Selat Sunda
1.3 Potensi Lestari, JTB, Effort Optimum dan Tingkat Pemanfaatan
1.3.1 Ikan Demersal
Dengan mengplikasikan Model Produksi Surplus melalui model linier dari Schaeffer (1957) terhadap data tangkapan (catch) dan upaya (effort) tahun 2000-2011 pada sumberdaya perikanan demersal di WPP-RI 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda diperoleh nilai dugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 349.704 ton dengan upaya optimum (fopt.) sebesar 10.796 unit setara dogol (Gambar II-3). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya yaitu 279.763 ton. Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap tahun 2011 terdapat jumlah alat tangkap setara dogol sebesar 9.799 unit dengan produksi perikanan demersal sebesar 131.698 ton. Memperhatikan Gambar II-3, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan demersal di WPP-RI 571 sebesar 0,91 (indikator warna kuning), atau dalam tingkat pemanfaatan penuh (fully exploited).
24 2008 2007 2006 2005 200420102009 2011 MSY 2002 2003 2001 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 0 5000 10000 15000 20000 Pr oduks i ( To n) Upaya (Unit)
Gambar II-3. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumber daya ikan demersal di WPP 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda
Gambar II-3. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumber daya ikan demersal di WPP 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda
1.3.2. Ikan Karang
Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap jenis-jenis ikan yang digolongkan kedalam kelompok ikan karang antara lain: ekor kuning, ikan napoleon, kerapu, karang, kerapu bebek, kerapu balong, kerapu lumpur, kerapu sunu, dan beronang. Menggunakan Model Produksi Surplus melalui model linier dari Schaeffer (1957) terhadap data catch dan effort tahun 2000-2011 pada sumberdaya ikan karang ekonomis di WPP-RI 572 Samudera Hindia barat Sumatera dan Selat Sunda diperoleh nilai dugaan potensi lestari (Maximum
Sustainable Yield) sebesar 45.118 ton dengan upaya optimum (fopt.) sebesar 16.291 unit setara rawai dasar (Gambar II-4). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya sebasar 36.095 ton. Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap tahun 2011 terdapat jumlah setara rawai dasar sebanyak 5.349 unit dengan produksi ikan karang ekonomis sebesar 22.600 ton. Memperhatikan Gambar II-4, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan karang ekonomis di WPP-RI 572 sebesar 0,33 (indikator warna hijau), atau pada tingkat under exploited.
25
2001 2010 2002 20082009 2006 20032007 2004 2005 2011 MSY 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 Pr oduks i ( T on) Upaya (Unit)Gambar II-4. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumber daya ikan karang di
WPP-RI 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda
Gambar II-4. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumber daya ikan karang di WPP-RI 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda
2. Sumber Daya Udang Penaeid dan Lobster
2.1 Penyebaran/Daerah Penangkapan
Bagian II - Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 572
Barat Sumatera terdapat di sepanjang pantai barat provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Bengkulu, dengan daerah pemusatan penangkapan udang terdapat di perairan Meulaboh, Sibolga dan Air Bangis, masing-masing seluas 900 km2 serta perairan Mukomuko sampai Manna dengan luas 1.500 km2.
Udang karang (lobster), famili Palinuridae, adalah salah satu jenis udang yang hampir sepanjang hidupnya terdapat di daerah batu karang atau terumbu karang di sepanjang pantai dan teluk-teluk. Daerah penyebaran lobster terutama terdapat di Perairan sekitar Pulau Weh, Kelulauan Nias, Kepulauan Simeuleu dan Enggano, serta pantai barat antara Padang - Bengkulu.
2.2 Komposisi Jenis
Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap tahun 2012, komposisi jenis udang di WPP-RI 572 pada tahun 2011 didominasi oleh kelompok jenis udang dogol (Metapenaeus spp.) sebesar 48,6% dari total produksi udang penaeid yang besarnya 35.130 ton, diikuti oleh kelompok udang jerbung (P. merguiensis, P. indicus) 31,5%, udang krosok (Parapenaeopsis
spp.) 9,1%, udang windu (P. monodon, P. semisulcatus) 2,1% dan udang ratu (Penaeus sp.)1,8% (Gambar II-5).
Gambar II-5. Komposisi (%) jenis udang di WPP 572 Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan Selat Sunda
Jenis-jenis lobster yang terdapat di WPP-RI 572, antara lain lobster pasir (Panulirus
homorus), lobster batu (Panulirus penicillatus), lobster batik (Panulirus longipes), lobster
hijau (Panulirus versicolor), lobster bambu (Panulirus polyphagus), lobster mutiara (Panulirus ornatus). Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap, produksi lobster tahun 2011 di WPP-RI 572 sebesar 3.071 ton dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat sejak tahun 2006.
2.3 Potensi Lestari, JTB, Effort Optimum dan Tingkat Pemanfaatan
2.3.1 Udang Penaeid
Dengan Model Produksi Surplus melalui model linier dari Fox (1970) terhadap data catch dan effort udang penaeid tahun 2000-2011 di WPP-RI 572 diperoleh nilai dugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 7.979 ton dengan upaya optimum (fopt.) sebesar 3.704 unit setara dogol (Gambar II-6). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya atau sebesar 6.383 ton. Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap tahun 2011, jumlah alat tangkap setara dogol sebesar 6.259 unit dengan produksi udang sebesar 8.724 ton. Memperhatikan Gambar II-6, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya udang penaeid di WPP-RI 572 pada tahun 2011 sebesar 1,7 (indikator warna merah), atau sudah melebihi potensi lestarinya.
Gambar II-6. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumber daya udang penaeid di WPP 572 Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan Selat Sunda
Bagian II - Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 572
2.3.2 Lobster
Dengan mengaplikasikan Model Produksi Surplus melalui korelasi linier dari Schaeffer (1957) terhadap data catch dan effort tahun 2000-2011 pada sumberdaya lobster di WPP-RI 572 diperoleh nilai dugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 1.337 ton dengan upaya optimum (fopt.) sebesar 6.071 unit setara jaring insang tetap (Gambar II-7). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya atau sebesar 1.070 ton. Berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap tahun 2010, jumlah setara jaring insang tetap sebanyak 5.759 unit dengan produksi lobster 1.304 ton. Memperhatikan Gambar II-7, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya lobster di WPP-RI 572 sebesar 0,9 (indikator warna kuning), atau dalam kondisi fully exploited.
Gambar II-7. Kurva hubungan antara produksi dan upaya sumberdaya perikanan lobster di WPP 572 Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda
2.4 Indikator Perikanan dan Biologi
Ukuran panjang karapas udang penaeid dan lobster yang tertangkap (Lc) di perairan Samudera Hindia barat Sumatera lebih kecil dari ukuran matang gonad (Lm). Nilai E dari hasil analitik juga menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya udang sudah melebihi potensi lestarinya. Dalam jangka panjang kondisi ini akan semakin mengancam kelestarian sumberdaya udang penaeid dan lobster karena terhambatnya proses rekruitmen.