DESKRIPSI KAWASAN A. Risalah Wilayah KPH
9. Potensi Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Potensi pertanian tanaman pangan dan perkebunan di sekitar wilayah KPH tergolong besar. Berdasarkan data lahan pertanian dari dua wilayah kabupaten, pertanian sawah irigasi potensial mencapai luas 20.327 ha dan fungsional 12.841 ha. Selanjutnya untuk lahan perkebunan, kelapa sawit menempati areal terluas yaitu mencapai luas 28.836 ha, diikuti areal perkebunan kakao seluas 9.957 ha dan kelapa dalam dengan luas 6.410 ha. Untuk lebih jelas seperti pada Tabel 2.15 di bawah ini.
Tabel 2.15. Potensi Lahan Pertanian di Sekitar Wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) No. Kabupaten Sawah Irigasi (Ha) Perkebunan (Ha) Poten- sial Fung-sional Kelapa dalam Kelapa hibrida Kelapa
Sawit Kakao Cengkeh Jambu
mete Kemiri Kopi Sagu
1. Banggai Toili 5.193 3.568 333 290 8.153 2.016 18 24 - 40 - Toili Barat 6.081 3.398 146 37 3.362 285 3 80 - 10 3 Moilong 3.417 1.777 181 - 2.733 273 1 6 - 8 - Batui 1.200 890 1.366 - 10.833 1.370 4 43 - 4 - Batui selatan 3.588 2.359 666 - - 3.070 9 2 - 168 - Luwuk selatan - - 213 - - 18 - - - 6 - Nambo - - 1.951 - - 412 26 20 77 51 12 Kintom - - 1.182 - - 299 15 288 105 19 29 Jumlah (1) 19.479 11.993 6.038 327 25.081 7.743 76 463 182 306 44 2. Morowali Utara Mamosalato 257 257 111 - 2.744 515 - - - 64 - Bungku Utara 591 591 261 - 1.011 1.699 130 12 - 6 - Jumlah (2) 848 848 372 - 3.755 2.214 130 12 - 70 - Jumlah (1+2) 20.327 12.841 6.410 327 28.836 9.957 206 475 182 376 44
Pada Tabel 2.15 tampak bahwa daerah irigasi sawah terluas berada di wilayah Kabupaten Banggai. Daerah irigasi di wilayah tersebut adalah irigasi Singkoyo, Tolisu, Sindangsari, Moilong, Toili, Topo, Mantawa, Rata, Bakung dan Sinorang. Umumnya irigasi tersebut memanfaatkan aliran air dari kawasan hutan KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX).
Selanjutnya potensi peternakan dan perikanan di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) sebagian besar besar berada di wilayah Kabupaten Banggai. Untuk bidang peternakan, jenis ternak besar yang banyak diusahakan penduduk adalah Sapi. Untuk bidang perikanan darat, jenis usaha yang ada adalah usaha pertambakan udang dan ikan, sedangkan pada usaha perikanan kolam banyak diusahakan penduduk jenis ikan mas dan ikan nila. Untuk jelasnya seperti pada Tabel 2.16.
Tabel 2.16. Potensi Peternakan dan Perikanan di Sekitar Wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX)
No. Kabupaten Peternakan (Ekor) Perikanan darat (Ha)
Sapi Kuda Kambing Babi Unggas Tambak Kolam
1 Banggai Toili 6.004 2 489 3.660 199.276 - - Toili Barat 6.132 - 3.954 14.146 113.005 1 3 Moilong 3.518 258 2.062 86.511 - 8 Batui 2.224 36 531 215 67.107 218 Batui selatan 1.578 - 937 392 182.197 2 - Luwuk selatan 247 - 450 107 77.017 - - Nambo 626 - 1.141 271 195.192 - - Kintom 1.310 - 2.387 567 408.467 - 1 Jumlah (1) 21.639 38 10.147 21.420 1.328.772 220 11 2 Morowali Utara Mamosalato 2.445 - 522 300 10.753 - - Bungku Utara 1.839 - 1.516 965 21.322 - - Jumlah (2) 4.284 - 2.038 1.265 32.075 - - Jumlah (1+2) 25.923 38 12.185 22.685 1.360.847 220 11
Sumber: BPS Kabupaten Tahun 2014.
