• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN KONSEPTUAL

C. Kota Brebes

2. Potensi Obyek Wisata

1) Pantai Randusanga Indah

Obyek wisata Pantai Randusanga Indah (PAR-IN) terletak di Kelurahan Randusanga Wetan, Kabupaten Brebes, berjarak ± 6 Km

dari Kota Brebes yang ditempuh dalam waktu 15 menit dari pertigaan Sungai Sigeleng. Perjalanan menuju pantai Randusanga Indah diantaranya akan melewati agrowisata peternakan bebek yang merupakan salah satu sentra penghasil telur asin di Kabupaten Brebes.

Pantai Randusanga Indah memanjang sejauh 2 Km, dengan luas area sekitar 30 Ha. Adapun pembagian lahannya adalah sebagai berikut :

(a) Area wisata anak-anak yang dilengkapi dengan panggung gembira anak, kolam becak air, dan aneka mainan anak-anak.

(b)Area wisata remaja dan dewasa yang dilengkapi dengan bangunan pendopo, panggung hiburan terbuka, kafe, dan direncanakan dibangun gedung olahraga (volley ball, senam) aquarium raksasa, jetcycle, arung jeram, kebun binatang mini, panjat tebing, dsb.

(c) Area wisata bahari, yang sudah dilengkapi dengan anjungan, dan direncanakan akan dilengkapi dengan kolam pancing laut, perahu wisata, dsb.

(d)Tempat istirahat, yang berupa hotel atau motel yang dilengkapi dengan kolam renang, serta bumi perkemahan.

(e) Area grasstrack yang direncanakan seluas 10 Ha, atau sepanjang 600 m sepanjang pantai (BAPPEDA, Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Brebes).

Gambar 2.5 Pantai Randusanga Indah 2) Waduk Malahayu dan Waduk Penjalin

Waduk Malahayu merupakan waduk yang dibuat khusus untuk pengairan sawah. Waduk yang berada di Kecamatan Banjarharjo 12 km sebelah selatan Kota Tanjung (daerah perbatasan Brebes-Cirebon), dan 40 Km dari Kota Brebes merupakan obyek wisata air dengan beberapa pulau kecil di tengah waduk serta panorama alam yang sangat indah menjadi lokasi favorit para pengunjung. Waduk Malahayu mulai dibangun pada tahun 1934 sampai dengan tahun 1937 dan direnovasi pada tahun 1974 oleh Posida Sub Proyek Pemali Comal. Waduk ini menampung aliran dari Sungai Kebuyutan dan beberapa sungai kecil. Waduk Malahayu ini dikelola oleh PSDA Jawa Tengah bekerja sama denagn Dinas Pariwisata, dan juga Dinas Perhubungan Propinsi Jawa

Tengah. Selain menjadi lokasi favorit karena pengunjung dimanjakan dengan area pemancingannya, di sekitar waduk Malahayu juga dapat dijumpai beberapa peternak atau pemelihara keramba, serta pengrajin keramik khas Malahayu.

Gambar 2.6 Waduk Malahayu di Kecamatan Banjarharjo

Gambar 2.7 Peta Lokasi Obyek Wisata di Pesisir Utara Kabupaten Brebes

Waduk penjalin yang teletak di desa Winduaji Kecamatan Paguyangan menyuguhkan berbagai keindahan alam. Tersedianya

fasilitas perahu dayung untuk berkeliling di sekitar danau dan tempat pemancingan dengan sajian khas ikan tawarnya.

Gambar 2.8 Waduk Penjalin di Kecamatan Paguyangan 3) PAP Cipanas Buaran

Pemandian air panas Cipanas Buaran yang dibangun tahun 1976 ini berlokasi di desa Pangebatan Kecamatan Bantarkawung dan berjarak tempuh sekitar 70 km dari ibukota kabupaten serta 6 km dari kota Bumiayu ini memiliki luas kawasan hanya 1 hektar saja. PAP Cipanas dibuka pada tahun 1985 dengan memperkerjakan 4 orang. Mulai tahun 1981, pengelolaan Cipanas diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes, kemudian direnovasi pada tahun 2000.

