• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI SUMBER DAYA AIR SEBAGAI PERIKANAN

Dalam dokumen Pengelolaan Sumber Daya Air (Halaman 74-78)

POTENSI SUMBER DAYA AIR SEBAGAI NAVIGASI, PERIKANAN, PENGGELONTORAN DAN REKREASI

2. POTENSI SUMBER DAYA AIR SEBAGAI PERIKANAN

Sumber daya perikanan dapat dipandang sebagai suatu komponen dari ekosistem perikanan berperan sebagai faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu output yang bernilai ekonomi masa kini maupun masa mendatang. Disisi lain, sumber daya perikanan bersifat dinamis, baik dengan ataupun tanpa intervensi manusia. Sebagai ilustrasi, pada sumber daya perikanan tangkap, secara

sederhana dinamika stok ikan ditunjukkan oleh keseimbangan yang disebabkan oleh pertumbuhan stok, baik sebagai akibat dari pertumbuhan individu (individu growth) maupun oleh perkembangbiakan (recruitment) stok itu sendiri.

sumber daya perikanan pada suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh perairan, baik perairan laut maupun perairan umum. Potensi perairan yang ada di wilayah tersebut sangat besar baik ditinjau dari sisi pemanfaatannya sebagai sarana dan prasarana transportasi sungai dan laut, maupun dari sisi sumberdaya yang terkandung di dalamnya seperti wilayah perairan tersebut merupakan aliran utama sungai kampar, sedangkan wilayah/daerah lautnya berdekatan dengan selat dan pertemuan arus.

Sumberdaya perikanan perairan umum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik bersifat komersil maupun non komersil. Jenis pemanfaatan sumber daya perairan yang bersifat komersil diantaranya adalah perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Sementara, jenis pemanfaatan yang bersifat non komersil diantaranya adalah pemanfaatan sumberdaya air untuk kegiatan mandi, cuci dan air minum.

Umumnya keberadaan danau-danau di berbagai wilayah sangat berperan dalam menunjang usaha perikanan di daerah tersebut seperti memiliki potensi penangkapan (perikanan tangkap) dan budidaya (keramba).

Dan berikut adalah beberapa cara dalam potensi sumber daya air sebagai perikanan dalam perairan waduk secara optimal:

 Perikanan Tangkap

Pengelolaan perikanan tangkap meliputi berbagai kegiatan yang ditujukan untuk memanfaatkan sumberdaya peri kanan secara optimal dan berkelanjutan. Dalam pengelolaan perikanan tangkap, diharapkan kesejahteraan hidup masyarakat dapat meningkat, khususnya yang berada di sekitar waduk dan mereka yang terkena pembangunan waduk, oleh sebab itu inventarisasi mengenai keinginan, harapan dan prefensi masyarakat perlu dilakukan (Kartamihardja, 1993).

Hal- hal yang perlu diperhatikan agar dicapai tingkat pemanfaatan yang optimal dan berkelanjutan, adalah :

A. Pengelolaan Habitat

Pembendungan aliran sungai akan me mbentuk ekosistem baru yang sangat berlainan dengan ekosistem sungai .Sungai yang merupakan perairan mengalir sebagai habitat ikan sungai, akan mengalami perubahan menjadi perairan waduk.

dan mungkin hanya beberapa jenis ikan saja yang mampu menyesuaikan diri untuk hidup dan berkembangbiak dalam menyelesai kan daur hi dupnya.Perairan waduk yang terbentuk mungki n hanya cocok sebagai daerah pertumbuhan, tetapi tidak sebagai daerah pemijahan bagi beberapa jenis ikan asli sungai, sehingga ikan tersebut hanya dapat tumbuh namun ti dak dapat melanjutkan keturunannya. Oleh sebab itu, maka di dalam pengelolaan sumberdaya perairan waduk, salah satu hal yang penti g untuk diperhatikan adalah kondisi habitat agar habitat baru tersebut sesuai bagi persyaratan perkembangan populasi ikan untuk menyelesaikan daur hidupnya.