Pada Tabel 2.16 tampak bahwa jenis ternak besar yang ada di sekitar wilayah KPH adalah Sapi, Kuda, Kambing, Babi dan Unggas. Jenis unggas terdiri atas ; Ayam buras, Ayam ras dan Itik. Potensi pengembangan ternak
Sapi terbesar berada di Kecamatan Toili, Toili Barat dan Moilong. Sedangkan usaha tambak terluas berada di Kecamatan Batui.
Memperhatikan potensi ternak yang ada, tampaknya belum terdistribusi merata di setiap wilayah kecamatan. Demikian juga untuk usaha perikanan darat. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengelola KPH terutama pada wilayah kecamatan yang masih sedikit usaha peternakan dan perikanan darat. Untuk usaha peternakan KPH dapat memanfaatkan lahan-lahan hutan gundul untuk pengembangan usaha silvopastural, sedangkan usaha perikanan darat dapat mengembangkan usaha silvofisheri di kawasan mangrove di dalam wilayah tertentu KPH.
C. Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat 1. Kependudukan
Secara administratif KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) berada pada tiga wilayah kabupaten yaitu ; Kabupaten Banggai, Kabupaten Morowali Utara dan Kabupaten Tojo Una Una. Di Kabupaten Banggai terdapat sebanyak 8 (delapan) kecamatan yaitu ; Kecamatan Luwuk Selatan, Nambo, Kintom, Batui, Batui Selatan, Moilong, Toili dan Toili Barat. Di Kabupaten Morowali Utara terdapat 2 (dua) kecamatan yaitu ; Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato. Sedangkan di Kabupaten Tojo Una Una meliputi 2 (dua) kecamatan, yaitu : Kecamatan Ampana Tete dan Ulubongka. Jumlah desa/kelurahan seluruhnya mencapai 180 buah.
Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan desa dalam wilayah Kabupaten Tojo Una Una, di wilayah KPH bagian Utara terdapat empat desa
yang berbatasan langsung dengan wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) yaitu ; Desa Uematopa (Uetangko), Bulan jaya, Girimulyo dan Wanasari. Di Kabupaten Morowali Utara terdapat 37 desa/kampung/UPT transmigrasi, dan sebanyak 6 desa/kampung/UPT transmigrasi yang berada diantara wilayah KPH yaitu Winangabino, Sea, Lijo (parambah), Rompi dalam wilayah Kecamatan Mamosalato, serta Salubiro dan Lemowalia yang berada di dalam wilayah Kecamatan Bungku Utara.
Di wilayah Kabupaten Banggai sebanyak 139 desa/kelurahan yang tersebar pada delapan wilayah kecamatan (Luwuk Selatan, Nambo, Kintom, Batui, Batui selatan, Moilong, Toili dan Toili Barat). Tidak semua desa/keluruhan tersebut berbatasan langsung dengan wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX), namun memiliki ketergantungan terhadap sumber-sumber air yang bersumber-sumber dari wilayah KPH.
Desa-desa/perkampungan yang berbatasan langsung dengan wilayah KPH yaitu : Rata, Mantawa, Dongin, Kamiwangi, Tolisu, Makapa, Singkoyo, Toili, Tumpujaya, Ombolu, Ondo-Ondulu, Kalalos, Padang, Kintom, Mendono, Nambo, Maahas, Hanga-hanga dan Bubung.
Desa-desa yang berbatasan langsung/berdekatan dengan wilayah KPHP Model Toili Barutube (Unit XIX) dalam wilayah Kabupaten Morowali Utara : (1) Di wilayah Kecamatan Bungku Utara yaitu; Baturube, Siliti, Ueruru, Tirongan Atas, Tirongan Bawah, Woomparigi, Tambarobone, Uemasi, Kalombang, Tanakuraya, Opo, dan Boba. (2) Di wilayah Kecamatan Mamosalato seperti Kola Atas, Kolo Bawah, Tanasumpu, Pandauke,
Tambale, Girimulya, Momo, Parangisi, Uepakatu, dan Tananagaya. Keadaan jumlah dan kepadatan penduduk pada dua wilayah kabupaten disajikan pada Tabel 2.17 di bawah ini.