Obyek wisata Cipanas ini yang berada di bagian selatan Brebes ini, tepatnya 6 km sebelah barat Bumiayu memiliki beberapa fasilitas yang dapat digunakan diantaranya antara lain :

(a) Kolam renang mini dan tempat bermain anak-anak. (b) Gazebo

(c) Penginapan dengan 5 kelas kamar melati. (d) Mushola

(e) Tempat parkir

(f) 10 kamar mandi biasa dan 4 kamar mandi VIP.

Tabel 2.4

Lama Waktu Perjalanan yang diperlukan dalam mencapai lokasi antar obyek wisata

Antar Obyek Wisata Jarak Kecepatan Waktu Tempuh (Km) Kendaraan (Jam) (Menit)

Parin-Waduk Malahayu 40 40 1.0 60 Malahayu-PAP Cipanas 70 40 1.8 105 PAP Cipanas-PAP Kedungoleng 17 20 0.9 51 PAP Kedungoleng-Waduk Penjalin 8 20 0.4 24 Waduk Penjalin-Telaga Ranjeng 10 5 2.0 120 Telaga Ranjeng-Agro Kaligua 2.5 5 0.5 30

Sumber : Laporan ANTARA BAPPEDA

Gambar 2.9 Peta Lokasi Obyek Wisata di Wilayah Selatan Kabupaten Brebes

PAP Cipanas Buaran terletak di dukuh Buaran, Desa Pangebatan, Kecamatan Bantarkawung. Jumlah karyawan PAP Cipanas ada 5 orang

yang terdiri dari 2 orang PNS, dan 3 orang lainnya merupakan karyawan kontrak dari masyarakat desa Pangebatan. Ketiga karyawan kontrak tersebut berperan sebagai tenaga kebersihan, keamanan, dan petugas karcis. Pembagian pendapatan antara pemda dengan desa adalah 90% untuk pemda, dan 10% untuk desa dari pendapatan bersihnya.

Gambar 2.10 Obyek Wisata PAP Cipanas Buaran

Suhu dari air panas alami yang berada di Cipanas ini adalah 300 - 400 C. Sumber air panas yang ada di Cipanas ini memiliki 5 titik dengan air hangat yang dikeluarkan mengandung belerang sehingga baik untuk menyembuhkan kulit. Daya tarik wisata dengan pemandangan pegunungan hutan pinus yang masih asri serta atraksi yang ada di PAP Cipanas seperti kafe, karoke, pemandian air panas untuk dewasa dan anak-anak, penginapan untuk pengobatan, dan kios-kios makanan menjadi daya tarik untuk berwisata di tempat ini. Jenis angkutan umum yang menuju PAP Cipanas Buaran ini adalah angkutan umum berjenis mikrolet yang menghubungkan desa Pangebatan dengan jalan arteri

sepanjang 7 Km. Akan tetapi mikrolet ini tidak sampai pada lokasi ini, sehingga pengunjung yang datang harus melanjutkan perjalanan dengan ojek dari Buaran ataupun andong atau delman.

4) PAP Titra Husada

Obyek wisata ini pertama kali ditemukan oleh Raksa Wijaya pada tahun 1837 dan mulai dibangun oleh pemerintah Kabupaten Brebes pada tahun 1976, serta direnovasi dengan penambahan berbagai sarana dan prasarana pada tahun 2003. Lokasi obyek wisata ini terletak di desa Kedungolen, Kecamatan Paguyangan dengan jarak tempuh 75 Km dari ibukota kabupaten, dan 6 Km dari ibukota kecamatan, serta 12 Km dari Kota Bumiayu. Luas kawasan wisata ini hanya 1.8 hektar saja dengan fasilitas yang dibangun di atas area ini antara lain :

(a) Pemandian air panas dengan 9 kamar mandi umum dan 2 kamar VIP. (b) Kolam renang anak-anak.

(c) Gasebo

(d) Warung makan dan jajanan khas Brebes. (e) Tempat parker

(f) Mushola

Pengunjung PAP Tirta Husada ini adalah masyarakat di sekitar saja, sedangkan yang dari luar daerah masih jarang. Pengunjung dari luar daerah ini kebanyakan berasal dari Purwokerto, Cilacap, dan Purbalingga. Pembagian pendapatan di PAP Tirta Husada adalah 10%

dari target adalah hak desa (mulai tahun 2003), sedangkan sisanya untuk dinas pariwisata.