Agar produksi perikanan di perairan waduk meningkat dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan, maka pengelola perikanan harus mampu memanipulasi dan memodifikasi habitat waduk sehingga sesuai dengan persyaratan yang diperlukan oleh populasi ikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pembersihan tumbuhan sebelum waduk diairi, penyediaan daerah pemijahan dan

jalu r ik an, pengelolaan daerah hilir bendungan, dan pengendalian tanaman air. B. Pengelolaan Populasi Ikan

Perubahan ekosistem sungai menjadi ekosistem waduk akan berpengaruh terhadap populasi ikan. Pada awal penggenangan, siklus hidup ikan akan terganggu. Jenis ikan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan waduk akan tumbuh dan berkembang biak serta biasanya merupakan ikan yang mendominasi. Sebaliknya, jenis ikan yang kurang atau tidak mampu beradaptasi, pada jangka panjang akan menghilang meskipun mungki n pada ta hun pertama penggenangan jumlahnya melimpah.

Ukuran populasi ikan ditentukan oleh l aju peremajaan dan pertumbuhan. Apabila ketersediaan daerah pemijahan dan daerah makanan ikan terbatas maka ukuran populasi akan semakin menurun. Penurunan tersebut akan dipercepat dengan meningkatnya upaya penangkapan.Perikanan waduk bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan dan mempertahankan produksi tersebut pada tingkat produktivitas maksimumnya, oleh sebab itu maka pengelolaan populasi ikan harus ditujukan bagi tercapainya kondisi perairan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan populasi ikan yang diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka di dalam pengelolaan populasi ikan di waduk, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan, faktor-faktor yang membatasi ukuran populasi dan tujuan serta sasaran perikanan waduk. Teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam pengelolaan populasi ikan untuk mencapai tingkat produksi ikan yang tinggi antara lain : pemberantasan jenis ikan yang tidak disukai, introduksi dan penebaran, pengaturan permukaan air dan pencegahan serta pengendalian hama penyakit dan parasit.

C. Pengelolaan Penangkapan

Pola usaha penangkapan i kan yang di kembangkan di suatu perairan waduk harus didasarkan pada pengetahuan tentang populasi ikan seperti formasi populasi, dinamika populasi, kelimpahan stok dan biomass, dan produksi maksimum lestari

yang dapat dicapai.

Usaha penangkapan diarahkan pada rasionalisasi pemanfaatan sumber yang optimal dengan memperhati kan kelestarian sumber. Dengan sasaran itu, maka pola pembinaan pengelolaan di daerah padat menurut Widana dan Martosubroto (1986) dilakukan dengan upaya sebagai berikut :

1. pembatasan upaya baik jumlah alat tangkap maupun musi m penangkapan. 2. pembatasan ukuran mata jaring atau alat lain

3. membangun reservat baru dan meningkatkan fungsi reservat yang sudah ada, serta perlu adanya pengawasan terhadap kegiatan nelayan yang merugikan fungsi reservet tersebut dan perlu adanya penyuluhan tentang arti penting suatu reservat. 4. mengadakan penebaran yang harus ditunjang dengan penyediaan benih yang

cukup dengan jalan meningkatkan fungsi BBI lokal.

5. mengingat perairan waduk merupakan peranan yang tertutup dan dibeberapa tempat di manfaatkan untuk berbagai tujuan, maka pengelolaan harus dilaksanakan secara koordinatif dan terpadu dengan di tunjang oleh peraturan yang memadai. 6. diversivikasi usaha kebidang lain, terutama kebidang usaha budidaya diperairan

waduk.

7. perlu penyuluhan yang intensif kepada masyarakat mengenai pentingnya kelestarian sumber.

Teknik penangkapan yang diterapkan harus didasarkan pada teknologi tepat guna, yaitu teknologi yang sedarhana, mudah diterapkan, rancang bangunnya tidak memerlukan pengetahuan yang tinggi, produktivitasnya tinggi tetapi tidak merusak sumberdaya peri kanan. Sebagai contoh, di waduk Jatiluhur, penangkapan ikan dengan jaring insang menggunakan bahan pelampung yang terbuat dari styrofoam

bekas, potongan kayu atau bambu. Jumlah, jenis dan tipe alat tangkap yang di gunakan harus di sesuaikan dengan potensi sumberdaya ikan dan daya pulih stok.

Jenis alat tangkap yang umumnya banyak digunakan di perairan waduk adalah: 1. jaring insang, rawei , jala, dan pancing.

2. Penggunaan alat tangkap ikan yang menggunakan arus listrik , bahan peledak atau racun (bahan-bahan yang bersifat toksik) harus dilarang karena akan memusnahkan stok ikan mulai dari larva hingga dewasa, serta biota lainnya.