Tabel 2.17. Keadaan Penduduk Kecamatan di Sekitar Wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX)
No. Kecamatan Luas Wilayah
(Km²) Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah KK Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) I. Kabupaten Banggai
1 Luwuk dan hasil pemekaran,
Nambo (37 desa/kelurahan) 518.40 75.271 19.107 145
2 Kintom (19 desa) 518.72 13.264 3.300 26
3 Batui (14 desa) 1063,36 14.997 3.697 14
4 Batui selatan (10 desa) 327,97 13.085 3.232 40
5 Toili (25 desa) 761,31 31.287 7.933 41
6 Moilong (17 desa) 221,62 18.432 4.592 83
7 Toili barat (17 desa) 993.67 21.091 5.072 21
II. Kabupaten Tojo Una Una
1 Ulubongka*: Uematopa* 360,00 2.649 480 7
2 Ampana Tete: Bulan jaya*,
Girimulyo*, Wanasari 108,00 3.224 849 30
III. Kabupaten Morowali Utara
1 Bungku Utara (20 desa) 2.406,00 15.252 3.636 6
2 Mamosalato (14 desa) 1.480,00 10.656 2.644 7
Jumlah 8.758,55 219.208 54.542 25
Sumber : Dianalisis dari Data BPS Kabupaten Banggai, Tojo Una Una, Morowali Utara Tahun 2013/2014. *) Desa dan kecamatan yang berada di luar wilayah KPH berdasarkan administrasi kabupaten, namun memiliki pengaruh cukup besar bagi eksistensi kawasan hutan di bagian Utara KPH.
Data pada Tabel 2.17 dihitung dari tingkat pertumbuhan penduduk kabupaten sejak tahun 2006 sampai tahun 2010. Dari perhitungan tingkat pertumbuhan diketahui terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 1,2% per tahun untuk Kabupaten Banggai dan 1,09% untuk Kabupaten Morowali Utara.
Dari hasil perhitungan jumlah penduduk di sekitar wilayah KPH hingga akhir tahun 2013 tercatat sebanyak 200.274 jiwa atau sebanyak 51.027 KK., sex rasio 104, rata-rata penduduk per RT sebanyak 4 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk 23 jiwa/km2.
a. Tekanan Penduduk
Tekanan penduduk adalah indeks yang dimaksudkan untuk menghitung dampak penduduk di lahan pertanian terhadap lahan tersebut. makin besar jumlah penduduk makin besar pula kebutuhan akan sumberdaya, sehingga tekanan terhadap sumberdaya juga meningkat. Dengan kualitas penduduk yang rendah, kenaikan tekanan terhadap sumberdaya akan meningkat sebanding dengan kenaikan jumlah penduduk. Salah satu permasalahan kependudukan adalah ledakan penduduk yang akan dapat berakibat timbulnya permasalahan pemukiman, lapangan kerja, pendidikan, pangan dan gizi, kesehatan dan mutu lingkungan.
Berdasarkan hasil survei Sosekbud Tim BPKH Wilayah XVI Palu tahun 2014, dilaporkan bahwa tingkat tekanan penduduk dalam 10 tahun ke depan sebesar 0,82 (kategori rendah). Di wilayah ini terdapat dua desa dengan nilai tekanan penduduk tinggi yaitu Desa Salubiro 3,80 (tinggi) dan Desa Babang Buyangge 2,84 (tinggi). Desa dengan tingkat tekanan penduduk terendah (0,01) adalah Lembah Keramat. Selanjutnya berdasarkan rata-rata luasan lahan yang diasumsikan dapat hidup layak adalah 0,65 ha/jiwa, dimana nilai tertinggi dicapai oleh Desa Hanga-hanga, Nambolempek, Lembah Keramat dan Lemowalia. Nilai terendah dicapai oleh Desa Kolo Atas dan Desa Lemo yakni sebesar 0,50 ha/jiwa.
