dalam pembelajaran 4, 5, 6, 7, 8, dan 9
Guru pernah menggunakan media pembelajaran kincir angina, siswa lebih aktif dan tertarik ketika pembelajaran menggunakan mediap pembelajaran. Siswa dapat mengguankan media pembelajaran secara mandiri
Kesulitan yang dialami guru dalam menyampaikan materi pembelajaran IPA
10, 11, dan 12
Guru mengalami kesulitan dalam menyampiakan materi IPA. Materi yang sulit disampaikan adalah tentang tumbuhan. Siswa kurang mengetahui bagaimana tumbuhan proses perkembangan tumbuhan. Kesulitan belajar
yang dialami siswa dalam pembelaran IPA
13, 14, 15, dan 16
Dalam pembelajaran IPA terdapat siswa yang aktif dan terdapat siswa yang tidak aktif, karena ada siswa yang menyukai pelajaran IPA dan ada yang tidak menyukai. Siswa mengalami kesulitan pada materi tumbuhan, khusunya proses tumbuhan biji menjadi tanaman, karena siswa tidak melihat proses biji tersebut tumbuh dan siswa hanya berangan-angan. Dalam ulangan harian sebagian besar siswa mendapat nilai kurang dari 65. 9 siswa mendapat nilai dibawag 65 diantara 15 siwa.
Usaha yang
dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan-kesulitan
17 dan 18 Guru mengajak siswa mempelajari tumbuhan yang terdapat di lingkungan sekitar
4.1.1.1.1.3 Siswa
Kegiatan wawancara selanjutnya dilakukan kepada 5 siswa kelas II SD Tampir Kulon. Wawancara ini dilakukan untuk mengkaji penggunaan
72 media pembeajaran dan kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran IPA. Pedoman wawancara siswa telah divalidasi oleh ahli pembelajaran IPA, dan ahli Montessoi dengan hasil yang dipaparkan dalam tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil Validasi Instrumen Wawancara Siswa Kelas II
Ahli No.Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 16 4
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 16 4
Rerata 32 4
Berdasarkan hasil validasi pedoman wawancara siswa oleh ahli pada tabel 4.7 diperoleh hasil rerata skor sebesar 4,00. Apabila dibandingakan dengan tabel 3.11 halaman 59, rerata skor tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Maka dari itu, instrument dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi pedoman wawancara siswa oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 1.7 halaman 151. Setelah pedoman wawancara selsai divalidasi, peneliti melakukan awancara kepada siwa kelas II SD N Tampir Kulon 1. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2016. Transkip wawancara siswa siswa dipaparkan pada lampiran 1.8 halaman 156. Hasil wawancar siswa disajikan pada tabel 4.7
Berikut merupakan paparan hasil wawancara dengan siswa kelas II yang disajikan pada tabel 4.8.
73 Tabel 4.8 Hasil Wawancara dengan Siswa Kelas II SD Negeri Tampir Kulon
Topik Pertanyaan No. Item Hasil Wawancara
Tanggapan terhadap oembelajaran IPA yang selama ini terjadi
1 dan 2 Pembelajaran IPA yang dilaksanakan selama ini biasa saja.
Penggunaan media
pembelajaran IPA
3, 4, 5, 6, dan 7
Guru belum pernah menggunakan media pembelajaran
Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran IPA
8, 9, 10, dan 11
Siswa mengalami kesulitan pada materi pelajaran tumbuhan, materi sulit karena banyak penjelasan Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran IPA untuk materi pertumbuhan tumbuahn masih terbatas. Hal tersebut dapat terlihat dari jawaban narasumber yang digambarkan dalam bagan 4.1 berikut.
74 Bagan 4.1 Triangulasi Sumber Wawancara
Berdasarkan bagan 4.1 tersebut mengenai triangulasi sumber wawancara yang dilakukan, dapat diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan pada materi pertumbuhan biji menjadi tanaman, dikarenakan siswa tidak melihat proses pertumbuhan biji menjadi tanaman, selain itu ketka pembelajaran guru cenderung hanya memberi penjelasan saja. Guru pun mengalami kesulitan dalam penyamapaian materi pertumbuhan biji menjadi tanaman. Hal tersebut menjadi
Guru
Kelas II memiliki media pembelajaran gambar hewan dan tumbuhan. Gambar tesebut digunakan secara bersama-sama satu kelas, karena jumlahnya hanya satu.
Untuk materi
pertumbuhan tanaman siswa mengalami kesulitan karena siswa tidak melihat proses langsung guru menggunakan buku cetak
Kepala Sekolah Sekolah memiliki media pembelajaran Matematika, IPA, dan IPS. Walaupun begitu pemanfaatan media pembelajaran masih terbatas dalam pembelajaran. Karena,
penggunaan media
pembelajaran terbatas.