3. Penggunaan alat tangkap yang sifatnya menguras stok ikan seperti pukat harimau harus dilarang sebab selain menangkap ikan tidak selektif, juga dapat merusak habitat biota dasar perairan.

Pengendalian penangkapan ikan antara lain dapat dilakukan dengan cara:

1. Menetapkan daerah dan musim atau bulan larangan penangkapan ikan, yang bertujuan untuk memberi kesempatan ikan berkembang biak dan bertumbuh. 2. Pengaturan ukuran terkecil yang boleh ditangkap, yaitu dengan penetapan ukuran

terkecil mata jaring in sang dan ukuran mata pancing rawai yang boleh dipakai oleh nelayan.

3. Pengaturan upaya penagkapan, misalnya dengan mengatur jumlah nelayan dan atau unit alat tangkap.

4. Larangan penggunaan alat tangkap ikan yang dapat membahayakan kelestarian sumberdaya perikanan, misalnya larangan penggunaan bahan peledak dan bahan beracun berbahaya (B3), alat tangkap berarus listrik dan pukat harimau.

 Perikanan Budidaya A. Pengelolaan Budidaya

Pengelolaan budidaya ikan harus ditujukan untuk mendapatkan produksi ikan optimal dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kelestarian sumberdaya perairan. Prinsip dari budidaya ikan adal ah pemeliharaan ikan pada kondisi perairan yang dapat dikendalik an lingkungannya. Waduk merupakan salah satu perairan umum yang mempunyai wilayah yang memenuhi syarat untuk budi daya ik an. Saat ini budidaya yang masih cocok untuk perairan waduk adalah pemeliharaan ikan dalam keramba jaring apung. Keramba jaring apung merupakan salah satu jenis usaha keramba yang dominan yang di usahakan oleh petani . Jika ditinjau dari segi ketersediaan sumberdaya pertanian, profit abilitas usaha dan pasar, terutama pasar ekspor, usaha keramba jaring apung mempunyai prospek untuk dikembangkan dan merupakan lapangan pekerjaan yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Ada indikasi bahwa usaha keramba jaring apung bersifat terintegrasi mulai dari penyediaan benih, usaha pembesaran ikan hingga pemasaran mempunyai profitabilitas yang lebih tinggi.

Usaha ini pada awalnya dicoba di waduk Jatiluhur oleh Lembaga

Penelitian Perikanan Darat. Pemanfaatan waduk untuk usaha perikanan dengan keramba lebih berkembang di Jawa dibanding dengan daerah lain di Indonesia.Tujuan utama budidaya ikan adalah optimasi produksi ikan pada tingkat biaya yang minimum, oleh kerenanya setiap budidayawan harus tahu dan menguasai seluruh konsep sistem budidaya dan secara efektif dapat mengendalikan setiap

tahapan operasional budidaya yang dimulai dari tahap pembuatan unit budidaya dan pemilih an lokasi untuk budidaya ikan meliputi faktor fisik, kimia, dan biologi perairan, kemudahan jangkauan dan ketersediaan sarana dan prasarana, serta faktor keamanan.

B. Operasional Budidaya

Sebelum operasional budidaya dilakukan, perlu dibuatkan jadwal pelaksanaanya yang memuat semua kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari persiapan, pengadaan sarana, bahan dan peralatan,

penebaran ikan, pemberian pakan, perawatan dan pengawasan,

pemantau an stok ikan dan kualitas perairan sampai dengan panen dan distribusi.

Apabila lokasi budiday a t elah dipilih, f asilit as bu diday a su dah len gk ap tersedia dan wadah pemeliharaan suda h ditebari ikan, maka budidayawan ikan harus mempunyai keyaki nan bahwa ik an yang dipeli ara tumbuh dengan l aju pertumbuhan yang di harapkan, kehilangan ikan baik yang disebabkan penyakiot, hama maupun lolos keluar jaring minimum, dilakukan pemeliharaan jaring secara rutin , pemberian pakan dilakukan secara efisien dan tepat, dan pengecekan stok ikan serta kualitas air dilaku kan secara rutin selama pemeliharaan . Panen sebaiknya disesuaikan dengan rencana yang tel ah di tetapkan, ukuran ikan sesuai dengan permintaan dan tersedianya pasar serta produk yang dihasilkan sebaiknya memenuhi mutu terbaik dan higienis.

Dalam dokumen Pengelolaan Sumber Daya Air (Halaman 74-78)