Gambar 2.11 Kolam Renang Tirta Husada 5) Telaga Renjeng

Telaga Renjeng dikelilingi oleh perkebunan pinus, sekitar 5 Km dari Perkebunan Th Kaligua. Telaga renjeng ini merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Direktorat Jendral Kehutanan Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Tengah sub seksi KSDA Pekalongan, dan digunakan untuk kepentingan aistesis penunjukan local decree. Telaga Renjeng merupakan cagar alam sesuai dengan SK NO. 25 Gubernur Besluit tanggal 11 Januari 1925, dengan potensi ekosistem dataran tinggi.

Tanah di sekitar telaga ini merupakan tanah gambut yang luasnya mencapai 48.25 Ha. Di telaga ini terdapat ribuan lele Clarius Meladoderma yang sangat jinak dan biasanya para wisatawan yang datang membawa makanan seperti roti guna diberikan kepada lele-lele

tersebut. Ada beberapa kepercayaan yang mengatakan bahwa lele-lele tersebut adalah lele pembawa keberuntungan jika pengunjung memberi lele-lele tersebut makan. Bahkan tidak jarang orang yang datang untuk menyepi di Telaga Renjeng dan memberi makanan lele disana.

Gambar 2.12 Telaga Renjeng 6) Agrowisata Kaligua

Lokasi Perkebunan Teh Kaligua terletak di jalur Bumiayu-Ajibarang, tepatnya sekitar 15 Km dari Simpang Tiga Desa Kretek menuju kearah timur. Kebun Teh Kaligua ini terletak pada ketinggian 1400-2050m dpl. Di obyek wisata ini terdapat 2 homestay yang dilengkapi dengan meja billyard untuk para wisatawan yang ingin menginap. Pengelolaan terhadap obyek wisata di Kaligua ini masih belum dipisahkan dengan pengelola perkebunan PTPN IX. Beberapa orang pegawai dari PTPN IX (4 orang) telah mengikuti pelatihan pemandu wisata, dan pegawai perkebunan Teh Kaligua ini 100% merupakan masyarakat setempat. Agrowisata Kaligua ini merupakan

bentuk kerjasama antara Dinas Pariwisata dengan pihak PTPN IX dan pendapatan yang diperoleh dibagi menjadi tiga bagian, yaitu 10% untuk desa, 30% untuk Dinas Pariwisata, dan 60% untuk PTPN IX yang memiliki hak atas pengolahan lahan teh. Luas perkebunan the Kaligua mencapai 600 Ha dan hanya 500 Ha saja lahan yang dapat ditanami teh.

Tabel 2.5

Jarak Setiap Obyek Wisata Yang ada Di Agro Wisata Kaligua Dari Pintu Gerbang Utama (Main Entance)

No. Lokasi Agro Wisata Jarak (meter)

1 Petilasan Nyi Ronggeng 150

2 Pertapaan Goa Barat 1750

3 Home Stay I 500

4 Home Stay II 500

5 Bumi Perkemahan 525

6 Lapangan Tenis 550

7 Areal Out Bound Games I

Luncuran (Sliding Rope)

Boom Remover

Spider Net

650

8 Pabrik Pengolahan Teh 700

9 Gedung Pertemuan 675

10 Makam Van Dee Jong 800

11 Panorama BH (Soka) 1900

12 Makam Mbah Joko 1500

13 Mata Air Tuk Bening 2100

14 Areal Outbound Games II

Titian di atas samudera

Pipa bocor

2000

15 Goa Jepang 2400

16 Petilasan Mbah Gelung 4000

17 Puncak Sakub (2050 m dpl) 4000

Sumber : Data PTPN 2004-2009

Di perkebunan teh Kaligua ini terdapat beberapa area obyek wisata yang sangat menarik diantaranya sebagai berikut :

(a) Makam Van De Joong, Van De Joong adalah pendiri perkebunan teh Kaligua. Makam Van De Joong terletak pada salah satu puncak bukit

di kompleks pegunungan Kaligua. Selain makam Van De Joong terdapat pula makam-makam tua lainnya di sekitar kompleks ini, dan dari kompleks makam ini dapat terlihat pemandangan yang berupa kompleks perumahan pegawai yang juga merupakan penduduk dari Desa Kaligua tersebut.