Penggunaan media
pembelajaran lebih menarik siswa dan membuat siswa lebih paham. Siswa Guru tidak menggunakan media pembelajaran dalam materi pertumbuhan biji menjadi tanaman. Materi tersebut sulit karena terlalu banyak penjelasan. Penggunaan media pembelajaran membuat siswa senang
Sekolah sudah memiliki media pembelajaran, walaupun masih terbatas. Tetapin untuk materi pertumbuhan biji menjadi tanaman sekolah belum memiliki.
75 perrmasalahan karena ketersediaan media pembelajaran untuk pertumbuhan biji menjadi tanaman belum ada sehingga penyampaian materi guru masih kurang optimal.
Berdasarkan hasil identifikasi masalah melalui observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam pelajaran IPA mengenai materi tentang pertumbuhan biji menjadi tanaman. Ketika peneliti melakukan wawancara kepada siswa, siswa mengatakan bahwa materi tersebut sulit karena tidak mengetahui proses pertumbuhan biji menjadi tanaman, dan terlalu banyak penjelasan. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi, bahwa siswa kesulitan ketika ditunjuk untuk menjawab pertanyaan dari guru. Ketika diberi latihan soal oleh guru, siswa kurang tepat dalam menjawab pertanyaan. Hal tersebut diperkuat dengan hasil wawancara guru yang menyatakan bahwa 9 siswa mendapat nilai kurang dari 65 ketika ualangan harian.
Selain itu terdapat permasalahn lain yang ditemukan oleh penliti ketika observasi yaitu kurangnya media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran IPA. Peneliti tidak menemukan media pembelajaran di dalam kelas ketika melakukan observasi. Dalam pembelajaran guru tidak mengunakan media pembelajarn. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam pembelajaran IPA. Ketika wawancara guru mengatakan bahwa beliau hanya menggunakan buku cetak sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran IPA di kelas II.
76 4.1.1.2Analisis Kebutuhan
4.1.1.2.1 Analisis Karakteristik Siswa
Karakterisitik siswa dianalisis berdasarkan observasi yang dilakukan pada pembelajaran IPA Kelas II SD Negeri Tampir Kulon 1. Observasi dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2016. Hasil yang diperoleh dari observasi tersebut adalah dalam pembelajaran guru meggunakan metode ceramah dan tanya-jawab dengan siswa. Guru menggunakan papan tulis untuk menulis materi yang harus ditekakan kepada siswa dan dianggap penting. Banyak siswa yang terlihat kurang tertarik dan kurang bersemangat dalam pembelajaran IPA. Hal tersebut terlihat ketika beberapa siswa bermain dan berbicara dengan teman kelasnya, siswa meletakan kepala di atas meja ketika guru menjelaskan materi kepada siswa. Ketika guru bertanya kepada siswa, sebagian besar siswa di kelas II pasif. Ketika guru menunjuk siswa menjawab pertanyaan siswa tidak dapat menjawab dengan tepat. Setelah guru menjelaskan materi kepada siswa, guru meminta siswa untuk mengerjakan soal. Setelah selesai menjelaskan materi, guru meminta siswa untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Paparan tentang hasil observasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti dalam pembuatan kuisioner analisis kebutuhan.
4.1.1.2.2 Analisis Karakteristik Media Pembelajaran Montessori
Peneliti menganalisis media pembelajaran Montessori berdasarkan empat ciri media pembelajaran Montessori yaitu menarik, education, auto-correction, bergradasi. Peneliti menambahkan ciri kontekstual karena peneliti membuat media pembelajaran dari benda-benda di sekitar dan memanfaatkan
77 potensi lokal. Kelima ciri media pembelajaran Montessori tersebut lalu digunakan sebagai acuan dalam pembuatan pertanyaan pada kuisioner analaisis kebutuhan. 4.1.1.2.3 Uji Validitas Instrumen Analisis Kebutuhan
Instrumen yang digunakan dalam analisis kebutuhan adalah kuisioner. Kuisioner analisis kebutuhan disusun berdasarkan karakteristik siswa dan luma ciri media pembelajaran Montessori. Kuisioner tersebut dikembangkan menjadi 10 pertanyaan untuk kuisioner untuk gueu dan 11 pertanyaan untuk kuisioner analisis kebutuhan guru. Pengembangan pertanyaan kuisioner analisis kebutuhan dapat dilihat pada tabel 3.7 halaman 48.
Sebelum kuisioner analisis kebutuhan digunakan, kuisioner tersebut divalidasi terlebih dahulu oleh ahli. Validasi kuisioner analaisis kebutuhan dilakukan dengan tujuan supaya instrument tersebut layak digunakan. Validasi yang dilakukan adalah validasi konstruk. Validasi konstruk dilakukan oleh para ahli yaitu ahli IPA, ahli bahasa dan guru SD setara. Pada validasi tersebut, para ahli memberikan penilai dan komentar, hal tersebut digunakan sebagai bahan perbaikan kuisioner. Kuisioner analisis kebutuhan akan diujikan keterbacaannya untutk ,engetahui tingkat pemahamam siswa terhadap kalimat pertanyaan pada kuisioner. Berikut ini merupakan hasil validasi analisis kebutuhan untuk guru dipaparkan dalam tabel 4.9.