Tingginya tekanan penduduk pada kawasan hutan wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) dalam sepuluh tahun ke depan, disebabkan oleh banyaknya penduduk yang berprofesi petani sementara lahan pertanian
yang tersedia sangat terbatas. Sebaliknya tekanan penduduk dikateogrikan rendah apabila profesi penduduk petani sedikit, sementara ketersediaan lahan pertanian luas.
b. Daya Dukung Lahan
Daya dukung lahan berbanding terbalik dengan tekanan penduduk terhadap lahan pertanian. Dari hasil survei Tim Sosekbud BPKH wilayah XVI Palu tahun 2014, diketahui desa-desa di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) memiliki daya dukung lahan tinggi dan rendah. Secara umum daya dukung lahan memiliki nilai daya dukung lahan tinggi yaitu sebesar 10,26. Desa Lembah Keramat memiliki daya dukung tertinggi yaitu 151,77. Desa dengan daya dukung lahan terendah dengan nilai 0,26 adalah Desa Salubiro, diikuti Desa Babang Buyangge dengan nilai 0,35, Desa Tanakuraya (0,88) dan Desa Kolo Atas (0,96).
c. Kegiatan Dasar Wilayah
Indeks kegiatan dasar wilayah digunakan untuk menentukan sektor ekonomi yang paling berpengaruh terhadap penduduk di wilayah tertentu. Indeks kegiatan dasar wilayah menggunakan rumus :
LQi : (Mi/M)/(Ri/R)
Keterangan :
LQi : Koefisien Lokasi;
Mi : Jumlah tenaga kerja yang terlibat di dalam sektor I pada satu wilayah pengembangan;
M : Jumlah tenaga kerja yang ada di satu wilayah pengamatan tersebut;
Ri : Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam sektor i pada seluruh wilayah pengamatan;
R : Jumlah tenaga kerja yang ada di seluruh wilayah pengamatan (R = R1 + R2 + R3 ...+ Rn).
LQi dapat bernilai <1 atau >1, apabila LQ untuk sektor pertanian ternyata >1 berarti sektor pertanian sangat penting dan masyarakat sangat tergantung pada sektor tersebut.
Dari hasil analisis nilai LQ wilayah kecamatan di sekitar KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) dalam sepuluh tahun ke depan, diketahui bahwa sektor pertanian masih akan menjadi sangat penting dengan nilai LQ = 1,05, sedangkan sektor bukan pertanian nilai LQ = 0,78. Meskipun demikian, kecamatan di wilayah Kabupaten Banggai dalam sepuluh tahun ke depan kemungkinan sektor pertanian akan digantikan posisinya oleh sektor bukan pertanian karena nilai LQ sektor bukan pertanian (1,04) dan sektor pertanian (0,99). Adapun kecamatan pada dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Tojo Una Una dan Kabupaten Morowali Utara, sektor pertanian dalam sepuluh tahun ke depan masih menjadi sektor sangat penting karena nilai LQ (1,05-1,11) dan sektor bukan pertanian LQ (0,52-0,78).
Adanya beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Banggai dengan nilai LQ<1 bagi sektor pertanian antara lain disebabkan oleh masuknya Kecamatan Luwuk Selatan yang merupakan pengembangan Kecamatan Luwuk (ibu kota kabupaten), hadirnya beberapa perusahaan berskala nasional dan internasional seperti usaha pertambangan LNG Donggi Sinoro, perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan perkayuan dan perikanan
yang kemungkinan dalam sepuluh tahun ke depan akan bergeser ke sektor bukan pertanian seperti perdagangan, jasa dan industri, dan lain-lain.
d. Matapencaharian dan Pendapatan
Matapencaharian penduduk yang dimaksud adalah mata pencaharian utama (penduduk usia produktif) yang merupakan sumber penghidupan pokok penduduk yaitu dengan sumber penghasilan penduduk minimal 50% dari keseluruhan penghasilan mereka. Dengan mengetahui matapencaharian penduduk yang bermukim pada satu wilayah akan memudahkan pula untuk mengetahui tingkat pendapatannya.