(b) Petilasan Nyi Ronggeng, yang terletak di area pintu masuk Perkebunan Teh Kaligua.

(c) Tuk Bening, adalah sumber mata air yang sangat jernih, sehingga sungai yang mengalirkan air dari sumber air ini terlihat derasnya. Pada area ini terdapat sarana untuk outbond game, yang biasanya digunakan para siswa sekolah yang hiking maupun masyarakat sekitar untuk memperingati HUT kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus.

(d) Gua Jepang, adalah sebuah terowongan yang dijadikan tempat persembunyian tentara Jepang pada masa perang dengan sekutu. Di dalam terowongan ini terdapat sekitar 14 kamar yang digunakan para tentara Jepang untuk berlindung. Dalam setiap kamar ini dahulunya terdapat tempat tidur dan perlengkapan seperti meja kursi dan beberapa perlengkapan perang.

(e) Puncak Sakub, adalah puncak tertinggi yang terdapat di area Perkebunan Teh Kaligua. Puncak Sakub ini terdapat pada ketinggian 2050 m dpl. Selain obyek-obyek diatas juga disediakan paket kunjungan wisata yang ada juga menyediakan kunjungan ke pabrik

untuk melihat proses pengolahan teh dan kunjungan ke kebun untuk melihat proses pembibitan dan penanaman.

Gambar 2.13 Area Perkebunan Teh Kaligua

Gambar 2.14 Obyek Wisata Tuk Bening di Kaligua Fasilitas yang terdapat di Agro Wisata Kebun Teh Kaligua adalah sebagai berikut :

a) Homestay (wisma Dahlia, wisma Anggrek, dan Kenanga) b) Lapangan Volley

c) Lapangan Tenis d) Areal Camping e) Meja Bilyards

b. Wisata Boga

Kabupaten Brebes merupakan penghasil telur asin terbesar di Jawa Tengah. Cara pembuatan yang unik yakni dengan cara rebus dan panggang membuat cita rasa telur asin bebek ini semakin diminati para pembeli yang tak hanya dari masyarakat Brebes dan sekitarnya, namun juga dari luar pulau pun ikut mengkonsumsi telur ini. Produk unggulan yang disajikan di Kota Brebes selain telur asin adalah bawang merah dengan kualitas eksport. Setiap tahun bawang merah diproduksi dan tidak mengenal masa musim dalam setiap panen. Salah satu ciri bawang merah dari Kabupaten Brebes adalah umbinya yang tidak terlalu banyak mengandung air. Meski Brebes terkenal akan air yang melimpah , akan tetapi bawang merah yang ditanam hanya sedikit mengandung air. Sentra oleh-oleh dua wisata boga ini hanya terdapat di sepanjang wilayah protokol jalur pantura saja dan beberapa kios sentra oleh-oleh yang hanya terdapat di Brebes saja.

Jika memasuki wilayah Brebes Selatan seperti Paguyangan, Salem dan Bumiayu, maka di sana akan banyak dijumpai beragam khas aneka tape mulai dari yang berbahan ketan putih hingga berbahankan singkong. Pembuatan yang difermentasikan terlebih dahulu selama ± 4 hari dan dibungkus dengan daun jambu air terasa memikat hati.

Warnanya yang berubah menghijau dengan sendirinya karena hasil peragian menambah daya tarik pembeli. Tak hanya itu, sate blengong yang merupakan hasil perkawinan silang antara bebek dan entok menjadi primadona ketiga setelah telur asin dan bawang merah. Sate blengong biasa disajikan dengan opor kupat sayur kuning dan bisa dijumpai di pelosok wilayah Brebes.