78 4.9 Hasil Validasi Kuisioner Analisis Kebutuhan untuk Guru oleh Ahli
Ahli Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 4
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 4
Rerata 88 4
Berdasarkan hasil validasi kuisioner analisis kebutuhan guru oleh ahli pada tabel 4.9 diperoleh hasil rerata skor sebesar 4,00. Apabila dibandingakan dengan tabel 3.11 halaman 59, rerata skor tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Maka dari itu, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi kuisioner analisis kebutuhan guru oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 2.1 halaman 160 Setelah pedoman kuisioner analisis kebutuhan selsai divalidasi, kuisioner juga diberikan kepada guru SD setara untuk diuji keterbacaannya. Hasil uji keterbacaan kuisioner analisis kebutuhan untuk guru disajikan pada tabel 4.10
Tabel 4.10 Hasil Uji Keterbacan Kuisioner Analisis Kebutuhan untuk Guru
Ahli No. Item Total Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Guru 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 40 3,6
Berdasarkan hasil uji keterbacaan kuisioner anlisis kebutuhan untuk guru pada tabel 4.10 diperoleh skor 3,6. Apabila dibandingakan dengan tabel 3.11 halaman 59, rerata skor tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam
79 kategori sangat baik. Maka dari itu, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan.
Validasi Instrumen juga dilakukan oleh para ahli pada kuisioner analisis kebutuhan untuk siswa. Hasil validasi kuisioner analisis kebutuhan untuk siswa dituangkan dalam tabel 4.10.
Tabel 4.11 Validasi Kuisioner Analisis Kebutuhan untuk Siswa
Ahli Skor Item Pernyataan Total Rerata Kategori
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Montessori 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 4,0 Sangat Baik
IPA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 4,0 Sangat Baik
Rerata 40 4,0 Sangat Baik
Berdasarkan hasil validasi kuisioner analisis kebutuhan siswa oleh ahli pada tabel 4.11, didapatkan rerata skor 4,00. Apabila dibandingakan dengan tabel 3.11 halaman 59, rerata skor tersebut memiliki nilai lebih dari 2,50 dan termasuk dalam kategori sangat baik. Maka dari itu, instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. Lembar hasil validasi kuisioner analisis kebutuhan siswa oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 2.2 halaman 169.
Selain validasi instrumen oleh ahli, kuisioner analisis kebutuhan oleh siswa perlu diuji keterbacaannya. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa pada kalimat pertanyaan yang diberikan dalam kuisioner. Uji keterbacaan dilakukan kepada lima orang siswa SD N Tegalsari sebagai SD setara. Hasil uji keterbacaan disajikan pada tabel 4.12.
80 Tabel 4.12 Hasil Uji Keterbacaan SD Setara
Siswa Skor Item Pertanyaan Total Rerata Kategori 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 3 4 3 4 3 3 3 4 3 4 34 3,4 Sangat Baik 2 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 37 3,8 Sangat Baik 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 38 3,8 Sangat Baik 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 36 3,6 Sangat Baik 5 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 37 3,7 Sangat Baik Rerata 36,5 3,66 Sangat Baik Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat bahwa secara keseluruhan siswa memberikan penilaian berkisar 3 dan 4. Hasil penilaian dari kelima siswa tersebut menunjukkan bahwa rerata skor uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa sebesar 3,66 sehingga rerata penilaian tersebut termasuk dalam kategori sangat baik. Selain itu, siswa juga tidak memberikan saran secara tertulis pada kolom yang telah disediakan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa instrumen kuesioner analisis kebutuhan layak digunakan. Lembar hasil uji keterbacaan kusioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada lampiran 2.4 halaman 178.
4.1.1.2.4 Data Analisis Kebutuhan
Kuesioner analisis kebutuhan diberikan pada guru pada tanggal 3 November 2016. Kuesioner ini terdiri dari 11 pertanyaaan yang dikembangkan dari lima karakteristik ciri media pembelajaran Montessori. Berikut ini akan disajikan hasil rekapitulasi kuesioner analisis kebutuhan guru. Lembar hasil
81 pengisisan kuisioner analisis kebutuhan guru dapat dilihat pada lampiran 2.5 halaman 182. Berikut ini adalah tabel 4.12 rekapitulasi hasil kuisioner analisis kebutuhan untuk guru.
Tabel 4.13 Rekapitulasi Hasil Kuisioner Analisis Kebutuhan untuk Guru
Indikatorr Kalimat Pertanyaan
Respon-den
Presen-tase
Auto-education
1. Apakah Bapak/Ibu pernah