Dari data hasil survei Tim Sosekbud BPKH wilayah XVI Palu tahun 2014 yang diolah kembali datanya, diketahui desa-desa di sekitar wilayah KPH didominasi matapencaharian petani sebesar 85,48%. Dari jumlah tersebut sebesar 31,33% petani sawah, sebesar 49,61% petani kebun/ladang, dan sebesar 4,55% buruh tani. Dengan demikian sebesar 14,52% memiliki matapencaharian bukan petani, seperti pegawai pemerintah dan swasta, wirausaha, buruh bangunan/tukang/nelayan dan lain-lain. Prosentase tersebut dihitung dari 20 desa sampel dari sebanyak 8.446 orang. Desa-desa sampel adalah Kolo Atas, Tanasumpu, Lijo, Tambale, Tanakuraya, Lemo, Lemowalia, Salubiro, Hanga-hanga, Nambolempek, Sukamaju, Wanasari, Kamiwangi, Pasirlamba, Gunung Keramat, Lembah Keramat, Bukitjaya, Babang Buyangge, Ondo-ondolu dan Samadoya. Untuk jelasnya disajikan pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2. Pro KPHP
Salah satu indikator kemakmuran atau kesejahteraan adalah besarnya pendapatan masyarakat. Tinggi rendahnya pendapatan seseorang umumnya dapat dilihat melalui jenis matapencaharian atau pekerjaannya.
melihat tingkat pendapatan masyarakat dapat diukur
masyarakat tersebut. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara ekonomi ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan non
lain dapat ditunjukkan melalui kondisi bangunan rumah, perabotan rumah tangga, kondisi pendidikan anggot
Dari hasil survei Tim
pada 20 desa sampel, dilaporkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki penghasilan dari sektor pertanian, dengan jumlah anggota keluarga
dapat memperoleh penghasilan sebesar Rp
bulan. Kondisi seperti itu menggambarkan masyarakat tergolong sebagai
Buruh bangunan/tukang/Nelayan Petani kebun/ladang J en is m a ta p en ca h a ri a n
osentase Matapencaharian Penduduk di Sekitar Wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX)
Salah satu indikator kemakmuran atau kesejahteraan adalah besarnya pendapatan masyarakat. Tinggi rendahnya pendapatan seseorang umumnya dapat dilihat melalui jenis matapencaharian atau pekerjaannya.
melihat tingkat pendapatan masyarakat dapat diukur tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara ekonomi ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan non ekonomi, yang antara lain dapat ditunjukkan melalui kondisi bangunan rumah, perabotan rumah
pendidikan anggota keluarga dan lain sebagainya.
Dari hasil survei Tim Sosekbud BPKH wilayah XVI Palu tahun 2014 pada 20 desa sampel, dilaporkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki penghasilan dari sektor pertanian, dengan jumlah anggota keluarga
dapat memperoleh penghasilan sebesar Rp. 300.000 s.d. Rp. 2.500.000 per bulan. Kondisi seperti itu menggambarkan masyarakat tergolong sebagai
- 010 020 030 040 Wiraswasta Swasta Buruh bangunan/tukang/Nelayan PNS umum PNS guru Guru honor Guru swasta Tenaga medis Petani sawah Petani kebun/ladang Buruh tani Lain-lain 007 001 002 001 001 001 000 000 031 005 000 Jumlah Penduduk (%) Persentase Mata pencaharian Penduduk
sentase Matapencaharian Penduduk di Sekitar Wilayah
Salah satu indikator kemakmuran atau kesejahteraan adalah besarnya pendapatan masyarakat. Tinggi rendahnya pendapatan seseorang umumnya dapat dilihat melalui jenis matapencaharian atau pekerjaannya. Dengan tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara ekonomi ini ekonomi, yang antara lain dapat ditunjukkan melalui kondisi bangunan rumah, perabotan rumah
VI Palu tahun 2014 pada 20 desa sampel, dilaporkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki penghasilan dari sektor pertanian, dengan jumlah anggota keluarga 3-4 org/kk 2.500.000 per bulan. Kondisi seperti itu menggambarkan masyarakat tergolong sebagai
050 050
masyarakat pra sejahtera. Penghasilan mayarakat tersebut setara dengan Rp.3.600.000 s.d. Rp.30.000.000 pertahun per-KK. Apabila disetarakan penghasilan perorang pertahun maka setiap orang akan memperoleh penghasilan sebesar Rp.900.000 s/d Rp.7.500.000 per-tahun.