Tabel 2.6

Sentra Industri yang ada di Kabupaten Brebes No. Jenis Industri Letak Jumlah Unit Usaha Kapasitas Produksi (per tahun) Keterangan

1 Telur Asin Kecamatan Wanasari Kecamatan Bulakamba Kecamatan Brebes Kecamatan Jatibarang 57 unit 13.420.000 butir Pemasaran sudah mencapai Semarang, Bandung, dan Jakarta 2 Tape Ketan Daun Jambu

Kecamatan Salem - - Dipasarkan di pasar tradisional 3 Bawang Goreng Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes 6 unit 5.6 ton -

4 Rebana Desa Kaliwadas Kecamatan Bumiayu

70 unit 309.600 set Sudah diekspor ke Malaysia, Brunai

Darussalam, dan Saudi Arabia 5 Keramik Desa Malahayu,

Desa Siwuluh Kecamatan Bulakamba, Desa Tanjung Kecamatan Tanjung 5 unit 42.400 buah -

6 Batik Tulis Kecamatan Salem 160 unit 4.760 potong

- Sumber : Indikator Ekonomi Kabupaten Brebes 2008

Makanan alternatif yang sedang digalakan oleh pemerintah Kabupaten Brebes saat ini adalah bandeng lumpur yang terdapat di obyek wisata Pantai Randusanga. Penyajian bandeng yang dilumuri dengan lumpur ini baik dikonsumsi orang yang mengidap penyakit darah tinggi dan jantung karena bandeng memiliki kadar kolesterol rendah dan lumpur membuat lemak tersebut menjadi seperti minyak saat proses pemanggangan berlangsung.

c. Wisata Budaya

Setiap daerah memiliki kesenian yang berbeda-beda terutama di Kabupaten Brebes yang daerahnya berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Barat. Kabupaten Brebes memiliki beberapa kesenian seperti pengantin tebu, buroq, dan sisingaan.

Perkawinan merupakan simbol kehidupan yang berkesinambung-an. Setelah menikah, manusia akan mempunyai keturunan begitu juga dengan pabrik gula (PG). Dengan mengawinkan tebu, mereka percaya PG akan langgeng dan terus berkembang (Kompas Mahasiswa UNNES, 2008:22).

Ki Lengser merupakan tokoh kenamaan dari Jawa Barat. Karena Brebes berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Barat, maka tidak heran tokoh ini akrab di telinga masyarakat Brebes. Tokoh ini sering ditampilkan dalam galura (upacara adapt berasal dari sunda) untuk “mapag pengantin” (menyambut pengantin). Bukan hanya itu, tokoh ini juga kerap menyambut kedatangan pejabat atau tamu negara.

Tokoh ini digambarkan dengan sosok lelaki tua yang mengenakan sorban, celana panjang (celana kolor berwarna hitam yang biasa digunakan oleh petani pedesaan), totopong (ikat kepala), dan sarung yang diselempangkan. Ia adalah sosok yang dituakan sebagai panutan masyarakat, dan simbol penasihat dalam pernikahan. Tokoh ini mempunyai peranan yang penting sebab tokoh inilah yang nantinya memberi arahan dalam upacara pengantin tebu.

Konon upacara adat ini lahir seiring berdirinya PG-PG (pabrik gula) di pulau Jawa. Prosesi acara selamatan pertama dilakukan selama empat hari menjelang upacara tujuannya adalah untuk memilih tebu yang akan diarak saat upacara. Keesokan harinya, tebu yang telah dipotong lalu dibalut kertas berwarna, dan diberi nomor pada tiap batangnya sesuai kualitas dan perannya. Biasanya tebu yang terbaik dijadikan sebagai indung tebu (induk tebu). Adapun cirinya adalah sisinya mulus, bebas penyakit, panjang, dan berdiameter maksimal.

Dua hari kemudian, selamatan diadakan yang diisi dengan aneka tumpeng (nasi kuning berbentuk kerucut dan dikelilingi oleh kacang tanah goring, kentang, suwiran ayam dan lain-lain). Ketujuh belas tebu yang telah dihias lalu diarak keliling desa dengan diiringi buroq (serupa barongsai dari China tetapi berkepala manusia, dan bersayap serta berbadan hewan berkaki empat. Acara pernikahan tebu diakhiri dengan sisingaan (singa yang diangkat oleh empat orang dengan satu

penumpang menaiki singa) dengan menyerahkan pengantin tebu yang terdiri dari tebu indung, tebu laki-laki, dan tebu perempuan.

Dokumen terkait