Masyarakat dapat dikatakan sejahtera apabila dalam setahun memiliki pendapatan perkapita setara dengan 640 kg beras/orang/tahun (Otto Soemarwoto, 1984). Dengan demikian, apabila harga beras Rp.7.000/kg berarti masyarakat akan sejahtera, karena memiliki pendapatan perkapita sebesar Rp.4.480.000 perorang pertahun atau sekitar Rp.17.920.000 pertahun per-KK. Tentunya selain kebutuhan makan, masyarakat juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya seperti biaya pendidikan, kesehatan, sandang dan lain-lain.
e. Pendidikan
Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peranan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari rangkaian proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Karena itu setiap warga negara di Republik ini berhak mendapatkan pendidikan yang layak sebagai bekal dalam mempertahankan hidupnya serta modal investasi manusia bagi kepentingan pembangunan Nasional. Namun demikian tidak semua warga negara di Republik ini sempat memasuki bangku sekolah dasar (sekolah formal) karena ketidakmampuan orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya.
Banyak anak-anak di daerah pedesaan bahkan di daerah perkotaan tidak dapat melanjutnya sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi misalnya
sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas, lebih-lebih ke perguruan tinggi. Akibatnya banyak masyarakat terutama di daerah pedesaan hanya sampai tingkat sekolah dasar bahkan tidak tamat sekolah dasar. Kondisi seperti ini juga banyak dijumpai di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX).
Dari hasil survei Tim Sosekbud BPKH wilayah XVI Palu, keadaan pendidikan masyarakat di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) umumnya didominasi tingkat sekolah dasar bahkan tidak tamat sekolah dasar. Penduduk dengan pendidikan tidak tamat sekolah dasar (SD) sebanyak 14,27%, tingkat sekolah dasar (tamat SD) 47,17%, tingkat SLTP sebanyak 21,54%, tingkat SLTA sebanyak 14,93%, Diploma (D1-D3) dan Sarjana (S1-S2) sebanyak 2,08%. Persentase tersebut dihitung dari 20 desa sampel dengan total jumlah penduduk 14.972 orang.
Dari 20 desa sampel di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX), desa dengan jumlah penduduk terbesar tidak tamat SD warganya adalah Desa Lemowalia (78,98%) dan Desa Salubiro (71,52%). Desa dengan tingkat pendidikan penduduk terbanyak tamat SD adalah Desa Pasirlamba (79,04%), Desa Bukit Jaya (75,83%) dan Desa Nambo Lempek (73,44%). Desa dengan tingkat pendidikan penduduk terbanyak tamat SLTP adalah Desa Kamiwangi (41,53%) dan Desa Tambale (40,91%). Desa dengan tingkat pendidikan penduduk terbanyak tamat SLTA adalah Desa Samadoya (40,94%). Desa dengan tingkat pendidikan penduduk terbanyak sarjana (S0, S1, S2) adalah Desa Samadoya (25,98%) dan Desa Lemo (19,74%). Perlu
dijelaskan bahwa keberadaan tenaga kerja berpendidikan diploma dan sarjana di sekitar wilayah KPHP Model Toili Baturube (Unit XIX) umumnya merupakan tenaga kerja di perusahaan LNG dan usaha Perkebunan.
Kondisi pendidikan masyarakat seperti dijelaskan di atas tentunya akan berpengaruh langsung dalam pembinaan masyarakat serta input teknologi dan manajemen di daerah pedesaan. Daya serap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan kepada masyarakat akan terkendala oleh rendahnya tingkat pendidikan.